Badai Laut Selatan ; Bagian 069


Pujo tergagap bingung memandang isterinya dan menjaga keseimbangan tubuhnya agar jangan terguling karena kedua kakinya yang dirangkul itu mendadak menggigil!.
"Aduh, bodohnya laki-laki! Itu tandanya ia setuju!" kata Kartikosari menahan tawa.
Mendengar suara ini, Roro Luhito terkejut. Tak disangkanya bahwa Kartikosari berada di situ pula. Ia mengangkat muka, lalu ia melepaskan kaki Pujo, serta-merta ia berlutut di depan Kartikosari, sambil menangis tersedu-sedu.
"Duhai Dewata yang mulia ....... betapa mungkin Roro Luhito berlaku serendah ini ....... ?" Roro Luhito menjerit lirih sambil menangis.
"Diajeng ....... !! " Pujo dan Kartikosari berseru hampir berbareng karena kaget.
Roro Luhito mengangkat muka memandang mereka. Muka yang merawankan hati, agak pucat, matanya merah, air matanya berderai-derai.
"Kakangmas ....... mbokayu ....... kalian tentu tahu betapa cinta hatiku hanya tertuju kepada kakangmas Pujo. Aku rela mati demi cinta kasihku kepada kakangmas Pujo. Akan tetapi........ kakangmas Pujo adalah suami mbokayu Kartikosari yang begitu baik kepadaku ....... yang melepas budi kepadaku ....... betapa mungkin aku berlaku serendah ini, menyakiti hati mbokayu Kartikosari .......?"
Kartikosari terharu dan segera berlutut pula, merangkul Roro Luhito.
"Diajeng, kau keliru. Aku tahu betapa suci murni cinta kasihmu terhadap kakangmas Pujo, dan aku tahu pula betapa baik dan bersih hatimu terhadap aku. Tahukah engkau, diajeng, bahwa aku telah mengajukan syarat kepada kakangmas Pujo? Syaratku kepadanya, aku hanya mau bertugas sebagai isterinya kembali, melakukan kewajiban, sebagai isteri yang melayani suami, hanya dengan syarat bahwa engkau harus menjadi maduku!"

Roro Luhito tersentak kaget, menjauhkan mukanya untuk dapat memandang wajah Kartikosari dengan jelas melalui air matanya, matanya dilebarkan. Kedua orang wanita itu saling pandang, keduanya mengeluarkan air mata dan akhirnya mereka berpelukan sambil menangis dan saling berciuman. Pujo yang masih berdiri itu hanya dapat memandang. Keningnya berkerut matanya termenung, mulutnya tersenyum-senyum bingung, dan melihat dua orang wanita itu berpelukan dan bertangisan, ia mengangkat pundaknya berkali-kali sambil meraba-raba kumisnya yang tipis. Tiba-tiba ia terperanjat ketika mendengar suara Kartikosari menegur,
"Kenapa kau berdiri seperti patung di situ, kakangmas?"
"Eh ....... habis ....... bagaimana ini ....... selanjutnya?" jawabnya gagap.
Kartikosari menarik Roro Luhito bangkit berdiri. Dengan pipi masih basah Kartikosari tersenyum kepada suaminya.
"Apa kau tidak mau menerima diajeng Roro Luhito menjadi isterimu, kakangmas Pujo?"
Roro Luhito mengangkat muka pula, sepasang matanya memandang tajam kepada Pujo. Sepasang mata bintang, tajam jernih, indah! Pujo menelan ludah, sukar sekali menjawab pertanyaan yang diajukan isterinya seperti todongan ujung keris ini.
"Bagaimana? Kakangmas, seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan tegas!" Kartikosari menegur.
"Betul ucapan mbokayu Kartikosari," Roro Luhito menyambung, suaranya juga tegas seperti suara Kartikosari.
"Kalau kakangmas merasa keberatan dan tidak tidak suka menerimaku, hendaknya berterus terang saja dan aku akan ikut dengan bapa resi guruku untuk menjadi seorang pertapa."
Ia menutup kata-katanya dengan isak ditahan. Kembali Pujo menelan ludah, kemudian ia menentang pandang mata kedua wanita itu, mengangkat dada dan menjawab lantang,
"Aku mau!!"
Jawaban ini dikeluarkan dengan suara yang amat lantang, terlalu lantang sehingga jelas tidak sewajarnya dan dibuat-buat untuk memberanikan hati. Keadaan ini amat lucu sehingga Kartikosari tidak dapat menahan ketawanya. Apalagi Roro Luhito, wanita yang pada dasarnya memang lincah dan gembira. Karena kini hatinya penuh dengan kebahagiaan, menyaksikan sikap calon suaminya yang memang sejak sepuluh tahun yang lalu telah menjadi pujaan hatinya ini, tak dapat menahan kegelian hatinya. Ia memeluk Kartikosari, menyembunyikan mukanya dan tertawa sampai terpingkal-pingkal dengan air mata membanjir keluar!.

