Badai Laut Selatan ; Bagian 078


Kembali sunyi yang mendalam menyambut ucapan Sang Resi Jatinendra ini. Lebih lama daripada tadi. Tiada suara terdengar, bahkan angin sekalipun seperti berhenti bertiup untuk menghormati kata-kata yang merupakan untaian mutiara keluar dari mulut sang resi. Mutiara filsafat yang menjadi ajaran Sang Bhatara Wishnu, dituangkan dalam Bagawad Gita, yaitu ketika Sri Kresna (titisan Wishnu) memberi wejangan kepada Sang Arjuna dalam perang Bharatayuda. Akan tetapi, semua ajaran dan filsafat yang baik hanya dapat memasuki sanubari orang yang hatinya terbuka untuk kebajikan. Hati Wirokolo sama sekali tertutup oleh nafsu-nafsu duniawi yang menggelora sehingga kesadarannya terselimut oleh uap hitam yang timbul dari hawa nafsu, membuat mata sadarnya sementara menjadi buta akan kebenaran. Ia tertawa bergelak penuh ejekan, lalu berkata,
"Apapun yang kaukatakan, Airlangga, takkan dapat menahan kehendakku membunuhmu. Hendak kulihat apakah engkau mampu mengelakkan diri daripada mati di tanganku, huah-hah-hah!"
"Sesukamulah, Wirokolo. Aku sudah memperingatkanmu!"
Wirokolo kemudian menggunakan sepasang tombaknya. Karena ia maklum bahwa pertapa tua yang duduk bersila itu adalah Sang Prabu Airlangga yang amat sakti. Dahulupun rajanya yang terkenal sakti, Sang Prabu Boko, tak sanggup melawan, maka kini ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ajinya. Sebelum menerjang maju, ia berkemak-kemik membaca mantera dan muncullah bayangan nenek tinggi besar yang tadi muncul dan kemudian mundur karena dikalahkan Empu Bharodo. Nenek Calon Arang itu tampak bayangannya di belakang Wirokolo! Ketika Wirokolo menggereng, tidak hanya kedua telapak tangannya yang membara, bahkan mulutnya seakan-akan mengeluarkan api bernyala dahsyat, matanya mencorong seperti ada api di dalamnya. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,
"Iblis jahat! Biar aku mengadu nyawa denganmu!"
Bentakan ini keluar dari mulut Joko Wandiro yang sudah meloncat maju sambil menggerakkan sepasang goloknya. Hati anak ini tidak dapat menahan lagi menyaksikan sikap Wirokolo yang dahsyat itu. Ia merasa ngeri membayangkan betapa pertapa bekas raja itu sama sekali tidak melawan menghadapi ancaman yang begitu buasnya. Maka tanpa berpikir panjang lagi, mengikuti getar hatinya, ia sudah meloncat dan menerjang Wirokolo dengan sepasang goloknya.
"Joko .......... !"
Resi Bhargowo berteriak, namun terlambat karena anak itu sudah menggerakkan tubuh dan goloknya, bagaikan seekor harimau muda menerjang Wirokolo dengan kecepatan mengagumkan. Wirokolo sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan diserang seorang anak-anak, menjadi terheran-heran dan hanya memandang dengan mata terbelalak.
"Werr ........ werr ........ ! Trangg ........ trangg ........ !!"
"Heh-heh-heh!"
Wirokolo tertawa dan sekali lengannya bergerak, tubuh Joko Wandiro terlempar dan roboh bergulingan, pingsan! Tadi sepasang golok anak ini dengan tepat mengenai sasaran, yaitu di dada dan pundak. Akan tetapi, sepasang golok itu membalik seperti menghantam baja saja ketika bertemu dengan tubuh Wirokolo yang kebal, dan sekali raksasa itu menampar, Joko Wandiro terlempar dan pingsan.
"Huah-hah, Airlangga, setelah kehabisan jago tidak malukah engkau mengajukan seorang bocah? Nah, terimalah kematianmu!"
Tubuh yang tinggi besar itu kini menerjang maju, sepasang tombaknya diputar-putar. Akan tetapi Sang Resi Jatinendra sama sekali tidak bergerak, hanya memandang dengan senyum menghias bibir dan masih duduk bersila di atas batu.
"WuuuutttH Desssss!!" Bunga api berhamburan ketika batu yang diduduki Resi Jatinendra pecah ujungnya, dihantam tombak pendek di tangan kanan Wirokolo. Akan tetapi anehnya, Resi Jatinendra masih duduk bersila di situ sambil tersenyum, seujung rambutpun tidak bergeming, apalagi terluka, tombak itu tadi kelihatan tepat mengenai dada pertapa bekas raja ini!.

