Setiap orang manusia memiliki hawa sakti ini, hanya tidak setiap orang tahu bagaimana untuk menghimpun dan mempergunakannya. Justeru kepandaian menghimpun hawa sakti inilah yang amat sukar dipelajari, membutuhkan ketekunan dan latihan serta gemblengan guru-guru yang sakti, membutuhkan cara bersamadhi dan latihan pernapasan yang matang. Biarpun Joko Wandiro sudah maklum akan cara-caranya, namun ia belum matang berlatih dan karenanya ia merasa amat heran mengapa kini hawa sakti di dalam tubuhnya menimbulkan getaran-getaran sedemikian hebatnya!. Kemudian ia teringat betapa ia tergigit ular dan betapa dengan ketakutan ia berlari-lari sambil memanggil kakek gurunya. Teringat akan ini, ia terkejut dan cepat memandang pergelangan tangan kanannya. Sudah sembuh sama sekali! Juga kakinya yang tergigit ular tidak ada bekasnya lagi. Ia merasa heran dan bingung. Sambil melompat keluar dari dalam gubuk kecil itu ia berseru memanggil.
"Eyang
guru.......!!"
"Eh, kau
sudah bangun ? Sudah sembuh. ...... ??"
Seruan girang
ini membuat Joko Wandiro cepat membalikkan tubuh. Ki Tejoranu telah berdiri di
depannya. Wajah kakek ini berseri, matanya memancarkan kegembiraan.
"Bukankah
paman ini Ki Tejoranu? Di mana kita dan bagaimana aku bisa sampai di sini?
Dengan singkat
Ki Tejoranu menceritakan apa yang telah terjadi, betapa ia melihat rombongan
Jokowanengpati mendarat di Sempu, kemudian bagaimana ia menemukan Joko Wandiro
dalam keadaan pingsan digigit ular hijau.
"Untung
sekali tubuhmu amat kuat dan darahmu bersih sehingga racun ular tidak merenggut
nyawamu,"
Sebagai
penutup cerita Ki Tejoranu berkata. Biarpun dalam bercerita itu ia bicara
dengan suara pelo, namun cukup jelas bagi Joko Wandiro yang menjadi terharu dan
berterima kasih sekali. Bocah yang tahu akan sopan santun dan kenal akan budi
ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Ki Tejoranu, menyembah sambil
menghaturkan banyak berterima kasih. Tergesa-gesa Ki Tejoranu membangunkan Joko
Wandiro.
"Wah,
tidak usah begitu, anakku yang baik. Perbuatanku mengobatimu itu sama sekali
tidak ada altinya dengan pelbuatanmu membelaku di hadapan lawan-lawan tangguh.
Kau menolongku dengan taluhan keselamatan dilimu sendili, sebaliknya aku
menolongmu tanpa taluhan apa-apa. Tak usah kau belterima kasih, kalena hutangku
kepadamu belum juga lunas."
"Paman,
bagaimana jadinya dengan eyang guru?"
"Eyang
gulu? Siapa yang kaumaksudkan?"
"Eyang
guru adalah Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo. Beliau berada di atas Pulau
Sempu ketika aku digigit ular dan....... dan ....... Endang Patibroto juga
berada di sana."
"Endang
Patibroto??"
"Ya, anak
kecil, cucu eyang guru. Apakah mereka masih berada di sana?"
Ki Tejoranu
termenung Ia terkejut juga mendengar bahwa yang berada di Pulau Sempu adalah
Resi Bhargowo. Kini mengertilah ia bahwa Jokowanengpati dan rombongannya itu
tentu hendak membunuh Resi Bhargowo dan kabarnya hendak merampas pula pusaka
Mataram! Tak disangkanya bahwa bocah ini, penolongnya yang amat disayangnya,
adalah cucu murid Resi Bhargowo! Kemudian ia teringat akan tokoh luar biasa
yang melayang di permukaan laut, bersama seorang anak perempuan.
"Apakah
anak perempuan itu sebaya denganmu, bajunya hijau, rambutnya panjang dikucir,
mukanya tajam seperti bintang?"
