Badai Laut Selatan ; Bagian 071


Setiap orang manusia memiliki hawa sakti ini, hanya tidak setiap orang tahu bagaimana untuk menghimpun dan mempergunakannya. Justeru kepandaian menghimpun hawa sakti inilah yang amat sukar dipelajari, membutuhkan ketekunan dan latihan serta gemblengan guru-guru yang sakti, membutuhkan cara bersamadhi dan latihan pernapasan yang matang. Biarpun Joko Wandiro sudah maklum akan cara-caranya, namun ia belum matang berlatih dan karenanya ia merasa amat heran mengapa kini hawa sakti di dalam tubuhnya menimbulkan getaran-getaran sedemikian hebatnya!. Kemudian ia teringat betapa ia tergigit ular dan betapa dengan ketakutan ia berlari-lari sambil memanggil kakek gurunya. Teringat akan ini, ia terkejut dan cepat memandang pergelangan tangan kanannya. Sudah sembuh sama sekali! Juga kakinya yang tergigit ular tidak ada bekasnya lagi. Ia merasa heran dan bingung. Sambil melompat keluar dari dalam gubuk kecil itu ia berseru memanggil.
"Eyang guru.......!!"
"Eh, kau sudah bangun ? Sudah sembuh. ...... ??"
Seruan girang ini membuat Joko Wandiro cepat membalikkan tubuh. Ki Tejoranu telah berdiri di depannya. Wajah kakek ini berseri, matanya memancarkan kegembiraan.
"Bukankah paman ini Ki Tejoranu? Di mana kita dan bagaimana aku bisa sampai di sini?

