Kembali sunyi yang mendalam menyambut ucapan Sang Resi Jatinendra ini. Lebih lama daripada tadi. Tiada suara terdengar, bahkan angin sekalipun seperti berhenti bertiup untuk menghormati kata-kata yang merupakan untaian mutiara keluar dari mulut sang resi. Mutiara filsafat yang menjadi ajaran Sang Bhatara Wishnu, dituangkan dalam Bagawad Gita, yaitu ketika Sri Kresna (titisan Wishnu) memberi wejangan kepada Sang Arjuna dalam perang Bharatayuda. Akan tetapi, semua ajaran dan filsafat yang baik hanya dapat memasuki sanubari orang yang hatinya terbuka untuk kebajikan. Hati Wirokolo sama sekali tertutup oleh nafsu-nafsu duniawi yang menggelora sehingga kesadarannya terselimut oleh uap hitam yang timbul dari hawa nafsu, membuat mata sadarnya sementara menjadi buta akan kebenaran. Ia tertawa bergelak penuh ejekan, lalu berkata,
"Apapun
yang kaukatakan, Airlangga, takkan dapat menahan kehendakku membunuhmu. Hendak
kulihat apakah engkau mampu mengelakkan diri daripada mati di tanganku,
huah-hah-hah!"
"Sesukamulah,
Wirokolo. Aku sudah memperingatkanmu!"
Wirokolo
kemudian menggunakan sepasang tombaknya. Karena ia maklum bahwa pertapa tua
yang duduk bersila itu adalah Sang Prabu Airlangga yang amat sakti. Dahulupun
rajanya yang terkenal sakti, Sang Prabu Boko, tak sanggup melawan, maka kini ia
mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ajinya. Sebelum menerjang
maju, ia berkemak-kemik membaca mantera dan muncullah bayangan nenek tinggi
besar yang tadi muncul dan kemudian mundur karena dikalahkan Empu Bharodo.
Nenek Calon Arang itu tampak bayangannya di belakang Wirokolo! Ketika Wirokolo
menggereng, tidak hanya kedua telapak tangannya yang membara, bahkan mulutnya
seakan-akan mengeluarkan api bernyala dahsyat, matanya mencorong seperti ada
api di dalamnya. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,
"Iblis
jahat! Biar aku mengadu nyawa denganmu!"
Bentakan ini
keluar dari mulut Joko Wandiro yang sudah meloncat maju sambil menggerakkan
sepasang goloknya. Hati anak ini tidak dapat menahan lagi menyaksikan sikap
Wirokolo yang dahsyat itu. Ia merasa ngeri membayangkan betapa pertapa bekas
raja itu sama sekali tidak melawan menghadapi ancaman yang begitu buasnya. Maka
tanpa berpikir panjang lagi, mengikuti getar hatinya, ia sudah meloncat dan menerjang
Wirokolo dengan sepasang goloknya.
"Joko
.......... !"
Resi Bhargowo
berteriak, namun terlambat karena anak itu sudah menggerakkan tubuh dan
goloknya, bagaikan seekor harimau muda menerjang Wirokolo dengan kecepatan
mengagumkan. Wirokolo sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan diserang
seorang anak-anak, menjadi terheran-heran dan hanya memandang dengan mata
terbelalak.
"Werr
........ werr ........ ! Trangg ........ trangg ........ !!"
"Heh-heh-heh!"
Wirokolo
tertawa dan sekali lengannya bergerak, tubuh Joko Wandiro terlempar dan roboh
bergulingan, pingsan! Tadi sepasang golok anak ini dengan tepat mengenai
sasaran, yaitu di dada dan pundak. Akan tetapi, sepasang golok itu membalik
seperti menghantam baja saja ketika bertemu dengan tubuh Wirokolo yang kebal,
dan sekali raksasa itu menampar, Joko Wandiro terlempar dan pingsan.
