Tiba-tiba Gagak Kunto dan Gagak Rudro menjadi pucat dan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro.
"Karena
hamba berdua tidak tahu, telah bersikap kurang ajar terhadap....... gusti
puteri, mohon paduka suka memberi ampun....... "
"Huah-ha-hah!
Enak saja minta ampun. Kalian patut dihajar!"
Tiba-tiba
tangan yang menuding itu membuat gerakan mendorong dan....... dua orang raksasa
yang berlutut itu lalu terjengkang ke belakang. Dibyo Mamangkoro menggerak-gerakkan
kedua tangannya ke arah mereka. Sungguh aneh dan mengagumkan sekali dan jelas
membuktikan betapa hebatnya tenaga sakti Dibyo Mamangkoro. Pukulan jarak jauh
kedua tangannya itu mampu menjatuh bangunkan dua orang yang terhitung
orang-orang berkepandaian tinggi. Gagak Kunto dan Gagak Rudro berkali-kali
terbanting sehingga babak belur. Mereka mengaduh-aduh dan sama sekali tidak
berdaya, seperti dua helai daun kering dipermainkan angin. Ketika Dibyo
Mamangkoro menghentikan gerakan tangannya, mereka rebah miring dengan napas
terengah-engah.
"Kau
puas, muridku?" Dibyo Mamangkoro bertanya kepada Endang yang hanya
menonton saja.
Endang
mengangguk.
"Mereka
itu tidak dibunuh, sungguh masih amat baik nasibnya!"
Wirokolo
adalah seorang yang buas dan ganas. Namun mendengar ucapan seenaknya keluar
dari mulut yang mungil itu, tengkuknya terasa dingin juga. Tidak salah lagi,
pikirnya, kakak seperguruannya telah menemukan seorang murid yang hebat!
Setelah Gagak Kembar dapat bangun dan berlutut lagi, Dibyo Mamangkoro bertanya,
"Nah,
sekarang ceritakan bagaimana hasilmu menyerbu Jalatunda, adiku Wirokolo?"
Dengan suara
bernada penyesalan, Wirokolo menceritakan pengalamannya di Jalatunda.
Menceritakan betapa lima orang anak buah Gagak Kembar semua kalah oleh seorang
anak laki-laki yang agaknya cucu murid Resi Bhargowo, kemudian betapa Gagak
Kembar sendiri kalah melawan Resi Bhargowo.
"Terpaksa
aku turun tangan sendiri, kakang Dibyo. Biarpun dalam ilmu sihir, aku tidak
mampu menghadapi Empu Bharodo, namun dalam pertandingan, Empu Bharodo dan Resi
Bhargowo masih belum mampu mengalahkan aku. Airlangga yang sudah menjadi
pertapa itu telah menjadi seorang yang lemah dan tidak mau berkelahi.
Sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan baik sekali untuk membunuhnya. Siapa
kira si jahanam Narotama muncul....... "
"Narotama.......
?? Keparat !!” Dibyo Mamangkoro berjingkrak marah.
"Lalu
bagaimana? Apakah dia masih sekuat dahulu?"
Wirokolo
menarik napas panjang.
"Dia
hebat, kakang. Agaknya malah lebih kuat daripada dahulu. Aku tahu bahwa aku
bukan tandingannya, maka terpaksa kami mundur."
Dibyo
Mamangkoro menggendong kedua tangan di punggung, lalu berjalan kian kemari
dengan kening berkerut. Dari mulutnya keluar suara menggereng seperti harimau
kelaparan. Tiba-tiba ia berhenti dan kembali merangkul pundak Endang.
"Kita
tunggu waktu dan kesempatan! Kita tunggu muridku dewasa. Dengan kepandaiannya
dan dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangannya aku yakin Kahuripan akan
hancur lebur kelak. Huah-ha-ha!"