Dengan singkat Ki Tejoranu menceritakan apa yang telah terjadi, betapa ia melihat rombongan Jokowanengpati mendarat di Sempu, kemudian bagaimana ia menemukan Joko Wandiro dalam keadaan pingsan digigit ular hijau.
"Untung sekali tubuhmu amat kuat dan darahmu bersih sehingga racun ular tidak merenggut nyawamu,"
Sebagai penutup cerita Ki Tejoranu berkata. Biarpun dalam bercerita itu ia bicara dengan suara pelo, namun cukup jelas bagi Joko Wandiro yang menjadi terharu dan berterima kasih sekali. Bocah yang tahu akan sopan santun dan kenal akan budi ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Ki Tejoranu, menyembah sambil menghaturkan banyak berterima kasih. Tergesa-gesa Ki Tejoranu membangunkan Joko Wandiro.
"Wah, tidak usah begitu, anakku yang baik. Perbuatanku mengobatimu itu sama sekali tidak ada altinya dengan pelbuatanmu membelaku di hadapan lawan-lawan tangguh. Kau menolongku dengan taluhan keselamatan dilimu sendili, sebaliknya aku menolongmu tanpa taluhan apa-apa. Tak usah kau belterima kasih, kalena hutangku kepadamu belum juga lunas."
"Paman, bagaimana jadinya dengan eyang guru?"
"Eyang gulu? Siapa yang kaumaksudkan?"
"Eyang guru adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo. Beliau berada di atas Pulau Sempu ketika aku digigit ular dan....... dan ....... Endang Patibroto juga berada di sana."
"Endang Patibroto??"
"Ya, anak kecil, cucu eyang guru. Apakah mereka masih berada di sana?"
Ki Tejoranu termenung Ia terkejut juga mendengar bahwa yang berada di Pulau Sempu adalah Resi Bhargowo. Kini mengertilah ia bahwa Jokowanengpati dan rombongannya itu tentu hendak membunuh Resi Bhargowo dan kabarnya hendak merampas pula pusaka Mataram! Tak disangkanya bahwa bocah ini, penolongnya yang amat disayangnya, adalah cucu murid Resi Bhargowo! Kemudian ia teringat akan tokoh luar biasa yang melayang di permukaan laut, bersama seorang anak perempuan.
"Apakah anak perempuan itu sebaya denganmu, bajunya hijau, rambutnya panjang dikucir, mukanya tajam seperti bintang?"
"Ya,ya ........ dialah Endang Patibroto."
"Hemmm, dan Resi Bhargowo itu, apakah seorang kakek tinggi besar seperti raksasa, kumisnya sekepal sebelah, tanpa baju, kepandaiannya seperti dewa, pandai terbang dan berlari di permukaan laut?"
Joko Wandiro menggeleng kepala.
"Eyang guru Resi Bhargowo adalah seorang kakek yang halus dan sama sekali bukan seperti raksasa. Beliau memang sakti mandraguna, akan tetapi ........ terbang dan berlari di permukaan laut ........ kurasa....... entah bisa atau tidak ......."
"Anak yang baik, kau bilang masih cucu murid Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guruku adalah ayahku sendiri, paman."
"Dan ayahmu, siapa dia?"
"Ayah bernama Pujo."
"Hayaaaaa ........ !" Ki Tejoranu meloncat kaget.
"Ayahmu....... Pujo??"
"Betul, kenapa, paman?"
"Ah, betapa kebetulan sekali! Bukankah ayahmu itu orang gagah yang pernah membantu Ki Patih Narotama ketika dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dari teman-temannya dalam hutan di muara Sungai Lorog?"
"Betul. Ayahkulah yang dahulu di sana melawan paman sendiri. Aku juga melihat betapa paman tidak mau berkelahi dengan keroyokan kemudian ketika ayah datang, paman menghadapi ayah."
"Oohh-oh~ahh.......! Kau melihat pula hal itu ? Ayahmu hebat, seorang manusia sakti mandraguna. Pukulanpu-kulannya ampuh melebihi golokku! Kalau ayahmu murid Resi Bhargowo sudah sedemikian hebat kepandaiannya, tentulah ilmu kepandaian eyangmu itu amat tinggi. Dengan demikian, belum tentu beliau akan celaka di tangan Jokowanengpati dan teman- temannya. Akan tetapi kakek raksasa itu........ ihh, ngeri dan serem hatiku kalau mengingatnya. Entah siapa dia, akan tetapi aku melihat dia masuk pulau bersama anak kecil temanmu itu, Endang Patibroto."
Joko Wandiro terheran.
"Aku sendiri belum pernah melihat kakek yang paman maksudkan tadi."
"Anak baik, siapakah namamu?"
"Aku Joko Wandiro, paman."

Tiba-tiba Ki Tejoranu terpekik dan sekali tubuhnya berkelebat ia lenyap dari depan Joko Wandiro. Anak ini kaget sekali, cepat menengok dan kiranya kakek itu sudah berada jauh di belakangnya sehingga diam-diam ia amat kagum akan kecepatan gerak kakek ini.
"Ada apakah, paman?"
Ki Tejoranu menudingkan telunjuknya ke arah Joko Wandiro, suaranya gemetar ketika ia bertanya,
"Kau....... kau .......benarkah namamu Joko Wandiro.......??"
"Benar sekali, paman. Apakah anehnya dengan namaku?"
"Aneh sekali benar aneh sekali .... "
Ki Tejoranu melangkah maju menghampiri Joko Wandiro, lalu duduk di atas akar pohon di depan anak itu, memegang kedua pundak Joko Wandiro sambil menatap wajah tampan itu dengan pandang mata penuh selidik.
"Mereka bilang cucu adipati di Selopenangkep, putera Raden Wisangjiwo, diculik Pujo dan anak itu bernama Joko Wandiro ........ "
"Bohong itu...... !"
Joko Wandiro berteriak merenggutkan diri terlepas dari pegangan Ki Tejoranu sambil melangkah mundur, matanya terbelalak dan wajahnya yang tampan kelihatan marah.
"Paman, mengapa paman seperti kakek tua jahat Cekel Aksomolo? Percaya akan segala kebohongan? Aku memang bernama Joko Wandiro, akan tetapi tidak diculik ayahku. Bagaimana seorang ayah menculik anaknya Sendiri? Kalau mau bicara tentang penculikan, agaknya Cekel Aksomolo yang dahulu hendak menculikku, ia memaksaku pergi ke Selopenangkep. Syukur paman dahulu datang menolong. Pujo yang paman sebut-sebut itu adalah ayahku, juga guruku. Sedangkan Wisangjiwo yang paman maksudkan itu, putera Kadipaten Selopenangkep, adalah musuh besarku, musuh besar ayahku yang akan kubunuh kalau aku berjumpa dengannya!"

