Badai Laut Selatan ; Bagian 070


Namun, Pujo memaksa diri mempertahankan, karena ia kini maklum akan keadaan hati kedua isterinya. Sebagai wanita-wanita utama, tentu saja mereka akan merasa rendah diri melayani suami sebagai isteri-isteri tercinta, apabila Jokowanengpati yang mendatangkan aib dan noda itu belum tewas di depan kaki mereka!. Sementara itu, Raden Wisangjiwo dibantu oleh Resi Telomoyo keluar dari kadipaten dan memimpin sendiri anak buahnya dalam usahanya mencari Raden Joko Wandiro, puteranya, dan Endang Patibroto, puteri Pujo. Namun hasilnya sia-sia belaka. Setiap kali kembali ke kadipaten, wajah Wisangjiwo makin keruh dan pucat. Namun segera ia berangkat lagi mencari ke lain jurusan.

Sebulan kemudian, utusan yang disuruh berangkat ke kota raja memberi laporan kepada Pangeran Sepuh tentang keadaan Kadipaten Selopenangkep, telah tiba kembali di kadipaten. Mereka membawa berita yang mengejutkan, yaitu bahwa perang telah terjadi secara terbuka antara pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan pengikut Pangeran Anom! Wisangjiwo juga dipanggil ke kota raja oleh Pangeran Sepuh karena perang saudara itu membutuhkan bantuan sebanyaknya. Juga utusan itu membawa berita bahwa di antara panglima yang membantu Pangeran Anom, terdapat senopati Jokowanengpati yang terkenal pandai mengatur pasukan dan sakti. Panas sekali hati Wisangjiwo mendengar ini. Hatinya sedang risau karena usahanya mencari Joko Wandiro belum juga berhasil. Kini mendengar tentang Jokowanengpati, ia marah sekali dalam hati. Puteranya hilang adalah karena kebiadaban Jokowanengpati, demikian kata hatinya. Ia lalu menemui Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo.
"Aku harus berangkat segera ke kota raja," katanya.
"Kalau perang antara kedua pangeran telah pecah, berarti perang saudara yang hebat. Pangeran Anom dibantu oleh banyak orang sakti seperti Cekel Aksomolo, Ni Durgogini, Ni Nogogini, Ki Warok Gendroyono, Ki Warok Krendoyakso dan anak buahnya yang buas. Juga Jokowanengpati si keparat merupakan tangan kanan Pangeran Anom. Oleh karena itu, kalau saja kalian bertiga, juga paman Resi Telomoyo suka, saya minta dengan hormat agar supaya ikut pula ke kota raja. Membantu Pangeran Sepuh berarti membantu keturunan Mataram. Pangeran Sepuh adalah putera Sang Dewi Sekarkedaton, cucu mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, berdarah Mataram aseli. Akan tetapi Pangeran Anom adalah pangeran yang berdarah keturunan Sriwijaya! Bukan tidak mungkin kalau Pangeran Anom yang menguasai Kahuripan, kelak kita semua akan menjadi orang jajahan Sriwijaya. Andaikata andika sekalian tidak tertarik akan hal ini, juga dengan membantu Pangeran Tua berarti menentang Pangeran Muda yang mempergunakan tenaga orang-orang jahat, berarti kita telah melakukan dharma satria membasmi kejahatan."
"Kakangmas Wisangjiwo. Hal-hal lain tidak menarik hati kami bertiga, akan tetapi dengan adanya si keparat Jokowanengpati di sana, kami bertiga tentu saja akan berangkat pula ke sana. Kalau dia membantu Pangeran Anom, dengan sendirinya kami akan membantu lawannya, yaitu Gusti Pangeran Sepuh," kata Pujo dan kedua orang isterinya mengangguk-angguk tanda setuju.
"Bagaimana dengan paman Resi Telomoyo?" Wisangjiwo bertanya penuh harapan, matanya menyinarkan kegirangan karena Pujo bertiga ikut pula membantu Pangeran Sepuh. Tenaga tiga orang ini amat hebat dan berguna dalam perlawanan menghadapi orang-orang sakti yang membantu Pangeran Anom.
"Hemmm, aku sudah tua, raden. Aku tidak suka akan perang bunuh membunuh antara manusia memperebutkan kemenangan. aku tidak butuh kemewahan, tidak pula butuh pahala. Akan tetapi, kalau pertapa-pertapa seperti Cekel Aksomolo dan yang lain-lain itu meninggalkan pertapaan mengejar keduniaan mengandalkan kesaktian, tentu keadaan akan menjadi miring dan berat sebelah. Terpaksa akupun harus turun tangan menghalangi mereka. Mari kita berangkat!".

