Ia berusaha untuk membabitkan golok besarnya sambil memutar tubuh menghadapi Joko Wandiro, namun ia kalah gesit. Tiba-tiba ia menjerit keras, lengan kanannya termakan golok Joko Wandiro yang menggunting sehingga terpaksa ia melepaskan golok besarnya sambil melompat mundur memegangi lengan kanan yang
mengucurkan
darah.
Joko Wandiro
tidak berhenti sampai di situ saja. Melihat hasil serangannya, ia melanjutkan
gerakan kakinya, dengan gerakan mantap mengatur langkah-langkah maju dalam
gerak ilmu silat Ilmu Golok Lebah Putih, sepasang goloknya mendesing-desing
ketika diputar ke depan. Empat orang lawannya juga sudah menghadapinya, marah
sekali melihat seorang kawan mereka dikalahkan.
"Ommm
........ damai-damai-damai jangan kotorkan tempat ini dengan darah ........
!"
Terdengar
suara halus dan tiba-tiba saja Joko Wandiro dan keempat orang lawannya merasa
kedua lengan mereka lemas sehingga semua senjata yang dipegang terlepas dan
runtuh ke atas tanah!.
Joko Wandiro
seorang yang cerdik. Ia tadi melirik dan melihat bahwa ucapan itu keluar dari
mulut pendeta yang sejak tadi duduk diam di depan, kemudian melihat pula betapa
tangan kiri pendeta itu digerakkan ke depan, maka tahulah ia bahwa yang
menjatuhkan semua senjata itu adalah hawa pukulan jarak jauh yang hebat luar
biasa! Ia tahu pula bahwa pendeta yang sakti itu tidak menghendaki pertumpahan
darah. Adapun keempat orang tinggi besar itu menjadi makin marah, tidak
mengerti mengapa semua senjata mereka terlepas begitu saja dari pegangan.
Mereka mengira bahwa bocah itulah yang main gila, maka dengan gerakan ganas
mereka lalu maju menubruk, kedua lengan dikembangkan, jari-jari tangan terbuka
siap mencekik leher, mulut terbuka lebar tiada ubahnya harimau-harimau lapar
menubruk mangsa!
Namun Joko
Wandiro sudah bergerak lebih cepat daripada mereka yang lamban dan hanya
mengandalkan kekuatan tubuh. Dengan menyelinap ke kiri, ia membuat tubrukan
empat orang itu gagal, kemudian sebelum empat orang itu mampu menerjangnya
lagi, selagi mereka terhuyung ke depan, dari samping Joko Wandiro menghantam
seorang diantara mereka yang terdekat dengan menggunakan pukulan Pethit Nogo.
"Trakk!!"
Jari-jari
tangan yang kecil itu dilecutkan ke arah iga dan biarpun jari tangan itu tidak
berapa besar, namun mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila. Seketika
si tinggi besar itu menjerit kesakitan, roboh bergulingan dan mengaduh-aduh,
tak dapat bangkit kembali karena dua buah tulang iganya patah!. Mendapatkan
kemenangan ini, besar hati Joko Wandiro. Ia tidak menanti sisa lawannya yang
tiga orang lagi itu bergerak. Selagi mereka bengong saking heran melihat bocah
itu mampu merobohkan seorang kawan lagi hanya dalam segebrakan, ia telah
meloncat maju, gerakannya cepat, kaki tangannya bergerak laksana halilintar
menyambar dan terdengarlah pekik susul-menyusul ketika tiga orang itu dihajar
tendangan dan pukulan ampuh sehingga tubuh mereka bergelimpangan. Hebat sepak
terjang Joko Wandiro, seperti Raden Gatotkaca mengamuk di antara keroyokan
buto-buto (raksasa) galak!. Mendapat kesempatan ini, selagi para lawannya jatuh
bangun, Joko Wandiro sudah menyambar sepasang goloknya lagi karena ia khawatir
kalau-kalau sepasang goloknya itu dirampas lawan. Pada saat ia membungkuk dan
mengambil sepasang goloknya, tiba-tiba ada angin keras menyambar dari depan.
