Badai Laut Selatan ; Bagian 083


Pangeran Sepuh orangnya pendiam, seperti ibunya. Dengan sepenuh hati ia bersujut dan menjawab,
"Mohon beribu ampun, rama. Mengenai semua peristiwa yang terjadi, hamba yakin bahwa rama tentu telah dapat menyelami dan mengetahui akan keadaannya."

Makin dalam kerut merut di wajah yang tadinya berseri itu. Jawaban ini cukup bagi Sang Resi Jatinendra, cukup membuat ia maklum akan perbedaan antara kedua orang puteranya, juga cukup membuat ia menduga bahwa kalau diselidiki, tentu kesalahan berada di pihak Pangeran Anom. Menyelidiki urusan ini, menekankan kesalahan-kesalahan, berarti malah memperhebat permusuhan di antara mereka. Maka ia berkata, suaranya penuh wibawa,
"Yang tua mengalah, yang muda menunduk, inilah kewajiban di antara saudara, berlandaskan cinta kasih. Segala macam persoalan yang timbul, hanya dapat diselesaikan baik-baik secara damai dengan perundingan. Mengapa suka menghamba nafsu dan melakukan perang saudara yang mengakibatkan pertumpahan darah antara saudara? Wilayah Kahuripan amat luas, dibagi duapun kalian masih akan mendapatkan bagian masing-masing yang cukup luas. Untuk apa diperebutkan?"
Perang saudara itu serentak berhenti. Melihat munculnya Sang Prabu Airlangga sendiri yang menghentikan perang, gentarlah rasa hati para pembantu Pangeran Anom yang pada saat itu masih bertanding. Cekel Aksomolo maklum bahwa, menghadapi bekas Raja Kahuripan yang amat sakti mandraguna itu, ia dan kawan-kawannya takkan dapat berbuat sesuatu, bahkan melihat perang terhenti secara mendadak, iapun lalu menghentikan serangannya terhadap Resi Telomoyo, lalu terbungkuk-bungkuk menyelinap pergi di antara banyak prajurit yang bersimpang-siur.