Sejenak Wirokolo terbelalak kaget, akan tetapi ia menjadi makin marah dan penasaran. Ia sama sekali tidak merasa betapa bayangan nenek mengerikan Calon Arang di belakangnya mundur-mundur ketakutan satelah dekat dengan sang pertapa. Selagi Wirokolo melangkah mundur lalu mengambil ancang-ancang untuk menerjang lebih hebat lagi, tiba-tiba menyambar angin keras dari samping, dibarengi bentakan nyaring,
"Bedebah Wirokolo, pergilah!!"
Angin itu menyambar datang, lalu tampak kaki tangan orang bergerak menerjang Wirokolo! Raksasa itu berusaha menangkis dan melawan, namun sia-sia belaka. Tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat seperti daun kering ditiup angin, terlempar sampai sepuluh meter jauhnya dan jatuh berdebuk seperti batang pohon pisang tumbang!
Ketika raksasa yang sejenak merasa nanar kepalanya itu merangkak bangun sambil menyumpah-nyumpah marah lalu memandang, kiranya yang menyambar dan menghantamnya seperti terjangan Sang Haryo Werkudoro itu bukan lain adalah Ki Patih Narotama!.
"Si keparat Wirokolo! Berani engkau mengganggu junjunganku? Hayo majulah dan kerahkan semua kedigdayaanmu. Inilah musuh lamamu, akulah tandingmu!"
Wirokolo merasa ngeri. Bertahun-tahun yang lalu, ia sudah merasai betapa keras pukulan tangan Ki Patih Narotama,! betapa cepat tendangan kakinya. Bahkan kakak seperguruannya sendiri, Dibyo Mamangkoro yang lebih sakti, setelah mengerahkan semua kedigdayaannya dan bertanding yuda melawan patih ini, akhirnya harus mengakui keunggulan ki patih. Dan melihat akibat terjangan ki patih tadi, yang mampu melemparkan ia sampai jauh, membuktikan bahwa selama ini ilmu kesaktian ki patih juga maju pesat.
"Cukuplah, kakang Narotama! Jika engkau membalas kekerasan dengan kekerasan pula, akan berlarut-larut jadinya."
Suara ini diucapkan oleh Resi Jatinendra, dan Ki Patih Narotama merasa seakan-akan kepalanya disiram air wayu yang dingin. Ia segera sadar betapa ia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang seperti Sang Werkudoro di depan junjungannya yang masih duduk bersila, maka cepat-cepat ia mengebutkan ujung kakinya, lalu duduk bersimpuh penuh hormat.
"Mohon maaf, yayi (adinda) prabu tidak kuat hati hamba menyaksikan kesombongan Wirokolo."
Pada saat itu, Joko Wandiro sudah siuman dari pingsannya. Ia lalu meraih sepasang goloknya yang terlepas dekat disitu lalu bersila lagi, terheran-heran betapa kakek yang dikenalnya sebagai Ki Patih Narotama yang sakti, kini sudah bersimpuh menghadap Sang Prabu Jatinendra.
Sementara itu Wirokolo yang gentar menghadapi Ki Patih Narotama, lalu bangkit dan mengamang-amangkan sepasang tombaknya, lalu berkata dengan penuh geram,
"Airlangga dan Narotama! Sekarang kalian boleh tertawa-tawa atas kemenangan kalian. Akan tetapi awas, kelak akan datang saatnya kami membalas dendam! Kami akan selalu berusaha agar Kahuripan menjadi ajang perang saudara, sehingga terkutuklah semua keturunanmu sampai terbasmi habis. Huah-hah-hah!"
Suara ketawa manusia iblis ini masih terdengar dari jauh biarpun orangnya sudah lenyap tak tampak lagi.
"Kakang Narotama, apakah yang menyebabkan kakang datang menemui aku? Bukankah engkau amat dibutuhkan di kota raja, kakang?"
"Duhai gusti junjungan hamba! Yayi prabu........ hamba datang membawa berita buruk. Kalau paduka tidak lekas datang ke istana dan melerai, agaknya akan terjadilah apa yang dikatakan Wirokolo tadi. Pertentangan antara Gusti Pangeran Sepuh dan Gusti Pangeran Anom tak dapat hamba cegah lagi, perang saudara sudah meletus secara terbuka. Duh yayi prabu, tegakah hati paduka membiarkan perang dan bunuh-membunuh antar keluarga?"

