"Paduka sendiri meninggalkan singgasana, meninggalkan kebesaran dan kemuliaan seorang raja dan mengundurkan diri menjadi pertapa, mengapa hamba tidak menauladan contoh paduka yang amat baik ini? Kerajaan akan dipecah menjadi dua, sebaiknya Gusti Pangeran Sepuh dan Gusti Pangeran Anom memilih pembantu masing-masing dan hamba lepas tangan, melepaskan diri dari dunia ramai, menikmati keadaan kosong sunyi, bersih daripada angkara murkanya nafsu. Hamba pamit, mohon diri, gusti."
Resi
Jatinendra turun dari tempat duduknya lalu menghampiri ki patih yang bersimpuh
di depannya. Dirangkulnya Narotama dan suaranya terharu ketika bersabda,
"Duh
kakang Narotama. Betapa girang hatiku mendengar aturmu. Agaknya engkaupun dapat
menginsyafi betapa beginilah sebaiknya. Kita sudah tua, kakang. Kita harus
melepas tangan setelah melakukan ikhtiar sekuasa kita. Biarkanlah apa yang akan
terjadi, terjadi seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa, kakang
Narotama!"
"Betul,
yayi. Betul sekali. Ampunkan kekhilafan hamba yang sudah-sudah."
"Engkau
akan bertapa di mana, kakang?"
"Paduka
maklum, hamba takkan pernah dapat meninggalkan paduka. Oleh karena itupun,
hamba takkan jauh dari Jalatunda, yayi."
"Bagus,
kakang. Berangkatlah, dan jangan lupa, kau didiklah baik-baik si Joko
Wandiro."
Demikianlah,
Narotama berpisah dari junjungannya dan tidak menyaksikan pembagian Kerajaan
Kahuripan, karena hal ini serupa dengan memecah jantungnya menjadi dua. Dahulu,
bertahun-tahun dialah yang berjuang menyatukan wilayah-wilayah itu, dengan
pengorbanan darah dan peluh. Bagaimana kini ia tega menyaksikan segala jerih
payahnya itu dihancurkan, bukan oleh orang lain, melainkan oleh keturunan
junjungannya sendiri? Dengan hati berat Narotama lalu mengajak Joko Wandiro meninggalkan
Jalatunda, memilih tempat bertapa yang cocok di antara guha-guha yang banyak
terdapat di pegunungan sekitar Gunung Bekel.
Biarpun maklum
sedalamnya bahwa usaha manusia itu tak mungkin merobah jalannya jangka yang
ditentukan Hyang Wisesa, namun Sang Prabu Airlangga berusaha keras untuk
bertindak sebaik-baiknya. Pembagian wilayah kerajaan yang dilakukan dalam usaha
mencegah perang saudara ini dilakukan dengan upacara besar-besaran, sengaja
oleh Sang Prabu Airlangga didatangkan semua pembesar, punggawa, pendeta dan
orang-orang terkemuka di seluruh kerajaan agar mereka ini menjadi saksi. Semua
ini dilakukan dalam rangka usahanya agar kewajibannya sebagai ayah yang adil
terpenuhi. Pimpinan upacara pembagian wilayah Kerajaan Rahuripan ini diserahkan
kepada Empu Bharodo yang terkenal sebagai seorang kakek sakti yang amat setia
kepada Kahuripan, terkenal pula akan kejujuran dan kebersihan hatinya, juga
akan kesaktiannya. Berkat kebijaksanaan Empu Bharodo yang dibantu oleh adik
seperguruannya, Resi Bhargowo, pembagian wilayah Kerajaan Kahuripan ini
dilakukan dengan sempurna dan seadil-adilnya. Akan tetapi, manusia takkan
terlepas daripada sifat angkara murka dan dengki iri. Betapapun adil pembagian
itu menurut ukuran Empu Bharodo maupun Resi Jatinendra sendiri, tetap saja
kedua orang pangeran itu diam-diam merasa tidak puas, karena pembagian itu
tidak selaras dengan keinginan hati mereka dan karenanya keduanya menganggapnya
kurang adil!. Namun oleh karena yang membaginya adalah Sang Prabu Airlangga
sendiri, maka kedua orang pangeran tidak berani membantah dan menerima
pembagian masing-masing.
