Badai Laut Selatan ; Bagian 072


"Berhentilah dahulu, Joko. Kulihat kau telah menguasai Lebah Putih, dan dasar-dasar gerakanmu sudah benar, hanya tinggal mematangkan saja. Kalau kau setiap hari berlatih, ilmu ini tentu akan mendarah daging kepadamu dan akan amat berguna kelak. Hari ini aku akan berangkat menyelidiki keadaan kakek gurumu di Pulau Sempu, dan juga akan kucari ayahmu. Engkau tinggallah saja dalam hutan ini sambil berlatih ilmu golok. Jangan keluar dari dalam hutan ini sebelum aku pulang. Di hutan ini cukup banyak buah-buahan dan binatang, juga ada sumber airnya. Dalam waktu satu bulan aku akan kembali, anakku. Sepasang golok tipis ini, pusakaku selama puluhan tahun, kuberikan kepadamu, pakailah untuk berlatih."
Joko Wandiro menerima pusaka itu sambil mengucapkan terima kasih kepada kakek yang amat baik terhadap dirinya itu. Ia maklum akan bahayanya kalau sampai bertemu dengan musuh-musuh ayahnya, maka ia berjanji akan mentaati pesan Ki Tejoranu. Orang tua itu lalu berangkat meninggalkan Joko Wandiro, setelah meninggalkan pesan-pesan agar anak itu berhati-hati.

Mentaati pesan Ki Tejoranu, semenjak kakek itu pergi, Joko Wandiro selalu berlatih ilmu golok dengan amat tekun dan rajin. Boleh dibilang setiap saat ia berlatih ilmu golok, dan hanya berhenti untuk mengaso, makan atau tidur. Kadang-kadang ia seling dengan latihan ilmu yang ia pelajari dari ayahnya dan yang disempurnakan oleh eyang gurunya, yaitu ilmu pukulan Pethit Nogo dengan gerakan Bayu Tantra. Berbeda dengan Ilmu Golok Lebah Putih ajaran Ki Tejoranu yang mengandalkan kegesitan tubuh dan kerja sama yang baik antara perasaan dan urat syaraf didasari peraturan gerakan dan langkah, adalah ilmu-ilmu yang ia pelajari dari ayah dan eyang gurunya lebih didasari aji kesaktian yang diperkuat oleh keteguhan batin berkat latihan samadhi dan bertapa. Joko Wandiro memang memiliki bakat luar biasa untuk menjadi seorang ksatria utama. Tidak saja semua ilmu olah keprajuritan dapat ia kuasai dengan amat mudah, juga dalam hal tapa brata, ia amat tekun dan kuat. Semenjak masih kecil ia sudah dilatih dan digembleng ayahnya sehingga dahulu dalam usia delapan sembilan tahun saja ia sudah seringkali ikut ayahnya bertapa di dalam guha-guha di tepi pantai Laut Selatan. Bertapa dan bersamadhi sampai tiga hari tiga malam, tanpa makan tanpa minum! Bagi seorang dewasa, tentu saja hal ini tidak mengherankan. Akan tetapi bagi seorang anak berusia delapan tahun, benar-benar merupakan hal yang mentakjubkan.
Kini ia sudah berusia dua belas tahun lebih. Bertapa tanpa makan minum selama satu minggu saja merupakan hal biasa bagi Joko Wandiro! Tidaklah mengherankan apabila dalam usia semuda itu, ia telah memiliki beberapa macam ilmu kesaktian yang mengagumkan. Dan sifat tahan tapa inilah agaknya yang membuat ia secara mudah sekali dapat menguasai Ilmu Golok Lebah Putih dalam waktu beberapa bulan saja. Padahal, Ilmu Golok Lebah Putih termasuk ilmu silat tinggi yang hanya mampu dikuasai seorang ahli silat yang sudah matang dasar-dasarnya, inipun untuk menguasainya secara sempurna membutuhkan waktu bertahun-tahun!

