Badai Laut Selatan ; Bagian 089


Cepat ia mengelak dan membalas dengan pukulan dan tendangan, kemudian iapun mencabut kerisnya ketika melihat betapa sepak terjang kedua orang lawannya itu amat hebat. Ketika melihat keris Kartikosari meluncur cepat menuju lambung, ia menggeser tubuh ke kanan lalu membalas dari samping dengan luncuran kerisnya mengarah leher kiri Kartikosari. Wanita perkasa ini menggunakan tangan kirinya menyabet dengan cengkeraman ke arah siku kanan lawan sambil mengelak dan sambaran kaki Jokowanengpati yang menendang sebagai lanjutan serangannya ia elakkan dengan loncatan menyamping. Pada saat itu, Roro Luhito dengan gerakan secepat kilat sudah pula datang menyerang dengan tusukan keris diarahkan ke dada lawan. Ketika Jokowanengpati menangkis dengan kerisnya pula, dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Roro Luhito menarik kembali kerisnya dengan gerakan yang sedemikian cepat dan tak tersangka-sangka, kini dengan tangan kirinya menampar dari samping dan kaki kanannya menendang ke arah pusar. Benar-benar serangan yang hebat dan cepat tak tersangka-sangka! Apalagi pada saat itu Kartikosari sudah menerjang lagi dengan tusukan keris dari belakang disusul dengan hantaman tangan kiri dengan pukulan Gelap Musti yang ampuh. Jokowanengpati benar-benar terdesak. Ia sudah menangkis Kartikosari dan mengelak dari terjangan lain, namun dia kurang cepat dan sambaran tangan kiri Roro Luhito masih berhasil menyerempet pundak kanannya, membuat ia terhuyung-huyung ke belakang. Tamparan Roro Luhito memang tidaklah begitu hebat bagi tubuhnya yang kebal, akan tetapi karena dadanya masih menderita luka dalam, tamparan itu terasa juga. Baiknya ia cepat menggerakkan kerisnya dengan Ilmu Jonggring Saloko sehingga ujung keris di tangannya berubah menjadi belasan banyaknya, membuat dua orang lawannya tidak berani sembrono menerjang terlalu dekat. Pertandingan itu makin lama makin seru dan mati-matian. Namun makin lama makin berat terasa oleh Jokowanengpati. Kartikosari hebat bukan main. Tiap kali keris mereka beradu, biarpun ia telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja ia merasa betapa tangannya tergetar saking hebatnya pertemuan itu, tanda bahwa Kartikosari kini memiliki tenaga dalam yang hebat! Roro Luhito tidaklah memiliki tenaga dalam yang terlalu besar, akan tetapi wanita ini cerdik bukan main dan memiliki gerakan yang tangkas dan aneh. Tak pernah Roro Luhito mau mengadu senjata dan selalu menarik kerisnya tiap kali ditangkis, untuk disusul dengan terjangan-terjangan yang aneh dan cepat.

Ketika merasa bahwa dadanya makin lama makin sakit karena ia harus mengerahkan tenaga dalam, Jokowanengpati maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, akhirnya ia tentu roboh. Maka mulailah ia mencari kesempatan untuk lari. Ia mulai melakukan perlawanan sambil menjauhkan diri. Setiap kali ada kesempatan, ia meloncat jauh, akan tetapi celaka baginya, kedua wanita itu dalam hal kecepatan, tidak kalah olehnya. Andaikata ia tidak terluka di dalam dadanya, tentu ia dapat menggunakan Aji Bayu Sakti yang sampai saat itu merupakan aji keringanan tubuh yang tak terkalahkan, untuk melarikan diri. Akan tetapi, dengan luka dalam di dadanya, ia tidak mampu menggunakan Aji Bayu Sakti sepenuhnya, dan karena kedua wanita itupun memiliki aji meringankan tubuh yang hebat, terutama sekali Roro Luhito, sukar baginya untuk dapat melarikan diri daripada kepungan mereka. Cara yang dipergunakan Jokowanengpati untuk bertanding sambil berlompatan menjauh ini membuat tempat pertandingan berpindah-pindah. Makin lama karena loncatan-loncatan untuk berusaha lari ini, mereka bertempur tidak di atas pasir di pantai lagi melainkan berloncatan ke atas batu karang, makin lama makin tinggi sehingga akhirnya mereka bertanding di tebing karang yang curam!

