Betapapun juga, karena di situ ada Jokowanengpati yang menerjangnya dengan pukulan-pukulan ampuh, Roro Luhito mulai terdesak mundur dan untuk mencari ruangan yang luas, gadis perkasa ini membuka jalan darah, keluar dari ruangan itu dikejar Jokowanengpati yang merasa penasaran. Adapun suami isteri yang berada di dalam jala, masih dikeroyok banyak perajurit. Baiknya Kartikosari tadi berhasil menyambar sebuah golok yang terletak di lantai sehingga kini dengan golok ini ia dapat melindungi diri dan suaminya yang sudah lemas. Pujo tak dapat melawan lagi, sudah rebah di lantai. Biarpun Kartikosari juga memiliki kesaktian, namun wanita ini sudah luka-luka pula sehingga hanya untuk sementara saja ia mampu melindungi hujan tombak dan golok dari luar jala. Ia mulai lelah, pandang matanya berkunang, namun ia bertekat bulat untuk mempertahankan diri dan suaminya sampai saat terakhir. Roro Luhito setelah tiba di luar kamar dikeroyok oleh banyak sekali perajurit. Ia dikepung dan Jokowanengpati yang merasa tidak leluasa gerakannya, meloncat mundur membiarkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan sambil menanti saat dan kesempatan terbaik untuk turun tangan menangkap gadis yang seperti Srikandi itu.
Dari luar
kepungan ia berseru,
"Diajeng
Luhito, menyerahlah! Ayahmu telah memberikan engkau menjadi calon isteriku.
Menyerahlah!"
"Jokowanengpati
manusia hina-dina! Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati
mencuci penghinaan!"
Tiba-tiba
terdengar suara lengkingan menyeramkan dari luar. Kemudian tampak oleh
Jokowanengpati betapa pasukan yang berada di luar menjadi geger. Tampak pula
para penjaga bergelimpangan diterjang oleh sesosok bayangan putih yang
mengeluarkan suara seperti seekor monyet.
"Roro
Luhito Di mana kau ...??" Bayangan yang mengamuk itu berseru.
"Bapa
guru..,....! Bapa resi ...... ! Ke sinilah ...... !!"
Roro Luhito
berseru girang sekali. Kembali bayangan yang kini tampak jelas adalah seorang
kakek yang bermuka seperti kera itu bergerak dan para penjaga berpelantingan ke
kanan kiri.
Jokowanengpati
terkejut ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Resi Telomoyo yang
sakti mandraguna. Tanpa menanti lebih lama lagi atau memperdulikan nasib anak
buahnya, Jokowanengpati yang cerdik dan curang itu sudah menyelinap dalam
gelap, terus menyusup-nyusup ke belakang kadipaten, meloncat ke atas punggung
kudanya dan selagi pertempuran keroyokan di dalam kadipaten masih ramai dan
ribut, ia sudah membalapkan kudanya keluar dari Kadipaten Selopenangkep menuju
ke timur!.
Amukan Roro
Luhito dan Resi Telomoyo membuat pasukan kota raja yang menguasai Kadipaten
Selopenangkep itu kocar-kacir. Sebelum lewat tengah malam, sisa pasukan yang
belum menjadi korban amukan guru dan murid ini sudah lari cerai-berai. Para
penduduk kota Kadipaten Selopenangkep yang mendengar bahwa puteri adipati yang
dahulu lenyap itu kini pulang dan membasmi pasukan musuh yang menguasai
kadipaten, berbondong-bondong keluar. Mereka inilah, dan para pelayan lama,
yang membantu Roro Luhito membersihkan kadipaten dari mayat-mayat pihak musuh
yang tak sempat dilarikan kawan-kawan yang melarikan diri malam itu. Pada
keesokan harinya, kadipaten sudah bersih dari mayat-mayat dan darah.
Jari-jari
kecil panjang dengan kulit halus dan telapak tangan jambon (kemerahan) itu
seperti mengeluarkan getaran yang menyentuh jantung ketika meraba-raba
punggungnya, membersihkan luka-luka dan membasahinya dengan air obat. Enak
rasanya air obat menyentuh punggung, dingin dan mengusir rasa panas dan perih.
Namun yang paling terasa sampai menembus jantung adalah getaran hangat
jari-jari tangan itu. Pujo seperti dalam mimpi. Ketika ia membalikkan tubuh, ia
melihat secara samar bayangan wanita. Siapa lagi kalau bukan isterinya,
Kartikosari. Rindu dendam yang sejak lama ditahan-tahannya, dibendungnya dengan
kekuatan hati penuh pengertian bahwa isterinya belum mau berbaik kembali
kepadanya, belum mau memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani kasih
sayang suami, sebelum musuh besar mereka terbalas, kini seakan-akan bergolak,
membadai dan hendak menggempur dan menjebol bendungan!.