Pujo berbesar hati. Tadi ia bingung menyaksikan dua orang wanita itu bertangis-tangisan. Akan tetapi sekarang menyaksikan wajah istennya penuh senyum yang manis dan cerah, melihat pula betapa Roro Luhitc tertawa-tawa sambil menyembunyikan muka karena malu-malu, ia menjadi bangga. Dengan langkah lebar ia mendekat. Hanya tiga langkah dan ia sudah berada di depan mereka, kedua lengannya dikembangkan dan dua orang wanita itu sudah berada dalam rangkulan dan pelukannya. Dengan kedua lengannya yang kuat, ia memeluk dan mendekap mereka di atas dadanya. Kartikosari di dada kanan, Roro Luhito di dada kiri. Kedua wanita itupun meramkan mata sambil balas memeluk, menyembunyikan muka di atas dada yang bidang, merasa aman sentausa dan bahagia. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini, tanpa bicara karena dalam saat seperti itu, kata-kata yang keluar dari mulut terlampau miskin untuk menyampaikan getaran rasa nikmat yang menggelora dan menggetar-getar dari dalam hati. Sebagai seorang wanita yang halus perasaannya, Kartikosari yang lebih dulu tergugah. Maklum betapa suaminya terbuai getaran cinta kasih yang menggelora, ia cepat berkata, suaranya halus tapi menekan,
"Kakangmas, kiranya cukuplah. Seorang satria harus teguh memegang janji. Belum tiba saatnya kita saling menumpahkan perasaan cinta kasih."
Pujo menarik napas panjang untuk menekan gelora hatinya yang benar-benar hamper terseret gelombang asmara yang amat hebat. Dengan kedua tangan di atas pundak kedua isterinya, ia mendorong mereka, menatap wajah mereka, lalu berkata,
"Sekali lagi aku berjanji bahwa sebelum musuh besar kita bertiga terbalas, aku akan menahan diri dan tidak akan menuntut hakku sebagai suami terhadap kalian, kedua isteriku yang terkasih."
"Wah, enak saja dia ini menyebutmu sebagai isterinya, diajeng!" Kartikosari menggoda suaminya.
"Kakangmas Pujo, kau belum menjawab permintaan paman adipati. Beliau tentu menanti-nanti, hayo kau lekas ke sana memberikan jawabanmu."
Pujo meragu, memandang kepada Roro Luhito, seakan minta pertimbangan. Roro Luhito yang kini berseri-seri wajahnya sehingga menjadi makin cantik manis, mengangguk dan berkata,
"Betul pendapat mbokayu Sari, kakangmas. Kau harus memberi jawaban kepada ayah."