Sebulan lewat cepat. Ki Tejoranu belum juga pulang. Joko Wandiro yang mengharapkan kedatangan Ki Tejoranu dalam satu dua hari ini, berlatih giat sekali. Ingin ia menyenangkan hati kakek yang baik hati itu betapa selama ini ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam Ilmu Golok Lebah Putih. Juga hatinya girang karena pulangnya Ki Tejoranu akan membawa berita tentang eyang gurunya dan ayahnya. Pagi hari itu Joko Wandiro berlatih dengan tekun, mengerahkan seluruh tenaganya dan mencurah kan seluruh perhatian dalam gerakan-gerakannya. Sepasang golok tipis ringan di tangannya itu lenyap bentuknya, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Anak ini belum mampu bergerak terlalu cepat sehingga tubuhnya lenyap terselimut gulungan sinar putih, akan tetapi berlatih kurang dari setengah tahun sudah dapat menggerakkan sepasang golok sehingga lenyap bentuknya, benar-benar sudah amat mengagumkan.
Tiba-tiba terdengar seruan suara aneh dan sesosok bayangan putih berkelebat dekat sekali dengan Joko Wandiro yang tengah bersilat. Mendadak sekali, tanpa dapat dicegah lagi sepasang golok terbang lenyap dari kedua tangan Joko Wandiro yang sama sekali tidak menyangka-nyangka. Anak ini cepat menengok dan mencari-cari dengan pandang matanya, namun tidak tampak siapapun juga di situ. Sepasang goloknya lenyap dan tadi ia hanya melihat berkelebatnya bayangan orang disusul perampasan goloknya secara tiba-tiba. Kalau saja ia tahu bahwa bayangan itu merampas goloknya tentu ia akan melakukan perlawanan. Dengan marah dan penasaran sekali, Joko Wandiro meloncat dan mengejar, mencari ke sana-sini di sekitar hutan, namun hasilnya sia-sia belaka. Kemudian ia duduk di bawah pohon sambil menunjang dagu, terheran, penasaran, dan juga agak gelisah. Ia mengingat-ingat. Bayangan itu tinggi kurus seperti bayangan seorang kakek tua, akan tetapi gerakannya begitu cepat dan ia sendiri tadi tengah bersilat dan tidak memperhatikan lain hal sehingga tidak dapat melihat jelas. Yang terang sepasang goloknya dirampas seorang kakek yang tentu saja memiliki ilmu kesaktian yang hebat. Ia termenung penuh penyesalan dan kekecewaan. Ia harus berlatih makin giat. Ia harus dapat mematangkan ilmunya karena sudah berkali-kali ia alami betapa banyaknya orang-orang sakti di dunia ini yang harus ia hadapi. Orang-orang sakti yang menyalahgunakan kesaktiannya. Seperti Cekel Aksomolo dan teman-temannya. Seperti kakek tak terkenal yang kini mencuri sepasang goloknya mengandalkan kesaktiannya. Kalau ia tidak kalah pandai, tak mungkin orang akan dapat merampas sepasang goloknya dengan semaunya dan seenaknya saja!.

Hatinya makin penasaran dan juga bingung Karena ia merasa malu bagaimana harus memberi keterangan kepada Ki Tejoranu tentang hilangnya sepasang golok pemberian kakek itu. Tiga hari kemudian, menjelang senja hari, datanglah Ki Tejoranu. Kakek ini kelihatan lelah sekali, dan tekukan wajahnya membayangkan berita yang tidak menggembirakan. Joko Wandiro menahan diri, dan tidak akan menceritakan pengalamannya sebelum kakek itu mengaso. Ia tidak mau menambah berita yang tidak menyenangkan pada kakek Ini. Cepat-cepat anak yang tahu akan kewajiban ini menyediakan dawegang (kelapa muda) untuk Ki Tejorartu minum, dan buah-buahan untuk makan. Setelah menghilangkan haus dan lelah, Ki Tejoranu berkata kepada anak yang duduk bersila di depannya,
"Aku agak terlambat, Joko. Akan tetapi perjalanan yang jauh itu sungguh melelahkan karena hasilnya kosong belaka. Baik eyang gurumu maupun ayahmu tak dapat kuketemukan. Tempat mereka kosong belaka, tidak ada seorangpun di Muara Lorog maupun di Pulau Sempu."
Tentu saja Joko Wandiro merasa amat kecewa.
"Ke manakah mereka pergi, paman?".
"Tak seorangpun tahu ke mana perginya ayahmu, Pujo. Tidak ada orang mengenalnya. Juga di Pulau Sempu kosong, eyang gurumu tidak berada di sana lagi. Akan tetapi, aku banyak mendengar tentang perang saudara yang mulai mengamuk di kota raja dan kurasa ayahmu sebagai seorang satria tentu pergi ke sana. Adapun tentang eyang gurumu Bhagawan Rukmoseto, aku mendengar berita bahwa beliau itu pergi menuju ke pertapaan Resi Gentayu ........ ?"
"Resi Gentayu ........?"
"Ya, Resi Gentayu atau Resi Jatmendra, atau juga Sang Prabu Airlangga yang mengundurkan diri dan bertapa di pertapaan Jalatunda."
Setelah berhenti sebentar Ki Tejoranu berkata pula
"Besok atau lusa akan kuhantar engkau ke Jalatunda menyusul kakek gurumu itu, Joko. Akan tetapi aku ingin melihat engkau berhasil lebih dahulu dalam latihan ilmu golok Bagaimana, sudah ada kemajuankah?"