Pangeran Sepuh
mendapat bagian barat dan menjadi raja dari bagian ini yang kemudian dinamakan
Kerajaan Panjalu. Adapun bagian timur menjadi bagian Pangeran Anom dan dinamakan
Kerajaan Jenggala. Mereka menjadi raja dari kerajaan masing-masing dan untuk
sementara kelihatan puas dan berlomba untuk memperindah dan memperbesar
kerajaan masing-masing.
Setelah
pembagian kerajaan selesai, Sang Prabu Airlangga kembali ke pertapaan, bertapa
makin tekun lagi sambil memohon kepada dewata agar kerajaan yang kini dipimpin
oleh kedua orang puteranya dapat makmur dan tidak timbul pula pertengkaran di
antara mereka. Empu Bharodo dengan setia mengikuti junjungannya ini di
pertapaan Jalatunda di lereng Gunung Bekel. Biarpun Ki Patih Narotama tidak
diperkenankan mencampuri urusan pembagian kerajaan, bahkan tidak hadir pula
dalam upacara, namun Ki Patih Narotama tidak merasa kecil hati terhadap
junjungan, juga saudara seperguruan dan sahabat yang dikasihinya itu. Ia merasa
girang bahwa jalan tengah yang diambil sri baginda itu agaknya memperlihatkan
hasil baik. Apapun yang terjadi, Ki Patih Narotama yang amat mencinta negara
ini sudah merasa puas apabila menyaksikan negara aman makmur. Oleh karena itu,
biarpun ia sudah menjadi pertapa, seringkali ia menghadap Resi Jatinendra,
bahkan sering pula ia datang mengajak muridnya, Joko Wandiro yang tentu saja
merasa girang mendapat kesempatan bertemu dengan eyang gurunya, yaitu Resi
Bhargowo. Karena adanya hubungan ini, terutama sekali juga karena para kakek
sakti yang waspada itu dapat melihat bahwa Joko Wandiro merupakan harapan
mereka untuk mewakili mereka kelak menanggulangi segala keruwetan dan kekacauan
negara, maka tiada bosannya mereka, juga Sang Resi Jatinendra sendiri, memberi
nasehat dan petunjuk kepada Joko Wandiro.
Anak ini
dengan sikapnya yang sopan, dengan otaknya yang pintar, telah menarik perhatian
mereka sehingga tidak hanya eyang gurunya saja yang menurunkan ilmunya, bahkan
Empu Bharodo juga mengajarkan ilmu kesaktiannya Bayu Sakti kepada Joko Wandiro.
Resi Jatinendra yang masih tunggal guru dengan Ki Patih Narotama, maklum bahwa
anak itu tentu akan menerima kepandaian dari Narotama, maka iapun hanya memberi
petunjuk tentang cara bersamadhi untuk menghimpun kekuatan sakti, dan kemudian
memberi petunjuk pula tentang aji kesaktian yang luar biasa dan hanya dimiliki
oleh bekas raja ini, yaitu aji Triwikrama. Aji Triwikrama ini sesungguhnya
adalah aji yang mengandalkan kekuatan batin yang mengungkap keaslian ujud
seorang manusia dan yang biasanya hanya dapat dilihat dengan pandang mata batin
yang kuat. Aji ini apabila dipergunakan, pengaruhnya amat hebat, menundukkan
segala macam lawan tanpa menggunakan kekerasan. Joko Wandiro adalah seorang anak
yang rajin, seorang anak yang pandai nyimpan perasaan dan rahasia hatinya, ia
belajar dengan amat tekun, penuh perhatian. Ia tidak pernah bertanya tentang
ayahnya, namun didalam hatinya tak pernah ia melupakan ayahnya, tak pernah ia
kehilangan rasa rindunya yang ditekan-tekan, dan tak pernah ia lupa akan pesan
ayahnya dahulu tentang seorang musuh besar ayahnya yang bernama Wisangjiwo!