Resi Jatinendra mengerutkan kening memejamkan mata, lalu meraba dadanya sambil menarik napas panjang.
"Duhai Dewata yang berwenang menguasai jagad raya! Sudah mulaikah malapetaka yang didahului lenyapnya pusaka Mataram dan terpisahnya keris dari warangkanya?"
Sejenak pertapa ini menundukkan mukanya, kemudian berkata kepada Ki Patih Narotama,
"Wahai kakang Narotama, sampai sedemikian rupakah mereka berlomba memperebutkan kekuasaan, memperebutkan kedudukan selagi aku masih hidup?"
Di dalam ucapan ini terkandung rasa duka.
"Gusti junjungan hamba. Sekali-kali bukan hamba berat sebelah atau memihak. Akan tetapi menurut pendapat hamba, Gusti Pangeran Anom yang berusaha mempergunakan kekerasan untuk merampas kekuasaan dari rakandanya. Banyak tokoh-tokoh sakti yang menyeleweng daripada kebenaran dipergunakan tenaganya oleh Gusti Pangeran Anom. Betapapun juga, andaikata perang berlarut-larut, hamba terpaksa memihak kepada Gusti Pangeran Sepuh, hanya karena mereka itu menjadi kaki tangan Gusti Pangeran Anom."
"Hemm, sampai sedemikian hebat? Kakang Narotama, tentu saja aku takkan membiarkan darah mengalir di antara mereka. Akan tetapi, kakang. Sungguh kecewa hatiku mendengar pelaporanmu dan mendapat kenyataan bahwa engkau masih memihak seorang di antara mereka. Kalau engkau tidak berada di atas keduanya dan memihak, tentu akan lebih hebat kesudahannya, kakang. Apakah kau menghendaki aku turun tangan pula membantu Pangeran Anom?"
"Duhai, yayi prabu........ bukan begitu maksud hamba........ "
Sang resi tersenyum pahit.
"Kalau kau yang maju dalam medan yuda, kakang Narotama, siapa lagi yang akan menjadi lawanmu? Tentu keadaan menjadi berat sebelah dan agaknya baru akan seimbang kalau aku maju pula menjadi lawanmu agar seimbang dan adil."
"Ampun, yayi prabu.......!"
"Kakang, ingatlah bahwa apapun yang terjadi, mereka itu keduanya adalah puteraku, keduanya adalah darah keturunanku. Oleh karena itu, berjanjilah bahwa sejak detik ini, engkau tidak akan turun tangan mencampuri pertikaian mereka, tidak akan turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, ialah keponakan-keponakanmu sendiri."
"Hamba berjanji!" jawab Ki Patih Narotama, suaranya gemetar.
"Dan berjanji bahwa setelah aku tidak berada lagi di sini, kau tetap tidak akan turun tangan memusuhi seorang di antara putera-puteraku, kakang Narotama?"
"Hamba berjanji!"
"Nah, puaslah hatiku, kakang. Sekarang aku hendak datang sendiri ke istana untuk menghentikan keributan yang tiada guna itu. Kau tidak perlu ikut, kakang, karena aku tidak akan memerlukan bantuan kekerasan. Biarlah kedua kakang Empu Bharodo dan Resi Bhargowo menyertaiku."

Setelah berkata demikian, Resi Jatinendra atau Resi Gentayu itu memberi isyarat kepada dua orang pertapa yang segera bangkit berdiri, siap mengikuti perjalanan junjungan itu ke kota raja. Joko Wandiro cepat bangkit pula hendak mengikuti eyang gurunya, akan tetapi Resi Bhargowo segera melarangnya sambil berkata,
"Joko Wandiro, engkau tinggallah di sini bersama gusti patih yang tentu akan sudi memberi petunjuk-petunjuk kepadamu. Perjalanan eyangmu mengantar sang agung Resi Jatinendra ke medan yuda takkan makan waktu terlalu lama."
Joko Wandiro menjadi kecewa sekali. Bukankah menurut Ki Tejoranu, sangat boleh jadi ayahnya berada pula di kota raja, ikut dalam perang ? Akan tetapi, ia tidak berani membantah, apalagi ia amat takut kepada Resi Jatinendra yang bersikap agung dan penuh wibawa itu. Maka ia lalu bersimpuh kembali, menundukkan mukanya. Tiba-tiba Resi Jatinendra menahan langkahnya, menoleh ke arah Joko Wandiro, memandang sejenak, lalu berkatalah sang resi kepada Resi Bhargowo,
"Inikah cucumu, kakang Resi Bhargowo?"
"Betul, Joko Wandiro ini adalah cucu murid hamba, adi resi."
"Bagian apakah yang diterimanya? Keris ataukah warangka?"
"Dia mendapatkan warangkanya, patung kencana."
Resi Jatinendra mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya.
"Heh, orang muda! Sudah kau sembunyikan patung kencana itu?" Tiba-tiba sang resi bertanya.
Joko Wandiro mengangkat muka lalu menyembah.
"Sudah, eyang."
"Bagus !, Kakang Narotama, anak ini tadi sudah membuktikan kebulatan hatinya untuk menentang kejahatan. Hanya dia inilah yang kelak boleh kita harapkan. Engkau sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sang Resi Jatinendra meninggalkan tempat itu, diikuti dari belakang oleh Empu Bharodo dan Resi Bhargowo. Setelah tiga orang kakek itu pergi, Narotama patih sakti itu memandang penuh perhatian kepada Joko Wandiro, wajahnya berseri ketika ia mengingat kembali ucapan Sang Resi Jatinendra junjungannya yang ia cinta seperti saudara kandung sendiri.
"Anak muda, apakah namamu Joko Wandiro?" Kemudian ia bertanya sambil menatap wajah yang menunduk itu.
"Betul sekali, gusti patih," jawab Joko Wandiro penuh hormat.
Ki Patih Narotama tercengang.
"Heh? Engkau sudah tahu siapa aku?"
Joko Wandiro menyembah.
"Hamba sudah tahu bahwa paduka adalah Gusti Patih Kanuruhan, juga disebut Gusti Patih Narotama."
"Joko Wandiro, pernahkan kita saling berjumpa?"

<<< Bagian 077                                                                                     Bagian 079 >>>

No comments:

Post a Comment