Badai Laut Selatan ; Bagian 074


Bukan sekali-kali Sang Resi Jatinendra menjadi pemuja Sang Bhatara Surya. Tidak. Sungguhpun mereka bertiga menghormati Sang Bhatara Surya yang bertugas menyinarkan kehidupan di permukaan bumi, namun sebenarnya Sang Resi Jatinendra adalah seorang pemuja Sri Bhatara Wishnu atau Sang Hyang Wishnu. Bersamadhi di waktu pagi hari di depan guha ini hanyalah kebiasaan belaka, dan memang hal ini merupakan kebiasaan yang amat baik. Selain menerima inti sari sinar Sang Surya, juga cahaya di waktu pagi amat bermanfaat bagi kesehatan jasmani.
Bagaikan tiga buah arca kencana, tiga orang pertapa itu tekun bersamadhi dan sebentar saja mereka dalam keadaan hening, menikmati kebahagiaan dari kekosongan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang biasa bersamadhi. Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa seorang pemuda tanggung datang berindap-indap, membungkuk-bungkuk penuh hormat sambil memandang kepada tiga orang kakek yang duduk bersila di depan guha itu. Pemuda tanggung itu adalah Joko Wandiro yang mentaati pesan Ki Tejoranu, datang mencari eyang gurunya di pertapaan Jalatunda. Ketika melihat kakek yang duduk terdepan, datang rasa takut dan hormat di hati Joko Wandiro. Kemudian betapa girang rasa hatinya ketika ia mengenal eyang gurunya yang duduk bersila di sebelah kiri mulut guha, di belakang kakek di depan itu. Serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan memanggil-manggil perlahan,
"Eyang........ saya datang menghadap, eyang.......!"
Tidak ada jawaban. Tiga orang kakek itu tetap duduk bersila tak bergerak. Sampai tiga kali Joko Wandiro mengulang ucapannya. Tiba-tiba Joko Wandiro merasa betapa tubuhnya terangkat dan melayang ke depan. Ia terkejut dan terheran. Tahu-tahu ia sudah pindah tempat, di belakang Resi Jatinendra! Entah bagaimana, tubuhnya tadi terangkat dan terlempar ke tempat itu, di tengah-tengah antara eyang gurunya dan kakek tua yang duduk diam meramkan mata. Selagi ia kebingungan, mendadak terdengar suara eyang gurunya di sebelah kiri.
"Diamlah, Joko. Diam jangan bergerak. Lihat saja apa yang akan terjadi!"
Suara eyangnya itu perlahan, akan tetapi mengandung wibawa dan juga Joko Wandiro dapat menangkap getaran tegang dalam suara itu, seakan-akan mereka bertiga yang tampak enak-enak duduk bersamadhi itu sedang menghadapi hal yang amat gawat dan menegangkan. Sebagai seorang anak yang berperasaan halus, Joko Wandiro segera dapat mengerti atau setidaknya menduga akan keadaan itu, maka iapun lalu duduk diam di antara Resi Bhargowo dan Empu Bharodo, di belakang Resi Jatinendra, menanti apa yang akan terjadi dan memasang mata penuh perhatian ke depan, kanan, dan kiri.

