Ucapan eyang gurunya seakan-akan menjadi akar pohon di tepi sungai di mana ia tenggelam dan hanyut merupakan penolong dalam keadaan darurat. Cepat ia mengerahkan tenaga sakti, menahan napas, dan membuka matanya. Gelap dan kabur pandang matanya, tampak ribuan bintang menari-nari. Ganda wangi memabokkan masih keras terasa. Tiba-tiba ia merasa ada titik-titik air berjatuhan ke atas kepala dan mukanya. Terasa dingin sekali sampai menembus kulit daging dan mendinginkan pikiran dan hati. Ia dapat melihat jelas sekarang. Rasa dingin air itu mengusir kepeningannya. Kiranya kakek di sebelah kanannya, Empu Bharodo, sudah memercik-mecikkan air kepadanya, sambil berkemak-kemik membaca mantera.
"Pegang
dan cium puspa (bunga) ini, Joko ......"
Kembali
terdengar suara eyang gurunya dan setangkai bunga berada di tangannya. Bunga
cempaka putih. Joko Wandiro segera membawa bunga itu ke hidungnya. Berkuranglah
ganda wangi menusuk hidung yang tadi memabokkannya. Makin terang pandang
matanya dan ia kini tenang kembali.
Ketika ia
memandang ke depan, jantungnya tergetar , akan tetapi ia dapat menenangkan
kembali setelah teringat bahwa ia berada di antara orang-orang sakti. Sambil
menekan kembang itu di depan hidung, Joko Wandiro memandang ke depan dengan
mata terbelalak. Apa yang dilihatnya benar-benar membuat orang mati ketakutan.
Amat menyeramkan dan tak masuk akal, seperti dalam mimpi buruk.
Di sebelah
depan Sang Resi Jatinendra berdiri sebuah mahluk yang luar biasa sekali.
Disebut manusia, jauh bedanya dengan manusia biasa. Kalau binatang, bentuknya
menyerupai manusia. Mahluk itu tinggi besar, satu setengah kali tinggi besar
seorang manusia biasa. Merupakankan seorang manusia betina, seorang nenek-nenek
yang sukar ditaksir usianya. Pendeknya seorang nenek yang sudah sangat tua.
Rambutnya gimbal riap-riapan, sebagian menutup mukanya. Mukanya yang buruk
penuh keriput dengan kulit kering mengelinting seperti tengkorak terbungkus
kulit yang terlalu besar. Matanya cekung, seperti berlubang tak berbiji mata,
akan tetapi dari dalam dua lubang mata yang hitam itu keluar sinar bagaikan
sepasang mata harimau. Hidungnya pesek mulutnya lebar dengan bibir bawah
menggantung sehingga tampak mulut yang tak bergigi lagi. Tubuhnya kurus akan
tetapi besar, dengan sepasang lengan kurus yang berujung jari-jari tangan
meruncing karena kuku-kukunya dibiarkan memanjang tak terpelihara. Berbeda
dengan kedua lengan yang kurus, di dadanya bergantungan sepasang buah dada yang
besar dan panjang, begitu panjangnya sampai ujung tetek mendekati pusarnya! .
Tubuh atas yang bertetek besar panjang ini dibiarkan telanjang saja, akan
tetapi perhiasan emas permata memenuhi leher, pergelangan tangan dan jari-jari
tangannya! Tubuh bawah tertutup kain beraneka warna.
"Hi-hi-hi-hikk
........ !!"
Nenek
mengerikan itu tertawa-tawa, terkekeh-kekeh dan bergerak-gerak di depan Resi
Jatinendra yang semenjak tadi tak bergerak-gerak. Semenjak terjadi bermacam
keanehan, sampai perang dahsyat antara barisan kelelawar melawan barisan sriti,
sampai kini nenek yang sepatutnya disebut wewegombel ini bergerak-gerak di
depannya, pendeta itu sama sekali tak bergerak maupun membuka mata.
"Hi-hi-hikk
........ Airlanggaaaaa ........ Airlangga ........ !! Tiada guna kau bertapa
... hi-hi-hikk! Kahuripan akan menjadi karang abang ........ anak cucumu akan
saling bunuh hi-hik, dan aku akan kenyang minum darah segar mengganyang daging
hangat. Hi-hi-hikk......... !!"
