Badai Laut Selatan ; Bagian 075


Ucapan eyang gurunya seakan-akan menjadi akar pohon di tepi sungai di mana ia tenggelam dan hanyut merupakan penolong dalam keadaan darurat. Cepat ia mengerahkan tenaga sakti, menahan napas, dan membuka matanya. Gelap dan kabur pandang matanya, tampak ribuan bintang menari-nari. Ganda wangi memabokkan masih keras terasa. Tiba-tiba ia merasa ada titik-titik air berjatuhan ke atas kepala dan mukanya. Terasa dingin sekali sampai menembus kulit daging dan mendinginkan pikiran dan hati. Ia dapat melihat jelas sekarang. Rasa dingin air itu mengusir kepeningannya. Kiranya kakek di sebelah kanannya, Empu Bharodo, sudah memercik-mecikkan air kepadanya, sambil berkemak-kemik membaca mantera.
"Pegang dan cium puspa (bunga) ini, Joko ......"
Kembali terdengar suara eyang gurunya dan setangkai bunga berada di tangannya. Bunga cempaka putih. Joko Wandiro segera membawa bunga itu ke hidungnya. Berkuranglah ganda wangi menusuk hidung yang tadi memabokkannya. Makin terang pandang matanya dan ia kini tenang kembali.
Ketika ia memandang ke depan, jantungnya tergetar , akan tetapi ia dapat menenangkan kembali setelah teringat bahwa ia berada di antara orang-orang sakti. Sambil menekan kembang itu di depan hidung, Joko Wandiro memandang ke depan dengan mata terbelalak. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat orang mati ketakutan. Amat menyeramkan dan tak masuk akal, seperti dalam mimpi buruk.
Di sebelah depan Sang Resi Jatinendra berdiri sebuah mahluk yang luar biasa sekali. Disebut manusia, jauh bedanya dengan manusia biasa. Kalau binatang, bentuknya menyerupai manusia. Mahluk itu tinggi besar, satu setengah kali tinggi besar seorang manusia biasa. Merupakankan seorang manusia betina, seorang nenek-nenek yang sukar ditaksir usianya. Pendeknya seorang nenek yang sudah sangat tua. Rambutnya gimbal riap-riapan, sebagian menutup mukanya. Mukanya yang buruk penuh keriput dengan kulit kering mengelinting seperti tengkorak terbungkus kulit yang terlalu besar. Matanya cekung, seperti berlubang tak berbiji mata, akan tetapi dari dalam dua lubang mata yang hitam itu keluar sinar bagaikan sepasang mata harimau. Hidungnya pesek mulutnya lebar dengan bibir bawah menggantung sehingga tampak mulut yang tak bergigi lagi. Tubuhnya kurus akan tetapi besar, dengan sepasang lengan kurus yang berujung jari-jari tangan meruncing karena kuku-kukunya dibiarkan memanjang tak terpelihara. Berbeda dengan kedua lengan yang kurus, di dadanya bergantungan sepasang buah dada yang besar dan panjang, begitu panjangnya sampai ujung tetek mendekati pusarnya! . Tubuh atas yang bertetek besar panjang ini dibiarkan telanjang saja, akan tetapi perhiasan emas permata memenuhi leher, pergelangan tangan dan jari-jari tangannya! Tubuh bawah tertutup kain beraneka warna.
"Hi-hi-hi-hikk ........ !!"
Nenek mengerikan itu tertawa-tawa, terkekeh-kekeh dan bergerak-gerak di depan Resi Jatinendra yang semenjak tadi tak bergerak-gerak. Semenjak terjadi bermacam keanehan, sampai perang dahsyat antara barisan kelelawar melawan barisan sriti, sampai kini nenek yang sepatutnya disebut wewegombel ini bergerak-gerak di depannya, pendeta itu sama sekali tak bergerak maupun membuka mata.
"Hi-hi-hikk ........ Airlanggaaaaa ........ Airlangga ........ !! Tiada guna kau bertapa ... hi-hi-hikk! Kahuripan akan menjadi karang abang ........ anak cucumu akan saling bunuh hi-hik, dan aku akan kenyang minum darah segar mengganyang daging hangat. Hi-hi-hikk......... !!"

