"Berhentilah dahulu, Joko. Kulihat kau telah menguasai Lebah Putih, dan dasar-dasar gerakanmu sudah benar, hanya tinggal mematangkan saja. Kalau kau setiap hari berlatih, ilmu ini tentu akan mendarah daging kepadamu dan akan amat berguna kelak. Hari ini aku akan berangkat menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau Sempu, dan juga akan kucari ayahmu. Engkau tinggallah saja dalam hutan ini sambil berlatih ilmu golok. Jangan keluar dari dalam hutan ini sebelum aku pulang. Di hutan ini cukup banyak buah-buahan dan binatang, juga ada sumber airnya. Dalam waktu satu bulan aku akan kembali, anakku. Sepasang golok tipis ini, pusakaku selama puluhan tahun, kuberikan kepadamu, pakailah untuk berlatih."
Joko Wandiro
menerima pusaka itu sambil mengucapkan terima kasih kepada kakek yang amat baik
terhadap dirinya itu. Ia maklum akan bahayanya kalau sampai bertemu dengan
musuh-musuh ayahnya, maka ia berjanji akan mentaati pesan Ki Tejoranu. Orang
tua itu lalu berangkat meninggalkan Joko Wandiro, setelah meninggalkan
pesan-pesan agar anak itu berhati-hati.
Mentaati pesan
Ki Tejoranu, semenjak kakek itu pergi, Joko Wandiro selalu berlatih ilmu golok
dengan amat tekun dan rajin. Boleh dibilang setiap saat ia berlatih ilmu golok,
dan hanya berhenti untuk mengaso, makan atau tidur. Kadang-kadang ia seling
dengan latihan ilmu yang ia pelajari dari ayahnya dan yang disempurnakan oleh
eyang gurunya, yaitu ilmu pukulan Pethit Nogo dengan gerakan Bayu Tantra.
Berbeda dengan Ilmu Golok Lebah Putih ajaran Ki Tejoranu yang mengandalkan
kegesitan tubuh dan kerja sama yang baik antara perasaan dan urat syaraf
didasari peraturan gerakan dan langkah, adalah ilmu-ilmu yang ia pelajari dari
ayah dan eyang gurunya lebih didasari aji kesaktian yang diperkuat oleh
keteguhan batin berkat latihan samadhi dan bertapa. Joko Wandiro memang
memiliki bakat luar biasa untuk menjadi seorang ksatria utama. Tidak saja semua
ilmu olah keprajuritan dapat ia kuasai dengan amat mudah, juga dalam hal tapa
brata, ia amat tekun dan kuat. Semenjak masih kecil ia sudah dilatih dan
digembleng ayahnya sehingga dahulu dalam usia delapan sembilan tahun saja ia
sudah seringkali ikut ayahnya bertapa di dalam guha-guha di tepi pantai Laut
Selatan. Bertapa dan bersamadhi sampai tiga hari tiga malam, tanpa makan tanpa
minum! Bagi seorang dewasa, tentu saja hal ini tidak mengherankan. Akan tetapi
bagi seorang anak berusia delapan tahun, benar-benar merupakan hal yang
mentakjubkan.
Kini ia sudah
berusia dua belas tahun lebih. Bertapa tanpa makan minum selama satu minggu
saja merupakan hal biasa bagi Joko Wandiro! Tidaklah mengherankan apabila dalam
usia semuda itu, ia telah memiliki beberapa macam ilmu kesaktian yang
mengagumkan. Dan sifat tahan tapa inilah agaknya yang membuat ia secara mudah sekali
dapat menguasai Ilmu Golok Lebah Putih dalam waktu beberapa bulan saja.
Padahal, Ilmu Golok Lebah Putih termasuk ilmu silat tinggi yang hanya mampu
dikuasai seorang ahli silat yang sudah matang dasar-dasarnya, inipun untuk
menguasainya secara sempurna membutuhkan waktu bertahun-tahun!
