"Pernah, gusti. Akan tetapi paduka tidak melihat hamba, yaitu ketika paduka bertanding dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dan teman-temannya, karena hamba bersembunyi di atas pohon."
"Hemm
........ hemmm ......... ."
Narotama mengelus-elus
jenggotnya,
"Mereka
mengeroyokku dekat muara Sungai Lorog. Joko Wandiro, katanya engkau cucu murid
Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guru
hamba adalah ayah hamba sendiri yang bernama Pujo, yang dahulu datang membantu
paduka dalam pertandingan."
"Aaaaahh
........ ?"
Narotama makin
tertarik dan mengelus-elus jenggotnya, keningnya berkerut. Tepat sekali,
pikirnya. Anak ini berdarah satria. Dipandang sekelebatan saja sudah nampak
bakatnya menjadi satria perkasa. Dan terutama sekali, Sang Resi Jatinendra
sendiri yang tentu saja awas paningal itu telah memujinya. Lebih-lebih lagi,
anak ini agaknya menyimpan pusaka Mataram, patung kencana Sri Bathara Wishnu!
Dia tadi telah berjanji takkan turun tangan mencampuri urusan antara para
pangeran.
Hemm ........
, betapapun juga, junjungannya tak dapat melupakan kasih sayang terhadap
putera, maklum bahwa kalau dia turun tangan, tentu ada puteranya yang menjadi
korban. Akan tetapi, bagaimana kalau Pangeran Anom yang ia tahu benar
mengadakan hubungan dan dibujuk-bujuk kakeknya, Maha Raja Sriwijaya untuk
merebut kedudukan di Kahuripan? Dan Pangeran Anom yang ibunya seorang puteri
Sriwijaya itu mempergunakan tokoh-tokoh bekas musuh Sang Prabu Airlangga!
Bagaimana ia dapat mendiamkan saja kalau kelak Pangeran Anom membuat gara-gara?
Akan tetapi ia telah berjanji kepada junjungannya dan ia maklum bahwa lebih
baik ia mati daripada melanggar janjinya itu.
"Engkau
sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Demikian
ucapan Sang Resi Jatinendra tadi ketika hendak pergi. Narotama tersenyum.
Betapapun juga ia hampir lupa akan kebijaksanaan junjungannya itu. Kini
mengertilah dia. Sang Resi Jatinendra tidak menghendaki ia kelak turun tangan
ikut berperang saudara, karena sang resi menganggap ia kakak sendiri, berarti
paman putera-puteranya! Tentu saja tidak rela hati Sang Resi Jatinendra kalau
Narotama ikut berperang antar saudara. Dan tadi junjungannya telah memberi
"jalan keluar", yaitu dengan jalan menurunkan kepandaian kepada
seorang murid yang tepat! Seorang murid yang kelak dapat menggantikannya
menggunakan kepandaian untuk menjamin ketentraman kerajaan, membela yang benar
menghancurkan yang salah, siapapun adanya yang benar atau yang salah itu.
Menjadi penggantinya membela kebenaran dan keadilan, karena dia sendiri tidak
mungkin dapat turun tangan, terbelenggu oleh janjinya tadi!
"Joko
Wandiro, maukah engkau menjadi muridku?"
Saking heran,
kaget dan juga girang Joko Wandiro mengangkat muka dan memandang dengan
sepasang matanya yang bersinar-sinar. Ia tadi sudah menyaksikan betapa hebat
sepak terjang ki patih yang sakti, bahkan dahulu pernah pula menikmati
kesaktian kakek ini dikeroyok oleh tokoh-tokoh pandai. Tentu saja ia suka
sekali menjadi murid Ki Patih Narotama yang menurut kabar adalah seorang yang
paling sakti di Kahuripan, kecuali Sang Prabu Airlangga sendiri tentunya. Maka
cepat-cepat ia menyembah.
"Hamba
suka sekali, gusti patih......."
"Bagus,
dan mulai sekarang jangan menyebut gusti patih kepadaku, melainkan bapa guru.
Sekarang jawablah, apakah engkau tadi menyaksikan segala peristiwa yang terjadi
di sini?"
