Badai Laut Selatan ; Bagian 077


"Babo-babo, Resi Bhargowo! Sumbarmu seperti dapat menumbangkan puncak Mahameru! Jangan tekebur hanya karena dapat mengalahkan segala prajurit rendahan. Akulah lawanmu!!" mendadak terdengar suara keras seperti pohon beringin tumbang dan sesosok tubuh tinggi besar menyambar turun, kini berdiri tegak di depan Resi Bhargowo. Joko Wandiro yang memandang penuh perhatian, terkejut melihat raksasa yang baru muncul ini. Tubuhnya sama tinggi besar dengan sepasang gagak tadi, akan tetapi wajahnya lebih menyeram kan karena berwarna merah. Bibirnya yang pucat tak dapat rapat menutup giginya yang besar-besar dan di kedua ujungnya bertaring! Matanya melotot dan tak pernah kelihatan berkedip. Tubuhnya bagian atas tidak berbaju sehingga tampak otot-otot sebesar dadung membelit-belit tubuh yang kulitnya berbulu itu. Akan tetapi yang paling menyeramkan adalah lima ekor ular belang yang menghias tubuhnya. Seekor yang paling panjang membelit leher seperti kalung, dua ekor di kedua pergelangan tangan dan dua ekor pula membelit pergelangan kaki yang telanjang. Lima ekor ular berbisa inilah yang mengeluarkan suara mendesis-desis itu.
"Wirokolo! Akhirnya engkau muncul juga! Engkau mau apa? Jangan kira Resi Bhargowo takut kepadamu!"
"Haaaahhh! Sombong sekali engkau, keparat! Rasakanlah ampuhnya Anolo Hasto (Tangan Api)!"
Berkata demikian, Wirokolo menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan dari kedua telapak tangan yang saling digosokkan itu mengepul asap hitam dan tercium bau sengit seperti kulit atau rambut terbakar. Kedua telapak tangan itu kini tampak merah seperti besi dibakar. Kemudian Wirokolo bertepuk tangan. Terdengar ledakan seperti geledek dan tampak bunga api berpijar! Benar-benar ilmu yang mujijat dan dahsyat. Tiba-tiba Wirokolo membentak keras tubuhnya yang tinggi besar itu menerjang maju, kedua tangannya menampar bertubi-tubi.
Resi Bhargowo dengan sikapnya yang tenang itu mengelak sambil menangkis, karena gerakan lawan yang sedemikian cepatnya, mengimbangi gerakannya sendiri Aji Bayu Tantra, tak mungkin dihadapi dengan kelitan-kelitan saja, harus dihadapi dengan tangkisan, keras lawan keras.
"Desss.......!!"