"Ya,ya
........ dialah Endang Patibroto."
"Hemmm,
dan Resi Bhargowo itu, apakah seorang kakek tinggi besar seperti raksasa,
kumisnya sekepal sebelah, tanpa baju, kepandaiannya seperti dewa, pandai
terbang dan berlari di permukaan laut?"
Joko Wandiro
menggeleng kepala.
"Eyang
guru Resi Bhargowo adalah seorang kakek yang halus dan sama sekali bukan
seperti raksasa. Beliau memang sakti mandraguna, akan tetapi ........ terbang
dan berlari di permukaan laut ........ kurasa....... entah bisa atau tidak
......."
"Anak
yang baik, kau bilang masih cucu murid Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guruku
adalah ayahku sendiri, paman."
"Dan
ayahmu, siapa dia?"
"Ayah
bernama Pujo."
"Hayaaaaa
........ !" Ki Tejoranu meloncat kaget.
"Ayahmu.......
Pujo??"
"Betul,
kenapa, paman?"
"Ah,
betapa kebetulan sekali! Bukankah ayahmu itu orang gagah yang pernah membantu
Ki Patih Narotama ketika dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dari teman-temannya
dalam hutan di muara Sungai Lorog?"
"Betul.
Ayahkulah yang dahulu di sana melawan paman sendiri. Aku juga melihat betapa
paman tidak mau berkelahi dengan keroyokan kemudian ketika ayah datang, paman
menghadapi ayah."
"Oohh-oh~ahh.......!
Kau melihat pula hal itu ? Ayahmu hebat, seorang manusia sakti mandraguna.
Pukulanpu-kulannya ampuh melebihi golokku! Kalau ayahmu murid Resi Bhargowo
sudah sedemikian hebat kepandaiannya, tentulah ilmu kepandaian eyangmu itu amat
tinggi. Dengan demikian, belum tentu beliau akan celaka di tangan
Jokowanengpati dan teman- temannya. Akan tetapi kakek raksasa itu........ ihh,
ngeri dan serem hatiku kalau mengingatnya. Entah siapa dia, akan tetapi aku
melihat dia masuk pulau bersama anak kecil temanmu itu, Endang Patibroto."
Joko Wandiro
terheran.
"Aku
sendiri belum pernah melihat kakek yang paman maksudkan tadi."
"Anak
baik, siapakah namamu?"
"Aku Joko
Wandiro, paman."
Tiba-tiba Ki
Tejoranu terpekik dan sekali tubuhnya berkelebat ia lenyap dari depan Joko
Wandiro. Anak ini kaget sekali, cepat menengok dan kiranya kakek itu sudah
berada jauh di belakangnya sehingga diam-diam ia amat kagum akan kecepatan
gerak kakek ini.
"Ada
apakah, paman?"
Ki Tejoranu
menudingkan telunjuknya ke arah Joko Wandiro, suaranya gemetar ketika ia
bertanya,
"Kau.......
kau .......benarkah namamu Joko Wandiro.......??"
"Benar
sekali, paman. Apakah anehnya dengan namaku?"
"Aneh
sekali benar aneh sekali .... "
Ki Tejoranu
melangkah maju menghampiri Joko Wandiro, lalu duduk di atas akar pohon di depan
anak itu, memegang kedua pundak Joko Wandiro sambil menatap wajah tampan itu
dengan pandang mata penuh selidik.
"Mereka
bilang cucu adipati di Selopenangkep, putera Raden Wisangjiwo, diculik Pujo dan
anak itu bernama Joko Wandiro ........ "
"Bohong
itu...... !"
Joko Wandiro
berteriak merenggutkan diri terlepas dari pegangan Ki Tejoranu sambil melangkah
mundur, matanya terbelalak dan wajahnya yang tampan kelihatan marah.
"Paman,
mengapa paman seperti kakek tua jahat Cekel Aksomolo? Percaya akan segala
kebohongan? Aku memang bernama Joko Wandiro, akan tetapi tidak diculik ayahku.
