Badai Laut Selatan ; Bagian 081


Kolor Ki Bandot lenyap bentuknya menjadi segulung sinar berhawa panas yang melingkar-lingkar dan menyambar-nyambar. Namun Kartikosari tidak menjadi gentar. Ia mengimbangi kedahsyatan senjata lawan dengan gerakan lincah, berkelebat ke sana ke mari sambil mencari lowongan untuk balas menyerang, kadang-kadang dengan tusukan kerisnya, ada kalanya dengan pukulan jarak jauh yang tidak kalah dahsyatnya.
Ki Krendoyakso sudah menghadapi Roro Luhito. Kepala rampok dari Bagelen ini, selain sakti dan suka mempelajari ilmu hitam, juga ahli racun dan mempunyai kesukaan seperti Sang Prabu Boko, yaitu makan daging dan minum darah bayi, juga agak mata keranjang. Kini berhadapan dengan Roro Luhito, ia memandang dengan sepasang matanya yang lebar seperti mata kerbau. Dengan lahap pandang matanya menjelajahi wajah yang ayu manis, tubuh yang denok montok, lalu ia tertawa dan berkata,
"Duhai, Dewata Agung ! Bagaimana seorang bidadari yang begini denok ayu terjun ke dalam kancah perang yang seperti neraka? Aduh sayang, wong manis ........."
Tiba-tiba kaki tangan Roro Luhito bergerak sedikit dan dengan ibu jari kakinya ia telah menendang segumpal tanah berikut kerikil yang menyambar cepat ke arah muka Ki Krendoyakso! Hebat serangan ini dan tentu saja kepala rampok itu tidak sudi membiarkan mukanya, apalagi matanya, dihantam tanah dan kerikil. Cepat ia menyampok dengan tangannya di depan muka sambil mengejap-ngejapkan mata dan melangkah mundur. Akan tetapi tubuh Roro Luhito secepat kilat sudah keloncat ke depan, kaki kanannya menggunakan tungkak (tumit) menggedruk (menginjak keras) ke arah kaki kiri Ki Krendoyakso, diikuti dengan kaki kiri yang menendang ke arah pusar!. Ki Krendoyakso kelabakan! Tak disangkanya lawan yang begini denok ayu ternyata dapat melakukan serangan yang aneh dan hebat, cepat dan tak disangka-sangka. Ia mengelak dengan langkah ke belakang lalu menggunakan tangan menangkis tendangan. Siapa kira, tendangan itu hanyalah pancingan belaka. Begitu Ki Krendoyakso menangkis dan perhatiannya terpusat ke bawah, tangan Roro Luhito sudah melayang ke depan, dengan jari-jari dilonjorkan menusuk ke arah lambung.
Melihat betapa tusukan jari tangan itu mendatangkan angin bersiut, Ki Krendoyakso tak berani memandang rendah. Tentu saja ia seorang yang kebal dan sering menyombongkan kekebalannya. Tubuhnya kuat dan dapat menahan bacokan atau tusukan senjata tajam. Akan tetapi ia cukup maklum bahwa jari-jari tangan yang diisi hawa sakti mendatangkan tenaga dahsyat yang jauh melebihi segala macam senjata tajam kuatnya! Maka ia tidak berani main-main dan kembali kedua tangannya menangkis dan berusaha mencengkeram tangan kanan wanita Itu. Akan tetapi, lagi-lagi ia kecelik, karena tusukan dahsyat inipun hanya gerak palsu belaka dan tahu-tahu tangan kiri Roro Luhito sudah menyambar dan menampar mukanya tanpa dapat dicegah lagi.
"Plakkk ......... !!"
Kalau bukan Ki Krendoyakso yang menerima tamparan ini, tentu sudah roboh dengan tengkorak pecah! Biarpun Ki Krendoyakso tidak roboh binasa oleh tamparan yang begitu dahsyatnya, namun tetap saja ia menjadi bileng (pening), matanya berkunang-kunang dan pipinya yang kena tampar berdenyut-denyut seperti hendak pecah!. Dengan kemarahan meluap ia lalu menyambar ruyungnya yang mengerikan, yaitu penggada Wojo Ireng yang berat dan besar, lalu dengan membabi buta ia menerjang ke depan, satu-satunya niat di hati hendak menghancur lumatkan tubuh yang denok itu. Pipi kanannya mulai membengkak biru dan untung bahwa kulit mukanya memang hitam sekali sehingga warna biru itu tidaklah tampak nyata, hanya kelihatan pipinya menggembung saja. Roro Luhito sudah siap sedia. Dengan gerakan cepat sekali ia mengelak, lalu mainkan Ilmu Silat Sosro Satwo yang memiliki gerakan aneh dan cepat. Sebentar saja mereka berdua sudah terlibat dalam pertandingan mati-matian. Yang seorang mengandalkan kekuatan, yang lain lebih mengandalkan kecepatan gerak.

