"Babo-babo, Resi Bhargowo! Sumbarmu seperti dapat menumbangkan puncak Mahameru! Jangan tekebur hanya karena dapat mengalahkan segala prajurit rendahan. Akulah lawanmu!!" mendadak terdengar suara keras seperti pohon beringin tumbang dan sesosok tubuh tinggi besar menyambar turun, kini berdiri tegak di depan Resi Bhargowo. Joko Wandiro yang memandang penuh perhatian, terkejut melihat raksasa yang baru muncul ini. Tubuhnya sama tinggi besar dengan sepasang gagak tadi, akan tetapi wajahnya lebih menyeram kan karena berwarna merah. Bibirnya yang pucat tak dapat rapat menutup giginya yang besar-besar dan di kedua ujungnya bertaring! Matanya melotot dan tak pernah kelihatan berkedip. Tubuhnya bagian atas tidak berbaju sehingga tampak otot-otot sebesar dadung membelit-belit tubuh yang kulitnya berbulu itu. Akan tetapi yang paling menyeramkan adalah lima ekor ular belang yang menghias tubuhnya. Seekor yang paling panjang membelit leher seperti kalung, dua ekor di kedua pergelangan tangan dan dua ekor pula membelit pergelangan kaki yang telanjang. Lima ekor ular berbisa inilah yang mengeluarkan suara mendesis-desis itu.
"Wirokolo!
Akhirnya engkau muncul juga! Engkau mau apa? Jangan kira Resi Bhargowo takut
kepadamu!"
"Haaaahhh!
Sombong sekali engkau, keparat! Rasakanlah ampuhnya Anolo Hasto (Tangan
Api)!"
Berkata
demikian, Wirokolo menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan dari kedua
telapak tangan yang saling digosokkan itu mengepul asap hitam dan tercium bau
sengit seperti kulit atau rambut terbakar. Kedua telapak tangan itu kini tampak
merah seperti besi dibakar. Kemudian Wirokolo bertepuk tangan. Terdengar
ledakan seperti geledek dan tampak bunga api berpijar! Benar-benar ilmu yang
mujijat dan dahsyat. Tiba-tiba Wirokolo membentak keras tubuhnya yang tinggi
besar itu menerjang maju, kedua tangannya menampar bertubi-tubi.
Resi Bhargowo
dengan sikapnya yang tenang itu mengelak sambil menangkis, karena gerakan lawan
yang sedemikian cepatnya, mengimbangi gerakannya sendiri Aji Bayu Tantra, tak
mungkin dihadapi dengan kelitan-kelitan saja, harus dihadapi dengan tangkisan,
keras lawan keras.
"Desss.......!!"
Benturan kedua
tangan orang-orang sakti ini merupakan pertemuan dua tenaga dahsyat. Dari
tangan Wirokolo memercik bunga api menyilaukan mata dan terjangannya tertahan,
Akan tetapi Resi Bhargowo terhuyung-huyung ke belakang, terdorong oleh tenaga
lawan yang bukan main dahsyatnya!
"Huah-hah-hah-hah!
Sebegitu saja kekuatanmu, Resi Bhargowo?"
