Bukan sekali-kali Sang Resi Jatinendra menjadi pemuja Sang Bhatara Surya. Tidak. Sungguhpun mereka bertiga menghormati Sang Bhatara Surya yang bertugas menyinarkan kehidupan di permukaan bumi, namun sebenarnya Sang Resi Jatinendra adalah seorang pemuja Sri Bhatara Wishnu atau Sang Hyang Wishnu. Bersamadhi di waktu pagi hari di depan guha ini hanyalah kebiasaan belaka, dan memang hal ini merupakan kebiasaan yang amat baik. Selain menerima inti sari sinar Sang Surya, juga cahaya di waktu pagi amat bermanfaat bagi kesehatan jasmani.
Bagaikan tiga
buah arca kencana, tiga orang pertapa itu tekun bersamadhi dan sebentar saja
mereka dalam keadaan hening, menikmati kebahagiaan dari kekosongan yang hanya
dapat dirasakan oleh mereka yang biasa bersamadhi. Mereka ini sama sekali tidak
tahu bahwa seorang pemuda tanggung datang berindap-indap, membungkuk-bungkuk
penuh hormat sambil memandang kepada tiga orang kakek yang duduk bersila di
depan guha itu. Pemuda tanggung itu adalah Joko Wandiro yang mentaati pesan Ki
Tejoranu, datang mencari eyang gurunya di pertapaan Jalatunda. Ketika melihat
kakek yang duduk terdepan, datang rasa takut dan hormat di hati Joko Wandiro.
Kemudian betapa girang rasa hatinya ketika ia mengenal eyang gurunya yang duduk
bersila di sebelah kiri mulut guha, di belakang kakek di depan itu. Serta-merta
ia menjatuhkan diri berlutut dan memanggil-manggil perlahan,
"Eyang........
saya datang menghadap, eyang.......!"
Tidak ada
jawaban. Tiga orang kakek itu tetap duduk bersila tak bergerak. Sampai tiga
kali Joko Wandiro mengulang ucapannya. Tiba-tiba Joko Wandiro merasa betapa
tubuhnya terangkat dan melayang ke depan. Ia terkejut dan terheran. Tahu-tahu
ia sudah pindah tempat, di belakang Resi Jatinendra! Entah bagaimana, tubuhnya
tadi terangkat dan terlempar ke tempat itu, di tengah-tengah antara eyang
gurunya dan kakek tua yang duduk diam meramkan mata. Selagi ia kebingungan,
mendadak terdengar suara eyang gurunya di sebelah kiri.
"Diamlah,
Joko. Diam jangan bergerak. Lihat saja apa yang akan terjadi!"
Suara eyangnya
itu perlahan, akan tetapi mengandung wibawa dan juga Joko Wandiro dapat
menangkap getaran tegang dalam suara itu, seakan-akan mereka bertiga yang
tampak enak-enak duduk bersamadhi itu sedang menghadapi hal yang amat gawat dan
menegangkan. Sebagai seorang anak yang berperasaan halus, Joko Wandiro segera
dapat mengerti atau setidaknya menduga akan keadaan itu, maka iapun lalu duduk
diam di antara Resi Bhargowo dan Empu Bharodo, di belakang Resi Jatinendra, menanti
apa yang akan terjadi dan memasang mata penuh perhatian ke depan, kanan, dan
kiri.
Akan tetapi
keadaan di sekeliling tempat itu sunyi saja. Sunyi dan mengamankan hati. Joko
Wandiro tidak melihat bahaya apapun yang mengancam ketentraman tempat suci ini.
Sinar matahari sudah mulai bening. Halimun tebal sudah mulai lari ketakutan.
Burung-burung makin gencar berkicau gembira menyambut sang raja siang yang
mulai memperlihatkan kekuasaannya. Pagi yang cerah dan indah mengawali hari
itu. Keadaan demikian indah dan tenang tenteram, mengapa eyang gurunya
kelihatan seperti seorang yang menanti datangnya sesuatu penuh kekhawatiran?
Joko Wandiro mengerling ke kanan, menyapu wajah kakek di sebelah kanannya.