Tentu saja ia tidak pernah mendengar bahwa Wisangjiwo telah gugur dalam perang
saudara. Juga sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya orang yang selama ini
dianggap musuh besar, yang kelak harus ia balas, Sesungguhnya adalah ayah
kandungnya sendiri!.
Sementara itu,
Endang Patibroto dibawa oleh gurunya ke Pulau Nusakambangan. Pada masa itu,
pulau ini merupakan sebuah pulau yang terkenal sebagai sarang Iblis dan
Siluman. Jangankan mendarat di pulau ini kalau ada yang berani bahkan mendekati
pulau saja tidak ada seorangpun nelayan yang berani. Sebuah pulau angker,
menyeramkan, dan penuh rahasia mengerikan. Kalau sekali waktu ada perahu-perahu
nelayan yang diserang badai Laut Selatan di daerah itu, tentu mereka ini
menghubungkannya dengan Pulau Nusakambangan atau yang mereka juluki Pulau
Iblis. Mereka menganggap bahwa iblis-iblis di pulau itu mengamuk dan tidak
senang karena ada perahu yang "melanggar" wilayah Pulau Iblis, yang
berlayar terlalu dekat dengan pulau.
Dibyo
Mamangkoro menggandeng tangan Endang Patibroto mendekati pantai Laut Selatan.
Pulau Nusakambangan nampak dari pantai itu seperti seorang raksasa sedang
tidur. Cuaca sudah mulai gelap ketika mereka tiba di pantai.
"Bapa
guru, bagaimana kita akan menyeberang ke sana?" tanya Endang Patibroto
ketika gurunya memberi tahu bahwa pulau yang jauh itulah tempat tinggalnya. Ia
bertanya demikian karena kini gurunya tidak membawa mancung (selapu bunga
kelapa) seperti ketika menyeberang ke Pulau Sempu.
"Apakah
kita harus mencari mancung lebih dulu? Itu di sana banyak pohon kelapa!"
Ia menuding ke arah barat di mana terdapat beberapa batang pohon nyiur
melambai-lambai tertiup angin laut.
"Huah-hah-hah,
tidak usah, muridku. Setelah kau ikut bersamaku, kita perlu mempunyai sebuah
perahu. Nah, bukankah di sana itu ada perahu. Mari!"
Dibyo
Mamangkoro menarik tangan muridnya, diajak pergi mendekati pantai sebelah timur
di mana terdapat beberapa buah perahu. Dari jauh kelihatan beberapa orang
nelayan sedang berkemas untuk mulai berlayar mencari ikan. Ada yang membereskan
layar, ada pula yang menyiapkan jala, pancing, dan lain-lain.
Tanpa berkata
sesuatu, Dibyo Mamangkoro yang menggandeng tangan Endang Patibroto itu
menghampiri para nelayan, lalu seenaknya ia memilih perahu terbaik, lalu
melangkah naik bersama muridnya.
"Haiii.......!
Orang tua, kau mau apa dengan perahuku.,.....?"
Seorang
nelayan muda yang bertubuh tegap dan nampak kuat datang berlari-lari sambil
membawa sebuah tombak berkail alat menangkap ikan besar. Sikapnya mengancam.
Akan tetapi Dibyo Mamangkoro tidak memperdulikan teguran orang itu. Enak saja
ia mengambil dayung dan hendak melepaskan dadung yang mengikat perahu dengan
perahu lain di pantai.
"Heeeel!
Lepaskan perahuku. Turun!!"
Si nelayan
muda membentak sambil menerjang maju. Dengan tangan kanannya ia menangkap
lengan Dibyo Mamangkoro dan menyeretnya turun dari perahu. Akan tetapi alangkah
kaget dan herannya ketika lengan dan tubuh yang diseretnya itu sama sekali
tidak bergoyang! Ia mengerahkan tenaga, membetot lagi. Sia- sia belaka, sama
halnya kalau ia mencoba untuk menarik roboh sebuah batu karang yang kokoh kuat.
Namun si nelayan yang muda dan kuat itu makin penasaran. Ia menancapkan
tombaknya di atas tanah, kemudian menggunakan kedua tangan untuk menyeret.