Bagaimana seorang ayah menculik anaknya Sendiri? Kalau mau bicara tentang penculikan,
agaknya Cekel Aksomolo yang dahulu hendak menculikku, ia memaksaku pergi ke
Selopenangkep. Syukur paman dahulu datang menolong. Pujo yang paman sebut-sebut
itu adalah ayahku, juga guruku. Sedangkan Wisangjiwo yang paman maksudkan itu,
putera Kadipaten Selopenangkep, adalah musuh besarku, musuh besar ayahku yang
akan kubunuh kalau aku berjumpa dengannya!"
Ki Tejoranu
makin bingung.
"Kenapa?
Apa sebabnya ayahmu memusuhinya?"
"Si
keparat Wisangjiwo telah membunuh ibuku!" kata Joko Wandiro sambil menekan
perasaannya. Tak mungkin ia sudi menceritakan pada orang lain bahwa ibunya
tidak hanya dibunuh, akan tetapi juga diperhina oleh Wisangjiwo!.
"Aahhh
........ !"
Ki Tejoranu
mengerutkan kening dan makin terheran-heran. Kemudian ia berkata,
"Sungguh membingungkan
keterangan-keterangan yang saling bertentangan ini. Akan tetapi, Joko anak
baik. Yang sudah jelas bagiku adalah bahwa Pujo seorang laki-laki jantan dan
sakti, sebaliknya Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang yang
memiliki watak pengecut dan curang. Mereka itu amat kuat dan memiliki banyak
kaki tangan, maka amat berbahayalah kalau sampai mereka dapat melihatmu. Oleh
karena itu, kau sementara tinggal dulu bersamaku dan agar tidak kesal hatimu,
berlatihlah ilmu silat dan juga ilmu golok yang kelak tentu amat berguna
bagimu, sementara aku akan pergi menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau
Sempu dan menyelidiki di mana adanya ayahmu. Akan kujumpai ayahmu di Muara
Lorog dan memberi tahu kepadanya tentang keadaanmu. Kalau kau ikut bersamaku,
aku khawatir akan bertemu dengan mereka di tengah jalan dan kalau terjadi hal
itu, terus terang saja aku tidak akan kuat melindungimu."
Joko Wandiro
adalah seorang anak yang cerdik. Ia tahu bahwa dirinya diselubungi rahasia yang
aneh dan tahu pula bahwa Cekel Aksomolo dan teman-temannya adalah orang-orang
sakti yang takkan terlawan oleh Ki Tejoranu sendiri. Maka ia mengangguk dan
membenarkan kakek itu. Apalagi ia memang kagum menyaksikan gerak-gerik kakek
ini yang pernah ia lihat ketika bertanding. Ilmu golok kakek ini amat hebat
maka Joko Wandiro menjadi girang untuk mempelajarinya. Demikianlah, mulai hari
itu, Joko Wandiro menerima gemblengan Ki Tejoranu dalam ilmu silat yang
gerakannya amat cepat. Mula-mula ia diberi pelajaran ilmu silat tangan kosong.
Karena sejak kecil anak ini sudah mendapat gemblengan keras dari Pujo, kemudian
malah mendapat bimbingan Resi Bhargowo sendiri, boleh dibilang Joko Wandiro
telah memiliki dasar gerakan silat tinggi, maka dengan girang dan kagum Ki
Tejoranu mendapat kenyataan betapa mudahnya anak ini mewarisi ilmunya. Segera
ia menurunkan ilmu goloknya.
Pada pagi hari
yang cerah itu, sebulan setelah Joko Wandiro mati-matian dan siang malam
melatih ilmu silat, mereka duduk di bawah pohon cempaka, berada di atas rumpun dan
berhadapan.
