Badai Laut Selatan ; Bagian 085


Dengan jelas matanya yang jeli dapat mengikuti gerakan ujung tombak yang runcing berkail, yang menerjang gurunya akan tetapi lewat tubuhnya. Tombak itu meluncur ke tirah lambung kirinya. Endang Patibroto tidak meloncat pergi, melainkan dengan gerakan yang ringan dan tenang sekali kaki tangannya merobah kedudukan sehingga tubuhnya menjadi miring dan tentu saja tombak itu tidak mengenai lambungnya. Secepat kilat gadis cilik ini melanjutkan gerakan kaki melangkah ke depan sambil memutar tangan menangkap batang tombak yang masih meluncur dekat lambung. Sambil mengerahkan tenaga membetot ke belakang, ia menambahi tenaga nelayan itu, atau "meminjam" tenaga dorongan tombak. Si nelayan berseru kaget dan tubuhnya terjerumus ke depan, disambut tungkak (tumit) kaki kiri Endang Patibroto.
Tungkak yang kulitnya kemerahan, halus dan kecil. Akan tetapi karena tungkak ini dengan cepat "memasuki" perut terdengar suara "ngekk!" dan tubuh nelayan itu terlempar ke belakang, terbanting ke atas pasir dan ia meringis-ringis sambil menekan perut yang mendadak menjadi mulas! Kemarahan Suro makin menjadi-jadi. Akan tetapi dia dan juga para nelayan memandang ke atas perahu dengah muka tiba-tiba menjadi pucat sekali, dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

Apakah yang mereka lihat? Sungguh tidak masuk akal dan takkan mereka percaya kalau mereka tidak menyaksikan sendiri. Kakek raksasa itu telah mengambil tombak rampasan tadi, kini sambil tertawa-tawa kedua tangannya mematahkan tombak itu sedemikian mudahnya, dipatah-patahkan menjadi beberapa potong seperti orang mematahkan lidi saja! Kemudian, sambil melemparkan potongan tombak itu ke arah batu karang di pantai, ia berkata, suaranya parau menakutkan.
"Siapa yang hendak mengambil kembali perahu ini, boleh datang ke Pulau Iblis. Huah-ha-hah!"
Perahu itu didayung ke tengah oleh Dibyo Mamangkoro, setelah melewati kepala ombak, angin menangkap layar dan berkembanglah layar itu. Perahu meluncur cepat ke arah pulau yang tampak hitam menyeramkan. Suro dan para nelayan masih berdiri pucat di pantai. Potongan-potongan tombak yang dilemparkan secara perlahan oleh kakek raksasa tadi telah menancap dan amblas terus memasuki batu karang !.
"Celaka....... ! Dia agaknya penghuni Pulau Iblis....... !!" Akhirnya seorang kakek mengemukakan terkaannya dengan suara gemetar.
"Ah, engkau masih untung, Suro. Untung tidak sampai dibunuh....... !”
"Tidak salah lagi. Mereka tentulah....... bukan manusia biasa, mereka penghuni Pulai Iblis. Bayangkan anak perempuan tadi. Begitu cantik, seperti anak peri....... akan tetapi begitu kuat, sekali gerak telah merampas tombak dan merobohkan Suro. Eh, Suro, bukankah tenaga anak tadi luar biasa sekali, bukan tenaga manusia?"
Suro masih ketakutan, mukanya pucat matanya sayu. Ia tidak kuasa membuka suara dan setelah menelan ludah, baru ia dapat menjawab dengan anggukan kepala.
"Suro, kau tentu akan mendapat untung besar. Perahumu diminta penghuni Pulau Iblis, tentu anugerahnya berlipat ganda! Jangan murung, Suro, relakanlah, tentu engkau akan dilindungi!”
Bermacam-macam pendapat mereka. Tidak seorangpun berani mengomel atau menyumpahi kakek raksasa itu. Dan tentang untung yang mereka ramalkan untuk Suro, sungguhpun belum nampak untungnya, namun sedikitnya Suro sudah agak terhibur daripada dukanya karena para temannya secara gotong royong bergilir meminjamkan perahu mereka kepada Suro untuk mencari ikan. Dan secara kebetulan sekali, atau mungkin juga karena Suro sesudah kehilangan itu bekerja keras dan rajin, setiap kali pergi mencari ikan semenjak peristiwa itu, Suro selalu memperoleh penghasilan yang besar! Memang, di dunia ini tidak ada yang lebih kuat daripada kepercayaan yang mendalam.