Joko Wandiro terkejut, maklum bahwa ada serangan yang hebat. Cepat ia mengelak
sambil membabat dengan golok kanannya, akan tetapi tubuhnya terlempar dan golok
kanannya terlepas ketika sebuah kaki menyambar dengan kekuatan yang dahsyat!
Joko Wandiro
terbanting roboh, matanya berkunang-kunang akan tetapi ia tidak mengalami
cedera. Cepat ia menggulingkan tubuhnya ke arah golok yang terlepas tadi dan
begitu ia meloncat bangun, ia sudah siap dengan sepasang golok di tangan, menghadapi
segala kemungkinan dengan sikap gagah dan memasang kuda-kuda amat kokohnya.
Kiranya di sebelah depan telah berdiri dua orang laki-laki tinggi besar
berkulit hitam, rambutnya panjang terurai dan sepatutnya dua orang ini menjadi
raksasa-raksana dalam cerita jaman dahulu! Tidak hanya segala-galanya pada
kedua orang itu jauh lebih besar daripada orang biasa, juga mata mereka yang
besar menonjol keluar itu kemerahan, wajah mereka buas dan mengerikan. Agaknya
mereka itu saudara kembar, karena segala-galanya, dari rambut, wajah, bentuk
tubuh sampai pakaian mereka, serupa. Sukar sekali membedakan satu dari yang
lain kalau saja senjata mereka tidak berbeda. Yang seorang memegang sebatang
tombak yang dihias rambut di leher tombak, sedangkan orang ke dua memegang
sebatang ruyung yang bergigi, amat menyeramkan. Namun Joko Wandiro tidak
menjadi gentar. Sekali sudah terjun ke dalam gelanggang yuda, ia tidak mengenal
takut lagi. Dengan hati-hati ia bersiap sedia menghadapi dua lawan yang
nggegirisi (menggiriskan) ini. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan
eyang gurunya,
"Joko,
mundur kau!"
Joko Wandiro
tidak berani membantah, dan ia lalu mengundurkan diri, kembali duduk bersila
seperti tadi, di mulut guha di belakang Resi Jatinendra. Adapun Resi Bhargowo
kini sudah berdiri dan dengan langkah tenang ia maju ke depan menyambut dua
orang raksasa itu.
"Anak
baik, kau patut menjadi cucu murid adi resi" demikian bisikan Empu Bharodo
di sebelah kanan Joko Wandiro.
Anak ini
menengok dan melihat betapa kakek itu tersenyum ramah, lalu membungkuk dengan
sikap merendah. Kemudian mereka lalu memandang ke depan untuk menonton
bagaimana Resi Bhargowo akan menghadapi dua orang lawan yang buas itu. Resi
Bhargowo bersikap tenang saja. Sejenak ia beradu pandang dengan kedua lawannya,
kemudian ia berkata,
"Kisanak,
siapakah gerangan andika berdua? Dan mempunyai keperluan apa mendatangi
pertapaan Jalatunda?"
"Heh-heh-heh,
aku adalah Gagak Kunto!" jawab raksasa yang memegang lembing atau tobak
berhias rambut.
"Dan
akulah Gagak Rudro!" jawab orang ke dua sambil mengamang-amangkan senjata
ruyungnya yang mengerikan.
Resi Bhargowo
sudah menduga akan hal ini. Tentu saja dia sudah mendengar nama kedua orang ini
yang merupakan jagoan-jagoan dari Kerajaan Wengker yang sudah hancur. Tadi
ketika mendengar suara burung gagak yang diikuti oleh semua burung lain, dia
sudah dapat menduga bahwa suara itu bukan keluar dari mulut burung gagak
sewajarnya. Kiranya kedua orang "Gagak" inilah yang datang! Dia sudah
mendengar bahwa Gagak Kunto dan Gagak Rudro (Gagak Bertombak dan Gagak Buas)
adalah bekas perwira-perwira Kerajaan Wengker, orang-orang kepercayaan mendiang
Sang Prabu Baka dan memiliki kesaktian-kesaktian tinggi, yang merupakan
ahli-ahli ilmu hitam seperti biasa dimikili para jagoan Wengker. Maka ia
bersikap hati-hati dan menanti keterangan selengkapnya.