"Nimas
Sari......!" bisiknya dengan suara gemetar ketika kedua lengan Pujo
bergerak memeluk pinggang yang ramping, membenamkan muka di dada yang
berdebar-debar, penuh rasa kasih sayang. Sampai lama mereka berada dalam
keadaan seperti ini.
Pujo merasa
bahagia, tenang tenteram penuh aman dan damai seperti seorang anak kecil
mendekap susu ibunya. Ia merasa puas bahagia karena isterinya tidak menolak
bukti kasihnya, pinggang ramping yang dirangkulnya tidak menjauh, dan jantung
di dalam dada yang penuh itu terguncang.
"Kakangmas
Pujo...... jangan khawatir mbokayu Kartikosari selamat, kau...... berbaringlah
yang baik agar aku dapat mengobati punggungmu, kakangmas."
Pujo
mengejap-ngejapkan matanya, menengadah dan bagaikan disambar petir kagetnya
ketika ia melihat bahwa yang dipeluknya adalah pinggang Roro Luhito. Gadis itu
meramkan kedua mata dan dua butir air mata membasahi pipinya yang menjadi merah
sekali. Cepat Pujo melepaskan rangkulannya pada pinggang, menatap wajah itu
dari atas pembaringan sambil berkata gagap,
"Diajeng
Roro....... ah, maafkan aku ...... maafkan ...... "
Bibir yang
merah membasah itu merekah dalam senyum, membayangkan kilauan gigi putih di
baliknya.
"Tidak
mengapa, kakangmas. Kau ngelindur agaknya. Bertelungkuplah, punggungmu perlu
diobati. Jangan khawatir, itu mbokayu Sari di situ, tidak apa-apa, agaknya
tidur pulas saking lelahnya."
Karena malu
dan jengah, Pujo segera bertelungkup. Akan tetapi kepalanya dimiringkan untuk
memandang ke arah kiri yang ditunjuk Roro Luhito. Berdegup jantungnya melihat
bahwa isterinya, Kartikosari, benar saja berbaring di atas sebuah dipan kayu
lain dalam kamar itu. Isterinya rebah terlentang, kedua matanya meram, dadanya
turun naik perlahan tanda bahwa isterinya sedang tidur. Benar sedang tidur
pulaskah isterinya itu? Bulu matanya bergerak-gerak! Pujo merasa gelisah.
Bagaimana kalau isterinya melihat perbuatannya terhadap Roro Luhito tadi?
"Sudah,
cukuplah, diajeng. Luka-lukaku hanya luka di kulit, tidak apa-apa. Bagaimana
dengan ayahmu, paman adipati?" Pujo berkata dan ia bangkit duduk.
"Ayah
amat lemah usianya yang sudah tua membuat ia tidak dapat menahan pukulan batin
dan siksaan, sekarang sedang dirawat bapa resi."
Sejenak wajah
yang manis itu muram, kemudian tangannya menyerahkan sepasang pakaian baru
kepada Pujo sambil berkata,
"Kaupakailah
ini, kakangmas. Ini pakaian kangmas Wisangjiwo. Pakaianmu sudah hancur."
Pujo melihat
ke tubuhnya. Bajunya sudah tidak merupakan baju lagi, compang-camping, demikian
pula celana dan kainnya. Ia menerima sepasang pakaian itu dan pada saat itu
Kartikosari bangun.
"Diajeng,
bagaimana dengan keluarga ayahmu? Mana ibumu?"
Ditanya
demikian, Roro Luhito terisak, lalu menubruk Kartikosari dan menangis di atas
pangkuan nya, Dengan suara tersendat-sendat Roro Luhito menceritakan betapa
sebagian besar keluarganya terbasmi ketika terjadi penyerbuan pasukan kota raja
yang dipimpin Jokowanengpati dan kedua orang wanita iblis Ni Durgogini dan Ni
Nogogini. Juga ibu kandungnya telah tewas dalam penyerbuan itu.
"Jokowanengpati
manusia iblis! Dosamu bertumpuk-tumpuk.... !" kata Pujo dengan marah
sambil mengepal tinjunya.
"Sayang
sekali iblis itu dapat meloloskan diri ketika paman resi Telomoyo datang
membantu," kata Kartikosari penuh penyesalan.
"Kali ini
ia lolos, akan tetapi lain kali pasti tidak. Kejahatan takkan dilindungi oleh
Hyang Widi!" kata pula Pujo penuh harapan.
Roro Luhito
sudah dapat menguasai kesedihannya. Ia bangkit dengan muka basah air mata dan
mata agak merah.
"Harap
kalian maafkan, aku harus pergi menengok ayah."
"Tidak
apa, pergilah, diajeng. Kami tidak apa-apa, yang perlu mendapat perawatan
adalah ayahmu," kata Kartikosari.
Puteri adipati
itu melangkah keluar dari dalam kamar sambil menundukkan mukanya.
"Sudah
sepatutnya dikasihani ...... " terdengar Kartikosari menyambung lirih.
"Dan dia
begitu baik, telah menolong kita."
