"Si keparat....... ! Manusia iblis.. ..... !!”
Bapak lurah
makin beringas, lari menyambar tombaknya dari kamar dan ia jelilatan
mencari-cari keluar masuk kelurahan. Namun bayangan tamunya itu tidak kelihatan
lagi. Akhirnya ia menangisi jenasah puterinya yang sudah diturunkan orang.
Jokowanengpati
berjalan seenaknya menuju ke selatan. Mulutnya tersenyum-senyum, hatinya
gembira. Ia bebas dari musuh-musuh besarnya yang berkumpul di kota raja.. Tiada
satupun yang ia takuti di daerah pantai selatan ini. Puteri pak lurah itu benar
manis tepat seperti dugaannya. Sungguh baik nasibnya. Kudanya mati di luar
kampung, kebetulan kepala kampung mengadakan pesta sehingga ia mendapat
hidangan sampai kenyang, mendapat tempat penginapan tanpa bayar, bahkan
mendapat kawan puteri pak lurah yang manis!. Teringat akan ini, ia tertawa
menyeringai. Terpaksa ia membunuh pengantin pria yang hendak melawan. Dan tadi
ia meninggalkan pengantin wanita, pengantinnya yang manis, dalam keadaan banjir
air mata. Jokowanengpati berjalan tidak tergesa-gesa. Perduli apa orang-orang
kampung itu. Kalau ada yang mengejarnyapun ia tidak takut. Masa depannya cerah.
Ia akan bersembunyi di daerah pantai ini, mengunjungi dusun-dusun yang kaya
akan gadis-gadis dusun yang manis-manis. Ia akan bersembunyi sambil menanti
sampai keadaan di kota raja beres, sampai tiba saatnya dan terbuka kesempatan
baginya untuk mengabdi kepada Pangeran Anom sehingga keselamatannya terlindung.
Kalau sudah bosan di daerah sunyi, kalau sudah tidak ada perawan dusun yang
menarik perhatiannya, ia akan menyusuri pantai ke timur, mencari Ni Nogogini.
Tuhan Maha Adil. Maha Kuasa. Kuasa memberkahi, kuasa pula menghukum. Perbuatan
terkutuk yang dilakukan Jokowanengpati di dusun, berarti penundaan pelariannya
sejak senja sampai pagi. Hal ini berarti pula bahwa pelariannya terlambat
sehingga memberi kesempatan kepada para pengejarnya untuk menebus kekalahan
waktu. Andaikata Jokowanengpati tidak berhenti di dusun dan terus melanjutkan
larinya dengan aji lari cepat, terus menyusuri pantai ke timur, tentu para
pengejarnya akan kehilangan jejak dan takkan dapat menyusulnya. Akan tetapi,
iblis telah menyelewengkannya ke dalam dusun itu, di mana ia melakukan
perbuatan keji dan terkutuk terhadap pengantin wanita sehingga mengakibatkan
tewasnya pengantin pria dan matinya pengantin wanita karena bunuh diri.
Tidak seperti
Jokowanengpati yang terus menekan dan memaksa kudanya sehingga mati kelelahan
di luar dusun, Kartikosari dan Roro Luhito yang melakukan pengejaran, selalu
berhenti memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk mengaso, makan rumput atau
minum air. Karena inilah maka mereka ketinggalan jauh oleh Jokowanengpati. Akan
tetapi dua orang wanita ini hanya berhenti untuk memberi kesempatan kuda mereka
mengaso saja, dan mereka menggunakan kesempatan ini pula untuk melepas lelah
sebentar. Setelah itu mereka berangkat lagi, tidak perduli panas terik siang
hari dan dingin gelap malam hari. Inilah sebabnya maka ketika Jokowanengpati
membuang waktu semalam untuk melakukan perbuatan terkutuk di kelurahan dusun
itu, dua orang wanita pengejar ini telah dapat menebus kekalahan waktu
ketinggalan.
