Namun, Pujo memaksa diri mempertahankan, karena ia kini maklum akan keadaan hati kedua isterinya. Sebagai wanita-wanita utama, tentu saja mereka akan merasa rendah diri melayani suami sebagai isteri-isteri tercinta, apabila Jokowanengpati yang mendatangkan aib dan noda itu belum tewas di depan kaki mereka!. Sementara itu, Raden Wisangjiwo dibantu oleh Resi Telomoyo keluar dari kadipaten dan memimpin sendiri anak buahnya dalam usahanya mencari Raden Joko Wandiro, puteranya, dan Endang Patibroto, puteri Pujo. Namun hasilnya sia-sia belaka. Setiap kali kembali ke kadipaten, wajah Wisangjiwo makin keruh dan pucat. Namun segera ia berangkat lagi mencari ke lain jurusan.
Sebulan
kemudian, utusan yang disuruh berangkat ke kota raja memberi laporan kepada
Pangeran Sepuh tentang keadaan Kadipaten Selopenangkep, telah tiba kembali di
kadipaten. Mereka membawa berita yang mengejutkan, yaitu bahwa perang telah
terjadi secara terbuka antara pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan
pengikut Pangeran Anom! Wisangjiwo juga dipanggil ke kota raja oleh Pangeran
Sepuh karena perang saudara itu membutuhkan bantuan sebanyaknya. Juga utusan
itu membawa berita bahwa di antara panglima yang membantu Pangeran Anom,
terdapat senopati Jokowanengpati yang terkenal pandai mengatur pasukan dan
sakti. Panas sekali hati Wisangjiwo mendengar ini. Hatinya sedang risau karena
usahanya mencari Joko Wandiro belum juga berhasil. Kini mendengar tentang
Jokowanengpati, ia marah sekali dalam hati. Puteranya hilang adalah karena
kebiadaban Jokowanengpati, demikian kata hatinya. Ia lalu menemui Pujo,
Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo.
"Aku
harus berangkat segera ke kota raja," katanya.
"Kalau
perang antara kedua pangeran telah pecah, berarti perang saudara yang hebat.
Pangeran Anom dibantu oleh banyak orang sakti seperti Cekel Aksomolo, Ni
Durgogini, Ni Nogogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Warok Krendoyakso dan anak
buahnya yang buas. Juga Jokowanengpati si keparat merupakan tangan kanan
Pangeran Anom. Oleh karena itu, kalau saja kalian bertiga, juga paman Resi
Telomoyo suka, saya minta dengan hormat agar supaya ikut pula ke kota raja.
Membantu Pangeran Sepuh berarti membantu keturunan Mataram. Pangeran Sepuh
adalah putera Sang Dewi Sekarkedaton, cucu mendiang Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa, berdarah Mataram aseli. Akan tetapi Pangeran Anom adalah pangeran
yang berdarah keturunan Sriwijaya! Bukan tidak mungkin kalau Pangeran Anom yang
menguasai Kahuripan, kelak kita semua akan menjadi orang jajahan Sriwijaya.
Andaikata andika sekalian tidak tertarik akan hal ini, juga dengan membantu
Pangeran Tua berarti menentang Pangeran Muda yang mempergunakan tenaga
orang-orang jahat, berarti kita telah melakukan dharma satria membasmi
kejahatan."
"Kakangmas
Wisangjiwo. Hal-hal lain tidak menarik hati kami bertiga, akan tetapi dengan
adanya si keparat Jokowanengpati di sana, kami bertiga tentu saja akan
berangkat pula ke sana. Kalau dia membantu Pangeran Anom, dengan sendirinya
kami akan membantu lawannya, yaitu Gusti Pangeran Sepuh," kata Pujo dan
kedua orang isterinya mengangguk-angguk tanda setuju.
"Bagaimana
dengan paman Resi Telomoyo?" Wisangjiwo bertanya penuh harapan, matanya
menyinarkan kegirangan karena Pujo bertiga ikut pula membantu Pangeran Sepuh.
Tenaga tiga orang ini amat hebat dan berguna dalam perlawanan menghadapi
orang-orang sakti yang membantu Pangeran Anom.
