Badai Laut Selatan ; Bagian 086


"Babo-babo! Keparat dari mana berani memasuki Nusakambangan dan menyerang kami? Heh, pengecut di belakang karang. Keluarlah!" bentak Wirokolo.
Akan tetapi Endang Patibroto tidak mau keluar dari tempat sembunyinya. Ia tetap mendekam dan siap melakukan perlawanan apa bila diserang.
"Gagak Kembar, pergi kalian tangkap dia!" Wirokolo memerintah.
Dua orang raksasa kembar itu tertawa lalu melangkah lebar ke arah batu karang. Mereka berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan percaya kepada diri sendiri, menjadi sombong, maka tanpa gentar mereka menghampiri tempat persembunyian lawan sarnbil tertawa-tawa.
Dari tempat persembunyiannya Endang Patibroto melihat datangnya dua orang raksasa yang sikapnya mengancam itu, diam-diam membuat perhitungan. Ia harus menyerang lebih dulu, pikirnya. Laripun tiada gunanya, tentu mereka akan mengejarnya dan kalau ketahuan gurunya, alangkah akan malunya. Melarikan diri dari lawan? Tidak sudi! Ia menanti dengan tubuh setengah membongkok, siap menerjang. Ketika dua orang raksasa itu sudah tiba di dekat batu karang, seperti seekor kijang muda Endang Patibroto melompat keluar, tangan kakinya bergerak menyerang.
"Plak-bukk!!"
Cepat bukan main serangan Endang Patibroto, cepat laksana kilat dan sama sekali tidak terduga-duga oleh sepasang Gagak itu yang sejenak tertegun melihat bahwa yang keluar dari balik batu karang adalah seorang anak perempuan! Karena inilah mereka terlambat untuk mengelak atau menangkis sehingga perut mereka kena digebuk sekali oleh tangan Endang Patibroto. Akan tetapi tubuh mereka kebal dan pukulan Endang Patibrpto, sungguhpun jauh lebih keras daripada pukulan orang dewasa pada umumnya, masih kurang kuat untuk dapat merobohkan dua orang jagoan Wengker ini.

Di lain saat berikutnya, dua orang yang tadinya tertegun dan terkejut itu sudah menubruk hendak menangkapnya. Akan tetapi, biarpun kalah jauh dalam hal tenaga, namun mengenai kecepatan gerak, Endang menang jauh. Dua orang itu menubruk dan dua-duanya mendapatkan angin kosong karena secara indah sekali tubuh kecil itu telah menyelinap pergi di antara empat buah tangan mereka yang menubruk.
"Ha-ha-ha, bocah ayu. Mari kugendong, ha-ha!" Gagak Kunto tertawa sambil melangkah maju.
"Kiranya hanya seorang bocah perempuan. Ha-ha, marilah, manis!" Gagak Rudro juga tertawa-tawa untuk menutupi rasa malu bahwa selain tadi kena dihantam, juga sekarang sekali tubruk tak berhasil menangkapnya.
Terjadilah kejar-kejaran yang menggelikan. Dua orang laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu menubruk sana-sini, namun selalu luput. Gerakan Endang yang menggunakan Aji Bayu Tantra amatlah cepatnya, secepat burung terbang, sedangkan dua orang raksasa itu terlalu besar tubuhnya sehingga agak lamban. Sampai tubuh mereka mandi peluh, belum juga mereka dapat menangkap Endang Patibroto!.
"Ha-ha-ha!"
Wirokolo terbahak tertawa menyaksikan hal yang dianggapnya lucu itu. Dengan berindap ia melangkah maju dan pada saat Endang meloncat ke samping menghindarkan tubrukan dua orang lawannya dari depan dan belakang, tiba-tiba ia merasa rambutnya dijambak orang dan tubuhnya sudah menggantung di tangan Wirokolo yang menyambaknya!.
"Ha-ha-ha! Bocah ayu manis, galaknya seperti kucing, haha!"
Wirokolo tertawa bergelak, membiarkan anak itu menendang dan memukul. Endang marah sekali. Biarpun tubuhnya tergantung dan kepalanya terasa pedas karena rambutnya dijambak, namun ia tidak tinggal diam, kaki tangannya bergerak menyerang. Celakanya, raksasa mengerikan ini tubuhnya jauh lebih kebal daripada yang dua tadi.
"Lepaskan aku, kau orang tua tak tahu malu!" Ia berteriak-teriak.
"Ha-ha-ha-ha! Kalau tidak kulepaskan, kau mau apa, cah ayu? Hayo kau mengaku lebih dulu, siapa kau ini dan dengan siapa kau datang ke pulau ini."
Endang Patibroto yang cerdik segera mengerti bahwa menghadapi kakek ini tidak bisa menggunakan kekasaran. Maka ia lalu tersenyum amat manis dan berkata, suaranya lembut dan merdu,
"Kakek yang baik, kau benar-benar sakti mandraguna. Aku takluk dan kagum melihat kesaktianmu. Aku sering mendengar bahwa seorang kakek sakti mandraguna pantang menghina seorang anak-anak."
"Ha-ha-ha, kau benar. Ha-ha-ha!"
Senang hati Wirokolo. Anak ini terang bukan bocah biasa, suaranya merdu dan pujiannya enak di hati dan telinga.
"Kaulepaskanlah aku, kakek yang sakti, nanti aku ceritakan siapa aku ini."

