Badai Laut Selatan ; Bagian 084


"Paduka sendiri meninggalkan singgasana, meninggalkan kebesaran dan kemuliaan seorang raja dan mengundurkan diri menjadi pertapa, mengapa hamba tidak menauladan contoh paduka yang amat baik ini? Kerajaan akan dipecah menjadi dua, sebaiknya Gusti Pangeran Sepuh dan Gusti Pangeran Anom memilih pembantu masing-masing dan hamba lepas tangan, melepaskan diri dari dunia ramai, menikmati keadaan kosong sunyi, bersih daripada angkara murkanya nafsu. Hamba pamit, mohon diri, gusti."
Resi Jatinendra turun dari tempat duduknya lalu menghampiri ki patih yang bersimpuh di depannya. Dirangkulnya Narotama dan suaranya terharu ketika bersabda,
"Duh kakang Narotama. Betapa girang hatiku mendengar aturmu. Agaknya engkaupun dapat menginsyafi betapa beginilah sebaiknya. Kita sudah tua, kakang. Kita harus melepas tangan setelah melakukan ikhtiar sekuasa kita. Biarkanlah apa yang akan terjadi, terjadi seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa, kakang Narotama!"
"Betul, yayi. Betul sekali. Ampunkan kekhilafan hamba yang sudah-sudah."
"Engkau akan bertapa di mana, kakang?"
"Paduka maklum, hamba takkan pernah dapat meninggalkan paduka. Oleh karena itupun, hamba takkan jauh dari Jalatunda, yayi."
"Bagus, kakang. Berangkatlah, dan jangan lupa, kau didiklah baik-baik si Joko Wandiro."
Demikianlah, Narotama berpisah dari junjungannya dan tidak menyaksikan pembagian Kerajaan Kahuripan, karena hal ini serupa dengan memecah jantungnya menjadi dua. Dahulu, bertahun-tahun dialah yang berjuang menyatukan wilayah-wilayah itu, dengan pengorbanan darah dan peluh. Bagaimana kini ia tega menyaksikan segala jerih payahnya itu dihancurkan, bukan oleh orang lain, melainkan oleh keturunan junjungannya sendiri? Dengan hati berat Narotama lalu mengajak Joko Wandiro meninggalkan Jalatunda, memilih tempat bertapa yang cocok di antara guha-guha yang banyak terdapat di pegunungan sekitar Gunung Bekel.

