Badai Laut Selatan ; Bagian 088


"Si keparat....... ! Manusia iblis.. ..... !!”
Bapak lurah makin beringas, lari menyambar tombaknya dari kamar dan ia jelilatan mencari-cari keluar masuk kelurahan. Namun bayangan tamunya itu tidak kelihatan lagi. Akhirnya ia menangisi jenasah puterinya yang sudah diturunkan orang.

Jokowanengpati berjalan seenaknya menuju ke selatan. Mulutnya tersenyum-senyum, hatinya gembira. Ia bebas dari musuh-musuh besarnya yang berkumpul di kota raja.. Tiada satupun yang ia takuti di daerah pantai selatan ini. Puteri pak lurah itu benar manis tepat seperti dugaannya. Sungguh baik nasibnya. Kudanya mati di luar kampung, kebetulan kepala kampung mengadakan pesta sehingga ia mendapat hidangan sampai kenyang, mendapat tempat penginapan tanpa bayar, bahkan mendapat kawan puteri pak lurah yang manis!. Teringat akan ini, ia tertawa menyeringai. Terpaksa ia membunuh pengantin pria yang hendak melawan. Dan tadi ia meninggalkan pengantin wanita, pengantinnya yang manis, dalam keadaan banjir air mata. Jokowanengpati berjalan tidak tergesa-gesa. Perduli apa orang-orang kampung itu. Kalau ada yang mengejarnyapun ia tidak takut. Masa depannya cerah. Ia akan bersembunyi di daerah pantai ini, mengunjungi dusun-dusun yang kaya akan gadis-gadis dusun yang manis-manis. Ia akan bersembunyi sambil menanti sampai keadaan di kota raja beres, sampai tiba saatnya dan terbuka kesempatan baginya untuk mengabdi kepada Pangeran Anom sehingga keselamatannya terlindung. Kalau sudah bosan di daerah sunyi, kalau sudah tidak ada perawan dusun yang menarik perhatiannya, ia akan menyusuri pantai ke timur, mencari Ni Nogogini. Tuhan Maha Adil. Maha Kuasa. Kuasa memberkahi, kuasa pula menghukum. Perbuatan terkutuk yang dilakukan Jokowanengpati di dusun, berarti penundaan pelariannya sejak senja sampai pagi. Hal ini berarti pula bahwa pelariannya terlambat sehingga memberi kesempatan kepada para pengejarnya untuk menebus kekalahan waktu. Andaikata Jokowanengpati tidak berhenti di dusun dan terus melanjutkan larinya dengan aji lari cepat, terus menyusuri pantai ke timur, tentu para pengejarnya akan kehilangan jejak dan takkan dapat menyusulnya. Akan tetapi, iblis telah menyelewengkannya ke dalam dusun itu, di mana ia melakukan perbuatan keji dan terkutuk terhadap pengantin wanita sehingga mengakibatkan tewasnya pengantin pria dan matinya pengantin wanita karena bunuh diri.

Tidak seperti Jokowanengpati yang terus menekan dan memaksa kudanya sehingga mati kelelahan di luar dusun, Kartikosari dan Roro Luhito yang melakukan pengejaran, selalu berhenti memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk mengaso, makan rumput atau minum air. Karena inilah maka mereka ketinggalan jauh oleh Jokowanengpati. Akan tetapi dua orang wanita ini hanya berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka mengaso saja, dan mereka menggunakan kesempatan ini pula untuk melepas lelah sebentar. Setelah itu mereka berangkat lagi, tidak perduli panas terik siang hari dan dingin gelap malam hari. Inilah sebabnya maka ketika Jokowanengpati membuang waktu semalam untuk melakukan perbuatan terkutuk di kelurahan dusun itu, dua orang wanita pengejar ini telah dapat menebus kekalahan waktu ketinggalan.
Pada pagi itu, ketika kelurahan geger karena peristiwa terkutuk akibat perbuatan Jokowanengpati, Kartikosari dan Roro Luhito memasuki dusun itu. Mereka berdua memasuki dusun dan berdebar hati mereka melihat bangkai kuda di luar dusun. Besar dugaan mereka bahwa itulah kuda tunggangan Jokowanengpati, yang mati karena kelelahan di luar dusun. Kalau begitu, agaknya si keparat itu berada dalam dusun ini!
Akan tetapi mereka melihat keadaan yang geger dan kacau. Orang-orang dusun itu lari ke sana ke mari seperti orang mencari-cari, dengan mata jelilatan dan semua orang yang berada di jalan membawa senjata. Dua orang wanita ini terus menjalankan kuda ke arah pusat keributan, yaitu di depan rumah yang besar dan yang terhias seperti ada perayaan di situ, dihias janur-janur kuning dan daun-daun waringin. Kartikosari dan Roro Luhito lalu melompat turun dari atas kuda masing-masing, siap hendak bertanya apa gerangan yang nerjadi, dan terutama sekali bertanya kalau-kalau penduduk di situ ada yang melihat seorang laki-laki asing, yaitu Jokowanengpati. Akan tetapi belum juga mereka membuka suara, tiba-tiba seorang laki-laki setengah tua berlari keluar dari dalam rumah, tangannya memegang sebatang tombak. Begitu melihat dua orang wanita ini, laki-laki setengah tua itu segera membentak,
"Ini dia! Ini tentu teman-teman si keparat dari kota raja! Mereka tentu bukan orang baik-baik!"
Setelah membentak demikian, serta-merta ia menerjang dengan tombaknya. Karena Kartikosari berada di depan, maka wanita inilah yang langsung mendapat serangan bapak lurah, laki-laki setengah tua itu.
"Eh-eh, sabar dulu, paman. Apakah yang terjadi?" seru Kartikosari sambil mengelak.
Àkàn tetapi, melihat betapa wanita itu dengan mudah mengelak serangan tombaknya, bapak lurah makin curiga dan segera berseru,
"Saudara-saudara, kepung mereka berdua inil Tentu mereka ini teman-teman si keparat itul"