Jokowanengpati yang makin terdesak itu tiba-tiba menjadi nekat. la menggunakan kesempatan ketika Kartikosari terhuyung ke belakang oleh tangkisan kerisnya yang kuat, menggunakan kecepatan menerjang Roro Luhito yang lebih lemah kalau dibandingkan Kartikosari.
"Heeeiiit! Mampuslah!" la membentak, kerisnya menusuk dada, tangan kiri menggempur kepala!
Roro Luhito tidak menjadi gentar. Setelah ia menguasai ilmu Kapi Dibyo, ia memiliki gerakan otomatis yang amat gesit. Menghadapi terjangan ini, ia dapat membuang tubuh kebelakang, berjungkir balik cepat sekali dan di lain saat ia malah menyerang lawan dari kiri dengan tusukan cepat. Girang hati Roro Luhito melihat bahwa dalam keadaan posisi tubuh miring, Jokowanengpati kurang cepat bergerak sehingga keris yang ditusukkannya itu agaknya akan berhasil kali ini!. Akan tetapi, siapa kira, kelambatan Jokowanengpati itu adalah pancingan belaka. Memang harus diakui bahwa dalam hal pertandingan, Jokowanengpati jauh lebih berpengalaman dan merripunyai banyak siasat licik. Bcgitu keris sudah dekat perutnya, tiba-tiba Jokowanengpati menggerakkan kerisnya dari atas ke bawah, menangkis disertai tenaga dalam sekuatnya.
"Cringgg...... !!”
"Aiiihhh!" Roro Luhito menjerit kaget ketika merasa tangannya sakit dan lumpuh sehingga keris yang dipegangnya terlepas, terlempar ke bawah tebing, masuk laut! Cepat ia menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi lawan. Pada saat itu, melihat keadaan Roro Luhito, Kartikosari marah sekali. Ia menerjang dengan cepat dan dahsyat. Padahal saat itu, Jokowanengpati baru saja menangkis keris Roro Luhito dan tubuhnya masih setengah berputar. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menangkis tusukan hebat itu dengan pengerahan tenaga dalam tanpa memperdulikan dadanya yang terasa sakit sekali.
"Trakkkl!"
Dua batang keris yang bertemu dengan tenaga dalam yang dahsyat itu menjadi patah! Dua batang keris itu adalah keris pusaka yang terbuat dari wesi aji (besi mulia) pilihan; Namun karena digetarkan oleh tenaga sakti, tidak dapat menahan dan patah-patah. Jokowanengpati menyumpah dan melempar gagang kerisnya. Juga Kartikosari membuang gagang kerisnya. Pertandingan dilanjutkan dengan tangan kosong.
"Kucekik lehermu" Jokowanengpati mendesis marah, matanya sudah merah dan mukanya penuh keringat, bukan hanya keringat lelah, melainkan lebih banyak keringat menahan sakit pada dadanya.
"Maut sudah di depan mata masih banyak lagak!"
Roro Luhito berseru dan tiba-tiba wanita ini menerjang maju dengan kedua kaki tangan bergerak sekaligus! Serangan ini adalah bagian dari Aji Sosro Satwo, mirip dengan serangan seekor garuda yang menggunakan sepasang kaki. Kartikosari juga tidak mau ketinggalan, menyerbu dengan dahsyat didorong kebencian yang mendalam.
Jokowanengpati berusaha mengelak, namun tetap saja pundaknya terkena hantaman tungkak kaki Roro Luhito. Tungkak yang berkulit halus berwarna kemerahan, lunak dan hangat. Akan tetapi karena dipergunakan untuk mendugang dan disertai tenaga keras, membuat tulang pundak serasa remuk! Jokowanengpati menggulingkan tubuhnya, akan tetapi begitu ia meloncat bangun, ia sudah menghadapi serbuan yang lebih hebat lagi!.
Diam-diam ia mengeluh. Dua orang wanita ini tanpa senjata malah lebih hebat! Ia sudah berusaha membalas dengan pukulan yang tidak kepalang tanggung, yaitu dengan Aji Siyung Warak yang apabila mengenai sasaran tentu akan meremukkan kepala memecahkan rongga dada. Namun kedua lawannya amat gesit dan saling bantu, sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya. Ia dapat membayangkan betapa sangat ngeri nasibnya apabila roboh di tangan kedua wanita ini. Masih lebih ringan jatuh ke tangan dua ekor harimau betina daripada terjatuh ke tangan dua orang wanita yang mabok dendam sakit hati! Apalagi ketika ia mendengar seruan-seruan mereka yang agaknya sudah membayangkan kemenangan, jantungnya serasa beku.
"Tangkap hidup-hidup, jeng ! Akan kubeset kulitnya, kuminum darahnya!" teriak Kartikosari.
"Baik, mbokayu! Akupun hendak melihat bagaimana macam jantungnya!" teriak pula Roro Luhito.
Jokowanengpati merasa serem dan hal ini membuat gerakannya agak lamban sehingga sebuah pukulan Kartikosari berhasil "masuk" dan menghantam perutnya.
"Ngekkk!"
Pukulan yang keras sekali dan biarpun Jokowanengpati sudah mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, tetap saja ia merasa seakan-akan isi perutnya berantakan di dalam dan dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.
"Aduh, mati aku....... !” teriaknya.

