Kolor Ki Bandot lenyap bentuknya menjadi segulung sinar berhawa panas yang melingkar-lingkar dan menyambar-nyambar. Namun Kartikosari tidak menjadi gentar. Ia mengimbangi kedahsyatan senjata lawan dengan gerakan lincah, berkelebat ke sana ke mari sambil mencari lowongan untuk balas menyerang, kadang-kadang dengan tusukan kerisnya, ada kalanya dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah dahsyatnya.
Ki Krendoyakso
sudah menghadapi Roro Luhito. Kepala rampok dari Bagelen ini, selain sakti dan
suka mempelajari ilmu hitam, juga ahli racun dan mempunyai kesukaan seperti
Sang Prabu Boko, yaitu makan daging dan minum darah bayi, juga agak mata
keranjang. Kini berhadapan dengan Roro Luhito, ia memandang dengan sepasang
matanya yang lebar seperti mata kerbau. Dengan lahap pandang matanya
menjelajahi wajah yang ayu manis, tubuh yang denok montok, lalu ia tertawa dan
berkata,
"Duhai,
Dewata Agung ! Bagaimana seorang bidadari yang begini denok ayu terjun ke dalam
kancah perang yang seperti neraka? Aduh sayang, wong manis ........."
Tiba-tiba kaki
tangan Roro Luhito bergerak sedikit dan dengan ibu jari kakinya ia telah
menendang segumpal tanah berikut kerikil yang menyambar cepat ke arah muka Ki
Krendoyakso! Hebat serangan ini dan tentu saja kepala rampok itu tidak sudi
membiarkan mukanya, apalagi matanya, dihantam tanah dan kerikil. Cepat ia
menyampok dengan tangannya di depan muka sambil mengejap-ngejapkan mata dan
melangkah mundur. Akan tetapi tubuh Roro Luhito secepat kilat sudah keloncat ke
depan, kaki kanannya menggunakan tungkak (tumit) menggedruk (menginjak keras)
ke arah kaki kiri Ki Krendoyakso, diikuti dengan kaki kiri yang menendang ke
arah pusar!. Ki Krendoyakso kelabakan! Tak disangkanya lawan yang begini denok
ayu ternyata dapat melakukan serangan yang aneh dan hebat, cepat dan tak
disangka-sangka. Ia mengelak dengan langkah ke belakang lalu menggunakan tangan
menangkis tendangan. Siapa kira, tendangan itu hanyalah pancingan belaka.
Begitu Ki Krendoyakso menangkis dan perhatiannya terpusat ke bawah, tangan Roro
Luhito sudah melayang ke depan, dengan jari-jari dilonjorkan menusuk ke arah
lambung.
Melihat betapa
tusukan jari tangan itu mendatangkan angin bersiut, Ki Krendoyakso tak berani
memandang rendah. Tentu saja ia seorang yang kebal dan sering menyombongkan
kekebalannya. Tubuhnya kuat dan dapat menahan bacokan atau tusukan senjata
tajam. Akan tetapi ia cukup maklum bahwa jari-jari tangan yang diisi hawa sakti
mendatangkan tenaga dahsyat yang jauh melebihi segala macam senjata tajam
kuatnya! Maka ia tidak berani main-main dan kembali kedua tangannya menangkis
dan berusaha mencengkeram tangan kanan wanita Itu. Akan tetapi, lagi-lagi ia
kecelik, karena tusukan dahsyat inipun hanya gerak palsu belaka dan tahu-tahu
tangan kiri Roro Luhito sudah menyambar dan menampar mukanya tanpa dapat
dicegah lagi.
"Plakkk
......... !!"
