Badai Laut Selatan ; Bagian 067


Betapapun juga, karena di situ ada Jokowanengpati yang menerjangnya dengan pukulan-pukulan ampuh, Roro Luhito mulai terdesak mundur dan untuk mencari ruangan yang luas, gadis perkasa ini membuka jalan darah, keluar dari ruangan itu dikejar Jokowanengpati yang merasa penasaran. Adapun suami isteri yang berada di dalam jala, masih dikeroyok banyak perajurit. Baiknya Kartikosari tadi berhasil menyambar sebuah golok yang terletak di lantai sehingga kini dengan golok ini ia dapat melindungi diri dan suaminya yang sudah lemas. Pujo tak dapat melawan lagi, sudah rebah di lantai. Biarpun Kartikosari juga memiliki kesaktian, namun wanita ini sudah luka-luka pula sehingga hanya untuk sementara saja ia mampu melindungi hujan tombak dan golok dari luar jala. Ia mulai lelah, pandang matanya berkunang, namun ia bertekat bulat untuk mempertahankan diri dan suaminya sampai saat terakhir. Roro Luhito setelah tiba di luar kamar dikeroyok oleh banyak sekali perajurit. Ia dikepung dan Jokowanengpati yang merasa tidak leluasa gerakannya, meloncat mundur membiarkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan sambil menanti saat dan kesempatan terbaik untuk turun tangan menangkap gadis yang seperti Srikandi itu.
Dari luar kepungan ia berseru,
"Diajeng Luhito, menyerahlah! Ayahmu telah memberikan engkau menjadi calon isteriku. Menyerahlah!"
"Jokowanengpati manusia hina-dina! Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati mencuci penghinaan!"

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan menyeramkan dari luar. Kemudian tampak oleh Jokowanengpati betapa pasukan yang berada di luar menjadi geger. Tampak pula para penjaga bergelimpangan diterjang oleh sesosok bayangan putih yang mengeluarkan suara seperti seekor monyet.
"Roro Luhito Di mana kau ...??" Bayangan yang mengamuk itu berseru.
"Bapa guru..,....! Bapa resi ...... ! Ke sinilah ...... !!"
Roro Luhito berseru girang sekali. Kembali bayangan yang kini tampak jelas adalah seorang kakek yang bermuka seperti kera itu bergerak dan para penjaga berpelantingan ke kanan kiri.
Jokowanengpati terkejut ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Resi Telomoyo yang sakti mandraguna. Tanpa menanti lebih lama lagi atau memperdulikan nasib anak buahnya, Jokowanengpati yang cerdik dan curang itu sudah menyelinap dalam gelap, terus menyusup-nyusup ke belakang kadipaten, meloncat ke atas punggung kudanya dan selagi pertempuran keroyokan di dalam kadipaten masih ramai dan ribut, ia sudah membalapkan kudanya keluar dari Kadipaten Selopenangkep menuju ke timur!.
Amukan Roro Luhito dan Resi Telomoyo membuat pasukan kota raja yang menguasai Kadipaten Selopenangkep itu kocar-kacir. Sebelum lewat tengah malam, sisa pasukan yang belum menjadi korban amukan guru dan murid ini sudah lari cerai-berai. Para penduduk kota Kadipaten Selopenangkep yang mendengar bahwa puteri adipati yang dahulu lenyap itu kini pulang dan membasmi pasukan musuh yang menguasai kadipaten, berbondong-bondong keluar. Mereka inilah, dan para pelayan lama, yang membantu Roro Luhito membersihkan kadipaten dari mayat-mayat pihak musuh yang tak sempat dilarikan kawan-kawan yang melarikan diri malam itu. Pada keesokan harinya, kadipaten sudah bersih dari mayat-mayat dan darah.

Jari-jari kecil panjang dengan kulit halus dan telapak tangan jambon (kemerahan) itu seperti mengeluarkan getaran yang menyentuh jantung ketika meraba-raba punggungnya, membersihkan luka-luka dan membasahinya dengan air obat. Enak rasanya air obat menyentuh punggung, dingin dan mengusir rasa panas dan perih. Namun yang paling terasa sampai menembus jantung adalah getaran hangat jari-jari tangan itu. Pujo seperti dalam mimpi. Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat secara samar bayangan wanita. Siapa lagi kalau bukan isterinya, Kartikosari. Rindu dendam yang sejak lama ditahan-tahannya, dibendungnya dengan kekuatan hati penuh pengertian bahwa isterinya belum mau berbaik kembali kepadanya, belum mau memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani kasih sayang suami, sebelum musuh besar mereka terbalas, kini seakan-akan bergolak, membadai dan hendak menggempur dan menjebol bendungan!.
"Nimas Sari......!" bisiknya dengan suara gemetar ketika kedua lengan Pujo bergerak memeluk pinggang yang ramping, membenamkan muka di dada yang berdebar-debar, penuh rasa kasih sayang. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini.
Pujo merasa bahagia, tenang tenteram penuh aman dan damai seperti seorang anak kecil mendekap susu ibunya. Ia merasa puas bahagia karena isterinya tidak menolak bukti kasihnya, pinggang ramping yang dirangkulnya tidak menjauh, dan jantung di dalam dada yang penuh itu terguncang.
"Kakangmas Pujo...... jangan khawatir mbokayu Kartikosari selamat, kau...... berbaringlah yang baik agar aku dapat mengobati punggungmu, kakangmas."

