Badai Laut Selatan ; Bagian 082


"Keparat......... mampus kau......... ! Rasakan pembalasanku atas penghinaanmu kepada Roro Luhito......... isteriku ......... kepada ibu dan ayah ......... ! " Suara Wisangjiwo mendesis-desis, matanya merah, wajahnya amat menyeramkan.
Jokowanengpati menahan diri agar tidak pingsan, tangannya meraba gagang keris di pinggang belakang, berkutetan dan berhasil menghunus keris.
"Creppp !! "

Kerisnya memasuki lambung Wisangjiwo sampai ke gagangnya. Tubuh Wisangjiwo menegang. Kedua tangan yang mencekik leher mendadak menjadi makin kuat sehingga hampir patah tulang leher Jokowanengpati! Cepat-cepat ia mencabut kerisnya dan menghunjamkannya lagi ke dalam perut lawan.
"Creppp!!"
Kali ini Wisangjiwo mengeluh, lalu tubuhnya lemas. Jokowanengpati meronta, melepaskan diri dan meloncat bangun. Sejenak ia memejamkan mata karena pandang matanya berkunang, kepalanya berdenyut-denyut, lehernya sakit dan juga dada kirinya masih ngilu. Ketika ia membuka matanya kembali, tubuh Wisangjiwo sudah telentang di depan kakinya, darah bercucuran dari dua lubang bekas tusukan kerisnya, tombaknyapun masih menancap di dada. Wisangjiwo sudah tak bergerak-gerak lagi. Dengan marah Jokowanengpati menyepak bekas lawannya dan pada saat itu ia melihat Pujo mengamuk tak jauh dari tempat itu. Melihat musuh besar yang berbahaya ini, ia terkejut. Ia maklum bahwa Pujo merupakan lawan yang lebih berat dan lebih berbahaya daripada Wisangjiwo, sedangkan dia sendiri sudah terluka cukup parah. Tak sanggup rasanya kalau ia harus menghadapi Pujo seorang diri. Maka ia lalu mengerahkan pasukan untuk mengeroyok Pujo. Pujo tidak gentar. Melihat Jokowanengpati, makin menggelora semangatnya karena ia ingin cepat-cepat dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu. Akan tetapi kepungan makin diperketat. Biarpun ia telah banyak merobohkan para prajurit, namun belum juga ia terbebas dari kepungan. Bahkan kini Jokowanengpati mengerahkan pasukan bertombak. Menghadapi kurungan lawan yang memegang senjata panjang ini, Pujo menjadi repot juga. ia tidak takut menghadapi hujan tombak, akan tetapi sukar baginya untuk merobohkan para pengeroyoknya seperti tadi. Dengan marah ia menyimpan kerisnya, merampas sebatang tombak dan dengan senjata panjang inilah ia menghajar para pengeroyoknya. Sampai remuk-remuk dan patah-patah tombaknya setelah ia merobohkan belasan orang. Ia merampas lain tombak dan mengamuk terus sambil berteriak keras,
"Jokowanengpati manusia pengecut ! Hayo layani aku sampai seorang di antara kita mandi darah!"
Akan tetapi Jokowanengpati tidak memperdulikan maki-makiannya melainkan dari luar memberi petunjuk-petunjuk kepada para prajurit. Betapapun saktinya Pujo, menghadapi keroyokan yang tak kunjung habis itu, ia menjadi lelah dan repot juga. Kemarahannya meluap dan ia mengamuk seperti banteng ketaton (terluka)!