Biarpun maklum sedalamnya bahwa usaha manusia itu tak mungkin merobah jalannya jangka yang ditentukan Hyang Wisesa, namun Sang Prabu Airlangga berusaha keras untuk bertindak sebaik-baiknya. Pembagian wilayah kerajaan yang dilakukan dalam usaha mencegah perang saudara ini dilakukan dengan upacara besar-besaran, sengaja oleh Sang Prabu Airlangga didatangkan semua pembesar, punggawa, pendeta dan orang-orang terkemuka di seluruh kerajaan agar mereka ini menjadi saksi. Semua ini dilakukan dalam rangka usahanya agar kewajibannya sebagai ayah yang adil terpenuhi. Pimpinan upacara pembagian wilayah Kerajaan Rahuripan ini diserahkan kepada Empu Bharodo yang terkenal sebagai seorang kakek sakti yang amat setia kepada Kahuripan, terkenal pula akan kejujuran dan kebersihan hatinya, juga akan kesaktiannya. Berkat kebijaksanaan Empu Bharodo yang dibantu oleh adik seperguruannya, Resi Bhargowo, pembagian wilayah Kerajaan Kahuripan ini dilakukan dengan sempurna dan seadil-adilnya. Akan tetapi, manusia takkan terlepas daripada sifat angkara murka dan dengki iri. Betapapun adil pembagian itu menurut ukuran Empu Bharodo maupun Resi Jatinendra sendiri, tetap saja kedua orang pangeran itu diam-diam merasa tidak puas, karena pembagian itu tidak selaras dengan keinginan hati mereka dan karenanya keduanya menganggapnya kurang adil!. Namun oleh karena yang membaginya adalah Sang Prabu Airlangga sendiri, maka kedua orang pangeran tidak berani membantah dan menerima pembagian masing-masing.
Pangeran Sepuh mendapat bagian barat dan menjadi raja dari bagian ini yang kemudian dinamakan Kerajaan Panjalu. Adapun bagian timur menjadi bagian Pangeran Anom dan dinamakan Kerajaan Jenggala. Mereka menjadi raja dari kerajaan masing-masing dan untuk sementara kelihatan puas dan berlomba untuk memperindah dan memperbesar kerajaan masing-masing.
Setelah pembagian kerajaan selesai, Sang Prabu Airlangga kembali ke pertapaan, bertapa makin tekun lagi sambil memohon kepada dewata agar kerajaan yang kini dipimpin oleh kedua orang puteranya dapat makmur dan tidak timbul pula pertengkaran di antara mereka. Empu Bharodo dengan setia mengikuti junjungannya ini di pertapaan Jalatunda di lereng Gunung Bekel. Biarpun Ki Patih Narotama tidak diperkenankan mencampuri urusan pembagian kerajaan, bahkan tidak hadir pula dalam upacara, namun Ki Patih Narotama tidak merasa kecil hati terhadap junjungan, juga saudara seperguruan dan sahabat yang dikasihinya itu. Ia merasa girang bahwa jalan tengah yang diambil sri baginda itu agaknya memperlihatkan hasil baik. Apapun yang terjadi, Ki Patih Narotama yang amat mencinta negara ini sudah merasa puas apabila menyaksikan negara aman makmur. Oleh karena itu, biarpun ia sudah menjadi pertapa, seringkali ia menghadap Resi Jatinendra, bahkan sering pula ia datang mengajak muridnya, Joko Wandiro yang tentu saja merasa girang mendapat kesempatan bertemu dengan eyang gurunya, yaitu Resi Bhargowo. Karena adanya hubungan ini, terutama sekali juga karena para kakek sakti yang waspada itu dapat melihat bahwa Joko Wandiro merupakan harapan mereka untuk mewakili mereka kelak menanggulangi segala keruwetan dan kekacauan negara, maka tiada bosannya mereka, juga Sang Resi Jatinendra sendiri, memberi nasehat dan petunjuk kepada Joko Wandiro.

Anak ini dengan sikapnya yang sopan, dengan otaknya yang pintar, telah menarik perhatian mereka sehingga tidak hanya eyang gurunya saja yang menurunkan ilmunya, bahkan Empu Bharodo juga mengajarkan ilmu kesaktiannya Bayu Sakti kepada Joko Wandiro. Resi Jatinendra yang masih tunggal guru dengan Ki Patih Narotama, maklum bahwa anak itu tentu akan menerima kepandaian dari Narotama, maka iapun hanya memberi petunjuk tentang cara bersamadhi untuk menghimpun kekuatan sakti, dan kemudian memberi petunjuk pula tentang aji kesaktian yang luar biasa dan hanya dimiliki oleh bekas raja ini, yaitu aji Triwikrama. Aji Triwikrama ini sesungguhnya adalah aji yang mengandalkan kekuatan batin yang mengungkap keaslian ujud seorang manusia dan yang biasanya hanya dapat dilihat dengan pandang mata batin yang kuat. Aji ini apabila dipergunakan, pengaruhnya amat hebat, menundukkan segala macam lawan tanpa menggunakan kekerasan. Joko Wandiro adalah seorang anak yang rajin, seorang anak yang pandai nyimpan perasaan dan rahasia hatinya, ia belajar dengan amat tekun, penuh perhatian. Ia tidak pernah bertanya tentang ayahnya, namun didalam hatinya tak pernah ia melupakan ayahnya, tak pernah ia kehilangan rasa rindunya yang ditekan-tekan, dan tak pernah ia lupa akan pesan ayahnya dahulu tentang seorang musuh besar ayahnya yang bernama Wisangjiwo! Tentu saja ia tidak pernah mendengar bahwa Wisangjiwo telah gugur dalam perang saudara. Juga sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya orang yang selama ini dianggap musuh besar, yang kelak harus ia balas, Sesungguhnya adalah ayah kandungnya sendiri!.