Ditanya begitu Joko Wandiro teringat akan sepasang goloknya yang dirampas orang, maka ia berlutut sambil mengeluh,
"Aduh, celaka paman. Tiga hari yang lalu, selagi aku berlatih, sepasang golok itu dirampas orang........"
Ki Tejoranu meloncat tinggi dan berdiri dengan muka merah, mata terpentang lebar,
"Siapa ........ ? Siapa berani merampas? Bagaimana pula ia dapat merampas golok? Di mana dia merampasnya?"
Sebelum Joko Wandiro sempat-menjawab, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek bermata sipit berkulit kuning yang tinggi kurus. Sepasang golok Lebah Putih berada di kedua tangannya! Joko Wandiro memandang dengan penuh keheranan. Kakek ini rambutnya sudah putih semua, usianya tentu amat tinggi. Pakaiannya seperti pertapa, berwarna putih. Rambutnya digelung ke atas dan diikat sehelai pita sutera putih pula. Mata yang sipit itu kini memandang tajam ke arah Ki Tejoranu, kemudian mulutnya mengeluarkan kata-kata asing yang sama sekali tidak dimengerti Joko Wandiro. Ki Tejoranu sejenak melongo memandang kakek itu, kemudian tiba-tiba Ki Tejoranu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek rambut putih itu dan mereka berdua lalu bercakap-cakap dalam bahasa asing. Joko Wandiro tidak mengerti apa yang mereka percakapkan. Akan tetapi melihat sikap kakek tua yang baru saja datang, agaknya kakek ini marah-marah kepada Ki Tejoranu, menunjuk-nunjuk ke arah dia dengan golok kiri sambil mengamang-amangkan golok kanan ke arah Ki Tejoranu.
Sebaliknya, Ki Tejoranu hanya menjawab dengan ucapan pendek-pendek, mengangguk-anggukkan kepala seperti orang minta ampun. Kemudian kakek itu membentak keras dan melangkah ke arah Joko Wandiro, sikapnya mengancam. Akan tetapi Ki Tejoranu meloncat menghadang lalu berlutut lagi dan bicara sambil menggerak-gerakkan kedua tangan. Kakek tua itu termenung, agaknya meragu, tangan kiri yang memegang golok kini mengelus-elus jenggot panjang, kemudian mengangguk-angguk. Tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat ke depan. Bukan main cepatnya gerakan ini sehingga Joko Wandiro tidak tahu apa yang terjadi. Tahu-tahu sepasang golok itu sudah meluncur dan menancap di atas tanah di depan Ki Tejoranu, dan kakek itu seperti berkelebat lenyap dari tempat itu!. Lega rasa hati Joko Wandiro. Ia segera melompat menghampiri Ki Tejoranu.
"Ah, dia mengembalikan goloknya! Paman, siapakah kakek aneh itu dan apa kehendaknya?"
Ki Tejoranu tidak menjawab, hanya mengeluh. Joko Wandiro melihat betapa wajah Ki Tejoranu pucat sekali dan alangkah kagetnya ia ketika ia memandang ke bawah, ia melihat dua buah jari tangan menggeletak di dekat sepasang golok. Dua buah ibu jari! Dan ketika ia memandang lagi, kiranya kedua tangan Ki Tejoranu telah kehilangan ibu jarinya!.
"Paman .......! Mengapa tanganmu .......”
Ki Tejoranu menggeleng kepala, tersenyum pahit.
"Kau carilah dulu getah pohon Gondang atau pohon Gebang untuk obat ......."