Endang Patibroto merasa suka sekali kepada gurunya. Ia merasa cocok dengan watak gurunya yang kasar, berandalan, dan mencari enaknya sendiri saja. Perampasan perahu itu bagi Endang Patibroto bukan hal yang dianggap tidak semestinya. Malah dianggap benar, karena, bukankah mereka membutuhkan perahu untuk menyeberang? Dan bukankah sudah semestinya mereka memakai perahu siapa saja yang tak mampu mempertahankan miliknya? Semenjak kecil, anak ini hidup dalam asuhan seorang ibu yang mabok dendam. Bahkan semenjak dalam kandungan, ibunya seringkali membayangkan pembalasan dendam yang hebat-hebat dan kejam-kejam. Oleh karena itu, tidak mengherankan pula apabila Endang Patibroto memiliki watak yang aneh, berandalan, keras hati dan tidak mengenal kasihan! Hebatnya, anak ini secara kebetulan sekali telah mewarisi keris pusaka Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang semenjak dahulu kalau lenyap dari keraton pasti menimbulkan geger dan peristiwa-peristiwa hebat! Untuk melengkapinya lagi, secara kebetulan pula Endang Patibroto menjadi murid seorang sakti mandraguna yang liar dan ganas seperti Dibyo Mamangkoro!.
Begitu perahu menempel pulau, Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya dan melompat ke darat. Kemudian sekali ia rnembetot dan melontarkan, perahu rampasan itu terlempar ke pantai pulau dan rebah miring. Ia tidak pedulikan lagi perahu itu melainkan menarik tangan muridnya, mengajaknya berlari-lari memasuki pulau sambil tertawa-tawa dan berkata,
"Huah-hah-hah! Inilah negara kita, inilah tempat tinggal kita, Endang! Inilah sorga dunia. Aku raja di sini, dan kini engkau menjadi puterinya, ha-ha-ha!"
Akan tetapi tiba-tiba Endang Patibroto terkejut dan berhenti berlari sambil melepaskan tangan gurunya, siap untuk menghadapi bahaya. Di depan mereka muncul seekor harimau tutul yang besar, sebesar anak lembu! Harimau itu meringis memperlihatkan taring yang besar meruncing, matanya bersinar-sinar galak, air liurnya menetes-netes seakan tak dapat ia menahan seleranya melihat manusia cilik yang berdaging lunak berdarah manis ini.
"Huah-ha-hah! Jangan takut, kalau dia berani mengganggu, bunuh saja! He, tutul, kalau kau berani membikin takut tuan puterimu, akan kubuntungi ekormu dan kedua telingamu. Pergi!" Kaki kiri Dibyo Mamangkoro terayun.
"Bukkk!!" Tubuh harimau tutul yang besar dan berat itu terlempar sampai beberapa meter jauhnya, jatuh terbanting, lalu binatang itu mengaum kesakitan dan berlari pergi terpincang-pincang, diikuti suara ketawa Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto.

