Badai Laut Selatan ; Bagian 073


"Merampas ilmu golok? Bagaimana ia dapat merampas ilmu yang telah dipelajari orang?"
Ki Tejoranu tersenyum pahit dan mengangkat kedua tangannya yang sudah dibalut.
"Dia telah merampas ilmu itu dariku."

Joko Wandiro tertegun, sejenak tidak mengerti. Kemudian ia teringat dan bergidik ngeri. Benar juga! Kalau dua buah ibu jari tangan dipotong, tidak mungkin lagi orang dapat bermain golok! Membuntungi kedua ibu jari tangan, sama saja artinya dengan merampas ilmu, karena ilmu golok itu tidak dapat dipergunakan lagi.
"Karena engkau orang asing, Joko, maka paman guruku tidak mau turun tangan sebelum mendengar keteranganku. Maka ia menanti di sini sampai aku pulang. Tadi ia hampir menjatuhkan hukuman itu kepadamu, akan tetapi aku mencegahnya, menceritakan keadaanmu lalu mewakilimu menerima hukuman"
"Paman ....... !!" Joko Wandiro memegang lengan orang itu penuh keharuan.
"Memang aku yang bersalah, bukan engkau. Sudah sepatutnya aku pula yang menerima hukuman."
"Paman. Engkau sudah insyaf daripada kesalahan, bahkan sudah melarikan diri jauh dari negaramu. Mengapa kakek yang menjadi paman gurumu itu terus mendesak dan tidak mau memberi ampun? Mengapa engkau tadi tidak melawannya saja? Kalau melawan, tentu tadi aku akan membantu, paman."
"Ah, kau tidak mengerti, Joko. Mana bisa aku melawannya? Kalau hanya ibu jariku yang dipotong, hal itu masih amat ringan, Joko. Bararti paman guruku masih menaruh hati sayang kepadaku. Dosaku bertumpuk. Aku harus berani menghadapi hukumannya. Joko Wandiro, anakku. Kau boleh menerima sepasang golok ini dan boleh menggunakan Ilmu Golok Lebah Putih untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk memberantas kejahatan. Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan mengajarkannya kepada orang lain. Berjanjilah, anakku, agar tidak bertambah-tambah berat dosaku kelak."
"Aku berjanji, paman."
"Bagus! Sekarang, kau berangkatlah menyusul dan mencari eyang gurumu. Aku tidak mungkin dapat menyertaimu, anakku."
"Mengapa, paman?"
"Karena aku harus segera menyusul rombongan paman guruku ke pantai laut utara. Aku harus kembali ke negaraku...."
"Ahhh ....... !" Joko Wandiro benar-benar kaget mendengar perubahan keadaan yang tak tersangka-sangka ini.
"Memang sebaiknya begitu, Joko. Sudah terlalu lama aku meninggalkan negeriku, meninggalkan keluargaku. Dan untunglah aku bertemu denganmu pada saat-saat terakhir, anakku. Kalau tidak....... hemmm, tak dapat kubayangkan apa jadinya. Kalau paman guruku mendapatkan aku bersama orang-orang....... macam Cekel Aksomolo belum tentu hukumanku seringan ini." Ia memandang ke arah kedua tangannya.
"Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara, anakku. Kau pergilah sendiri menyusul eyang gurumu ke Jalatunda."
"Di manakah Jalatunda, paman?"
"Kau pergilah ke Gunung Bekel. Di lereng gunung itu terdapat guha-guha pertapaan yang bernama Guha Tirta dan di sanalah terdapat pertapaan Jalatunda. Andaikata eyang gurumu tidak berada di sana, tidak mengapa. Kau langsung saja menghadap Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, mohon petunjuk. Beliau seorang pertapa yang sakti mandraguna, nak, karena beliau itu bukan lain adalah Sang Prabu Airlangga sendiri. Dalam keadaan perang saudara seperti sekarang, lebih baik kau tidak terburu nafsu dan lancang melibatkan diri sebelum mendapat petunjuk Sang Prabu Airlangga sendiri, karena hanya beliaulah yang akan dapat mengatasi semua keributan itu. Nah, berangkatlah, anakku, semoga Tuhan Yang Maha Tinggi selalu memayungimu."
Ki Tejoranu merangkul pundak anak itu dan mencium ubun-ubunnya dengan kedua mata basah. Ternyata Ki Tejoranu jatuh sayang kepada anak ini, anak yang menjadi penolongnya dan sekaligus menjadi muridnya, akan tetapi yang lebih daripada itu semua, menjadi titik tolak keinsyafannya!. Setelah Joko Wandiro menyimpan sepasang golok, memberi hormat lalu pergi sampai tidak tampak lagi, barulah Ki Tejoranu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pantai laut utara, di mana teman-temannya senegara, termasuk paman gurunya yang keras hati, menanti saat perahu jong kembali ke negeri mereka.