Pujo mengejap-ngejapkan matanya, menengadah dan bagaikan disambar petir kagetnya ketika ia melihat bahwa yang dipeluknya adalah pinggang Roro Luhito. Gadis itu meramkan kedua mata dan dua butir air mata membasahi pipinya yang menjadi merah sekali. Cepat Pujo melepaskan rangkulannya pada pinggang, menatap wajah itu dari atas pembaringan sambil berkata gagap,

"Diajeng Roro....... ah, maafkan aku ...... maafkan ...... "
Bibir yang merah membasah itu merekah dalam senyum, membayangkan kilauan gigi putih di baliknya.
"Tidak mengapa, kakangmas. Kau ngelindur agaknya. Bertelungkuplah, punggungmu perlu diobati. Jangan khawatir, itu mbokayu Sari di situ, tidak apa-apa, agaknya tidur pulas saking lelahnya."
Karena malu dan jengah, Pujo segera bertelungkup. Akan tetapi kepalanya dimiringkan untuk memandang ke arah kiri yang ditunjuk Roro Luhito. Berdegup jantungnya melihat bahwa isterinya, Kartikosari, benar saja berbaring di atas sebuah dipan kayu lain dalam kamar itu. Isterinya rebah terlentang, kedua matanya meram, dadanya turun naik perlahan tanda bahwa isterinya sedang tidur. Benar sedang tidur pulaskah isterinya itu? Bulu matanya bergerak-gerak! Pujo merasa gelisah. Bagaimana kalau isterinya melihat perbuatannya terhadap Roro Luhito tadi?
"Sudah, cukuplah, diajeng. Luka-lukaku hanya luka di kulit, tidak apa-apa. Bagaimana dengan ayahmu, paman adipati?" Pujo berkata dan ia bangkit duduk.
"Ayah amat lemah usianya yang sudah tua membuat ia tidak dapat menahan pukulan batin dan siksaan, sekarang sedang dirawat bapa resi."
Sejenak wajah yang manis itu muram, kemudian tangannya menyerahkan sepasang pakaian baru kepada Pujo sambil berkata,
"Kaupakailah ini, kakangmas. Ini pakaian kangmas Wisangjiwo. Pakaianmu sudah hancur."

Pujo melihat ke tubuhnya. Bajunya sudah tidak merupakan baju lagi, compang-camping, demikian pula celana dan kainnya. Ia menerima sepasang pakaian itu dan pada saat itu Kartikosari bangun.
"Diajeng, bagaimana dengan keluarga ayahmu? Mana ibumu?"
Ditanya demikian, Roro Luhito terisak, lalu menubruk Kartikosari dan menangis di atas pangkuan nya, Dengan suara tersendat-sendat Roro Luhito menceritakan betapa sebagian besar keluarganya terbasmi ketika terjadi penyerbuan pasukan kota raja yang dipimpin Jokowanengpati dan kedua orang wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Juga ibu kandungnya telah tewas dalam penyerbuan itu.
"Jokowanengpati manusia iblis! Dosamu bertumpuk-tumpuk.... !" kata Pujo dengan marah sambil mengepal tinjunya.
"Sayang sekali iblis itu dapat meloloskan diri ketika paman resi Telomoyo datang membantu," kata Kartikosari penuh penyesalan.
"Kali ini ia lolos, akan tetapi lain kali pasti tidak. Kejahatan takkan dilindungi oleh Hyang Widi!" kata pula Pujo penuh harapan.
Roro Luhito sudah dapat menguasai kesedihannya. Ia bangkit dengan muka basah air mata dan mata agak merah.
"Harap kalian maafkan, aku harus pergi menengok ayah."
"Tidak apa, pergilah, diajeng. Kami tidak apa-apa, yang perlu mendapat perawatan adalah ayahmu," kata Kartikosari.