Wirokolo
mengejek sambil menerjang terus menggunakan kedua tangannya yang seakan-akan
telah berubah menjadi dua tangan baja membara. Memang hebat kepandaian Wirokolo
ini. Hal ini tidaklah amat mengherankan kalau diingat bahwa ia bekas senopati
Kerajaan Wengker dan merupakan senopati yang sakti nomor dua sesudah Dibyo
Mamangkoro. Wirokolo adalah adik seperguruan Dibyo Mamangkoro, dan dalam perang
antara Wengker melawan pasukan Kahuripan dahulu, dia merupakan lawan tangguh
yang hanya dapat dipukul mundur setelah banyak perwira tewas dan akhirnya Ki Patih
Narotama sendiri yang turun tangan di medan yuda. Semenjak kekalahannya dalam
perang itu yang mengakibatkan tewasnya Sang Prabu Boko di tangan Sang Prabu
Airlangga sendiri dan hancurnya Kerajaan Wengker, seperti juga Dibyo
Mamangkoro, senopat Wirokolo ini lari menyembunyikan diri dan bertapa sambil
menggembleng diri sehingga ilmu kepandaiannya meningkat tinggi. Resi Bhargowo
bukanlah tokoh sembarangan. Dengan Aji Bayu Tantra dan ilmu pukulan Phetit Nogo
dia sudah merupakan seorang sakti yang jarang tandingannya, apalagi dia telah
memiliki tenaga sakti yang bertingkat tinggi. Dalam pertandingan di Pulau
Sempu, menghadapi serbuan para utusan Pangeran Anom, Resi Bhargowo telah
membuktikan kesaktiannya. Akan tetapi sekarang, berhadapan dengan Wirokolo, dia
benar-benar terdesak dan jelas bahwa tingkat kesaktiannya kalah tinggi dengan
ajinya Bayu Tantra, Resi Bhargowo hanya dapat mengelak untuk menyelamatkan diri
dari serbuan kedua tangan membara itu. Ada kalanya ia mampu membalas sekali dua
dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh, namun pukulan inipun membalik ketika
bertemu dengan hawa Anolo Hasto yang panas seperti Kawah Condrodimuka. Juga
pukulan Pethit Nogo yang tidak terlalu tepat kenanya, tidak mempan terhadap
tubuh Wirokolo yang keras dan kebal. Hanya dalam kecepatan saja Resi Bhargowo
dapat mengimbangi lawan sehingga ia masih dapat bertahan, namun jelas bahwa
pukulan-pukulannya kalah ampuh dan tenaga dalamnya kalah kuat.
"Huah-hah-hah!
Resi Bhargowo, begini saja kekuatanmu? Hah-hah-hah!"
Wirokolo
terkekeh-kekeh dan ia benar-benar menguasai pertandingan itu sehingga kini Resi
Bhargowo sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas, melainkan meloncat
ke sana ke mari, mengelak dan sedapat mungkin menangkis. Namun setiap kali
menangkis, ia terpental dan terhuyung-huyung.
“Wirokolo
manusia iblis! Masih belum bertobat engkau sejak dahulu?"
Suara ini
keluar dari mulut Empu Bharodo yang ternyata sudah maju dan membantu adik
seperguruannya. Begitu suaranya terdengar, orangnya sudah datang dan tangannya
sudah menampar. Bukan main cepatnya gerakan Empu Bharodo. Memang, dalam hal
ilmu meringankan tubuh dan gerak cepat, agaknya sukar dicari bandingnya karena
Empu Bharodo memiliki Aji Bayu Sakti! Gerakannya ringan dan cepat sekali
sehingga tahu-tahu tangannya menampar seperti kilat, tak sempat ditangkis
maupun dielakkan lagi oleh Wirokolo.
"Plakk!"
Tamparan itu
tepat mengenai dada Wirokolo, sebuah tamparan dahsyat yang didasari ilmu
pukulan Jonggring Saloko.
"Huah-hah-hah!
Tanganmu empuk seperti tangan perempuan, Empu Bharodo pendeta cacingen!"
Wirokolo yang
hanya tergeser selangkah oleh tamparan itu tertawa mengejek lalu balas memukul
dengan tangannya yang merah membara. Namun dengan amat cepatnya Empu Bharodo
mengelak sehingga pukulan ini mengenai tempat kosong. Juga desakan yang
bertubi-tubi merupakan pukulan berantai sampai tujuh kali, sama sekali tidak
dapat menyentuh ujung baju si pertapa yang amat cepat gerakannya ini. Setelah
Empu Bharodo turun tangan membantu Resi Bhargowo, pertandingan menjadi lebih
ramai, tidak berat sebelah seperti tadi. Kalau tadi Resi Bhargowo terdesak
hebat dan hanya mampu mengelak ke sana ke mari, sekarang dengan bantuan Empu
Bharodo keadaan berubah. Biarpun tubuh Wirokolo kebal dan amat sakti sehingga
tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo maupun pukulan Jonggring Saloko, namun
karena kini kedua orang pertapa itu menunjukan pukulan-pukulan mereka ke
bagian- bagian tubuh yang lemah, raksasa yang sakti itu menjadi repot juga. Ia
sudah mengamuk dan balas memukul atau mencengkeram dengan kedua tangan yang
membara, namun gerakan kedua orang lawannya itu terlalu gesit sehingga semua
balasan serangannya gagal.
