Badai Laut Selatan ; Bagian 080


Ki Patih Narotama hanya menghela napas panjang. Ia maklum bahwa kesalahan memang diperbuat oleh Pangeran Anom, maka ia tidak membantah atau menyalahkan Pangeran Tua. Dengan pengharapan akan dapat memberi nasehat dan peringatan kepada Pangeran Anom Ki Patih Narotama pergi menghadap Pangeran Anom. Akan tetapi di sini ia malah penerima jawaban yang menyakitkan hati.
"Engkau hanya seorang patih, paman! Perlu apa mencampuri pertikaian antar saudara? Sudah jelas bahwa setelah rama prabu pergi bertapa, Pangeran Sepuh menjadi sombong dan mengagulkan diri sebagai putera sulung, seakan-akan rama prabu sudah seda (mati) dan dia yang menggantikan menjadi raja! Huh, kalau memang dia hendak menjadi raja mendasarkan kekerasan, akupun bisa berbuat serupa! Tinggal engkau pilih, paman patih, engkau membela Pangeran Sepuh, ataukah membantu aku!"
Hati Ki Patih Narotama menjadi panas karena marah, namun ia menekan perasaannya dan berkata sabar,
"Hamba adalah pepatih dalam rama paduka, oleh karena itu pula hanya sabda rama paduka yang akan hamba taati. Kalau paduka dan Gusti Pangeran Sepuh tidak suka mendengar nasehat orang tua, biarlah hamba pergi menghadap rama paduka dan mohon keputusan."

Demikianlah Ki Patih Narotama lalu pergi meninggalkan keraton menuju ke pertapaan Jalatunda seperti yang telah diceritakan di depan. Sepergi ki patih permusuhan semakin menghebat karena diantara para pasukan tidak ada lagi yang ditakuti. Pada saat tegang ituiah datangnya Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito dan Resi Telomoyo, menghadap Pangeran Sepuh yang diterima dengan hati girang.
Akhirnya perang saudara pecah dan perang tanding mati-matian itu terjadi di alun-alun! Kedua pihak sama kuat, karena mereka itupun mendapatkan latihan perang yang sama pula. Makin lama perang campuh makin menghebat karena kedua fihak selalu mendapat tambahan bantuan. Ketika Jokowanengpati yang menunggang kuda putih muncul di medan yuda memberi semangat kepada para pasukan, sepak terjangnya bukan main hebatnya. Tombaknya menyambar-nyambar dan kemana saja kudanya melompat, tentu beberapa orang prajurit pasukan Pangeran Sepuh roboh bergelimpangan. Ada yang tertombak perutnya sampai ususnya terurai keluar, atau kepalanya pecah karena hantaman gagang tombak, ada pula yang terinjak-injak kuda putih! Pendeknya, di mana kuda putih yang ditunggangi Jokowanengpati tiba, tentu terjadi geger. Tak seorangpun prajurit atau perwira sanggup menanggulangi sepak terjang Jokowanengpati.
Berita yang menggemparkan para prajurit Pangeran Sepuh ini terdengar oleh Wisangjiwo yang menyertai para senopati Pangeran Sepuh. Mendengar akan majunya Jokowanengpati ke medan yuda, Wisangjiwo menjadi marah sekali. Itulah musuh besarnva dan mendengar namanya saja sudah membuat dada serasa meledak. Sambil berkerot gigi, Wisangjiwo menyambar tombak dan melompat ke atas kudanya, langsung menyerbu ke medan yuda, mencari-cari di mana adanya musuh besar itu. Akhirnya ia melihat Jokowanengpati di ujung selatan. Dikepraknya kuda tunggangannya dan dengan kemarahan meluap-luap ia membalapkan kuda menghampiri musuhnya.
Dua ekor kuda berhadapan muka. Dua orang musuh beradu pandang penuh kebencian. Sejenak mereka hanya saling pandang seakan-akan dua ekor jago mengukur keadaan lawan. Para prajurit cepat-cepat mundur untuk memberi kesempatan kepada dua jagoan mereka bertanding. Demikian tegang keadaannya sehingga beberapa orang perajurit kedua fihak sampai sejenak lupa berperang dan menjadi penonton!
"Si bedebah Jokowanengpati!" Akhirnya dengan dada terengah-engah saking marahnya Wisangjiwo menudingkan telunjuk kirinya sambil mengempit tombak di ketiak kanan.
"Engkau manusia berhati iblis, mencemarkan namaku dengan perbuatan terkutuk! Engkau telah menodai keluarga kami, dan akhirnya engkau telah menyerbu Selopenangkep melukai ayah, membunuh ibu dan sekeluarga! Aku bersumpah akan mengadu nyawa denganmu, keparat!"
"Babo-babo !! Wisangjiwo, kau manusia khianat! Urusan yang lain bukanlah urusanmu! Tentang keluargamu di Selopenangkep, mereka itu menjadi korban pengkhianatanmu sendiri sehingga menerima hukuman dari Gusti Pangeran Anom. Manusia tak tahu malu, tentang urusan wanita, engkau melebihi aku, mengapa banyak cerewet? Engkau bersumpah ingin mampus di tanganku? Mudah, sobat. Majulah, ha-haha!"
Wisangjiwo tak dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Dadanya terlalu panas sampai-sampai lehernya serasa tercekik. Dengan penuh kegeraman ia lalu menendang perut kudanya yang melonjak ke depan sambil memutar tombak dan menyerang dengan tusukan kilat. Jokowanengpati sudah siap dan menangkis.
"Traaangggg ........ !!"

Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu. Segera keduanya terlibat dalam perang tanding mati-matian. Keduanya sama cekatan, sama kuat dan sama pandai dalam seni tempur di atas kuda menggunakan lembing. Para prajurit yang menjadi penonton bersorak-sorak memberi semangat kepada jago masing-masing. Di bagian lain dalam perang campuh itu, tampak orang-orang sakti yang membantu Pangeran Anom ikut pula memperlihatkan jasa mereka. Cekel Aksomolo sebetulnya merasa sungkan untuk berperang melawan prajurit-prajurit biasa yang sama sekali bukanlah lawannya. Demikian pula Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso. Akan tetapi anak buah Ki Krendoyakso yang jumlahnya seratus orang lebih itu tanpa menanti komando lagi sudah berpesta-pora dalam perang. Mereka adalah perampok-perampok yang liar dan ganas, tentu saja berperang dan membunuh orang merupakan kegemaran mereka! Ni Nogogini dan Ni Durgogini juga berada di situ, akan tetapi dua orang wanita sakti itu kini bertugas menjaga keselamatan Pangeran Anom yang menunggang seekor kuda kemerahan dan berdiri dari tempat tinggi menonton perang. Keselamatan sang pangeran ini tentu saja penting, maka tugas menjamin keselamatannya diserahkan kepada dua orang wanita sakti itu. Hal ini menggembirakan hati Ni Durgogini dan Ni Nogogini, karena seperti juga yang lain-lain, mereka merasa tak senang harus bertanding melawan orang-orang yang tidak berarti!
Ketika dari dalam barisan Pangeran Sepuh muncul Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi Telomoyo yang mengamuk seperti badai mengganas, barulah timbul kegembiraan di hati Cekel Aksomolo dan teman-temannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan kesaktian, belum pernah belajar seni yuda di atas kuda, maka mereka ini maju bertanding dengan berloncatan ke sana ke mari seperti burung-burung menyambar.
"Heh-heh-hu-huhh! Munyuk monyet mendem (mabok)! Sungguh menggembirakan sekali dapat bertemu denganmu di sini. Resi Telomoyo munyuk monyet lutung keparat, sekarang kau takkan dapat melarikan diri lagi!"
Cekel Aksomolo segera menyambut amukan Resi Telomoyo ini dengan ayunan tasbihnya. Resi Telomoyo sudah mengenal keampuhan tasbih Cekel Aksomolo, maka ia cepat mengelak lalu meloncat ke samping dan kakinya tahu-tahu sudah menyepak dari samping ke arah lambung kiri, cepat sekali.
Untung Cekel Aksomolo juga sudah mengenal gerakan cepat manusia seperti raja kera ini, maka ia dapat cepat mengelak, akan tetapi hampir saja lambungnya tercium tungkan (tumit) ngapal sehingga ia kaget sekali dan meloncat mundur.
"Ha-ha-ha! Lagi-lagi cekel bongkok, tua bangka kurus kering matanya juling sumbarnya seperti gonggongan anjing tapi tukmis (gila perempuan)! Ke mana-mana bertemu si cekel bongkok, betul-betul sial dangkalan!"
Gekel Aksomolo merasa kalah kalau harus berdebat atau saling ejek dengan kakek Resi Telomoyo, maka sambil menggereng marah ia lalu menerjang lagi sambil memutar senjatanya yang luar biasa. Di lain fihak, Resi Telomoyo juga tidak berani main-main lagi dan ia harus memusatkan perhatiannya dalam pertandingan ini kalau tidak mau mati konyol, karena memang lawannya itu biarpun tua renta dan bongkok, sesungguhnya memiliki kesaktian yang menggiriskan.