Puteri adipati itu melangkah keluar dari dalam kamar sambil menundukkan mukanya.
"Sudah sepatutnya dikasihani ...... " terdengar Kartikosari menyambung lirih.
"Dan dia begitu baik, telah menolong kita."
"Ya, dua kali dia telah menolong kita. Di dalam kamar bawah tanah dan ketika kita terkurung jala ...... "
Pujo lalu membaringkan tubuhnya lagi sambii menghela napas panjang. Hening Sejenak di dalam kamar itu. Kemudian terdengar lagi suara Kartikosari,
"Kita berhutang budi kepada diajeng Roro Luhito, kakangmas."
"Engkau benar, nimas. Kita berhutang nyawa."
Hening lagi sejenak. Kini Kartikosari yang menghela napas panjang, jelas terdengar hembusan nafas halus panjang di kamar sunyi.
"Sesungguhnya, kita, terutama engkau, berhutang nyawa kepadanya. Dia malam itu bukan hanya menolong, kakangmas, dia malah rela hendak mengorbankan diri, berkorban nyawa, untukmu...... "
Sesuatu dalam suara Kartikosari membuat Pujo menengok dan memandangnya. Ia melihat Kartikosari sudah duduk dipembaringan, makin cantik dengan kain dan kutang yang serba baru, agaknya diberi pinjam Roro Luhito karena pakaiannya sendiri compang-camping, dengan muka agak pucat sehingga alis yang indah bentuknya itu makin hitam seperti dicat.
"Dan dia cinta kepadamu, kakangmas, cinta yang tulus ikhlas, suci murni, cinta yang membutuhkan balasan dan sudah sepatutnya pula mendapat balasan cinta kasih darimu...... "
Pujo kini melompat bangun, berlutut di depan pembaringan isterinya, memeluk pinggang isterinya dan menelungkupkan muka di atas pangkuannya, seperti yang dilakukan pada Roro Luhito tadi.
"Nimas...... nimas Sari...... apa...... yang kauucapkan itu? Kau...... kau...... cemburu?"

Ia menengadah, memandang wajah ayu penuh selidik, mencari-cari dengan pandang matanya. Kartikosari menunduk dan jari-jari kedua tangannya membelai rambut kepala suaminya yang kusut, bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lirih,
"Wanita mana di dunia ini yang bebas akan cemburu, kakangmas? Di mana ada cinta, di situ ada cemburu, Wanita mana di dunia ini suka melihat cinta kasih suaminya dibagi dengan wanita lain? Dan akupun hanya wanita biasa, kakangmas. Akan tetapi, aku ingin diajeng Roro Luhito menjadi maduku, aku ingin melihat dia bahagia di sampingku, berkumpul dengan kita selamanya."
"Hishhh! Apakah kau mengigau, nimas Sari? Sadarlah dan buang jauh-jauh rasa cemburu dari hatimu!", Pujo mempererat pelukannya pada pinggang yang ramping itu.
"Dia cinta padamu, kakangmas. Aku percaya dan yakin bahwa cinta kasihmu hanya untukku seorang dan karena ini aku merasa amat bahagia, suamiku. Akan tetapi,,,...., dia amat cinta kepadamu, dia menderita karenamu, bahkan dia rela menderita karena cintanya kepadamu ...... "
"Bagaimapa..,.,. bagaimana kau tahu,...... ?"
"Setiap orang yang tidak buta hati dan matanya akan dapat melihat, akan dapat mengetahuinya. Dahulu dia mencarimu, ingin menghambakan diri kepadamu, sungguhpun dahulu ia mengira bahwa engkaulah yang memperkosanya. Dan setelah tahu bahwa Jokowanengpati yang melakukannya, ia amat membenci Jokowanengpati, akan tetapi masih tetap cinta kepadamu, bahkan menolongmu, dan malam tadi rela hendak mengorbankan nyawa untukmu. Aku tahu bahwa engkau akan bahagia jika membalas cinta kasihnya, kakangmas, dan aku...... aku hanya ingin membuktikan bahwa cinta kasihku kepadamu sedalam Laut Selatan. Aku rela dan bahagia melihat kau bahagia, Bahwa....... aku tetap mencintamu, tetap bersetia kepadamu apapun yang akan terjadi"
"Nimas Sari ...... kau dewiku ...... !"
Pujo bangkit berdiri, merangkul leher dan hendak mencium bibir Isterinya yang sudah amat lama ia rindukan itu, Akan tetapi Kartikosari merenggutkan dirinya, mengelak sambil berkata, tersenyum,
"Stop, kakangmas! Ingat, belum tiba saatnya. Lupakah engkau akan syaratku?"

Tubuh Pujo yang tadinya mengejang penuh semangat dan kegembiraan itu, seketika menjadi lemah dan lesu. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluh,
"Nimas Sari, isteriku, tidak kasihankah engkau kepadaku? Aku rindu padamu, nimas."
Bibir itu tetap tersenyum manis, akan tetapi matanya berkejap-kejap menahan air mata, memancarkan pandang penuh kasih mesra, kedua tangannya diulur menyentuh tangan suaminya.

<<< Bagian 066                                                                                   Bagian 068 >>>

No comments:

Post a Comment