"Keparat......... mampus kau......... ! Rasakan pembalasanku atas penghinaanmu kepada Roro Luhito......... isteriku ......... kepada ibu dan ayah ......... ! " Suara Wisangjiwo mendesis-desis, matanya merah, wajahnya amat menyeramkan.
Jokowanengpati
menahan diri agar tidak pingsan, tangannya meraba gagang keris di pinggang
belakang, berkutetan dan berhasil menghunus keris.
"Creppp
!! "
Kerisnya
memasuki lambung Wisangjiwo sampai ke gagangnya. Tubuh Wisangjiwo menegang. Kedua
tangan yang mencekik leher mendadak menjadi makin kuat sehingga hampir patah
tulang leher Jokowanengpati! Cepat-cepat ia mencabut kerisnya dan
menghunjamkannya lagi ke dalam perut lawan.
"Creppp!!"
Kali ini
Wisangjiwo mengeluh, lalu tubuhnya lemas. Jokowanengpati meronta, melepaskan
diri dan meloncat bangun. Sejenak ia memejamkan mata karena pandang matanya
berkunang, kepalanya berdenyut-denyut, lehernya sakit dan juga dada kirinya
masih ngilu. Ketika ia membuka matanya kembali, tubuh Wisangjiwo sudah telentang
di depan kakinya, darah bercucuran dari dua lubang bekas tusukan kerisnya,
tombaknyapun masih menancap di dada. Wisangjiwo sudah tak bergerak-gerak lagi.
Dengan marah Jokowanengpati menyepak bekas lawannya dan pada saat itu ia
melihat Pujo mengamuk tak jauh dari tempat itu. Melihat musuh besar yang
berbahaya ini, ia terkejut. Ia maklum bahwa Pujo merupakan lawan yang lebih
berat dan lebih berbahaya daripada Wisangjiwo, sedangkan dia sendiri sudah
terluka cukup parah. Tak sanggup rasanya kalau ia harus menghadapi Pujo seorang
diri. Maka ia lalu mengerahkan pasukan untuk mengeroyok Pujo. Pujo tidak
gentar. Melihat Jokowanengpati, makin menggelora semangatnya karena ia ingin
cepat-cepat dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu. Akan tetapi kepungan makin
diperketat. Biarpun ia telah banyak merobohkan para prajurit, namun belum juga
ia terbebas dari kepungan. Bahkan kini Jokowanengpati mengerahkan pasukan
bertombak. Menghadapi kurungan lawan yang memegang senjata panjang ini, Pujo
menjadi repot juga. ia tidak takut menghadapi hujan tombak, akan tetapi sukar
baginya untuk merobohkan para pengeroyoknya seperti tadi. Dengan marah ia
menyimpan kerisnya, merampas sebatang tombak dan dengan senjata panjang inilah
ia menghajar para pengeroyoknya. Sampai remuk-remuk dan patah-patah tombaknya
setelah ia merobohkan belasan orang. Ia merampas lain tombak dan mengamuk terus
sambil berteriak keras,
"Jokowanengpati
manusia pengecut ! Hayo layani aku sampai seorang di antara kita mandi
darah!"
Akan tetapi
Jokowanengpati tidak memperdulikan maki-makiannya melainkan dari luar memberi
petunjuk-petunjuk kepada para prajurit. Betapapun saktinya Pujo, menghadapi
keroyokan yang tak kunjung habis itu, ia menjadi lelah dan repot juga.
Kemarahannya meluap dan ia mengamuk seperti banteng ketaton (terluka)!