Pada pagi itu,
ketika kelurahan geger karena peristiwa terkutuk akibat perbuatan
Jokowanengpati, Kartikosari dan Roro Luhito memasuki dusun itu. Mereka berdua
memasuki dusun dan berdebar hati mereka melihat bangkai kuda di luar dusun.
Besar dugaan mereka bahwa itulah kuda tunggangan Jokowanengpati, yang mati
karena kelelahan di luar dusun. Kalau begitu, agaknya si keparat itu berada
dalam dusun ini!
Akan tetapi
mereka melihat keadaan yang geger dan kacau. Orang-orang dusun itu lari ke sana
ke mari seperti orang mencari-cari, dengan mata jelilatan dan semua orang yang
berada di jalan membawa senjata. Dua orang wanita ini terus menjalankan kuda ke
arah pusat keributan, yaitu di depan rumah yang besar dan yang terhias seperti
ada perayaan di situ, dihias janur-janur kuning dan daun-daun waringin.
Kartikosari dan Roro Luhito lalu melompat turun dari atas kuda masing-masing,
siap hendak bertanya apa gerangan yang nerjadi, dan terutama sekali bertanya
kalau-kalau penduduk di situ ada yang melihat seorang laki-laki asing, yaitu
Jokowanengpati. Akan tetapi belum juga mereka membuka suara, tiba-tiba seorang
laki-laki setengah tua berlari keluar dari dalam rumah, tangannya memegang
sebatang tombak. Begitu melihat dua orang wanita ini, laki-laki setengah tua
itu segera membentak,
"Ini dia!
Ini tentu teman-teman si keparat dari kota raja! Mereka tentu bukan orang
baik-baik!"
Setelah
membentak demikian, serta-merta ia menerjang dengan tombaknya. Karena
Kartikosari berada di depan, maka wanita inilah yang langsung mendapat serangan
bapak lurah, laki-laki setengah tua itu.
"Eh-eh,
sabar dulu, paman. Apakah yang terjadi?" seru Kartikosari sambil mengelak.
Àkàn tetapi,
melihat betapa wanita itu dengan mudah mengelak serangan tombaknya, bapak lurah
makin curiga dan segera berseru,
"Saudara-saudara,
kepung mereka berdua inil Tentu mereka ini teman-teman si keparat itul"
Mendapat
komando ini, orang-orang kampung segera mengepung dengan sikap mengancam.
Melihat keadaan yang tidak baik ini, Roro Luhito yang cerdik berlaku sigap. Ia
sudah meloncat maju ke arah bapak lurah yang kembali sudah menusukkan
tombaknya. Roro Luhito tidak mengelak seperti Kartikosari tadi, melainkan ia
miringkan tubuh sambil menyambar gagang tombak dan sekali betot ia sudah
merampas tombak, mematahkannya menjadi dua kemudian sekali tangannya menjambak,
ia sudah mencengkeram pundak bapak lurah. Pàk lurah meringis kesakitan.
Pundaknya seperti dicengkeram kaitan baja serasa akan remuk tulang pundaknya.
"Jangan
main gila !" bentak Roro Luhito.
"Hayo
semua mundur, kalau tidak, aku akan menggunakan orang tua ini sebagai senjata
melawan kalian!"
Berkata
demikian, begitu kedua tangannya bergerak, benar saja, tubuh pàk lurah sudah ia
putar-putar di atas kepala seperti kitiran angin! Tentu saja pàk lurah menjadi
ketakutan dan berkaok-kaok, dan semua penduduk kampung melangkah mundur dengan
muka jerih. Roro Luhito menurunkan lagi pàk lurah yang ketakutan itu, lalu
menghardik,
"Hayo
katakan! Àpà artinya semua ini? Kami berdua adalah orang baik-baik, mengapa
baru saja datang hendak kalian keroyok dan bunuh?"
