Dengan jelas matanya yang jeli dapat mengikuti gerakan ujung tombak yang runcing berkail, yang menerjang gurunya akan tetapi lewat tubuhnya. Tombak itu meluncur ke tirah lambung kirinya. Endang Patibroto tidak meloncat pergi, melainkan dengan gerakan yang ringan dan tenang sekali kaki tangannya merobah kedudukan sehingga tubuhnya menjadi miring dan tentu saja tombak itu tidak mengenai lambungnya. Secepat kilat gadis cilik ini melanjutkan gerakan kaki melangkah ke depan sambil memutar tangan menangkap batang tombak yang masih meluncur dekat lambung. Sambil mengerahkan tenaga membetot ke belakang, ia menambahi tenaga nelayan itu, atau "meminjam" tenaga dorongan tombak. Si nelayan berseru kaget dan tubuhnya terjerumus ke depan, disambut tungkak (tumit) kaki kiri Endang Patibroto.
Tungkak yang
kulitnya kemerahan, halus dan kecil. Akan tetapi karena tungkak ini dengan
cepat "memasuki" perut terdengar suara "ngekk!" dan tubuh
nelayan itu terlempar ke belakang, terbanting ke atas pasir dan ia
meringis-ringis sambil menekan perut yang mendadak menjadi mulas! Kemarahan
Suro makin menjadi-jadi. Akan tetapi dia dan juga para nelayan memandang ke
atas perahu dengah muka tiba-tiba menjadi pucat sekali, dengan mata terbelalak
dan mulut ternganga.
Apakah yang
mereka lihat? Sungguh tidak masuk akal dan takkan mereka percaya kalau mereka
tidak menyaksikan sendiri. Kakek raksasa itu telah mengambil tombak rampasan
tadi, kini sambil tertawa-tawa kedua tangannya mematahkan tombak itu sedemikian
mudahnya, dipatah-patahkan menjadi beberapa potong seperti orang mematahkan
lidi saja! Kemudian, sambil melemparkan potongan tombak itu ke arah batu karang
di pantai, ia berkata, suaranya parau menakutkan.
"Siapa
yang hendak mengambil kembali perahu ini, boleh datang ke Pulau Iblis.
Huah-ha-hah!"
Perahu itu
didayung ke tengah oleh Dibyo Mamangkoro, setelah melewati kepala ombak, angin
menangkap layar dan berkembanglah layar itu. Perahu meluncur cepat ke arah
pulau yang tampak hitam menyeramkan. Suro dan para nelayan masih berdiri pucat
di pantai. Potongan-potongan tombak yang dilemparkan secara perlahan oleh kakek
raksasa tadi telah menancap dan amblas terus memasuki batu karang !.
"Celaka.......
! Dia agaknya penghuni Pulau Iblis....... !!" Akhirnya seorang kakek
mengemukakan terkaannya dengan suara gemetar.
"Ah,
engkau masih untung, Suro. Untung tidak sampai dibunuh....... !”
"Tidak
salah lagi. Mereka tentulah....... bukan manusia biasa, mereka penghuni Pulai
Iblis. Bayangkan anak perempuan tadi. Begitu cantik, seperti anak peri.......
akan tetapi begitu kuat, sekali gerak telah merampas tombak dan merobohkan
Suro. Eh, Suro, bukankah tenaga anak tadi luar biasa sekali, bukan tenaga
manusia?"
Suro masih
ketakutan, mukanya pucat matanya sayu. Ia tidak kuasa membuka suara dan setelah
menelan ludah, baru ia dapat menjawab dengan anggukan kepala.
"Suro,
kau tentu akan mendapat untung besar. Perahumu diminta penghuni Pulau Iblis,
tentu anugerahnya berlipat ganda! Jangan murung, Suro, relakanlah, tentu engkau
akan dilindungi!”