Kartikosari makin lebar senyumnya, matanya menggoda, tangan kirinya memeluk pinggang Roro Luhito. Pujo hendak membantah, namun menghadapi dua orang wanita yang sependapat ini, akhirnya ia menghela napas, mengangkat kedua pundak, membalikkan tubuh dan melangkah pergi sambil mengembangkan kedua lengan ke depan. Wah, berat kalau begini, pikirnya di antara kebahagiaan hatinya. Kalau mereka berdua sudah bersatu padu, dia seakan-akan dihadapkan lawan yang luar biasa kuatnya. Ia tahu bahwa sejak saat itu, ia takkan dapat lagi merasa lebih tinggi dan lebih kuat daripada Kartikosari ataupun Roro Luhito yang agaknya telah membentuk persekutuan yang amat erat dan kuat. Berpikir demikian, Pujo meringis dan mempercepat langkahnya menuju ke dalam kadipaten, ke dalam kamar di mana Adipati Joyowiseso sudah menanti-nanti kembalinya. Tak tahu ia betapa Kartikosari dan Roro Luhito menutup mulut menahan ketawa melihat ia berjalan sambil mengembangkan lengan dan kepalanya bergeleng-geleng seperti itu!. Dapat dibayangkan betapa lega dan girang Adipati Joyowiseso ketika Pujo menghadap dan menyatakan persetujuannya akan usul adipati itu tentang perjodohannya dengan Roro Luhito. Adipati Joyowiseso yang sudah tua dan keluarganya telah hancur berantakan itu merasa lega, karena sesungguhnya hanyalah keadaan puterinya ini yang menyusahkan hatinya. Seorang gadis yang sudah berusia dua puluh enam tahun, dinodai peristiwa aib karena perbuatan Jokowanengpati yang terkutuk. Akan bagaimanakah jadinya kelak kalau tidak cepat-cepat dijodohkan dengan seorang yang patut menjadi suaminya? Dan menurut pendapatnya, tidak ada yang lebih tepat menjadi suami Roro Luhito kecuali Pujo, laki-laki gagah perkasa yang juga menjadi idaman hati anaknya itu. Atas desakan sang adipati, pernikahan dilakukan serentak tiga hari kemudian! Upacara pernikahan yang amat sederhana, terlalu sederhana bagi puteri seorang adipati. Adipati Joyowiseso tidak mengundang bangsawan-bangsawan lain, bahkan tidak pula mengundang kenalan-kenalan lain dari luar Selopenangkep. Upacara pernikahan itu hanya disaksikan oleh hamba-hamba setia kadipaten, dan dihadiri pula oleh penduduk Selopenangkep yang tua dan yang penting saja. Karena tidak mempunyai keluarga yang tua, Pujo dan Kartikosari mohon pertolongan Resi Telomoyo untuk menjadi wali pengantin pria. Dengan senang hati resi tua itu meluluskan permintaan Pujo, sedangkan yang menjadi wali pengantin wanita adalah ayahnya sendiri.

