Pangeran Sepuh orangnya pendiam, seperti ibunya. Dengan sepenuh hati ia bersujut dan menjawab,
"Mohon
beribu ampun, rama. Mengenai semua peristiwa yang terjadi, hamba yakin bahwa
rama tentu telah dapat menyelami dan mengetahui akan keadaannya."
Makin dalam
kerut merut di wajah yang tadinya berseri itu. Jawaban ini cukup bagi Sang Resi
Jatinendra, cukup membuat ia maklum akan perbedaan antara kedua orang
puteranya, juga cukup membuat ia menduga bahwa kalau diselidiki, tentu
kesalahan berada di pihak Pangeran Anom. Menyelidiki urusan ini, menekankan
kesalahan-kesalahan, berarti malah memperhebat permusuhan di antara mereka.
Maka ia berkata, suaranya penuh wibawa,
"Yang tua
mengalah, yang muda menunduk, inilah kewajiban di antara saudara, berlandaskan
cinta kasih. Segala macam persoalan yang timbul, hanya dapat diselesaikan
baik-baik secara damai dengan perundingan. Mengapa suka menghamba nafsu dan
melakukan perang saudara yang mengakibatkan pertumpahan darah antara saudara?
Wilayah Kahuripan amat luas, dibagi duapun kalian masih akan mendapatkan bagian
masing-masing yang cukup luas. Untuk apa diperebutkan?"
Perang saudara
itu serentak berhenti. Melihat munculnya Sang Prabu Airlangga sendiri yang
menghentikan perang, gentarlah rasa hati para pembantu Pangeran Anom yang pada
saat itu masih bertanding. Cekel Aksomolo maklum bahwa, menghadapi bekas Raja
Kahuripan yang amat sakti mandraguna itu, ia dan kawan-kawannya takkan dapat
berbuat sesuatu, bahkan melihat perang terhenti secara mendadak, iapun lalu
menghentikan serangannya terhadap Resi Telomoyo, lalu terbungkuk-bungkuk
menyelinap pergi di antara banyak prajurit yang bersimpang-siur.
Demikian pula
pertandingan Roro Luhito, terhenti dengan sendirinya. Seperti juga Cekel Aksomolo,
dua orang raksasa ini mengundurkan diri dan menanti keputusan Pangeran Anom
yang masih menghadap ayahnya bersama Pangeran Sepuh. Kartikosari dan Roro
Luhito yang pada hakekatnya datang ke kota raja terutama sekali untuk mencari
musuh besar mereka, kinipun kehilangan nafsu bertempur melihat perang
dihentikan. Secara pribadi, mereka tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan
dua orang raksasa tadi. Maka mereka lalu cepat menyelinap maju, memasuki bagian
yang tadi menjadi wilayah musuh, untuk mencari Jokowanengpati.
Sementara itu,
Resi Telomoyo yang tadi ketika bertanding melawan Cekel Aksomolo sempat melihat
Pujo menerjang ke tengah barisan, juga sudah menyelinap pergi untuk mencari
Pujo karena ia merasa khawatir kalau-kalau Pujo yang terpisah dari mereka
bertiga tadi mengalami celaka.
"Kakang
Wisangjiwo.....! Aduh, kakang ........ kenapa kau sampai begini ........
!"
Roro Luhito
menubruk tubuh yang rebah miring mandi darah itu, memeluk dan menangis.
Kartikosari berdiri dan memandang. Kasihan, pikirnya. Biarpun Wisangjiwo ini
dahulu bukan manusia baik-baik dan telah menyeleweng jauh daripada kebenaran,
akan tetapi akhir-akhir ini telah insyaf dan berusaha kembali ke jalan benar.
Siapa mengira, putera Adipati Selopenangkep akan mengakhiri hidupnya di medan
perang dalam keadaan mengerikan. Tubuh yang disangka sudah mati itu bergerak
perlahan, telentang sehingga kini tampak luka-luka di sebelah depan tubuhnya,
di dada dan perut. Darah sudah tak mengucur lagi, akan tetapi di atas tanah
tergenang darah dan pakaiannya juga penuh darah. Wisangjiwo membuka matanya.