Bermacam-macam
pendapat mereka. Tidak seorangpun berani mengomel atau menyumpahi kakek raksasa
itu. Dan tentang untung yang mereka ramalkan untuk Suro, sungguhpun belum
nampak untungnya, namun sedikitnya Suro sudah agak terhibur daripada dukanya
karena para temannya secara gotong royong bergilir meminjamkan perahu mereka
kepada Suro untuk mencari ikan. Dan secara kebetulan sekali, atau mungkin juga
karena Suro sesudah kehilangan itu bekerja keras dan rajin, setiap kali pergi
mencari ikan semenjak peristiwa itu, Suro selalu memperoleh penghasilan yang
besar! Memang, di dunia ini tidak ada yang lebih kuat daripada kepercayaan yang
mendalam.
Endang
Patibroto merasa suka sekali kepada gurunya. Ia merasa cocok dengan watak
gurunya yang kasar, berandalan, dan mencari enaknya sendiri saja. Perampasan
perahu itu bagi Endang Patibroto bukan hal yang dianggap tidak semestinya.
Malah dianggap benar, karena, bukankah mereka membutuhkan perahu untuk
menyeberang? Dan bukankah sudah semestinya mereka memakai perahu siapa saja
yang tak mampu mempertahankan miliknya? Semenjak kecil, anak ini hidup dalam
asuhan seorang ibu yang mabok dendam. Bahkan semenjak dalam kandungan, ibunya
seringkali membayangkan pembalasan dendam yang hebat-hebat dan kejam-kejam.
Oleh karena itu, tidak mengherankan pula apabila Endang Patibroto memiliki
watak yang aneh, berandalan, keras hati dan tidak mengenal kasihan! Hebatnya,
anak ini secara kebetulan sekali telah mewarisi keris pusaka Brojol Luwuk,
pusaka Mataram yang semenjak dahulu kalau lenyap dari keraton pasti menimbulkan
geger dan peristiwa-peristiwa hebat! Untuk melengkapinya lagi, secara kebetulan
pula Endang Patibroto menjadi murid seorang sakti mandraguna yang liar dan
ganas seperti Dibyo Mamangkoro!.
Begitu perahu
menempel pulau, Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya dan melompat ke
darat. Kemudian sekali ia rnembetot dan melontarkan, perahu rampasan itu
terlempar ke pantai pulau dan rebah miring. Ia tidak pedulikan lagi perahu itu
melainkan menarik tangan muridnya, mengajaknya berlari-lari memasuki pulau
sambil tertawa-tawa dan berkata,
"Huah-hah-hah!
Inilah negara kita, inilah tempat tinggal kita, Endang! Inilah sorga dunia. Aku
raja di sini, dan kini engkau menjadi puterinya, ha-ha-ha!"
Akan tetapi
tiba-tiba Endang Patibroto terkejut dan berhenti berlari sambil melepaskan
tangan gurunya, siap untuk menghadapi bahaya. Di depan mereka muncul seekor
harimau tutul yang besar, sebesar anak lembu! Harimau itu meringis
memperlihatkan taring yang besar meruncing, matanya bersinar-sinar galak, air
liurnya menetes-netes seakan tak dapat ia menahan seleranya melihat manusia
cilik yang berdaging lunak berdarah manis ini.
"Huah-ha-hah!
Jangan takut, kalau dia berani mengganggu, bunuh saja! He, tutul, kalau kau
berani membikin takut tuan puterimu, akan kubuntungi ekormu dan kedua
telingamu. Pergi!" Kaki kiri Dibyo Mamangkoro terayun.
"Bukkk!!"
Tubuh harimau tutul yang besar dan berat itu terlempar sampai beberapa meter
jauhnya, jatuh terbanting, lalu binatang itu mengaum kesakitan dan berlari
pergi terpincang-pincang, diikuti suara ketawa Dibyo Mamangkoro dan Endang
Patibroto.
Mulailah isi
pulau itu mengenal suara ketawa yang lain daripada biasanya. Suara ketawa yang
merdu dan nyaring, kadang-kadang melengking tinggi, namun mengandung kekerasan
yang menyeramkan! Itulah suara ketawa Endang Patibroto yang mulai saat itu
menjadi penghuni Pulau Iblis atau Pulau Nusakambangan, hidup berdua dengan
gurunya, Dibyo Mamangkoro dan binatang-binatang buas yang menjadi penghuni asli
pulau itu.