Sementara itu, Endang Patibroto dibawa oleh gurunya ke Pulau Nusakambangan. Pada masa itu, pulau ini merupakan sebuah pulau yang terkenal sebagai sarang Iblis dan Siluman. Jangankan mendarat di pulau ini kalau ada yang berani bahkan mendekati pulau saja tidak ada seorangpun nelayan yang berani. Sebuah pulau angker, menyeramkan, dan penuh rahasia mengerikan. Kalau sekali waktu ada perahu-perahu nelayan yang diserang badai Laut Selatan di daerah itu, tentu mereka ini menghubungkannya dengan Pulau Nusakambangan atau yang mereka juluki Pulau Iblis. Mereka menganggap bahwa iblis-iblis di pulau itu mengamuk dan tidak senang karena ada perahu yang "melanggar" wilayah Pulau Iblis, yang berlayar terlalu dekat dengan pulau.
Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan Endang Patibroto mendekati pantai Laut Selatan. Pulau Nusakambangan nampak dari pantai itu seperti seorang raksasa sedang tidur. Cuaca sudah mulai gelap ketika mereka tiba di pantai.
"Bapa guru, bagaimana kita akan menyeberang ke sana?" tanya Endang Patibroto ketika gurunya memberi tahu bahwa pulau yang jauh itulah tempat tinggalnya. Ia bertanya demikian karena kini gurunya tidak membawa mancung (selapu bunga kelapa) seperti ketika menyeberang ke Pulau Sempu.
"Apakah kita harus mencari mancung lebih dulu? Itu di sana banyak pohon kelapa!" Ia menuding ke arah barat di mana terdapat beberapa batang pohon nyiur melambai-lambai tertiup angin laut.
"Huah-hah-hah, tidak usah, muridku. Setelah kau ikut bersamaku, kita perlu mempunyai sebuah perahu. Nah, bukankah di sana itu ada perahu. Mari!"
Dibyo Mamangkoro menarik tangan muridnya, diajak pergi mendekati pantai sebelah timur di mana terdapat beberapa buah perahu. Dari jauh kelihatan beberapa orang nelayan sedang berkemas untuk mulai berlayar mencari ikan. Ada yang membereskan layar, ada pula yang menyiapkan jala, pancing, dan lain-lain.

Tanpa berkata sesuatu, Dibyo Mamangkoro yang menggandeng tangan Endang Patibroto itu menghampiri para nelayan, lalu seenaknya ia memilih perahu terbaik, lalu melangkah naik bersama muridnya.
"Haiii.......! Orang tua, kau mau apa dengan perahuku.,.....?"
Seorang nelayan muda yang bertubuh tegap dan nampak kuat datang berlari-lari sambil membawa sebuah tombak berkail alat menangkap ikan besar. Sikapnya mengancam. Akan tetapi Dibyo Mamangkoro tidak memperdulikan teguran orang itu. Enak saja ia mengambil dayung dan hendak melepaskan dadung yang mengikat perahu dengan perahu lain di pantai.
"Heeeel! Lepaskan perahuku. Turun!!"
Si nelayan muda membentak sambil menerjang maju. Dengan tangan kanannya ia menangkap lengan Dibyo Mamangkoro dan menyeretnya turun dari perahu. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika lengan dan tubuh yang diseretnya itu sama sekali tidak bergoyang! Ia mengerahkan tenaga, membetot lagi. Sia- sia belaka, sama halnya kalau ia mencoba untuk menarik roboh sebuah batu karang yang kokoh kuat. Namun si nelayan yang muda dan kuat itu makin penasaran. Ia menancapkan tombaknya di atas tanah, kemudian menggunakan kedua tangan untuk menyeret.
"Huah-ha-ha ! Endang, kau lihat tingkah monyet pantai ini!" Sambil berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan yang dibetot dari tubuh nelayan muda itu terlempar sampai lima meter jauhnya ke laut.