Ki Tejoranu makin bingung.
"Kenapa? Apa sebabnya ayahmu memusuhinya?"
"Si keparat Wisangjiwo telah membunuh ibuku!" kata Joko Wandiro sambil menekan perasaannya. Tak mungkin ia sudi menceritakan pada orang lain bahwa ibunya tidak hanya dibunuh, akan tetapi juga diperhina oleh Wisangjiwo!.
"Aahhh ........ !"
Ki Tejoranu mengerutkan kening dan makin terheran-heran. Kemudian ia berkata,
"Sungguh membingungkan keterangan-keterangan yang saling bertentangan ini. Akan tetapi, Joko anak baik. Yang sudah jelas bagiku adalah bahwa Pujo seorang laki-laki jantan dan sakti, sebaliknya Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang yang memiliki watak pengecut dan curang. Mereka itu amat kuat dan memiliki banyak kaki tangan, maka amat berbahayalah kalau sampai mereka dapat melihatmu. Oleh karena itu, kau sementara tinggal dulu bersamaku dan agar tidak kesal hatimu, berlatihlah ilmu silat dan juga ilmu golok yang kelak tentu amat berguna bagimu, sementara aku akan pergi menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau Sempu dan menyelidiki di mana adanya ayahmu. Akan kujumpai ayahmu di Muara Lorog dan memberi tahu kepadanya tentang keadaanmu. Kalau kau ikut bersamaku, aku khawatir akan bertemu dengan mereka di tengah jalan dan kalau terjadi hal itu, terus terang saja aku tidak akan kuat melindungimu."

Joko Wandiro adalah seorang anak yang cerdik. Ia tahu bahwa dirinya diselubungi rahasia yang aneh dan tahu pula bahwa Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang sakti yang takkan terlawan oleh Ki Tejoranu sendiri. Maka ia mengangguk dan membenarkan kakek itu. Apalagi ia memang kagum menyaksikan gerak-gerik kakek ini yang pernah ia lihat ketika bertanding. Ilmu golok kakek ini amat hebat maka Joko Wandiro menjadi girang untuk mempelajarinya. Demikianlah, mulai hari itu, Joko Wandiro menerima gemblengan Ki Tejoranu dalam ilmu silat yang gerakannya amat cepat. Mula-mula ia diberi pelajaran ilmu silat tangan kosong. Karena sejak kecil anak ini sudah mendapat gemblengan keras dari Pujo, kemudian malah mendapat bimbingan Resi Bhargowo sendiri, boleh dibilang Joko Wandiro telah memiliki dasar gerakan silat tinggi, maka dengan girang dan kagum Ki Tejoranu mendapat kenyataan betapa mudahnya anak ini mewarisi ilmunya. Segera ia menurunkan ilmu goloknya.
Pada pagi hari yang cerah itu, sebulan setelah Joko Wandiro mati-matian dan siang malam melatih ilmu silat, mereka duduk di bawah pohon cempaka, berada di atas rumpun dan berhadapan.
"Joko Wandiro, anakku yang baik. Ilmu pukulan yang kau pelajari dalam sebulan ini adalah dasar ilmu golok, yang mulai hari ini akan kuajarkan kepadamu. Joko, bergiranglah engkau bahwa ilmu golok ini akan kau miliki, karena di negaraku sana, ilmu golokku ini sudah terkenal. Bahkan karena ilmu golokku inilah aku di sana dijuluki orang Si Golok Sakti. Julukan yang membuat aku sombong dan menyeleweng daripada kebenaran, lupa bahwa segala ilmu adalah anugerah Tuhan yang harus dipergunakan untuk kebaikan sesuai dengan sifat Tuhan, dan bahwa di dunia ini tidak ada yang paling pandai kecuali Tuhan pula. Karena kesombongan dan penyelewenganku, maka aku terjatuh dan terpaksa melarikan diri meninggalkan negaraku, merantau sampai di sini. Tidak hanya di negaraku, juga di sini berlaku hukum bahwa siapa yang mengandalkan ilmu, kedudukan, atau harta untuk bertindak sewenang-wenang melakukan kejahatan, dia akan runtuh! Juga di sini aku melihat kenyataan bahwa yang paling sakti adalah orang yang benar, karena yang benar dilindungi Tuhan Yang Maha Sakti."