Sementara itu pertandingan antara Cekel Aksomolo melawan Resi Telomoyo juga amat ramai dan menarik. Seperi biasa, dalam menghadapi lawan tangguh Cekel Aksomolo mengandalkan tasbihnya dan ia lalu menggerakkan tasbih itu tidak hanya untuk menyerang dengan pukulan-pukulan dan sambaran-sambaran yang dapat merenggut nyawa, akan tetapi disamping ini ia juga mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya untuk disalurkan melalui lengannya dan "mengisi" bunyi tasbihnya yang demikian nyaring dan aneh sehingga bagi lawan yang kurang kuat batinnya, mendengar suara biji-biji tasbih yang saling beradu ini saja sudah cukup untuk merobohkannya! Karena kehebatan suara tasbihnya inilah maka pertandingan antara kedua orang kakek sakti ini menjadi terpisah daripada lainnya. Tidak ada prajurit, baik dari pasukan Pangeran Anom maupun pasukan Pangeran Sepuh, berani mendekati pertandingan ini setelah beberapa orang prajurit kedua belah pihak roboh setelah mendengar suara berkeritik yang memecahkan kendangan telinga dan melumpuhkan otot dan bayu itu! Pertandingan antara mereka terjadi seru tanpa saksi dekat. Namun sekali ini, Cekel Aksomolo benar-benar bertemu tanding! Kakek pertapa pemuja Sang Kapi Hanoman itu bukanlah orang sembarangan. Biarpun tandangnya (sepak terjangnya) kadang-kadang aneh dan lucu menggelikan, suka garuk-garuk bokong, suka melawak dengan sikap nyelelek (ugal-ugalan), namun sesungguhnya ia memiliki hawa sakti yang amat kuat, batinnya sudah matang dan ia termasuk seorang yang sakti mandraguna. Suara berkeritikan mujijat yang merobohkan banyak prajurit itu, sama sekali tidak mempengaruhinya, bahkan kakek in lalu membalas dengan aji yang serupa hanya beda macamnya saja. Ia mere-mere seperti seekor kera tulen, bahkan mengeluarkan suara seperti kera. Suara ini amat tidak sedap memasuki telinga seakan-akan mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam yang keras. Kalau orang biasa saja yang menjadi lawan mendengar suara ini tentu akan merasa telinganya pecah-pecah dan menyerah tanpa berkelahi lagi!. Karena keduanya maklum bahwa aji penaluk melalui suara ini tidak ada gunanya kalau digunakan terhadap lawan maka kini mereka lalu mengandalkan ilmu silat mereka. Cekel Aksomolo biarpun seorang kakek bongkok dan tua renta tangannya seperti lumpuh, namun sesungguhnya ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak hanya ilmu kebatinan dan ilmu hitam, juga ilmi silatnya hebat. Tasbih yang merupakai senjata pusaka ampuh itu berada di tangannya seakan-akan berubah menjadi halilintar. Tasbih itu lenyap bentuknya ketika ia gerakkan berubah menjadi sinar yang melingkar-lingkar aneh mengeluarkan bunyi aneh dan angin gerakannya mengandung hawa panas. Jangankan terkena sambaran tasbihnya sendiri, baru. tersambar oleh angin gerakannya saja sudah membuat kulit manusia biasa terkupas seperti terkena air mendidih. Namun Resi Telomoyo juga hebat. Biarpun ia hanya mempergunakan sebatang cabang pohon untuk dipakai sebagai senjata, namun ternyata cabang pohon biasa itu di tangannya berubah menjadi senjata ampuh. Suara nyaring terdengar tiap kali cabang pohon bertemu tasbih, seolah-olah tanah tergetar dan asap mengebul dari cabang pohon itu! Mereka serang-menyerang, desak-mendesak, sukar sekali menentukan siapa yang akan menang.

Juga pertandingan antara Ki Warok Gendroyono melawan Kartikosari amat ramai dan setanding. Sesungguhnya, dalam gerakan ilmu silat, Kartikosari menang seusap, akan tetapi Ki Warok Gendroyono dapat menutup kekalahannya itu dengan tubuhnya yang kebal sehingga tusukan keris yang tidak mengenai tepat, kalau hanya meleset saja, tidak akan melukainya, paling-paling membuat kulitnya lecet sedikit. Sudah beberapa kali keris Kartikosari mengenai tubuhnya, meleset sehingga mengejutkan wanita sakti itu. Adapun senjata Ki Bandot, kolor maut itu, juga amat berbahaya dan Kartikosari cukup maklum bahwa sekali saja kepala atau dadanya kena hantaman kolor, tentu maut tebusannya. Oleh karena inilah ia berkelahi dengan hati-hati sekali, mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya. Sayang sekali keadaan Roro Luhito tidak seramai teman-temannya. Menghadapi Ki Krendoyakso yang sepak terjangnya buas dan liar, wanita ini menjadi panik. Belum banyak pengalamannya bertempur dan Ki Krendroyakso benar-benar seorang liar yang menyeramkan. Ruyungnya yang besar dan berat itu mendatangkan angin lesus, dan selain ruyungnya, juga lengan kirinya yang besar selalu menjangkau hendak mencengkeram, dari mulutnya keluar gerengan-gerengan seperti binatang buas dan keringatnya berbau sengit menyengat hidung. Ketika ramai-ramainya bertanding, Ki Krendoyakso yang kaya keringat ini menggerakkan tubuh, keringatnya memercik ke depan, tanpa disengaja mengenai muka Roro Luhito, dekat hidung dan mulut. Hampir dia muntah-muntah!
"Iblis laknat menjijikkan!!"
Ia memaki-maki untuk mencegah agar jangan sampai muntah-muntah, lalu ia menggunakan Aji Sosro Satwo dan tubuhnya berkelebat amat cepatnya. Hanya dengan kecepatan tubuhnya ia mampu menjaga diri, akan tetapi karena ia selalu mengelak dan merasa jijik untuk berkelahi mendekat, iapun tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Lucu pertandingan ini. Biarpun Roro Luhito tampak diserang terus, namun dengan kelincahannya inipun ia telah membuat Ki Krendoyakso pening dan lelah. Seperti seekor celeng besar menghadapi gangguan seekor lebah, atau seekor anjing digoda seekor lalat.

Perang campuh antara pasukan Pangeran Muda dan pasukan Pangeran Sepuh berlangsung makin hebat, makin buas dan kejam. Alun-alun yang biasanya bersih itu kini penuh mayat bergelimpangan, darah bergelimangan, bau darah amis menyesakkan dada mengotorkan udara. Teriakan-teriakan yang keluar dari kerongkongan parau makin liar dan jerit tangis yang terluka melengking tinggi. Debu mengebul tebal dan tinggi, menggelapkan alun-alun dan sekitarnya. Perang campuh besar-besaran ini berlangsung hamper sehari penuh, agaknya hanya akan berhenti kalau mata sudah tak dapat membedakan kawan atau lawan karena malam tiba, untuk dilanjutkan esok hari dan seterusnya.