Sementara itu
pertandingan antara Cekel Aksomolo melawan Resi Telomoyo juga amat ramai dan
menarik. Seperi biasa, dalam menghadapi lawan tangguh Cekel Aksomolo
mengandalkan tasbihnya dan ia lalu menggerakkan tasbih itu tidak hanya untuk
menyerang dengan pukulan-pukulan dan sambaran-sambaran yang dapat merenggut
nyawa, akan tetapi disamping ini ia juga mengerahkan hawa sakti di dalam
tubuhnya untuk disalurkan melalui lengannya dan "mengisi" bunyi
tasbihnya yang demikian nyaring dan aneh sehingga bagi lawan yang kurang kuat
batinnya, mendengar suara biji-biji tasbih yang saling beradu ini saja sudah
cukup untuk merobohkannya! Karena kehebatan suara tasbihnya inilah maka
pertandingan antara kedua orang kakek sakti ini menjadi terpisah daripada
lainnya. Tidak ada prajurit, baik dari pasukan Pangeran Anom maupun pasukan
Pangeran Sepuh, berani mendekati pertandingan ini setelah beberapa orang
prajurit kedua belah pihak roboh setelah mendengar suara berkeritik yang
memecahkan kendangan telinga dan melumpuhkan otot dan bayu itu! Pertandingan
antara mereka terjadi seru tanpa saksi dekat. Namun sekali ini, Cekel Aksomolo
benar-benar bertemu tanding! Kakek pertapa pemuja Sang Kapi Hanoman itu
bukanlah orang sembarangan. Biarpun tandangnya (sepak terjangnya) kadang-kadang
aneh dan lucu menggelikan, suka garuk-garuk bokong, suka melawak dengan sikap
nyelelek (ugal-ugalan), namun sesungguhnya ia memiliki hawa sakti yang amat
kuat, batinnya sudah matang dan ia termasuk seorang yang sakti mandraguna.
Suara berkeritikan mujijat yang merobohkan banyak prajurit itu, sama sekali
tidak mempengaruhinya, bahkan kakek in lalu membalas dengan aji yang serupa
hanya beda macamnya saja. Ia mere-mere seperti seekor kera tulen, bahkan
mengeluarkan suara seperti kera. Suara ini amat tidak sedap memasuki telinga
seakan-akan mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam yang keras. Kalau orang
biasa saja yang menjadi lawan mendengar suara ini tentu akan merasa telinganya
pecah-pecah dan menyerah tanpa berkelahi lagi!. Karena keduanya maklum bahwa
aji penaluk melalui suara ini tidak ada gunanya kalau digunakan terhadap lawan
maka kini mereka lalu mengandalkan ilmu silat mereka. Cekel Aksomolo biarpun
seorang kakek bongkok dan tua renta tangannya seperti lumpuh, namun sesungguhnya
ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak hanya ilmu kebatinan dan
ilmu hitam, juga ilmi silatnya hebat. Tasbih yang merupakai senjata pusaka
ampuh itu berada di tangannya seakan-akan berubah menjadi halilintar. Tasbih
itu lenyap bentuknya ketika ia gerakkan berubah menjadi sinar yang
melingkar-lingkar aneh mengeluarkan bunyi aneh dan angin gerakannya mengandung
hawa panas. Jangankan terkena sambaran tasbihnya sendiri, baru. tersambar oleh
angin gerakannya saja sudah membuat kulit manusia biasa terkupas seperti
terkena air mendidih. Namun Resi Telomoyo juga hebat. Biarpun ia hanya
mempergunakan sebatang cabang pohon untuk dipakai sebagai senjata, namun
ternyata cabang pohon biasa itu di tangannya berubah menjadi senjata ampuh.
Suara nyaring terdengar tiap kali cabang pohon bertemu tasbih, seolah-olah
tanah tergetar dan asap mengebul dari cabang pohon itu! Mereka
serang-menyerang, desak-mendesak, sukar sekali menentukan siapa yang akan
menang.