Sebulan lewat
cepat. Ki Tejoranu belum juga pulang. Joko Wandiro yang mengharapkan kedatangan
Ki Tejoranu dalam satu dua hari ini, berlatih giat sekali. Ingin ia
menyenangkan hati kakek yang baik hati itu betapa selama ini ia telah
memperoleh kemajuan pesat dalam Ilmu Golok Lebah Putih. Juga hatinya girang
karena pulangnya Ki Tejoranu akan membawa berita tentang eyang gurunya dan
ayahnya. Pagi hari itu Joko Wandiro berlatih dengan tekun, mengerahkan seluruh
tenaganya dan mencurah kan seluruh perhatian dalam gerakan-gerakannya. Sepasang
golok tipis ringan di tangannya itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua
gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Anak ini belum mampu bergerak
terlalu cepat sehingga tubuhnya lenyap terselimut gulungan sinar putih, akan
tetapi berlatih kurang dari setengah tahun sudah dapat menggerakkan sepasang
golok sehingga lenyap bentuknya, benar-benar sudah amat mengagumkan.
Tiba-tiba
terdengar seruan suara aneh dan sesosok bayangan putih berkelebat dekat sekali
dengan Joko Wandiro yang tengah bersilat. Mendadak sekali, tanpa dapat dicegah
lagi sepasang golok terbang lenyap dari kedua tangan Joko Wandiro yang sama
sekali tidak menyangka-nyangka. Anak ini cepat menengok dan mencari-cari dengan
pandang matanya, namun tidak tampak siapapun juga di situ. Sepasang goloknya
lenyap dan tadi ia hanya melihat berkelebatnya bayangan orang disusul
perampasan goloknya secara tiba-tiba. Kalau saja ia tahu bahwa bayangan itu
merampas goloknya tentu ia akan melakukan perlawanan. Dengan marah dan
penasaran sekali, Joko Wandiro meloncat dan mengejar, mencari ke sana-sini di
sekitar hutan, namun hasilnya sia-sia belaka. Kemudian ia duduk di bawah pohon
sambil menunjang dagu, terheran, penasaran, dan juga agak gelisah. Ia
mengingat-ingat. Bayangan itu tinggi kurus seperti bayangan seorang kakek tua,
akan tetapi gerakannya begitu cepat dan ia sendiri tadi tengah bersilat dan
tidak memperhatikan lain hal sehingga tidak dapat melihat jelas. Yang terang
sepasang goloknya dirampas seorang kakek yang tentu saja memiliki ilmu
kesaktian yang hebat. Ia termenung penuh penyesalan dan kekecewaan. Ia harus
berlatih makin giat. Ia harus dapat mematangkan ilmunya karena sudah
berkali-kali ia alami betapa banyaknya orang-orang sakti di dunia ini yang
harus ia hadapi. Orang-orang sakti yang menyalahgunakan kesaktiannya. Seperti
Cekel Aksomolo dan teman-temannya. Seperti kakek tak terkenal yang kini mencuri
sepasang goloknya mengandalkan kesaktiannya. Kalau ia tidak kalah pandai, tak
mungkin orang akan dapat merampas sepasang goloknya dengan semaunya dan
seenaknya saja!.
Hatinya makin
penasaran dan juga bingung Karena ia merasa malu bagaimana harus memberi
keterangan kepada Ki Tejoranu tentang hilangnya sepasang golok pemberian kakek
itu. Tiga hari kemudian, menjelang senja hari, datanglah Ki Tejoranu. Kakek ini
kelihatan lelah sekali, dan tekukan wajahnya membayangkan berita yang tidak
menggembirakan. Joko Wandiro menahan diri, dan tidak akan menceritakan
pengalamannya sebelum kakek itu mengaso. Ia tidak mau menambah berita yang
tidak menyenangkan pada kakek Ini. Cepat-cepat anak yang tahu akan kewajiban
ini menyediakan dawegang (kelapa muda) untuk Ki Tejorartu minum, dan
buah-buahan untuk makan. Setelah menghilangkan haus dan lelah, Ki Tejoranu
berkata kepada anak yang duduk bersila di depannya,
"Aku agak
terlambat, Joko. Akan tetapi perjalanan yang jauh itu sungguh melelahkan karena
hasilnya kosong belaka. Baik eyang gurumu maupun ayahmu tak dapat kuketemukan.
Tempat mereka kosong belaka, tidak ada seorangpun di Muara Lorog maupun di
Pulau Sempu."
Tentu saja
Joko Wandiro merasa amat kecewa.