Sambil menyumpah-nyumpah nelayan itu berenang ke pinggir, sedangkan para nelayan lain yang belasan orang banyaknya datang mendekat dengan wajah terheran. Nelayan muda itu terkenal sebagai nelayan yang paling kuat di antara mereka. Pernah seorang diri saja melawan dan menaklukkan ikan hiu sebesar manusia ketika ia mengail dan tertarik jatuh dari perahunya ke dalam laut oleh seekor ikan hiu yang terkail. Bagaimana sekarang melawan seorang kakek tua itu, biarpun kakek tinggi besar seperti raksasa, begitu mudah saja dilempar ke laut? Dengan penuh ketegangan mereka melihat betapa nelayan muda itu sudah berhasil berenang ke pantai. Kini dengan kemarahan meluap melihat kakek tinggi besar itu terbahak-bahak ketawa dan anak perempuan itu tersenyum-senyum geli, si nelayan muda menyambar tombaknya.
"Suro....... sabarlah, jangan main-main dengan tombak.......!"
Beberapa orang nelayan tua memperingatkan. Para nelayan itu adalah orang-orang sederhana dan menghadapi buruan mereka, yaitu ikan laut, mungkin mereka dapat bersikap ganas dan kejam. Akan tetapi menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan nyawa manusia, mereka merasa ngeri juga. Namun, nelayan muda bernama Suro itu terlalu marah sehingga menjadi mata gelap. Jelas bahwa kakek raksasa itu hendak merampas perahunya, bahkan kini kakek itu sudah hendak mengembangkan layar, bagaimana ia tidak akan merah? Perahu lebih berharga daripada nyawa bagi seorang nelayan miskin seperti dia. Kini perahunya hendak dirampas orang, harus ia pertahankan dengan nyawa, kalau perlu ia tidak akan segan untuk membunuh! Kakek itu terlalu kuat, tidak dapat ia lawan dengan kedua tangan kosong. Apa salahnya kini menggunakan senjata untuk mencapai kemenangan mempertahankan perahunya?

Ia tidak tahu bahwa seruan peringatan teman-temannya yang tua tadi bukan hanya karena khawatir melihat ia hendak membunuh orang, melainkan lebih khawatir lagi terhadap keselamatannya. Para nelayan yang tua itu melihat sesuatu pada diri Dibyo Mamangkoro yang menyeramkan hati mereka. Sesuatu yang memancar dari sepasang mata yang liar dan besar itu, sesuatu yang membayang pada sikap kakek yang tidak sewajarnya, tidak seperti manusia umumnya. Terlambatlah seruan peringatan itu.
Suro sudah menerjang dengan tombaknya sambil melompat ke atas perahunya sendiri. Ia bermaksud menyerang kakek raksasa yang tadi telah melemparkannya ke laut, akan tetapi karena Endang Patibroto berdiri di pinggir menjadi penghalang, tentu saja otomatis anak perempuan inilah yang lebih dulu terancam bahaya serangan tombak. Anehnya, melihat datangnya marabahaya terhadap muridnya itu, Dibyo Mamangkoro hanya tertawa bergelak, sama sekali tidak menjadi gugup atau khawatir!
Memang tidak berlebihan sikap ini. Biarpun anak perempuan itu baru beberapa hari saja ikut kepadanya dan menjadi muridnya, namun pandang mata Dibyo Mamangkoro amat tajam sehingga ia mengenal anak macam apa muridnya ini. Kalau hanya menghadapi serangan tombak yang dilakukan oleh tangan-tangan yang cuma kuat dan cepat itu saja, tanpa didasari ilmu bermain tombak, bukanlah apa-apa bagi Endang Patibroto.

<<< Bagian 083                                                                                   Bagian 085 >>>

No comments:

Post a Comment