"Huah-ha-ha
! Endang, kau lihat tingkah monyet pantai ini!" Sambil berkata demikian,
Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan yang dibetot dari tubuh nelayan muda itu
terlempar sampai lima meter jauhnya ke laut.
Sambil
menyumpah-nyumpah nelayan itu berenang ke pinggir, sedangkan para nelayan lain
yang belasan orang banyaknya datang mendekat dengan wajah terheran. Nelayan
muda itu terkenal sebagai nelayan yang paling kuat di antara mereka. Pernah
seorang diri saja melawan dan menaklukkan ikan hiu sebesar manusia ketika ia
mengail dan tertarik jatuh dari perahunya ke dalam laut oleh seekor ikan hiu
yang terkail. Bagaimana sekarang melawan seorang kakek tua itu, biarpun kakek
tinggi besar seperti raksasa, begitu mudah saja dilempar ke laut? Dengan penuh
ketegangan mereka melihat betapa nelayan muda itu sudah berhasil berenang ke
pantai. Kini dengan kemarahan meluap melihat kakek tinggi besar itu
terbahak-bahak ketawa dan anak perempuan itu tersenyum-senyum geli, si nelayan
muda menyambar tombaknya.
"Suro.......
sabarlah, jangan main-main dengan tombak.......!"
Beberapa orang
nelayan tua memperingatkan. Para nelayan itu adalah orang-orang sederhana dan
menghadapi buruan mereka, yaitu ikan laut, mungkin mereka dapat bersikap ganas
dan kejam. Akan tetapi menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan nyawa
manusia, mereka merasa ngeri juga. Namun, nelayan muda bernama Suro itu terlalu
marah sehingga menjadi mata gelap. Jelas bahwa kakek raksasa itu hendak
merampas perahunya, bahkan kini kakek itu sudah hendak mengembangkan layar,
bagaimana ia tidak akan merah? Perahu lebih berharga daripada nyawa bagi
seorang nelayan miskin seperti dia. Kini perahunya hendak dirampas orang, harus
ia pertahankan dengan nyawa, kalau perlu ia tidak akan segan untuk membunuh!
Kakek itu terlalu kuat, tidak dapat ia lawan dengan kedua tangan kosong. Apa
salahnya kini menggunakan senjata untuk mencapai kemenangan mempertahankan
perahunya?
Ia tidak tahu
bahwa seruan peringatan teman-temannya yang tua tadi bukan hanya karena
khawatir melihat ia hendak membunuh orang, melainkan lebih khawatir lagi
terhadap keselamatannya. Para nelayan yang tua itu melihat sesuatu pada diri
Dibyo Mamangkoro yang menyeramkan hati mereka. Sesuatu yang memancar dari
sepasang mata yang liar dan besar itu, sesuatu yang membayang pada sikap kakek
yang tidak sewajarnya, tidak seperti manusia umumnya. Terlambatlah seruan
peringatan itu.
Suro sudah
menerjang dengan tombaknya sambil melompat ke atas perahunya sendiri. Ia
bermaksud menyerang kakek raksasa yang tadi telah melemparkannya ke laut, akan
tetapi karena Endang Patibroto berdiri di pinggir menjadi penghalang, tentu
saja otomatis anak perempuan inilah yang lebih dulu terancam bahaya serangan
tombak. Anehnya, melihat datangnya marabahaya terhadap muridnya itu, Dibyo
Mamangkoro hanya tertawa bergelak, sama sekali tidak menjadi gugup atau
khawatir!
Memang tidak
berlebihan sikap ini. Biarpun anak perempuan itu baru beberapa hari saja ikut
kepadanya dan menjadi muridnya, namun pandang mata Dibyo Mamangkoro amat tajam
sehingga ia mengenal anak macam apa muridnya ini. Kalau hanya menghadapi
serangan tombak yang dilakukan oleh tangan-tangan yang cuma kuat dan cepat itu
saja, tanpa didasari ilmu bermain tombak, bukanlah apa-apa bagi Endang
Patibroto.
No comments:
Post a Comment