Badai Laut Selatan ; Bagian 087


Tiba-tiba Gagak Kunto dan Gagak Rudro menjadi pucat dan mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro.
"Karena hamba berdua tidak tahu, telah bersikap kurang ajar terhadap....... gusti puteri, mohon paduka suka memberi ampun....... "
"Huah-ha-hah! Enak saja minta ampun. Kalian patut dihajar!"
Tiba-tiba tangan yang menuding itu membuat gerakan mendorong dan....... dua orang raksasa yang berlutut itu lalu terjengkang ke belakang. Dibyo Mamangkoro menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah mereka. Sungguh aneh dan mengagumkan sekali dan jelas membuktikan betapa hebatnya tenaga sakti Dibyo Mamangkoro. Pukulan jarak jauh kedua tangannya itu mampu menjatuh bangunkan dua orang yang terhitung orang-orang berkepandaian tinggi. Gagak Kunto dan Gagak Rudro berkali-kali terbanting sehingga babak belur. Mereka mengaduh-aduh dan sama sekali tidak berdaya, seperti dua helai daun kering dipermainkan angin. Ketika Dibyo Mamangkoro menghentikan gerakan tangannya, mereka rebah miring dengan napas terengah-engah.
"Kau puas, muridku?" Dibyo Mamangkoro bertanya kepada Endang yang hanya menonton saja.
Endang mengangguk.
"Mereka itu tidak dibunuh, sungguh masih amat baik nasibnya!"

Wirokolo adalah seorang yang buas dan ganas. Namun mendengar ucapan seenaknya keluar dari mulut yang mungil itu, tengkuknya terasa dingin juga. Tidak salah lagi, pikirnya, kakak seperguruannya telah menemukan seorang murid yang hebat! Setelah Gagak Kembar dapat bangun dan berlutut lagi, Dibyo Mamangkoro bertanya,
"Nah, sekarang ceritakan bagaimana hasilmu menyerbu Jalatunda, adiku Wirokolo?"
Dengan suara bernada penyesalan, Wirokolo menceritakan pengalamannya di Jalatunda. Menceritakan betapa lima orang anak buah Gagak Kembar semua kalah oleh seorang anak laki-laki yang agaknya cucu murid Resi Bhargowo, kemudian betapa Gagak Kembar sendiri kalah melawan Resi Bhargowo.
"Terpaksa aku turun tangan sendiri, kakang Dibyo. Biarpun dalam ilmu sihir, aku tidak mampu menghadapi Empu Bharodo, namun dalam pertandingan, Empu Bharodo dan Resi Bhargowo masih belum mampu mengalahkan aku. Airlangga yang sudah menjadi pertapa itu telah menjadi seorang yang lemah dan tidak mau berkelahi. Sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan baik sekali untuk membunuhnya. Siapa kira si jahanam Narotama muncul....... "
"Narotama....... ?? Keparat !!” Dibyo Mamangkoro berjingkrak marah.
"Lalu bagaimana? Apakah dia masih sekuat dahulu?"
Wirokolo menarik napas panjang.
"Dia hebat, kakang. Agaknya malah lebih kuat daripada dahulu. Aku tahu bahwa aku bukan tandingannya, maka terpaksa kami mundur."