Namun kakek itu masih tenang bersamadhi, kedua matanya dipejamkan, kedua tangan
menyilang di atas pangkuannya, muka menunduk. Juga kakek di sebelah depan itu,
yang hanya dapat ia lihat punggungnya, tidak bergerak-gerak. Tiba-tiba
perhatian Joko Wandiro tertarik oleh sesuatu dan jantungnya berdebar keras,
belakang kepalanya terasa dingin dan bulu tengkuknya meremang. Rasa serem dan
ngeri memenuhi hatinya.
Apakah yang
membuat Joko Wandiro merasa serem? Telinganya menangkap sesuatu yang amat aneh,
perubahan yang luar biasa. Secara mendadak, semua suara yang serba merdu dan
indah tadi, suara kicau burung yang berloncatan dari cabang ke cabang,
pasangan-pasangan burung yang sedang bercumbu, pasangan burung yang tengah
terbang melayang sambil memekik-mekik girang, semua itu secara mendadak telah
berhenti sama sekali! Tidak terdengar apa-apa lagi. Bahkan kelepak sayap burung
tidak kedengaran lagi. Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi, sesunyi kuburan!
Joko Wandiro
dengan bingung menoleh ke sana kemari untuk mencari tahu apa yang menyebabkan
semua burung berhenti berkicau dan apa atau siapa gerangan yang menimbulkan
suasana lengang dan serem itu. Namun tidak tampak sesuatu. Beberapa detik
kemudian, terdengar bunyi parau yang menusuk telinga, bunyi tidak sedap. Burung
gagak!.
" Gaaok
....... kraaaaakk ....... kraaaakk ....... gaaaaokkk.......!!"
Joko Wandiro
tentu saja sudah sering kali mendengar bunyi burung pemakan bangkai ini. Bahkan
seringkali melihat burungnya, burung besar yang hitam mulus, jelek warna dan
bentuknya. Akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia merasa begini serem dan
ngeri mendengar suara burung gagak seperti yang didengarnya saat itu.
Mungkinkah munculnya burung gagak membuat semua burung ketakutan, terbang pergi
atau bersembunyi, tidak berani bersuara lagi? Tidak mungkin!.
Burung gagak
bukanlah burung elang rajawali yang suka menerkam burung lain. Burung gagak
adalah burung yang bersifat pengecut, hanya menyerang lawan yang sudah menjadi
bangkai. Akan tetapi mengapa keadaan menjadi begitu lengang bersamaan dengan
munculnya suara burung gagak itu? Ataukah hanya kebetulan?.
Ketika ia
melirik ke kanan kiri, tampak perubahan pada eyang gurunya dan kakek di sebelah
kanannya. Mereka masih duduk bersila dan meramkan mata, akan tetapi tubuh
mereka lebih tegak daripada tadi dan kulit tubuh yang tak tertutup baju, jelas
nampak getaran-getaran penuh ketegangan sehingga kening merekapun berkerut!
Hanya kakek di depan agaknya tidak bergerak dan masih seperti tadi.
Tiba-tiba
terdengar bunyi bercicit dari dalam guha dan tak lama kemudian muncullah
burung-burung hitam kecil beterbangan dari dalam guha. Akan tetapi
burung-burung sriti itu tidak keluar dari dalam guha, hanya beterbangan di
sekitar mulut guha, seakan-akan silau melihat sinar matahari. Mendadak kakek di
sebelah kanan Joko Wandiro, yaitu Empu Bharodo, mengangkat tangan kiri
digerakkan ke arah dalam guha. Seketika burung-burung itu lenyap beterbangan
masuk lagi ke dalam, seakan-akan gerak tangan Empu Bharodo tadi merupakan
perintah kepada burung-burung itu agar jangan keluar dan kembali ke sarang
mereka di bagian paling dalam di guha itu. Tak lama kemudian terdengar suara
riuh dari sebelah depan. Cahaya matahari yang tadinya menerangi pekarangan
depan guha mendadak menjadi suram seakan-akan tertutup awan mendung. Dari dalam
kesuraman ini terdengar kelepak sayap dan suara mencicit-cicit yang nyaring
tinggi menusuk telinga.