Kalau bukan Ki
Krendoyakso yang menerima tamparan ini, tentu sudah roboh dengan tengkorak
pecah! Biarpun Ki Krendoyakso tidak roboh binasa oleh tamparan yang begitu
dahsyatnya, namun tetap saja ia menjadi bileng (pening), matanya
berkunang-kunang dan pipinya yang kena tampar berdenyut-denyut seperti hendak
pecah!. Dengan kemarahan meluap ia lalu menyambar ruyungnya yang mengerikan,
yaitu penggada Wojo Ireng yang berat dan besar, lalu dengan membabi buta ia
menerjang ke depan, satu-satunya niat di hati hendak menghancur lumatkan tubuh
yang denok itu. Pipi kanannya mulai membengkak biru dan untung bahwa kulit
mukanya memang hitam sekali sehingga warna biru itu tidaklah tampak nyata,
hanya kelihatan pipinya menggembung saja. Roro Luhito sudah siap sedia. Dengan
gerakan cepat sekali ia mengelak, lalu mainkan Ilmu Silat Sosro Satwo yang
memiliki gerakan aneh dan cepat. Sebentar saja mereka berdua sudah terlibat
dalam pertandingan mati-matian. Yang seorang mengandalkan kekuatan, yang lain
lebih mengandalkan kecepatan gerak.
Sementara itu
Pujo sudah menerjang ke tengah. Sepak terjangnya menggiriskan fihak musuh.
Keris di tangan kanannya dan kepalan tangan kirinya benar-benar hebat sekali,
tidak pernah harus mendua kali. Sekali pukul atau sekali tusuk, pasti seorang
prajurit musuh roboh tak kuasa bangun kembali, paling ringan pingsan! Tiba-tiba
terdengar bentakan,
"Itu dia
si jahanam Pujo! Kepung dia! Bunuh! Jangan sampai lolos."
Ketika Pujo
melirik ke kanan, ia melihat Jokowanengpati berdiri dan menudingkan telunjuk
kiri ke arahnya sambil mengacung-acungkan sebatang keris. Kemarahan Pujo
memuncak, juga ia merasa khawatir. Tadi ketika ia menerjang ke tengah, ia sudah
dapat melihat betapa Wisangjiwo sedang bertanding melawan Jokowanengpeti
mempergunakan lembing dan menunggang kuda. Ia ingin cepat-cepat dapat mendekat
dan membantu Wisangjiwo mengeroyok musuh besar itu. Akan tetapi terlalu banyak
prajurit musuh menghalangnya sehingga ia harus mengamuk hebat membuka jalan
darah. Kini tahu-tahu Jokowanengpati muncul tanpa kuda. Hal ini berarti bahwa
Wisangjiwo tentu telah roboh oleh musuh besar itu! Maka ia menjadi marah
sekali, tangan kirinya sekali bergerak berturut-turut memukul kepala dua orang
lawan menyusul kerisnya yang merobohkan lawan ke tiga.
Ia segera
dapat bertanding melawan musuh besarnya, Jokowanengpati. Pengecut, pikirnya
gemas. Setelah bertemu di medan perang, tidak segera menyambutnya melainkan
mengerahkan pasukan untuk mengeroyoknya! Pujo sama sekali tidak tahu bahwa pada
saat itu, Jokowanengpati sendiri telah terluka! Luka yang tidak ringan, yang ia
derita dalam pertandingannya tadi melawan Wisangjiwo. Akan tetapi ia
menyembunyikan hal ini ketika melihat munculnya Pujo, dan cepat mengerahkan
pasukan untuk mengeroyok dan membunuh orang yang amat dibencinya itu, karena
Pujo merupakan ancaman bagi hidupnya.
Ia tadi telah
merasakan betapa Wisangjiwo merupakan lawan yang tangguh dan berat. Sebagai
seorang yang menghambakan diri kepada pangeran dan diangkat menjadi senopati
muda, tentu saja Wisangjiwo telah mempelajari ilmu bermain lembing di atas
punggung kuda. Kalau dibuat bandingan secara umum, memang kesaktian
Jokowanengpati setingkat lebih tinggi daripada Wisangjiwo. Akan tetapi
Wisangjiwo bertempur dengan semangat berkobar-kobar, dengan dada penuh dendam,
dengan kemarahan meluap-luap sehingga sukarlah bagi Jokowanengpati untuk
mengalahkannya.