Melihat bahwa wanita yang memeluknya adalah Roro Luhito, matanya terbelalak dan
dengan sukar sekali agaknya dengan pengerahan tenaga penghabisan, ia berkata,
menudingkan telunjuknya,
"Jok........
Jokowanengpati....... dia lari ke sana.......!"
Tiba-tiba
tubuhnya berkelojotan lalu lemas. Nyawanya melayang pergi. Roro Luhito maklum
kakak tirinya sudah mati, akan tetapi pada saat itu kemarahan dan dendam lebih
daripada kedukaan. Ia meletakkan tubuh kakaknya yang tadi ia sangga itu ke atas
tanah, lalu meloncat berdiri. Bagaikan mendapat komando, keduanya serentak lari
ke arah yang ditunjuk oleh Wisangjiwo tadi, berlari cepat seperti berlomba.
Beberapa prajurit yang mereka terjang terguling dan banyak orang memaki-maki
Namun Kartikosari dan Roro Luhito tak perduli, terus lari sampai mereka keluar
dari alun-alun yang penuh prajurit. Suara derap kaki kuda mengejutkan mereka,
membuat mereka menoleh.
"Itu
dia!" seru Roro Luhito.
Memang benar
Jokowanengpati telah menunggang kuda dan membalapkan kudanya itu, menuju
selatan.
"Kejar
........ !" Kartikosari berseru.
Mereka lari ke
arah kiri di mana terdapat beberapa ekor kuda yang dituntun prajurit Pangeran
Anom. Agaknya binatang-binatang itu kuda tunggangan para perwira yang kini
turun dari kuda dan entah ke mana perginya. Tak berkata sesuatu, Kartikosari
dan Roro Luhito menggerakkan tangan dan kaki dan sekejap saja mereka berdua
telah menunggangi kuda rampasan, membiarkan dua orang prajurit yang tiba-tiba
didorong roboh terlentang itu bengong terlongong kemudian menyumpah-nyumpah!.
Kartikosari mendapatkan kuda berbulu dawuk, sedangkan Roro Luhito menunggang
kuda berbulu merah. Sekali lagi terdengar derap kaki kuda membalap ke selatan
ketika dua orang wanita ini mengejar Jokowanengpati yang sudah tidak tampak
lagi bayangannya.
Resi Telomoyo
menemukan Pujo dalam keadaan payah. Pujo bermandi peluh dan ia lelah sekali
bahkan ada beberapa luka ringan di tubuhnya. Untung tadi bahwa perang terhenti
tiba-tiba, kalau tidak, tentu ia terancam bahaya maut. Jokowanengpati yang
curang itu tidak pernah maju sendiri, melainkan terus-menerus menambah bala
bantuan sehingga Pujo dikeroyok oleh puluhan orang prajurit. Biarpun Pujo tidak
gentar dan mengamuk serta merobohkan banyak sekali lawan, namun kalau
pertandingan keroyokan seperti itu dilanjutkan, tentu ia akan kehabisan napas
dan tenaga sehingga akhirnya ia akan mati di ujung puluhan senjata !. Maka
begitu perang terhenti, ia berdiri dengan keris di tangan, mengatur napas dan
memulihkan tenaganya. Biarpun semua orang berhenti bertempur, namun mengingat
akan kelicikan Jokowanengpati, Pujo tidak berani bersikap lengah. Ia
beristirahat, namun dengan keris di tangan, siap membela diri mati-matian. Ia
tidak tahu betapa Jokowanengpati sudah menjadi ketakutan begitu melihat bahwa
perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri.