Joko Wandiro
mengangguk. Ki Patih Narotama bermaksud mengambil murid Joko Wandiro hanya
dengan satu tujuan, yaitu agar kelak ia mempunyai wakil penjaga keselamatan
Kerajaan Kahuripan yang ia cinta, agar ia dapat mewakilkan muridnya untuk
mempertahankan kebenaran dan keadilan di Kahuripan tanpa dia sendiri turun
tangan. Maka ia ingin agar anak yang menjadi muridnya ini mengerti benar akan
keadaan di Kerajaan Kahuripan, mengenal pula musuh-musuh Sang Prabu Airlangga yang
amat banyak dan amat sakti, di antaranya Wirokolo tadi.
"Mengertikah
engkau akan segala peristiwa yang terjadi tadi, muridku? Kalau ada yang belum
kau mengerti, sekarang juga kau boleh bertanya dan aku akan memberi
penjelasan."
Berkata
demikian, Narotama lalu duduk di atas batu di depan Joko Wandiro. Girang hati
anak ini. Tidak saja ia diterima menjadi murid kakek sakti mandraguna ini, juga
ia mendapat kenyataan bahwa gurunya ini amat peramah dan sabar. Maka ia lalu
segera mengajukan pertanyaan tentang peristiwa yang amat mengesankan hatinya
tadi.
"Bapa
guru, sebelum manusia iblis Wirokolo tadi muncul, terjadi peristiwa aneh
sekali. Serombongan kelelawar yang jumlahnya beribu-ribu datang menyerang ke
sini, disambut ribuan burung sriti yang mengalahkan dan mengusir mereka.
Bagaimana hal itu bisa terjadi, bapa guru?"
"Hal itu
terjadi karena aji yang disebut Panji Satwo. Aji ini adalah aji penakluk segala
macam binatang. Akan tetapi seperti juga semua ilmu di dunia ini, bisa
dihitamkan atau diputihkan oleh pelakunya. Segala aji di dunia ini bisa menjadi
ilmu yang baik, bisa juga buruk, tergantung dari si manusia sendiri. Wirokolo
menggunakan Aji Panji Satwo untuk melakukan hal-hal keji, maka ia memilih
rombongan kelelawar untuk menyesuaikan diri. Di lain pihak, kakang Empu Bharodo
juga menggunakan aji itu dan barisannya adalah burung-burung sriti yang memang
bersarang di dalam guha. Pilihan tepat untuk mengusir kelelawar itu."
Joko Wandiro
merasa kagum, juga bangga.
"Bapa
guru, sesudah kelelawar-kelelawar itu dikalahkan dan pergi, lalu muncul nenek
mengerikan yang mengeluarkan lidah api. Hamba pukul dan serang dia dengan
golok, namun pukulan dan bacokan hamba tembus saja, seakan-akan tubuhnya hanya
bayangan. Siapakah dia itu, bapa guru, dan mengapa setelah disambit puspa
(bunga) oleh eyang Empu Bharodo, dia lenyap?"
"Aahhh,
sungguh keji si Wirokolo." Kakek sakti itu menghela napas.
"Untung
ada kakang Empu Bharodo yang ahli dalam hal ilmu sihir. Kalau tidak kedigdayaan
saja akan sukar mengalahkan Wirokolo. Ketahuilah, muridku. Nenek itu adalah
iblis ciptaan ilmu hitam Calon Arang yang amat keji, juga amat dahsyat sukar
dikalahkan. Kalau si Wirokolo sudah memiliki ilmu macam itu, sungguh ia
merupakan manusia iblis yang berbahaya dan sudah selayaknya dibasmi. Sayang
bahwa junjungan kita tadi melarang, kalau tidak, tentu sudah kubinasakan si
jahat Wirokolo."
"Siapakah
dia itu, bapa guru? Dan mengapa dia memusuhi Sang Prabu Airlangga?"
"Dia
seorang bekas senopati Kerajaan Wengker yang dahulu dikalahkan oleh tentara
Kahuripan. Agaknya ia masih mendendam dan hendak menuntut balas."
