Pujo tergagap bingung memandang isterinya dan menjaga keseimbangan tubuhnya agar jangan terguling karena kedua kakinya yang dirangkul itu mendadak menggigil!.
"Aduh,
bodohnya laki-laki! Itu tandanya ia setuju!" kata Kartikosari menahan
tawa.
Mendengar
suara ini, Roro Luhito terkejut. Tak disangkanya bahwa Kartikosari berada di
situ pula. Ia mengangkat muka, lalu ia melepaskan kaki Pujo, serta-merta ia
berlutut di depan Kartikosari, sambil menangis tersedu-sedu.
"Duhai
Dewata yang mulia ....... betapa mungkin Roro Luhito berlaku serendah ini
....... ?" Roro Luhito menjerit lirih sambil menangis.
"Diajeng
....... !! " Pujo dan Kartikosari berseru hampir berbareng karena kaget.
Roro Luhito
mengangkat muka memandang mereka. Muka yang merawankan hati, agak pucat,
matanya merah, air matanya berderai-derai.
"Kakangmas
....... mbokayu ....... kalian tentu tahu betapa cinta hatiku hanya tertuju
kepada kakangmas Pujo. Aku rela mati demi cinta kasihku kepada kakangmas Pujo.
Akan tetapi........ kakangmas Pujo adalah suami mbokayu Kartikosari yang begitu
baik kepadaku ....... yang melepas budi kepadaku ....... betapa mungkin aku
berlaku serendah ini, menyakiti hati mbokayu Kartikosari .......?"
Kartikosari
terharu dan segera berlutut pula, merangkul Roro Luhito.
"Diajeng,
kau keliru. Aku tahu betapa suci murni cinta kasihmu terhadap kakangmas Pujo,
dan aku tahu pula betapa baik dan bersih hatimu terhadap aku. Tahukah engkau,
diajeng, bahwa aku telah mengajukan syarat kepada kakangmas Pujo? Syaratku
kepadanya, aku hanya mau bertugas sebagai isterinya kembali, melakukan
kewajiban, sebagai isteri yang melayani suami, hanya dengan syarat bahwa engkau
harus menjadi maduku!"
Roro Luhito
tersentak kaget, menjauhkan mukanya untuk dapat memandang wajah Kartikosari
dengan jelas melalui air matanya, matanya dilebarkan. Kedua orang wanita itu
saling pandang, keduanya mengeluarkan air mata dan akhirnya mereka berpelukan
sambil menangis dan saling berciuman. Pujo yang masih berdiri itu hanya dapat memandang.
Keningnya berkerut matanya termenung, mulutnya tersenyum-senyum bingung, dan
melihat dua orang wanita itu berpelukan dan bertangisan, ia mengangkat
pundaknya berkali-kali sambil meraba-raba kumisnya yang tipis. Tiba-tiba ia
terperanjat ketika mendengar suara Kartikosari menegur,
"Kenapa
kau berdiri seperti patung di situ, kakangmas?"
"Eh
....... habis ....... bagaimana ini ....... selanjutnya?" jawabnya gagap.
Kartikosari
menarik Roro Luhito bangkit berdiri. Dengan pipi masih basah Kartikosari tersenyum
kepada suaminya.
"Apa kau
tidak mau menerima diajeng Roro Luhito menjadi isterimu, kakangmas Pujo?"
Roro Luhito
mengangkat muka pula, sepasang matanya memandang tajam kepada Pujo. Sepasang
mata bintang, tajam jernih, indah! Pujo menelan ludah, sukar sekali menjawab
pertanyaan yang diajukan isterinya seperti todongan ujung keris ini.
"Bagaimana?
Kakangmas, seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan tegas!"
Kartikosari menegur.
"Betul
ucapan mbokayu Kartikosari," Roro Luhito menyambung, suaranya juga tegas
seperti suara Kartikosari.
"Kalau
kakangmas merasa keberatan dan tidak tidak suka menerimaku, hendaknya berterus
terang saja dan aku akan ikut dengan bapa resi guruku untuk menjadi seorang
pertapa."