Adipati Joyowiseso mendadak tampak sehat kembali pada hari itu, mengenakan pakaian kebesaran dan wajahnya berseri gembira. Akan tetapi pengantin wanita menangis penuh keharuan karena teringat akan ibunya yang tewas dalam penyerbuan kadipaten. Tertawa dan menangis! Dua macam keadaan yang berlawanan inilah yang berselang-seling memenuhi kehidupan manusia. Di saat ini tertawa gembira bersuka ria, di saat lain menangis sedih berduka cita. Dunia bagaikan panggung sandiwara dan manusia menjadi pelaku-pelaku, bahkan banyak muncul badut-ba dut setelah diperhamba nafsu dan perasaan. Ataukah . lebih tepat disebut bahwa dunia bagaikan rumah gila ? Bahwa manusia adalah mahluk-mahluk gila yang saling menonjolkan kegilaannya agar kelihatan bahwa dialah yang paling gila daripada segala yang gila?? Manusia mudah tertawa, mudah menangis. Mudah bersuka, mudah berduka. Pada umumnya apabila keinginannya terlaksana, muncul senyum suka Sebaliknya, apabila keinginannya tidak terlaksana, muncul tangis duka. Sedangkan semua keinginan itu berputar kepada keuntungan untuk dirinya sendiri, berlandaskan nafsu menyenangkan diri pribadi. Mengharap, dapat, tertawa. Mengharap, luput, menangis. Tawa tangis,menjadi kebiasaan manusia yang sudah tidak mampu menguasai d irinya sendiri, yang sudah menjadi hamba daripada nafsu sendiri. Tawa dan tangis adalah sepasang tangan dari badan yang satu. Tawa dan tangis adalah sepasang saudara kembar yang silih ganti bermunculan, saling berlomba untuk memperebutkan dan menguasai hati manusia. Manusia yang sadar dapat menguasai mereka, di waktu suka berkunjung, dapat menjenguk dan melihat duka berdiri di ambang pintu, siap menanti gilirannya, dan demikian pula sebaliknya. Karenanya, seorang manusia yang sadar selalu akan tenang dan menerima segala kejadian di dunia yang menimpa dirinya sebagai kejadian yang wajar, yang semestinya dan yang tak dapat ia robah atau halangi seperti munculnya sang matahari. Matahari muncul dan terjadilah panas terik. Ini sudah wajar. Sudah semestinya. Tidak ada suka, tidak ada duka, tidak ada tawa tidak ada tangis. Manusia sadar dapat menerima kewajaran ini sebagai kenyataan yang mengandung anugerah,dapat memetik manfaat daripadanya. Mata seorang sadar dapat melihat bahwa di balik panas terik yang menyengat dan menghangus kan, terciptalah keteduhan nikmat di bawah pohon yang rindang! Melihat nikmat dalam nyeri, mengena! nyeri dalam nikmat. Mengenyam manis dalam pahit, merasai pahit dalam manis. Mencium ganda busuk dalam harum, mengenal harum dalam ganda busuk! Bahagialah selalu manusia yang sadar!. Hanya tiga hari kemudian semenjak upacara pernikahan, Adipati Joyowiseso menghembuskan napas terakhir, diiringi tangis Roro Luhito dan Wisangjiwo. Seperti juga pada upacara pernikahan antara Roro Luhito dan Pujo, upacara pemakaman sang adipati dilakukan dengan sederhana, dilayat oleh mereka yang tiga hari yang lalu menjadi tamu dalam upacara pernikahan!.

Kalau dalam pertemuan pertama, Roro Luhito merupakan penghibur bagi Pujo dan Kartikosari sehingga dalam perjalanan mereka itu terdapat kegembiraan, adalah kini kedua orang inilah yang selalu menghibur Roro Luhito. Setiap hari tampak Roro Luhito dihibur oleh Pujo dan Kartikosari di dalam taman sari. Sebagai pengantin baru, sudah sepantasnya Pujo berlangen asmoro dengan kedua isterinya di dalam taman indah. Melihat mereka bertiga bermesra-mesraan di dalam taman, tentu semua orang akan menyangka demikian. Mengira Pujo berbulan madu dengan Roro Luhito, ditemani Kartikosari sebagai isteri pertama yang penuh toleransi! Perkiraan ini membuat para pelayan tersenyum-senyum, membuat para dayang saling cubit menahan tawa, mengerling penuh arti. Padahal sesungguhnya, Pujo dan Kartikosari hanyalah menghibur hati Roro Luhito agar jangan terlalu dikuasai kedukaan. Mereka bertiga adalah orang-orang gemblengan yang tahan uji, tidak akan mudah dikuasai nafsu. Sekali dalam hati berjanji, sampai matipun akan dipegang teguh janji ini. Sebagai seorang laki- laki yang sehat, tentu saja sumpah atau janji mereka itu terasa amat berat. Kedua isterinya demikian ayu, demikian denok, dan bersikap mesra penuh kasih kepadanya. Ia harus mempergunakan seluruh kekuatan batinnya untuk membendung hasrat hendak mencurahkan seluruh kasih saying dan rindu dendamnya kepada kedua isterinya, terutama sekali kepada Kartikosari.

<<< Bagian 068                                                                                   Bagian 070 >>>

No comments:

Post a Comment