Melihat betapa
pertapa yang kelihatan kecil itu tidak kaget mendengar nama mereka, Gagak Kunto
berkata lagi, suaranya membentak marah,
"Tua
bangka kecil kurus kering, kau minggirlah! Kami datang mewakili kakang
Wirokolo!"
"Hemmm,
kalau Wirokolo ada niat menghadap Sang Agung Resi Jatinendra, mengapa ia tidak
langsung menghadap sendiri? Mengapa ia menyuruh pula kalian? Mundurlah, dan
sampaikan kepada Wirokolo bahwa lebih baik dia sendiri yang maju."
Dua orang
raksasa itu makin marah.
"Heh,
keparat sombong, siapakah engkau berani menentang sepasang Gagak Sakti? Apakah
kau sudah bosan hidup?"
"Gagak
Kunto dan Gagak Rudro, aku bicara baik-baik kepada kalian, sebaliknya kalian
begitu jumawa. Ketahuilah, aku adalah Bhagawan Rukmoseto."
"Bhagawan
Rukmoseto??" Gagak Kunto mengulang, mengingat-ingat nama yang tak
dikenalnya ini.
"Ya,
dahulu disebut Resi Bhargowo."
"Ha-ha-ha!
Resi Bhargowokah kiranya engkau, tua Bangka kerdil? Minggirlah, apa kau belum
mendengar nama Gagak Kunto? Minggir dan biarkan kami bicara dengan Sang Prabu
Airlangga!"
"Hemm!
Wirokolo hanya seorang senopati taklukan, namun masih mewakilkan orang-orang
kasar macam kalian. Tentu saja kalian tidak cukup berharga untuk menghadap Sang
Agung Resi Jatinendra, dan akulah wakil beliau untuk menandingi segala
tingkahmu!"
"Aauugggh,
bojleng iblis laknat! Bhargowo, berani engkau melawan senjata pusakaku
ini?" Gagak Kunto mengamangkan tombaknya.
"Majulah,
siapa takut kepadamu?"
"Keparat
sombong! Hayo keluarkan senjatamu!"
"Senjataku
adalah kebenaran. Majulah kalian berdua, aku takkan mundur setapakpun!"
"Babo-babo
.......!!"
Gagak Rudro
tak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia mendahului saudaranya, menerjang
dengan ruyungnya yang mengerikan.
"Wuuuuuttt.......!!"
Angin besar menyambar ketika ruyung ini bergerak. Namun dengan gerakan ringan
dan sikap tenang sekali Resi Bhargowo menggeser kaki miringkan tubuh. Ruyung
itu lewat di samping tubuhnya bagaikan waringin tumbang, menghantam tanah
membuat batu-batu kerikil pecah dan terbang berhamburan disusul debu mengepul
tebal.
Serangan gagal
ini dalam detik selanjutnya sudah disusul tombak meluncur bagaikan kilat
menyambar, menusuk ke arah dada Resi Bhargowo. Demikian cepatnya serangan maut
ini sehingga Joko Wandiro yang menonton merasa ngeri dan khawatir. Baginya,
eyang gurunya terlalu tenang, sehingga tampaknya seperti lambat. Kalau dia yang
diserang tombak seperti itu, tentu sudah cepat-cepat meloncat ke samping. Akan
tetapi eyang gurunya seakan-akan menanti datangnya ujung mata tombak, dan
setelah kurang sejengkal dari kulit dadanya, barulah eyang gurunya itu
miringkan tubuh tanpa menggeser kaki! Sebuah kelitan yang amat berbahaya dan
pula amat berani, namun juga merupakan awal jurus yang ampuhnya menggiriskan!
Hanya beberapa detik saja terjadinya, tahu-tahu tombak yang meluncur lewat itu
telah tertangkap di bawah ketiak lengan kiri sang resi, dikempit dengan
pengerahan tenaga dalam, kemudian dalam detik berikutnya disusul dengan
tamparan yang menggunakan jari tangan kanan.