Joko Wandiro bergidik. Ketika sinar mata yang memancar keluar dari sepasang lubang hitam itu bertemu dengan pandang matanya, hampir ia pingsan. Untung ia cepat-cepat menggigit tangkai bunga dan mengerahkan seluruh tenaga mempertahankan diri sehingga ia sadar kembali dan menentang sinar mata itu penuh keberanian.
"Iiih-hi-hih, bocah ini makanan lezat ........ iihh-hih-hih .......!"
Nenek itu memutar ke belakang Sang Resi Jatinendra dan melangkah menghampiri Joko Wandiro!. Joko Wandiro adalah seorang anak berdarah satria bertulang pendekar. Tadi ia memang merasa ngeri dan ketakutan menyaksikan pemandangan yang gaib dan tidak wajar ini. Akan tetapi begitu melihat dirinya terancam bahaya, bangkit semangat perlawanan dalam dirinya. Ia telah digembleng sejak kecil bagaimana harus membela diri daripada ancaman bahaya.
Melihat nenek itu menghampirinya dengan sikap mengancam dan menjijikkan, ia mengerahkan seluruh tenaga batin untuk menekan semua perasaan takut dan ngeri, kemudian sekali ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya sudah meloncat ke depan dan menyambut nenek itu dengan sebuah pukulan Aji Pethit Nogo!.
"Werir ........ werrr ........ werrr ........ !!"
Hebat bukan main pukulan ini, biarpun hanya dilakukan oleh seorang pemuda tanggung. Pukulan dengan jari-jari terbuka itu mendatangkan angin pukulan keras sehingga mengeluarkan Suara. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati Joko Wandiro ketika tiga kali pukulannya secara bertubi-tubi itu, yang mengenai sasaran tepat ternyata menembus tubuh si nenek seakan-akan menembus bayangan saja.

Nenek itu tidak berbadan seperti manusia agaknya akan tetapi ketika sambil terkekeh nenek itu menggerakkan tangan kirinya yang berlengan panjang, Joko Wandiro terkena hantaman pundaknya, terasa nyeri seperti dihantam palu godam dan ia terjungkal ke kiri!. Bagaikan bola, begitu roboh Joko Wandiro sudah meloncat kembali dan kini kedua tangannya sudah memegang sepasang golok tipis yang tadinya ia sisipkan di pinggang tertutup baju. Karena marah dan penasaran, Joko Wandiro segera memutar sepasang goloknya, mainkan Ilmu Golok Lebah Putih yang belum lama ini ia pelajari dari Ki Tejoranu. Lenyaplah bentuk sepasang goloknya, berubah menjadi dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara seperti banyak lebah beterbangan gulungan sinar itu menyambar dan mengurung diri si nenek tinggi besar yang masih terkekeh-kekeh.
"Hihh-hih-hihh ........ !"
Nenek itu terkekeh dan sepasang susunya yang besar panjang itu bergoyang-goyang mengerikan ketika ia tertawa sambil bertolak pinggang. Joko Wandiro membelalakkan kedua matanya melihat sepasang goloknya yang menyambar itu kembali tembus tanpa melukai tubuh si nenek iblis!.
"Hih-hih-hih, bocah bagus. Darahmu tentu manis, dagingmu gurih! Tapi kau berani melawan aku, hah? Hih hih- ' hih-hikk! Lihat kekuasaanku bocah! Lihat baik-baik! Kau akan dimakan senjatamu sendiri, hih-hih-hik!"
Nenek buruk rupa itu menudingkan telunjuk kanannya ke arah Joko Wandiro. Dari tangan yang menunjuk ini seakan-akan keluar getaran aneh yang berputar-putar amat kuatnya sehingga Joko Wandiro tak dapat mempertahankan diri lagi. Pemuda tanggung ini merasa betapa dirinya seakan-akan dibawa angin puyuh yang kuat, serasa tubuhnya berpusing dan kepalanya menjadi pening, matanya berkunang. Ia meramkan matanya, yang masih terdengar suara eyang gurunya memanggil, akan tetapi suara itu datangnya dari jauh sekali, hanya terdengar gemanya saja,
"Joko ........ ! Joko Wandiro ........!"