Akan tetapi keadaan di sekeliling tempat itu sunyi saja. Sunyi dan mengamankan hati. Joko Wandiro tidak melihat bahaya apapun yang mengancam ketentraman tempat suci ini. Sinar matahari sudah mulai bening. Halimun tebal sudah mulai lari ketakutan. Burung-burung makin gencar berkicau gembira menyambut sang raja siang yang mulai memperlihatkan kekuasaannya. Pagi yang cerah dan indah mengawali hari itu. Keadaan demikian indah dan tenang tenteram, mengapa eyang gurunya kelihatan seperti seorang yang menanti datangnya sesuatu penuh kekhawatiran? Joko Wandiro mengerling ke kanan, menyapu wajah kakek di sebelah kanannya. Namun kakek itu masih tenang bersamadhi, kedua matanya dipejamkan, kedua tangan menyilang di atas pangkuannya, muka menunduk. Juga kakek di sebelah depan itu, yang hanya dapat ia lihat punggungnya, tidak bergerak-gerak. Tiba-tiba perhatian Joko Wandiro tertarik oleh sesuatu dan jantungnya berdebar keras, belakang kepalanya terasa dingin dan bulu tengkuknya meremang. Rasa serem dan ngeri memenuhi hatinya.
Apakah yang membuat Joko Wandiro merasa serem? Telinganya menangkap sesuatu yang amat aneh, perubahan yang luar biasa. Secara mendadak, semua suara yang serba merdu dan indah tadi, suara kicau burung yang berloncatan dari cabang ke cabang, pasangan-pasangan burung yang sedang bercumbu, pasangan burung yang tengah terbang melayang sambil memekik-mekik girang, semua itu secara mendadak telah berhenti sama sekali! Tidak terdengar apa-apa lagi. Bahkan kelepak sayap burung tidak kedengaran lagi. Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi, sesunyi kuburan!
Joko Wandiro dengan bingung menoleh ke sana kemari untuk mencari tahu apa yang menyebabkan semua burung berhenti berkicau dan apa atau siapa gerangan yang menimbulkan suasana lengang dan serem itu. Namun tidak tampak sesuatu. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi parau yang menusuk telinga, bunyi tidak sedap. Burung gagak!.
" Gaaok ....... kraaaaakk ....... kraaaakk ....... gaaaaokkk.......!!"
Joko Wandiro tentu saja sudah sering kali mendengar bunyi burung pemakan bangkai ini. Bahkan seringkali melihat burungnya, burung besar yang hitam mulus, jelek warna dan bentuknya. Akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia merasa begini serem dan ngeri mendengar suara burung gagak seperti yang didengarnya saat itu. Mungkinkah munculnya burung gagak membuat semua burung ketakutan, terbang pergi atau bersembunyi, tidak berani bersuara lagi? Tidak mungkin!.
Burung gagak bukanlah burung elang rajawali yang suka menerkam burung lain. Burung gagak adalah burung yang bersifat pengecut, hanya menyerang lawan yang sudah menjadi bangkai. Akan tetapi mengapa keadaan menjadi begitu lengang bersamaan dengan munculnya suara burung gagak itu? Ataukah hanya kebetulan?.
Ketika ia melirik ke kanan kiri, tampak perubahan pada eyang gurunya dan kakek di sebelah kanannya. Mereka masih duduk bersila dan meramkan mata, akan tetapi tubuh mereka lebih tegak daripada tadi dan kulit tubuh yang tak tertutup baju, jelas nampak getaran-getaran penuh ketegangan sehingga kening merekapun berkerut! Hanya kakek di depan agaknya tidak bergerak dan masih seperti tadi.