Joko Wandiro cepat lari dari situ, mencari obat yang dikehendaki kakek itu. Ia tahu bahwa getah kedua pohon ini amat baik untuk mengobati luka. Setelah dapat, ia cepat kembali ke situ, membantu kakek itu mengobati kedua tangan itu dan membalutnya erat-erat dengan robekan kain bersih. Sejenak Ki Tejoranu meramkan kedua mata, mengatur napas. Kemudian ia membuka matanya dan berkata,
"Dia itu paman guruku, Joko ......."
"Ahh ! Seorang paman guru mengapa begitu kejam? Mengapa kedua ibu jari tanganmu dipotong? Dan mengapa pula engkau membiarkannya saja, paman?"
"Kau tidak tahu, anakku. Dengarlah baik-baik ceritaku agar menjadi contoh bagimu betapa tidak baiknya orang mengagulkan kepandaian sendiri dan menjadi sombong lalu tersesat seperti aku ini ....... "
Kakek itu bersila di bawah pohon dan mulailah ia bercerita. Ki Tejoranu dahulu di Negeri Cina terkenal sebagai seorang pendekar ahli Ilmu Golok Lebah Putih yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Karena bakatnya yang baik, biarpun ia seorang murid termuda, namun ia paling pandai mainkan ilmu golok itu sehingga ia mengatasi saudara-saudara seperguruannya. Setelah keluar dari perguruan dan banyak sekali mengalahkan lawan, mulailah kesombongan mencengkeramnya dan ia menjadi seorang muda yang congkak dan sewenang-wenang, mengandalkan sepasang golok yang tak terkalahkan!
Akhirnya sepak terjangnya yang menodai nama baik perguruan ini terdengar oleh guru dan paman-paman gurunya. Ia dicari untuk dimintai pertanggungan jawabnya. Karena maklum betapa keras peraturan perguruannya, Ki Tejoranu lalu melarikan diri. Namun ia dikejar-kejar terus dan akhirnya ia ikut dengan perahu jong yang berlayar ke selatan sehingga akhirnya tibalah ia di Pulau Jawa dan menetap di sini. Tertarik oleh orang-orang sakti yang banyak terdapat di sini, akhirnya ia menjadi seorang pertapa dan bertahun-tahun Ki Tejoranu bertapa di tepi Danau Sarangan sehingga ia bertemu dengan Ki Warok Gendroyono dari Ponorogo, menjadi sahabat dan terbawa-bawa pula dalam rombongan sekutu Adipati Joyowiseso.
"Demikianlah riwayatku, anakku Joko Wandiro. Kakek itu adalah paman guruku. Dia merantau sampai di sini dan mendengar bahwa aku berada di sini pula, dia sekalian mencariku dan mencari keterangan kalau-kalau aku masih melakukan perbuatan-perbuatan yang menodai nama perguruan kami. Secara kebetulan sekali dia melihat engkau berlatih Ilmu Golok Lebah Putih, Joko. Dan ini merupakan pantangan yang paling berat bagi perguruan kami. Seorang murid tidak sekali-kali boleh menurunkan Ilmu Golok Lebah Putih tanpa seijin para ketua dan aku telah melakukan pelanggaran itu dengan mengajarkannya kepadamu! Untung peristiwa ini tidak terjadi di negaraku, karena kalau terjadi di sana, ketika ia melihat kau melatih ilmu golok itu, tentu dia sudah turun tangan dan merampas kembali ilmu itu darimu."

<<< Bagian 071                                                                                     Bagian 073 >>>

No comments:

Post a Comment