Dengan senyum di bibir, dengan pandang mata bersinar-sinar, dan dengan suara merdu Endang dapat mengalahkan Wirokolo. Sambil tertawa-tawa, diikuti pula oleh sepasang Gagak yang kini juga tertawa-tawa, ia melepaskan rambut Endang.
Endang Patibroto membereskan rambutnya yang mawut oleh jambakan tadi. Di dalam hatinya ia merasa marah dan panas sekali, akan tetapi hal ini tidak ia perlihatkan pada wajahnya yang berseri. Biarpun usianya baru dua belas tahun, namun sudah jelas terbayang kecantikan wajah Endang, dan tubuhnya juga mulai membentuk keindahan seperti bunga mekar. Manis sekali ketika ia membereskan rambutnya dengan kedua tangan.
"Ha-ha-ha, rambutmu hitam dan halus sekali....... !" Wirokolo mengusap kepalanya sambil memuji.
"Genduk, pipimu segar kemerahan!" Gagak Kunto juga memuji sambil mengusap pipi.
"Beberapa tahun lagi engkau tentu menjadi seorang gadis jelita, denok ayu, ha-ha-ha!" Gagak Rudro juga memuji dan mencubit dagu Endang.
Menghadapi tangan-tangan nakal ini, kemarahan Endang meluap. Tadinya ia hanya hendak menggunakan siasat bersikap lunak agar mereka lalai untuk kemudian mencari jalan dan kesempatan untuk melarikan diri melapor kepada gurunya. Ia maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi mereka ini. Akan tetapi setelah mereka ini memuji-muji dan tangan mereka mulai nakal, mengelus dan mendatangkan rasa jijik, ia marah sekali dan lupa bahwa mereka itu sama sekali bukan lawannya. Kalah atau menang ia tidak perduli lagi, yang penting kelakuan mereka yang ia anggap kurang ajar ini harus dihukum!.
"Lepas tangan! Ada apa kalian meraba-raba??" bentaknya, mukanya tidak berseri lagi, mulutnya kehilangan senyum dan matanya memancarkan sinar marah. Endang makin menarik kalau sedang marah-marah begini. Mulut yang manis itu cemberut, matanya seperti bintang dan kulit muka yang halus itu menjadi kemerahan.
Tiga orang kakek itu makin senang hatinya untuk menggoda. Sambil tertawa-tawa mereka sengaja mengusap, meraba dan mencubit untuk membuat anak itu makin marah. Endang Patibroto tak kuasa menahan kemarahannya. Kini ia menyerang dengan pukulan-pukulan tangannya. Ia mengerahkan Aji Pethit Nogo, meloncat dengan Àji Bayu Tantra. Kedua ilmunya ini sudah disempurnakan di bawah gemblengan Resi Bhargowo, dan gurunya yang baru, Dibyo Mamangkoro yang melihat bahwa muridnya telah mempelajari ilmu-ilmu yang hebat, tidak melenyapkannya malah memperkuatnya dengan aji-aji yang lain. Karena kini Endang menyerang untuk membunuh, maka ia memilih bagian yang berbahaya, bahkan tidak ragu-ragu untuk menyerang pusar dan bawah perut!
Tiga orang kakek itu diam-diam terkejut juga. Akan tetapi mereka tidak kehilangan kegembiraan mereka. Dengan mengelak atau menangkis, mereka membuat Endang jatuh bangun. Siapa saja di antara mereka bertiga yang diserangnya, tentu dapat mengelak lalu mendorongnya jatuh, atau menangkis lalu membetotnya roboh tertelungkup. Sungguh mereka bertiga mengalami saat yang gembira sekali sebagai hiburan atas kekalahan mereka di Jalatunda.