Kemudian Ki
Patih Narotama menyuruh muridnya memperlihatkan semua ilmu yang pernah
dipelajarinya, dan mulailah ia memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan oleh
Joko Wandiro penuh perhatian. Mulailah Joko Wandiro menerima gemblengan dari
kakek sakti ini dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat melihat bahwa
gemblengan dari kakek sakti ini, dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat
melihat bahwa gemblengan ini jauh bedanya dengan gemblengan-gemblengan yang
pernah ia terima, dapat mengerti bahwa gurunya ini memiliki ilmu kesaktian yang
amat hebat. Maka iapun amat tekun mengikuti pelajaran yang diberikan Ki Patih
Narotama.
“Serbuuuuuu
........ ! Hantam ........ !!"
"Gempurr
........ ! Bunuh ........ !! Hidup Pangeran Anom........ !!"
"Hayo
maju........ ! Habiskan antek antek Sriwijaya! Hidup Pangeran Sepuh ........
!!"
Teriak pekik
menggegap-gempita. Debu mengebul tinggi menggelapkan udara. Kilatan keris,
tombak, kelewang dan senjata-senjata lain menyilaukan mata. Derap kaki dan
ringkik kuda menambah gaduh. Perang campuh terjadilah. Perang saudara antara
pasukan-pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan Pangeran Anom! Kalau di
waktu-waktu yang lalu hanya terjadi bentrokan-bentrokan kecil, pelototan mata
dan saling melontarkan sindir ejek, kini meledaklah perang yang sekian lama
ditekan-tekan.
Perang terbuka
antar pasukan. Bertempat di alun-alun, dimana biasanya hanya dipergunakan untuk
latihan-latihan perang. Darah mulai muncrat, mayat mulai berserakan, pekik
kemarahan bercampur dengan jerit kesakitan, diseling sorak-sorai dan tangis.
Udara makin gelap. Perang campuh yang liar, buas, dan kacau-balau. Amat sukar
membedakan mana kawan mana lawan dalam perang campuh seperti itu. Apalagi banyak
diantara mereka yang serupa pakaiannya, bahkan banyak yang dahulunya menjadi
kawan kini menjadi lawan karena yang seorang berfihak Pangeran Sepuh, yang lain
berpihak Pangeran Anom.
Riuh rendah
suara mereka yang beryuda. Keris-keris pusaka yang biasanya hanya diberi
"makan" kembang menyan pada hari-hari baik, kini dihunus dari
warangka dan diberi kesempatan sebanyaknya untuk berpuas-puasan minum darah
manusia yang masih segar dan panas! Banyak golok dan kelewang
menyambar-nyambar, bacok-membacok, tusuk-menusuk. Tombak-tombak berluncuran
mencari sasaran perut yang lunak. Ada pula yang sudah kehilangan pedang dan
tameng (perisai), bergulat mengandalkan kaki tangan, saling hantam, saling
tendang, bahkan ada yang dalam keadaan darurat tidak segan-segan menggunakan
gigi menggigit. Hebat dan dahsyat perang itu. Keris mencari jantung, tombak
mencari usus, golok menyambar leher, ruyung mencari otak!
"Kawan-kawan,
maju terus ........ !! Habiskan lawan, hancur-leburkan anak buah Pangeran Sepuh
yang khianat....!!!"
Teriakan
nyaring ini mengatasi semua kegaduhan dan jelas bukan keluar dari mulut orang
sembarangan. Orang yang dapat mengeluarkan teriakan sehebat itu tentulah
memiliki ilmu kesaktian tinggi. Dan memang benar. Teriakan ini keluar dari
mulut seorang laki-laki gagah perkasa, menunggang seekor kuda putih,
bersenjatakan sebatang tombak yang bergagang panjang. Mata tombak yang
berkilauan dan mengeluarkan cahaya kehijauan itu menandakan bahwa tombak itu
adalah sebuah pusaka ampuh yang mengandung bisa maut. Melihat dia menunggang
seekor kuda besar dan garang, pula melihat pakaiannya yang mentereng, mudah
dimengerti bahwa laki-laki gagah itu tentulah seorang panglima Pangeran Anom,
apalagi teriakannya jelas menyatakan pihak mana yang ia bela.
