Badai Laut Selatan ; Bagian 079


"Pernah, gusti. Akan tetapi paduka tidak melihat hamba, yaitu ketika paduka bertanding dikeroyok oleh Cekel Aksomolo dan teman-temannya, karena hamba bersembunyi di atas pohon."
"Hemm ........ hemmm ......... ."
Narotama mengelus-elus jenggotnya,
"Mereka mengeroyokku dekat muara Sungai Lorog. Joko Wandiro, katanya engkau cucu murid Resi Bhargowo. Siapakah gurumu?"
"Guru hamba adalah ayah hamba sendiri yang bernama Pujo, yang dahulu datang membantu paduka dalam pertandingan."
"Aaaaahh ........ ?"

Narotama makin tertarik dan mengelus-elus jenggotnya, keningnya berkerut. Tepat sekali, pikirnya. Anak ini berdarah satria. Dipandang sekelebatan saja sudah nampak bakatnya menjadi satria perkasa. Dan terutama sekali, Sang Resi Jatinendra sendiri yang tentu saja awas paningal itu telah memujinya. Lebih-lebih lagi, anak ini agaknya menyimpan pusaka Mataram, patung kencana Sri Bathara Wishnu! Dia tadi telah berjanji takkan turun tangan mencampuri urusan antara para pangeran.
Hemm ........ , betapapun juga, junjungannya tak dapat melupakan kasih sayang terhadap putera, maklum bahwa kalau dia turun tangan, tentu ada puteranya yang menjadi korban. Akan tetapi, bagaimana kalau Pangeran Anom yang ia tahu benar mengadakan hubungan dan dibujuk-bujuk kakeknya, Maha Raja Sriwijaya untuk merebut kedudukan di Kahuripan? Dan Pangeran Anom yang ibunya seorang puteri Sriwijaya itu mempergunakan tokoh-tokoh bekas musuh Sang Prabu Airlangga! Bagaimana ia dapat mendiamkan saja kalau kelak Pangeran Anom membuat gara-gara? Akan tetapi ia telah berjanji kepada junjungannya dan ia maklum bahwa lebih baik ia mati daripada melanggar janjinya itu.
"Engkau sudah sepatutnya mendidiknya, kakang."
Demikian ucapan Sang Resi Jatinendra tadi ketika hendak pergi. Narotama tersenyum. Betapapun juga ia hampir lupa akan kebijaksanaan junjungannya itu. Kini mengertilah dia. Sang Resi Jatinendra tidak menghendaki ia kelak turun tangan ikut berperang saudara, karena sang resi menganggap ia kakak sendiri, berarti paman putera-puteranya! Tentu saja tidak rela hati Sang Resi Jatinendra kalau Narotama ikut berperang antar saudara. Dan tadi junjungannya telah memberi "jalan keluar", yaitu dengan jalan menurunkan kepandaian kepada seorang murid yang tepat! Seorang murid yang kelak dapat menggantikannya menggunakan kepandaian untuk menjamin ketentraman kerajaan, membela yang benar menghancurkan yang salah, siapapun adanya yang benar atau yang salah itu. Menjadi penggantinya membela kebenaran dan keadilan, karena dia sendiri tidak mungkin dapat turun tangan, terbelenggu oleh janjinya tadi!
"Joko Wandiro, maukah engkau menjadi muridku?"