"Hemmm,
aku sudah tua, raden. Aku tidak suka akan perang bunuh membunuh antara manusia
memperebutkan kemenangan. aku tidak butuh kemewahan, tidak pula butuh pahala.
Akan tetapi, kalau pertapa-pertapa seperti Cekel Aksomolo dan yang lain-lain
itu meninggalkan pertapaan mengejar keduniaan mengandalkan kesaktian, tentu
keadaan akan menjadi miring dan berat sebelah. Terpaksa akupun harus turun
tangan menghalangi mereka. Mari kita berangkat!".
Girang hati
Wisangjiwo mendengar ini dan ia tertawa melihat kakek itu menjadi bersemangat
dan tergesa-gesa.
"Harap
paman resi bersabar karena saya masih menanti kembalinya pasukan yang saya utus
pergi menjemput isteri saya di dusun Selogiri."
"Hahh ?
Selogiri di lereng timur Gunung Lawu?" Resi Telomoyo bertanya.
"Betul,
paman." Wisangjiwo menarik napas panjang penuh penyesalan.
"Semua
gara-gara Jokowanengpati ....... " ia melirik ke arah Pujo.
"Saya
tertipu muslihatnya, mempercaya mulutnya. Karena kehilangan Joko Wandiro isteri
saya Listyokumolo seperti berubah ingatannya. Saya ....... saya tadinya
menyangka buruk terhadap adimas Pujo sehingga saya pulangkan isteri saya itu
kepada ayahnya, lurah Selogiri. Saya menyesal, paman, dan sekarang saya
menyuruh pasukan menjemputnya, akan saya ajak bersama ke kota raja. Kasihan
isteri saya....... " Wisangjiwo termenung.
"Ahh,
saya mengaku salah alamat, saya telah menjadi seekor binatang buas, merampas
puteramu sehingga membuat isterimu menjadi berduka"
"Sudahlah,
dimas. Semua telah terjadi dan semua mempunyai kesalahan. Tinggal sekarang kita
merobah segala kesalahan yang lalu. Mudah-mudahan saja nimas Listyokumolo sudah
sembuh dan suka mengampunkan aku." Dua hari kemudian datanglah pasukan
yang ditunggu-tunggu.
Wajah
Wisangjiwo menjadi muram karena tidak melihat isterinya bersama mereka. Apalagi
setelah ia mendengar laporan kepala pasukan, ia menjadi berduka sekali.
Kiranya, menurut hasil penyelidikan pasukan itu, tidak lama semenjak
Listyokumolo pulang ke dusun Selogiri, dusun itu dilanda malapetaka. Sekelompok
perampok menyerbu Selogiri. Biarpun lurah Selogiri, ayah Listyokumolo, bersama
para penduduk melakukan perlawanan, namun tidak kuat mereka menghadapi para
perampok. Lurah Selogiri tewas, banyak penduduk laki-laki yang tidak sempat
melarikan diri dibunuh, dusun dibakar dan banyak wanita terculik. Di antaranya,
Listyokumolo dibawa lari oleh kepala rampok! Melihat kakaknya berwajah pucat
dan menjambak-jambak rambut penuh penyesalan, Roro Luhito memegang pundak
kakaknya sambil menangis.
"Kasihan
nasib kangmbok Listyokumolo .... "
Wisangjiwo
menghela napas dan menengadahkan kepalanya.
"Duh
Dewata Yang Agung, inikah hukumanku? Biarlah, Luhito, biar impas semua dosaku,
karena tiada kejahatan tanpa hukuman dan kalau kuingat akan kelakuanku yang
lalu, sungguh belum seberapa hebatnya hukuman ini. Mari, adikku, mari kita
berangkat, mari kita mencari si jahanam Jokowanengpati, biang keladi segala
peristiwa pahit ini!"