Girang hati Wisangjiwo mendengar ini dan ia tertawa melihat kakek itu menjadi bersemangat dan tergesa-gesa.
"Harap paman resi bersabar karena saya masih menanti kembalinya pasukan yang saya utus pergi menjemput isteri saya di dusun Selogiri."
"Hahh ? Selogiri di lereng timur Gunung Lawu?" Resi Telomoyo bertanya.
"Betul, paman." Wisangjiwo menarik napas panjang penuh penyesalan.
"Semua gara-gara Jokowanengpati ....... " ia melirik ke arah Pujo.
"Saya tertipu muslihatnya, mempercaya mulutnya. Karena kehilangan Joko Wandiro isteri saya Listyokumolo seperti berubah ingatannya. Saya ....... saya tadinya menyangka buruk terhadap adimas Pujo sehingga saya pulangkan isteri saya itu kepada ayahnya, lurah Selogiri. Saya menyesal, paman, dan sekarang saya menyuruh pasukan menjemputnya, akan saya ajak bersama ke kota raja. Kasihan isteri saya....... " Wisangjiwo termenung.
"Ahh, saya mengaku salah alamat, saya telah menjadi seekor binatang buas, merampas puteramu sehingga membuat isterimu menjadi berduka"
"Sudahlah, dimas. Semua telah terjadi dan semua mempunyai kesalahan. Tinggal sekarang kita merobah segala kesalahan yang lalu. Mudah-mudahan saja nimas Listyokumolo sudah sembuh dan suka mengampunkan aku." Dua hari kemudian datanglah pasukan yang ditunggu-tunggu.
Wajah Wisangjiwo menjadi muram karena tidak melihat isterinya bersama mereka. Apalagi setelah ia mendengar laporan kepala pasukan, ia menjadi berduka sekali. Kiranya, menurut hasil penyelidikan pasukan itu, tidak lama semenjak Listyokumolo pulang ke dusun Selogiri, dusun itu dilanda malapetaka. Sekelompok perampok menyerbu Selogiri. Biarpun lurah Selogiri, ayah Listyokumolo, bersama para penduduk melakukan perlawanan, namun tidak kuat mereka menghadapi para perampok. Lurah Selogiri tewas, banyak penduduk laki-laki yang tidak sempat melarikan diri dibunuh, dusun dibakar dan banyak wanita terculik. Di antaranya, Listyokumolo dibawa lari oleh kepala rampok! Melihat kakaknya berwajah pucat dan menjambak-jambak rambut penuh penyesalan, Roro Luhito memegang pundak kakaknya sambil menangis.
"Kasihan nasib kangmbok Listyokumolo .... "
Wisangjiwo menghela napas dan menengadahkan kepalanya.
"Duh Dewata Yang Agung, inikah hukumanku? Biarlah, Luhito, biar impas semua dosaku, karena tiada kejahatan tanpa hukuman dan kalau kuingat akan kelakuanku yang lalu, sungguh belum seberapa hebatnya hukuman ini. Mari, adikku, mari kita berangkat, mari kita mencari si jahanam Jokowanengpati, biang keladi segala peristiwa pahit ini!"