Sebagai
seorang yang telah menumpuk dosa, melihat Pujo, Kartikosari dan Roro Luhito
berada pula di kota raja, setelah kini ia tidak dapat berlindung lagi di
belakang Pangeran Anom karena perang dihentikan, tentu saja Jokowanengpati
menjadi ketakutan. Ia pikir lebih baik lolos lebih dahulu dan setelah ia merasa
yakin takkan dapat dijangkau tangan orang-orang yang mendendam, baru ia akan
kembali menghambakan diri kepada Pangeran Anom. Untung, pikirnya, Pujo sudah
amat lelah sehingga tidak dapat mengejarnya. Ia sendiri menderita luka yang
cukup hebat akibat pukulan Wisangjiwo tadi, sehingga kalau dalam keadaan
seperti ini ia harus menghadapi Pujo, ia merasa berat dan khawatir.
Girang hati
Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya tidak mengalami luka dalam perang
itu sungguhpun hatinya kaget ketika Resi Telomoyo menceritakan bahwa kedua
orang isterinya itu mendapatkan lawan yang amat berbahaya, yaitu Ki Warok
Gendroyono dan Ki Krendoyokso! Mereka berdua lalu kembali untuk mencari
Kartikosari dan Roro Luhito, namun kedua orang wanita itu tidak tampak
bayangannya. Pujo yang merasa tidak enak hatinya, minta agar Resi Telomoyo
kembali lebih dahulu ke pasanggrahan yang disediakan untuk mereka oleh
Wisangjiwo di kompleks Istana Pangeran Sepuh.
"Paman
resi, saya tidak dapat beristirahat dengan tenang sebelum melihat mereka
kembali dengan selamat. Kemana gerangan mereka pergi? Bukankah perang sudah
dihentikan? Saya hendak mencari mereka."
Demikian kata
Pujo yang kembali ke alun-alun dan menyelinap ke tengah dimana tadi terjadi
perang hebat. Prajurit-prajurit kedua pihak kini sedang mengangkuti mereka yang
tewas dan terluka. Namun tidak tampak bayangan kedua isterinya. Kalau Kartikosari
dan Roro Luhito berada di antara mereka, tentu mudah terlihat olehnya karena
perajurit-perajurit itu adalah laki- laki semua. Akhirnya setelah
bertanya-tanya, Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya itu merampas kuda
dan membalapkan kuda ke arah selatan. Tak seorangpun di antara para prajurit
kedua pihak dapat menerangkan ke mana perginya kedua orang wanita itu dan
mengapa pula merampas kuda dan tergesa-gesa pergi ke selatan. Agaknya mereka
mengejar Jokowanengpati, pikir Pujo. Tidak ada lain hal yang akan dapat membuat
kedua isterinya itu pergi begitu saja tanpa memberi tahu kepadanya, kecuali
kalau mereka melihat Jokowanengpati dan mengejarnya. Kekhawatiran akan
keselamatan kedua isterinya membuat Pujo lupa akan kelelahannya. lapun lalu
mencari seekor kuda. Sebagai seorang pembantu Pangeran Sepuh, tentu saja para
prajurit mengenalnya dan mudah saja ia memperoleh seekor kuda yang baik. Tak
lama kemudian, kembali seekor kuda membalap di atas jalan menuju ke selatan
itu.
Setelah
memberi nasehat banyak kepada kedua orang puteranya, akhirnya Sang Resi
Jatinendra atau Resi Gentayu, mengambil keputusan untuk membagi Kerajaan
Kahuripan menjadi dua bagian. Raja sakti yang telah menjadi pertapa yang
bijaksana dan waspada ini dengan hati prihatin dapat melihat bahwa betapapun ia
memberi wejangan-wejangan, takkan dapat melenyapkan rasa dendam dan iri di
dalam hati kedua orang puteranya, terutama di dalam hati Pangeran Anom. Sang
Resi Jatinendra yang sudah awas pandangan batinnya dan dapat meraba dengan rasa
ke arah masa depan menjadi trenyuh dan nelangsa.
"Manusia
berusaha, namun Hyang Wisesa yang menentukan," keluhnya di dalam hati,
"namun
aku akan kesiku (terkutuk) kalau sebagai manusia aku tidak melakukan usaha
sedapat mungkin yang sudah menjadi kewajiban manusia."