Setelah
meninggalkan sepasukan penjaga untuk menjaga Kadipaten Selopenangkep,
berangkatlah mereka, Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi
Telomoyo berkuda, diiringkan pasukan yang kesemuanya berkuda. Biarpun wajahnya
membayangkan kebesaran semangat dan kegembiraan seorang perajurit yang siap
bertempur namun di dalam hatinya, Wisangjiwo menangisi isterinya. Teringat ia
sekarang akan segala derita yang dialami Listyokumolo. Betapa dahulu,
Listyokumolo gadis dusun yang cantik jelita dan bahagia itu terpaksa menyerah kepadanya
dan hidup di dalam Kadipaten Selopenangkep. Betapa Listyokumolo dengan sepenuh
jiwanya berusaha menyesuaikan diri, berusaha mencinta suaminya dan betapa
Listyokumolo selalu bersabar digoda tingkah laku suaminya yang selalu
mengejar-ngejar wanita cantik.
Teringat ia
betapa kejam hatinya, tidak kasihan melihat isterinya seperti gila kehilangan
putera, tidak menghiburnya malah mengusirnya pulang ke Selogiri! Kalau sekarang
ia teringat betapa akan celaka nasib isterinya itu diculik kepala perampok, hatinya
terasa ditusuk-tusuk ujung keris berbisa. Ia berjanji di dalam hati bahwa
setelah selesai perang dan masih hidup, ia akan menggunakan sisa usianya untuk
mencari isterinya, mencari Listyokumolo sampai dapat dan kalau isterinya itu
sudah mati, ia akan membalas mereka yang menyakiti isterinya, terutama kepala
perampok itu!.
Pujo dan
Kartikosari sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka berangkat mengikuti
Wisangjiwo bersama Roro Luhito dan Resi Telomoyo menuju ke kota raja, terjadi
penyerbuan di Pulau Sempu terhadap Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo. Sama
sekali tidak tahu betapa hampir saja Resi Bhargowo tewas oleh pengeroyokan
jago-jago utusan Pangeran Anom yang ingin merampas pusaka Mataram. Juga tidak
tahu betapa dua orang anak yang mereka cari-cari selama ini berada pula di
Pulau Sempu dan dengan adanya penyerbuan menjadi cerai-berai.
Seperti kita
ketahui, Endang Patibroto bertemu dengan seorang manusia yang luar biasa
saktinya, ialah Dibyo Mamangkoro bekas senopati Kerajaan Wengker. Endang Patibroto
kemudian ikut pergi dengan Dibyo Mamangkoro sebagai muridnya, pergi ke sebuah
pulau yang pada waktu itu merupakan pulau gawat, penuh dengan iblis bekasakan
sehingga terkenal sebagai tempat yang disirik (pantang) orang karena kabarnya
orang yang masuk ke pulau itu tentu akan tewas dan tidak dapat keluar kembali.
Bahkan para nelayan tidak ada yang berani mendekatkan perahu ke pulau itu di
waktu mereka mencari ikan. Pulau itu bukan lain adalah Pulau Nusakambangan!.
Dibyo Mamangkoro manusia yang wataknya seperti bukan manusia lagi itu, seorang
sakti mandraguna yang sukar dicari tandingannya, tidak mempunyai putera maupun
keluarga lain. Semua keluarga terbasmi habis ketika Kerajaan Wengker di mana ia
mengabdi hancur dalam perang melawan Kahuripan sehingga ia sendiri melarikan
diri dan bersembunyi di Nusakambangan. Kini melihat Endang Patibroto, ia merasa
amat suka. Anak perempuan ini memiliki dasar watak yang liar, ganas dan tidak
pernah mau kalah, sebuah watak yang cocok dengan watak Dibyo Mamangkoro. Selain
itu, anak ini memiliki tubuh yang amat baik, tulang seorang calon pendekar
sakti. Di samping ini semua, Endang Patibroto pandai mengambil hati dan anak
ini sendiripun suka berlatih ilmu serta rajin. Inilah sebabnya mengapa Dibyo
Mamangkoro melakukan hal yang selama hidupnya belum pernah ia lakukan, yaitu,
mengambil murid dan setiap hari tekun melatihnya dengan rasa kasih sayang yang
makin mendalam sehingga Endang Patibroto dianggapnya sebagai anak atau cucunya
sendiri. Kakek yang sakti mandraguna ini mengambil keputusan untuk menurunkan
dan mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Endang Patibroto!.