Makin hebat Endang mengamuk, makin gembiralah mereka yang mengelak dan menangkis sambil tertawa-tawa. Kasihan Endang yang jatuh bangun sampai lututnya lecet-lecet. Pada saat itu, Wirokolo menangkap pundaknya. Muka yang besar dan penuh rambut dengan mata lebar mulut nenyeringai menjijikkan itu dekat sekali dengan muka Endang.
"Ha-ha-ha, cah ayu, aku minta ambung, ya? Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha! Bagus, beri kami cium manis!”
Gagak Kunto dan Gagak Rudro juga tertawa-tawa. Endang tak tahan lagi. Tangan kanannya merogoh ke balik baju, menggenggam gagang keris pusaka Brojol Luwuk, menghunusnya lalu menerjang sambil membentak nyaring,
"Mampuslah orang-orang kurang ajar!"
Suara ketawa mereka seketika terhenti. Wajah tiga orang itu menjadi pucat sekali dan serentak mereka membanting tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh dengan penuh ketakutan.
"Eh, jangan....... jangan....... !!” teriak Gagak Kunto.
"Aduh, celaka....... !” Gagak Rudro berseru ketika ia jatuh bangun dan tubuhnya menggigil, matanya seakan-akan silau oleh cahaya yang bersinar keluar dari keris pusaka Brojol Luwuk.
Wirokolo sendiri sungguhpun seorang sakti mandraguna, selama hidupnya belum pernah ia menghadapi sebuah keris pusaka yang mempunyai wibawa sedahsyat ini. Ketika keris itu tadi ditodongkan, ia merasa seakan-akan diserang lahar panas yang dimuntahkan kawah gunung berapi. Ketika ia bergulingan ke belakang menjauhkan diri kemudian meloncat kembali, ia mendapat kenyataan bahwa lima ekor ular berbisa yang tadinya melingkar di leher, kedua tangan dan kakinya, telah terlepas dan menjadi bangkai hangus di atas tanah!.
Baru hawanya saja sudah sedemikian ampuhnya, apa lagi kalau tubuh terkena pusaka mujijat itu. Ia bergidik. Maklum bahwa gadis cilik ini memegang keris yang amat ampuh dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, lenyap semua sikap main-main pada Wirokolo dan dua orang pembantunya. Sepasang Gagak itu kini sudah mengeluarkan suara bergaok menyeramkan seperti suara burung gagak, sedangkan Wirokolo sudah menggosok-gosok kedua tangannya sampai mengepulkan asap karena ia telah mengerahkan ajinya Anolo Hasto (Tangan Berapi) untuk menghadapi keris pusaka di tangan Endang!.
Endang Patibroto sendiri tertegun menyaksikan kehebatan tiga orang lawannya itu. Betapa kedua tangan Wirokolo keluar asap dan bara apinya. Betapa kedua orang yang bersuara seperti gagak itu tampak mengerikan sikapnya, yang seorang memegang tombak yang ke dua memegang ruyung besar! Akan tetapi ia tidak gentar. Jelas bahwa tiga orang iti tadi ngeri dan ketakutan menghadapi keris pusakanya! Hal ini membesarkan hatinya dan dengan keris siap di tangan, ia berlaku awas. Pada saat yang sangat tegang itu, tiba-tiba terdengar suara bekakakan dari Jauh.
"Huah-hah-hah! Aku sudah mendengar suara Si Gagak Kembar dan Wirokolo! Kalian tidak lekas-lekas menghadapi aku, mengapa berlambat-lambatan?"
Belum habis suara itu bergema, tahu-tahu orangnya sudah muncul, yaitu Dibyo Mamangkoro sendiri. Betapa kagetnya melihat muridnya menghunus sebuah keris yang bersinar-sinar berhadapan dengan Wirokolo dan Gagak Kembar yang juga sudah siap bertanding mati-matian!. Seketika lenyap seri dan tawa pada wajah kakek raksasa ini. Cepat ia melompat maju dan berkata,
"Heeee! Endang muridku sayang ! Apa yang kaulakukan ini?. Aduh....... wah ,....... bukan main pusakamu itu. eh,....... simpan, Endang. Simpan dulu keris pusaka itu. Hebat....... !!”