Pertapa ini
maklum bahwa usaha satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk mencegah perebutan,
hanyalah dengan jalan membagi kerajaan menjadi dua bagian dan diberikan kepada
kedua orang puteranya. Tentu saja hal ini berlawanan dengan politiknya sebagai
raja dahulu. Dahulu Sang Prabu Airlangga berpendirian bahwa tanpa penyatuan
seluruh Nusantara, kemakmuran takkan dapat tercapai karena selalu akan terjadi
perebutan wilayah dan kekuasaan di antara para adipati dan raja-raja kecil.
Karena pendirian inilah maka ketika Resi Jatinendra masih menjadi raja, tiada
hentinya ia melakukan usaha perluasan wilayah, menaklukkan kerajaan-kerajaan
kecil sehingga akhirnya Kerasan Kahuripan terkenal sebagai kerajaan yang
menegakkan kembali pemerintahan yang wilayahnya seluas Kerajaan Mataram yang
lalu. Akan tetapi kini demi untuk mencegah meluasnya perang saudara, Sang Resi
Jatinendra terpaksa membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian untuk
dibagi rata di antara kedua puteranya berlainan ibu yang sudah bersiap untuk
saling menghancurkan dalam perebutan kekuasaan!
Di dalam
hatinya bekas raja besar ini maklum bahwa kebenaran ada pada puteranya yang
tua, namun kasih sayang sebagai ayah membuat ia condong kepada putera yang
muda. Sebetulnya, keputusan Sang Prabu Airlangga untuk membagi kerajaan menjadi
dua ini, amat tidak disetujui oleh Narotama, patih yang menjadi sahabat sejak
kecil, bahkan diakui sebagai kakak sendiri. Sang Patih Narotama yang dalam hal
kebijaksanaan dan kewaspadaan hanya sedikit selisihnya dengan Sang Prabu
Airlangga yang juga menjadi saudara seperguruannya, maklum bahwa usaha Sang
Prabu Airlangga ini bukan merupakan jalan keluar yang baik! Hanya merupakan
penyanggah perang untuk sementara waktu saja. Bukankah dengan pembagian
kerajaan menjadi dua maka sang prabu telah menciptakan dua buah kerajaan yang
sama besar dan sama kuat, yang berdiri berhadapan bagaikan dua ekor harimau
saling berlaga mengadu kekuatan? Bukankah perang saudara yang terjadi di
alun-alun itu hanya merupakan pertikaian di antara dua saudara sehingga
merupakan perang kecil terbatas antara dua pasukan pengawal, sedangkan perang
antara dua buah kerajaan besar merupakan perang besar-besaran yang mengerikan
dan jauh lebih celaka akibatnya daripada perang antara kakak dan adik?.
Terjadi
perbantahan antara Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama dan akibatnya, Ki
Patih Narotama tidak diperkenankan mencampuri urusan yang oleh Sang Prabu
Airlangga disebut urusan dalam antara seorang ayah dan para puteranya!. Bahkan
tak diperkenankan hadir dalam upacara pembagian kerajaan! Sesungguhnya bukan
sekali-kali Sang Prabu Airlangga marah kepada Ki Patih Narotama, melainkan ia
maklum bahwa kalau ia membiarkannya saja, Narotama tentu akan turun tangan
membela Pangeran Sepuh dan kalau hal ini terjadi, sebagai seorang ayah tentu ia
merasa tidak enak kalau harus berat sebelah. Di lain pihak, Narotama yang sudah
berjanji takkan mencampuri urusan antara kedua putera sang prabu, lalu
menyembah dan berkata,
"Kalau
begitu, perkenankanlah hamba mengundurkan diri selaku patih. Selama hamba masih
menjadi punggawa Kahuripan, betapa mungkin hanya akan mendiamkan saja kalau
melihat Kahuripan terancam perpecahan? Lain halnya kalau hamba sudah bukan
punggawa lagi, melainkan menjadi seorang pertapa."
"Kakang
Narotama! Kau hendak menjadi pertapa?? " Melihat wajah junjungannya yang
kaget itu, Narotama tersenyum.
No comments:
Post a Comment