"Huah-hah,
Airlangga, setelah kehabisan jago tidak malukah engkau mengajukan seorang
bocah? Nah, terimalah kematianmu!"
Tubuh yang
tinggi besar itu kini menerjang maju, sepasang tombaknya diputar-putar. Akan
tetapi Sang Resi Jatinendra sama sekali tidak bergerak, hanya memandang dengan
senyum menghias bibir dan masih duduk bersila di atas batu.
"WuuuutttH
Desssss!!" Bunga api berhamburan ketika batu yang diduduki Resi Jatinendra
pecah ujungnya, dihantam tombak pendek di tangan kanan Wirokolo. Akan tetapi
anehnya, Resi Jatinendra masih duduk bersila di situ sambil tersenyum, seujung
rambutpun tidak bergeming, apalagi terluka, tombak itu tadi kelihatan tepat
mengenai dada pertapa bekas raja ini!.
Sejenak
Wirokolo terbelalak kaget, akan tetapi ia menjadi makin marah dan penasaran. Ia
sama sekali tidak merasa betapa bayangan nenek mengerikan Calon Arang di
belakangnya mundur-mundur ketakutan satelah dekat dengan sang pertapa. Selagi
Wirokolo melangkah mundur lalu mengambil ancang-ancang untuk menerjang lebih
hebat lagi, tiba-tiba menyambar angin keras dari samping, dibarengi bentakan
nyaring,
"Bedebah
Wirokolo, pergilah!!"
Angin itu
menyambar datang, lalu tampak kaki tangan orang bergerak menerjang Wirokolo!
Raksasa itu berusaha menangkis dan melawan, namun sia-sia belaka. Tahu-tahu
tubuhnya sudah mencelat seperti daun kering ditiup angin, terlempar sampai
sepuluh meter jauhnya dan jatuh berdebuk seperti batang pohon pisang tumbang!
Ketika raksasa
yang sejenak merasa nanar kepalanya itu merangkak bangun sambil
menyumpah-nyumpah marah lalu memandang, kiranya yang menyambar dan
menghantamnya seperti terjangan Sang Haryo Werkudoro itu bukan lain adalah Ki
Patih Narotama!.
"Si
keparat Wirokolo! Berani engkau mengganggu junjunganku? Hayo majulah dan
kerahkan semua kedigdayaanmu. Inilah musuh lamamu, akulah tandingmu!"
Wirokolo
merasa ngeri. Bertahun-tahun yang lalu, ia sudah merasai betapa keras pukulan
tangan Ki Patih Narotama,! betapa cepat tendangan kakinya. Bahkan kakak
seperguruannya sendiri, Dibyo Mamangkoro yang lebih sakti, setelah mengerahkan
semua kedigdayaannya dan bertanding yuda melawan patih ini, akhirnya harus
mengakui keunggulan ki patih. Dan melihat akibat terjangan ki patih tadi, yang
mampu melemparkan ia sampai jauh, membuktikan bahwa selama ini ilmu kesaktian
ki patih juga maju pesat.
"Cukuplah,
kakang Narotama! Jika engkau membalas kekerasan dengan kekerasan pula, akan
berlarut-larut jadinya."
Suara ini
diucapkan oleh Resi Jatinendra, dan Ki Patih Narotama merasa seakan-akan
kepalanya disiram air wayu yang dingin. Ia segera sadar betapa ia berdiri tegak
dengan kedua kaki terpentang seperti Sang Werkudoro di depan junjungannya yang
masih duduk bersila, maka cepat-cepat ia mengebutkan ujung kakinya, lalu duduk
bersimpuh penuh hormat.
"Mohon
maaf, yayi (adinda) prabu tidak kuat hati hamba menyaksikan kesombongan
Wirokolo."
Pada saat itu,
Joko Wandiro sudah siuman dari pingsannya. Ia lalu meraih sepasang goloknya
yang terlepas dekat disitu lalu bersila lagi, terheran-heran betapa kakek yang
dikenalnya sebagai Ki Patih Narotama yang sakti, kini sudah bersimpuh menghadap
Sang Prabu Jatinendra.