Kita
tinggalkan dulu Endang Patibroto yang bertahun-tahun digembleng oleh Dibyo
Mamangkoro, seakan-akan mereka berdua itu sudah terputus bubungannya dengan
dunia ramai, hanya berteman binatang-binatang buas dan hutan lebat. Mari kita
ikuti perjalanan Joko Wandiro yang meninggalkan Pulau Sempu dalam keadaan
pingsan. Joko Wandiro menjadi korban gigitan ular kecil berwarna hijau ketika
ia menyembunyikan patung kencana ke atas pohon randu alas. Mula-mula, kakinya
yang digigit, kemudian pergelangan lengan kanannya. Biarpun ia sendiri dapat
membunuh ular itu dengan menggigit lehernya dan mengisap darahnya, namun racun
ular membuat Joko Wandiro menggeletak pingsan ketika ia ditemukan Ki Tejoranu
yang kebetulan datang pula ke Pulau Sempu karena kakek pertapa dari Danau
Sarangan ini diam-diam mengikuti gerak-gerik Jokowanengpati dan teman-temannya.
Melihat betapa bocah yang pernah menolongnya dan yang dianggap sebagai tuan
penolongnya itu menggeletak pingsan dan setelah memeriksa ia maklum bahwa Joko
Wandiro menjadi korban gigitan ular berbisa, Ki Tejoranu cepat mengangkat tubuh
Joko Wandiro dan membawanya pergi dari Pulau Sempu. Ketika menyeberangi laut
menuju ke darat, Ki Tejoranu cepat menotok jalan darah di lutut dan siku untuk
mencegah racun ular menjalar makin jauh ke tubuh Joko Wandiro. Kemudian,
setibanya di darat, ia memondong tubuh anak itu dan segera membawanya ke dalam
hutan. Tubuh Joko Wandiro amat panas! Ki Tejoranu segera mencari daun-daun
obat. Untung bahwa bumi Pulau Jawa amatlah lohjinawi, tidak saja subur
menumbuhkan bahan makan yang berlimpah-ruah, juga menjadi tempat hidup segala
macam daun-daun berkhasiat obat mujarab. Dengan tergesa-gesa Ki Tejoranu
mengumpulkan daun Sambiloto daun Jintan, daun Ketumbel, dan daun Ngokilo,
memasaknya dan menuangkan jamu ini ke dalam tenggorokan Joko Wandiro yang masih
pingsan. Ia merasa heran mendapat kenyataan ketika ia minumkan jamu itu bahwa
tubuh Joko Wandiro tidaklah panas lagi dan napasnya tidak terengah-engah
seperti tadi. Kakek ini tidak tahu bahwa secara kebetulan Joko Wandiro telah
minum obat yang cukup manjur, yaitu darah ular itu sendiri!.
Kemudian Ki
Tejoranu masuk ke dalam hutan lagi dengan gerakan amat cepat. Tak lama ia
mencari-cari dan ketika kembali, ia sudah membawa obat-obat yang ia perlukan,
yaitu bawang putih, jeruk pecel, dan madu tawon. Ramuan obat ini ia pakai untuk
mengompres luka di kaki dan pergelangan lengan bekas gigitan ular. Penuh ketekunan
kakek ini merawat Joko Wandiro sehingga dalam waktu tiga hari saja anak itu
telah sembuh sama sekali. Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali Joko Wandiro
siuman. Ia membuka mata dan terheran-heran mendapatkan dirinya berada dalam
sebuah gubuk kecil terbuat daripada bambu dan daun kelapa, rebah di atas tanah
bertilam anyaman daun kelapa. Joko Wandiro terheran-heran, apalagi ketika ia
bangkit dan berdiri, ia merasa betapa perutnya hangat dan di dalam dadanya
terasa getaran-getaran tarik-menarik yang aneh. Sebagai murid dari orang-orang
sakti, ia maklum betapa di dalam tubuhnya terdapat tenaga mukjijat yang
dihimpun dari hawa sakti.
No comments:
Post a Comment