Demikian pula pertandingan Roro Luhito, terhenti dengan sendirinya. Seperti juga Cekel Aksomolo, dua orang raksasa ini mengundurkan diri dan menanti keputusan Pangeran Anom yang masih menghadap ayahnya bersama Pangeran Sepuh. Kartikosari dan Roro Luhito yang pada hakekatnya datang ke kota raja terutama sekali untuk mencari musuh besar mereka, kinipun kehilangan nafsu bertempur melihat perang dihentikan. Secara pribadi, mereka tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan dua orang raksasa tadi. Maka mereka lalu cepat menyelinap maju, memasuki bagian yang tadi menjadi wilayah musuh, untuk mencari Jokowanengpati.
Sementara itu, Resi Telomoyo yang tadi ketika bertanding melawan Cekel Aksomolo sempat melihat Pujo menerjang ke tengah barisan, juga sudah menyelinap pergi untuk mencari Pujo karena ia merasa khawatir kalau-kalau Pujo yang terpisah dari mereka bertiga tadi mengalami celaka.
"Kakang Wisangjiwo.....! Aduh, kakang ........ kenapa kau sampai begini ........ !"
Roro Luhito menubruk tubuh yang rebah miring mandi darah itu, memeluk dan menangis. Kartikosari berdiri dan memandang. Kasihan, pikirnya. Biarpun Wisangjiwo ini dahulu bukan manusia baik-baik dan telah menyeleweng jauh daripada kebenaran, akan tetapi akhir-akhir ini telah insyaf dan berusaha kembali ke jalan benar. Siapa mengira, putera Adipati Selopenangkep akan mengakhiri hidupnya di medan perang dalam keadaan mengerikan. Tubuh yang disangka sudah mati itu bergerak perlahan, telentang sehingga kini tampak luka-luka di sebelah depan tubuhnya, di dada dan perut. Darah sudah tak mengucur lagi, akan tetapi di atas tanah tergenang darah dan pakaiannya juga penuh darah. Wisangjiwo membuka matanya. Melihat bahwa wanita yang memeluknya adalah Roro Luhito, matanya terbelalak dan dengan sukar sekali agaknya dengan pengerahan tenaga penghabisan, ia berkata, menudingkan telunjuknya,
"Jok........ Jokowanengpati....... dia lari ke sana.......!"
Tiba-tiba tubuhnya berkelojotan lalu lemas. Nyawanya melayang pergi. Roro Luhito maklum kakak tirinya sudah mati, akan tetapi pada saat itu kemarahan dan dendam lebih daripada kedukaan. Ia meletakkan tubuh kakaknya yang tadi ia sangga itu ke atas tanah, lalu meloncat berdiri. Bagaikan mendapat komando, keduanya serentak lari ke arah yang ditunjuk oleh Wisangjiwo tadi, berlari cepat seperti berlomba. Beberapa prajurit yang mereka terjang terguling dan banyak orang memaki-maki Namun Kartikosari dan Roro Luhito tak perduli, terus lari sampai mereka keluar dari alun-alun yang penuh prajurit. Suara derap kaki kuda mengejutkan mereka, membuat mereka menoleh.
"Itu dia!" seru Roro Luhito.
Memang benar Jokowanengpati telah menunggang kuda dan membalapkan kudanya itu, menuju selatan.
"Kejar ........ !" Kartikosari berseru.
Mereka lari ke arah kiri di mana terdapat beberapa ekor kuda yang dituntun prajurit Pangeran Anom. Agaknya binatang-binatang itu kuda tunggangan para perwira yang kini turun dari kuda dan entah ke mana perginya. Tak berkata sesuatu, Kartikosari dan Roro Luhito menggerakkan tangan dan kaki dan sekejap saja mereka berdua telah menunggangi kuda rampasan, membiarkan dua orang prajurit yang tiba-tiba didorong roboh terlentang itu bengong terlongong kemudian menyumpah-nyumpah!. Kartikosari mendapatkan kuda berbulu dawuk, sedangkan Roro Luhito menunggang kuda berbulu merah. Sekali lagi terdengar derap kaki kuda membalap ke selatan ketika dua orang wanita ini mengejar Jokowanengpati yang sudah tidak tampak lagi bayangannya.

Resi Telomoyo menemukan Pujo dalam keadaan payah. Pujo bermandi peluh dan ia lelah sekali bahkan ada beberapa luka ringan di tubuhnya. Untung tadi bahwa perang terhenti tiba-tiba, kalau tidak, tentu ia terancam bahaya maut. Jokowanengpati yang curang itu tidak pernah maju sendiri, melainkan terus-menerus menambah bala bantuan sehingga Pujo dikeroyok oleh puluhan orang prajurit. Biarpun Pujo tidak gentar dan mengamuk serta merobohkan banyak sekali lawan, namun kalau pertandingan keroyokan seperti itu dilanjutkan, tentu ia akan kehabisan napas dan tenaga sehingga akhirnya ia akan mati di ujung puluhan senjata !. Maka begitu perang terhenti, ia berdiri dengan keris di tangan, mengatur napas dan memulihkan tenaganya. Biarpun semua orang berhenti bertempur, namun mengingat akan kelicikan Jokowanengpati, Pujo tidak berani bersikap lengah. Ia beristirahat, namun dengan keris di tangan, siap membela diri mati-matian. Ia tidak tahu betapa Jokowanengpati sudah menjadi ketakutan begitu melihat bahwa perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri.
Sebagai seorang yang telah menumpuk dosa, melihat Pujo, Kartikosari dan Roro Luhito berada pula di kota raja, setelah kini ia tidak dapat berlindung lagi di belakang Pangeran Anom karena perang dihentikan, tentu saja Jokowanengpati menjadi ketakutan. Ia pikir lebih baik lolos lebih dahulu dan setelah ia merasa yakin takkan dapat dijangkau tangan orang-orang yang mendendam, baru ia akan kembali menghambakan diri kepada Pangeran Anom. Untung, pikirnya, Pujo sudah amat lelah sehingga tidak dapat mengejarnya. Ia sendiri menderita luka yang cukup hebat akibat pukulan Wisangjiwo tadi, sehingga kalau dalam keadaan seperti ini ia harus menghadapi Pujo, ia merasa berat dan khawatir.
Girang hati Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya tidak mengalami luka dalam perang itu sungguhpun hatinya kaget ketika Resi Telomoyo menceritakan bahwa kedua orang isterinya itu mendapatkan lawan yang amat berbahaya, yaitu Ki Warok Gendroyono dan Ki Krendoyokso! Mereka berdua lalu kembali untuk mencari Kartikosari dan Roro Luhito, namun kedua orang wanita itu tidak tampak bayangannya. Pujo yang merasa tidak enak hatinya, minta agar Resi Telomoyo kembali lebih dahulu ke pasanggrahan yang disediakan untuk mereka oleh Wisangjiwo di kompleks Istana Pangeran Sepuh.
"Paman resi, saya tidak dapat beristirahat dengan tenang sebelum melihat mereka kembali dengan selamat. Kemana gerangan mereka pergi? Bukankah perang sudah dihentikan? Saya hendak mencari mereka."

