"Babo-babo! Keparat dari mana berani memasuki Nusakambangan dan menyerang kami? Heh, pengecut di belakang karang. Keluarlah!" bentak Wirokolo.
Akan tetapi
Endang Patibroto tidak mau keluar dari tempat sembunyinya. Ia tetap mendekam
dan siap melakukan perlawanan apa bila diserang.
"Gagak
Kembar, pergi kalian tangkap dia!" Wirokolo memerintah.
Dua orang
raksasa kembar itu tertawa lalu melangkah lebar ke arah batu karang. Mereka
berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan percaya kepada
diri sendiri, menjadi sombong, maka tanpa gentar mereka menghampiri tempat
persembunyian lawan sarnbil tertawa-tawa.
Dari tempat
persembunyiannya Endang Patibroto melihat datangnya dua orang raksasa yang
sikapnya mengancam itu, diam-diam membuat perhitungan. Ia harus menyerang lebih
dulu, pikirnya. Laripun tiada gunanya, tentu mereka akan mengejarnya dan kalau
ketahuan gurunya, alangkah akan malunya. Melarikan diri dari lawan? Tidak sudi!
Ia menanti dengan tubuh setengah membongkok, siap menerjang. Ketika dua orang
raksasa itu sudah tiba di dekat batu karang, seperti seekor kijang muda Endang
Patibroto melompat keluar, tangan kakinya bergerak menyerang.
"Plak-bukk!!"
Cepat bukan
main serangan Endang Patibroto, cepat laksana kilat dan sama sekali tidak
terduga-duga oleh sepasang Gagak itu yang sejenak tertegun melihat bahwa yang
keluar dari balik batu karang adalah seorang anak perempuan! Karena inilah
mereka terlambat untuk mengelak atau menangkis sehingga perut mereka kena digebuk
sekali oleh tangan Endang Patibroto. Akan tetapi tubuh mereka kebal dan pukulan
Endang Patibrpto, sungguhpun jauh lebih keras daripada pukulan orang dewasa
pada umumnya, masih kurang kuat untuk dapat merobohkan dua orang jagoan Wengker
ini.
Di lain saat
berikutnya, dua orang yang tadinya tertegun dan terkejut itu sudah menubruk
hendak menangkapnya. Akan tetapi, biarpun kalah jauh dalam hal tenaga, namun
mengenai kecepatan gerak, Endang menang jauh. Dua orang itu menubruk dan
dua-duanya mendapatkan angin kosong karena secara indah sekali tubuh kecil itu
telah menyelinap pergi di antara empat buah tangan mereka yang menubruk.
"Ha-ha-ha,
bocah ayu. Mari kugendong, ha-ha!" Gagak Kunto tertawa sambil melangkah
maju.
"Kiranya
hanya seorang bocah perempuan. Ha-ha, marilah, manis!" Gagak Rudro juga
tertawa-tawa untuk menutupi rasa malu bahwa selain tadi kena dihantam, juga
sekarang sekali tubruk tak berhasil menangkapnya.
Terjadilah
kejar-kejaran yang menggelikan. Dua orang laki-laki tinggi besar seperti
raksasa itu menubruk sana-sini, namun selalu luput. Gerakan Endang yang
menggunakan Aji Bayu Tantra amatlah cepatnya, secepat burung terbang, sedangkan
dua orang raksasa itu terlalu besar tubuhnya sehingga agak lamban. Sampai tubuh
mereka mandi peluh, belum juga mereka dapat menangkap Endang Patibroto!.
"Ha-ha-ha!"
Wirokolo
terbahak tertawa menyaksikan hal yang dianggapnya lucu itu. Dengan berindap ia
melangkah maju dan pada saat Endang meloncat ke samping menghindarkan tubrukan
dua orang lawannya dari depan dan belakang, tiba-tiba ia merasa rambutnya
dijambak orang dan tubuhnya sudah menggantung di tangan Wirokolo yang
menyambaknya!.
"Ha-ha-ha!
Bocah ayu manis, galaknya seperti kucing, haha!"