Sementara itu
Wirokolo yang gentar menghadapi Ki Patih Narotama, lalu bangkit dan mengamang-amangkan
sepasang tombaknya, lalu berkata dengan penuh geram,
"Airlangga
dan Narotama! Sekarang kalian boleh tertawa-tawa atas kemenangan kalian. Akan
tetapi awas, kelak akan datang saatnya kami membalas dendam! Kami akan selalu
berusaha agar Kahuripan menjadi ajang perang saudara, sehingga terkutuklah
semua keturunanmu sampai terbasmi habis. Huah-hah-hah!"
Suara ketawa
manusia iblis ini masih terdengar dari jauh biarpun orangnya sudah lenyap tak
tampak lagi.
"Kakang
Narotama, apakah yang menyebabkan kakang datang menemui aku? Bukankah engkau
amat dibutuhkan di kota raja, kakang?"
"Duhai
gusti junjungan hamba! Yayi prabu........ hamba datang membawa berita buruk.
Kalau paduka tidak lekas datang ke istana dan melerai, agaknya akan terjadilah
apa yang dikatakan Wirokolo tadi. Pertentangan antara Gusti Pangeran Sepuh dan
Gusti Pangeran Anom tak dapat hamba cegah lagi, perang saudara sudah meletus
secara terbuka. Duh yayi prabu, tegakah hati paduka membiarkan perang dan
bunuh-membunuh antar keluarga?"
Resi
Jatinendra mengerutkan kening memejamkan mata, lalu meraba dadanya sambil
menarik napas panjang.
"Duhai
Dewata yang berwenang menguasai jagad raya! Sudah mulaikah malapetaka yang
didahului lenyapnya pusaka Mataram dan terpisahnya keris dari warangkanya?"
Sejenak
pertapa ini menundukkan mukanya, kemudian berkata kepada Ki Patih Narotama,
"Wahai
kakang Narotama, sampai sedemikian rupakah mereka berlomba memperebutkan
kekuasaan, memperebutkan kedudukan selagi aku masih hidup?"
Di dalam
ucapan ini terkandung rasa duka.
"Gusti
junjungan hamba. Sekali-kali bukan hamba berat sebelah atau memihak. Akan
tetapi menurut pendapat hamba, Gusti Pangeran Anom yang berusaha mempergunakan
kekerasan untuk merampas kekuasaan dari rakandanya. Banyak tokoh-tokoh sakti
yang menyeleweng daripada kebenaran dipergunakan tenaganya oleh Gusti Pangeran
Anom. Betapapun juga, andaikata perang berlarut-larut, hamba terpaksa memihak
kepada Gusti Pangeran Sepuh, hanya karena mereka itu menjadi kaki tangan Gusti
Pangeran Anom."
"Hemm, sampai
sedemikian hebat? Kakang Narotama, tentu saja aku takkan membiarkan darah
mengalir di antara mereka. Akan tetapi, kakang. Sungguh kecewa hatiku mendengar
pelaporanmu dan mendapat kenyataan bahwa engkau masih memihak seorang di antara
mereka. Kalau engkau tidak berada di atas keduanya dan memihak, tentu akan
lebih hebat kesudahannya, kakang. Apakah kau menghendaki aku turun tangan pula
membantu Pangeran Anom?"
"Duhai,
yayi prabu........ bukan begitu maksud hamba........ "
Sang resi
tersenyum pahit.
"Kalau
kau yang maju dalam medan yuda, kakang Narotama, siapa lagi yang akan menjadi
lawanmu? Tentu keadaan menjadi berat sebelah dan agaknya baru akan seimbang
kalau aku maju pula menjadi lawanmu agar seimbang dan adil."
"Ampun,
yayi prabu.......!"
