Ki Patih Narotama hanya menghela napas panjang. Ia maklum bahwa kesalahan memang diperbuat oleh Pangeran Anom, maka ia tidak membantah atau menyalahkan Pangeran Tua. Dengan pengharapan akan dapat memberi nasehat dan peringatan kepada Pangeran Anom Ki Patih Narotama pergi menghadap Pangeran Anom. Akan tetapi di sini ia malah penerima jawaban yang menyakitkan hati.
"Engkau
hanya seorang patih, paman! Perlu apa mencampuri pertikaian antar saudara?
Sudah jelas bahwa setelah rama prabu pergi bertapa, Pangeran Sepuh menjadi
sombong dan mengagulkan diri sebagai putera sulung, seakan-akan rama prabu
sudah seda (mati) dan dia yang menggantikan menjadi raja! Huh, kalau memang dia
hendak menjadi raja mendasarkan kekerasan, akupun bisa berbuat serupa! Tinggal
engkau pilih, paman patih, engkau membela Pangeran Sepuh, ataukah membantu
aku!"
Hati Ki Patih
Narotama menjadi panas karena marah, namun ia menekan perasaannya dan berkata
sabar,
"Hamba
adalah pepatih dalam rama paduka, oleh karena itu pula hanya sabda rama paduka
yang akan hamba taati. Kalau paduka dan Gusti Pangeran Sepuh tidak suka
mendengar nasehat orang tua, biarlah hamba pergi menghadap rama paduka dan
mohon keputusan."
Demikianlah Ki
Patih Narotama lalu pergi meninggalkan keraton menuju ke pertapaan Jalatunda
seperti yang telah diceritakan di depan. Sepergi ki patih permusuhan semakin
menghebat karena diantara para pasukan tidak ada lagi yang ditakuti. Pada saat
tegang ituiah datangnya Wisangjiwo, Pujo, Kartikosari, Roro Luhito dan Resi
Telomoyo, menghadap Pangeran Sepuh yang diterima dengan hati girang.
Akhirnya
perang saudara pecah dan perang tanding mati-matian itu terjadi di alun-alun!
Kedua pihak sama kuat, karena mereka itupun mendapatkan latihan perang yang
sama pula. Makin lama perang campuh makin menghebat karena kedua fihak selalu
mendapat tambahan bantuan. Ketika Jokowanengpati yang menunggang kuda putih
muncul di medan yuda memberi semangat kepada para pasukan, sepak terjangnya
bukan main hebatnya. Tombaknya menyambar-nyambar dan kemana saja kudanya
melompat, tentu beberapa orang prajurit pasukan Pangeran Sepuh roboh
bergelimpangan. Ada yang tertombak perutnya sampai ususnya terurai keluar, atau
kepalanya pecah karena hantaman gagang tombak, ada pula yang terinjak-injak
kuda putih! Pendeknya, di mana kuda putih yang ditunggangi Jokowanengpati tiba,
tentu terjadi geger. Tak seorangpun prajurit atau perwira sanggup menanggulangi
sepak terjang Jokowanengpati.
Berita yang
menggemparkan para prajurit Pangeran Sepuh ini terdengar oleh Wisangjiwo yang
menyertai para senopati Pangeran Sepuh. Mendengar akan majunya Jokowanengpati
ke medan yuda, Wisangjiwo menjadi marah sekali. Itulah musuh besarnva dan
mendengar namanya saja sudah membuat dada serasa meledak. Sambil berkerot gigi,
Wisangjiwo menyambar tombak dan melompat ke atas kudanya, langsung menyerbu ke
medan yuda, mencari-cari di mana adanya musuh besar itu. Akhirnya ia melihat
Jokowanengpati di ujung selatan. Dikepraknya kuda tunggangannya dan dengan
kemarahan meluap-luap ia membalapkan kuda menghampiri musuhnya.
