"Merampas ilmu golok? Bagaimana ia dapat merampas ilmu yang telah dipelajari orang?"
Ki Tejoranu
tersenyum pahit dan mengangkat kedua tangannya yang sudah dibalut.
"Dia
telah merampas ilmu itu dariku."
Joko Wandiro tertegun,
sejenak tidak mengerti. Kemudian ia teringat dan bergidik ngeri. Benar juga!
Kalau dua buah ibu jari tangan dipotong, tidak mungkin lagi orang dapat bermain
golok! Membuntungi kedua ibu jari tangan, sama saja artinya dengan merampas
ilmu, karena ilmu golok itu tidak dapat dipergunakan lagi.
"Karena
engkau orang asing, Joko, maka paman guruku tidak mau turun tangan sebelum
mendengar keteranganku. Maka ia menanti di sini sampai aku pulang. Tadi ia
hampir menjatuhkan hukuman itu kepadamu, akan tetapi aku mencegahnya,
menceritakan keadaanmu lalu mewakilimu menerima hukuman"
"Paman
....... !!" Joko Wandiro memegang lengan orang itu penuh keharuan.
"Memang
aku yang bersalah, bukan engkau. Sudah sepatutnya aku pula yang menerima
hukuman."
"Paman.
Engkau sudah insyaf daripada kesalahan, bahkan sudah melarikan diri jauh dari
negaramu. Mengapa kakek yang menjadi paman gurumu itu terus mendesak dan tidak
mau memberi ampun? Mengapa engkau tadi tidak melawannya saja? Kalau melawan,
tentu tadi aku akan membantu, paman."
"Ah, kau
tidak mengerti, Joko. Mana bisa aku melawannya? Kalau hanya ibu jariku yang
dipotong, hal itu masih amat ringan, Joko. Bararti paman guruku masih menaruh
hati sayang kepadaku. Dosaku bertumpuk. Aku harus berani menghadapi hukumannya.
Joko Wandiro, anakku. Kau boleh menerima sepasang golok ini dan boleh
menggunakan Ilmu Golok Lebah Putih untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk
memberantas kejahatan. Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan mengajarkannya
kepada orang lain. Berjanjilah, anakku, agar tidak bertambah-tambah berat
dosaku kelak."
"Aku
berjanji, paman."
"Bagus!
Sekarang, kau berangkatlah menyusul dan mencari eyang gurumu. Aku tidak mungkin
dapat menyertaimu, anakku."
"Mengapa,
paman?"
"Karena
aku harus segera menyusul rombongan paman guruku ke pantai laut utara. Aku
harus kembali ke negaraku...."
"Ahhh
....... !" Joko Wandiro benar-benar kaget mendengar perubahan keadaan yang
tak tersangka-sangka ini.
"Memang
sebaiknya begitu, Joko. Sudah terlalu lama aku meninggalkan negeriku, meninggalkan
keluargaku. Dan untunglah aku bertemu denganmu pada saat-saat terakhir, anakku.
Kalau tidak....... hemmm, tak dapat kubayangkan apa jadinya. Kalau paman guruku
mendapatkan aku bersama orang-orang....... macam Cekel Aksomolo belum tentu
hukumanku seringan ini." Ia memandang ke arah kedua tangannya.
"Sudahlah,
tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara, anakku. Kau pergilah sendiri menyusul
eyang gurumu ke Jalatunda."
"Di
manakah Jalatunda, paman?"
"Kau
pergilah ke Gunung Bekel. Di lereng gunung itu terdapat guha-guha pertapaan
yang bernama Guha Tirta dan di sanalah terdapat pertapaan Jalatunda. Andaikata
eyang gurumu tidak berada di sana, tidak mengapa. Kau langsung saja menghadap
Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi Gentayu, mohon petunjuk. Beliau seorang
pertapa yang sakti mandraguna, nak, karena beliau itu bukan lain adalah Sang
Prabu Airlangga sendiri. Dalam keadaan perang saudara seperti sekarang, lebih
baik kau tidak terburu nafsu dan lancang melibatkan diri sebelum mendapat
petunjuk Sang Prabu Airlangga sendiri, karena hanya beliaulah yang akan dapat
mengatasi semua keributan itu. Nah, berangkatlah, anakku, semoga Tuhan Yang
Maha Tinggi selalu memayungimu."