Dibyo Mamangkoro menggendong kedua tangan di punggung, lalu berjalan kian kemari dengan kening berkerut. Dari mulutnya keluar suara menggereng seperti harimau kelaparan. Tiba-tiba ia berhenti dan kembali merangkul pundak Endang.
"Kita tunggu waktu dan kesempatan! Kita tunggu muridku dewasa. Dengan kepandaiannya dan dengan keris pusaka Brojol Luwuk di tangannya aku yakin Kahuripan akan hancur lebur kelak. Huah-ha-ha!"
Wirokolo dan Gagak Kembar hanya sehari tinggal di pulau itu. Mereka segera pergi dari pulau, kembali ke tempat mereka sendiri, yaitu di lembah Citandui. Mereka sebagai anak buah Dibyo Mamangkoro dipesan untuk mempersiapkan diri, mengumpulkan tenaga bantuan yang bersakit hati terhadap Kahuripan, dan menyelidiki keadaan Kahuripan. Jika ada perubahan di Kahuripan, mereka dipesan agar mengabarkan ke Nusakambangan.
Sementara itu semenjak mengalami peristiwa pertempuran melawan paman gurunya sendiri, Endang Patibroto maklum bahwa di dunia ini banyak sekali orang pandai dan kalau ia tidak tekun belajar, menguras semua ilmu yang dimiliki gurunya, kelak tentu ia akan menemui banyak kesulitan dari orang pandai.
Di lain pihak, setelah mendapat kenyataan bahwa muridnya secara aneh telah memiliki keris pusaka Ki Brojol Luwuk, Dibyo Mamangkoro menjadi makin sayang kepada muridnya! Makin besar hatinya, dan makin tebal keyakinannya bahwa muridnya ini kelak akan lebih berhasil daripadanya dalam usaha meruntuhkan Kahuripan.

Kita tinggalkan dulu Endang Patibroto yang tekun menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Dibyo Mamangkoro. Mari kita mengikuti perjalanan Jokowanengpati yang melarikan diri menunggang kuda menuju ke selatan. Melihat perang dihentikan oleh Sang Prabu Airlangga sendiri, Jokowanengpati maklum bahwa perdamaian antara kedua pangeran tentu akan terjadi. Dan ia telah melihat musuh besarnya, orang-orang yang tentu tidak akan berhenti sebelum berhadapan muka dan mengadu nyawa dengannya. la melihat Pujo, Kartikosari, dan Roro Luhito, tiga orang yang menaruh dendam sedalam lautan kepadanya. Lebih dari semua itu, ia melihat Resi Bhargowo! Kaget seperti disambar petir ketika ia tadi melihat Resi Bhargowo di sebelah Sang Prabu Airlangga. Jelas bahwa Resi Bhargowo sudah ia hantam roboh dengan penggada milik Ki Krendoyakso. Ia ingat betul betapa ia mengerahkan tenaga sekuatnya ketika melakukan pemukulan curang itu dan ia tahu pula bahwa ruyung Wesi Ireng adalah senjata pusaka yang ampuh. Terasa oleh tangannya betapa kepala resi itu terkena pukulan yang telak sehingga resi itu roboh seketika. Bagaimana sekarang Resi Bhargowo bisa muncul dalam keadaan segar sehat di samping Sang Prabu Airlangga? Tentu saja ia tidak berani bertemu muka dengan bekas paman gurunya itu. Selain itu, juga ia melihat munculnya Empu Bharodo, gurunya!.
Setelah mereka itu muncul, bagaimana ia berani tinggal lebih lama lagi di kota raja? Dalam keadaan perang saudara, tentu saja ia dapat berlindung di belakang punggung Pangeran Anom. Akan tetapi setelah damai, tidak mungkin lagi. Lebih cepat pergi, lebih aman baginya. Lebih-lebih lagi kini setelah ia membunuh Wisangjiwo. Akan bertambah mereka yang benci dan mendendam kepadanya.
"Ha-ha-ha! Tidak seorangpun melihat aku pergi Mereka kini tentu sedang mencari-cari!"
Jokowanengpati terkekeh senang sambil membalapkan kudanya terus ke selatan. Setelah membalapkan kuda tiada hentinya selama dua hari dua malam, kudanya itu akhirnya roboh lemas dan mati di luar sebuah kampung. Jokowanengpati melompat turun dan menendang bangkai kuda yang telah membawanya lari selama itu.
"Huh, kuda sialan!"
Akan tetapi lega hatinya setelah mendapat kenyataan bahwa ia telah melarikan diri jauh sekali dari kota raja. Ia sudah sampai di wilayah pantai selatan. Dari kampung itu ke Laut Selatan hanya tinggal perjalanan selama satu dua jam saja. Hatinya mulai gembira. la telah berada di tempat aman, jauh dari kota raja, dan tak seorangpun mengenalnya di sini. Hari telah mendekati malam dan dengan senyum menghias bibirnya yang tampan, ia memasuki kampung itu meninggalkan bangkai kudanya tanpa menengok satu kalipun.