Saking
takutnya, pàk lurah sampai sukar mengeluarkan kata-kata. Ia tetap menduga bahwa
dua orang wanita yang sakti ini tentulah sahabat laki-laki keji yang telah
menyebar maut di rumahnya. Bagaimana ia dapat menuturkan peristiwa itu dan
memburukkan nama laki-laki keparat itu?. Namun Kartikosari sudah tertarik akan
perintah-perintah pàk lurah tadi. la melangkah maju dan bertanya, suaranya
tidak segalak Roro Luhito.
"Paman,
kau tadi bilang bahwa kami tentu teman-teman si keparat. Siapakah si keparat
itu? Apakah ia seorang laki-laki berusia tiga puluh enam tahun, pakaiannya
seperti perwira kerajaan, wajahnya tampan dan sikapnya gagah, datangnya ke
kampung ini menunggang kuda?"
Makin jerih
muka pàk lurah.
"Beb.......
betul sekali....... !”
Kartikosari
dan Roro Luhito terkejut dan girang sekali.
"Bagus!
Kami datang untuk mencarinya, memang. Akan tetapi sama sekali bukan teman,
bahkan musuh. Kami mengejar dan hendak membunuhnya. Àpa yang terjadi di sini?
Di mana dia sekarang?"
Mendengar ini,
pak lurah tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis! Juga
para penduduk lenyap sikapnya bermusuhan, kini mendengar dan duduk di atas
tanah mengelilingi mereka. Roro Luhito dan Kartikosari saling pandang,
mengerutkan kening. Perbuatan laknat apa lagi yang dilakukan Jokowanengpati di
sini?
"Sudahlah,
jangan menangis seperti anak kecil!" Roro Luhito membentak, habis
kesabarannya.
"Lebih
baik lekas ceritakan!"
Dengan suara
terputus-putus pak lurah bercerita tentang peristiwa semalam sambil menangis.
Tentu saja dua orang wanita itu menjadi marah bukan main, dan makin besar nafsu
untuk dapat segera bectemu muka dan membalas dendam kepada laki-laki jahat dan
keji itu.
"Di mana
dia sekarang, paman? Mana keparat itu?" bentak Roro Luhito, suaranya
nyaring, sikapnya mengancam, giginya berkerot.
"Dia
sudah lari....... pagi tadi, entah ke mana....... !!”
Begitu
mendengar jawaban ini, seperti diberi komando saja, Kartikosari dan Roro Luhito
lari dan melompat ke atas kuda mereka, lalu membalapkan kuda keluar dari dusun
itu, melakukan pengejaran. Mereka tadi memasuki kampung dari utara, maka
agaknya si keparat Jokowanengpati itu tentu lari terus ke selatan, melanjutkan
pelariannya, pikir mereka. Membalapkan kuda mereka keluar dari dusun ke jurusan
selatan.
Jokowanengpati
yang berjalan seenaknya, telah tiba di pantai Laut Selatan. Ia merasa aman dan
gembira. Merasa tubuhnya lelah dan alangkah nikmatnya melepas lelah di pantai
yang berpasir, menghadap ke selatan melihat ombak mengganas memecah di pantai.
Angin laut sejuk bersih. Dadanya masih terasa sakit, bekas pukulan Wisangjiwo.
Namun ia pereaya akan segera sembuh setelah ia beristirahat satu dua bulan.
apalagi kalau kelak ia bertemu dengan Ni Nogogini, guru ilmu pukulan yang
dipakai Wisangjiwo melukainya, tentu wanita sakti itu akan mampu
menyembuhkannya dengan segera. Dan penyembuhan dengan cara bagaimana!
Jokowanengpati
tertawa sendiri, tertawa bergelak mengingat akan hal itu. Betapapun juga, Ni
Nogogini hanya umurnya saja yang tua, tubuh dan wajahnya sama sekali tidak tua!
Bagaikan iblis, atau seorang yang miring otaknya, ia tertawa bergelak di antara
suara ombak menderu.
"Iblis
laknat! Tertawalah. sepuasmu selagi masih ada kesempatan terakhir!"