Benturan kedua tangan orang-orang sakti ini merupakan pertemuan dua tenaga dahsyat. Dari tangan Wirokolo memercik bunga api menyilaukan mata dan terjangannya tertahan, Akan tetapi Resi Bhargowo terhuyung-huyung ke belakang, terdorong oleh tenaga lawan yang bukan main dahsyatnya!
"Huah-hah-hah-hah! Sebegitu saja kekuatanmu, Resi Bhargowo?"
Wirokolo mengejek sambil menerjang terus menggunakan kedua tangannya yang seakan-akan telah berubah menjadi dua tangan baja membara. Memang hebat kepandaian Wirokolo ini. Hal ini tidaklah amat mengherankan kalau diingat bahwa ia bekas senopati Kerajaan Wengker dan merupakan senopati yang sakti nomor dua sesudah Dibyo Mamangkoro. Wirokolo adalah adik seperguruan Dibyo Mamangkoro, dan dalam perang antara Wengker melawan pasukan Kahuripan dahulu, dia merupakan lawan tangguh yang hanya dapat dipukul mundur setelah banyak perwira tewas dan akhirnya Ki Patih Narotama sendiri yang turun tangan di medan yuda. Semenjak kekalahannya dalam perang itu yang mengakibatkan tewasnya Sang Prabu Boko di tangan Sang Prabu Airlangga sendiri dan hancurnya Kerajaan Wengker, seperti juga Dibyo Mamangkoro, senopat Wirokolo ini lari menyembunyikan diri dan bertapa sambil menggembleng diri sehingga ilmu kepandaiannya meningkat tinggi. Resi Bhargowo bukanlah tokoh sembarangan. Dengan Aji Bayu Tantra dan ilmu pukulan Phetit Nogo dia sudah merupakan seorang sakti yang jarang tandingannya, apalagi dia telah memiliki tenaga sakti yang bertingkat tinggi. Dalam pertandingan di Pulau Sempu, menghadapi serbuan para utusan Pangeran Anom, Resi Bhargowo telah membuktikan kesaktiannya. Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan Wirokolo, dia benar-benar terdesak dan jelas bahwa tingkat kesaktiannya kalah tinggi dengan ajinya Bayu Tantra, Resi Bhargowo hanya dapat mengelak untuk menyelamatkan diri dari serbuan kedua tangan membara itu. Ada kalanya ia mampu membalas sekali dua dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh, namun pukulan inipun membalik ketika bertemu dengan hawa Anolo Hasto yang panas seperti Kawah Condrodimuka. Juga pukulan Pethit Nogo yang tidak terlalu tepat kenanya, tidak mempan terhadap tubuh Wirokolo yang keras dan kebal. Hanya dalam kecepatan saja Resi Bhargowo dapat mengimbangi lawan sehingga ia masih dapat bertahan, namun jelas bahwa pukulan-pukulannya kalah ampuh dan tenaga dalamnya kalah kuat.
"Huah-hah-hah! Resi Bhargowo, begini saja kekuatanmu? Hah-hah-hah!"
Wirokolo terkekeh-kekeh dan ia benar-benar menguasai pertandingan itu sehingga kini Resi Bhargowo sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas, melainkan meloncat ke sana ke mari, mengelak dan sedapat mungkin menangkis. Namun setiap kali menangkis, ia terpental dan terhuyung-huyung.
“Wirokolo manusia iblis! Masih belum bertobat engkau sejak dahulu?"

Suara ini keluar dari mulut Empu Bharodo yang ternyata sudah maju dan membantu adik seperguruannya. Begitu suaranya terdengar, orangnya sudah datang dan tangannya sudah menampar. Bukan main cepatnya gerakan Empu Bharodo. Memang, dalam hal ilmu meringankan tubuh dan gerak cepat, agaknya sukar dicari bandingnya karena Empu Bharodo memiliki Aji Bayu Sakti! Gerakannya ringan dan cepat sekali sehingga tahu-tahu tangannya menampar seperti kilat, tak sempat ditangkis maupun dielakkan lagi oleh Wirokolo.
"Plakk!"
Tamparan itu tepat mengenai dada Wirokolo, sebuah tamparan dahsyat yang didasari ilmu pukulan Jonggring Saloko.
"Huah-hah-hah! Tanganmu empuk seperti tangan perempuan, Empu Bharodo pendeta cacingen!"
Wirokolo yang hanya tergeser selangkah oleh tamparan itu tertawa mengejek lalu balas memukul dengan tangannya yang merah membara. Namun dengan amat cepatnya Empu Bharodo mengelak sehingga pukulan ini mengenai tempat kosong. Juga desakan yang bertubi-tubi merupakan pukulan berantai sampai tujuh kali, sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju si pertapa yang amat cepat gerakannya ini. Setelah Empu Bharodo turun tangan membantu Resi Bhargowo, pertandingan menjadi lebih ramai, tidak berat sebelah seperti tadi. Kalau tadi Resi Bhargowo terdesak hebat dan hanya mampu mengelak ke sana ke mari, sekarang dengan bantuan Empu Bharodo keadaan berubah. Biarpun tubuh Wirokolo kebal dan amat sakti sehingga tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo maupun pukulan Jonggring Saloko, namun karena kini kedua orang pertapa itu menunjukan pukulan-pukulan mereka ke bagian- bagian tubuh yang lemah, raksasa yang sakti itu menjadi repot juga. Ia sudah mengamuk dan balas memukul atau mencengkeram dengan kedua tangan yang membara, namun gerakan kedua orang lawannya itu terlalu gesit sehingga semua balasan serangannya gagal.
"Plakk !! Dess ...... !!"
Tamparan Pethit Nogo oleh jari tangan Resi Bhargowo mengenai pundaknya dan selagi terhuyung, ia dihantam oleh tangan kiri Empu Bharodo yang mengenai lambungnya. Biarpun dua pukulan ampuh ini tidak merobohkannya, namun cukup membuat tulang pundak ngilu dan perut mulas. Bangkitlah kemarahan Wirokolo. Untuk mempergunakan ilmu hitam seperti tadi, ia maklum tidak akan ada gunanya karena Empu Bharodo adalah seorang ahli dalam hal ilmu sihir, sehingga ilmu hitam seperti yang telah ia keluarkan tadi, yaitu Calon Arang, juga dapat dipukul buyar.
Maka kini Wirokolo mengeluarkan teriakan keras sekali sehingga bumi seakan goncang, pohon-pohon bergoyang dan banyak daun pohon berguguran. Di saat lain Wirokolo telah menerjang maju dengan hebat sekali. Kini ular-ular yang tadinya melingkar di pergelangan tangannya, ikut bergerak dan setiap kali ia menghantam, maka ular di pergelangan tangan ikut pula menyambar dan menggigit. Demikian pula ular-ular di kedua kakinya. Bahkan ular di lehernya mengulur leher dan menyemburkan uap berbisa! Semua ini masih ditambah lagi dengan sepasang tombak pendek yang entah kapan telah dicabut oleh Wirokolo dari belakang pinggangnya.