Wirokolo dan
Gagak Kembar hanya sehari tinggal di pulau itu. Mereka segera pergi dari pulau,
kembali ke tempat mereka sendiri, yaitu di lembah Citandui. Mereka sebagai anak
buah Dibyo Mamangkoro dipesan untuk mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga
bantuan yang bersakit hati terhadap Kahuripan, dan menyelidiki keadaan
Kahuripan. Jika ada perubahan di Kahuripan, mereka dipesan agar mengabarkan ke
Nusakambangan.
Sementara itu
semenjak mengalami peristiwa pertempuran melawan paman gurunya sendiri, Endang
Patibroto maklum bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai dan kalau ia
tidak tekun belajar, menguras semua ilmu yang dimiliki gurunya, kelak tentu ia
akan menemui banyak kesulitan dari orang pandai.
Di lain pihak,
setelah mendapat kenyataan bahwa muridnya secara aneh telah memiliki keris
pusaka Ki Brojol Luwuk, Dibyo Mamangkoro menjadi makin sayang kepada muridnya!
Makin besar hatinya, dan makin tebal keyakinannya bahwa muridnya ini kelak akan
lebih berhasil daripadanya dalam usaha meruntuhkan Kahuripan.
Kita
tinggalkan dulu Endang Patibroto yang tekun menerima gemblengan ilmu kesaktian
dari Dibyo Mamangkoro. Mari kita mengikuti perjalanan Jokowanengpati yang
melarikan diri menunggang kuda menuju ke selatan. Melihat perang dihentikan
oleh Sang Prabu Airlangga sendiri, Jokowanengpati maklum bahwa perdamaian
antara kedua pangeran tentu akan terjadi. Dan ia telah melihat musuh besarnya,
orang-orang yang tentu tidak akan berhenti sebelum berhadapan muka dan mengadu
nyawa dengannya. la melihat Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito, tiga orang yang
menaruh dendam sedalam lautan kepadanya. Lebih dari semua itu, ia melihat Resi
Bhargowo! Kaget seperti disambar petir ketika ia tadi melihat Resi Bhargowo di
sebelah Sang Prabu Airlangga. Jelas bahwa Resi Bhargowo sudah ia hantam roboh
dengan penggada milik Ki Krendoyakso. Ia ingat betul betapa ia mengerahkan
tenaga sekuatnya ketika melakukan pemukulan curang itu dan ia tahu pula bahwa
ruyung Wesi Ireng adalah senjata pusaka yang ampuh. Terasa oleh tangannya
betapa kepala resi itu terkena pukulan yang telak sehingga resi itu roboh
seketika. Bagaimana sekarang Resi Bhargowo bisa muncul dalam keadaan segar
sehat di samping Sang Prabu Airlangga? Tentu saja ia tidak berani bertemu muka
dengan bekas paman gurunya itu. Selain itu, juga ia melihat munculnya Empu
Bharodo, gurunya!.
Setelah mereka
itu muncul, bagaimana ia berani tinggal lebih lama lagi di kota raja? Dalam
keadaan perang saudara, tentu saja ia dapat berlindung di belakang punggung
Pangeran Anom. Akan tetapi setelah damai, tidak mungkin lagi. Lebih cepat pergi,
lebih aman baginya. Lebih-lebih lagi kini setelah ia membunuh Wisangjiwo. Akan
bertambah mereka yang benci dan mendendam kepadanya.
"Ha-ha-ha!
Tidak seorangpun melihat aku pergi Mereka kini tentu sedang mencari-cari!"
Jokowanengpati
terkekeh senang sambil membalapkan kudanya terus ke selatan. Setelah
membalapkan kuda tiada hentinya selama dua hari dua malam, kudanya itu akhirnya
roboh lemas dan mati di luar sebuah kampung. Jokowanengpati melompat turun dan
menendang bangkai kuda yang telah membawanya lari selama itu.
"Huh,
kuda sialan!"