"Joko
Wandiro, anakku yang baik. Ilmu pukulan yang kau pelajari dalam sebulan ini
adalah dasar ilmu golok, yang mulai hari ini akan kuajarkan kepadamu. Joko,
bergiranglah engkau bahwa ilmu golok ini akan kau miliki, karena di negaraku
sana, ilmu golokku ini sudah terkenal. Bahkan karena ilmu golokku inilah aku di
sana dijuluki orang Si Golok Sakti. Julukan yang membuat aku sombong dan
menyeleweng daripada kebenaran, lupa bahwa segala ilmu adalah anugerah Tuhan
yang harus dipergunakan untuk kebaikan sesuai dengan sifat Tuhan, dan bahwa di
dunia ini tidak ada yang paling pandai kecuali Tuhan pula. Karena kesombongan
dan penyelewenganku, maka aku terjatuh dan terpaksa melarikan diri meninggalkan
negaraku, merantau sampai di sini. Tidak hanya di negaraku, juga di sini
berlaku hukum bahwa siapa yang mengandalkan ilmu, kedudukan, atau harta untuk
bertindak sewenang-wenang melakukan kejahatan, dia akan runtuh! Juga di sini
aku melihat kenyataan bahwa yang paling sakti adalah orang yang benar, karena yang
benar dilindungi Tuhan Yang Maha Sakti."
Filsafat
seperti ini sudah seringkali didengar Joko Wandiro, maka ia mengangguk-angguk
membenarkan Ayahnya, juga eyang gurunya, sudah seringkali memberinya
nasehat-nasehat dan petuah kebajikan hidup. Mulailah Ki Tejoranu menurunkan
ilmu goloknya yang luar biasa itu kepada Joko Wandiro. Hebat memang ilmu golok
ini. Ketika Ki Tejoranu memberi petunjuk sambil mainkan sepasang goloknya,
tampak gulungan dua sinar putih menyilaukan mata disertai suara mbrengengeng (mengaung
seperti lebah). Joko Wandiro memandang penuh perhatian dan kekaguman. Ki
Tejoranu berhenti dan mulai memberi petunjuk secara mendetail dan perlahan.
"Anakku,
di negaraku, aku dijuluki Si Golok Sakti karena ilmu golok ini. Ilmu golok ini
dicipta oleh guruku berdasarkan gerakan ribuan ekor lebah putih yang mengeroyok
seekor ular besar. Karena itu diberi nama Ilmu Golok Lebah Putih. Dasar
keampuhannya terletak pada gerak-gerak menggunting seperti banyak lebah
menyerang dari jurusan-jurusan berlawanan sehingga membingungkan lawan. Semua
terdiri dari tiga puluh enam jurus yang dasar gerakannya telah kau pelajari
dengan tangan kosong selama ini. Nah, sekarang perhatikan jurus pertama. Lihat
baik-baik dan tirukan."
Demikianlah,
mulai hari itu, Joko Wandiro menerima ilmu golok yang dipelajarinya penuh
perhatian dan ketekunan. Ki Tejoranu terheran-heran dan amat kagum melihat anak
ini. Benar-benar memiliki dasar dan bakat yang luar biasa. Dalam waktu sehari
saja, Joko Wandiro dapat menguasai empat jurus dengan dasar gerakan yang cukup
baik sehingga dalam waktu sembilan hari, ia telah menguasai Ilmu Golok Lebah
Sakti. Pada hari ke sepuluh, Ki Tejoranu ketika bangun pagi sekali, telah
mendengar suara anak itu berlatih seorang diri. Ia menghampiri, memandang penuh
perhatian sambil mengelus-elus jenggotnya. Senang hatinya. Biarpun gerakannya
belum trampil dan cepat benar, namun dasarnya sudah benar, tinggal
mematangkannya dalam latihan saja. Benar luar biasa anak ini, pikirnya senang.
Tidak hanya
gerakan kaki tangan yang sudah tepat, bahkan cara mengatur napas dalam gerakan
silat ini, hal yang paling sulit diingat dan dipraktekkan dalam bersilat, sudah
dikuasai Joko Wandiro! Setelah anak itu menghabiskan tiga puluh enam jurus dan
hendak mengulang lagi dari pertama, Ki Tejoranu berkata,
No comments:
Post a Comment