Hebat bukan main raksasa ini sehingga Resi Bhargowo dan Empu Bharodo terkejut juga dan melompat mundur. Empu Bharodo cepat mengeluarkan tombaknya, tombak pusaka yang tadi ia letakkan di depan guha, sedangkan Resi Bhargowo juga menyambar tombak milik Gagak Kunto yang tadi ia rampas. Mereka kini sudah siap dengan senjata di tangan, siap untuk bertanding mati-matian menghadapi lawan yang amat sakti itu.
"Kakang berdua Bharodo dan Bhargowo, harap kalian mundur dan biarkan Wirokolo menjumpai aku."
Suara ini halus, namun mengandung getaran penuh wibawa. Mendengar suara ini, seketika kedua orang pertapa itu melangkah mundur dan kembali duduk bersila di tempat semula. Napas mereka agak terengah, tanda bahwa pertandingan melawan Wirokolo tadi benar-benar amat berat bagi mereka yang sudah berusia lanjut.
Diam-diam Joko Wandiro merasa khawatir sekali. Kalau kedua orang kakek sakti ini tidak mampu mengalahkan lawan, bagaimanakah kakek di depan itu akan menghadapinya seorang diri?
Sementara itu, Wirokolo dengan kedua tombak pendek di tangan, tertawa bergelak sampai perutnya yang besar bergerak-gerak dan mukanya yang beringas menengadah. Kemudian ia menghentikan tawanya dan melangkah maju menghampiri Resi Jatinendra yang masih duduk bersila, akan tetapi kini tidak bersamadhi lagi, sepasang matanya terbuka, memandang penuh kelembutan dan bibirnya tersenyum ramah.
"Kisanak, apakah kau yang bernama Wirokolo?"
Pertanyaan ini terdengar halus dan sedikitpun tidak membayangkan kemarahan atau permusuhan.
"Huah-hah-hah! Sang Prabu Airlangga, betul aku Wirokolo!"
"Wirokolo, aku sekarang bukan lagi sang prabu, melainkan Resi Gentayu atau Resi Jatinendra. Andika bertekad datang ke Jalatunda, ada keperluan apakah? Katakan jangan meragu karena apapun permintaanmu, jika aku kuasa memberi, akan kuberikan kepadamu."
"Huah-hah, Raja Airlangga! Jangan coba bersembunyi di balik kedok pertapa! Setelah kedua orang jagoanmu tak dapat mengalahkan aku, engkau lalu menggunakan kata-kata manis untuk menyenangkan hatiku? Engkau menjadi ketakutan? Takut kepadaku? Hah-hah, Sang Prabu Airlangga yang dahulu disohorkan gagah perkasa itu kini menjadi seperti harimau kehilangan kukunya, garuda kehilangan sayapnya!"