Demikian kata Pujo yang kembali ke alun-alun dan menyelinap ke tengah dimana tadi terjadi perang hebat. Prajurit-prajurit kedua pihak kini sedang mengangkuti mereka yang tewas dan terluka. Namun tidak tampak bayangan kedua isterinya. Kalau Kartikosari dan Roro Luhito berada di antara mereka, tentu mudah terlihat olehnya karena perajurit-perajurit itu adalah laki- laki semua. Akhirnya setelah bertanya-tanya, Pujo mendengar bahwa kedua orang isterinya itu merampas kuda dan membalapkan kuda ke arah selatan. Tak seorangpun di antara para prajurit kedua pihak dapat menerangkan ke mana perginya kedua orang wanita itu dan mengapa pula merampas kuda dan tergesa-gesa pergi ke selatan. Agaknya mereka mengejar Jokowanengpati, pikir Pujo. Tidak ada lain hal yang akan dapat membuat kedua isterinya itu pergi begitu saja tanpa memberi tahu kepadanya, kecuali kalau mereka melihat Jokowanengpati dan mengejarnya. Kekhawatiran akan keselamatan kedua isterinya membuat Pujo lupa akan kelelahannya. lapun lalu mencari seekor kuda. Sebagai seorang pembantu Pangeran Sepuh, tentu saja para prajurit mengenalnya dan mudah saja ia memperoleh seekor kuda yang baik. Tak lama kemudian, kembali seekor kuda membalap di atas jalan menuju ke selatan itu.