Ki Tejoranu
merangkul pundak anak itu dan mencium ubun-ubunnya dengan kedua mata basah. Ternyata
Ki Tejoranu jatuh sayang kepada anak ini, anak yang menjadi penolongnya dan
sekaligus menjadi muridnya, akan tetapi yang lebih daripada itu semua, menjadi
titik tolak keinsyafannya!. Setelah Joko Wandiro menyimpan sepasang golok,
memberi hormat lalu pergi sampai tidak tampak lagi, barulah Ki Tejoranu
meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pantai laut
utara, di mana teman-temannya senegara, termasuk paman gurunya yang keras hati,
menanti saat perahu jong kembali ke negeri mereka.
Gunung Bekel
(sekarang Gunung Penanggungan) adalah sebuah gunung yang tidak begitu tinggi,
namun merupakan sebuah gunung yang subur tanahnya, indah pemandangannya, dan
bersih udaranya. Gunung Bekel inilah yang dianggap sebagai bayangan atau duplikat
Gunung Mahameru dan karenanya dianggap suci! Apalagi karena Gunung Bekel ini
dijadikan tempat bertapa Sang Prabu Airlangga, maka keadaannya menjadi lebih
agung lagi. Banyak terdapat guha-guha yang dianggap sebagai tempat pertapaan
yang suci dan disebut Guha Tirta. Di antara guha-guha ini terdapat sebuah guha
yang besar, mempunyai "pekarangan" yang bersih dan amat teduh karena
terlindung pohon-pohon besar di lereng sebelah atas guha. Inilah pertapaan
Jalatunda, di mana terdapat sumber air yang jernih. Pagi hari itu, pertapaan
Jalatunda tampak lebih indah daripada biasanya. Sinar rnatahari pagi menerobos
masuk dari celah-celah daun pohon di atas guha, menerangi sebagian tanah
pekarangan yang bersih karena disapu setiap hari dua kali. Mutiara embun yang
menghias ujung-ujung daun berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Suara burung
ramai berkicau di pohon-pohon, seakan-akan mahluk-mahluk kecil ini bergembira
ria menyambut datangnya matahari. Kegembiraan yang tulus dan murni, didasari
kewajaran merupakan doa dan puja-puji yang paling suci dipanjatkan ke bawah
kaki Tuhan Seru Sekalian Alam.
Di kanan kiri
mulut guha besar tampak duduk bersila dua orang kakek. Mereka berdua, seperti
juga guha pertapaan besar itu, menghadap ke timur. Jika tidak memperhatikan
bagian dada mereka yang turun naik, tentu orang akan menyangka dua orang kakek
itu arca-arca penjaga guha! Mereka duduk bersila tak bergerak sama sekali,
kedua mata dipejamkan dan hening dalam samadhi. Yang duduk di sebelah kiri
adalah seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua, digelung di atas kepala,
jenggot dan kumisnya juga bercampur uban, tubuhnya tegap membayangkan tenaga.
Kakek ini hukan lain adalah Bhagawan Rukmoseto atau Sang Resi Bhargowo! Seperti
telah diketahui, Bhagawan Rukmoseto terluka hebat ketika ia dikeroyok di Pulau
Sempu. Akan tetapi berkat kesaktiannya, luka hebat oleh pukulan penggada Wesi
Ireng yang dilakukan Jokowanengpati itu tidak merenggut nyawanya. Setelah
beristirahat dan mengumpulkan kekuatannya Sang Bhagawan Rukmoseto pergi meninggalkan
Pulau Sempu, kemudian menuju ke Jalatunda menghadap Sang Resi Gentayu atau Sang
Resi Jatinendra. Di depan junjungannya ini, Raja Kahuripan yang telah menjadi
pertapa, Bhagawan Rukmoseto dengan terus terang menceritakan semua
pengalamannya semenjak ia merampas pusaka Mataram dari tangan Jokowanengpati.