Joko Wandiro
bergidik. Ketika sinar mata yang memancar keluar dari sepasang lubang hitam itu
bertemu dengan pandang matanya, hampir ia pingsan. Untung ia cepat-cepat
menggigit tangkai bunga dan mengerahkan seluruh tenaga mempertahankan diri
sehingga ia sadar kembali dan menentang sinar mata itu penuh keberanian.
"Iiih-hi-hih,
bocah ini makanan lezat ........ iihh-hih-hih .......!"
Nenek itu
memutar ke belakang Sang Resi Jatinendra dan melangkah menghampiri Joko
Wandiro!. Joko Wandiro adalah seorang anak berdarah satria bertulang pendekar.
Tadi ia memang merasa ngeri dan ketakutan menyaksikan pemandangan yang gaib dan
tidak wajar ini. Akan tetapi begitu melihat dirinya terancam bahaya, bangkit
semangat perlawanan dalam dirinya. Ia telah digembleng sejak kecil bagaimana
harus membela diri daripada ancaman bahaya.
Melihat nenek
itu menghampirinya dengan sikap mengancam dan menjijikkan, ia mengerahkan
seluruh tenaga batin untuk menekan semua perasaan takut dan ngeri, kemudian
sekali ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya sudah meloncat ke depan dan
menyambut nenek itu dengan sebuah pukulan Aji Pethit Nogo!.
"Werir
........ werrr ........ werrr ........ !!"
Hebat bukan
main pukulan ini, biarpun hanya dilakukan oleh seorang pemuda tanggung. Pukulan
dengan jari-jari terbuka itu mendatangkan angin pukulan keras sehingga
mengeluarkan Suara. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati Joko
Wandiro ketika tiga kali pukulannya secara bertubi-tubi itu, yang mengenai
sasaran tepat ternyata menembus tubuh si nenek seakan-akan menembus bayangan
saja.
Nenek itu
tidak berbadan seperti manusia agaknya akan tetapi ketika sambil terkekeh nenek
itu menggerakkan tangan kirinya yang berlengan panjang, Joko Wandiro terkena
hantaman pundaknya, terasa nyeri seperti dihantam palu godam dan ia terjungkal
ke kiri!. Bagaikan bola, begitu roboh Joko Wandiro sudah meloncat kembali dan kini
kedua tangannya sudah memegang sepasang golok tipis yang tadinya ia sisipkan di
pinggang tertutup baju. Karena marah dan penasaran, Joko Wandiro segera memutar
sepasang goloknya, mainkan Ilmu Golok Lebah Putih yang belum lama ini ia
pelajari dari Ki Tejoranu. Lenyaplah bentuk sepasang goloknya, berubah menjadi
dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara seperti banyak lebah
beterbangan gulungan sinar itu menyambar dan mengurung diri si nenek tinggi
besar yang masih terkekeh-kekeh.
"Hihh-hih-hihh
........ !"
Nenek itu
terkekeh dan sepasang susunya yang besar panjang itu bergoyang-goyang
mengerikan ketika ia tertawa sambil bertolak pinggang. Joko Wandiro
membelalakkan kedua matanya melihat sepasang goloknya yang menyambar itu
kembali tembus tanpa melukai tubuh si nenek iblis!.
"Hih-hih-hih,
bocah bagus. Darahmu tentu manis, dagingmu gurih! Tapi kau berani melawan aku,
hah? Hih hih- ' hih-hikk! Lihat kekuasaanku bocah! Lihat baik-baik! Kau akan
dimakan senjatamu sendiri, hih-hih-hik!"
Nenek buruk
rupa itu menudingkan telunjuk kanannya ke arah Joko Wandiro. Dari tangan yang
menunjuk ini seakan-akan keluar getaran aneh yang berputar-putar amat kuatnya
sehingga Joko Wandiro tak dapat mempertahankan diri lagi. Pemuda tanggung ini
merasa betapa dirinya seakan-akan dibawa angin puyuh yang kuat, serasa tubuhnya
berpusing dan kepalanya menjadi pening, matanya berkunang. Ia meramkan matanya,
yang masih terdengar suara eyang gurunya memanggil, akan tetapi suara itu
datangnya dari jauh sekali, hanya terdengar gemanya saja,
"Joko
........ ! Joko Wandiro ........!"