Di antara
prajurit-prajurit kedua pihak yang berperang campuh kacau-balau, dua orang
musuh besar ini saling terjang, saling tusuk dan tangkis. Sedemikian keras dan
sering tombak mereka beradu sehingga kedua telapak tangan Wisangjiwo
lecet-lecet karena sesungguhnya dalam hal tenaga sakti, ia kalah kuat. Kuda
tunggangan mereka sudah terengah-engah mandi peluh karena sejam lebih mereka
bergerak-gerak, meronta ke kanan kiri tiada hentinya. Debu mengebul dari bawah
kaki kuda. Bahkan ada kalanya pertandingan mati-matian itu menyeret mereka
sehingga kaki kuda mereka menginjak-injak mayat dan tubuh mereka yang terluka.
Jokowanengpati merasa gemas dan marah sekali mengapa sampai sekian lamanya ia
masih belum mampu merobohkan Wisangjiwo yang ulet. Kalau saja pertandingan itu
tidak dilakukan di atas kuda dan merupakan pertandingan ketangkasan biasa, ia
yakin takkan begini sukar baginya untuk mengalahkan lawan. Akan tetapi, dengan
bertanding di atas kuda mempergunakan senjata tombak panjang, ia kurang leluasa
untuk mempergunakan ilmu-ilmunya. Selain itu, ia kalah gagah mainkan tombak dan
kalah latihan menunggang kudu Untung ia menang cepat sehingga kekalahan itu
dapat ditebus. Betapapun juga, agaknya pertandingan ini kalau dilanjutkan akan
makan waktu terlalu lama sampai ia dapat merebut kemenangan. Otak yang cerdik
penuh tipu muslihat dan siasat itu berputar-putar mencari akal. Ketika ujung
tombak Wisangjiwo meluncur ke arah lehernya, Jokowanengpati menangkis, kemudian
ia membalas dengan serangan bertubi-tubi sambil membentak,
"Wisangjiwo
pengkhianat! Terimalah kematianmu!"
Sepenuh tenaga
dan mengandalkan kecepatannya ia menyerang secara bersambung. Tadi sudah sering
ia menggunakan siasat ini tanpa hasil, malah kalau diteruskan, dialah yang
menderita rugi. Dalam hal permainan tombak panjang, pihak penangkis berada di
pihak yang kuat, karena tangkisan dilakukan dari samping dengan ujung lebih
pendek ini tenaganya lebih besar, apalagi diperkuat dengan luncuran tombak yang
menyerang. Dalam hal permainan tombak, si penangkis sama artinya menjadi si
penyerang sungguhpun yang diserang bukan tubuh lawan melainkan tombak lawannya.
Kalau diteruskan, pihak si penyerang yang dihantam tombaknya dari samping ini
lama-lama akan kehabisan tenaga dan ada bahayanya tombak yang dipegangnya akan
patah atau terlepas dari pegangan.
Wisangjiwo
yang amat gagah mainkan tombak, diam-diam menjadi girang sekali. Ia tidak
gentar akan serangan yang bertubi-tubi itu dan ia maklum bahwa kalau
Jokowanengpati melanjutkan serangan bertubi-tubi itu, terbukalah kesempatan
baginya untuk mengalahkan lawan yang amat tangguh ini. Akan tetapi, sungguh
Wisangjiwo belum tahu betul akan kelicikan siasat lawannya. Jokowanengpati amat
licik dan curang. Ia sengaja melakukan serangan berantai itu untuk membuat
lawan lengah, bahkan ia pura-pura seperti orang kehabisan tenaga, seri muka
Wisangjiwo yang merasa gembira menyaksikan Jokowanengpati seperti orang
kehabisan tenaga, tidak terlepas dari pandang matanya yang tajam. Ketika ia
menusuk untuk kesekian kalinya ke arah lambung dan Wisangjiwo menangkis dengan
gerakan keras, Jokowanengpati sengaja membiarkan dirinya terhuyung ke depan
dari atas kuda. Akan tetapi diam-diam ia menggerakkan ujung tombaknya ke depan
dan ........ "crattt" ujung tombak yang runcing itu telah menembus
dada kuda tunggangan Wisangjiwo! Kuda itu meringkik kesakitan lalu mengangkat
tubuh depan ke atas, meronta-ronta.
"Keparat!!
Curang engkau........ !!!"