"Ke
manakah mereka pergi, paman?".
"Tak
seorangpun tahu ke mana perginya ayahmu, Pujo. Tidak ada orang mengenalnya.
Juga di Pulau Sempu kosong, eyang gurumu tidak berada di sana lagi. Akan
tetapi, aku banyak mendengar tentang perang saudara yang mulai mengamuk di kota
raja dan kurasa ayahmu sebagai seorang satria tentu pergi ke sana. Adapun
tentang eyang gurumu Bhagawan Rukmoseto, aku mendengar berita bahwa beliau itu
pergi menuju ke pertapaan Resi Gentayu ........ ?"
"Resi
Gentayu ........?"
"Ya, Resi
Gentayu atau Resi Jatmendra, atau juga Sang Prabu Airlangga yang mengundurkan
diri dan bertapa di pertapaan Jalatunda."
Setelah
berhenti sebentar Ki Tejoranu berkata pula
"Besok
atau lusa akan kuhantar engkau ke Jalatunda menyusul kakek gurumu itu, Joko.
Akan tetapi aku ingin melihat engkau berhasil lebih dahulu dalam latihan ilmu
golok Bagaimana, sudah ada kemajuankah?"
Ditanya begitu
Joko Wandiro teringat akan sepasang goloknya yang dirampas orang, maka ia
berlutut sambil mengeluh,
"Aduh,
celaka paman. Tiga hari yang lalu, selagi aku berlatih, sepasang golok itu
dirampas orang........"
Ki Tejoranu
meloncat tinggi dan berdiri dengan muka merah, mata terpentang lebar,
"Siapa
........ ? Siapa berani merampas? Bagaimana pula ia dapat merampas golok? Di
mana dia merampasnya?"
Sebelum Joko
Wandiro sempat-menjawab, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di
situ telah berdiri seorang kakek bermata sipit berkulit kuning yang tinggi
kurus. Sepasang golok Lebah Putih berada di kedua tangannya! Joko Wandiro
memandang dengan penuh keheranan. Kakek ini rambutnya sudah putih semua,
usianya tentu amat tinggi. Pakaiannya seperti pertapa, berwarna putih.
Rambutnya digelung ke atas dan diikat sehelai pita sutera putih pula. Mata yang
sipit itu kini memandang tajam ke arah Ki Tejoranu, kemudian mulutnya
mengeluarkan kata-kata asing yang sama sekali tidak dimengerti Joko Wandiro. Ki
Tejoranu sejenak melongo memandang kakek itu, kemudian tiba-tiba Ki Tejoranu
menjatuhkan diri berlutut di depan kakek rambut putih itu dan mereka berdua
lalu bercakap-cakap dalam bahasa asing. Joko Wandiro tidak mengerti apa yang
mereka percakapkan. Akan tetapi melihat sikap kakek tua yang baru saja datang,
agaknya kakek ini marah-marah kepada Ki Tejoranu, menunjuk-nunjuk ke arah dia
dengan golok kiri sambil mengamang-amangkan golok kanan ke arah Ki Tejoranu.
Sebaliknya, Ki
Tejoranu hanya menjawab dengan ucapan pendek-pendek, mengangguk-anggukkan
kepala seperti orang minta ampun. Kemudian kakek itu membentak keras dan
melangkah ke arah Joko Wandiro, sikapnya mengancam. Akan tetapi Ki Tejoranu
meloncat menghadang lalu berlutut lagi dan bicara sambil menggerak-gerakkan
kedua tangan. Kakek tua itu termenung, agaknya meragu, tangan kiri yang
memegang golok kini mengelus-elus jenggot panjang, kemudian mengangguk-angguk.
Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat ke depan. Bukan main cepatnya gerakan
ini sehingga Joko Wandiro tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu sepasang golok
itu sudah meluncur dan menancap di atas tanah di depan Ki Tejoranu, dan kakek
itu seperti berkelebat lenyap dari tempat itu!. Lega rasa hati Joko Wandiro. Ia
segera melompat menghampiri Ki Tejoranu.
"Ah, dia
mengembalikan goloknya! Paman, siapakah kakek aneh itu dan apa
kehendaknya?"