Dua ekor kuda
berhadapan muka. Dua orang musuh beradu pandang penuh kebencian. Sejenak mereka
hanya saling pandang seakan-akan dua ekor jago mengukur keadaan lawan. Para
prajurit cepat-cepat mundur untuk memberi kesempatan kepada dua jagoan mereka
bertanding. Demikian tegang keadaannya sehingga beberapa orang perajurit kedua
fihak sampai sejenak lupa berperang dan menjadi penonton!
"Si
bedebah Jokowanengpati!" Akhirnya dengan dada terengah-engah saking marahnya
Wisangjiwo menudingkan telunjuk kirinya sambil mengempit tombak di ketiak
kanan.
"Engkau
manusia berhati iblis, mencemarkan namaku dengan perbuatan terkutuk! Engkau
telah menodai keluarga kami, dan akhirnya engkau telah menyerbu Selopenangkep
melukai ayah, membunuh ibu dan sekeluarga! Aku bersumpah akan mengadu nyawa
denganmu, keparat!"
"Babo-babo
!! Wisangjiwo, kau manusia khianat! Urusan yang lain bukanlah urusanmu! Tentang
keluargamu di Selopenangkep, mereka itu menjadi korban pengkhianatanmu sendiri sehingga
menerima hukuman dari Gusti Pangeran Anom. Manusia tak tahu malu, tentang
urusan wanita, engkau melebihi aku, mengapa banyak cerewet? Engkau bersumpah
ingin mampus di tanganku? Mudah, sobat. Majulah, ha-haha!"
Wisangjiwo tak
dapat mengeluarkan kata-kata lagi. Dadanya terlalu panas sampai-sampai lehernya
serasa tercekik. Dengan penuh kegeraman ia lalu menendang perut kudanya yang
melonjak ke depan sambil memutar tombak dan menyerang dengan tusukan kilat.
Jokowanengpati sudah siap dan menangkis.
"Traaangggg
........ !!"
Bunga api
berpijar ketika dua senjata itu bertemu. Segera keduanya terlibat dalam perang
tanding mati-matian. Keduanya sama cekatan, sama kuat dan sama pandai dalam
seni tempur di atas kuda menggunakan lembing. Para prajurit yang menjadi
penonton bersorak-sorak memberi semangat kepada jago masing-masing. Di bagian
lain dalam perang campuh itu, tampak orang-orang sakti yang membantu Pangeran
Anom ikut pula memperlihatkan jasa mereka. Cekel Aksomolo sebetulnya merasa
sungkan untuk berperang melawan prajurit-prajurit biasa yang sama sekali
bukanlah lawannya. Demikian pula Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyakso. Akan
tetapi anak buah Ki Krendoyakso yang jumlahnya seratus orang lebih itu tanpa
menanti komando lagi sudah berpesta-pora dalam perang. Mereka adalah
perampok-perampok yang liar dan ganas, tentu saja berperang dan membunuh orang
merupakan kegemaran mereka! Ni Nogogini dan Ni Durgogini juga berada di situ,
akan tetapi dua orang wanita sakti itu kini bertugas menjaga keselamatan Pangeran
Anom yang menunggang seekor kuda kemerahan dan berdiri dari tempat tinggi
menonton perang. Keselamatan sang pangeran ini tentu saja penting, maka tugas
menjamin keselamatannya diserahkan kepada dua orang wanita sakti itu. Hal ini
menggembirakan hati Ni Durgogini dan Ni Nogogini, karena seperti juga yang
lain-lain, mereka merasa tak senang harus bertanding melawan orang-orang yang
tidak berarti!
Ketika dari
dalam barisan Pangeran Sepuh muncul Pujo, Kartikosari, Roro Luhito, dan Resi
Telomoyo yang mengamuk seperti badai mengganas, barulah timbul kegembiraan di
hati Cekel Aksomolo dan teman-temannya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki
kepandaian silat dan kesaktian, belum pernah belajar seni yuda di atas kuda,
maka mereka ini maju bertanding dengan berloncatan ke sana ke mari seperti
burung-burung menyambar.
"Heh-heh-hu-huhh!
Munyuk monyet mendem (mabok)! Sungguh menggembirakan sekali dapat bertemu
denganmu di sini. Resi Telomoyo munyuk monyet lutung keparat, sekarang kau
takkan dapat melarikan diri lagi!"
