Jari-jari tangan mereka saling genggam, penuh getaran yang memancar keluar dari hati masing-masing.
"Kakangmas
Pujo, suamiku. jiwa dan raga ini milikmu, sudah kuberikan kepadamu dengan rela
sejak dahulu. Akan tetapi ksatria harus menepati janji. Satria harus tahan tapa
tahan derita, dan pandai menguasai nafsu diri. Kakangmas, biarlah mulai saat
ini kuajukan syarat baru kepadamu. Setelah segala yang kita alami aku hanya mau
melayanimu dengan segala kerendahan hati, dengan cinta kasih, apabila diajeng
Roro Luhito menjadi maduku!"
"Nimas!
Apakah engkau sudah gila ....??"
Pujo bangkit
berdiri, memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.
Kartikosari
tersenyum.
"Sudahlah,
bukan waktunya kita berbantahan Kaupakai pakaianmu pemberian diajeng Luhito dan
mari kita menengok keadaan paman adipati. Tidak baik rasanya kalau kita berdua
hanya mengeram diri di dalam kamar saja, padahal luka-luka kita hanyalah luka
pada kulit."
Pujo hendak
membantah, akan tetapi didiamkan oleh senyum Kartikosari yang dengan cekatan
menanggalkan baju Pujo yang compang-camping itu. Terharu hatinya melihat betapa
isterinya ini membantunya bertukar pakaian, membantunya seolah-olah dia seorang
anĂ k kecil yang belum pandai bertukar pakaian sendiri. Sementara itu,
diam-diarn Kartikosari terharu dan hampir ia tak dapat menahan isak haru dan
gelora hatinya ketika ia menyaksikan kembali bentuk tubuh suaminya yang kokoh
kuat dan padat.
Baru saja
suami isteri ini keluar dari kamar, datang Roro Luhito berlari-lari. Mereka
terkejut dan cemas, akan tetapi lega hati mereka ketika melihat wajah manis itu
berseri gembira.
"Kakangmas
Pujo, mbokayu Sari! Lekas, mari ke ruangan dalam. Kakangmas Wisangjiwo
datang!" teriaknya girang.
Pujo dan
Kartikosari tersenyum dan saling pandang. Betapapun juga, ada rasa kikuk dan
tidak enak untuk bertemu muka dengan Wisangjiwo, orang yang tadinya mereka
benci dan mereka jadikan musuh besar yang didendam di dalam hati. Tanpa
mengeluarkan kata-kata mereka berdua menyertai Roro Luhito yang berjalan sambil
menceritakan kedatangan kakaknya.
"Kakangmas
Wisangjiwo telah menentang sekutunya yang jahat dan kini menghamba kepada
Pangeran Tua. Itulah sebabnya maka Jokowanengpati dan sekutunya yang jahat,
atas perintah Pangeran Anom (Muda) menyerbu dan mengambil alih Selopenangkep.
Ketika kakangmas Wisangjiwo mendengar akan serbuan ini, segera ia mohon
perkenan Gusti Pangeran Sepuh (Tua) membawa pasukan yang kuat dan baru saja
tiba di sini. Marilah, dia sedang bicara dengan ayah. Bapa resi juga berada di
sana."
Dari ruangan
pinggir, tampak kini melalui pintu yang terbuka, banyak pasukan di depan
pendopo. Terdengar pula ringkik dan derap kaki kuda. Agaknya pasukan yang
dibawa Wisangjiwo dari kota raja mulai melakukan tugasnya memulihkan Kadipaten
Selopenangkep, Roro Luhito mengajak dua orang itu menyeberang dan memasuki
ruangan dalam dari pintu samping. Ruangan yang cukup luas dimana sang adipati
duduk setengah rebah di atas dipan terukir, dengan punggung diganjal bantal.