Sementara itu, Pujo dan kedua orang isterinya juga mulai terjun ke medan yuda. Melihat betapa Resi Telomoyo sudah mulai berhantam menghadapi Cekel Aksomolo, Pujo sambil menghantam ke depan dan menendang ke kanan kiri, berkata kepada Kartikosari dan Roro Luhito,
"Kalian bantu paman resi! Aku akan mencari Jokowanengpali"
Setelah berseru demikian, ia membuka jalan darah, merobohkan beberapa orang prajurit musuh lalu menerjang terus ke tengah untuk mencari musuh besarnya. Kartikosari dan Roro Luhito tadi memang bersama Pujo terjun ke dalam medan perang dengan maksud hendak mencari musuh besar itu. Kini melihat Pujo menerjang maju seorang diri, diam-diam mereka ingin menyertainya. Akan tetapi, mereka berduapun maklum bahwa Cekel Aksomolo adalah seorang yang sakti mandraguna, maka meninggalkan Resi Telomoyo menghadapinya seorang diri, juga tidak baik.
"Kita terjang dia, habiskan sekarang, kemudian menyusul kangmas Pujo!" kata Kartikosari.
Roro Luhito mengangguk lalu mereka lari mendekati tempat di mana Resi Telomoyo dan Cekel Aksomolo sedang bertanding. Beberapa orang prajurit lawan yang menghalang jalan roboh oleh mereka sehingga para perajurit lain makin gentar dan cepat menjauhi dua orang puteri yang tandangnya (sepak terjangnya) seperti dua ekor singa betina itu. Melihat datangnya dua orang wanita ini, Resi Telomoyo girang dan berkata,
"Ha! Bagus kalian datang. Mari bantu aku, kita rencak (sikat bersama) cekel kal-kel yang berbau busuk ini!!"
"Wuuut ....... singgg ....... !! " Hampir saja kepala Resi Telomoyo kena disambar tasbih.
"Jebol polomu!!" Cekel Aksomolo berseru penuh kemarahan.
Namun Resi Telomoyo memiliki gerakan yang amat gesit. Dengan jalan membanting tubuh ke belakang lalu berjumpalitan sampai tiga kali ia dapat terhindar dari ancaman maut dan ketika ia berdiri kembali, kedua tangannya sudah menggenggam tanah. Melihat lawannya menerjang datang, ia memekik dan kedua tangannya bergerak ke depan. Kagetlah Cekel Aksomoio ketika tanah dan debu menyambar ke arah mukanya.
"Uuuuh, setan keparat, curang kau ....... !" teriaknya dan terpaksa ia melompat mundur ke belakang sambil meramkan mata. Saat itu dipergunakan oleh Resi Telomoyo untuk membalas dengan serangan kilat. Kaki tangannya bergerak seperti mesin cepatnya mengirim serangan bertubi-tubi dan berganti-ganti.

Namun semua serangannya dapat digagalkan lawan yang cepat memutar tasbih membentuk payung melindungi dirinya. Ketika Kartikosari dan Roro Luhito hendak meloncat maju membantu Resi Telomoyo, dari dalam barisan musuh meloncat keluar pula dua orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa. Mereka ini bukan lain adalah Ki Warok Cendroyono dan Ki Krendoyakso yang semenjak tadi menanti-nanti datangnya lawan tangguh!. Mereka juga enggan bertempur dengan prajurit-prajurit yang sama sekali bukan tandingan mereka. Ketika melihat Cekel Aksomolo menemukan tanding Resi Telomoyo yang sakti, mereka sudah gatal-gatal tangan hendak ikut bertanding. Kemudian mereka melihat sepak terjang dua orang wanita cantik yang luar biasa itu, yang gerakannya merobohkan prajurit-prajurit seperti orang membabat rumput saja. Ketika melihat bahwa dua orang wanita cantik itu teman Resi Telomoyo, maka keduanya tanpa diperintah lagi lalu melompat maju dan menyambut dengan teriakan garang,
"Hemmm, biasanya aku pantang melawan wanita! Akan tetapi kulihat engkau bukan wanita biasa, melainkan seorang prajurit gemblengan. Kau siapakah? Kalau mempunyai kepandaian, hayo maju dan lawanlah Warok Gendroyono! Kalau kau takut, lebih baik lekas-lekas mundur, di sini bukan tempat wanita berlagak!"
Mendengar kata-kata kasar itu, Kartikosari menudingkan kerisnya ke arah hidung Warok Gendroyono sambil membentak,
"Warok celaka tak perlu menyombong! Sebentar lagi kau tentu mampus di tangan Kartikosari!"
Baru saja terhenti kata-kata itu, tubuh Kartikosari sudah mencelat ke depan dengan gerakan cepat laksana burung terbang dan ujung kerisnya sudah mengancam ulu hati lawan!
"Haaaiiitttl"
Warok Gendroyono terkejut sekali. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita ini sedemikian cepat gerakannya. Untung baginya, ketika terjun ke gelanggang pertempuran tadi ia sudah melolos kolor mautnya sehingga kini menghadapi serangan kilat yang sukar dielakkan itu ia dapat memutar kolornya untuk menangkis.
"Desssss ....... !!"
Kartikosari merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar oleh tangkisan kolor. Diam- diam ia kaget dan cepat melompat mundur. Kini keduanya saling pandang dan diam-diam mereka mengerti bahwa lawan di depan adalah orang yang tak boleh dipandang ringan, merupakan lawan yang kuat. Dari getaran ujung kolornya Warok Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya memiliki kecepatan laksana burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga dahsyat yang digerakkan hawa sakti yang kuat.

Dari getaran ujung kolornya. Warok Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya memiliki kecepatan laksana burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga dahsyat yang digerakkan hawa sakti yang kuat. Maka ia tidak berani memandang ringan dan setelah mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka, Warok Gendroyono lalu balas menyerang dengan terjangan dahsyat sambil menggerakkan kolor mautnya yang ampuh.

<<< Bagian 079                                                                                    Bagian 081 >>>

No comments:

Post a Comment