Saking heran, kaget dan juga girang Joko Wandiro mengangkat muka dan memandang dengan sepasang matanya yang bersinar-sinar. Ia tadi sudah menyaksikan betapa hebat sepak terjang ki patih yang sakti, bahkan dahulu pernah pula menikmati kesaktian kakek ini dikeroyok oleh tokoh-tokoh pandai. Tentu saja ia suka sekali menjadi murid Ki Patih Narotama yang menurut kabar adalah seorang yang paling sakti di Kahuripan, kecuali Sang Prabu Airlangga sendiri tentunya. Maka cepat-cepat ia menyembah.
"Hamba suka sekali, gusti patih......."
"Bagus, dan mulai sekarang jangan menyebut gusti patih kepadaku, melainkan bapa guru. Sekarang jawablah, apakah engkau tadi menyaksikan segala peristiwa yang terjadi di sini?"
Joko Wandiro mengangguk. Ki Patih Narotama bermaksud mengambil murid Joko Wandiro hanya dengan satu tujuan, yaitu agar kelak ia mempunyai wakil penjaga keselamatan Kerajaan Kahuripan yang ia cinta, agar ia dapat mewakilkan muridnya untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan di Kahuripan tanpa dia sendiri turun tangan. Maka ia ingin agar anak yang menjadi muridnya ini mengerti benar akan keadaan di Kerajaan Kahuripan, mengenal pula musuh-musuh Sang Prabu Airlangga yang amat banyak dan amat sakti, di antaranya Wirokolo tadi.
"Mengertikah engkau akan segala peristiwa yang terjadi tadi, muridku? Kalau ada yang belum kau mengerti, sekarang juga kau boleh bertanya dan aku akan memberi penjelasan."
Berkata demikian, Narotama lalu duduk di atas batu di depan Joko Wandiro. Girang hati anak ini. Tidak saja ia diterima menjadi murid kakek sakti mandraguna ini, juga ia mendapat kenyataan bahwa gurunya ini amat peramah dan sabar. Maka ia lalu segera mengajukan pertanyaan tentang peristiwa yang amat mengesankan hatinya tadi.
"Bapa guru, sebelum manusia iblis Wirokolo tadi muncul, terjadi peristiwa aneh sekali. Serombongan kelelawar yang jumlahnya beribu-ribu datang menyerang ke sini, disambut ribuan burung sriti yang mengalahkan dan mengusir mereka. Bagaimana hal itu bisa terjadi, bapa guru?"
"Hal itu terjadi karena aji yang disebut Panji Satwo. Aji ini adalah aji penakluk segala macam binatang. Akan tetapi seperti juga semua ilmu di dunia ini, bisa dihitamkan atau diputihkan oleh pelakunya. Segala aji di dunia ini bisa menjadi ilmu yang baik, bisa juga buruk, tergantung dari si manusia sendiri. Wirokolo menggunakan Aji Panji Satwo untuk melakukan hal-hal keji, maka ia memilih rombongan kelelawar untuk menyesuaikan diri. Di lain pihak, kakang Empu Bharodo juga menggunakan aji itu dan barisannya adalah burung-burung sriti yang memang bersarang di dalam guha. Pilihan tepat untuk mengusir kelelawar itu."

Joko Wandiro merasa kagum, juga bangga.
"Bapa guru, sesudah kelelawar-kelelawar itu dikalahkan dan pergi, lalu muncul nenek mengerikan yang mengeluarkan lidah api. Hamba pukul dan serang dia dengan golok, namun pukulan dan bacokan hamba tembus saja, seakan-akan tubuhnya hanya bayangan. Siapakah dia itu, bapa guru, dan mengapa setelah disambit puspa (bunga) oleh eyang Empu Bharodo, dia lenyap?"
"Aahhh, sungguh keji si Wirokolo." Kakek sakti itu menghela napas.
"Untung ada kakang Empu Bharodo yang ahli dalam hal ilmu sihir. Kalau tidak kedigdayaan saja akan sukar mengalahkan Wirokolo. Ketahuilah, muridku. Nenek itu adalah iblis ciptaan ilmu hitam Calon Arang yang amat keji, juga amat dahsyat sukar dikalahkan. Kalau si Wirokolo sudah memiliki ilmu macam itu, sungguh ia merupakan manusia iblis yang berbahaya dan sudah selayaknya dibasmi. Sayang bahwa junjungan kita tadi melarang, kalau tidak, tentu sudah kubinasakan si jahat Wirokolo."
"Siapakah dia itu, bapa guru? Dan mengapa dia memusuhi Sang Prabu Airlangga?"
"Dia seorang bekas senopati Kerajaan Wengker yang dahulu dikalahkan oleh tentara Kahuripan. Agaknya ia masih mendendam dan hendak menuntut balas."
Kemudian Ki Patih Narotama menyuruh muridnya memperlihatkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya, dan mulailah ia memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan oleh Joko Wandiro penuh perhatian. Mulailah Joko Wandiro menerima gemblengan dari kakek sakti ini dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat melihat bahwa gemblengan dari kakek sakti ini, dan dari permulaannya, anak ini sudah dapat melihat bahwa gemblengan ini jauh bedanya dengan gemblengan-gemblengan yang pernah ia terima, dapat mengerti bahwa gurunya ini memiliki ilmu kesaktian yang amat hebat. Maka iapun amat tekun mengikuti pelajaran yang diberikan Ki Patih Narotama.