Gunung Bekel (sekarang Gunung Penanggungan) adalah sebuah gunung yang tidak begitu tinggi, namun merupakan sebuah gunung yang subur tanahnya, indah pemandangannya, dan bersih udaranya. Gunung Bekel inilah yang dianggap sebagai bayangan atau duplikat Gunung Mahameru dan karenanya dianggap suci! Apalagi karena Gunung Bekel ini dijadikan tempat bertapa Sang Prabu Airlangga, maka keadaannya menjadi lebih agung lagi. Banyak terdapat guha-guha yang dianggap sebagai tempat pertapaan yang suci dan disebut Guha Tirta. Di antara guha-guha ini terdapat sebuah guha yang besar, mempunyai "pekarangan" yang bersih dan amat teduh karena terlindung pohon-pohon besar di lereng sebelah atas guha. Inilah pertapaan Jalatunda, di mana terdapat sumber air yang jernih. Pagi hari itu, pertapaan Jalatunda tampak lebih indah daripada biasanya. Sinar rnatahari pagi menerobos masuk dari celah-celah daun pohon di atas guha, menerangi sebagian tanah pekarangan yang bersih karena disapu setiap hari dua kali. Mutiara embun yang menghias ujung-ujung daun berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Suara burung ramai berkicau di pohon-pohon, seakan-akan mahluk-mahluk kecil ini bergembira ria menyambut datangnya matahari. Kegembiraan yang tulus dan murni, didasari kewajaran merupakan doa dan puja-puji yang paling suci dipanjatkan ke bawah kaki Tuhan Seru Sekalian Alam.