Tidak jauh dari situ, di atas sebuah bangku, dengan tangan sibuk menggaruki
tubuh seperti biasanya, duduk Resi Telomoyo. Di pinggir dipan tampak Raden
Wisangjiwo yang berpakaian indah dan gagah, duduk dan bicara serius dengan
ayahnya. Ketika mendengar masuknya tiga orang, Raden Wisangjiwo menoleh dan
mendadak mukanya menjadi merah sekali ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari.
Ia cepat bangkit berdiri dan menyambut suami isteri itu dengan kata-kata
terharu,
"Adimas
Pujo, aku merasa amat berterima kasih atas pertolonganmu sehingga ayah terbebas
dari pada ancaman maut di tangan si keparat Jokowanengpati. lebih besar pula
rasa sesalku apabila kuingat betapa kalian berdua telah banyak menderita akibat
perbuatanku yang sesat di masa lalu..... "
Suaranya
tersendat oleh keharuan. Kartikosari hanya menundukkan mukanya, akan tetapi
Pujo mengangkat tangan memprotes.
"Bukan
hanya engkau yang keliru, raden. Akupun telah melakukan perbuatan sesat dan
jahat, menyerbu kadipaten ini, bersikap kurang patut terhadap gusti adipati,
bahkan telah melakukan penculikan terhadap isteri dan puteramu. Biarlah
kesempatan ini kupergunakan untuk mohon maaf sebesarnya, baik kepadamu terutama
sekali kepada gusti adipati!"
"Aahhh
...... jangan menyebut gusti, anakmas Pujo. Sebut saja paman kepadaku, dan
jangan minta maaf. Uggh-huhhuh.......!"
Orang tua itu
terbatuk-batuk, terengah-engah sehingga Roro Luhito cepat menghampiri ayahnya
dan mengurut-urut punggungnya.
"Uuh-uh
...... anakmas Pujo, sesungguhnya semua peristiwa ini adalah akibat daripada
kesalahan ku sendiri! Aku telah mendengar semua, mendengar penuturan Wisangjiwo
yang telah insyaf dan sadar, telah melempangkan jalan hidup yang bengkok yang
kutempuh. Aku telah mendengar semua penuturan Roro Luhito dan penjelasan Sang
Resi Telomoyo. maka jelaslah bahwa semua adalah akibat penyelewenganku
dahulu...... ugghh-uh. Aku....... terlalu mabok akan kesenangan dunia seperti
terbalik pandang mataku, seperti buta mata hatiku, gila kedudukan mabok
kemuliaan sehingga aku bersekutu dengan manusia-manusia lblis ...... , percaya
mulut manis si keparat Jokowanengpati ...... "
Tiba-tiba Resi
Telomoyo tertawa dan terdengarlah suaranya yang parau dan dalam,
"Ha-ha-ha-ha,
semua yang bersalah mengakui kesalahannya! Alangkah baiknya hal ini adalah
lebih baik bersalah tapi mengakui kesalahannya dan bertobat penuh penyesalan,
daripada tidak bersalah merasa bangga dan mengagungkan serta menyombongkan
kebersihannya."
Mendengar
ucapan ini, Wisangjiwo menoleh ke arah adik tirinya, berkata sambil menarik
napas panjang,
"Roro,
adikku yang baik, engkau sungguh bahagia mendapatkan seorang guru sebijak paman
resi ini, tidak seperti aku ...... "
Kemudian ia
menghampiri Pujo dan berkata,
"Adimas
Pujo, setelah segala yang terjadi, dapatkah engkau benar-benar mengampuni aku?
Bolehkah aku kini bertemu dengan puteraku?"
Suaranya
tersendat oleh keharuan. Pujo mengerutkan keningnya.
"Tidak
ada yang harus minta dan memberi ampun, raden...... "
"Ah,
adimas, mengapa. menyebut raden? Bukankah ayahku minta kau menyebut paman
kepadanya? Kita bukan orang lain, ah, bagaimana dengan puteraku, Joko Wandiro
yang menjadi, muridmu? Mana dia?"
"Maaf
...... kangmas Wisangjiwo. Tanpa kusengaja aku mengecewakan semua keluargamu.