Ia menutup
kata-katanya dengan isak ditahan. Kembali Pujo menelan ludah, kemudian ia
menentang pandang mata kedua wanita itu, mengangkat dada dan menjawab lantang,
"Aku
mau!!"
Jawaban ini
dikeluarkan dengan suara yang amat lantang, terlalu lantang sehingga jelas
tidak sewajarnya dan dibuat-buat untuk memberanikan hati. Keadaan ini amat lucu
sehingga Kartikosari tidak dapat menahan ketawanya. Apalagi Roro Luhito, wanita
yang pada dasarnya memang lincah dan gembira. Karena kini hatinya penuh dengan
kebahagiaan, menyaksikan sikap calon suaminya yang memang sejak sepuluh tahun
yang lalu telah menjadi pujaan hatinya ini, tak dapat menahan kegelian hatinya.
Ia memeluk Kartikosari, menyembunyikan mukanya dan tertawa sampai
terpingkal-pingkal dengan air mata membanjir keluar!.
Pujo berbesar
hati. Tadi ia bingung menyaksikan dua orang wanita itu bertangis-tangisan. Akan
tetapi sekarang menyaksikan wajah istennya penuh senyum yang manis dan cerah,
melihat pula betapa Roro Luhitc tertawa-tawa sambil menyembunyikan muka karena
malu-malu, ia menjadi bangga. Dengan langkah lebar ia mendekat. Hanya tiga
langkah dan ia sudah berada di depan mereka, kedua lengannya dikembangkan dan
dua orang wanita itu sudah berada dalam rangkulan dan pelukannya. Dengan kedua
lengannya yang kuat, ia memeluk dan mendekap mereka di atas dadanya.
Kartikosari di dada kanan, Roro Luhito di dada kiri. Kedua wanita itupun
meramkan mata sambil balas memeluk, menyembunyikan muka di atas dada yang
bidang, merasa aman sentausa dan bahagia. Sampai lama mereka berada dalam
keadaan seperti ini, tanpa bicara karena dalam saat seperti itu, kata-kata yang
keluar dari mulut terlampau miskin untuk menyampaikan getaran rasa nikmat yang
menggelora dan menggetar-getar dari dalam hati. Sebagai seorang wanita yang
halus perasaannya, Kartikosari yang lebih dulu tergugah. Maklum betapa suaminya
terbuai getaran cinta kasih yang menggelora, ia cepat berkata, suaranya halus
tapi menekan,
"Kakangmas,
kiranya cukuplah. Seorang satria harus teguh memegang janji. Belum tiba saatnya
kita saling menumpahkan perasaan cinta kasih."
Pujo menarik
napas panjang untuk menekan gelora hatinya yang benar-benar hamper terseret
gelombang asmara yang amat hebat. Dengan kedua tangan di atas pundak kedua
isterinya, ia mendorong mereka, menatap wajah mereka, lalu berkata,
"Sekali
lagi aku berjanji bahwa sebelum musuh besar kita bertiga terbalas, aku akan
menahan diri dan tidak akan menuntut hakku sebagai suami terhadap kalian, kedua
isteriku yang terkasih."
"Wah,
enak saja dia ini menyebutmu sebagai isterinya, diajeng!" Kartikosari
menggoda suaminya.
"Kakangmas
Pujo, kau belum menjawab permintaan paman adipati. Beliau tentu menanti-nanti,
hayo kau lekas ke sana memberikan jawabanmu."
Pujo meragu,
memandang kepada Roro Luhito, seakan minta pertimbangan. Roro Luhito yang kini
berseri-seri wajahnya sehingga menjadi makin cantik manis, mengangguk dan
berkata,
"Betul
pendapat mbokayu Sari, kakangmas. Kau harus memberi jawaban kepada ayah."