Akan tetapi Joko Wandro tidak mengandalkan pertolongan dari luar lagi karena ia sudah terseret oleh perputaran getaran yang luar biasa itu. Ia melihat, sungguhpun kedua matanya dipejamkan, betapa di sekeliling tubuhnya tampak wajah nenek yang mengerikan itu, dengan bau mulutnya yang amis busuk, bercampur bau wangi yang memuakkan. Maka ia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakkan kedua goloknya untuk membacok dan menusuk!
"Hi-hi-hi-hik! Hayo bacok dan tusuk, biar kuhisap darahmu yang keluar, biar kuhisap darahmu yang keluar, biar kuganyang dagingmu, kukremus tulangmu!"
Dalam pandangan Joko Wandiro, ia membacok dan menusuk ke arah tubuh nenek iblis itu, padahal sebetulnya ia telah terjatuh di bawah pengaruh sihir dan dalam pandangan orang lain, sepasang goloknya itu ia bacok dan tusukkan ke arah ........ tubuhnya sendiri!
Untung baginya bahwa pada saat itu ia berada bersama tiga orang kakek sakti mandraguna. Ketika tadi ia menerjang nenek iblis, Empu Bharodo sudah berdiri, tangan kirinya membawa tempat air dan tanah, tangan kanan memegang setangkai bunga cempaka. Kini kakek itu memercik-mercikkan air dengan bunga yang dicelupkan ke dalam tempat air, bibirnya membaca mantera. Terjadilah pemandangan yang tak masuk akal bagi orang-orang biasa. Namun sungguh merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Seperti orang mabok, Joko Wandiro menggunakan kedua goloknya untuk membacok dan menusuk tubuhnya sendiri. Bajunya menjadi robek compang-camping akibat bacokan dan tusukan golok tajam pemberian Ki Tejoranu. Akan tetapi anehnya, kulit tubuhnya sedikitpun tidak lecet, apalagi terluka. Sihir yang dilakukan nenek iblis itu membuat ia seperti mabok dan membacoki tubuh sendiri yang disangka tubuh si nenek, sebaliknya, percikan air Empu Bharodo membuat tubuhnya seakan-akan menjadi kebal. Sihir dibalas sihir. Kasihan Joko Wandiro yang menjadi korban, melakukan hal-hal yang sama sekali di luar kehendaknya. Empu Bharodo menghampiri Joko Wandiro, menaruh tangan kiri di atas kepalanya, meraba ubun-ubunnya. Seketika Joko Wandiro sadar dan alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa sepasang goloknya itu ia gerakkan sendiri membacok paha dan menusuk perut. Cepat ia menahan kedua tangannya, bengong terlongong melihat bajunya compang-camping, melihat nenek iblis terkekeh-kekeh dan di depan nenek itu kini berdiri Empu Bharodo dengan sikap tenang.
Nenek itu mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau dan mukanya menjadi menakutkan sekali. Joko Wandiro yang masih berdiri terbelalak itu makin kaget ketika melihat api keluar dari mulut si nenek iblis. Apikah itu yang tersembur keluar dari mulut dan menerjang ke arah Empu Bharodo? Ataukah lidah si nenek yang panjang dan menyala-nyala? Empu Bharodo membaca mantera, lalu memercikkan air dari bunga cempaka yang dicelup dalam tempayan air. Percikan air itu berkilau putih menyambar ke arah lidah api.
"Cesssssss ........ !" Asap mengepul tebal dan tercium bau sangit.
Si nenek iblis menjerit-jerit, tangan kiri menggaruk-garuk mulutnya yang kini tidak mengeluarkan lidah api lagi, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari berkuku panjang itu diulur ke depan ketika ia menerjang maju dan untuk menubruk dan mencekik leher Empu Bharodo.
"Pergilah ........ !!" bentak Empu Bharodo sambil menyambitkan kembang ke arah nenek iblis.
Nenek itu terhuyung ke belakang, mulutnya mengeluarkan jerit melengking panjang dan lenyaplah tubuhnya.