Juga
pertandingan antara Ki Warok Gendroyono melawan Kartikosari amat ramai dan
setanding. Sesungguhnya, dalam gerakan ilmu silat, Kartikosari menang seusap,
akan tetapi Ki Warok Gendroyono dapat menutup kekalahannya itu dengan tubuhnya
yang kebal sehingga tusukan keris yang tidak mengenai tepat, kalau hanya
meleset saja, tidak akan melukainya, paling-paling membuat kulitnya lecet
sedikit. Sudah beberapa kali keris Kartikosari mengenai tubuhnya, meleset
sehingga mengejutkan wanita sakti itu. Adapun senjata Ki Bandot, kolor maut
itu, juga amat berbahaya dan Kartikosari cukup maklum bahwa sekali saja kepala
atau dadanya kena hantaman kolor, tentu maut tebusannya. Oleh karena inilah ia
berkelahi dengan hati-hati sekali, mengandalkan kecepatan gerak tubuhnya.
Sayang sekali keadaan Roro Luhito tidak seramai teman-temannya. Menghadapi Ki
Krendoyakso yang sepak terjangnya buas dan liar, wanita ini menjadi panik.
Belum banyak pengalamannya bertempur dan Ki Krendroyakso benar-benar seorang
liar yang menyeramkan. Ruyungnya yang besar dan berat itu mendatangkan angin
lesus, dan selain ruyungnya, juga lengan kirinya yang besar selalu menjangkau
hendak mencengkeram, dari mulutnya keluar gerengan-gerengan seperti binatang
buas dan keringatnya berbau sengit menyengat hidung. Ketika ramai-ramainya
bertanding, Ki Krendoyakso yang kaya keringat ini menggerakkan tubuh,
keringatnya memercik ke depan, tanpa disengaja mengenai muka Roro Luhito, dekat
hidung dan mulut. Hampir dia muntah-muntah!
"Iblis
laknat menjijikkan!!"
Ia memaki-maki
untuk mencegah agar jangan sampai muntah-muntah, lalu ia menggunakan Aji Sosro
Satwo dan tubuhnya berkelebat amat cepatnya. Hanya dengan kecepatan tubuhnya ia
mampu menjaga diri, akan tetapi karena ia selalu mengelak dan merasa jijik
untuk berkelahi mendekat, iapun tidak mempunyai kesempatan untuk balas
menyerang. Lucu pertandingan ini. Biarpun Roro Luhito tampak diserang terus,
namun dengan kelincahannya inipun ia telah membuat Ki Krendoyakso pening dan
lelah. Seperti seekor celeng besar menghadapi gangguan seekor lebah, atau
seekor anjing digoda seekor lalat.
Perang campuh
antara pasukan Pangeran Muda dan pasukan Pangeran Sepuh berlangsung makin
hebat, makin buas dan kejam. Alun-alun yang biasanya bersih itu kini penuh
mayat bergelimpangan, darah bergelimangan, bau darah amis menyesakkan dada mengotorkan
udara. Teriakan-teriakan yang keluar dari kerongkongan parau makin liar dan
jerit tangis yang terluka melengking tinggi. Debu mengebul tebal dan tinggi,
menggelapkan alun-alun dan sekitarnya. Perang campuh besar-besaran ini
berlangsung hamper sehari penuh, agaknya hanya akan berhenti kalau mata sudah
tak dapat membedakan kawan atau lawan karena malam tiba, untuk dilanjutkan esok
hari dan seterusnya.
Tiba-tiba
bertiup angin keras yang menerbangkan debu yang menggelapkan medan yuda, dan
suara yang lembut namun berpengaruh terbawa oleh angin ini sehingga terdengar
oleh semua yang sedang berperang.
"Haaiii
........ para kawula di Kahuripan! Hentikanlah segera pertumpahan darah
ini!"
Suara ini amat
jelas dan penuh wibawa, membuat mereka yang mendengar tersentak kaget dan
menghentikan gerakan senjata masing-masing lalu menengok dan mencari-cari
dengan pandang mata untuk melihat apakah pendengaran mereka tidak keliru. Semua
orang yang sedang berperang itu mengenal belaka suara ini. Dan tampaklah oleh
mereka bahwa pendengaran mereka benar. Di atas pegunungan kecil yang berada di
sebelah selatan alun-alun, Berdiri tiga orang kakek. Kakek yang berdiri di
depan itulah yang berseru menghentikan perang. Tampak betapa kakek itu
mengangkat tangan kanan ke atas, menggerak-gerakkan tangan itu, dari mulutnya
keluar seruan itu berkali-kali.