Tiba-tiba bertiup angin keras yang menerbangkan debu yang menggelapkan medan yuda, dan suara yang lembut namun berpengaruh terbawa oleh angin ini sehingga terdengar oleh semua yang sedang berperang.
"Haaiii ........ para kawula di Kahuripan! Hentikanlah segera pertumpahan darah ini!"
Suara ini amat jelas dan penuh wibawa, membuat mereka yang mendengar tersentak kaget dan menghentikan gerakan senjata masing-masing lalu menengok dan mencari-cari dengan pandang mata untuk melihat apakah pendengaran mereka tidak keliru. Semua orang yang sedang berperang itu mengenal belaka suara ini. Dan tampaklah oleh mereka bahwa pendengaran mereka benar. Di atas pegunungan kecil yang berada di sebelah selatan alun-alun, Berdiri tiga orang kakek. Kakek yang berdiri di depan itulah yang berseru menghentikan perang. Tampak betapa kakek itu mengangkat tangan kanan ke atas, menggerak-gerakkan tangan itu, dari mulutnya keluar seruan itu berkali-kali.
Tak salah lagi, demikian para prajurit dan perwira berpikir dengan hati berdebar, itulah Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkan diri menjadi pendeta! Tak seorangpun di antara mereka yang tidak gentar hatinya melihat Sang Prabu Airlangga, lemas lutut mereka dan para prajurit yang berada di depan, baik mereka itu anak buah pasukan Pangeran Anom maupun anak buah pasukan Pangeran Sepuh segera menjatuhkan diri berlutut didahului oleh para perwira. Perbuatan ini diikuti oleh prajurit-prajurit yang berada di sebelah belakang. Menyaksikan ini, dua orang kakek yang mengapit Sang Prabu Airlangga atau Sang Resi Jatinendra, mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh kagum. Mereka ini adalah Empu Bharodo dan Resi Bhargowo. Dua orang pertapa sakti ini makin kagum dan tunduk kepada junjungan ini yang ternyata masih memiliki wibawa yang bukan main besarnya.
Dua orang pangeran juga melihat munculnya ayah mereka. Pucat wajah mereka dan serta-merta mereka berdua meninggalkan barisan masing-masing, lari menghampiri Resi Jatinendra. Akan tetapi karena pangeran Anom menghampiri dengan berkuda sedangkan Pangeran Sepuh sudah turun dari kuda, maka Pangeran Anom yang lebih dahulu tiba di situ. Pangeran ini segera meloncat turun dari kuda berlari menubruk kaki ayahnya sambil menangis!
Pendeta itu mengelus-elus jenggotnya dengan tangan kiri dan menyentuh kepala puteranya dengan tangan kanan. Dia amat sayang kepada putera-puteranya, terutama putera bungsu ini. Kemudian ia melirik kepada Pangeran Sepuh yang juga telah tiba di situ dan kini berlutut pula di depannya, di belakang Pangeran Anom sambil menundukkan muka. Sejak putera-puteranya masih kecil, selalu Sang Prabu Airlangga menekankan kerukunan kepada mereka, mendidik mereka agar hidup rukun, yang muda tunduk kepada yang tua, sebaliknya yang tua mengalah kepada yang muda. Maka kini ia merasa prihatin sekali menyaksikan perang saudara antara kedua puteranya itu.
"Hemm, anak-anakku. Mengapa kalian mengadakan perang saudara dan membiarkan bunuh-membunuh macam ini?"

Dalam pertanyaan ini, sungguhpun suaranya halus dan wajahnya masih tetap bersinar, namun terkandung hati trenyuh.
"Duh rama ........ !" Pangeran Anom mendahului kakaknya dan menangis makin keras.
"Semenjak rama pergi bertapa, Pangeran Sepuh selalu menindas hamba, selalu menghina hamba, mengandalkan kedudukannya sebagai putera sepuh (tua), sebagai putera permaisuri pertama! Rama hamba diperhina, tak dipandang sebelah mata, dianggap adik tiri yang terbenci kalau hamba tidak mempertahankan diri, agaknya hamba sudah disuruhnya bunuh!"
Sang Prabu Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu adalah seorang bijaksana, seorang waspada, tentu saja tidak mudah dibujuk dan dibakar oleh omongan-omongan seperti itu. Namun, betapapun juga dia seorang manusia yang tak terlepas daripada ikatan kasih, maka keningnya berkerut ketika ia menegur Pangeran Sepuh,
"Bukankah sejak dahulu aku selalu memperingatkan agar yang tua pandai mengalah? Lebih tua berarti lebih matang jiwanya, lebih luas pandangannya, dan lebih bijaksana. Mengapa membiarkan keadaan menjadi berlarut-larut sehingga timbul perang saudara yang begini menyedihkan?"

<<< Bagian 081                                                                                    Bagian 083 >>>

No comments:

Post a Comment