Akan tetapi
Joko Wandro tidak mengandalkan pertolongan dari luar lagi karena ia sudah
terseret oleh perputaran getaran yang luar biasa itu. Ia melihat, sungguhpun
kedua matanya dipejamkan, betapa di sekeliling tubuhnya tampak wajah nenek yang
mengerikan itu, dengan bau mulutnya yang amis busuk, bercampur bau wangi yang
memuakkan. Maka ia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakkan kedua goloknya
untuk membacok dan menusuk!
"Hi-hi-hi-hik!
Hayo bacok dan tusuk, biar kuhisap darahmu yang keluar, biar kuhisap darahmu
yang keluar, biar kuganyang dagingmu, kukremus tulangmu!"
Dalam
pandangan Joko Wandiro, ia membacok dan menusuk ke arah tubuh nenek iblis itu,
padahal sebetulnya ia telah terjatuh di bawah pengaruh sihir dan dalam
pandangan orang lain, sepasang goloknya itu ia bacok dan tusukkan ke arah
........ tubuhnya sendiri!
Untung baginya
bahwa pada saat itu ia berada bersama tiga orang kakek sakti mandraguna. Ketika
tadi ia menerjang nenek iblis, Empu Bharodo sudah berdiri, tangan kirinya
membawa tempat air dan tanah, tangan kanan memegang setangkai bunga cempaka.
Kini kakek itu memercik-mercikkan air dengan bunga yang dicelupkan ke dalam
tempat air, bibirnya membaca mantera. Terjadilah pemandangan yang tak masuk akal
bagi orang-orang biasa. Namun sungguh merupakan kenyataan yang tak dapat
dibantah lagi. Seperti orang mabok, Joko Wandiro menggunakan kedua goloknya
untuk membacok dan menusuk tubuhnya sendiri. Bajunya menjadi robek
compang-camping akibat bacokan dan tusukan golok tajam pemberian Ki Tejoranu.
Akan tetapi anehnya, kulit tubuhnya sedikitpun tidak lecet, apalagi terluka.
Sihir yang dilakukan nenek iblis itu membuat ia seperti mabok dan membacoki
tubuh sendiri yang disangka tubuh si nenek, sebaliknya, percikan air Empu
Bharodo membuat tubuhnya seakan-akan menjadi kebal. Sihir dibalas sihir.
Kasihan Joko Wandiro yang menjadi korban, melakukan hal-hal yang sama sekali di
luar kehendaknya. Empu Bharodo menghampiri Joko Wandiro, menaruh tangan kiri di
atas kepalanya, meraba ubun-ubunnya. Seketika Joko Wandiro sadar dan alangkah
kagetnya ketika ia melihat betapa sepasang goloknya itu ia gerakkan sendiri
membacok paha dan menusuk perut. Cepat ia menahan kedua tangannya, bengong
terlongong melihat bajunya compang-camping, melihat nenek iblis terkekeh-kekeh
dan di depan nenek itu kini berdiri Empu Bharodo dengan sikap tenang.
Nenek itu
mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau dan mukanya menjadi
menakutkan sekali. Joko Wandiro yang masih berdiri terbelalak itu makin kaget
ketika melihat api keluar dari mulut si nenek iblis. Apikah itu yang tersembur
keluar dari mulut dan menerjang ke arah Empu Bharodo? Ataukah lidah si nenek
yang panjang dan menyala-nyala? Empu Bharodo membaca mantera, lalu memercikkan
air dari bunga cempaka yang dicelup dalam tempayan air. Percikan air itu
berkilau putih menyambar ke arah lidah api.
"Cesssssss
........ !" Asap mengepul tebal dan tercium bau sangit.