Kami sendiri sebetulnya sedang mencari-cari Joko Wandiro dan Endang Patibroto,
puteriku..."
Kemudian
secara singkat Pujo menceritakan kehilangan dua orang anak itu Wisangjiwo
merasa gelisah sekali dan ketika ia memanggil kepala pasukan, memberinya
perintah untuk mengerahkan pasukan dari kota raja mencari dua orang anak yang
hilang itu.
Keadaan Adipati
Joyowiseso amat payah. Bangsawan ini sudah tua dan lemah. Serbuan yang
menghancurkan keluarganya, kemudian siksaan yang dideritanya, terlalu berat
baginya. Biarpun Resi Telomoyo sudah berusaha sedapatnya untuk memberikan
jamu-jamu yang berkhasiat, namun hasilnya sia-sia. Tiga hari kemudian, dalam
keadaan payah, berbaring di atas pembaringan dalam kamarnya, Adipati Joyowiseso
memanggil kedua anaknya mendekat, dan minta supaya dipanggilkan Pujo,
Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo. Ketika Pujo dan isterinya memasuki kamar,
mereka melihat Resi Telomoyo sudah berada di situ, duduk di bangku
menggaruk-garuk tubuhnya. Wisangjiwo juga duduk di dekat pembaringan dengan
wajah yang pucat dan muram, sedangkan Roro Luhito berlutut di dekat pembaringan
sambil menangisi ayahnya. Adipati itu tampak kurus dan pucat sekali, akan
tetapi matanya bersinar ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari memasuki kamar.
Pujo dan Kartikosari segera duduk menghadapi si sakit.
"Nakmas
Pujo ....... ahhh......." Si sakit berkata dengan napas terengah-engah dan
agaknya ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat bicara. Telunjuknya
menuding ke arah Wisangjiwo ketika . Ia menyambung,
".......
aku....... aku tidak khawatirkan dia ini....... dia menghamba Pangeran
Tua....... akan tetapi ....... " Ia terengah-engah, menoleh dan menyentuh
kepala Roro Luhito yang berlutut di dekatnya,
"akan
tetapi dia ini dia akan terlantar...... aku...... aku...... menyerahkan dia
kepadamu ...... anakmas ....... kauterimalah anakku ...... ini ...... "
Sang adipati
tidak kuat melanjutkan lagi, merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, napasnya
terengah-engah, matanya dipejamkan setalah ia memandang ke arah Pujo dengan
pandang mata penuh permohonan. Sunyi sejenak di kamar itu, kecuali isak
tertahan Roro Luhito. Pujo bangkit dari bangku, bingung memandang ke
sekeliling, memandang kepada wajah semua orang. Kartikosari hanya menundukkan
muka.
"Ini
...... ini ...... bagaimana ini ...... ?" Ia menggagap, mukanya menjadi
merah sekali. Ia memandang Wisangjiwo untuk minta bantuan. Wisangjiwo menggigit
bibir dan mengangguk.
"Aku
telah menyetujui, dan aku hanya mengharap kau akan suka memenuhi permintaan
terakhir ayahku, adimas Pujo."
“Akan tetapi
.... tetapi .... " Pujo sukar sekali mengeluarkan isi hatinya yang penuh
keraguan. Ia memandang ke arah Roro Luhito, kemudian menoleh ke arah isterinya.
Keadaan menjadi hening dan tegang.
Adipati
Joyowiseso masih memandang ke arah Pujo, menanti jawaban penuh pandang memohon.
Wisangjiwo juga menoleh ke arah Pujo. Kini Roro Luhito juga menggerakkan
kepala, menoleh dan menatap wajah Pujo melalui tirai air mata. Namun Pujo tidak
bergerak, tetap memandang kepada isterinya yang masih menundukkan muka. Agaknya
pandang mata suaminya dan keadaan hening yang mencekam itu memaksa Kartikosari mengangkat
muka memandang. Bertemulah pandang mata Kartikosari dengan sinar mata suaminya
yang penuh dengan pertanyaan dan keraguan. Bibir yang merah itu merekah dalam
senyum, pandang matanya penuh kasih dan rela, kemudian Kartikosari mengangguk
memberi persetujuan kepada suaminya.