Tiba-tiba terdengar bunyi bercicit dari dalam guha dan tak lama kemudian muncullah burung-burung hitam kecil beterbangan dari dalam guha. Akan tetapi burung-burung sriti itu tidak keluar dari dalam guha, hanya beterbangan di sekitar mulut guha, seakan-akan silau melihat sinar matahari. Mendadak kakek di sebelah kanan Joko Wandiro, yaitu Empu Bharodo, mengangkat tangan kiri digerakkan ke arah dalam guha. Seketika burung-burung itu lenyap beterbangan masuk lagi ke dalam, seakan-akan gerak tangan Empu Bharodo tadi merupakan perintah kepada burung-burung itu agar jangan keluar dan kembali ke sarang mereka di bagian paling dalam di guha itu. Tak lama kemudian terdengar suara riuh dari sebelah depan. Cahaya matahari yang tadinya menerangi pekarangan depan guha mendadak menjadi suram seakan-akan tertutup awan mendung. Dari dalam kesuraman ini terdengar kelepak sayap dan suara mencicit-cicit yang nyaring tinggi menusuk telinga.
Joko Wandiro membelalakkan matanya, memandang ke atas. Kini bukan hanya bulu tengkuknya yang meremang, bahkan setiap lembar bulu di tubuhnya berdiri semua!. Tengkuknya terasa dingin, kepalanya seakan melar membesar. Matanya terbelalak memandang ke atas, mulutnya ternganga. Siapa orangnya takkan merasa heran, kaget, takut dan ngeri melihat ratusan, bahkan ribuan kelelawar hitam beterbangan menyerbu tempat itu? Melihat kelelawar di malam gelap tidaklah mengherankan, akan tetapi menyaksikan ribuan ekor kelelawar di pagi hari menyerbu ganas semacam itu benar-benar mendatangkan rasa ngeri, karena hal itu sudah pasti bukanlah hal yang sewajarnya! Ribuan ekor kelelawar itu dengan suara mencicit yang memekakkan telinga, dari atas menyambar ke bawah dan kini tempat itu penuh dengan binatang-binatang kecil yang menjijikkan ini. Bau apak menyengat hidung dan menyesakkan pernapasan.
Joko Wandiro cepat-cepat mengatur pernapasannya dan setelah mengerahkan hawa sakti di dalam dada, barulah ia dapat bernapas lega. Akan tetapi hatinya ngeri melihat betapa kelelawar-kelelawar itu kini beterbangan rendah. Anehnya, tak seekorpun di antara mereka terus menyambar turun, seakan-akan ada sesuatu yang melindungi empat orang itu, atau ada sesuatu yang mendatangkan rasa takut pada binatang-binatang itu. Setiap kali menyambar, serendah kira-kira semeter dari kepala empat orang itu, binatang-binatang ini terbang ke atas kembali sambil mengeluarkan pekik-pekik ketakutan. Maka makin penuh sesaklah bagian atas pekarangan itu dengan kelelawar yang beterbangan. Kini banyak di antara binatang-binatang itu yang hinggap di pohon-pohon, bergantungan dan menjerit-jerit. Penuh semua pohon di tempat itu dengan kelelawar. Bau apak makin tak tertahankan.
"Wirokolo benar-benar tak tahu diri, berani mengganggu Sang Agung Resi Jatinendra!" terdengar Empu Bharodo berkata perlahan. Kakek ini lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, melambai ke depan guha. Terdengar suara melengking nyaring dari dalam guha dan makin lama suara ini makin bergemuruh, mengatasi suara kelelawar-kelelawar yang menggila. Kiranya suara ini adalah suara ribuan ekor burung sriti yang menerobos keluar dari dalam guha sambil berbunyi marah. Bagaikan segulung asap hitam, rombongan burung sriti ini berserabutan keluar dari dalam guha dan terjadilah perang yang amat dahsyat dan mengherankan. Ribuan ekor burung sriti itu serta-merta menyerbu dan menyerang kelelawar-kelelawar tadi!.