Si nenek iblis
menjerit-jerit, tangan kiri menggaruk-garuk mulutnya yang kini tidak
mengeluarkan lidah api lagi, sedangkan tangan kanan dengan jari-jari berkuku
panjang itu diulur ke depan ketika ia menerjang maju dan untuk menubruk dan
mencekik leher Empu Bharodo.
"Pergilah
........ !!" bentak Empu Bharodo sambil menyambitkan kembang ke arah nenek
iblis.
Nenek itu
terhuyung ke belakang, mulutnya mengeluarkan jerit melengking panjang dan
lenyaplah tubuhnya.
"Heh,
Wirokolo!" Terdengar Empu Bharodo berkata lantang.
"Kalau
engkau hendak menghadap Sang Resi Jatinendra, datanglah saja. Apa perlunya
engkau pamer dengan ilmu hitam Calon Arang yang hanya patut untuk
menakut-nakuti anak kecil?"
Setelah
berkata demikian, Empu Bharodo dengan langkah tenang kembali ke tempatnya di
depan mulut guha lalu duduk bersila seperti tadi, tenang dan seakan-akan tidak
pernah terjadi sesuatu.
"Joko,
kau kembalilah ke sini ........ " terdengar Resi Bhargowo berkata.
Akan tetapi
sebelum Joko Wandiro sempat bergerak, tiba-tiba muncullah lima orang tinggi
besar berloncatan ke depan Sang Resi Jatinendra. Lima orang tinggi besar itu
muncul sambil tertawa bergelak, di tangan masing-masing memegang sebatang golok
besar yang berkilauan tertimpa sinar matahari membayangkan ketajamannya. Tanpa
bicara sesuatu, lima orang itu serentak lalu menerjang pertapa yang masih duduk
bersamadhi itu. Melihat hal ini, tentu saja Joko Wandiro tidak mau tinggal
diam. Sepasang golok tipis pemberian Ki Tejoranu masih berada di kedua
tangannya dan kini ia melihat bahwa lima orang itu walaupun tinggi besar, namun
jelas adalah manusia-manusia biasa bukan iblis macam nenek tadi. Pula, menilik
gerakan mereka, kelima orang ini hanya memiliki tenaga kasar yang besar saja.
Maka cepat sekali tubuhnya mencelat ke depan dan kedua goloknya berkelebat
membentuk gulungan sinar putih.
"Trang-trang-cringgg
........ !!"
Golok tiga
orang musuh yang berada paling depan berhasil ditangkisnya dan tiga batang
golok itu mental kembali. Lima orang pengeroyok yang tinggi besar itu berseru
kaget dan membelalakkan mata. Tak seorangpun di antara mereka yang kini tertawa
lagi. Sebaliknya, mereka mengeluarkan suara gerengan marah ketika mendapat
kenyataan bahwa yang menangkis golok-golok mereka tadi hanyalah seorang pemuda
tanggung.
"Bocah
keparat! Kau kepingin mampus??" Lima orang itu serentak menerjang dengan
golok besar mereka ke arah Joko Wandiro.
Melihat
datangnya lima batang golok dengan kekuatan yang besar, Joko Wandiro maklum
bahwa tenaganya tak mungkin menandingi lima erang ini sekaligus. Tadipun ketika
menangkis tiga batang golok, ia merasa betapa kedua lengannya menjadi linu,
tanda bahwa tenaga tiga orang itu benar-benar amat kuat. Maka, anak yang cerdik
ini tidak lagi mau mengadu tenaga melawan lima orang sekaligus, melainkan cepat
ia mempergunakan kegesitan tubuhnya, menggunakan Aji Bayu Tantra sehingga tubuhnya
dengan ringan dan gesit sekali menyelinap ke samping sebelum lima batang golok
datang membacok. Kemudian kedua kakinya bergerak menurut pelajaran ilmu silat
yang ia pelajari dari Ki Tejoranu, golok-golok di kedua tangannya melakukan
gerakan menggunting ke arah lawan yang paling depan. Si tinggi besar itu kaget
ketika tadi melihat bocah yang menjadi lawannya berkelebat ke samping dan kini
melihat dua gulungan sinar putih menerjangnya.
No comments:
Post a Comment