Dalam
detik-detik itu pandang mata suami isteri itu telah melakukan tanya jawab yang
hanya dimengerti oleh mereka berdua. Pujo bernapas lega dan gerak-gerik mereka
ini diikuti oleh pandang mata semua orang, termasuk pandang mata Roro Luhito.
Kalau semua orang masih belum tahu apa makna semua itu, Roro Luhito sudah
mengerti. Dengan isak tertahan ia meloncat, menubruk dan merangkul leher
Kartikosari, kemudian melepas rangkulannya dan lari keluar dari kamar itu!
Kartikosari tersenyum dan mengusap air mata Roro Luhito yang membasahi pipinya
ketika puteri adipati itu tadi mengambungnya. Dengan anggukan kepala
Kartikosari memberi isyarat kepada suaminya dan mereka berdua keluar dari kamar
itu mengejar Roro Luhito. Roro Luhito duduk di atas sebuah bangku dalam taman
sari, menyembunyikan mukanya dalam kedua tangan, menangis terisak-isak,
sepasang pundaknya bergerak-gerak dan ia sama sekali tidak tahu betapa Pujo dan
Kartikosari menghampirinya dari belakang dengan langkah perlahan, bergandengan
tangan.
Kartikosari
berhenti, melepaskan tangan suaminya, lalu mendorong-dorong pundak suaminya ke
depan. Pujo meragu, berat rasa hatinya harus menyapa Roro Luhito dalam keadaan
seperti itu, di depan isterinya yang tercinta. Akan tetapi dengan isyarat pandang
mata, gerak bibir dan dorongan-dorongan, Kartikosari membujuknya. Pujo
melangkah ke depan sampai dekat .Roro Luhito. Dadanya berdebar, kerongkongannya
serasa kering sehingga sukar sekali baginya mengeluarkan suara.
".......
diajeng......." Akhirnya dapat juga ia bersuara.
Roro Luhito
seketika berhenti terisak, tubuhnya tak bergerak, seakan-akan suara itu telah
mencabut sukmanya. Kedua tangan masih menutupi muka, akan tetapi ia tidak
menangis lagi, bahkan seakan tidak bernapas, agaknya tidak percaya akan
mendengar suara Pujo. Pujo tadi sudah diajari isterinya bagaimana harus bicara
kepada Roro Luhito, Kalimat itu sudah hafal olehnya, namun mulutnya sukar
digerakkan, lehernya seperti tercekik. Tentu saja ia bukan seorang laki-laki
yang lemah, bukan pula pemalu. Hanya karena Kartikosari berada di situ, hal
inilah yang membuat ia merasa sungkan, malu, dan tak enak hati. Betapa ia dapat
berkasih sayang dengan wanita lain di depan isterinya, wanita satu-satunya di
dunia ini yang dicintanya? Ia memaksa diri ketika melirik ke kiri dan melihat
Kartikosari kembali mendorong-dorongnya dengan isyarat pandang mata dan gerak
mulut.
".......
diajeng Roro Luhito, mengapa kau menangis ? Kalau....... kalau sekiranya
diajeng tidak setuju dengan usul paman adipati....... jangan khawatir, diajeng,
aku....... aku dapat membatalkan....... "
Belum habis
Pujo mengucapkan kalimat hafalan yang didekte oleh Kartikosari itu tiba-tiba
Roro Luhito menangis lagi dan wanita ini menjatuhkan diri berlutut dan
merangkul kedua kaki Pujo yang berdiri terlongong seperti patung penjaga
alun-alun keraton!.
" eh
....... nimas Sari ....... kalau sudah begini bagaimana ini ....... ? "
No comments:
Post a Comment