Cerita ini didengarkan juga oleh kakak seperguruannya, yaitu Sang Empu Bharodo
yang dengan setia mengikuti rajanya bertapa. Kemudian Bhagawan Rukmoseto
menceritakan pula tekadnya untuk tidak mengembalikan pusaka karena ia kecewa
melihat Ki Patih Narotama hendak menangkapnya dengan tuduhan memberontak.
Menceritakan pula betapa ia khawatir kalau-kalau pusaka itu bahkan akan menjadi
sebab perpecahan yang lebih hebat lagi antara Pangeran Sepuh dan Pangeran Anom,
seperti yang ia ketahui ketika ia menyelidik ke kota raja. Juga di depan kakak
seperguruannya ia membuka rahasia kejahatan Jokowanengpati yang kini menjadi
orang kepercayaan Pangeran Anom. Sang Resi Jatinendra menghela napas panjang
mendengar semua penuturan itu, kemudian bersabda,
"Kakang
Resi Bhargowo, sudah bertahun-tahun menjadi pertapa, mengapa masih belum pandai
menguasai nafsu pribadi? Engkau masih diombang-ambingkan cinta dan benci,
menimbulkan puji dan cela, mengakibatkan kawan dan lawan. Kasihan engkau,
kakang Bhargowo. Kenapa tidak tinggal saja di sini bersama aku dan kakangmu
Empu Bharodo mencari ketenangan dan keseimbangan? Yang sudah lalu biarkanlah.
Aku hanya ingin mendengar apa selanjutnya yang terjadi dengan pusaka Mataram
yang terjatuh ke dalam tanganmu, kakang Resi Bhargowo."
"Karena
melihat perang saudara mengancam di kota raja, hamba mengambil keputusan untuk
menyembunyikan pusaka itu. Hamba mempunyai dua orang cucu, gusti."
"Eh,
kakang Resi Bhargowo. Jangan engkau bergusti lagi kepadaku. Sekarang ini aku
bukanlah raja gustimu, melainkan seorang rekan pertapa yang sama dengan engkau
belajar menemukan kembali kesempurnaan sejati, kakang resi."
"Ampun
eh, baiklah, adi resi."
"Nah,
begitu lebih tepat. Selanjutnya, bagaimana, kakang?"
"Pusaka
itu hamba berikan kepada kedua orang cucu hamba, dan hamba jadikan dua, yaitu
keris pusaka dan patung kencana yang menjadi warangkanya. Oleh kedua cucu hamba
itu lalu disembunyikan."
"Jagad
Dewa Batara segala puji kepada Sang Hyang Wishnu, pemelihara segenap alam dan
isinya.......!" Sang Resi Jatinendra mengeluh dan menyampaikan puja-puji
kepada Sang Hyang Wishnu yang menjadi pusat pujaannya.
"Segala
kehendakMu terjadilah!"
Hening sejenak
setelah pertapa bekas raja itu mencetuskan isi hati dan perasaannya. Resi
Bhargowo sendiri terkejut sekali. Apakah salahnya kalau pusaka itu
disembunyikan agar tidak terjatuh ke tangan orang yang tidak berhak?
"Untung
sekali Dewata masih memayungi, adi resi. Hanya beberapa saat setelah hamba
menyuruh kedua cucu hamba pergi menyembunyikan pusaka Mataram, muncul
orang-orang yang katanya adalah utusan Gusti Pangeran Anom untuk merampas
pusaka. Hamba dikeroyok dan roboh di tangan mereka, bahkan nyaris tewas kalau
saja Dewata tidak melindungi hamba."
"Yang
penting adalah pusaka itu sendiri, kakang Resi Bhargowo. Jika keris dan
warangka terpisah, hal itu menjadi tanda akan terpisahnya kawula dan gusti,
menjadi tanda bahwa persatuan akan terpecah-belah dan hal ini hanya berarti
perang di antara saudara. Kakang Resi Bhargowo, di manakah sekarang kedua
cucumu yang memegang keris dan patung kencana?"