Akan tetapi
lega hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa ia telah melarikan diri jauh
sekali dari kota raja. Ia sudah sampai di wilayah pantai selatan. Dari kampung
itu ke Laut Selatan hanya tinggal perjalanan selama satu dua jam saja. Hatinya
mulai gembira. la telah berada di tempat aman, jauh dari kota raja, dan tak
seorangpun mengenalnya di sini. Hari telah mendekati malam dan dengan senyum
menghias bibirnya yang tampan, ia memasuki kampung itu meninggalkan bangkai kudanya
tanpa menengok satu kalipun.
Manusia dengan
watak seperti Jokowanengpati ini tidak mungkin dapat mengingat budi dan jasa
seekor kuda. Jokowanengpati meraba-raba dadanya. Masih terasa sakit bekas
pukulan Wisangjiwo. Ia tahu bahwa pukulan itu mengakibatkan luka dalam di
dadanya. Akan tetapi, asal ia dapat beristirahat dan tidak mengeluarkan tenaga
berat, ia akan sembuh kembali. Pikiran ini menenangkan hatinya. Ia boleh
beristirahat di kampung ini, atau besok ia akan mencari tempat yang lebih aman.
Di pinggir laut. Kemudian, dari pinggir laut ini ia akan terus mencari tempat
kediaman Ni Nogogini yang katanya di pinggir laut sebelah timur. Asal ia
menyusuri sepanjang pantai ke timur, akhirnya tentu akan ketemu. Akan tetapi,
malam ini ia akan bermalam di dalam kampung. Perutnya lapar sekali. Ia harus
mencari makanan. Tiba-tiba ia tersenyum lebar. Suara gamelan menyambut
kedatangannya. Suara gamelan yang terdengar amat merdu dan indah. Kalau ada
gamelan, berarti àda pesta dan kalau ada pesta, berarti ada makanan enak
berlebihan!
Jokowanengpati
tertawa terkekeh senang dan ia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara
gamelan. Dari jauh sudah tampak sinar lampu yang menerangi tempat pesta, juga
suara banyak anak-anak di depan rumah yang berpesta. Memang tepat dugaannya.
Ada orang mengadakan perayaan pesta perkawinan. Bukan lain adalah lurah kampong
itu sendiri yang mengadakan pesta, untuk merayakan perkawinan puterinya!
Tamu-tamu mulai berdatangan dan beberapa penari mulai mcnari sambil bersinden,
diiringi suara gamelan meriah. Minuman dan hidangan dikeluarkan oleh
pelayan-pelayan yang sibuk.
Jokowanengpati
melangkah gagah memasuki ruangan. Biarpun ia tidak berganti pakaian, namun
pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian perwira kerajaan, pakaian yang
jauh lebih indah dan lebih gagah daripada pakaian semua orang yang hadir di
situ, termasuk pengantin prianya sendiri!
Semua orang
cingak (memandang kagum) ketika ia masuk, dan pak lurah sendiri tergopoh-gopoh
menyambutnya. Tentu saja pak lurah agak bingung karena tidak mengenal tamunya
ini, tamu yang tidak diundang, namun ia harus menghormat, melihat pakaian
tamunya yang jelas membayangkan seorang "priyayi" dari kota raja.
Sambil membongkok-bongkok tuan rumah ini menyambut Joko wanengpati. Tanpa malu
atau sungkan sedikitpun, Jokowanengpati bekata,
"Maaf,
paman. Aku adalah seorang pelancong dari kota raja. Kudaku sakit dan mati di
luar kampung. Terpaksa aku mengganggu dan datang ke sini."
"Wah,
malah kebetulan sekali, raden. Kami sedang mengadakan pesta perkawinan anak
kami. Silahkan....... , raden."
"Aku
hanya mengganggu saja."
"Tidak,
sama sekali tidak. Malah kami merasa terhormat sekali dapat rnenyambut andika
sebagai tamu kehormatan! Silahkan....... "
Sambil
mengangkat dada Jokowanengpati mendapat tempat kehormatan, dekat pengantin! Dan
tentu saja ia mendapat hidangan yang istimewa sehingga sebentar saja kenyanglah
perutnya. Mulai terasa olehnya keletihan tubuh akibat pertempuran dan
perjalanan jauh. Tanpa segan-segan lagi ia beberapa kali menguap sambil menutup
mulut dengan kepalan tangan. Telinganya yang tajam menangkap suara ketawa
wanita, ketawa ditahan, akan tetapi sangat merdu dalam pendengaran
Jokowanengpati.