Joko Wandiro
membelalakkan matanya, memandang ke atas. Kini bukan hanya bulu tengkuknya yang
meremang, bahkan setiap lembar bulu di tubuhnya berdiri semua!. Tengkuknya
terasa dingin, kepalanya seakan melar membesar. Matanya terbelalak memandang ke
atas, mulutnya ternganga. Siapa orangnya takkan merasa heran, kaget, takut dan
ngeri melihat ratusan, bahkan ribuan kelelawar hitam beterbangan menyerbu
tempat itu? Melihat kelelawar di malam gelap tidaklah mengherankan, akan tetapi
menyaksikan ribuan ekor kelelawar di pagi hari menyerbu ganas semacam itu
benar-benar mendatangkan rasa ngeri, karena hal itu sudah pasti bukanlah hal
yang sewajarnya! Ribuan ekor kelelawar itu dengan suara mencicit yang
memekakkan telinga, dari atas menyambar ke bawah dan kini tempat itu penuh
dengan binatang-binatang kecil yang menjijikkan ini. Bau apak menyengat hidung
dan menyesakkan pernapasan.
Joko Wandiro
cepat-cepat mengatur pernapasannya dan setelah mengerahkan hawa sakti di dalam
dada, barulah ia dapat bernapas lega. Akan tetapi hatinya ngeri melihat betapa
kelelawar-kelelawar itu kini beterbangan rendah. Anehnya, tak seekorpun di
antara mereka terus menyambar turun, seakan-akan ada sesuatu yang melindungi
empat orang itu, atau ada sesuatu yang mendatangkan rasa takut pada
binatang-binatang itu. Setiap kali menyambar, serendah kira-kira semeter dari
kepala empat orang itu, binatang-binatang ini terbang ke atas kembali sambil
mengeluarkan pekik-pekik ketakutan. Maka makin penuh sesaklah bagian atas
pekarangan itu dengan kelelawar yang beterbangan. Kini banyak di antara
binatang-binatang itu yang hinggap di pohon-pohon, bergantungan dan
menjerit-jerit. Penuh semua pohon di tempat itu dengan kelelawar. Bau apak
makin tak tertahankan.
"Wirokolo
benar-benar tak tahu diri, berani mengganggu Sang Agung Resi Jatinendra!"
terdengar Empu Bharodo berkata perlahan. Kakek ini lalu mengangkat kedua
tangannya ke atas, melambai ke depan guha. Terdengar suara melengking nyaring
dari dalam guha dan makin lama suara ini makin bergemuruh, mengatasi suara
kelelawar-kelelawar yang menggila. Kiranya suara ini adalah suara ribuan ekor
burung sriti yang menerobos keluar dari dalam guha sambil berbunyi marah.
Bagaikan segulung asap hitam, rombongan burung sriti ini berserabutan keluar
dari dalam guha dan terjadilah perang yang amat dahsyat dan mengherankan.
Ribuan ekor burung sriti itu serta-merta menyerbu dan menyerang
kelelawar-kelelawar tadi!.
Joko Wandiro
melongong keheranan. Bukan main! Hebat perang tanding di udara itu.
Patuk-mematuk, sambar-menyambar, cakar-mencangkar dan saling memukul dengan
sayap. Pihak kelelawar juga melakukan perlawanan gigih. Namun mereka kalah
gesit, juga kalah awas. Pandai sekali burung-burung sriti itu mengelak,
kemudian dengan kecepatan kilat menyambar dan mematuk lawan dari samping. Payah
kelelawar-kelelawar itu mempertahankan diri. Banyak sudah jatuh korban. Tidak
mati dipatuk burung-burung sriti yang kecil itu, akan tetapi burung-burung itu
mematuk ke arah mata sehingga kelelawar-kelelawar itu kini benar-benar menjadi
buta, bukan hanya silau oleh sinar matahari. Mulailah mereka beterbangan
kacau-balau dalam ketakutan dan hendak melarikan diri. Terbang sejadinya dan
tanpa arah tertentu sehingga banyak di antara mereka yang menabrak pohon dan
jatuh ke dalam jurang. Burung-burung sriti yang gagah dan gesit itu terbang
pula mengejar dan mengusir kelelawar-kelelawar dari depan guha. Peperangan yang
dahsyat dan aneh, yang berlangsung tidak begitu lama, namun cukup mendebarkan hati
Joko Wandiro. Sebentar saja burung-burung itu telah mengusir semua kelelawar
sehingga tidak seekorpun tinggal. Mereka terus mengejar sampai tak terdengar
lagi suara kelelawar yang kebingungan. Tak lama kemudian tempat itu menjadi
sunyi senyap dan bersih kembali seperti tadi. Bahkan bau apak kelelawar sudah
lenya pula tersapu angin gunung. Tiga orang kakek itu masih duduk seperti tadi.