"Si
keparat Jokowanengpati! Bersiaplah mampus di tanganku!"
Hampir
Jokowanengpati tidak percaya akan pendengarannya sendiri. Suara setankah itu
yang terbawa angin bersama suara ombak menderu? Perlahan ia bangkit berdiri dan
memutar tubuh. Ia menahan rasa terkejut dan cemas yang mencengkeram jantungnya
ketika melihat dua orang wanita itu! Deru ombak yang tiada berkeputusan telah
memenuhi telinganya sehingga ia tadi tidak mendengar kedatangan mereka. Kini
Kartikosari, cantik jelita, dengan sikap tenang dan mata penuh benci, memandang
kepadanya. Di sampingnya berdiri Roro Luhito, denok ayu, sikapnya mengancam,
matanya yang jeli seperti memancarkan api yang hendak membakarnya. Angin laut
membuat ujung kain dan rambut mereka berkibar-kibar, membuat mereka kelihatan
seperti dua orang dewi laut yang cantik menarik menggirahkan. Akan tetapi pada
saat itu, sama sekali tidak timbui gairah dalam hati Jokowanengpati. Ia maklum
sedalamnya betapa kedua orang wanita ini membencinya, membenci sampai ke tulang
sumsum, dan bahwa kedua wanita ini datang dengan hanya satu hasrat, yaitu
membalas dendam dan membunuhnya! Namun, Jokowanengpati bukah seorang penakut,
bukan pula bodoh. Biarpun ia tahu bahwa dua orang ini adalah wanita-wanita yang
memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan ia telah tahu pula bahwa setelah
menjadi murid si raja kera Resi Telomoyo kini ilmu kepandaian Roro Luhito sama
sekali tidak boleh dipandang ringan, namun ia tidak memperlihatkan sikap takut.
Malah ia segera tersenyum manis sambil memandang mereka,
"Duhai!
Dewata Agung! Baru saja aku melamun, betapa akan senangnya di tempat seindah
ini bertemu dengan orang-orang terkasih. Dan tanpa kusang-kusangka, kalian
muncul di sini. Diajeng Kartikosari, engkau makin cantik jelita. Roro Luhito,
kau makin manis merak ati!”
"Jananam
keji, tutup mulutmu yang busuk!!" bentak Roro Luhito marah.
"Jokowanengpati,
dosamu sudah bertumpuk. Kini tiba waktunya engkau menebus dosamu dengan nyawa!"
Kartikosari
mengancam sambil menghunus keris, demikian pula Roro Luhito. Kedua orang wanita
ini sudah siap menerjang, setiap urat dalam tubuh sudah menegang, nafsu
membunuh membayang di mata. Namun Jokowanengpati masih tertawa. Setidaknya, aku
harus membuat mereka ini gila oleh kemarahan lebih dulu, pikirnya. Dalam
kemarahan meluap, gerakan akan menjadi kurang sempurna dan tenaga sakti akan
banyak terbuang sia-sia.
"Ha-ha-ha,
kedua adik yang manis. Mengapa mengancam? Mengapa kita harus bertempur? Kalian tidak
akan menang. Sayang kalau sampai aku melukai kulit yang halus lunak itu,
apalagi sampai membikin cacad wajah yang cantik. Aku amat sayang kepada kalian.
Bukankah sudah kubuktikan kasih sayangku di dalam Guha Siluman dahulu, diajeng
Kartikosari? Dan engkau, Roro Luhito, lupakah akan kasih sayangku di dalam
kamarmu dahulu? Marilah kita berdamai saja, mari kalian ikut bersamaku, hidup
mulia di dalam keraton Pangeran Anom, menjadi isteriku yang tercinta dan.......
"
"Keparat
busuk!"
"Iblis
laknat!"
Dua orang
wanita itu sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan mereka sudah menerjang
maju. Jokowanengpati sudah memperhitungkan hal ini.
No comments:
Post a Comment