Badai Laut Selatan ; Bagian 076


Ia berusaha untuk membabitkan golok besarnya sambil memutar tubuh menghadapi Joko Wandiro, namun ia kalah gesit. Tiba-tiba ia menjerit keras, lengan kanannya termakan golok Joko Wandiro yang menggunting sehingga terpaksa ia melepaskan golok besarnya sambil melompat mundur memegangi lengan kanan yang
mengucurkan darah.
Joko Wandiro tidak berhenti sampai di situ saja. Melihat hasil serangannya, ia melanjutkan gerakan kakinya, dengan gerakan mantap mengatur langkah-langkah maju dalam gerak ilmu silat Ilmu Golok Lebah Putih, sepasang goloknya mendesing-desing ketika diputar ke depan. Empat orang lawannya juga sudah menghadapinya, marah sekali melihat seorang kawan mereka dikalahkan.
"Ommm ........ damai-damai-damai jangan kotorkan tempat ini dengan darah ........ !"
Terdengar suara halus dan tiba-tiba saja Joko Wandiro dan keempat orang lawannya merasa kedua lengan mereka lemas sehingga semua senjata yang dipegang terlepas dan runtuh ke atas tanah!.

Joko Wandiro seorang yang cerdik. Ia tadi melirik dan melihat bahwa ucapan itu keluar dari mulut pendeta yang sejak tadi duduk diam di depan, kemudian melihat pula betapa tangan kiri pendeta itu digerakkan ke depan, maka tahulah ia bahwa yang menjatuhkan semua senjata itu adalah hawa pukulan jarak jauh yang hebat luar biasa! Ia tahu pula bahwa pendeta yang sakti itu tidak menghendaki pertumpahan darah. Adapun keempat orang tinggi besar itu menjadi makin marah, tidak mengerti mengapa semua senjata mereka terlepas begitu saja dari pegangan. Mereka mengira bahwa bocah itulah yang main gila, maka dengan gerakan ganas mereka lalu maju menubruk, kedua lengan dikembangkan, jari-jari tangan terbuka siap mencekik leher, mulut terbuka lebar tiada ubahnya harimau-harimau lapar menubruk mangsa!
Namun Joko Wandiro sudah bergerak lebih cepat daripada mereka yang lamban dan hanya mengandalkan kekuatan tubuh. Dengan menyelinap ke kiri, ia membuat tubrukan empat orang itu gagal, kemudian sebelum empat orang itu mampu menerjangnya lagi, selagi mereka terhuyung ke depan, dari samping Joko Wandiro menghantam seorang diantara mereka yang terdekat dengan menggunakan pukulan Pethit Nogo.
"Trakk!!"
Jari-jari tangan yang kecil itu dilecutkan ke arah iga dan biarpun jari tangan itu tidak berapa besar, namun mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila. Seketika si tinggi besar itu menjerit kesakitan, roboh bergulingan dan mengaduh-aduh, tak dapat bangkit kembali karena dua buah tulang iganya patah!. Mendapatkan kemenangan ini, besar hati Joko Wandiro. Ia tidak menanti sisa lawannya yang tiga orang lagi itu bergerak. Selagi mereka bengong saking heran melihat bocah itu mampu merobohkan seorang kawan lagi hanya dalam segebrakan, ia telah meloncat maju, gerakannya cepat, kaki tangannya bergerak laksana halilintar menyambar dan terdengarlah pekik susul-menyusul ketika tiga orang itu dihajar tendangan dan pukulan ampuh sehingga tubuh mereka bergelimpangan. Hebat sepak terjang Joko Wandiro, seperti Raden Gatotkaca mengamuk di antara keroyokan buto-buto (raksasa) galak!. Mendapat kesempatan ini, selagi para lawannya jatuh bangun, Joko Wandiro sudah menyambar sepasang goloknya lagi karena ia khawatir kalau-kalau sepasang goloknya itu dirampas lawan. Pada saat ia membungkuk dan mengambil sepasang goloknya, tiba-tiba ada angin keras menyambar dari depan. Joko Wandiro terkejut, maklum bahwa ada serangan yang hebat. Cepat ia mengelak sambil membabat dengan golok kanannya, akan tetapi tubuhnya terlempar dan golok kanannya terlepas ketika sebuah kaki menyambar dengan kekuatan yang dahsyat!