"Heh, Wirokolo!" Terdengar Empu Bharodo berkata lantang.
"Kalau engkau hendak menghadap Sang Resi Jatinendra, datanglah saja. Apa perlunya engkau pamer dengan ilmu hitam Calon Arang yang hanya patut untuk menakut-nakuti anak kecil?"
Setelah berkata demikian, Empu Bharodo dengan langkah tenang kembali ke tempatnya di depan mulut guha lalu duduk bersila seperti tadi, tenang dan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.
"Joko, kau kembalilah ke sini ........ " terdengar Resi Bhargowo berkata.
Akan tetapi sebelum Joko Wandiro sempat bergerak, tiba-tiba muncullah lima orang tinggi besar berloncatan ke depan Sang Resi Jatinendra. Lima orang tinggi besar itu muncul sambil tertawa bergelak, di tangan masing-masing memegang sebatang golok besar yang berkilauan tertimpa sinar matahari membayangkan ketajamannya. Tanpa bicara sesuatu, lima orang itu serentak lalu menerjang pertapa yang masih duduk bersamadhi itu. Melihat hal ini, tentu saja Joko Wandiro tidak mau tinggal diam. Sepasang golok tipis pemberian Ki Tejoranu masih berada di kedua tangannya dan kini ia melihat bahwa lima orang itu walaupun tinggi besar, namun jelas adalah manusia-manusia biasa bukan iblis macam nenek tadi. Pula, menilik gerakan mereka, kelima orang ini hanya memiliki tenaga kasar yang besar saja. Maka cepat sekali tubuhnya mencelat ke depan dan kedua goloknya berkelebat membentuk gulungan sinar putih.
"Trang-trang-cringgg ........ !!"
Golok tiga orang musuh yang berada paling depan berhasil ditangkisnya dan tiga batang golok itu mental kembali. Lima orang pengeroyok yang tinggi besar itu berseru kaget dan membelalakkan mata. Tak seorangpun di antara mereka yang kini tertawa lagi. Sebaliknya, mereka mengeluarkan suara gerengan marah ketika mendapat kenyataan bahwa yang menangkis golok-golok mereka tadi hanyalah seorang pemuda tanggung.
"Bocah keparat! Kau kepingin mampus??" Lima orang itu serentak menerjang dengan golok besar mereka ke arah Joko Wandiro.

Melihat datangnya lima batang golok dengan kekuatan yang besar, Joko Wandiro maklum bahwa tenaganya tak mungkin menandingi lima erang ini sekaligus. Tadipun ketika menangkis tiga batang golok, ia merasa betapa kedua lengannya menjadi linu, tanda bahwa tenaga tiga orang itu benar-benar amat kuat. Maka, anak yang cerdik ini tidak lagi mau mengadu tenaga melawan lima orang sekaligus, melainkan cepat ia mempergunakan kegesitan tubuhnya, menggunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya dengan ringan dan gesit sekali menyelinap ke samping sebelum lima batang golok datang membacok. Kemudian kedua kakinya bergerak menurut pelajaran ilmu silat yang ia pelajari dari Ki Tejoranu, golok-golok di kedua tangannya melakukan gerakan menggunting ke arah lawan yang paling depan. Si tinggi besar itu kaget ketika tadi melihat bocah yang menjadi lawannya berkelebat ke samping dan kini melihat dua gulungan sinar putih menerjangnya.

<<< Bagian 074                                                                                    Bagian 076 >>>

No comments:

Post a Comment