Wirokolo
tertawa bergelak, membiarkan anak itu menendang dan memukul. Endang marah
sekali. Biarpun tubuhnya tergantung dan kepalanya terasa pedas karena rambutnya
dijambak, namun ia tidak tinggal diam, kaki tangannya bergerak menyerang.
Celakanya, raksasa mengerikan ini tubuhnya jauh lebih kebal daripada yang dua
tadi.
"Lepaskan
aku, kau orang tua tak tahu malu!" Ia berteriak-teriak.
"Ha-ha-ha-ha!
Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa, cah ayu? Hayo kau mengaku lebih dulu,
siapa kau ini dan dengan siapa kau datang ke pulau ini."
Endang
Patibroto yang cerdik segera mengerti bahwa menghadapi kakek ini tidak bisa
menggunakan kekasaran. Maka ia lalu tersenyum amat manis dan berkata, suaranya
lembut dan merdu,
"Kakek
yang baik, kau benar-benar sakti mandraguna. Aku takluk dan kagum melihat
kesaktianmu. Aku sering mendengar bahwa seorang kakek sakti mandraguna pantang
menghina seorang anak-anak."
"Ha-ha-ha,
kau benar. Ha-ha-ha!"
Senang hati
Wirokolo. Anak ini terang bukan bocah biasa, suaranya merdu dan pujiannya enak
di hati dan telinga.
"Kaulepaskanlah
aku, kakek yang sakti, nanti aku ceritakan siapa aku ini."
Dengan senyum
di bibir, dengan pandang mata bersinar-sinar, dan dengan suara merdu Endang
dapat mengalahkan Wirokolo. Sambil tertawa-tawa, diikuti pula oleh sepasang
Gagak yang kini juga tertawa-tawa, ia melepaskan rambut Endang.
Endang
Patibroto membereskan rambutnya yang mawut oleh jambakan tadi. Di dalam hatinya
ia merasa marah dan panas sekali, akan tetapi hal ini tidak ia perlihatkan pada
wajahnya yang berseri. Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun sudah jelas
terbayang kecantikan wajah Endang, dan tubuhnya juga mulai membentuk keindahan
seperti bunga mekar. Manis sekali ketika ia membereskan rambutnya dengan kedua
tangan.
"Ha-ha-ha,
rambutmu hitam dan halus sekali....... !" Wirokolo mengusap kepalanya
sambil memuji.
"Genduk,
pipimu segar kemerahan!" Gagak Kunto juga memuji sambil mengusap pipi.
"Beberapa
tahun lagi engkau tentu menjadi seorang gadis jelita, denok ayu,
ha-ha-ha!" Gagak Rudro juga memuji dan mencubit dagu Endang.
Menghadapi
tangan-tangan nakal ini, kemarahan Endang meluap. Tadinya ia hanya hendak
menggunakan siasat bersikap lunak agar mereka lalai untuk kemudian mencari
jalan dan kesempatan untuk melarikan diri melapor kepada gurunya. Ia maklum
bahwa ia tidak akan menang menghadapi mereka ini. Akan tetapi setelah mereka
ini memuji-muji dan tangan mereka mulai nakal, mengelus dan mendatangkan rasa
jijik, ia marah sekali dan lupa bahwa mereka itu sama sekali bukan lawannya.
Kalah atau menang ia tidak perduli lagi, yang penting kelakuan mereka yang ia
anggap kurang ajar ini harus dihukum!.
"Lepas
tangan! Ada apa kalian meraba-raba??" bentaknya, mukanya tidak berseri
lagi, mulutnya kehilangan senyum dan matanya memancarkan sinar marah. Endang
makin menarik kalau sedang marah-marah begini. Mulut yang manis itu cemberut,
matanya seperti bintang dan kulit muka yang halus itu menjadi kemerahan.
Tiga orang
kakek itu makin senang hatinya untuk menggoda. Sambil tertawa-tawa mereka
sengaja mengusap, meraba dan mencubit untuk membuat anak itu makin marah.