Mulailah isi pulau itu mengenal suara ketawa yang lain daripada biasanya. Suara ketawa yang merdu dan nyaring, kadang-kadang melengking tinggi, namun mengandung kekerasan yang menyeramkan! Itulah suara ketawa Endang Patibroto yang mulai saat itu menjadi penghuni Pulau Iblis atau Pulau Nusakambangan, hidup berdua dengan gurunya, Dibyo Mamangkoro dan binatang-binatang buas yang menjadi penghuni asli pulau itu.
"Hati-hatilah engkau terhadap manusia di dunia ini Endang," demikian sebuah di antara nasehat-nasehat Dibyo Mamangkoro kepada muridnya.
"Jauh lebih baik berhadapan dengan ancaman binatang buas daripada manusia. Binatang hutan, betapa buaspun, selalu menyerang orang berdepan, bahkan memberi peringatan lebih dulu dengan suaranya. Menang atau kalah dalam pertandingan, binatang mengandalkan kekuatan dan kecepatannya, secara jujur. Akan tetapi tidak demikian dengan lawan manusia. Manusia lebih sering menang mcngandalkan tipu muslihat yang licik. Karena itu, sekali-kali jangan engkau percaya manusia. Apalagi manusia yang pandai bermain mulut, wah, berbahaya sekali dia itu, karena biasanya apa yang keluar dari mulutnya berlawanan dengan yang terkandung dalam hati. Kalau berhadapan dengan manusia yang mencurigakan, pukul saja lebih dahulu sebelum engkau dipukul!"

Ajaran-ajaran seperti inilah yang membuat Endang Patibroto menyerang kalang-kabut ketika beberapa bulan kemudian ia melihat tiga orang laki-laki tinggi besar mendarat di Pulau Iblis. Tiga orang laki-laki seperti gurunya, tinggi besar dan menyeramkan. Mereka itu mendarat dan menyeret sebuah perahu kecil ke pantai. Mereka itu adalah Wirokolo dan dua orang anak buahnya, Gagak Kunto dan Cagak Rudro yang telah gagal membunuh Sang Resi Jatinendra di Jalatunda. Seperti kita ketahui, tiga orang ini mundur setelah Wirokolo dirobohkan Ki Patih Narotama. Setelah gagal, Wirokolo mengajak dua orang kawannya itu pergi ke Nusakambangan menghadap kakak seperguruannya. Melihat laki-laki tinggi besar yang berkalung dan bergelang ular pada leher dan kedua pasang kaki tangannya, tentu saja sekaligus Endang Patibroto menjadi curiga. Apalagi sikap Gagak Kunto dan Cagak Rudro juga amat kasar dan tidak menyenangkan hatinya. Dari tempat persembunyiannya, di balik serumpun pandan, Endang Patibroto mcngintai. Setelah ia merasa yakin akan dugaannya bahwa tiga orang itu tentu datang ke pulau dengan maksud buruk, Endang Patibroto menggerakkan tangan, mengambil beberapa buah pecahan batu karang.
"Pukul lebih dahulu sebelum engkau dipukul!" Bukankah demikian pesan dan ajaran gurunya?
Tiga orang ini mencurigakan, kalau tidak didahului tentu hanya akan mendatangkan bencana. Dari tempat persembunyiannya Endang lalu mengayun kedua tangan dan secara berturut-turut, tiga buah batu karang yang keras telah menyambar ke arah kepala tiga orang itu dengan kecepatan mengagumkan. Biarpun orang memiliki tubuh kuat, kalau kepalanya dihantam batu karang yang keras itu, tentu akan celaka, sedikitnya akan moncrot dan bileng!.
Namun, tiga orang itu adalah jagoan-jagoan Kerajaan Wengker dahulu, ilmu ke pandaian mereka tinggi. Biarpun sambitan itu dilakukan dari jarak dekat dan dilakukan dengan tenaga yang dahsyat melebihi tenaga orang biasa, namun mereka sudah dapat menangkap sambaran anginnya lebih dahulu sehihgga dengan miringkan tubuh, mereka dapat mengelak sehingga tiga buah batu itu menyambar lewat.