Setelah meninggalkan sepasukan penjaga untuk menjaga Kadipaten Selopenangkep, berangkatlah mereka, Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo berkuda, diiringkan pasukan yang kesemuanya berkuda. Biarpun wajahnya membayangkan kebesaran semangat dan kegembiraan seorang perajurit yang siap bertempur namun di dalam hatinya, Wisangjiwo menangisi isterinya. Teringat ia sekarang akan segala derita yang dialami Listyokumolo. Betapa dahulu, Listyokumolo gadis dusun yang cantik jelita dan bahagia itu terpaksa menyerah kepadanya dan hidup di dalam Kadipaten Selopenangkep. Betapa Listyokumolo dengan sepenuh jiwanya berusaha menyesuaikan diri, berusaha mencinta suaminya dan betapa Listyokumolo selalu bersabar digoda tingkah laku suaminya yang selalu mengejar-ngejar wanita cantik.
Teringat ia betapa kejam hatinya, tidak kasihan melihat isterinya seperti gila kehilangan putera, tidak menghiburnya malah mengusirnya pulang ke Selogiri! Kalau sekarang ia teringat betapa akan celaka nasib isterinya itu diculik kepala perampok, hatinya terasa ditusuk-tusuk ujung keris berbisa. Ia berjanji di dalam hati bahwa setelah selesai perang dan masih hidup, ia akan menggunakan sisa usianya untuk mencari isterinya, mencari Listyokumolo sampai dapat dan kalau isterinya itu sudah mati, ia akan membalas mereka yang menyakiti isterinya, terutama kepala perampok itu!.
Pujo dan Kartikosari sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka berangkat mengikuti Wisangjiwo bersama Roro Luhito dan Resi Telomoyo menuju ke kota raja, terjadi penyerbuan di Pulau Sempu terhadap Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo. Sama sekali tidak tahu betapa hampir saja Resi Bhargowo tewas oleh pengeroyokan jago-jago utusan Pangeran Anom yang ingin merampas pusaka Mataram. Juga tidak tahu betapa dua orang anak yang mereka cari-cari selama ini berada pula di Pulau Sempu dan dengan adanya penyerbuan menjadi cerai-berai.

Seperti kita ketahui, Endang Patibroto bertemu dengan seorang manusia yang luar biasa saktinya, ialah Dibyo Mamangkoro bekas senopati Kerajaan Wengker. Endang Patibroto kemudian ikut pergi dengan Dibyo Mamangkoro sebagai muridnya, pergi ke sebuah pulau yang pada waktu itu merupakan pulau gawat, penuh dengan iblis bekasakan sehingga terkenal sebagai tempat yang disirik (pantang) orang karena kabarnya orang yang masuk ke pulau itu tentu akan tewas dan tidak dapat keluar kembali. Bahkan para nelayan tidak ada yang berani mendekatkan perahu ke pulau itu di waktu mereka mencari ikan. Pulau itu bukan lain adalah Pulau Nusakambangan!. Dibyo Mamangkoro manusia yang wataknya seperti bukan manusia lagi itu, seorang sakti mandraguna yang sukar dicari tandingannya, tidak mempunyai putera maupun keluarga lain. Semua keluarga terbasmi habis ketika Kerajaan Wengker di mana ia mengabdi hancur dalam perang melawan Kahuripan sehingga ia sendiri melarikan diri dan bersembunyi di Nusakambangan. Kini melihat Endang Patibroto, ia merasa amat suka. Anak perempuan ini memiliki dasar watak yang liar, ganas dan tidak pernah mau kalah, sebuah watak yang cocok dengan watak Dibyo Mamangkoro. Selain itu, anak ini memiliki tubuh yang amat baik, tulang seorang calon pendekar sakti. Di samping ini semua, Endang Patibroto pandai mengambil hati dan anak ini sendiripun suka berlatih ilmu serta rajin. Inilah sebabnya mengapa Dibyo Mamangkoro melakukan hal yang selama hidupnya belum pernah ia lakukan, yaitu, mengambil murid dan setiap hari tekun melatihnya dengan rasa kasih sayang yang makin mendalam sehingga Endang Patibroto dianggapnya sebagai anak atau cucunya sendiri. Kakek yang sakti mandraguna ini mengambil keputusan untuk menurunkan dan mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Endang Patibroto!.

Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang bertahun-tahun digembleng oleh Dibyo Mamangkoro, seakan-akan mereka berdua itu sudah terputus bubungannya dengan dunia ramai, hanya berteman binatang-binatang buas dan hutan lebat. Mari kita ikuti perjalanan Joko Wandiro yang meninggalkan Pulau Sempu dalam keadaan pingsan. Joko Wandiro menjadi korban gigitan ular kecil berwarna hijau ketika ia menyembunyikan patung kencana ke atas pohon randu alas. Mula-mula, kakinya yang digigit, kemudian pergelangan lengan kanannya. Biarpun ia sendiri dapat membunuh ular itu dengan menggigit lehernya dan mengisap darahnya, namun racun ular membuat Joko Wandiro menggeletak pingsan ketika ia ditemukan Ki Tejoranu yang kebetulan datang pula ke Pulau Sempu karena kakek pertapa dari Danau Sarangan ini diam-diam mengikuti gerak-gerik Jokowanengpati dan teman-temannya. Melihat betapa bocah yang pernah menolongnya dan yang dianggap sebagai tuan penolongnya itu menggeletak pingsan dan setelah memeriksa ia maklum bahwa Joko Wandiro menjadi korban gigitan ular berbisa, Ki Tejoranu cepat mengangkat tubuh Joko Wandiro dan membawanya pergi dari Pulau Sempu. Ketika menyeberangi laut menuju ke darat, Ki Tejoranu cepat menotok jalan darah di lutut dan siku untuk mencegah racun ular menjalar makin jauh ke tubuh Joko Wandiro. Kemudian, setibanya di darat, ia memondong tubuh anak itu dan segera membawanya ke dalam hutan. Tubuh Joko Wandiro amat panas! Ki Tejoranu segera mencari daun-daun obat. Untung bahwa bumi Pulau Jawa amatlah lohjinawi, tidak saja subur menumbuhkan bahan makan yang berlimpah-ruah, juga menjadi tempat hidup segala macam daun-daun berkhasiat obat mujarab. Dengan tergesa-gesa Ki Tejoranu mengumpulkan daun Sambiloto daun Jintan, daun Ketumbel, dan daun Ngokilo, memasaknya dan menuangkan jamu ini ke dalam tenggorokan Joko Wandiro yang masih pingsan. Ia merasa heran mendapat kenyataan ketika ia minumkan jamu itu bahwa tubuh Joko Wandiro tidaklah panas lagi dan napasnya tidak terengah-engah seperti tadi. Kakek ini tidak tahu bahwa secara kebetulan Joko Wandiro telah minum obat yang cukup manjur, yaitu darah ular itu sendiri!.

Kemudian Ki Tejoranu masuk ke dalam hutan lagi dengan gerakan amat cepat. Tak lama ia mencari-cari dan ketika kembali, ia sudah membawa obat-obat yang ia perlukan, yaitu bawang putih, jeruk pecel, dan madu tawon. Ramuan obat ini ia pakai untuk mengompres luka di kaki dan pergelangan lengan bekas gigitan ular. Penuh ketekunan kakek ini merawat Joko Wandiro sehingga dalam waktu tiga hari saja anak itu telah sembuh sama sekali. Pada hari ke empat, pagi-pagi sekali Joko Wandiro siuman. Ia membuka mata dan terheran-heran mendapatkan dirinya berada dalam sebuah gubuk kecil terbuat daripada bambu dan daun kelapa, rebah di atas tanah bertilam anyaman daun kelapa. Joko Wandiro terheran-heran, apalagi ketika ia bangkit dan berdiri, ia merasa betapa perutnya hangat dan di dalam dadanya terasa getaran-getaran tarik-menarik yang aneh. Sebagai murid dari orang-orang sakti, ia maklum betapa di dalam tubuhnya terdapat tenaga mukjijat yang dihimpun dari hawa sakti.

<<< Bagian 069                                                                                    Bagian 071 >>>

No comments:

Post a Comment