Endang Patibroto tak kuasa menahan kemarahannya. Kini ia menyerang dengan
pukulan-pukulan tangannya. Ia mengerahkan Aji Pethit Nogo, meloncat dengan Àji
Bayu Tantra. Kedua ilmunya ini sudah disempurnakan di bawah gemblengan Resi
Bhargowo, dan gurunya yang baru, Dibyo Mamangkoro yang melihat bahwa muridnya
telah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat, tidak melenyapkannya malah
memperkuatnya dengan aji-aji yang lain. Karena kini Endang menyerang untuk
membunuh, maka ia memilih bagian yang berbahaya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menyerang
pusar dan bawah perut!
Tiga orang
kakek itu diam-diam terkejut juga. Akan tetapi mereka tidak kehilangan
kegembiraan mereka. Dengan mengelak atau menangkis, mereka membuat Endang jatuh
bangun. Siapa saja di antara mereka bertiga yang diserangnya, tentu dapat
mengelak lalu mendorongnya jatuh, atau menangkis lalu membetotnya roboh
tertelungkup. Sungguh mereka bertiga mengalami saat yang gembira sekali sebagai
hiburan atas kekalahan mereka di Jalatunda.
Makin hebat
Endang mengamuk, makin gembiralah mereka yang mengelak dan menangkis sambil
tertawa-tawa. Kasihan Endang yang jatuh bangun sampai lututnya lecet-lecet.
Pada saat itu, Wirokolo menangkap pundaknya. Muka yang besar dan penuh rambut
dengan mata lebar mulut nenyeringai menjijikkan itu dekat sekali dengan muka
Endang.
"Ha-ha-ha,
cah ayu, aku minta ambung, ya? Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha!
Bagus, beri kami cium manis!”
Gagak Kunto
dan Gagak Rudro juga tertawa-tawa. Endang tak tahan lagi. Tangan kanannya
merogoh ke balik baju, menggenggam gagang keris pusaka Brojol Luwuk,
menghunusnya lalu menerjang sambil membentak nyaring,
"Mampuslah
orang-orang kurang ajar!"
Suara ketawa
mereka seketika terhenti. Wajah tiga orang itu menjadi pucat sekali dan
serentak mereka membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh dengan
penuh ketakutan.
"Eh,
jangan....... jangan....... !!” teriak Gagak Kunto.
"Aduh,
celaka....... !” Gagak Rudro berseru ketika ia jatuh bangun dan tubuhnya
menggigil, matanya seakan-akan silau oleh cahaya yang bersinar keluar dari
keris pusaka Brojol Luwuk.
Wirokolo
sendiri sungguhpun seorang sakti mandraguna, selama hidupnya belum pernah ia
menghadapi sebuah keris pusaka yang mempunyai wibawa sedahsyat ini. Ketika
keris itu tadi ditodongkan, ia merasa seakan-akan diserang lahar panas yang
dimuntahkan kawah gunung berapi. Ketika ia bergulingan ke belakang menjauhkan
diri kemudian meloncat kembali, ia mendapat kenyataan bahwa lima ekor ular
berbisa yang tadinya melingkar di leher, kedua tangan dan kakinya, telah
terlepas dan menjadi bangkai hangus di atas tanah!.
Baru hawanya
saja sudah sedemikian ampuhnya, apa lagi kalau tubuh terkena pusaka mujijat
itu. Ia bergidik. Maklum bahwa gadis cilik ini memegang keris yang amat ampuh
dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, lenyap semua sikap main-main pada
Wirokolo dan dua orang pembantunya. Sepasang Gagak itu kini sudah mengeluarkan
suara bergaok menyeramkan seperti suara burung gagak, sedangkan Wirokolo sudah
menggosok-gosok kedua tangannya sampai mengepulkan asap karena ia telah
mengerahkan ajinya Anolo Hasto (Tangan Berapi) untuk menghadapi keris pusaka di
tangan Endang!.
Endang
Patibroto sendiri tertegun menyaksikan kehebatan tiga orang lawannya itu.