“Serbuuuuuu ........ ! Hantam ........ !!"
"Gempurr ........ ! Bunuh ........ !! Hidup Pangeran Anom........ !!"
"Hayo maju........ ! Habiskan antek antek Sriwijaya! Hidup Pangeran Sepuh ........ !!"
Teriak pekik menggegap-gempita. Debu mengebul tinggi menggelapkan udara. Kilatan keris, tombak, kelewang dan senjata-senjata lain menyilaukan mata. Derap kaki dan ringkik kuda menambah gaduh. Perang campuh terjadilah. Perang saudara antara pasukan-pasukan Pangeran Sepuh dan pasukan-pasukan Pangeran Anom! Kalau di waktu-waktu yang lalu hanya terjadi bentrokan-bentrokan kecil, pelototan mata dan saling melontarkan sindir ejek, kini meledaklah perang yang sekian lama ditekan-tekan.
Perang terbuka antar pasukan. Bertempat di alun-alun, dimana biasanya hanya dipergunakan untuk latihan-latihan perang. Darah mulai muncrat, mayat mulai berserakan, pekik kemarahan bercampur dengan jerit kesakitan, diseling sorak-sorai dan tangis. Udara makin gelap. Perang campuh yang liar, buas, dan kacau-balau. Amat sukar membedakan mana kawan mana lawan dalam perang campuh seperti itu. Apalagi banyak diantara mereka yang serupa pakaiannya, bahkan banyak yang dahulunya menjadi kawan kini menjadi lawan karena yang seorang berfihak Pangeran Sepuh, yang lain berpihak Pangeran Anom.
Riuh rendah suara mereka yang beryuda. Keris-keris pusaka yang biasanya hanya diberi "makan" kembang menyan pada hari-hari baik, kini dihunus dari warangka dan diberi kesempatan sebanyaknya untuk berpuas-puasan minum darah manusia yang masih segar dan panas! Banyak golok dan kelewang menyambar-nyambar, bacok-membacok, tusuk-menusuk. Tombak-tombak berluncuran mencari sasaran perut yang lunak. Ada pula yang sudah kehilangan pedang dan tameng (perisai), bergulat mengandalkan kaki tangan, saling hantam, saling tendang, bahkan ada yang dalam keadaan darurat tidak segan-segan menggunakan gigi menggigit. Hebat dan dahsyat perang itu. Keris mencari jantung, tombak mencari usus, golok menyambar leher, ruyung mencari otak!
"Kawan-kawan, maju terus ........ !! Habiskan lawan, hancur-leburkan anak buah Pangeran Sepuh yang khianat....!!!"