Mendapat komando ini, orang-orang kampung segera mengepung dengan sikap mengancam. Melihat keadaan yang tidak baik ini, Roro Luhito yang cerdik berlaku sigap. Ia sudah meloncat maju ke arah bapak lurah yang kembali sudah menusukkan tombaknya. Roro Luhito tidak mengelak seperti Kartikosari tadi, melainkan ia miringkan tubuh sambil menyambar gagang tombak dan sekali betot ia sudah merampas tombak, mematahkannya menjadi dua kemudian sekali tangannya menjambak, ia sudah mencengkeram pundak bapak lurah. Pàk lurah meringis kesakitan. Pundaknya seperti dicengkeram kaitan baja serasa akan remuk tulang pundaknya.
"Jangan main gila !" bentak Roro Luhito.
"Hayo semua mundur, kalau tidak, aku akan menggunakan orang tua ini sebagai senjata melawan kalian!"
Berkata demikian, begitu kedua tangannya bergerak, benar saja, tubuh pàk lurah sudah ia putar-putar di atas kepala seperti kitiran angin! Tentu saja pàk lurah menjadi ketakutan dan berkaok-kaok, dan semua penduduk kampung melangkah mundur dengan muka jerih. Roro Luhito menurunkan lagi pàk lurah yang ketakutan itu, lalu menghardik,
"Hayo katakan! Àpà artinya semua ini? Kami berdua adalah orang baik-baik, mengapa baru saja datang hendak kalian keroyok dan bunuh?"
Saking takutnya, pàk lurah sampai sukar mengeluarkan kata-kata. Ia tetap menduga bahwa dua orang wanita yang sakti ini tentulah sahabat laki-laki keji yang telah menyebar maut di rumahnya. Bagaimana ia dapat menuturkan peristiwa itu dan memburukkan nama laki-laki keparat itu?. Namun Kartikosari sudah tertarik akan perintah-perintah pàk lurah tadi. la melangkah maju dan bertanya, suaranya tidak segalak Roro Luhito.
"Paman, kau tadi bilang bahwa kami tentu teman-teman si keparat. Siapakah si keparat itu? Apakah ia seorang laki-laki berusia tiga puluh enam tahun, pakaiannya seperti perwira kerajaan, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, datangnya ke kampung ini menunggang kuda?"
Makin jerih muka pàk lurah.
"Beb....... betul sekali....... !”
Kartikosari dan Roro Luhito terkejut dan girang sekali.
"Bagus! Kami datang untuk mencarinya, memang. Akan tetapi sama sekali bukan teman, bahkan musuh. Kami mengejar dan hendak membunuhnya. Àpa yang terjadi di sini? Di mana dia sekarang?"

Mendengar ini, pak lurah tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis! Juga para penduduk lenyap sikapnya bermusuhan, kini mendengar dan duduk di atas tanah mengelilingi mereka. Roro Luhito dan Kartikosari saling pandang, mengerutkan kening. Perbuatan laknat apa lagi yang dilakukan Jokowanengpati di sini?
"Sudahlah, jangan menangis seperti anak kecil!" Roro Luhito membentak, habis kesabarannya.
"Lebih baik lekas ceritakan!"
Dengan suara terputus-putus pak lurah bercerita tentang peristiwa semalam sambil menangis. Tentu saja dua orang wanita itu menjadi marah bukan main, dan makin besar nafsu untuk dapat segera bectemu muka dan membalas dendam kepada laki-laki jahat dan keji itu.
"Di mana dia sekarang, paman? Mana keparat itu?" bentak Roro Luhito, suaranya nyaring, sikapnya mengancam, giginya berkerot.
"Dia sudah lari....... pagi tadi, entah ke mana....... !!”
Begitu mendengar jawaban ini, seperti diberi komando saja, Kartikosari dan Roro Luhito lari dan melompat ke atas kuda mereka, lalu membalapkan kuda keluar dari dusun itu, melakukan pengejaran. Mereka tadi memasuki kampung dari utara, maka agaknya si keparat Jokowanengpati itu tentu lari terus ke selatan, melanjutkan pelariannya, pikir mereka. Membalapkan kuda mereka keluar dari dusun ke jurusan selatan.
Jokowanengpati yang berjalan seenaknya, telah tiba di pantai Laut Selatan. Ia merasa aman dan gembira. Merasa tubuhnya lelah dan alangkah nikmatnya melepas lelah di pantai yang berpasir, menghadap ke selatan melihat ombak mengganas memecah di pantai. Angin laut sejuk bersih. Dadanya masih terasa sakit, bekas pukulan Wisangjiwo. Namun ia pereaya akan segera sembuh setelah ia beristirahat satu dua bulan. apalagi kalau kelak ia bertemu dengan Ni Nogogini, guru ilmu pukulan yang dipakai Wisangjiwo melukainya, tentu wanita sakti itu akan mampu menyembuhkannya dengan segera. Dan penyembuhan dengan cara bagaimana!
Jokowanengpati tertawa sendiri, tertawa bergelak mengingat akan hal itu. Betapapun juga, Ni Nogogini hanya umurnya saja yang tua, tubuh dan wajahnya sama sekali tidak tua! Bagaikan iblis, atau seorang yang miring otaknya, ia tertawa bergelak di antara suara ombak menderu.
"Iblis laknat! Tertawalah. sepuasmu selagi masih ada kesempatan terakhir!"
"Si keparat Jokowanengpati! Bersiaplah mampus di tanganku!"