Tak salah
lagi, demikian para prajurit dan perwira berpikir dengan hati berdebar, itulah
Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkan diri menjadi pendeta! Tak
seorangpun di antara mereka yang tidak gentar hatinya melihat Sang Prabu
Airlangga, lemas lutut mereka dan para prajurit yang berada di depan, baik
mereka itu anak buah pasukan Pangeran Anom maupun anak buah pasukan Pangeran
Sepuh segera menjatuhkan diri berlutut didahului oleh para perwira. Perbuatan
ini diikuti oleh prajurit-prajurit yang berada di sebelah belakang. Menyaksikan
ini, dua orang kakek yang mengapit Sang Prabu Airlangga atau Sang Resi
Jatinendra, mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh kagum. Mereka ini adalah Empu
Bharodo dan Resi Bhargowo. Dua orang pertapa sakti ini makin kagum dan tunduk
kepada junjungan ini yang ternyata masih memiliki wibawa yang bukan main
besarnya.
Dua orang
pangeran juga melihat munculnya ayah mereka. Pucat wajah mereka dan serta-merta
mereka berdua meninggalkan barisan masing-masing, lari menghampiri Resi
Jatinendra. Akan tetapi karena pangeran Anom menghampiri dengan berkuda
sedangkan Pangeran Sepuh sudah turun dari kuda, maka Pangeran Anom yang lebih
dahulu tiba di situ. Pangeran ini segera meloncat turun dari kuda berlari
menubruk kaki ayahnya sambil menangis!
Pendeta itu
mengelus-elus jenggotnya dengan tangan kiri dan menyentuh kepala puteranya
dengan tangan kanan. Dia amat sayang kepada putera-puteranya, terutama putera
bungsu ini. Kemudian ia melirik kepada Pangeran Sepuh yang juga telah tiba di
situ dan kini berlutut pula di depannya, di belakang Pangeran Anom sambil
menundukkan muka. Sejak putera-puteranya masih kecil, selalu Sang Prabu
Airlangga menekankan kerukunan kepada mereka, mendidik mereka agar hidup rukun,
yang muda tunduk kepada yang tua, sebaliknya yang tua mengalah kepada yang
muda. Maka kini ia merasa prihatin sekali menyaksikan perang saudara antara
kedua puteranya itu.
"Hemm,
anak-anakku. Mengapa kalian mengadakan perang saudara dan membiarkan
bunuh-membunuh macam ini?"
Dalam
pertanyaan ini, sungguhpun suaranya halus dan wajahnya masih tetap bersinar,
namun terkandung hati trenyuh.
"Duh rama
........ !" Pangeran Anom mendahului kakaknya dan menangis makin keras.
"Semenjak
rama pergi bertapa, Pangeran Sepuh selalu menindas hamba, selalu menghina
hamba, mengandalkan kedudukannya sebagai putera sepuh (tua), sebagai putera
permaisuri pertama! Rama hamba diperhina, tak dipandang sebelah mata, dianggap
adik tiri yang terbenci kalau hamba tidak mempertahankan diri, agaknya hamba
sudah disuruhnya bunuh!"
Sang Prabu
Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu adalah seorang bijaksana, seorang
waspada, tentu saja tidak mudah dibujuk dan dibakar oleh omongan-omongan
seperti itu. Namun, betapapun juga dia seorang manusia yang tak terlepas
daripada ikatan kasih, maka keningnya berkerut ketika ia menegur Pangeran
Sepuh,
"Bukankah
sejak dahulu aku selalu memperingatkan agar yang tua pandai mengalah? Lebih tua
berarti lebih matang jiwanya, lebih luas pandangannya, dan lebih bijaksana.
Mengapa membiarkan keadaan menjadi berlarut-larut sehingga timbul perang
saudara yang begini menyedihkan?"
No comments:
Post a Comment