Cekel Aksomolo
segera menyambut amukan Resi Telomoyo ini dengan ayunan tasbihnya. Resi
Telomoyo sudah mengenal keampuhan tasbih Cekel Aksomolo, maka ia cepat mengelak
lalu meloncat ke samping dan kakinya tahu-tahu sudah menyepak dari samping ke
arah lambung kiri, cepat sekali.
Untung Cekel
Aksomolo juga sudah mengenal gerakan cepat manusia seperti raja kera ini, maka
ia dapat cepat mengelak, akan tetapi hampir saja lambungnya tercium tungkan
(tumit) ngapal sehingga ia kaget sekali dan meloncat mundur.
"Ha-ha-ha!
Lagi-lagi cekel bongkok, tua bangka kurus kering matanya juling sumbarnya
seperti gonggongan anjing tapi tukmis (gila perempuan)! Ke mana-mana bertemu si
cekel bongkok, betul-betul sial dangkalan!"
Gekel Aksomolo
merasa kalah kalau harus berdebat atau saling ejek dengan kakek Resi Telomoyo,
maka sambil menggereng marah ia lalu menerjang lagi sambil memutar senjatanya
yang luar biasa. Di lain fihak, Resi Telomoyo juga tidak berani main-main lagi
dan ia harus memusatkan perhatiannya dalam pertandingan ini kalau tidak mau
mati konyol, karena memang lawannya itu biarpun tua renta dan bongkok,
sesungguhnya memiliki kesaktian yang menggiriskan.
Sementara itu,
Pujo dan kedua orang isterinya juga mulai terjun ke medan yuda. Melihat betapa
Resi Telomoyo sudah mulai berhantam menghadapi Cekel Aksomolo, Pujo sambil
menghantam ke depan dan menendang ke kanan kiri, berkata kepada Kartikosari dan
Roro Luhito,
"Kalian
bantu paman resi! Aku akan mencari Jokowanengpali"
Setelah
berseru demikian, ia membuka jalan darah, merobohkan beberapa orang prajurit
musuh lalu menerjang terus ke tengah untuk mencari musuh besarnya. Kartikosari
dan Roro Luhito tadi memang bersama Pujo terjun ke dalam medan perang dengan
maksud hendak mencari musuh besar itu. Kini melihat Pujo menerjang maju seorang
diri, diam-diam mereka ingin menyertainya. Akan tetapi, mereka berduapun maklum
bahwa Cekel Aksomolo adalah seorang yang sakti mandraguna, maka meninggalkan
Resi Telomoyo menghadapinya seorang diri, juga tidak baik.
"Kita
terjang dia, habiskan sekarang, kemudian menyusul kangmas Pujo!" kata
Kartikosari.
Roro Luhito
mengangguk lalu mereka lari mendekati tempat di mana Resi Telomoyo dan Cekel
Aksomolo sedang bertanding. Beberapa orang prajurit lawan yang menghalang jalan
roboh oleh mereka sehingga para perajurit lain makin gentar dan cepat menjauhi
dua orang puteri yang tandangnya (sepak terjangnya) seperti dua ekor singa
betina itu. Melihat datangnya dua orang wanita ini, Resi Telomoyo girang dan
berkata,
"Ha!
Bagus kalian datang. Mari bantu aku, kita rencak (sikat bersama) cekel kal-kel
yang berbau busuk ini!!"
"Wuuut
....... singgg ....... !! " Hampir saja kepala Resi Telomoyo kena disambar
tasbih.
"Jebol
polomu!!" Cekel Aksomolo berseru penuh kemarahan.
Namun Resi
Telomoyo memiliki gerakan yang amat gesit. Dengan jalan membanting tubuh ke
belakang lalu berjumpalitan sampai tiga kali ia dapat terhindar dari ancaman
maut dan ketika ia berdiri kembali, kedua tangannya sudah menggenggam tanah.