"Hati-hatilah
engkau terhadap manusia di dunia ini Endang," demikian sebuah di antara
nasehat-nasehat Dibyo Mamangkoro kepada muridnya.
"Jauh
lebih baik berhadapan dengan ancaman binatang buas daripada manusia. Binatang
hutan, betapa buaspun, selalu menyerang orang berdepan, bahkan memberi
peringatan lebih dulu dengan suaranya. Menang atau kalah dalam pertandingan,
binatang mengandalkan kekuatan dan kecepatannya, secara jujur. Akan tetapi
tidak demikian dengan lawan manusia. Manusia lebih sering menang mcngandalkan
tipu muslihat yang licik. Karena itu, sekali-kali jangan engkau percaya
manusia. Apalagi manusia yang pandai bermain mulut, wah, berbahaya sekali dia
itu, karena biasanya apa yang keluar dari mulutnya berlawanan dengan yang
terkandung dalam hati. Kalau berhadapan dengan manusia yang mencurigakan, pukul
saja lebih dahulu sebelum engkau dipukul!"
Ajaran-ajaran
seperti inilah yang membuat Endang Patibroto menyerang kalang-kabut ketika
beberapa bulan kemudian ia melihat tiga orang laki-laki tinggi besar mendarat
di Pulau Iblis. Tiga orang laki-laki seperti gurunya, tinggi besar dan
menyeramkan. Mereka itu mendarat dan menyeret sebuah perahu kecil ke pantai.
Mereka itu adalah Wirokolo dan dua orang anak buahnya, Gagak Kunto dan Cagak
Rudro yang telah gagal membunuh Sang Resi Jatinendra di Jalatunda. Seperti kita
ketahui, tiga orang ini mundur setelah Wirokolo dirobohkan Ki Patih Narotama.
Setelah gagal, Wirokolo mengajak dua orang kawannya itu pergi ke Nusakambangan
menghadap kakak seperguruannya. Melihat laki-laki tinggi besar yang berkalung
dan bergelang ular pada leher dan kedua pasang kaki tangannya, tentu saja
sekaligus Endang Patibroto menjadi curiga. Apalagi sikap Gagak Kunto dan Cagak
Rudro juga amat kasar dan tidak menyenangkan hatinya. Dari tempat
persembunyiannya, di balik serumpun pandan, Endang Patibroto mcngintai. Setelah
ia merasa yakin akan dugaannya bahwa tiga orang itu tentu datang ke pulau
dengan maksud buruk, Endang Patibroto menggerakkan tangan, mengambil beberapa
buah pecahan batu karang.
"Pukul
lebih dahulu sebelum engkau dipukul!" Bukankah demikian pesan dan ajaran
gurunya?
Tiga orang ini
mencurigakan, kalau tidak didahului tentu hanya akan mendatangkan bencana. Dari
tempat persembunyiannya Endang lalu mengayun kedua tangan dan secara berturut-turut,
tiga buah batu karang yang keras telah menyambar ke arah kepala tiga orang itu
dengan kecepatan mengagumkan. Biarpun orang memiliki tubuh kuat, kalau
kepalanya dihantam batu karang yang keras itu, tentu akan celaka, sedikitnya
akan moncrot dan bileng!.
Namun, tiga
orang itu adalah jagoan-jagoan Kerajaan Wengker dahulu, ilmu ke pandaian mereka
tinggi. Biarpun sambitan itu dilakukan dari jarak dekat dan dilakukan dengan
tenaga yang dahsyat melebihi tenaga orang biasa, namun mereka sudah dapat menangkap
sambaran anginnya lebih dahulu sehihgga dengan miringkan tubuh, mereka dapat
mengelak sehingga tiga buah batu itu menyambar lewat.
Wirokolo
mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan kedua orang temannya. Ia
terheran dan meragu. Ia maklum benar bahwa pulau ini adalah pulau yang hanya
ditinggali oleh kakak seperguruannya, Dibyo Mamangkoro, tidak ada manusia lain.