Joko Wandiro melongong keheranan. Bukan main! Hebat perang tanding di udara itu. Patuk-mematuk, sambar-menyambar, cakar-mencangkar dan saling memukul dengan sayap. Pihak kelelawar juga melakukan perlawanan gigih. Namun mereka kalah gesit, juga kalah awas. Pandai sekali burung-burung sriti itu mengelak, kemudian dengan kecepatan kilat menyambar dan mematuk lawan dari samping. Payah kelelawar-kelelawar itu mempertahankan diri. Banyak sudah jatuh korban. Tidak mati dipatuk burung-burung sriti yang kecil itu, akan tetapi burung-burung itu mematuk ke arah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu kini benar-benar menjadi buta, bukan hanya silau oleh sinar matahari. Mulailah mereka beterbangan kacau-balau dalam ketakutan dan hendak melarikan diri. Terbang sejadinya dan tanpa arah tertentu sehingga banyak di antara mereka yang menabrak pohon dan jatuh ke dalam jurang. Burung-burung sriti yang gagah dan gesit itu terbang pula mengejar dan mengusir kelelawar-kelelawar dari depan guha. Peperangan yang dahsyat dan aneh, yang berlangsung tidak begitu lama, namun cukup mendebarkan hati Joko Wandiro. Sebentar saja burung-burung itu telah mengusir semua kelelawar sehingga tidak seekorpun tinggal. Mereka terus mengejar sampai tak terdengar lagi suara kelelawar yang kebingungan. Tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi senyap dan bersih kembali seperti tadi. Bahkan bau apak kelelawar sudah lenya pula tersapu angin gunung. Tiga orang kakek itu masih duduk seperti tadi.
"Gaaaaookk kraaaaak-kraaak gaaookkk!! ......."
Suara burung gagak yang memecah kesunyian itu benar-benar amat menyeramkan bagi Joko Wandiro. Apalagi karena sekarang suara burung gagak ini terdengar jelas sekali. Agaknya burung itu berada di atas kepala mereka. Namun tak tampak sesuatu oleh Joko Wandiro.
" ....... hiyeeehhh!! Keteprok-keteprok ...hiyeeeeehhhhh"
Joko Wandiro sampai tersentak kaget. Suara kuda menegar-negar, derap kakinya yang menginjak-injak tanah, ringkiknya yang nyaring, benar-benar seperti kuda itu berada di depannya. Namun tidak tampak sesatu!.
"Ha-ha-ha-ha-ha....... !! "

Suara ketawa inipun terdengar jelas, suara ketawa tanpa kelihatan orangnya. Joko Wandiro menoleh ke kanan kiri memandang eyang gurunya dan Empu Bharodo. Rasa takut membuat ia menggeser mendekati eyang gurunya. Namun ia teringat akan pesan eyang gurunya tadi, maka ia tidak berani membuka suara, hanya membuka mata lebar-lebar memandang ke depan dengan jantung berdebar dan leher serasa dicekik.
"Ha-ha-ha! Kahuripan akan menjadi karang abang (lautan api)! Sang Prabu Airlangga yang tadinya hidup mulia dan megah, kini menjadi pertapa jembel! Ha- ha-ha!"
Suara itu bergema seperti suara iblis dari dalam kuburan, mengaung dan terdengar dari jauh, namun amat jelas. Dan suara ini diiringi bau dupa yang aneh, harum sekali. Begitu wangi sehingga memabokkan, di dalam hidung sampai terasa sakit penuh dengan ganda wangi yang mendatangkan rasa manis.
Seketika Joko Wandiro merasa kepalanya pening, matanya berkunang. Alangkah kagetnya ketika ia berusaha menggerakkan kaki tangannya, ternyata seluruh tubuhnya kaku! Persis seperti keadaan orang yang tindihen (mimpi buruk), pikiran masih terang, panca indera masih sadar, namun seluruh tubuh kaku-kaku tak dapat bergerak! Dan ganda wangi itu makin menyengat, memenuhi hidung dan tenggorokan, mulai menyerang paru-paru. Joko Wandiro terengah-engah, dadanya terasa sakit!.
"Joko Wandiro, tenanglah ....... tidak apa-apa ....... !"
Terdengar Bisikan dari sebelah kiri, suara eyang gurunya. Joko Wandiro sejak kecil memang digembleng oleh ayahnya, kemudian oleh eyang gurunya, bahkan akhir-akhir ini oleh Ki Tejoranu. Namun semua gemblengan itu hanya merupakan latihan ilmu-ilmu kesaktian dan dalam hal ilmu kebatinan ia hanya mendapat latihan untuk memperkuat batin dan menghimpun hawa sakti dalam tubuh. Berhadapan dengan ilmu hitam yang tidak sewajarnya seperti ini, ia sama sekali belum pernah mengalaminya. Tidak mengherankan apabila ia sudah menjadi korban.

<<< Bagian 073                                                                                    Bagian 075 >>>

No comments:

Post a Comment