"Gaaaaookk
kraaaaak-kraaak gaaookkk!! ......."
Suara burung
gagak yang memecah kesunyian itu benar-benar amat menyeramkan bagi Joko
Wandiro. Apalagi karena sekarang suara burung gagak ini terdengar jelas sekali.
Agaknya burung itu berada di atas kepala mereka. Namun tak tampak sesuatu oleh
Joko Wandiro.
" .......
hiyeeehhh!! Keteprok-keteprok ...hiyeeeeehhhhh"
Joko Wandiro sampai
tersentak kaget. Suara kuda menegar-negar, derap kakinya yang menginjak-injak
tanah, ringkiknya yang nyaring, benar-benar seperti kuda itu berada di
depannya. Namun tidak tampak sesatu!.
"Ha-ha-ha-ha-ha.......
!! "
Suara ketawa
inipun terdengar jelas, suara ketawa tanpa kelihatan orangnya. Joko Wandiro
menoleh ke kanan kiri memandang eyang gurunya dan Empu Bharodo. Rasa takut
membuat ia menggeser mendekati eyang gurunya. Namun ia teringat akan pesan
eyang gurunya tadi, maka ia tidak berani membuka suara, hanya membuka mata
lebar-lebar memandang ke depan dengan jantung berdebar dan leher serasa
dicekik.
"Ha-ha-ha!
Kahuripan akan menjadi karang abang (lautan api)! Sang Prabu Airlangga yang
tadinya hidup mulia dan megah, kini menjadi pertapa jembel! Ha- ha-ha!"
Suara itu
bergema seperti suara iblis dari dalam kuburan, mengaung dan terdengar dari
jauh, namun amat jelas. Dan suara ini diiringi bau dupa yang aneh, harum
sekali. Begitu wangi sehingga memabokkan, di dalam hidung sampai terasa sakit
penuh dengan ganda wangi yang mendatangkan rasa manis.
Seketika Joko
Wandiro merasa kepalanya pening, matanya berkunang. Alangkah kagetnya ketika ia
berusaha menggerakkan kaki tangannya, ternyata seluruh tubuhnya kaku! Persis
seperti keadaan orang yang tindihen (mimpi buruk), pikiran masih terang, panca
indera masih sadar, namun seluruh tubuh kaku-kaku tak dapat bergerak! Dan ganda
wangi itu makin menyengat, memenuhi hidung dan tenggorokan, mulai menyerang
paru-paru. Joko Wandiro terengah-engah, dadanya terasa sakit!.
"Joko
Wandiro, tenanglah ....... tidak apa-apa ....... !"
Terdengar
Bisikan dari sebelah kiri, suara eyang gurunya. Joko Wandiro sejak kecil memang
digembleng oleh ayahnya, kemudian oleh eyang gurunya, bahkan akhir-akhir ini
oleh Ki Tejoranu. Namun semua gemblengan itu hanya merupakan latihan ilmu-ilmu
kesaktian dan dalam hal ilmu kebatinan ia hanya mendapat latihan untuk
memperkuat batin dan menghimpun hawa sakti dalam tubuh. Berhadapan dengan ilmu
hitam yang tidak sewajarnya seperti ini, ia sama sekali belum pernah
mengalaminya. Tidak mengherankan apabila ia sudah menjadi korban.
No comments:
Post a Comment