Wisangjiwo
memaki marah, akan tetapi mukanya menjadi pucat karena ia maklum bahwa
keadaannya amat berbahaya. Sungguh tidak disangkanya bahwa lawannya akan
melakukan hal yang amat curang itu. Melukai kuda lawan merupakan hal yang
dipantang semua satria dalam medan yuda, karena hal ini membayangkan kerendahan
watak dan kecurangan yang memalukan!
Wisangjiwo
berusaha untuk menguatkan kedua kakinya menenangkan kudanya, akan tetapi
kudanya telah mengalami luka parah. Ujung tombak tadi sudah menembus dada
menyentuh jantung sehingga kuda itu kini terhuyung-huyung ke depan sambil
berputaran. Wisangjiwo ikut terputar dan tiba-tiba tombak jokowanengpati
meluncur cepat menusuk dadanya dari kanan. Wisangjiwo menggunakan tombak,
berusaha menangkis. Tangkisannya berhasil, akan tetapi karena kedudukan
tubuhnya miring dan hamper jatuh, tombak Jokowanengpati tidak dapat dihalau
pergi dan meleset, terus menancap pada dekat pundak kanannya!
"Aduhhh
......... !!" Wisangjiwo merintih.
"Ha-ha-ha-ha!"
Jokowanengpati
tertawa bergelak sambil mencabut tombaknya. Akan tetapi suara ketawanya
terhenti seketika terganti seruan kaget dan matanya terbelalak ketika ia
melihat betapa Wisangjiwo ikut terbawa oleh tombak yang akan dicabutnya dan
kini dengan wajah mengerikan Wisangjiwo menubruknya!
Ternyata
Wisangjiwo yang sudah terluka parah itu menjadi nekat. Meminjam tenaga betotan
lawan, ia membiarkan dirinya terbawa, bahkan lalu meloncat dari punggung
kudanya dan sambil menubruk ia mengirim pukulan dahsyat ke arah dada
Jokowanengpati.
"Desss
......... !!"
Biarpun
Jokowanengpati berusaha mengelak, namun dada kirinya masih terkena hantaman
sehingga ia roboh terguling dari atas kudanya sambil menyeret tubuh Wisangjiwo
bersamanya. Sayang bahwa Wisangjiwo sudah menderita luka hebat sehingga
tenaganya tinggal sepertiga bagian saja. Kalau tidak, agaknya belum tentu
Jokowanengpati dapat menahan pukulan yang tak tersangka-sangga tadi, karena
diam-diam Wisangjiwo telah menggenggam kerang merah dan pukulannya tadi
mengandung Aji Tirto Rudiro. Namun karena tenaganya tinggal sepertiga,
Jokowanengpati hanya merasa seluruh isi dadanya menjadi dingin dan beku untuk
sejenak saja. Sebagai seorang muda yang menjadi kekasih Ni Durgogini dan Ni
Nogogini, tentu saja ia mengenal pukulan ini dan cepat-cepat ia mengerahkan
tenaga dalam untuk melawannya. Namun Wisangjiwo benar-benar sudah menjadi
nekat. Ketika tubuh mereka terguling bersama dari atas punggung kuda,
Wisangjiwo sudah mencengkeram leher lawannya dan kini ia mengerahkan sisa
tenaga yang ada untuk mencekik leher lawan. Jokowanengpati meronta-ronta sekuat
tenaga, bahkan menggunakan kedua tangannya untuk merenggut lepas kedua tangan
lawan dari lehernya, namun sia-sia belaka. Dalam keadaan terluka parah dan
dalam kemarahan yang mendidih, Wisangjiwo mencekik dengan tekad bulat untuk
mengadu nyawa. Jokowanengpati mulai panik. Ia tak dapat bernapas dan cekikan
yang amat kuat itu membuat lehernya serasa hendak patah tulangnya, telinganya mengiang-ngiang
dan pandang matanya menjadi merah dan gelap. Celaka, pikirnya. Orang ini sudah
nekat dan kalau ia tidak cepat-cepat dapat membebaskan diri dari cekikan, tentu
ia akan mati konyol! Tombaknya masih menancap di dada atas Wisangjiwo dan kini
darah menetes-netes dari gagang tombak itu.
No comments:
Post a Comment