Untung ia masih sempat menghindarkan tendangan kaki Roro Luhito yang menyambar ke arah pusarnya, lalu menangkis pukulan ke dua Kartikosari yang melayang ke arah dadanya. Kalau tendangan atau pukulan ini mengenai sasaran, tentu ia akan roboh. Sepasang mata Jokowanengpati jelilatan. Ia sudah putus harapan untuk melawan lebih lama lagi. Sudah tidak kuat. Matanya mencari-cari, akan tetapi sudah tidak ada batu atau senjata lain di atas karang itu. Ia melirik ke belakang. Tebing tinggi dan laut bergelombang. Laut! Jalan keluar satu-satunya dari ancaman maut mengerikan di tangan dua orang musuhnya. Tiba-tiba, sebelum dua orang lawannya sempat mencegah, ia sudah meloncat ke belakang dan dengan tiga kali berjungkir balik terus ke belakang, akhirnya tubuhnya melayang ke bawah tebing batu karang besar dan......
"byuuurrr...... !”
Tidak berapa tinggi air muncrat ketika tubuhnya terbanting ke air, karena ombak Laut Selatan yang mulai membesar itu telah mulai menelannya. Kartikosari dan Roro Luhito cepat lari ke pinggir tebing batu karang dan mencari-cari dengan pandang mata mereka. Hati mereka kecewa sekali.
"Ahh, celaka, dia berhasil lolos......" Kartikosari membanting-banting kakinya dengan penuh sesal.
"Tidak mungkin ! Biar kita ikuti dia, kemanapun dia mendarat, kita akan siap memberi hajaran. Binatang itu kali ini harus mampus di tangan kita!" kata Roro Luhito.

Mereka mencari terus dengan pandang mata mereka. Ombak yang memecah di batu karang, berbeda dengan ombak yang menepis di pantai pasir. Air laut dipukul-pukulkan pada batu karang menciptakan busa membuih putih sehingga menyilaukan mata dan agak sukar mencari tubuh Jokowanengpati di antara buih putih menyilaukan. Sinar matahari yang terik membuat air laut berkilauan seperti kaca.
"Itu dia...... !!”
Tiba-tiba Roro Luhito bersorak dan menudingkan telunjuknya ke laut. Kartikosari cepat memandang dan benar saja, ia melihat Jokowanengpati menggerak-gerakkan tangannya, berenang agak tengah, sudah lewat ombak. Jelas tampak Jokowanengpati melambai-larnbaikan tangannya dengan sikap mengejek, bahkan terdengar suara ketawanya menggema terbawa angin!.
"Binatang! la dapat berenang ke tengah. Celaka sekali, kalau ia menyelam, sukar mencegat dia mendarat!” Kartikosari berkata dengan suara menyesal sekali.
"Tempat ini tinggi, tentu akan kelihatan ke mana dia mendarat. Kurasa ia takkan kuat bertahan sampai malam nanti di tengah laut."
"Belum tentu! Dia tentu saja tidaklah begitu bodoh, diajeng. Bagaimana kalau dia tidak mau mendarat sebelum hari menjadi gelap? Aku akan mengejarnyal Di lautpun aku tidak takut, dia harus mati di tanganku!" Berkata demikian, Kartikosari melangkah ke bagian yang paling rendah untuk melompat ke laut dan mengejar musuh besarnya.
"Mbokayu......., jangan...... !" Roro Luhito memegang lengan Kartikosari, wajahnya tampak ketakutan.
Kartikosari menoleh kepadanya dan mengerutkan kening.
"Kau kenapakah, jeng? Takutkah engkau ??" Suaranya penuh ketidak percayaan.
Akan tetapi Roro Luhito mengangguk!
"Aku....... aku takut, aku....... aku selamanya tidak pernah berenang, apalagi di laut...... !”
Kartikosari mengangguk-angguk. Tentu saja, ia sampai lupa. Dia sendiri adalah seorang wanita yang tidak asing dengan laut, bahkan semenjak kecil ia tinggal di tepi laut, pandai berenang dan selama bersembunyi di Karang Racuk ia telah memperdalam ilmunya, termasuk ilmu bermain dalam air laut. Akan tetapi bagi Roro Luhito yang berenangpun tidak pandai, tentu saja tak mungkin dapat mengejar Jokowanengpati.
"Engkau lihatlah saja dari sini, diajeng. Biar aku sendiri yang mengejarnya dan menyeretnya ke darat. Dia agaknya sudah terluka."
"Jangan...... , berbahaya sekali. Andaikata kali ini tidak berhasil kita menewaskannya, masih banyak waktu dan kita selalu akan mencari dan mengejarnya, mbokayu. Lihat, dia masih segar-bugar dan nampaknya ia pandai sekali bermain di air. Kalau engkau mengejar kemudian kalah dan bahkan tewas olehnya di air, lalu bagaimana?" Roro Luhito memegang lengan Kartikosari erat-erat, tidak mau melepaskan lagi.
Memang betul kata-kata Roro Luhito dan diam-diam Kartikosari mulai merasa sangsi apakah ia benar-benar akan dapat menangkan Jokowanengpati di air. Orang itu kini berenang mendekat, berenang dengan gerakan mahir, ketika akan dekat lalu melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Mari, kekasihku berdua.......! Marilah ikut kakangmas Jokowanengpati bermain di air! Ha-ha-ha-ha! Apakah kalian takut, manis? Biar lah kugendong, seorang sebelah, ha-ha-ha!!”

<<< Bagian 088                                                                                   Bagian 090 >>>

No comments:

Post a Comment