Badai Laut Selatan ; Bagian 068


Jari-jari tangan mereka saling genggam, penuh getaran yang memancar keluar dari hati masing-masing.
"Kakangmas Pujo, suamiku. jiwa dan raga ini milikmu, sudah kuberikan kepadamu dengan rela sejak dahulu. Akan tetapi ksatria harus menepati janji. Satria harus tahan tapa tahan derita, dan pandai menguasai nafsu diri. Kakangmas, biarlah mulai saat ini kuajukan syarat baru kepadamu. Setelah segala yang kita alami aku hanya mau melayanimu dengan segala kerendahan hati, dengan cinta kasih, apabila diajeng Roro Luhito menjadi maduku!"
"Nimas! Apakah engkau sudah gila ....??"
Pujo bangkit berdiri, memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.
Kartikosari tersenyum.
"Sudahlah, bukan waktunya kita berbantahan Kaupakai pakaianmu pemberian diajeng Luhito dan mari kita menengok keadaan paman adipati. Tidak baik rasanya kalau kita berdua hanya mengeram diri di dalam kamar saja, padahal luka-luka kita hanyalah luka pada kulit."

Pujo hendak membantah, akan tetapi didiamkan oleh senyum Kartikosari yang dengan cekatan menanggalkan baju Pujo yang compang-camping itu. Terharu hatinya melihat betapa isterinya ini membantunya bertukar pakaian, membantunya seolah-olah dia seorang anĂ k kecil yang belum pandai bertukar pakaian sendiri. Sementara itu, diam-diarn Kartikosari terharu dan hampir ia tak dapat menahan isak haru dan gelora hatinya ketika ia menyaksikan kembali bentuk tubuh suaminya yang kokoh kuat dan padat.
Baru saja suami isteri ini keluar dari kamar, datang Roro Luhito berlari-lari. Mereka terkejut dan cemas, akan tetapi lega hati mereka ketika melihat wajah manis itu berseri gembira.
"Kakangmas Pujo, mbokayu Sari! Lekas, mari ke ruangan dalam. Kakangmas Wisangjiwo datang!" teriaknya girang.
Pujo dan Kartikosari tersenyum dan saling pandang. Betapapun juga, ada rasa kikuk dan tidak enak untuk bertemu muka dengan Wisangjiwo, orang yang tadinya mereka benci dan mereka jadikan musuh besar yang didendam di dalam hati. Tanpa mengeluarkan kata-kata mereka berdua menyertai Roro Luhito yang berjalan sambil menceritakan kedatangan kakaknya.
"Kakangmas Wisangjiwo telah menentang sekutunya yang jahat dan kini menghamba kepada Pangeran Tua. Itulah sebabnya maka Jokowanengpati dan sekutunya yang jahat, atas perintah Pangeran Anom (Muda) menyerbu dan mengambil alih Selopenangkep. Ketika kakangmas Wisangjiwo mendengar akan serbuan ini, segera ia mohon perkenan Gusti Pangeran Sepuh (Tua) membawa pasukan yang kuat dan baru saja tiba di sini. Marilah, dia sedang bicara dengan ayah. Bapa resi juga berada di sana."

Dari ruangan pinggir, tampak kini melalui pintu yang terbuka, banyak pasukan di depan pendopo. Terdengar pula ringkik dan derap kaki kuda. Agaknya pasukan yang dibawa Wisangjiwo dari kota raja mulai melakukan tugasnya memulihkan Kadipaten Selopenangkep, Roro Luhito mengajak dua orang itu menyeberang dan memasuki ruangan dalam dari pintu samping. Ruangan yang cukup luas dimana sang adipati duduk setengah rebah di atas dipan terukir, dengan punggung diganjal bantal. Tidak jauh dari situ, di atas sebuah bangku, dengan tangan sibuk menggaruki tubuh seperti biasanya, duduk Resi Telomoyo. Di pinggir dipan tampak Raden Wisangjiwo yang berpakaian indah dan gagah, duduk dan bicara serius dengan ayahnya. Ketika mendengar masuknya tiga orang, Raden Wisangjiwo menoleh dan mendadak mukanya menjadi merah sekali ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari. Ia cepat bangkit berdiri dan menyambut suami isteri itu dengan kata-kata terharu,
"Adimas Pujo, aku merasa amat berterima kasih atas pertolonganmu sehingga ayah terbebas dari pada ancaman maut di tangan si keparat Jokowanengpati. lebih besar pula rasa sesalku apabila kuingat betapa kalian berdua telah banyak menderita akibat perbuatanku yang sesat di masa lalu..... "
Suaranya tersendat oleh keharuan. Kartikosari hanya menundukkan mukanya, akan tetapi Pujo mengangkat tangan memprotes.
"Bukan hanya engkau yang keliru, raden. Akupun telah melakukan perbuatan sesat dan jahat, menyerbu kadipaten ini, bersikap kurang patut terhadap gusti adipati, bahkan telah melakukan penculikan terhadap isteri dan puteramu. Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk mohon maaf sebesarnya, baik kepadamu terutama sekali kepada gusti adipati!"
"Aahhh ...... jangan menyebut gusti, anakmas Pujo. Sebut saja paman kepadaku, dan jangan minta maaf. Uggh-huhhuh.......!"
Orang tua itu terbatuk-batuk, terengah-engah sehingga Roro Luhito cepat menghampiri ayahnya dan mengurut-urut punggungnya.
"Uuh-uh ...... anakmas Pujo, sesungguhnya semua peristiwa ini adalah akibat daripada kesalahan ku sendiri! Aku telah mendengar semua, mendengar penuturan Wisangjiwo yang telah insyaf dan sadar, telah melempangkan jalan hidup yang bengkok yang kutempuh. Aku telah mendengar semua penuturan Roro Luhito dan penjelasan Sang Resi Telomoyo. maka jelaslah bahwa semua adalah akibat penyelewenganku dahulu...... ugghh-uh. Aku....... terlalu mabok akan kesenangan dunia seperti terbalik pandang mataku, seperti buta mata hatiku, gila kedudukan mabok kemuliaan sehingga aku bersekutu dengan manusia-manusia lblis ...... , percaya mulut manis si keparat Jokowanengpati ...... "