Setelah memberi nasehat banyak kepada kedua orang puteranya, akhirnya Sang Resi Jatinendra atau Resi Gentayu, mengambil keputusan untuk membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian. Raja sakti yang telah menjadi pertapa yang bijaksana dan waspada ini dengan hati prihatin dapat melihat bahwa betapapun ia memberi wejangan-wejangan, takkan dapat melenyapkan rasa dendam dan iri di dalam hati kedua orang puteranya, terutama di dalam hati Pangeran Anom. Sang Resi Jatinendra yang sudah awas pandangan batinnya dan dapat meraba dengan rasa ke arah masa depan menjadi trenyuh dan nelangsa.
"Manusia berusaha, namun Hyang Wisesa yang menentukan," keluhnya di dalam hati,
"namun aku akan kesiku (terkutuk) kalau sebagai manusia aku tidak melakukan usaha sedapat mungkin yang sudah menjadi kewajiban manusia."
Pertapa ini maklum bahwa usaha satu-satunya yang dapat ia lakukan untuk mencegah perebutan, hanyalah dengan jalan membagi kerajaan menjadi dua bagian dan diberikan kepada kedua orang puteranya. Tentu saja hal ini berlawanan dengan politiknya sebagai raja dahulu. Dahulu Sang Prabu Airlangga berpendirian bahwa tanpa penyatuan seluruh Nusantara, kemakmuran takkan dapat tercapai karena selalu akan terjadi perebutan wilayah dan kekuasaan di antara para adipati dan raja-raja kecil. Karena pendirian inilah maka ketika Resi Jatinendra masih menjadi raja, tiada hentinya ia melakukan usaha perluasan wilayah, menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil sehingga akhirnya Kerasan Kahuripan terkenal sebagai kerajaan yang menegakkan kembali pemerintahan yang wilayahnya seluas Kerajaan Mataram yang lalu. Akan tetapi kini demi untuk mencegah meluasnya perang saudara, Sang Resi Jatinendra terpaksa membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian untuk dibagi rata di antara kedua puteranya berlainan ibu yang sudah bersiap untuk saling menghancurkan dalam perebutan kekuasaan!

Di dalam hatinya bekas raja besar ini maklum bahwa kebenaran ada pada puteranya yang tua, namun kasih sayang sebagai ayah membuat ia condong kepada putera yang muda. Sebetulnya, keputusan Sang Prabu Airlangga untuk membagi kerajaan menjadi dua ini, amat tidak disetujui oleh Narotama, patih yang menjadi sahabat sejak kecil, bahkan diakui sebagai kakak sendiri. Sang Patih Narotama yang dalam hal kebijaksanaan dan kewaspadaan hanya sedikit selisihnya dengan Sang Prabu Airlangga yang juga menjadi saudara seperguruannya, maklum bahwa usaha Sang Prabu Airlangga ini bukan merupakan jalan keluar yang baik! Hanya merupakan penyanggah perang untuk sementara waktu saja. Bukankah dengan pembagian kerajaan menjadi dua maka sang prabu telah menciptakan dua buah kerajaan yang sama besar dan sama kuat, yang berdiri berhadapan bagaikan dua ekor harimau saling berlaga mengadu kekuatan? Bukankah perang saudara yang terjadi di alun-alun itu hanya merupakan pertikaian di antara dua saudara sehingga merupakan perang kecil terbatas antara dua pasukan pengawal, sedangkan perang antara dua buah kerajaan besar merupakan perang besar-besaran yang mengerikan dan jauh lebih celaka akibatnya daripada perang antara kakak dan adik?.
Terjadi perbantahan antara Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama dan akibatnya, Ki Patih Narotama tidak diperkenankan mencampuri urusan yang oleh Sang Prabu Airlangga disebut urusan dalam antara seorang ayah dan para puteranya!. Bahkan tak diperkenankan hadir dalam upacara pembagian kerajaan! Sesungguhnya bukan sekali-kali Sang Prabu Airlangga marah kepada Ki Patih Narotama, melainkan ia maklum bahwa kalau ia membiarkannya saja, Narotama tentu akan turun tangan membela Pangeran Sepuh dan kalau hal ini terjadi, sebagai seorang ayah tentu ia merasa tidak enak kalau harus berat sebelah. Di lain pihak, Narotama yang sudah berjanji takkan mencampuri urusan antara kedua putera sang prabu, lalu menyembah dan berkata,
"Kalau begitu, perkenankanlah hamba mengundurkan diri selaku patih. Selama hamba masih menjadi punggawa Kahuripan, betapa mungkin hanya akan mendiamkan saja kalau melihat Kahuripan terancam perpecahan? Lain halnya kalau hamba sudah bukan punggawa lagi, melainkan menjadi seorang pertapa."
"Kakang Narotama! Kau hendak menjadi pertapa?? " Melihat wajah junjungannya yang kaget itu, Narotama tersenyum.

<<< Bagian 082                                                                                   Bagian 084 >>>

No comments:

Post a Comment