Sementara itu Pujo sudah menerjang ke tengah. Sepak terjangnya menggiriskan fihak musuh. Keris di tangan kanannya dan kepalan tangan kirinya benar-benar hebat sekali, tidak pernah harus mendua kali. Sekali pukul atau sekali tusuk, pasti seorang prajurit musuh roboh tak kuasa bangun kembali, paling ringan pingsan! Tiba-tiba terdengar bentakan,
"Itu dia si jahanam Pujo! Kepung dia! Bunuh! Jangan sampai lolos."
Ketika Pujo melirik ke kanan, ia melihat Jokowanengpati berdiri dan menudingkan telunjuk kiri ke arahnya sambil mengacung-acungkan sebatang keris. Kemarahan Pujo memuncak, juga ia merasa khawatir. Tadi ketika ia menerjang ke tengah, ia sudah dapat melihat betapa Wisangjiwo sedang bertanding melawan Jokowanengpeti mempergunakan lembing dan menunggang kuda. Ia ingin cepat-cepat dapat mendekat dan membantu Wisangjiwo mengeroyok musuh besar itu. Akan tetapi terlalu banyak prajurit musuh menghalangnya sehingga ia harus mengamuk hebat membuka jalan darah. Kini tahu-tahu Jokowanengpati muncul tanpa kuda. Hal ini berarti bahwa Wisangjiwo tentu telah roboh oleh musuh besar itu! Maka ia menjadi marah sekali, tangan kirinya sekali bergerak berturut-turut memukul kepala dua orang lawan menyusul kerisnya yang merobohkan lawan ke tiga.
Ia segera dapat bertanding melawan musuh besarnya, Jokowanengpati. Pengecut, pikirnya gemas. Setelah bertemu di medan perang, tidak segera menyambutnya melainkan mengerahkan pasukan untuk mengeroyoknya! Pujo sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, Jokowanengpati sendiri telah terluka! Luka yang tidak ringan, yang ia derita dalam pertandingannya tadi melawan Wisangjiwo. Akan tetapi ia menyembunyikan hal ini ketika melihat munculnya Pujo, dan cepat mengerahkan pasukan untuk mengeroyok dan membunuh orang yang amat dibencinya itu, karena Pujo merupakan ancaman bagi hidupnya.
Ia tadi telah merasakan betapa Wisangjiwo merupakan lawan yang tangguh dan berat. Sebagai seorang yang menghambakan diri kepada pangeran dan diangkat menjadi senopati muda, tentu saja Wisangjiwo telah mempelajari ilmu bermain lembing di atas punggung kuda. Kalau dibuat bandingan secara umum, memang kesaktian Jokowanengpati setingkat lebih tinggi daripada Wisangjiwo. Akan tetapi Wisangjiwo bertempur dengan semangat berkobar-kobar, dengan dada penuh dendam, dengan kemarahan meluap-luap sehingga sukarlah bagi Jokowanengpati untuk mengalahkannya.