Manusia dengan watak seperti Jokowanengpati ini tidak mungkin dapat mengingat budi dan jasa seekor kuda. Jokowanengpati meraba-raba dadanya. Masih terasa sakit bekas pukulan Wisangjiwo. Ia tahu bahwa pukulan itu mengakibatkan luka dalam di dadanya. Akan tetapi, asal ia dapat beristirahat dan tidak mengeluarkan tenaga berat, ia akan sembuh kembali. Pikiran ini menenangkan hatinya. Ia boleh beristirahat di kampung ini, atau besok ia akan mencari tempat yang lebih aman. Di pinggir laut. Kemudian, dari pinggir laut ini ia akan terus mencari tempat kediaman Ni Nogogini yang katanya di pinggir laut sebelah timur. Asal ia menyusuri sepanjang pantai ke timur, akhirnya tentu akan ketemu. Akan tetapi, malam ini ia akan bermalam di dalam kampung. Perutnya lapar sekali. Ia harus mencari makanan. Tiba-tiba ia tersenyum lebar. Suara gamelan menyambut kedatangannya. Suara gamelan yang terdengar amat merdu dan indah. Kalau ada gamelan, berarti àda pesta dan kalau ada pesta, berarti ada makanan enak berlebihan!
Jokowanengpati tertawa terkekeh senang dan ia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara gamelan. Dari jauh sudah tampak sinar lampu yang menerangi tempat pesta, juga suara banyak anak-anak di depan rumah yang berpesta. Memang tepat dugaannya. Ada orang mengadakan perayaan pesta perkawinan. Bukan lain adalah lurah kampong itu sendiri yang mengadakan pesta, untuk merayakan perkawinan puterinya! Tamu-tamu mulai berdatangan dan beberapa penari mulai mcnari sambil bersinden, diiringi suara gamelan meriah. Minuman dan hidangan dikeluarkan oleh pelayan-pelayan yang sibuk.
Jokowanengpati melangkah gagah memasuki ruangan. Biarpun ia tidak berganti pakaian, namun pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian perwira kerajaan, pakaian yang jauh lebih indah dan lebih gagah daripada pakaian semua orang yang hadir di situ, termasuk pengantin prianya sendiri!
Semua orang cingak (memandang kagum) ketika ia masuk, dan pak lurah sendiri tergopoh-gopoh menyambutnya. Tentu saja pak lurah agak bingung karena tidak mengenal tamunya ini, tamu yang tidak diundang, namun ia harus menghormat, melihat pakaian tamunya yang jelas membayangkan seorang "priyayi" dari kota raja. Sambil membongkok-bongkok tuan rumah ini menyambut Joko wanengpati. Tanpa malu atau sungkan sedikitpun, Jokowanengpati bekata,
"Maaf, paman. Aku adalah seorang pelancong dari kota raja. Kudaku sakit dan mati di luar kampung. Terpaksa aku mengganggu dan datang ke sini."
"Wah, malah kebetulan sekali, raden. Kami sedang mengadakan pesta perkawinan anak kami. Silahkan....... , raden."
"Aku hanya mengganggu saja."
"Tidak, sama sekali tidak. Malah kami merasa terhormat sekali dapat rnenyambut andika sebagai tamu kehormatan! Silahkan....... "