Tiba-tiba Resi Telomoyo tertawa dan terdengarlah suaranya yang parau dan dalam,
"Ha-ha-ha-ha, semua yang bersalah mengakui kesalahannya! Alangkah baiknya hal ini adalah lebih baik bersalah tapi mengakui kesalahannya dan bertobat penuh penyesalan, daripada tidak bersalah merasa bangga dan mengagungkan serta menyombongkan kebersihannya."
Mendengar ucapan ini, Wisangjiwo menoleh ke arah adik tirinya, berkata sambil menarik napas panjang,
"Roro, adikku yang baik, engkau sungguh bahagia mendapatkan seorang guru sebijak paman resi ini, tidak seperti aku ...... "
Kemudian ia menghampiri Pujo dan berkata,
"Adimas Pujo, setelah segala yang terjadi, dapatkah engkau benar-benar mengampuni aku? Bolehkah aku kini bertemu dengan puteraku?"
Suaranya tersendat oleh keharuan. Pujo mengerutkan keningnya.
"Tidak ada yang harus minta dan memberi ampun, raden...... "
"Ah, adimas, mengapa. menyebut raden? Bukankah ayahku minta kau menyebut paman kepadanya? Kita bukan orang lain, ah, bagaimana dengan puteraku, Joko Wandiro yang menjadi, muridmu? Mana dia?"
"Maaf ...... kangmas Wisangjiwo. Tanpa kusengaja aku mengecewakan semua keluargamu. Kami sendiri sebetulnya sedang mencari-cari Joko Wandiro dan Endang Patibroto, puteriku..."
Kemudian secara singkat Pujo menceritakan kehilangan dua orang anak itu Wisangjiwo merasa gelisah sekali dan ketika ia memanggil kepala pasukan, memberinya perintah untuk mengerahkan pasukan dari kota raja mencari dua orang anak yang hilang itu.

Keadaan Adipati Joyowiseso amat payah. Bangsawan ini sudah tua dan lemah. Serbuan yang menghancurkan keluarganya, kemudian siksaan yang dideritanya, terlalu berat baginya. Biarpun Resi Telomoyo sudah berusaha sedapatnya untuk memberikan jamu-jamu yang berkhasiat, namun hasilnya sia-sia. Tiga hari kemudian, dalam keadaan payah, berbaring di atas pembaringan dalam kamarnya, Adipati Joyowiseso memanggil kedua anaknya mendekat, dan minta supaya dipanggilkan Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo. Ketika Pujo dan isterinya memasuki kamar, mereka melihat Resi Telomoyo sudah berada di situ, duduk di bangku menggaruk-garuk tubuhnya. Wisangjiwo juga duduk di dekat pembaringan dengan wajah yang pucat dan muram, sedangkan Roro Luhito berlutut di dekat pembaringan sambil menangisi ayahnya. Adipati itu tampak kurus dan pucat sekali, akan tetapi matanya bersinar ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari memasuki kamar. Pujo dan Kartikosari segera duduk menghadapi si sakit.
"Nakmas Pujo ....... ahhh......." Si sakit berkata dengan napas terengah-engah dan agaknya ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat bicara. Telunjuknya menuding ke arah Wisangjiwo ketika . Ia menyambung,
"....... aku....... aku tidak khawatirkan dia ini....... dia menghamba Pangeran Tua....... akan tetapi ....... " Ia terengah-engah, menoleh dan menyentuh kepala Roro Luhito yang berlutut di dekatnya,
"akan tetapi dia ini dia akan terlantar...... aku...... aku...... menyerahkan dia kepadamu ...... anakmas ....... kauterimalah anakku ...... ini ...... "
Sang adipati tidak kuat melanjutkan lagi, merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, napasnya terengah-engah, matanya dipejamkan setalah ia memandang ke arah Pujo dengan pandang mata penuh permohonan. Sunyi sejenak di kamar itu, kecuali isak tertahan Roro Luhito. Pujo bangkit dari bangku, bingung memandang ke sekeliling, memandang kepada wajah semua orang. Kartikosari hanya menundukkan muka.
"Ini ...... ini ...... bagaimana ini ...... ?" Ia menggagap, mukanya menjadi merah sekali. Ia memandang Wisangjiwo untuk minta bantuan. Wisangjiwo menggigit bibir dan mengangguk.
"Aku telah menyetujui, dan aku hanya mengharap kau akan suka memenuhi permintaan terakhir ayahku, adimas Pujo."
“Akan tetapi .... tetapi .... " Pujo sukar sekali mengeluarkan isi hatinya yang penuh keraguan. Ia memandang ke arah Roro Luhito, kemudian menoleh ke arah isterinya. Keadaan menjadi hening dan tegang.