Ia melirik dan
tahu bahwa yang menahan tawa itu tadi adalah si pengantin wanita! Puteri bapak
lurah. Hemm, baru sekarang ia menaruh perhatian. Bentuk tubuh yang padat
ramping. Kulit yang agak hitam, akan tetapi bersih dan halus. Ia melirik ke
bawah. Dari bawah kain itu tampak tumit yang halus dan indah bentuknya, mata
kaki dan ujung betis yang merit dengan lengkung sempurna. Kembali ia melirik ke
atas. Sayang, pengantin wanita itu mukanya tertutup, tak dapat dilihat. Akan
tetapi seorang wanita dengan perawakan seperti itu tak mungkin buruk rupa.
Apalagi putera pak lurah yang wajahnya tampan. Suara ketawa pengantin wanita
itu menambah lamunan Jokowanengpati yang sudah mulai terpengaruh minuman tuwak
(arak). Setelah sepasang pengantin diiring masuk ke kamar, Jokowanengpati juga
minta kepada tuan rumah agar supaya malam itu ia diberi tempat untuk mengaso.
Bapak lurah
menyambut permintaan ini dengan penuh hormat dan gembira. Makà diantarnyalah
Jokowanengpati ke dalam sebuah kamar di ruang belakang kelurahan. Pesta
berlangsung terus karena menjelang tengah malam dimulai pesta tayuban, di mana
para tamu yang sudah agak mabok itu ikut pula menari bersama para penari yang
cantik-cantik. Gamelan dipukul makin keras, suasana makin meriah. Suasana yang
riuh dan meriah di ruangan depan di mana pesta berlangsung inilah yang membuat
semua orang tidak tahu betapa lewat tengah malam itu terdengar suara gaduh di
dalam kamar pengantin. Tidak ada yang mendengar jerit tangis pengantin wanita,
dan tidak ada yang tahu pula betapa sesaat kemudian pengantin pria terlempar
dari pintu kamar, jatuh di atas lantai depan pintu tak bergerak lagi. Baik
pihak tuan rumah maupun pihak tamu semua telah minum tuwak terlalu banyak. Di
ruangan depan, orang-orang bersenang dan bergembira melewati batas, tertawa,
bersorak, menggoda penari yang kadang-kadang menjerit manja menyeling suara gamelan
yang tak kunjung henti. Sedangkan di ruangan dalam, di kamar pengantin yang
menyendiri dan sunyi, maut merajalela! Dapat dibayangkan betapa kaget tuan
rumah sekeluarga ketika pada pagi harinya mereka mendapatkan pengantin pria
menggeletak di luar kamar pengantin dalam keadaan mengerikan, kepala pecah dan
tak bernyawa lagi! Bapak lurah dan keluarganya menyerbu ke dalam kamar
pengantin dan terbelalak memandang puterinya yang malam tadi menjadi pengantin,
kini dalam keadaan teianjang bulat mati pula menggantung diri di dalam kamar
pengantin!
Jerit tangis
melengking dan Ibu lurah serta beberapa orang lain roboh pingsan. Gegerlah
keadaan dalam kalurahan, kacau-balau dan panik. Bapak lurah dengan mata
jelalatan melompat keluar dari kamar pengantin lalu lari ke belakang, menuju
kamar tamu di mana malam tadi ia mengantar tamunya, priyayi dari kota raja.
Pintu kamar itu masih tertutup, akan tetapi bapak lurah segera menyerbu masuk
dan mendorong pintu kamar. Daun pintu terbuka dan....... tidak ada seorangpun
dalam kamar itu!.
No comments:
Post a Comment