Ia maklum pula bahwa pulau ini oleh semua nelayan dianggap sebagai pulau iblis
yang gawat dan angker bahwa tidak ada manusia lain berani mendatangi pulau ini,
bahkan mendekatipun tidak ada yang berani. Bagaimana sekarang begitu mendarat
di pulau ini mereka bertiga diserang orang secara menggelap? Apakah Dibyo
Mamangkoro membawa anak buah ke pulau ini? Andaikata demikian, tidak mungkin pula
anak buahnya menyerang mereka!. Semua anak buah Dibyo Mamangkoro tentu sudah
mengenal siapa dia Wirokolo, Gagak Kunto dan Gagak Rudro! Ini pasti perbuatan
musuh yang diam-diam menyelundup masuk ke Pulau Nusakambangan!. Berpikir
demikian, tiba-tiba Wirokolo tertawa berkakakan, kemudian kedua lengannya
bergerak dan ia sudah melakukan gerakan memukul ke arah rumpun pandan di mana
Endang Patibroto bersembunyi.
"Werrrr.......
braaaakkkk....... !!"
Hebat bukan
main kesaktian Wirokolo. Ilmu pukulan jarak jauh ini mendatangkan akibat yang
mengerikan. Hawa pukulannya yang dahsyat tadi menyambar bagaikan angin puyuh.
Debu mengebul dan daun-daun bergoyang, kemudian rumpun pandan itu bobol,
tercabut berikut akar-akarnya dan terlempar sampai lima meter lebih. Akan tetapi
di belakang rumpun pandan itu tidak ada apa-apa! Wirokolo sampai melongo
keheranan. Juga Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang tadi tertawa-tawa melihat
Wirokolo melakukan pukulan dahsyat ke arah rumpun pandan.
Merekapun,
seperti Wirokolo, sudah dapat mengetahui bahwa yang melakukan penyerangan gelap
dengan sambitan batu tadi bersembunyi di belakang rumpun pandan. Akan tetapi
setelah rumpun itu terlempar, mengapa di situ tidak tampak ada orangnya?
Salahkah dugaan dan perhitungan mereka? Tidak, sebetulnya dugaan mereka tepat
sekali. Akan tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa yang melakukan
penyerangan gelap hanyalah seorang gadis cilik. Lebih-lebih lagi mereka tidak
tahu bahwa gadis cilik itu adalah seorang yang amat cerdik, dan sekecil itu
telah memiliki gerakan gesit dan tangkas seperti burung srikatan. Begitu
serangannya tadi gagal, Endang Patibroto sudah maklum bahwa tiga orang itu
bukanlah orang sembarangan, maka ia berlaku hati-hati sekali. Kalau mereka
mampu mengelak dari sambitannya, tentu mereka itu akan dapat menemukan tempat
persembunyiannya, demikian pikirnya. Maka cepat sekali Endang Patibroto lalu
menggunakan ajinya Bayu Tantra, melompat dari belakang rumpun pandan ke atas
anak pohon nyiur dan dari situ meloncat pula ke atas sebuah batu karang besar
lalu bersembunyi di situ sambil mengintai!
Ia menjulurkan
lidah saking ngeri dan kagum menyaksikan betapa rumpun pandan di mana tadi ia
bersembunyi, jebol dan terlempar karena pukulan jarak jauh yang demikian
dahsyat! Ia bersyukur bahwa tadi telah berlaku cerdik dan cepat. Kalau ia masih
mendekam di belakang rumpun pandan, tentu tubuhnya menjadi korban pukulan
dahsyat yang hebat akibatnya!.
Betapapun
cepat gerakan Endang Patibroto, ia tidak dapat terlepas dari pandang mata yang
tajam dari ketiga orang kakek itu. Mereka tadi melihat berkelebatnya bayangan
dari rumpun pandan ke nyiur, hanya mereka tadi sama sekali tidak menduga bahwa
itu adalah bayangan seorang manusia. Setelah kini melihat di balik pandan itu
tidak ada apa-apa, barulah mereka maklum bahwa orang yang tadi menyambit mereka
itu telah lari bersembunyi dan memiliki gerakan yang cepat.
No comments:
Post a Comment