Ki Tejoranu
tidak menjawab, hanya mengeluh. Joko Wandiro melihat betapa wajah Ki Tejoranu
pucat sekali dan alangkah kagetnya ia ketika ia memandang ke bawah, ia melihat
dua buah jari tangan menggeletak di dekat sepasang golok. Dua buah ibu jari!
Dan ketika ia memandang lagi, kiranya kedua tangan Ki Tejoranu telah kehilangan
ibu jarinya!.
"Paman
.......! Mengapa tanganmu .......”
Ki Tejoranu
menggeleng kepala, tersenyum pahit.
"Kau
carilah dulu getah pohon Gondang atau pohon Gebang untuk obat ......."
Joko Wandiro
cepat lari dari situ, mencari obat yang dikehendaki kakek itu. Ia tahu bahwa
getah kedua pohon ini amat baik untuk mengobati luka. Setelah dapat, ia cepat
kembali ke situ, membantu kakek itu mengobati kedua tangan itu dan membalutnya
erat-erat dengan robekan kain bersih. Sejenak Ki Tejoranu meramkan kedua mata,
mengatur napas. Kemudian ia membuka matanya dan berkata,
"Dia itu
paman guruku, Joko ......."
"Ahh !
Seorang paman guru mengapa begitu kejam? Mengapa kedua ibu jari tanganmu
dipotong? Dan mengapa pula engkau membiarkannya saja, paman?"
"Kau
tidak tahu, anakku. Dengarlah baik-baik ceritaku agar menjadi contoh bagimu
betapa tidak baiknya orang mengagulkan kepandaian sendiri dan menjadi sombong
lalu tersesat seperti aku ini ....... "
Kakek itu
bersila di bawah pohon dan mulailah ia bercerita. Ki Tejoranu dahulu di Negeri
Cina terkenal sebagai seorang pendekar ahli Ilmu Golok Lebah Putih yang
ditakuti lawan dan disegani kawan. Karena bakatnya yang baik, biarpun ia
seorang murid termuda, namun ia paling pandai mainkan ilmu golok itu sehingga
ia mengatasi saudara-saudara seperguruannya. Setelah keluar dari perguruan dan
banyak sekali mengalahkan lawan, mulailah kesombongan mencengkeramnya dan ia menjadi
seorang muda yang congkak dan sewenang-wenang, mengandalkan sepasang golok yang
tak terkalahkan!
Akhirnya sepak
terjangnya yang menodai nama baik perguruan ini terdengar oleh guru dan
paman-paman gurunya. Ia dicari untuk dimintai pertanggungan jawabnya. Karena
maklum betapa keras peraturan perguruannya, Ki Tejoranu lalu melarikan diri.
Namun ia dikejar-kejar terus dan akhirnya ia ikut dengan perahu jong yang
berlayar ke selatan sehingga akhirnya tibalah ia di Pulau Jawa dan menetap di
sini. Tertarik oleh orang-orang sakti yang banyak terdapat di sini, akhirnya ia
menjadi seorang pertapa dan bertahun-tahun Ki Tejoranu bertapa di tepi Danau
Sarangan sehingga ia bertemu dengan Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo, menjadi
sahabat dan terbawa-bawa pula dalam rombongan sekutu Adipati Joyowiseso.
"Demikianlah
riwayatku, anakku Joko Wandiro. Kakek itu adalah paman guruku. Dia merantau
sampai di sini dan mendengar bahwa aku berada di sini pula, dia sekalian
mencariku dan mencari keterangan kalau-kalau aku masih melakukan
perbuatan-perbuatan yang menodai nama perguruan kami. Secara kebetulan sekali
dia melihat engkau berlatih Ilmu Golok Lebah Putih, Joko. Dan ini merupakan
pantangan yang paling berat bagi perguruan kami. Seorang murid tidak
sekali-kali boleh menurunkan Ilmu Golok Lebah Putih tanpa seijin para ketua dan
aku telah melakukan pelanggaran itu dengan mengajarkannya kepadamu! Untung
peristiwa ini tidak terjadi di negaraku, karena kalau terjadi di sana, ketika
ia melihat kau melatih ilmu golok itu, tentu dia sudah turun tangan dan
merampas kembali ilmu itu darimu."
No comments:
Post a Comment