"Inilah
yang menyusahkan hati hamba. Mereka itu lenyap. Lenyap tak meninggalkan jejak,
seakan-akan ditelan bumi!"
"Hemmm,
sudahlah. Segala hal sudah ditentukan oleh Hyang Wisesa. Kita tunggu saja
perkembangannya."
Demikianlah,
semenjak saat itu, Resi Bhargowo ikut bertapa di Jalatunda. Bersama kakak
seperguruannya ia bertapa menemani dan melayani raja gustinya yang kini menjadi
Sang Resi Jatinendra. Adapun kakek yang duduk bersila di sebelah kanan mulut
Guha Tirta itu tubuhnya tidak setegap dan sekuat Resi Bhargowo, akan tetapi
wajahnya membayangkan ketenangan yang mendalam. Dia inilah Empu Bharodo,
pendeta linuwih yang sakti mandraguna dan setia kepada rajanya. Di waktu
mudanya, Empu Bharodo ini terkenal sekali karena kesaktiannya, terkenal sebagai
ahli Ilmu Bayu Sakti sehingga gerakannya seperti kilat menyambar cepatnya,
pandai lari seperti angin, melompat seperti terbang. Juga ilmu tombaknya yang
disebut Jonggring Saloko menggemparkan seluruh Nusantara. Akan tetapi setelah
tua, Empu Bharodo lebih tekun melakukan tapa brata, meninggalkan keramaian
duniawi, lebih memperdalam ilmu kebatinan. Dan inilah sebabnya maka muridnya
yang tadinya merupakan murid terkasih, Jokowanengpati, sampai dapat menyeleweng
berlarut-larut karena gurunya seperti tidak memperdulikan urusan dunia lagi,
juga tidak memperdulikan sepak terjang muridnya. Ketika adik seperguruannya,
Resi Bhargowo bercerita tentang kejahatan muridnya, kakek ini hanya tersenyum
lemah.
Kini kakak
beradik seperguruan yang telah menjadi pertapa-pertapa sakti itu duduk di kanan
kiri mulut Guha Tirta, tekun bersamadhi menghadap ke timur sehingga wajah
mereka tersinar matahari pagi yang kemerahan. Tak lama kemudian, seorang kakek
lain melangkah keluar guha. Kakek ini langkahnya perlahan, tubuhnya tegak,
sikapnya agung dan penuh wibawa. Biarpun sudah tua, namun dadanya bidang dan
penuh membayangkan kekuatan lahir batin yang hebat. Jenggotnya yang panjang
sudah penuh uban, sebagian menutupi dada bagian atas yang tidak seluruhnya
tertutup jubah pertapaannya. Pakaiannya yang mengkilap dan indah, terbuat
daripada kain yang amat halus itu menandakan bahwa dia seorang pertapa yang
bukan sembarangan. Dan memang inilah dia Sang Resi Jatinendra atau Sang Resi
Gentayu, Sang Prabu Airlangga Raja Kahuripan yang telah mengundurkan diri dan
bertapa.
Setelah tiba
di mulut guha, Sang Resi Jatinendra menoleh ke kanan kiri, wajahnya kini
tersinar matahari pagi, gilang-gemilang seperti dilapis kencana. Sinar matanya
penuh damai, mulutnya terhias senyum maklum, kemudian ia melangkah terus ke
depan, lalu duduk di atas batu halus berbentuk bulat yang berada tepat di depan
guha di tengah pekarangan. Memang batu itu adalah batu tempat sang pertapa
duduk setiap pagi, bersamadhi menghadap ke timur di waktu matahari muncul.
Begitu duduk bersila, seluruh tubuh dan wajahnya tepat tertimpa sinar keemasan
Sang Bhatara Surya, ia sudah tekun bersamadhi, tangan kiri di atas pangkuan,
tangan kanan di atas lutut kanan. Sudah menjadi kebiasaan sang pertapa dan dua
orang pengikutnya, setiap pagi duduk bersamadhi di depan Guha Tirta menghadap
ke arah matahari.
No comments:
Post a Comment