Di kanan kiri mulut guha besar tampak duduk bersila dua orang kakek. Mereka berdua, seperti juga guha pertapaan besar itu, menghadap ke timur. Jika tidak memperhatikan bagian dada mereka yang turun naik, tentu orang akan menyangka dua orang kakek itu arca-arca penjaga guha! Mereka duduk bersila tak bergerak sama sekali, kedua mata dipejamkan dan hening dalam samadhi. Yang duduk di sebelah kiri adalah seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua, digelung di atas kepala, jenggot dan kumisnya juga bercampur uban, tubuhnya tegap membayangkan tenaga. Kakek ini hukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo! Seperti telah diketahui, Bhagawan Rukmoseto terluka hebat ketika ia dikeroyok di Pulau Sempu. Akan tetapi berkat kesaktiannya, luka hebat oleh pukulan penggada Wesi Ireng yang dilakukan Jokowanengpati itu tidak merenggut nyawanya. Setelah beristirahat dan mengumpulkan kekuatannya Sang Bhagawan Rukmoseto pergi meninggalkan Pulau Sempu, kemudian menuju ke Jalatunda menghadap Sang Resi Gentayu atau Sang Resi Jatinendra. Di depan junjungannya ini, Raja Kahuripan yang telah menjadi pertapa, Bhagawan Rukmoseto dengan terus terang menceritakan semua pengalamannya semenjak ia merampas pusaka Mataram dari tangan Jokowanengpati. Cerita ini didengarkan juga oleh kakak seperguruannya, yaitu Sang Empu Bharodo yang dengan setia mengikuti rajanya bertapa. Kemudian Bhagawan Rukmoseto menceritakan pula tekadnya untuk tidak mengembalikan pusaka karena ia kecewa melihat Ki Patih Narotama hendak menangkapnya dengan tuduhan memberontak. Menceritakan pula betapa ia khawatir kalau-kalau pusaka itu bahkan akan menjadi sebab perpecahan yang lebih hebat lagi antara Pangeran Sepuh dan Pangeran Anom, seperti yang ia ketahui ketika ia menyelidik ke kota raja. Juga di depan kakak seperguruannya ia membuka rahasia kejahatan Jokowanengpati yang kini menjadi orang kepercayaan Pangeran Anom. Sang Resi Jatinendra menghela napas panjang mendengar semua penuturan itu, kemudian bersabda,
"Kakang Resi Bhargowo, sudah bertahun-tahun menjadi pertapa, mengapa masih belum pandai menguasai nafsu pribadi? Engkau masih diombang-ambingkan cinta dan benci, menimbulkan puji dan cela, mengakibatkan kawan dan lawan. Kasihan engkau, kakang Bhargowo. Kenapa tidak tinggal saja di sini bersama aku dan kakangmu Empu Bharodo mencari ketenangan dan keseimbangan? Yang sudah lalu biarkanlah. Aku hanya ingin mendengar apa selanjutnya yang terjadi dengan pusaka Mataram yang terjatuh ke dalam tanganmu, kakang Resi Bhargowo."
"Karena melihat perang saudara mengancam di kota raja, hamba mengambil keputusan untuk menyembunyikan pusaka itu. Hamba mempunyai dua orang cucu, gusti."
"Eh, kakang Resi Bhargowo. Jangan engkau bergusti lagi kepadaku. Sekarang ini aku bukanlah raja gustimu, melainkan seorang rekan pertapa yang sama dengan engkau belajar menemukan kembali kesempurnaan sejati, kakang resi."
"Ampun eh, baiklah, adi resi."
"Nah, begitu lebih tepat. Selanjutnya, bagaimana, kakang?"
"Pusaka itu hamba berikan kepada kedua orang cucu hamba, dan hamba jadikan dua, yaitu keris pusaka dan patung kencana yang menjadi warangkanya. Oleh kedua cucu hamba itu lalu disembunyikan."
"Jagad Dewa Batara segala puji kepada Sang Hyang Wishnu, pemelihara segenap alam dan isinya.......!" Sang Resi Jatinendra mengeluh dan menyampaikan puja-puji kepada Sang Hyang Wishnu yang menjadi pusat pujaannya.
"Segala kehendakMu terjadilah!"