Joko Wandiro terbanting roboh, matanya berkunang-kunang akan tetapi ia tidak mengalami cedera. Cepat ia menggulingkan tubuhnya ke arah golok yang terlepas tadi dan begitu ia meloncat bangun, ia sudah siap dengan sepasang golok di tangan, menghadapi segala kemungkinan dengan sikap gagah dan memasang kuda-kuda amat kokohnya. Kiranya di sebelah depan telah berdiri dua orang laki-laki tinggi besar berkulit hitam, rambutnya panjang terurai dan sepatutnya dua orang ini menjadi raksasa-raksana dalam cerita jaman dahulu! Tidak hanya segala-galanya pada kedua orang itu jauh lebih besar daripada orang biasa, juga mata mereka yang besar menonjol keluar itu kemerahan, wajah mereka buas dan mengerikan. Agaknya mereka itu saudara kembar, karena segala-galanya, dari rambut, wajah, bentuk tubuh sampai pakaian mereka, serupa. Sukar sekali membedakan satu dari yang lain kalau saja senjata mereka tidak berbeda. Yang seorang memegang sebatang tombak yang dihias rambut di leher tombak, sedangkan orang ke dua memegang sebatang ruyung yang bergigi, amat menyeramkan. Namun Joko Wandiro tidak menjadi gentar. Sekali sudah terjun ke dalam gelanggang yuda, ia tidak mengenal takut lagi. Dengan hati-hati ia bersiap sedia menghadapi dua lawan yang nggegirisi (menggiriskan) ini. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan eyang gurunya,
"Joko, mundur kau!"
Joko Wandiro tidak berani membantah, dan ia lalu mengundurkan diri, kembali duduk bersila seperti tadi, di mulut guha di belakang Resi Jatinendra. Adapun Resi Bhargowo kini sudah berdiri dan dengan langkah tenang ia maju ke depan menyambut dua orang raksasa itu.
"Anak baik, kau patut menjadi cucu murid adi resi" demikian bisikan Empu Bharodo di sebelah kanan Joko Wandiro.
Anak ini menengok dan melihat betapa kakek itu tersenyum ramah, lalu membungkuk dengan sikap merendah. Kemudian mereka lalu memandang ke depan untuk menonton bagaimana Resi Bhargowo akan menghadapi dua orang lawan yang buas itu. Resi Bhargowo bersikap tenang saja. Sejenak ia beradu pandang dengan kedua lawannya, kemudian ia berkata,
"Kisanak, siapakah gerangan andika berdua? Dan mempunyai keperluan apa mendatangi pertapaan Jalatunda?"
"Heh-heh-heh, aku adalah Gagak Kunto!" jawab raksasa yang memegang lembing atau tobak berhias rambut.
"Dan akulah Gagak Rudro!" jawab orang ke dua sambil mengamang-amangkan senjata ruyungnya yang mengerikan.