Filsafat seperti ini sudah seringkali didengar Joko Wandiro, maka ia mengangguk-angguk membenarkan Ayahnya, juga eyang gurunya, sudah seringkali memberinya nasehat-nasehat dan petuah kebajikan hidup. Mulailah Ki Tejoranu menurunkan ilmu goloknya yang luar biasa itu kepada Joko Wandiro. Hebat memang ilmu golok ini. Ketika Ki Tejoranu memberi petunjuk sambil mainkan sepasang goloknya, tampak gulungan dua sinar putih menyilaukan mata disertai suara mbrengengeng (mengaung seperti lebah). Joko Wandiro memandang penuh perhatian dan kekaguman. Ki Tejoranu berhenti dan mulai memberi petunjuk secara mendetail dan perlahan.
"Anakku, di negaraku, aku dijuluki Si Golok Sakti karena ilmu golok ini. Ilmu golok ini dicipta oleh guruku berdasarkan gerakan ribuan ekor lebah putih yang mengeroyok seekor ular besar. Karena itu diberi nama Ilmu Golok Lebah Putih. Dasar keampuhannya terletak pada gerak-gerak menggunting seperti banyak lebah menyerang dari jurusan-jurusan berlawanan sehingga membingungkan lawan. Semua terdiri dari tiga puluh enam jurus yang dasar gerakannya telah kau pelajari dengan tangan kosong selama ini. Nah, sekarang perhatikan jurus pertama. Lihat baik-baik dan tirukan."
Demikianlah, mulai hari itu, Joko Wandiro menerima ilmu golok yang dipelajarinya penuh perhatian dan ketekunan. Ki Tejoranu terheran-heran dan amat kagum melihat anak ini. Benar-benar memiliki dasar dan bakat yang luar biasa. Dalam waktu sehari saja, Joko Wandiro dapat menguasai empat jurus dengan dasar gerakan yang cukup baik sehingga dalam waktu sembilan hari, ia telah menguasai Ilmu Golok Lebah Sakti. Pada hari ke sepuluh, Ki Tejoranu ketika bangun pagi sekali, telah mendengar suara anak itu berlatih seorang diri. Ia menghampiri, memandang penuh perhatian sambil mengelus-elus jenggotnya. Senang hatinya. Biarpun gerakannya belum trampil dan cepat benar, namun dasarnya sudah benar, tinggal mematangkannya dalam latihan saja. Benar luar biasa anak ini, pikirnya senang.
Tidak hanya gerakan kaki tangan yang sudah tepat, bahkan cara mengatur napas dalam gerakan silat ini, hal yang paling sulit diingat dan dipraktekkan dalam bersilat, sudah dikuasai Joko Wandiro! Setelah anak itu menghabiskan tiga puluh enam jurus dan hendak mengulang lagi dari pertama, Ki Tejoranu berkata,

<<< Bagian 070                                                                                    Bagian 072 >>>

No comments:

Post a Comment