Di antara prajurit-prajurit kedua pihak yang berperang campuh kacau-balau, dua orang musuh besar ini saling terjang, saling tusuk dan tangkis. Sedemikian keras dan sering tombak mereka beradu sehingga kedua telapak tangan Wisangjiwo lecet-lecet karena sesungguhnya dalam hal tenaga sakti, ia kalah kuat. Kuda tunggangan mereka sudah terengah-engah mandi peluh karena sejam lebih mereka bergerak-gerak, meronta ke kanan kiri tiada hentinya. Debu mengebul dari bawah kaki kuda. Bahkan ada kalanya pertandingan mati-matian itu menyeret mereka sehingga kaki kuda mereka menginjak-injak mayat dan tubuh mereka yang terluka. Jokowanengpati merasa gemas dan marah sekali mengapa sampai sekian lamanya ia masih belum mampu merobohkan Wisangjiwo yang ulet. Kalau saja pertandingan itu tidak dilakukan di atas kuda dan merupakan pertandingan ketangkasan biasa, ia yakin takkan begini sukar baginya untuk mengalahkan lawan. Akan tetapi, dengan bertanding di atas kuda mempergunakan senjata tombak panjang, ia kurang leluasa untuk mempergunakan ilmu-ilmunya. Selain itu, ia kalah gagah mainkan tombak dan kalah latihan menunggang kudu Untung ia menang cepat sehingga kekalahan itu dapat ditebus. Betapapun juga, agaknya pertandingan ini kalau dilanjutkan akan makan waktu terlalu lama sampai ia dapat merebut kemenangan. Otak yang cerdik penuh tipu muslihat dan siasat itu berputar-putar mencari akal. Ketika ujung tombak Wisangjiwo meluncur ke arah lehernya, Jokowanengpati menangkis, kemudian ia membalas dengan serangan bertubi-tubi sambil membentak,
"Wisangjiwo pengkhianat! Terimalah kematianmu!"
Sepenuh tenaga dan mengandalkan kecepatannya ia menyerang secara bersambung. Tadi sudah sering ia menggunakan siasat ini tanpa hasil, malah kalau diteruskan, dialah yang menderita rugi. Dalam hal permainan tombak panjang, pihak penangkis berada di pihak yang kuat, karena tangkisan dilakukan dari samping dengan ujung lebih pendek ini tenaganya lebih besar, apalagi diperkuat dengan luncuran tombak yang menyerang. Dalam hal permainan tombak, si penangkis sama artinya menjadi si penyerang sungguhpun yang diserang bukan tubuh lawan melainkan tombak lawannya. Kalau diteruskan, pihak si penyerang yang dihantam tombaknya dari samping ini lama-lama akan kehabisan tenaga dan ada bahayanya tombak yang dipegangnya akan patah atau terlepas dari pegangan.