Di dalam hatinya Joko Wandiro terkejut ketika mendengar bahwa kakek pertapa yang tenang dan ramah itu ternyata adalah sang prabu sendiri! Hatinya berdebar penuh kekhawatiran, akan tetapi melihat sikap yang kurang ajar dan sombong dari Wirokolo, jiwa satrianya memberontak, semua urat syaraf di tubuhnya menegang dan hampir tak dapat ia menahan dirinya yang hendak meloncat dan menandingi raksasa sakti itu. Akan tetapi Sang Prabu Airlangga atau Resi Jatinendra sendiri sama sekali tidak kelihatan marah mendengar ejekan dan cemoohan itu, melainkan tersenyum dan suaranya tetap halus dan ramah,
"Satu-satunya hal yang kutakuti di dunia ini hanyalah kalau-kalau aku menyeleweng daripada kebenaran tanpa kusadari, Wirokolo. Selain itu, tidak ada yang kutakuti, juga engkau tidak. Aku telah sadar, Wirokolo, bahwa penggunaan kekerasan adalah penyelewengan manusia yang paling parah. Dari kekerasan inilah timbulnya segala perkosaan dan kerusakan, wahai kisanak, demi kebaikanmu sendiri, hentikanlah segala kekerasanmu dan katakanlah apa yang kau kehendaki dan aku akan memberikannya kepadamu."
Sejenak sunyi menyambut ucapan yang amat sedap didengar ini. Suasana sunyi yang mengamankan hati, sunyi yang amat indah di mana tidak ada sesuatu yang mengganggu perasaan. Akan tetapi hanya sebentar karena segera terganggulah getaran damai yang timbul dari sabda sang resi itu oleh suara Wirokolo,
"Heh, Airlangga! Siapa percaya obrolanmu? Kau tanya apa kehendakku? Aku menghendaki nyawamu! Lihat, aku akan membunuhmu!!"
Wirokolo mengamang-amangkan kedua tombaknya dengan sikap mengancam sambil melangkah makin dekat. Akan tetapi sang resi tersenyum, kemudian terdengar kata-katanya penuh wibawa sehingga ucapan yang keluar dari mulut sang resi mengandung getaran dan gema,
"Hai Wirokolo, dengarlah baik-baik selagi engkau mendapat kesempatan mendengar kebenaran ini. Siapakah engkau ini yang akan dapat membunuh Aku? Siapakah engkau ini yang akan dapat menentukan mati hidup seseorang? Yang tidak berawal takkan berakhir, dan Aku tidak berawal, maka tidak berakhir pula. Yang tidak terlahir, takkan mati, dan Aku tidak terlahir. Yang berawal dan terlahir hanyalah tubuhku, maka yang berakhir atau mati kelak hanya tubuhku. Jangan kira engkau akan dapat membunuhku, oh, Wirokolo, engkau tersesat amat jauh kalau berpikir demikian! Sebaliknya tubuhku ini takkan terluput daripada kematian, namun jangan pula mengira bahwa engkau yang akan menentukan mati hidup tubuhku, karena hal itu tidak berada dalam kekuasaanmu atau kekuasaan siapapun juga.Di samping bahwa engkau tidak berdaya untuk menguasai mati hidup seseorang, juga aku telah diwajibkan menjaga wadah di mana aku tinggal berupa tubuh ini, Wirokolo! Karena kalau tidak kulakukan hal itu, maka berarti meninggalkan wajib dan hal ini menyalahi keadaan!"

<<< Bagian 076                                                                                    Bagian 078 >>>

No comments:

Post a Comment