Betapa kedua tangan Wirokolo keluar asap dan bara apinya. Betapa kedua orang
yang bersuara seperti gagak itu tampak mengerikan sikapnya, yang seorang
memegang tombak yang ke dua memegang ruyung besar! Akan tetapi ia tidak gentar.
Jelas bahwa tiga orang iti tadi ngeri dan ketakutan menghadapi keris pusakanya!
Hal ini membesarkan hatinya dan dengan keris siap di tangan, ia berlaku awas.
Pada saat yang sangat tegang itu, tiba-tiba terdengar suara bekakakan dari
Jauh.
"Huah-hah-hah!
Aku sudah mendengar suara Si Gagak Kembar dan Wirokolo! Kalian tidak
lekas-lekas menghadapi aku, mengapa berlambat-lambatan?"
Belum habis
suara itu bergema, tahu-tahu orangnya sudah muncul, yaitu Dibyo Mamangkoro
sendiri. Betapa kagetnya melihat muridnya menghunus sebuah keris yang
bersinar-sinar berhadapan dengan Wirokolo dan Gagak Kembar yang juga sudah siap
bertanding mati-matian!. Seketika lenyap seri dan tawa pada wajah kakek raksasa
ini. Cepat ia melompat maju dan berkata,
"Heeee!
Endang muridku sayang ! Apa yang kaulakukan ini?. Aduh....... wah ,.......
bukan main pusakamu itu. eh,....... simpan, Endang. Simpan dulu keris pusaka
itu. Hebat....... !!”
Dibyo
Mamangkoro sendiri terkejut bukan main ketika ia merasa betapa dahsyatnya
wibawa keris pusaka itu yang membuat jantungnya berdebar keras, dan barulah la
menarik napas lega ketika keris itu disimpan oleh Endang di balik bajunya.
Dibyo Mamangkoro merangkulnya, mengelus rambutnya dan berkata lirih,
"Muridku.......
sayangku....... mengapa kau tidak bilang bahwa kau memiliki Brojol
Luwuk.............. ?!!”
"Pusaka
sakti Brojol Luwuk....... ???"
Wirokolo dan
kedua orang Gagak Kembar berseru dan mata mereka terbelalak memandang ke arah
Endang. Jelas tampak betapa mereka terheran, dan mengilar ketika mendengar
bahwa pusaka ampuh tadi adalah Ki Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang hanya
mereka dengar dalam dongeng sebagai pusaka yang tiada taranya di dunia ini.
Melihat hasrat memancar jelas sekali dari muka tiga orang itu, Dibyo Mamangkoro
yang masih merangkul muridnya segera membentak,
"Kalian
bertiga apakah mendadak sudah menjadi gila? Ki Brojol Luwuk adalah pusaka milik
muridku. Kenapa kalian tiga orang tua bangka mau mampus tadi hendak bertanding
melawan muridku, Endang Patibroto? Sungguh bagus sekali, ya? Tiga orang kakek
tua bangka hendak mengeroyok seorang bocah. Di mana kegagahan kalian?"
Tiga orang itu
menjadi makin kaget sekali. Tidak mereka sangka seujung rambutpun bahwa anak
perempuan itu adalah murid Dibyo Mamangkoro!
"Aduh........
maafkan kami, kakang Dibyo Mamangkoro! Sungguh mati kami tidak tahu bahwa anak
ini adalah murid keponakanku sendiri. Siapa yang mengira begitu? Selamanya
kakang tidak mempunyai murid. Bagaimana sekarang secara mendadak mempunyai
murid begini elok?"
"Ini
urusanku sendiri, tak perlu kau mencampuri! Ingat, inilah Endang Patibroto,
muridku yang kelak akan menggantikan aku. Muridku inilah yang kelak akan
memimpin kalian semua, menghancurkan musuh-musuhku, menggegerken Kahuripan.
Apalagi....... Ki Brojol Luwuk berada di tangannya. Huah-ha-hah!" Kemudian
ia berhenti tertawa secara mendadak, menudingkan telunjuknya yang besar ke arah
Gagak Kembar dan membentak,
"Kalian
berani tadi melawan dan kurang ajar kepada gusti puterimu??"
No comments:
Post a Comment