Hampir Jokowanengpati tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Suara setankah itu yang terbawa angin bersama suara ombak menderu? Perlahan ia bangkit berdiri dan memutar tubuh. Ia menahan rasa terkejut dan cemas yang mencengkeram jantungnya ketika melihat dua orang wanita itu! Deru ombak yang tiada berkeputusan telah memenuhi telinganya sehingga ia tadi tidak mendengar kedatangan mereka. Kini Kartikosari, cantik jelita, dengan sikap tenang dan mata penuh benci, memandang kepadanya. Di sampingnya berdiri Roro Luhito, denok ayu, sikapnya mengancam, matanya yang jeli seperti memancarkan api yang hendak membakarnya. Angin laut membuat ujung kain dan rambut mereka berkibar-kibar, membuat mereka kelihatan seperti dua orang dewi laut yang cantik menarik menggirahkan. Akan tetapi pada saat itu, sama sekali tidak timbui gairah dalam hati Jokowanengpati. Ia maklum sedalamnya betapa kedua orang wanita ini membencinya, membenci sampai ke tulang sumsum, dan bahwa kedua wanita ini datang dengan hanya satu hasrat, yaitu membalas dendam dan membunuhnya! Namun, Jokowanengpati bukah seorang penakut, bukan pula bodoh. Biarpun ia tahu bahwa dua orang ini adalah wanita-wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ia telah tahu pula bahwa setelah menjadi murid si raja kera Resi Telomoyo kini ilmu kepandaian Roro Luhito sama sekali tidak boleh dipandang ringan, namun ia tidak memperlihatkan sikap takut. Malah ia segera tersenyum manis sambil memandang mereka,
"Duhai! Dewata Agung! Baru saja aku melamun, betapa akan senangnya di tempat seindah ini bertemu dengan orang-orang terkasih. Dan tanpa kusang-kusangka, kalian muncul di sini. Diajeng Kartikosari, engkau makin cantik jelita. Roro Luhito, kau makin manis merak ati!”
"Jananam keji, tutup mulutmu yang busuk!!" bentak Roro Luhito marah.
"Jokowanengpati, dosamu sudah bertumpuk. Kini tiba waktunya engkau menebus dosamu dengan nyawa!"
Kartikosari mengancam sambil menghunus keris, demikian pula Roro Luhito. Kedua orang wanita ini sudah siap menerjang, setiap urat dalam tubuh sudah menegang, nafsu membunuh membayang di mata. Namun Jokowanengpati masih tertawa. Setidaknya, aku harus membuat mereka ini gila oleh kemarahan lebih dulu, pikirnya. Dalam kemarahan meluap, gerakan akan menjadi kurang sempurna dan tenaga sakti akan banyak terbuang sia-sia.
"Ha-ha-ha, kedua adik yang manis. Mengapa mengancam? Mengapa kita harus bertempur? Kalian tidak akan menang. Sayang kalau sampai aku melukai kulit yang halus lunak itu, apalagi sampai membikin cacad wajah yang cantik. Aku amat sayang kepada kalian. Bukankah sudah kubuktikan kasih sayangku di dalam Guha Siluman dahulu, diajeng Kartikosari? Dan engkau, Roro Luhito, lupakah akan kasih sayangku di dalam kamarmu dahulu? Marilah kita berdamai saja, mari kalian ikut bersamaku, hidup mulia di dalam keraton Pangeran Anom, menjadi isteriku yang tercinta dan....... "
"Keparat busuk!"
"Iblis laknat!"

Dua orang wanita itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan mereka sudah menerjang maju. Jokowanengpati sudah memperhitungkan hal ini.

<<< Bagian 087                                                                                    Bagian 089 >>>

No comments:

Post a Comment