"Plakk !!
Dess ...... !!"
Tamparan
Pethit Nogo oleh jari tangan Resi Bhargowo mengenai pundaknya dan selagi
terhuyung, ia dihantam oleh tangan kiri Empu Bharodo yang mengenai lambungnya.
Biarpun dua pukulan ampuh ini tidak merobohkannya, namun cukup membuat tulang
pundak ngilu dan perut mulas. Bangkitlah kemarahan Wirokolo. Untuk
mempergunakan ilmu hitam seperti tadi, ia maklum tidak akan ada gunanya karena
Empu Bharodo adalah seorang ahli dalam hal ilmu sihir, sehingga ilmu hitam
seperti yang telah ia keluarkan tadi, yaitu Calon Arang, juga dapat dipukul
buyar.
Maka kini
Wirokolo mengeluarkan teriakan keras sekali sehingga bumi seakan goncang,
pohon-pohon bergoyang dan banyak daun pohon berguguran. Di saat lain Wirokolo
telah menerjang maju dengan hebat sekali. Kini ular-ular yang tadinya melingkar
di pergelangan tangannya, ikut bergerak dan setiap kali ia menghantam, maka
ular di pergelangan tangan ikut pula menyambar dan menggigit. Demikian pula
ular-ular di kedua kakinya. Bahkan ular di lehernya mengulur leher dan
menyemburkan uap berbisa! Semua ini masih ditambah lagi dengan sepasang tombak
pendek yang entah kapan telah dicabut oleh Wirokolo dari belakang pinggangnya.
Hebat bukan
main raksasa ini sehingga Resi Bhargowo dan Empu Bharodo terkejut juga dan
melompat mundur. Empu Bharodo cepat mengeluarkan tombaknya, tombak pusaka yang
tadi ia letakkan di depan guha, sedangkan Resi Bhargowo juga menyambar tombak
milik Gagak Kunto yang tadi ia rampas. Mereka kini sudah siap dengan senjata di
tangan, siap untuk bertanding mati-matian menghadapi lawan yang amat sakti itu.
"Kakang
berdua Bharodo dan Bhargowo, harap kalian mundur dan biarkan Wirokolo menjumpai
aku."
Suara ini
halus, namun mengandung getaran penuh wibawa. Mendengar suara ini, seketika
kedua orang pertapa itu melangkah mundur dan kembali duduk bersila di tempat
semula. Napas mereka agak terengah, tanda bahwa pertandingan melawan Wirokolo
tadi benar-benar amat berat bagi mereka yang sudah berusia lanjut.
Diam-diam Joko
Wandiro merasa khawatir sekali. Kalau kedua orang kakek sakti ini tidak mampu
mengalahkan lawan, bagaimanakah kakek di depan itu akan menghadapinya seorang
diri?
Sementara itu,
Wirokolo dengan kedua tombak pendek di tangan, tertawa bergelak sampai perutnya
yang besar bergerak-gerak dan mukanya yang beringas menengadah. Kemudian ia
menghentikan tawanya dan melangkah maju menghampiri Resi Jatinendra yang masih
duduk bersila, akan tetapi kini tidak bersamadhi lagi, sepasang matanya
terbuka, memandang penuh kelembutan dan bibirnya tersenyum ramah.
"Kisanak,
apakah kau yang bernama Wirokolo?"
Pertanyaan ini
terdengar halus dan sedikitpun tidak membayangkan kemarahan atau permusuhan.
"Huah-hah-hah!
Sang Prabu Airlangga, betul aku Wirokolo!"
"Wirokolo,
aku sekarang bukan lagi sang prabu, melainkan Resi Gentayu atau Resi
Jatinendra. Andika bertekad datang ke Jalatunda, ada keperluan apakah? Katakan
jangan meragu karena apapun permintaanmu, jika aku kuasa memberi, akan
kuberikan kepadamu."