Wirokolo mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan kedua orang temannya. Ia terheran dan meragu. Ia maklum benar bahwa pulau ini adalah pulau yang hanya ditinggali oleh kakak seperguruannya, Dibyo Mamangkoro, tidak ada manusia lain. Ia maklum pula bahwa pulau ini oleh semua nelayan dianggap sebagai pulau iblis yang gawat dan angker bahwa tidak ada manusia lain berani mendatangi pulau ini, bahkan mendekatipun tidak ada yang berani. Bagaimana sekarang begitu mendarat di pulau ini mereka bertiga diserang orang secara menggelap? Apakah Dibyo Mamangkoro membawa anak buah ke pulau ini? Andaikata demikian, tidak mungkin pula anak buahnya menyerang mereka!. Semua anak buah Dibyo Mamangkoro tentu sudah mengenal siapa dia Wirokolo, Gagak Kunto dan Gagak Rudro! Ini pasti perbuatan musuh yang diam-diam menyelundup masuk ke Pulau Nusakambangan!. Berpikir demikian, tiba-tiba Wirokolo tertawa berkakakan, kemudian kedua lengannya bergerak dan ia sudah melakukan gerakan memukul ke arah rumpun pandan di mana Endang Patibroto bersembunyi.
"Werrrr....... braaaakkkk....... !!"
Hebat bukan main kesaktian Wirokolo. Ilmu pukulan jarak jauh ini mendatangkan akibat yang mengerikan. Hawa pukulannya yang dahsyat tadi menyambar bagaikan angin puyuh. Debu mengebul dan daun-daun bergoyang, kemudian rumpun pandan itu bobol, tercabut berikut akar-akarnya dan terlempar sampai lima meter lebih. Akan tetapi di belakang rumpun pandan itu tidak ada apa-apa! Wirokolo sampai melongo keheranan. Juga Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang tadi tertawa-tawa melihat Wirokolo melakukan pukulan dahsyat ke arah rumpun pandan.
Merekapun, seperti Wirokolo, sudah dapat mengetahui bahwa yang melakukan penyerangan gelap dengan sambitan batu tadi bersembunyi di belakang rumpun pandan. Akan tetapi setelah rumpun itu terlempar, mengapa di situ tidak tampak ada orangnya? Salahkah dugaan dan perhitungan mereka? Tidak, sebetulnya dugaan mereka tepat sekali. Akan tetapi mereka tidak pernah menyangka bahwa yang melakukan penyerangan gelap hanyalah seorang gadis cilik. Lebih-lebih lagi mereka tidak tahu bahwa gadis cilik itu adalah seorang yang amat cerdik, dan sekecil itu telah memiliki gerakan gesit dan tangkas seperti burung srikatan. Begitu serangannya tadi gagal, Endang Patibroto sudah maklum bahwa tiga orang itu bukanlah orang sembarangan, maka ia berlaku hati-hati sekali. Kalau mereka mampu mengelak dari sambitannya, tentu mereka itu akan dapat menemukan tempat persembunyiannya, demikian pikirnya. Maka cepat sekali Endang Patibroto lalu menggunakan ajinya Bayu Tantra, melompat dari belakang rumpun pandan ke atas anak pohon nyiur dan dari situ meloncat pula ke atas sebuah batu karang besar lalu bersembunyi di situ sambil mengintai!
Ia menjulurkan lidah saking ngeri dan kagum menyaksikan betapa rumpun pandan di mana tadi ia bersembunyi, jebol dan terlempar karena pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat! Ia bersyukur bahwa tadi telah berlaku cerdik dan cepat. Kalau ia masih mendekam di belakang rumpun pandan, tentu tubuhnya menjadi korban pukulan dahsyat yang hebat akibatnya!.

Betapapun cepat gerakan Endang Patibroto, ia tidak dapat terlepas dari pandang mata yang tajam dari ketiga orang kakek itu. Mereka tadi melihat berkelebatnya bayangan dari rumpun pandan ke nyiur, hanya mereka tadi sama sekali tidak menduga bahwa itu adalah bayangan seorang manusia. Setelah kini melihat di balik pandan itu tidak ada apa-apa, barulah mereka maklum bahwa orang yang tadi menyambit mereka itu telah lari bersembunyi dan memiliki gerakan yang cepat.

<<< Bagian 084                                                                                   Bagian 086 >>>

No comments:

Post a Comment