"Ya, dua
kali dia telah menolong kita. Di dalam kamar bawah tanah dan ketika kita
terkurung jala ...... "
Pujo lalu
membaringkan tubuhnya lagi sambii menghela napas panjang. Hening Sejenak di
dalam kamar itu. Kemudian terdengar lagi suara Kartikosari,
"Kita
berhutang budi kepada diajeng Roro Luhito, kakangmas."
"Engkau
benar, nimas. Kita berhutang nyawa."
Hening lagi
sejenak. Kini Kartikosari yang menghela napas panjang, jelas terdengar hembusan
nafas halus panjang di kamar sunyi.
"Sesungguhnya,
kita, terutama engkau, berhutang nyawa kepadanya. Dia malam itu bukan hanya
menolong, kakangmas, dia malah rela hendak mengorbankan diri, berkorban nyawa,
untukmu...... "
Sesuatu dalam
suara Kartikosari membuat Pujo menengok dan memandangnya. Ia melihat
Kartikosari sudah duduk dipembaringan, makin cantik dengan kain dan kutang yang
serba baru, agaknya diberi pinjam Roro Luhito karena pakaiannya sendiri
compang-camping, dengan muka agak pucat sehingga alis yang indah bentuknya itu
makin hitam seperti dicat.
"Dan dia
cinta kepadamu, kakangmas, cinta yang tulus ikhlas, suci murni, cinta yang
membutuhkan balasan dan sudah sepatutnya pula mendapat balasan cinta kasih
darimu...... "
Pujo kini
melompat bangun, berlutut di depan pembaringan isterinya, memeluk pinggang
isterinya dan menelungkupkan muka di atas pangkuannya, seperti yang dilakukan
pada Roro Luhito tadi.
"Nimas......
nimas Sari...... apa...... yang kauucapkan itu? Kau...... kau......
cemburu?"
Ia menengadah,
memandang wajah ayu penuh selidik, mencari-cari dengan pandang matanya.
Kartikosari menunduk dan jari-jari kedua tangannya membelai rambut kepala
suaminya yang kusut, bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lirih,
"Wanita
mana di dunia ini yang bebas akan cemburu, kakangmas? Di mana ada cinta, di
situ ada cemburu, Wanita mana di dunia ini suka melihat cinta kasih suaminya
dibagi dengan wanita lain? Dan akupun hanya wanita biasa, kakangmas. Akan
tetapi, aku ingin diajeng Roro Luhito menjadi maduku, aku ingin melihat dia
bahagia di sampingku, berkumpul dengan kita selamanya."
"Hishhh!
Apakah kau mengigau, nimas Sari? Sadarlah dan buang jauh-jauh rasa cemburu dari
hatimu!", Pujo mempererat pelukannya pada pinggang yang ramping itu.
"Dia
cinta padamu, kakangmas. Aku percaya dan yakin bahwa cinta kasihmu hanya
untukku seorang dan karena ini aku merasa amat bahagia, suamiku. Akan
tetapi,,,...., dia amat cinta kepadamu, dia menderita karenamu, bahkan dia rela
menderita karena cintanya kepadamu ...... "
"Bagaimapa..,.,.
bagaimana kau tahu,...... ?"
"Setiap
orang yang tidak buta hati dan matanya akan dapat melihat, akan dapat
mengetahuinya. Dahulu dia mencarimu, ingin menghambakan diri kepadamu,
sungguhpun dahulu ia mengira bahwa engkaulah yang memperkosanya. Dan setelah
tahu bahwa Jokowanengpati yang melakukannya, ia amat membenci Jokowanengpati,
akan tetapi masih tetap cinta kepadamu, bahkan menolongmu, dan malam tadi rela
hendak mengorbankan nyawa untukmu. Aku tahu bahwa engkau akan bahagia jika
membalas cinta kasihnya, kakangmas, dan aku...... aku hanya ingin membuktikan
bahwa cinta kasihku kepadamu sedalam Laut Selatan. Aku rela dan bahagia melihat
kau bahagia, Bahwa....... aku tetap mencintamu, tetap bersetia kepadamu apapun
yang akan terjadi"
"Nimas
Sari ...... kau dewiku ...... !"
Pujo bangkit
berdiri, merangkul leher dan hendak mencium bibir Isterinya yang sudah amat
lama ia rindukan itu, Akan tetapi Kartikosari merenggutkan dirinya, mengelak
sambil berkata, tersenyum,
"Stop,
kakangmas! Ingat, belum tiba saatnya. Lupakah engkau akan syaratku?"
Tubuh Pujo
yang tadinya mengejang penuh semangat dan kegembiraan itu, seketika menjadi
lemah dan lesu. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluh,
"Nimas
Sari, isteriku, tidak kasihankah engkau kepadaku? Aku rindu padamu,
nimas."
Bibir itu
tetap tersenyum manis, akan tetapi matanya berkejap-kejap menahan air mata,
memancarkan pandang penuh kasih mesra, kedua tangannya diulur menyentuh tangan
suaminya.
No comments:
Post a Comment