Kartikosari
makin lebar senyumnya, matanya menggoda, tangan kirinya memeluk pinggang Roro
Luhito. Pujo hendak membantah, namun menghadapi dua orang wanita yang
sependapat ini, akhirnya ia menghela napas, mengangkat kedua pundak,
membalikkan tubuh dan melangkah pergi sambil mengembangkan kedua lengan ke
depan. Wah, berat kalau begini, pikirnya di antara kebahagiaan hatinya. Kalau
mereka berdua sudah bersatu padu, dia seakan-akan dihadapkan lawan yang luar
biasa kuatnya. Ia tahu bahwa sejak saat itu, ia takkan dapat lagi merasa lebih
tinggi dan lebih kuat daripada Kartikosari ataupun Roro Luhito yang agaknya telah
membentuk persekutuan yang amat erat dan kuat. Berpikir demikian, Pujo meringis
dan mempercepat langkahnya menuju ke dalam kadipaten, ke dalam kamar di mana
Adipati Joyowiseso sudah menanti-nanti kembalinya. Tak tahu ia betapa
Kartikosari dan Roro Luhito menutup mulut menahan ketawa melihat ia berjalan
sambil mengembangkan lengan dan kepalanya bergeleng-geleng seperti itu!. Dapat
dibayangkan betapa lega dan girang Adipati Joyowiseso ketika Pujo menghadap dan
menyatakan persetujuannya akan usul adipati itu tentang perjodohannya dengan
Roro Luhito. Adipati Joyowiseso yang sudah tua dan keluarganya telah hancur
berantakan itu merasa lega, karena sesungguhnya hanyalah keadaan puterinya ini
yang menyusahkan hatinya. Seorang gadis yang sudah berusia dua puluh enam
tahun, dinodai peristiwa aib karena perbuatan Jokowanengpati yang terkutuk.
Akan bagaimanakah jadinya kelak kalau tidak cepat-cepat dijodohkan dengan
seorang yang patut menjadi suaminya? Dan menurut pendapatnya, tidak ada yang
lebih tepat menjadi suami Roro Luhito kecuali Pujo, laki-laki gagah perkasa
yang juga menjadi idaman hati anaknya itu. Atas desakan sang adipati,
pernikahan dilakukan serentak tiga hari kemudian! Upacara pernikahan yang amat
sederhana, terlalu sederhana bagi puteri seorang adipati. Adipati Joyowiseso
tidak mengundang bangsawan-bangsawan lain, bahkan tidak pula mengundang
kenalan-kenalan lain dari luar Selopenangkep. Upacara pernikahan itu hanya
disaksikan oleh hamba-hamba setia kadipaten, dan dihadiri pula oleh penduduk
Selopenangkep yang tua dan yang penting saja. Karena tidak mempunyai keluarga
yang tua, Pujo dan Kartikosari mohon pertolongan Resi Telomoyo untuk menjadi
wali pengantin pria. Dengan senang hati resi tua itu meluluskan permintaan
Pujo, sedangkan yang menjadi wali pengantin wanita adalah ayahnya sendiri.
Adipati
Joyowiseso mendadak tampak sehat kembali pada hari itu, mengenakan pakaian
kebesaran dan wajahnya berseri gembira. Akan tetapi pengantin wanita menangis
penuh keharuan karena teringat akan ibunya yang tewas dalam penyerbuan
kadipaten. Tertawa dan menangis! Dua macam keadaan yang berlawanan inilah yang
berselang-seling memenuhi kehidupan manusia. Di saat ini tertawa gembira
bersuka ria, di saat lain menangis sedih berduka cita. Dunia bagaikan panggung
sandiwara dan manusia menjadi pelaku-pelaku, bahkan banyak muncul badut-ba dut
setelah diperhamba nafsu dan perasaan. Ataukah . lebih tepat disebut bahwa
dunia bagaikan rumah gila ? Bahwa manusia adalah mahluk-mahluk gila yang saling
menonjolkan kegilaannya agar kelihatan bahwa dialah yang paling gila daripada
segala yang gila?? Manusia mudah tertawa, mudah menangis. Mudah bersuka, mudah
berduka. Pada umumnya apabila keinginannya terlaksana, muncul senyum suka
Sebaliknya, apabila keinginannya tidak terlaksana, muncul tangis duka.