Dibyo Mamangkoro sendiri terkejut bukan main ketika ia merasa betapa dahsyatnya wibawa keris pusaka itu yang membuat jantungnya berdebar keras, dan barulah la menarik napas lega ketika keris itu disimpan oleh Endang di balik bajunya. Dibyo Mamangkoro merangkulnya, mengelus rambutnya dan berkata lirih,
"Muridku....... sayangku....... mengapa kau tidak bilang bahwa kau memiliki Brojol Luwuk.............. ?!!”
"Pusaka sakti Brojol Luwuk....... ???"
Wirokolo dan kedua orang Gagak Kembar berseru dan mata mereka terbelalak memandang ke arah Endang. Jelas tampak betapa mereka terheran, dan mengilar ketika mendengar bahwa pusaka ampuh tadi adalah Ki Brojol Luwuk, pusaka Mataram yang hanya mereka dengar dalam dongeng sebagai pusaka yang tiada taranya di dunia ini. Melihat hasrat memancar jelas sekali dari muka tiga orang itu, Dibyo Mamangkoro yang masih merangkul muridnya segera membentak,
"Kalian bertiga apakah mendadak sudah menjadi gila? Ki Brojol Luwuk adalah pusaka milik muridku. Kenapa kalian tiga orang tua bangka mau mampus tadi hendak bertanding melawan muridku, Endang Patibroto? Sungguh bagus sekali, ya? Tiga orang kakek tua bangka hendak mengeroyok seorang bocah. Di mana kegagahan kalian?"
Tiga orang itu menjadi makin kaget sekali. Tidak mereka sangka seujung rambutpun bahwa anak perempuan itu adalah murid Dibyo Mamangkoro!
"Aduh........ maafkan kami, kakang Dibyo Mamangkoro! Sungguh mati kami tidak tahu bahwa anak ini adalah murid keponakanku sendiri. Siapa yang mengira begitu? Selamanya kakang tidak mempunyai murid. Bagaimana sekarang secara mendadak mempunyai murid begini elok?"
"Ini urusanku sendiri, tak perlu kau mencampuri! Ingat, inilah Endang Patibroto, muridku yang kelak akan menggantikan aku. Muridku inilah yang kelak akan memimpin kalian semua, menghancurkan musuh-musuhku, menggegerken Kahuripan. Apalagi....... Ki Brojol Luwuk berada di tangannya. Huah-ha-hah!" Kemudian ia berhenti tertawa secara mendadak, menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Gagak Kembar dan membentak,
"Kalian berani tadi melawan dan kurang ajar kepada gusti puterimu??"

<<< Bagian 085                                                                                    Bagian 087 >>>

No comments:

Post a Comment