Siapakah
panglima ini? Bukan lain dia adalah Joko Wanengpati! Setelah mengalami
kekalahan di Kadipaten Selopenangkep, takut menghadapi Pujo dan Kartikosari
yang dibantu oleh Roro Luhito dan bahkan kemudian oleh Resi Telomoyo,
Jokowanengpati cepat melarikan diri kembali ke kota raja. Ia langsung menghadap
junjungannya, yaitu Pangeran Anom, menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep
yang telah dikuasainya itu direbut kembali oleh Pujo dan kawan-kawannya.
"Tidak
salah lagi, gusti pangeran! Pujo dan kawan-kawannya tentulah menjadi kaki
tangan Pangeran Sepuh. Hamba tidak dapat menahan mereka oleh karena pasukan
mereka jauh lebih kuat, pula hamba tidak mempunyai pembantu. Apabila paduka
mengijinkan, biarlah hamba kembali ke sana membawa pasukan besar dan hamba akan
mohon bantuan bibi Nogogini dan bibi Durgogini. Akan hamba seret semua
pengkhianat itu ke bawah kaki paduka!"
Akan tetapi
Pangeran Anom mempunyai rencana lain. Urusan perebutan Kadipaten Selopenangkep
tidaklah begitu penting, karena hal itu dilakukan hanya untuk memberi hukuman kepada
keluarga Wisangjiwo yang "menyeberang" kepada Pangeran Sepuh!.
"Jokowanengpati,
urusan di Selopenangkep itu cukuplah, karena aku sudah puas mendengar kau
berhasil membasmi keluarga Adipati Joyowiseso. Kiranya hukuman itu sudah cukup
untuk membuka mata Wisangjiwo si pengkhianat. Sekarang kita harus memusatkan
tenaga di sini karena saatnya sudah cukup masak untuk memperlihatkan kekuatan
kita disini. Kau pergilah menemui kedua bibimu itu, juga paman Cekel Aksomolo
dan yang lain-lain, suruh mereka menghadap malam ini untuk berunding."
Persiapan yang
diadakan Pangeran Anom untuk meledakkan perang saudara itu diatur sampai
berbulan-bulan. Makin lama suasana makin tegang. Kedua pihak saling mengirim
mata-mata untuk menyelidiki keadaan masing-masing. Hanya karena mengingat bahwa
Sang Prabu Airlangga masih hidup saja yang membuat perang terbuka masih selalu
tertekan dan tertunda. Di samping itu, selalu ada Ki Patih Narotama yang
berusaha sekuat tenaga mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mencegah
segala macam pertentangan yang terjadi di kota raja. Baik pihak pasukan
Pangeran Sepuh maupun Pangeran Anom, tidak berani berkutik kalau ki patih
muncul melerai pertikaian yang timbul di antara mereka. Tentu saja
persiapan-persiapan kedua pihak yang makin menghebat dan makin menegangkan hati
ini tak terlepas dari pandang mata Ki Patih Narotama yang amat waspada. Ia
merasa prihatin sekali dan diam-diam di luar tahu para senopati dan punggawa
keraton lainnya, ia menemui kedua pangeran itu. Pertama-tama ia menemui
Pangeran Sepuh dan dengan cara halus menyatakan ke khawatirannya dan tidak
persetujuannya akan persiapan-persiapan perang itu. Pangeran Sepuh mengerutkan
keningnya dan menjawab,
"Paman
patih, apakah paman mengira bahwa saya suka akan perang saudara? Akan tetapi
sebagai saudara tua, tentu saja saya tidak sudi diperhina oleh saudara muda.
Ramanda prabu mengundurkan diri pergi bertapa. Tugas pemerintahan memang
diwakilkan kepada paman, akan tetapi untuk urusan dalam istana, sudah
sepatutnya kalau saya sebagai putera tertua mewakili ramanda prabu. Kalau
saudara muda saya hendak memberontak merampas kekuasaan, sayalah yang wajib
memberi hajaran kepadanya!"
<<< Bagian 078 Bagian 080 >>>
No comments:
Post a Comment