Sedangkan semua keinginan itu berputar kepada keuntungan untuk dirinya sendiri,
berlandaskan nafsu menyenangkan diri pribadi. Mengharap, dapat, tertawa.
Mengharap, luput, menangis. Tawa tangis,menjadi kebiasaan manusia yang sudah
tidak mampu menguasai d irinya sendiri, yang sudah menjadi hamba daripada nafsu
sendiri. Tawa dan tangis adalah sepasang tangan dari badan yang satu. Tawa dan
tangis adalah sepasang saudara kembar yang silih ganti bermunculan, saling
berlomba untuk memperebutkan dan menguasai hati manusia. Manusia yang sadar
dapat menguasai mereka, di waktu suka berkunjung, dapat menjenguk dan melihat
duka berdiri di ambang pintu, siap menanti gilirannya, dan demikian pula
sebaliknya. Karenanya, seorang manusia yang sadar selalu akan tenang dan
menerima segala kejadian di dunia yang menimpa dirinya sebagai kejadian yang
wajar, yang semestinya dan yang tak dapat ia robah atau halangi seperti
munculnya sang matahari. Matahari muncul dan terjadilah panas terik. Ini sudah
wajar. Sudah semestinya. Tidak ada suka, tidak ada duka, tidak ada tawa tidak
ada tangis. Manusia sadar dapat menerima kewajaran ini sebagai kenyataan yang
mengandung anugerah,dapat memetik manfaat daripadanya. Mata seorang sadar dapat
melihat bahwa di balik panas terik yang menyengat dan menghangus kan,
terciptalah keteduhan nikmat di bawah pohon yang rindang! Melihat nikmat dalam
nyeri, mengena! nyeri dalam nikmat. Mengenyam manis dalam pahit, merasai pahit
dalam manis. Mencium ganda busuk dalam harum, mengenal harum dalam ganda busuk!
Bahagialah selalu manusia yang sadar!. Hanya tiga hari kemudian semenjak
upacara pernikahan, Adipati Joyowiseso menghembuskan napas terakhir, diiringi
tangis Roro Luhito dan Wisangjiwo. Seperti juga pada upacara pernikahan antara
Roro Luhito dan Pujo, upacara pemakaman sang adipati dilakukan dengan
sederhana, dilayat oleh mereka yang tiga hari yang lalu menjadi tamu dalam
upacara pernikahan!.
Kalau dalam
pertemuan pertama, Roro Luhito merupakan penghibur bagi Pujo dan Kartikosari
sehingga dalam perjalanan mereka itu terdapat kegembiraan, adalah kini kedua
orang inilah yang selalu menghibur Roro Luhito. Setiap hari tampak Roro Luhito
dihibur oleh Pujo dan Kartikosari di dalam taman sari. Sebagai pengantin baru,
sudah sepantasnya Pujo berlangen asmoro dengan kedua isterinya di dalam taman
indah. Melihat mereka bertiga bermesra-mesraan di dalam taman, tentu semua
orang akan menyangka demikian. Mengira Pujo berbulan madu dengan Roro Luhito,
ditemani Kartikosari sebagai isteri pertama yang penuh toleransi! Perkiraan ini
membuat para pelayan tersenyum-senyum, membuat para dayang saling cubit menahan
tawa, mengerling penuh arti. Padahal sesungguhnya, Pujo dan Kartikosari
hanyalah menghibur hati Roro Luhito agar jangan terlalu dikuasai kedukaan.
Mereka bertiga adalah orang-orang gemblengan yang tahan uji, tidak akan mudah
dikuasai nafsu. Sekali dalam hati berjanji, sampai matipun akan dipegang teguh
janji ini. Sebagai seorang laki- laki yang sehat, tentu saja sumpah atau janji
mereka itu terasa amat berat. Kedua isterinya demikian ayu, demikian denok, dan
bersikap mesra penuh kasih kepadanya. Ia harus mempergunakan seluruh kekuatan
batinnya untuk membendung hasrat hendak mencurahkan seluruh kasih saying dan
rindu dendamnya kepada kedua isterinya, terutama sekali kepada Kartikosari.
No comments:
Post a Comment