Hening sejenak setelah pertapa bekas raja itu mencetuskan isi hati dan perasaannya. Resi Bhargowo sendiri terkejut sekali. Apakah salahnya kalau pusaka itu disembunyikan agar tidak terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak?
"Untung sekali Dewata masih memayungi, adi resi. Hanya beberapa saat setelah hamba menyuruh kedua cucu hamba pergi menyembunyikan pusaka Mataram, muncul orang-orang yang katanya adalah utusan Gusti Pangeran Anom untuk merampas pusaka. Hamba dikeroyok dan roboh di tangan mereka, bahkan nyaris tewas kalau saja Dewata tidak melindungi hamba."
"Yang penting adalah pusaka itu sendiri, kakang Resi Bhargowo. Jika keris dan warangka terpisah, hal itu menjadi tanda akan terpisahnya kawula dan gusti, menjadi tanda bahwa persatuan akan terpecah-belah dan hal ini hanya berarti perang di antara saudara. Kakang Resi Bhargowo, di manakah sekarang kedua cucumu yang memegang keris dan patung kencana?"
"Inilah yang menyusahkan hati hamba. Mereka itu lenyap. Lenyap tak meninggalkan jejak, seakan-akan ditelan bumi!"
"Hemmm, sudahlah. Segala hal sudah ditentukan oleh Hyang Wisesa. Kita tunggu saja perkembangannya."
Demikianlah, semenjak saat itu, Resi Bhargowo ikut bertapa di Jalatunda. Bersama kakak seperguruannya ia bertapa menemani dan melayani raja gustinya yang kini menjadi Sang Resi Jatinendra. Adapun kakek yang duduk bersila di sebelah kanan mulut Guha Tirta itu tubuhnya tidak setegap dan sekuat Resi Bhargowo, akan tetapi wajahnya membayangkan ketenangan yang mendalam. Dia inilah Empu Bharodo, pendeta linuwih yang sakti mandraguna dan setia kepada rajanya. Di waktu mudanya, Empu Bharodo ini terkenal sekali karena kesaktiannya, terkenal sebagai ahli Ilmu Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti kilat menyambar cepatnya, pandai lari seperti angin, melompat seperti terbang. Juga ilmu tombaknya yang disebut Jonggring Saloko menggemparkan seluruh Nusantara. Akan tetapi setelah tua, Empu Bharodo lebih tekun melakukan tapa brata, meninggalkan keramaian duniawi, lebih memperdalam ilmu kebatinan. Dan inilah sebabnya maka muridnya yang tadinya merupakan murid terkasih, Jokowanengpati, sampai dapat menyeleweng berlarut-larut karena gurunya seperti tidak memperdulikan urusan dunia lagi, juga tidak memperdulikan sepak terjang muridnya. Ketika adik seperguruannya, Resi Bhargowo bercerita tentang kejahatan muridnya, kakek ini hanya tersenyum lemah.
Kini kakak beradik seperguruan yang telah menjadi pertapa-pertapa sakti itu duduk di kanan kiri mulut Guha Tirta, tekun bersamadhi menghadap ke timur sehingga wajah mereka tersinar matahari pagi yang kemerahan. Tak lama kemudian, seorang kakek lain melangkah keluar guha. Kakek ini langkahnya perlahan, tubuhnya tegak, sikapnya agung dan penuh wibawa. Biarpun sudah tua, namun dadanya bidang dan penuh membayangkan kekuatan lahir batin yang hebat. Jenggotnya yang panjang sudah penuh uban, sebagian menutupi dada bagian atas yang tidak seluruhnya tertutup jubah pertapaannya. Pakaiannya yang mengkilap dan indah, terbuat daripada kain yang amat halus itu menandakan bahwa dia seorang pertapa yang bukan sembarangan. Dan memang inilah dia Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, Sang Prabu Airlangga Raja Kahuripan yang telah mengundurkan diri dan bertapa.

Setelah tiba di mulut guha, Sang Resi Jatinendra menoleh ke kanan kiri, wajahnya kini tersinar matahari pagi, gilang-gemilang seperti dilapis kencana. Sinar matanya penuh damai, mulutnya terhias senyum maklum, kemudian ia melangkah terus ke depan, lalu duduk di atas batu halus berbentuk bulat yang berada tepat di depan guha di tengah pekarangan. Memang batu itu adalah batu tempat sang pertapa duduk setiap pagi, bersamadhi menghadap ke timur di waktu matahari muncul. Begitu duduk bersila, seluruh tubuh dan wajahnya tepat tertimpa sinar keemasan Sang Bhatara Surya, ia sudah tekun bersamadhi, tangan kiri di atas pangkuan, tangan kanan di atas lutut kanan. Sudah menjadi kebiasaan sang pertapa dan dua orang pengikutnya, setiap pagi duduk bersamadhi di depan Guha Tirta menghadap ke arah matahari.

<<< Bagian 072                                                                                    Bagian 074 >>>

No comments:

Post a Comment