Resi Bhargowo sudah menduga akan hal ini. Tentu saja dia sudah mendengar nama kedua orang ini yang merupakan jagoan-jagoan dari Kerajaan Wengker yang sudah hancur. Tadi ketika mendengar suara burung gagak yang diikuti oleh semua burung lain, dia sudah dapat menduga bahwa suara itu bukan keluar dari mulut burung gagak sewajarnya. Kiranya kedua orang "Gagak" inilah yang datang! Dia sudah mendengar bahwa Gagak Kunto dan Gagak Rudro (Gagak Bertombak dan Gagak Buas) adalah bekas perwira-perwira Kerajaan Wengker, orang-orang kepercayaan mendiang Sang Prabu Baka dan memiliki kesaktian-kesaktian tinggi, yang merupakan ahli-ahli ilmu hitam seperti biasa dimikili para jagoan Wengker. Maka ia bersikap hati-hati dan menanti keterangan selengkapnya.
Melihat betapa pertapa yang kelihatan kecil itu tidak kaget mendengar nama mereka, Gagak Kunto berkata lagi, suaranya membentak marah,
"Tua bangka kecil kurus kering, kau minggirlah! Kami datang mewakili kakang Wirokolo!"
"Hemmm, kalau Wirokolo ada niat menghadap Sang Agung Resi Jatinendra, mengapa ia tidak langsung menghadap sendiri? Mengapa ia menyuruh pula kalian? Mundurlah, dan sampaikan kepada Wirokolo bahwa lebih baik dia sendiri yang maju."
Dua orang raksasa itu makin marah.
"Heh, keparat sombong, siapakah engkau berani menentang sepasang Gagak Sakti? Apakah kau sudah bosan hidup?"
"Gagak Kunto dan Gagak Rudro, aku bicara baik-baik kepada kalian, sebaliknya kalian begitu jumawa. Ketahuilah, aku adalah Bhagawan Rukmoseto."
"Bhagawan Rukmoseto??" Gagak Kunto mengulang, mengingat-ingat nama yang tak dikenalnya ini.
"Ya, dahulu disebut Resi Bhargowo."
"Ha-ha-ha! Resi Bhargowokah kiranya engkau, tua Bangka kerdil? Minggirlah, apa kau belum mendengar nama Gagak Kunto? Minggir dan biarkan kami bicara dengan Sang Prabu Airlangga!"
"Hemm! Wirokolo hanya seorang senopati taklukan, namun masih mewakilkan orang-orang kasar macam kalian. Tentu saja kalian tidak cukup berharga untuk menghadap Sang Agung Resi Jatinendra, dan akulah wakil beliau untuk menandingi segala tingkahmu!"
"Aauugggh, bojleng iblis laknat! Bhargowo, berani engkau melawan senjata pusakaku ini?" Gagak Kunto mengamangkan tombaknya.
"Majulah, siapa takut kepadamu?"
"Keparat sombong! Hayo keluarkan senjatamu!"
"Senjataku adalah kebenaran. Majulah kalian berdua, aku takkan mundur setapakpun!"
"Babo-babo .......!!"