Melihat lawannya menerjang datang, ia memekik dan kedua tangannya bergerak ke
depan. Kagetlah Cekel Aksomoio ketika tanah dan debu menyambar ke arah mukanya.
"Uuuuh,
setan keparat, curang kau ....... !" teriaknya dan terpaksa ia melompat
mundur ke belakang sambil meramkan mata. Saat itu dipergunakan oleh Resi
Telomoyo untuk membalas dengan serangan kilat. Kaki tangannya bergerak seperti
mesin cepatnya mengirim serangan bertubi-tubi dan berganti-ganti.
Namun semua
serangannya dapat digagalkan lawan yang cepat memutar tasbih membentuk payung
melindungi dirinya. Ketika Kartikosari dan Roro Luhito hendak meloncat maju
membantu Resi Telomoyo, dari dalam barisan musuh meloncat keluar pula dua orang
laki-laki tinggi besar seperti raksasa. Mereka ini bukan lain adalah Ki Warok
Cendroyono dan Ki Krendoyakso yang semenjak tadi menanti-nanti datangnya lawan
tangguh!. Mereka juga enggan bertempur dengan prajurit-prajurit yang sama
sekali bukan tandingan mereka. Ketika melihat Cekel Aksomolo menemukan tanding
Resi Telomoyo yang sakti, mereka sudah gatal-gatal tangan hendak ikut
bertanding. Kemudian mereka melihat sepak terjang dua orang wanita cantik yang
luar biasa itu, yang gerakannya merobohkan prajurit-prajurit seperti orang
membabat rumput saja. Ketika melihat bahwa dua orang wanita cantik itu teman
Resi Telomoyo, maka keduanya tanpa diperintah lagi lalu melompat maju dan
menyambut dengan teriakan garang,
"Hemmm,
biasanya aku pantang melawan wanita! Akan tetapi kulihat engkau bukan wanita
biasa, melainkan seorang prajurit gemblengan. Kau siapakah? Kalau mempunyai kepandaian,
hayo maju dan lawanlah Warok Gendroyono! Kalau kau takut, lebih baik
lekas-lekas mundur, di sini bukan tempat wanita berlagak!"
Mendengar
kata-kata kasar itu, Kartikosari menudingkan kerisnya ke arah hidung Warok
Gendroyono sambil membentak,
"Warok
celaka tak perlu menyombong! Sebentar lagi kau tentu mampus di tangan
Kartikosari!"
Baru saja
terhenti kata-kata itu, tubuh Kartikosari sudah mencelat ke depan dengan
gerakan cepat laksana burung terbang dan ujung kerisnya sudah mengancam ulu
hati lawan!
"Haaaiiitttl"
Warok
Gendroyono terkejut sekali. Tak disangkanya sama sekali bahwa wanita ini
sedemikian cepat gerakannya. Untung baginya, ketika terjun ke gelanggang
pertempuran tadi ia sudah melolos kolor mautnya sehingga kini menghadapi
serangan kilat yang sukar dielakkan itu ia dapat memutar kolornya untuk
menangkis.
"Desssss
....... !!"
Kartikosari
merasa betapa tangannya yang memegang keris tergetar oleh tangkisan kolor.
Diam- diam ia kaget dan cepat melompat mundur. Kini keduanya saling pandang dan
diam-diam mereka mengerti bahwa lawan di depan adalah orang yang tak boleh
dipandang ringan, merupakan lawan yang kuat. Dari getaran ujung kolornya Warok
Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya memiliki kecepatan laksana
burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga dahsyat yang digerakkan hawa
sakti yang kuat.
Dari getaran
ujung kolornya. Warok Gendroyono juga maklum bahwa wanita ini tidak hanya
memiliki kecepatan laksana burung srikatan, akan tetapi juga memiliki tenaga
dahsyat yang digerakkan hawa sakti yang kuat. Maka ia tidak berani memandang
ringan dan setelah mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka, Warok
Gendroyono lalu balas menyerang dengan terjangan dahsyat sambil menggerakkan
kolor mautnya yang ampuh.
No comments:
Post a Comment