"Huah-hah,
Raja Airlangga! Jangan coba bersembunyi di balik kedok pertapa! Setelah kedua
orang jagoanmu tak dapat mengalahkan aku, engkau lalu menggunakan kata-kata
manis untuk menyenangkan hatiku? Engkau menjadi ketakutan? Takut kepadaku?
Hah-hah, Sang Prabu Airlangga yang dahulu disohorkan gagah perkasa itu kini
menjadi seperti harimau kehilangan kukunya, garuda kehilangan sayapnya!"
Di dalam
hatinya Joko Wandiro terkejut ketika mendengar bahwa kakek pertapa yang tenang
dan ramah itu ternyata adalah sang prabu sendiri! Hatinya berdebar penuh
kekhawatiran, akan tetapi melihat sikap yang kurang ajar dan sombong dari
Wirokolo, jiwa satrianya memberontak, semua urat syaraf di tubuhnya menegang dan
hampir tak dapat ia menahan dirinya yang hendak meloncat dan menandingi raksasa
sakti itu. Akan tetapi Sang Prabu Airlangga atau Resi Jatinendra sendiri sama
sekali tidak kelihatan marah mendengar ejekan dan cemoohan itu, melainkan
tersenyum dan suaranya tetap halus dan ramah,
"Satu-satunya
hal yang kutakuti di dunia ini hanyalah kalau-kalau aku menyeleweng daripada
kebenaran tanpa kusadari, Wirokolo. Selain itu, tidak ada yang kutakuti, juga
engkau tidak. Aku telah sadar, Wirokolo, bahwa penggunaan kekerasan adalah
penyelewengan manusia yang paling parah. Dari kekerasan inilah timbulnya segala
perkosaan dan kerusakan, wahai kisanak, demi kebaikanmu sendiri, hentikanlah
segala kekerasanmu dan katakanlah apa yang kau kehendaki dan aku akan
memberikannya kepadamu."
Sejenak sunyi
menyambut ucapan yang amat sedap didengar ini. Suasana sunyi yang mengamankan
hati, sunyi yang amat indah di mana tidak ada sesuatu yang mengganggu perasaan.
Akan tetapi hanya sebentar karena segera terganggulah getaran damai yang timbul
dari sabda sang resi itu oleh suara Wirokolo,
"Heh,
Airlangga! Siapa percaya obrolanmu? Kau tanya apa kehendakku? Aku menghendaki
nyawamu! Lihat, aku akan membunuhmu!!"
Wirokolo
mengamang-amangkan kedua tombaknya dengan sikap mengancam sambil melangkah makin
dekat. Akan tetapi sang resi tersenyum, kemudian terdengar kata-katanya penuh
wibawa sehingga ucapan yang keluar dari mulut sang resi mengandung getaran dan
gema,
"Hai
Wirokolo, dengarlah baik-baik selagi engkau mendapat kesempatan mendengar
kebenaran ini. Siapakah engkau ini yang akan dapat membunuh Aku? Siapakah
engkau ini yang akan dapat menentukan mati hidup seseorang? Yang tidak berawal
takkan berakhir, dan Aku tidak berawal, maka tidak berakhir pula. Yang tidak
terlahir, takkan mati, dan Aku tidak terlahir. Yang berawal dan terlahir
hanyalah tubuhku, maka yang berakhir atau mati kelak hanya tubuhku. Jangan kira
engkau akan dapat membunuhku, oh, Wirokolo, engkau tersesat amat jauh kalau
berpikir demikian! Sebaliknya tubuhku ini takkan terluput daripada kematian,
namun jangan pula mengira bahwa engkau yang akan menentukan mati hidup tubuhku,
karena hal itu tidak berada dalam kekuasaanmu atau kekuasaan siapapun juga.Di
samping bahwa engkau tidak berdaya untuk menguasai mati hidup seseorang, juga aku
telah diwajibkan menjaga wadah di mana aku tinggal berupa tubuh ini, Wirokolo!
Karena kalau tidak kulakukan hal itu, maka berarti meninggalkan wajib dan hal
ini menyalahi keadaan!"
No comments:
Post a Comment