Gagak Rudro tak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia mendahului saudaranya, menerjang dengan ruyungnya yang mengerikan.
"Wuuuuuttt.......!!" Angin besar menyambar ketika ruyung ini bergerak. Namun dengan gerakan ringan dan sikap tenang sekali Resi Bhargowo menggeser kaki miringkan tubuh. Ruyung itu lewat di samping tubuhnya bagaikan waringin tumbang, menghantam tanah membuat batu-batu kerikil pecah dan terbang berhamburan disusul debu mengepul tebal.
Serangan gagal ini dalam detik selanjutnya sudah disusul tombak meluncur bagaikan kilat menyambar, menusuk ke arah dada Resi Bhargowo. Demikian cepatnya serangan maut ini sehingga Joko Wandiro yang menonton merasa ngeri dan khawatir. Baginya, eyang gurunya terlalu tenang, sehingga tampaknya seperti lambat. Kalau dia yang diserang tombak seperti itu, tentu sudah cepat-cepat meloncat ke samping. Akan tetapi eyang gurunya seakan-akan menanti datangnya ujung mata tombak, dan setelah kurang sejengkal dari kulit dadanya, barulah eyang gurunya itu miringkan tubuh tanpa menggeser kaki! Sebuah kelitan yang amat berbahaya dan pula amat berani, namun juga merupakan awal jurus yang ampuhnya menggiriskan! Hanya beberapa detik saja terjadinya, tahu-tahu tombak yang meluncur lewat itu telah tertangkap di bawah ketiak lengan kiri sang resi, dikempit dengan pengerahan tenaga dalam, kemudian dalam detik berikutnya disusul dengan tamparan yang menggunakan jari tangan kanan.
"Werr ....... plakkk!!"
Itulah tamparan Pethit Nogo yang tepat mengenai pundak kiri Gagak Kunto! Joko Wandiro hampir saja bersorak menyaksikan hasil mentakjubkan eyang gurunya dalam jurus pertama ini. Tubuh Gagak Kunto seperti kemasukan aliran halilintar, matanya terbelalak rambutnya bangkit berdiri kemudian tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya, lalu terbanting roboh dan di situ ia terengah-engah sambil memegangi pundaknya. Biarpun ia memiliki kekebalan, namun pukulan Pethit Nogo tadi berhasil meremukkan tulang pundaknya!
"Si keparat Bhargowo ....... ! Berani kau ....... menjatuhkan saudaraku ??"
Dengan muka merah dan mata terbelalak mulut berliur saking marahnya, Gagak Rudro menubruk dan menggerakkan ruyungnya yang besar dan berat itu, mengancam kepala dan tubuh lawan. Gerakannya cepat dan amat kuat, serangannya susul-menyusul sehingga terpaksa Resi Bhargowo menggunakan ilmu kesaktiannya, dengan Aji Bayu Tantra ia berkelit ke sana ke mari dengan amat gesitnya. Mengagumkan sekali kalau dilihat betapa seorang kakek yang sudah tua, rambutnya sudah putih semua seperti Resi Bhargowo ini, masih dapat bergerak sedemikian gesitnya, tiada ubahnya seekor burung sriti yang bergerak melesat ke sana-sini menghindarkan diri dar ipada ancaman ruyung maut. SAKING cepatnya gerakan ruyung, terdengar suara "werrwerr-werr!" tiada hentinya dan daun-daun di dahan pohon bergoyang-goyang seperti tertiup angin keras. Kelihatannya Sang Resi Bhargowo terdesak dan tak mampu membalas, padahal sesungguhnya, pertapa sakti yang tenang ini sedang menanti kesempatan baik untuk sekali pukul meruntuhkan lawan. Ketika ruyung itu lewat dari atas hendak menghantam kepalanya, ia menanti dan sengaja memperlambat gerakan.
"Remuk kepalamu!" Gagak Rudro sudah berseru girang sekali, yakin bahwa kali ini ruyungnya tentu akan mendapat "makanan" otak dan darah kepala yang remuk.
"Werr ........ wuuutttt!!"
Ruyung meluncur cepat karena Resi Bhargowo baru dekat, maka ruyung itu tidak dapat ditahan oleh Gagak Rudro, terus meluncur ke bawah dan menghantam tanah. Akan tetapi kali ini Resi Bhargowo sudah melihat kesempatan baik. Jari-jari tangan kirinya menyambar ke depan dan "krakk!!! " pangkal lengan kanan Gagak Rudro dekat pundak patah tulangnya dan ruyungnya terlepas dari pegangan.
"Aduhh ........ , tobat........ !"
Gagak Rudro berteriak kesakitan dan menggulingkan tubuh menjauhi lawan, takut menerima hantaman ke dua. Akan tetapi Resi Bhargowo tidak menyerang lagi, melainkan berdiri tegak dan tersenyum pahit.
"Orang-orang macam kalian ini masih berani membikin ribut? Hayo, kalau masih belum bertobat, majulah lagi, keluarkan semua kedigdayaan kalian, sepasang Gagak yang jahat! Kalau sudah mengaku kalah, pergilah dan ajak kelima orang anak buahmu!"

Tiba-tiba terdengar suara mendeis-desis ketika Gagak Kunto dan Gagak Rudro pergi diikuti lima orang anak buah mereka yang tadi roboh oleh Joko Wandiro. Suara mendesis-desis ini makin tajam dan nyaring setelah tujuh orang itu tak tampak bayangannya lagi. Kemudian terdengar bentakan dengan suara parau.

<<< Bagian 075                                                                                     Bagian 077 >>>

No comments:

Post a Comment