Teriakan nyaring ini mengatasi semua kegaduhan dan jelas bukan keluar dari mulut orang sembarangan. Orang yang dapat mengeluarkan teriakan sehebat itu tentulah memiliki ilmu kesaktian tinggi. Dan memang benar. Teriakan ini keluar dari mulut seorang laki-laki gagah perkasa, menunggang seekor kuda putih, bersenjatakan sebatang tombak yang bergagang panjang. Mata tombak yang berkilauan dan mengeluarkan cahaya kehijauan itu menandakan bahwa tombak itu adalah sebuah pusaka ampuh yang mengandung bisa maut. Melihat dia menunggang seekor kuda besar dan garang, pula melihat pakaiannya yang mentereng, mudah dimengerti bahwa laki-laki gagah itu tentulah seorang panglima Pangeran Anom, apalagi teriakannya jelas menyatakan pihak mana yang ia bela.
Siapakah panglima ini? Bukan lain dia adalah Joko Wanengpati! Setelah mengalami kekalahan di Kadipaten Selopenangkep, takut menghadapi Pujo dan Kartikosari yang dibantu oleh Roro Luhito dan bahkan kemudian oleh Resi Telomoyo, Jokowanengpati cepat melarikan diri kembali ke kota raja. Ia langsung menghadap junjungannya, yaitu Pangeran Anom, menceritakan bahwa Kadipaten Selopenangkep yang telah dikuasainya itu direbut kembali oleh Pujo dan kawan-kawannya.
"Tidak salah lagi, gusti pangeran! Pujo dan kawan-kawannya tentulah menjadi kaki tangan Pangeran Sepuh. Hamba tidak dapat menahan mereka oleh karena pasukan mereka jauh lebih kuat, pula hamba tidak mempunyai pembantu. Apabila paduka mengijinkan, biarlah hamba kembali ke sana membawa pasukan besar dan hamba akan mohon bantuan bibi Nogogini dan bibi Durgogini. Akan hamba seret semua pengkhianat itu ke bawah kaki paduka!"
Akan tetapi Pangeran Anom mempunyai rencana lain. Urusan perebutan Kadipaten Selopenangkep tidaklah begitu penting, karena hal itu dilakukan hanya untuk memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo yang "menyeberang" kepada Pangeran Sepuh!.
"Jokowanengpati, urusan di Selopenangkep itu cukuplah, karena aku sudah puas mendengar kau berhasil membasmi keluarga Adipati Joyowiseso. Kiranya hukuman itu sudah cukup untuk membuka mata Wisangjiwo si pengkhianat. Sekarang kita harus memusatkan tenaga di sini karena saatnya sudah cukup masak untuk memperlihatkan kekuatan kita disini. Kau pergilah menemui kedua bibimu itu, juga paman Cekel Aksomolo dan yang lain-lain, suruh mereka menghadap malam ini untuk berunding."

Persiapan yang diadakan Pangeran Anom untuk meledakkan perang saudara itu diatur sampai berbulan-bulan. Makin lama suasana makin tegang. Kedua pihak saling mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan masing-masing. Hanya karena mengingat bahwa Sang Prabu Airlangga masih hidup saja yang membuat perang terbuka masih selalu tertekan dan tertunda. Di samping itu, selalu ada Ki Patih Narotama yang berusaha sekuat tenaga mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mencegah segala macam pertentangan yang terjadi di kota raja. Baik pihak pasukan Pangeran Sepuh maupun Pangeran Anom, tidak berani berkutik kalau ki patih muncul melerai pertikaian yang timbul di antara mereka. Tentu saja persiapan-persiapan kedua pihak yang makin menghebat dan makin menegangkan hati ini tak terlepas dari pandang mata Ki Patih Narotama yang amat waspada. Ia merasa prihatin sekali dan diam-diam di luar tahu para senopati dan punggawa keraton lainnya, ia menemui kedua pangeran itu. Pertama-tama ia menemui Pangeran Sepuh dan dengan cara halus menyatakan ke khawatirannya dan tidak persetujuannya akan persiapan-persiapan perang itu. Pangeran Sepuh mengerutkan keningnya dan menjawab,
"Paman patih, apakah paman mengira bahwa saya suka akan perang saudara? Akan tetapi sebagai saudara tua, tentu saja saya tidak sudi diperhina oleh saudara muda. Ramanda prabu mengundurkan diri pergi bertapa. Tugas pemerintahan memang diwakilkan kepada paman, akan tetapi untuk urusan dalam istana, sudah sepatutnya kalau saya sebagai putera tertua mewakili ramanda prabu. Kalau saudara muda saya hendak memberontak merampas kekuasaan, sayalah yang wajib memberi hajaran kepadanya!"

<<< Bagian 078                                                                                   Bagian 080 >>>

No comments:

Post a Comment