Adipati Joyowiseso masih memandang ke arah Pujo, menanti jawaban penuh pandang memohon. Wisangjiwo juga menoleh ke arah Pujo. Kini Roro Luhito juga menggerakkan kepala, menoleh dan menatap wajah Pujo melalui tirai air mata. Namun Pujo tidak bergerak, tetap memandang kepada isterinya yang masih menundukkan muka. Agaknya pandang mata suaminya dan keadaan hening yang mencekam itu memaksa Kartikosari mengangkat muka memandang. Bertemulah pandang mata Kartikosari dengan sinar mata suaminya yang penuh dengan pertanyaan dan keraguan. Bibir yang merah itu merekah dalam senyum, pandang matanya penuh kasih dan rela, kemudian Kartikosari mengangguk memberi persetujuan kepada suaminya.
Dalam detik-detik itu pandang mata suami isteri itu telah melakukan tanya jawab yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Pujo bernapas lega dan gerak-gerik mereka ini diikuti oleh pandang mata semua orang, termasuk pandang mata Roro Luhito. Kalau semua orang masih belum tahu apa makna semua itu, Roro Luhito sudah mengerti. Dengan isak tertahan ia meloncat, menubruk dan merangkul leher Kartikosari, kemudian melepas rangkulannya dan lari keluar dari kamar itu! Kartikosari tersenyum dan mengusap air mata Roro Luhito yang membasahi pipinya ketika puteri adipati itu tadi mengambungnya. Dengan anggukan kepala Kartikosari memberi isyarat kepada suaminya dan mereka berdua keluar dari kamar itu mengejar Roro Luhito. Roro Luhito duduk di atas sebuah bangku dalam taman sari, menyembunyikan mukanya dalam kedua tangan, menangis terisak-isak, sepasang pundaknya bergerak-gerak dan ia sama sekali tidak tahu betapa Pujo dan Kartikosari menghampirinya dari belakang dengan langkah perlahan, bergandengan tangan.
Kartikosari berhenti, melepaskan tangan suaminya, lalu mendorong-dorong pundak suaminya ke depan. Pujo meragu, berat rasa hatinya harus menyapa Roro Luhito dalam keadaan seperti itu, di depan isterinya yang tercinta. Akan tetapi dengan isyarat pandang mata, gerak bibir dan dorongan-dorongan, Kartikosari membujuknya. Pujo melangkah ke depan sampai dekat .Roro Luhito. Dadanya berdebar, kerongkongannya serasa kering sehingga sukar sekali baginya mengeluarkan suara.
"....... diajeng......." Akhirnya dapat juga ia bersuara.
Roro Luhito seketika berhenti terisak, tubuhnya tak bergerak, seakan-akan suara itu telah mencabut sukmanya. Kedua tangan masih menutupi muka, akan tetapi ia tidak menangis lagi, bahkan seakan tidak bernapas, agaknya tidak percaya akan mendengar suara Pujo. Pujo tadi sudah diajari isterinya bagaimana harus bicara kepada Roro Luhito, Kalimat itu sudah hafal olehnya, namun mulutnya sukar digerakkan, lehernya seperti tercekik. Tentu saja ia bukan seorang laki-laki yang lemah, bukan pula pemalu. Hanya karena Kartikosari berada di situ, hal inilah yang membuat ia merasa sungkan, malu, dan tak enak hati. Betapa ia dapat berkasih sayang dengan wanita lain di depan isterinya, wanita satu-satunya di dunia ini yang dicintanya? Ia memaksa diri ketika melirik ke kiri dan melihat Kartikosari kembali mendorong-dorongnya dengan isyarat pandang mata dan gerak mulut.
"....... diajeng Roro Luhito, mengapa kau menangis ? Kalau....... kalau sekiranya diajeng tidak setuju dengan usul paman adipati....... jangan khawatir, diajeng, aku....... aku dapat membatalkan....... "
Belum habis Pujo mengucapkan kalimat hafalan yang didekte oleh Kartikosari itu tiba-tiba Roro Luhito menangis lagi dan wanita ini menjatuhkan diri berlutut dan merangkul kedua kaki Pujo yang berdiri terlongong seperti patung penjaga alun-alun keraton!.
" eh ....... nimas Sari ....... kalau sudah begini bagaimana ini ....... ? "

<<< Bagian 067                                                                                    Bagian 069 >>>

No comments:

Post a Comment