Sambil mengangkat dada Jokowanengpati mendapat tempat kehormatan, dekat pengantin! Dan tentu saja ia mendapat hidangan yang istimewa sehingga sebentar saja kenyanglah perutnya. Mulai terasa olehnya keletihan tubuh akibat pertempuran dan perjalanan jauh. Tanpa segan-segan lagi ia beberapa kali menguap sambil menutup mulut dengan kepalan tangan. Telinganya yang tajam menangkap suara ketawa wanita, ketawa ditahan, akan tetapi sangat merdu dalam pendengaran Jokowanengpati.
Ia melirik dan tahu bahwa yang menahan tawa itu tadi adalah si pengantin wanita! Puteri bapak lurah. Hemm, baru sekarang ia menaruh perhatian. Bentuk tubuh yang padat ramping. Kulit yang agak hitam, akan tetapi bersih dan halus. Ia melirik ke bawah. Dari bawah kain itu tampak tumit yang halus dan indah bentuknya, mata kaki dan ujung betis yang merit dengan lengkung sempurna. Kembali ia melirik ke atas. Sayang, pengantin wanita itu mukanya tertutup, tak dapat dilihat. Akan tetapi seorang wanita dengan perawakan seperti itu tak mungkin buruk rupa. Apalagi putera pak lurah yang wajahnya tampan. Suara ketawa pengantin wanita itu menambah lamunan Jokowanengpati yang sudah mulai terpengaruh minuman tuwak (arak). Setelah sepasang pengantin diiring masuk ke kamar, Jokowanengpati juga minta kepada tuan rumah agar supaya malam itu ia diberi tempat untuk mengaso.
Bapak lurah menyambut permintaan ini dengan penuh hormat dan gembira. Makà diantarnyalah Jokowanengpati ke dalam sebuah kamar di ruang belakang kelurahan. Pesta berlangsung terus karena menjelang tengah malam dimulai pesta tayuban, di mana para tamu yang sudah agak mabok itu ikut pula menari bersama para penari yang cantik-cantik. Gamelan dipukul makin keras, suasana makin meriah. Suasana yang riuh dan meriah di ruangan depan di mana pesta berlangsung inilah yang membuat semua orang tidak tahu betapa lewat tengah malam itu terdengar suara gaduh di dalam kamar pengantin. Tidak ada yang mendengar jerit tangis pengantin wanita, dan tidak ada yang tahu pula betapa sesaat kemudian pengantin pria terlempar dari pintu kamar, jatuh di atas lantai depan pintu tak bergerak lagi. Baik pihak tuan rumah maupun pihak tamu semua telah minum tuwak terlalu banyak. Di ruangan depan, orang-orang bersenang dan bergembira melewati batas, tertawa, bersorak, menggoda penari yang kadang-kadang menjerit manja menyeling suara gamelan yang tak kunjung henti. Sedangkan di ruangan dalam, di kamar pengantin yang menyendiri dan sunyi, maut merajalela! Dapat dibayangkan betapa kaget tuan rumah sekeluarga ketika pada pagi harinya mereka mendapatkan pengantin pria menggeletak di luar kamar pengantin dalam keadaan mengerikan, kepala pecah dan tak bernyawa lagi! Bapak lurah dan keluarganya menyerbu ke dalam kamar pengantin dan terbelalak memandang puterinya yang malam tadi menjadi pengantin, kini dalam keadaan teianjang bulat mati pula menggantung diri di dalam kamar pengantin!
Jerit tangis melengking dan Ibu lurah serta beberapa orang lain roboh pingsan. Gegerlah keadaan dalam kalurahan, kacau-balau dan panik. Bapak lurah dengan mata jelalatan melompat keluar dari kamar pengantin lalu lari ke belakang, menuju kamar tamu di mana malam tadi ia mengantar tamunya, priyayi dari kota raja. Pintu kamar itu masih tertutup, akan tetapi bapak lurah segera menyerbu masuk dan mendorong pintu kamar. Daun pintu terbuka dan....... tidak ada seorangpun dalam kamar itu!.

<<< Bagian 086                                                                                   Bagian 088 >>>

No comments:

Post a Comment