"Kakang,
ingatlah bahwa apapun yang terjadi, mereka itu keduanya adalah puteraku,
keduanya adalah darah keturunanku. Oleh karena itu, berjanjilah bahwa sejak
detik ini, engkau tidak akan turun tangan mencampuri pertikaian mereka, tidak
akan turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, ialah
keponakan-keponakanmu sendiri."
"Hamba
berjanji!" jawab Ki Patih Narotama, suaranya gemetar.
"Dan
berjanji bahwa setelah aku tidak berada lagi di sini, kau tetap tidak akan
turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, kakang Narotama?"
"Hamba
berjanji!"
"Nah,
puaslah hatiku, kakang. Sekarang aku hendak datang sendiri ke istana untuk
menghentikan keributan yang tiada guna itu. Kau tidak perlu ikut, kakang,
karena aku tidak akan memerlukan bantuan kekerasan. Biarlah kedua kakang Empu
Bharodo dan Resi Bhargowo menyertaiku."
Setelah
berkata demikian, Resi Jatinendra atau Resi Gentayu itu memberi isyarat kepada
dua orang pertapa yang segera bangkit berdiri, siap mengikuti perjalanan
junjungan itu ke kota raja. Joko Wandiro cepat bangkit pula hendak mengikuti
eyang gurunya, akan tetapi Resi Bhargowo segera melarangnya sambil berkata,
"Joko
Wandiro, engkau tinggallah di sini bersama gusti patih yang tentu akan sudi
memberi petunjuk-petunjuk kepadamu. Perjalanan eyangmu mengantar sang agung
Resi Jatinendra ke medan yuda takkan makan waktu terlalu lama."
Joko Wandiro
menjadi kecewa sekali. Bukankah menurut Ki Tejoranu, sangat boleh jadi ayahnya
berada pula di kota raja, ikut dalam perang ? Akan tetapi, ia tidak berani membantah,
apalagi ia amat takut kepada Resi Jatinendra yang bersikap agung dan penuh
wibawa itu. Maka ia lalu bersimpuh kembali, menundukkan mukanya. Tiba-tiba Resi
Jatinendra menahan langkahnya, menoleh ke arah Joko Wandiro, memandang sejenak,
lalu berkatalah sang resi kepada Resi Bhargowo,
"Inikah
cucumu, kakang Resi Bhargowo?"
"Betul,
Joko Wandiro ini adalah cucu murid hamba, adi resi."
"Bagian
apakah yang diterimanya? Keris ataukah warangka?"
"Dia
mendapatkan warangkanya, patung kencana."
Resi Jatinendra
mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
"Heh,
orang muda! Sudah kau sembunyikan patung kencana itu?" Tiba-tiba sang resi
bertanya.
Joko Wandiro
mengangkat muka lalu menyembah.
"Sudah,
eyang."
"Bagus !,
Kakang Narotama, anak ini tadi sudah membuktikan kebulatan hatinya untuk
menentang kejahatan. Hanya dia inilah yang kelak boleh kita harapkan. Engkau
sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Setelah
berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sang Resi Jatinendra meninggalkan
tempat itu, diikuti dari belakang oleh Empu Bharodo dan Resi Bhargowo. Setelah
tiga orang kakek itu pergi, Narotama patih sakti itu memandang penuh perhatian
kepada Joko Wandiro, wajahnya berseri ketika ia mengingat kembali ucapan Sang
Resi Jatinendra junjungannya yang ia cinta seperti saudara kandung sendiri.
"Anak
muda, apakah namamu Joko Wandiro?" Kemudian ia bertanya sambil menatap
wajah yang menunduk itu.
"Betul
sekali, gusti patih," jawab Joko Wandiro penuh hormat.
Ki Patih
Narotama tercengang.
"Heh?
Engkau sudah tahu siapa aku?"
Joko Wandiro
menyembah.
"Hamba
sudah tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih Kanuruhan, juga disebut Gusti Patih
Narotama."
"Joko
Wandiro, pernahkan kita saling berjumpa?"
No comments:
Post a Comment