"Werr
....... plakkk!!"
Itulah
tamparan Pethit Nogo yang tepat mengenai pundak kiri Gagak Kunto! Joko Wandiro
hampir saja bersorak menyaksikan hasil mentakjubkan eyang gurunya dalam jurus
pertama ini. Tubuh Gagak Kunto seperti kemasukan aliran halilintar, matanya
terbelalak rambutnya bangkit berdiri kemudian tubuhnya mencelat ke belakang
sampai lima meter jauhnya, lalu terbanting roboh dan di situ ia terengah-engah
sambil memegangi pundaknya. Biarpun ia memiliki kekebalan, namun pukulan Pethit
Nogo tadi berhasil meremukkan tulang pundaknya!
"Si
keparat Bhargowo ....... ! Berani kau ....... menjatuhkan saudaraku ??"
Dengan muka
merah dan mata terbelalak mulut berliur saking marahnya, Gagak Rudro menubruk
dan menggerakkan ruyungnya yang besar dan berat itu, mengancam kepala dan tubuh
lawan. Gerakannya cepat dan amat kuat, serangannya susul-menyusul sehingga
terpaksa Resi Bhargowo menggunakan ilmu kesaktiannya, dengan Aji Bayu Tantra ia
berkelit ke sana ke mari dengan amat gesitnya. Mengagumkan sekali kalau dilihat
betapa seorang kakek yang sudah tua, rambutnya sudah putih semua seperti Resi
Bhargowo ini, masih dapat bergerak sedemikian gesitnya, tiada ubahnya seekor
burung sriti yang bergerak melesat ke sana-sini menghindarkan diri dar ipada ancaman
ruyung maut. SAKING cepatnya gerakan ruyung, terdengar suara
"werrwerr-werr!" tiada hentinya dan daun-daun di dahan pohon
bergoyang-goyang seperti tertiup angin keras. Kelihatannya Sang Resi Bhargowo
terdesak dan tak mampu membalas, padahal sesungguhnya, pertapa sakti yang
tenang ini sedang menanti kesempatan baik untuk sekali pukul meruntuhkan lawan.
Ketika ruyung itu lewat dari atas hendak menghantam kepalanya, ia menanti dan
sengaja memperlambat gerakan.
"Remuk
kepalamu!" Gagak Rudro sudah berseru girang sekali, yakin bahwa kali ini
ruyungnya tentu akan mendapat "makanan" otak dan darah kepala yang
remuk.
"Werr
........ wuuutttt!!"
Ruyung
meluncur cepat karena Resi Bhargowo baru dekat, maka ruyung itu tidak dapat
ditahan oleh Gagak Rudro, terus meluncur ke bawah dan menghantam tanah. Akan
tetapi kali ini Resi Bhargowo sudah melihat kesempatan baik. Jari-jari tangan
kirinya menyambar ke depan dan "krakk!!! " pangkal lengan kanan Gagak
Rudro dekat pundak patah tulangnya dan ruyungnya terlepas dari pegangan.
"Aduhh
........ , tobat........ !"
Gagak Rudro
berteriak kesakitan dan menggulingkan tubuh menjauhi lawan, takut menerima
hantaman ke dua. Akan tetapi Resi Bhargowo tidak menyerang lagi, melainkan
berdiri tegak dan tersenyum pahit.
"Orang-orang
macam kalian ini masih berani membikin ribut? Hayo, kalau masih belum bertobat,
majulah lagi, keluarkan semua kedigdayaan kalian, sepasang Gagak yang jahat!
Kalau sudah mengaku kalah, pergilah dan ajak kelima orang anak buahmu!"
Tiba-tiba
terdengar suara mendeis-desis ketika Gagak Kunto dan Gagak Rudro pergi diikuti
lima orang anak buah mereka yang tadi roboh oleh Joko Wandiro. Suara
mendesis-desis ini makin tajam dan nyaring setelah tujuh orang itu tak tampak
bayangannya lagi. Kemudian terdengar bentakan dengan suara parau.
No comments:
Post a Comment