Wisangjiwo yang amat gagah mainkan tombak, diam-diam menjadi girang sekali. Ia tidak gentar akan serangan yang bertubi-tubi itu dan ia maklum bahwa kalau Jokowanengpati melanjutkan serangan bertubi-tubi itu, terbukalah kesempatan baginya untuk mengalahkan lawan yang amat tangguh ini. Akan tetapi, sungguh Wisangjiwo belum tahu betul akan kelicikan siasat lawannya. Jokowanengpati amat licik dan curang. Ia sengaja melakukan serangan berantai itu untuk membuat lawan lengah, bahkan ia pura-pura seperti orang kehabisan tenaga, seri muka Wisangjiwo yang merasa gembira menyaksikan Jokowanengpati seperti orang kehabisan tenaga, tidak terlepas dari pandang matanya yang tajam. Ketika ia menusuk untuk kesekian kalinya ke arah lambung dan Wisangjiwo menangkis dengan gerakan keras, Jokowanengpati sengaja membiarkan dirinya terhuyung ke depan dari atas kuda. Akan tetapi diam-diam ia menggerakkan ujung tombaknya ke depan dan ........ "crattt" ujung tombak yang runcing itu telah menembus dada kuda tunggangan Wisangjiwo! Kuda itu meringkik kesakitan lalu mengangkat tubuh depan ke atas, meronta-ronta.
"Keparat!! Curang engkau........ !!!"
Wisangjiwo memaki marah, akan tetapi mukanya menjadi pucat karena ia maklum bahwa keadaannya amat berbahaya. Sungguh tidak disangkanya bahwa lawannya akan melakukan hal yang amat curang itu. Melukai kuda lawan merupakan hal yang dipantang semua satria dalam medan yuda, karena hal ini membayangkan kerendahan watak dan kecurangan yang memalukan!
Wisangjiwo berusaha untuk menguatkan kedua kakinya menenangkan kudanya, akan tetapi kudanya telah mengalami luka parah. Ujung tombak tadi sudah menembus dada menyentuh jantung sehingga kuda itu kini terhuyung-huyung ke depan sambil berputaran. Wisangjiwo ikut terputar dan tiba-tiba tombak jokowanengpati meluncur cepat menusuk dadanya dari kanan. Wisangjiwo menggunakan tombak, berusaha menangkis. Tangkisannya berhasil, akan tetapi karena kedudukan tubuhnya miring dan hamper jatuh, tombak Jokowanengpati tidak dapat dihalau pergi dan meleset, terus menancap pada dekat pundak kanannya!
"Aduhhh ......... !!" Wisangjiwo merintih.
"Ha-ha-ha-ha!"
Jokowanengpati tertawa bergelak sambil mencabut tombaknya. Akan tetapi suara ketawanya terhenti seketika terganti seruan kaget dan matanya terbelalak ketika ia melihat betapa Wisangjiwo ikut terbawa oleh tombak yang akan dicabutnya dan kini dengan wajah mengerikan Wisangjiwo menubruknya!

Ternyata Wisangjiwo yang sudah terluka parah itu menjadi nekat. Meminjam tenaga betotan lawan, ia membiarkan dirinya terbawa, bahkan lalu meloncat dari punggung kudanya dan sambil menubruk ia mengirim pukulan dahsyat ke arah dada Jokowanengpati.
"Desss ......... !!"
Biarpun Jokowanengpati berusaha mengelak, namun dada kirinya masih terkena hantaman sehingga ia roboh terguling dari atas kudanya sambil menyeret tubuh Wisangjiwo bersamanya. Sayang bahwa Wisangjiwo sudah menderita luka hebat sehingga tenaganya tinggal sepertiga bagian saja. Kalau tidak, agaknya belum tentu Jokowanengpati dapat menahan pukulan yang tak tersangka-sangga tadi, karena diam-diam Wisangjiwo telah menggenggam kerang merah dan pukulannya tadi mengandung Aji Tirto Rudiro. Namun karena tenaganya tinggal sepertiga, Jokowanengpati hanya merasa seluruh isi dadanya menjadi dingin dan beku untuk sejenak saja. Sebagai seorang muda yang menjadi kekasih Ni Durgogini dan Ni Nogogini, tentu saja ia mengenal pukulan ini dan cepat-cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melawannya. Namun Wisangjiwo benar-benar sudah menjadi nekat. Ketika tubuh mereka terguling bersama dari atas punggung kuda, Wisangjiwo sudah mencengkeram leher lawannya dan kini ia mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk mencekik leher lawan. Jokowanengpati meronta-ronta sekuat tenaga, bahkan menggunakan kedua tangannya untuk merenggut lepas kedua tangan lawan dari lehernya, namun sia-sia belaka. Dalam keadaan terluka parah dan dalam kemarahan yang mendidih, Wisangjiwo mencekik dengan tekad bulat untuk mengadu nyawa. Jokowanengpati mulai panik. Ia tak dapat bernapas dan cekikan yang amat kuat itu membuat lehernya serasa hendak patah tulangnya, telinganya mengiang-ngiang dan pandang matanya menjadi merah dan gelap. Celaka, pikirnya. Orang ini sudah nekat dan kalau ia tidak cepat-cepat dapat membebaskan diri dari cekikan, tentu ia akan mati konyol! Tombaknya masih menancap di dada atas Wisangjiwo dan kini darah menetes-netes dari gagang tombak itu.

<<< Bagian 080                                                                                   Bagian 082 >>>

No comments:

Post a Comment