Cepat ia mengelak dan membalas dengan pukulan dan tendangan, kemudian iapun mencabut kerisnya ketika melihat betapa sepak terjang kedua orang lawannya itu amat hebat. Ketika melihat keris Kartikosari meluncur cepat menuju lambung, ia menggeser tubuh ke kanan lalu membalas dari samping dengan luncuran kerisnya mengarah leher kiri Kartikosari. Wanita perkasa ini menggunakan tangan kirinya menyabet dengan cengkeraman ke arah siku kanan lawan sambil mengelak dan sambaran kaki Jokowanengpati yang menendang sebagai lanjutan serangannya ia elakkan dengan loncatan menyamping. Pada saat itu, Roro Luhito dengan gerakan secepat kilat sudah pula datang menyerang dengan tusukan keris diarahkan ke dada lawan. Ketika Jokowanengpati menangkis dengan kerisnya pula, dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, Roro Luhito menarik kembali kerisnya dengan gerakan yang sedemikian cepat dan tak tersangka-sangka, kini dengan tangan kirinya menampar dari samping dan kaki kanannya menendang ke arah pusar. Benar-benar serangan yang hebat dan cepat tak tersangka-sangka! Apalagi pada saat itu Kartikosari sudah menerjang lagi dengan tusukan keris dari belakang disusul dengan hantaman tangan kiri dengan pukulan Gelap Musti yang ampuh. Jokowanengpati benar-benar terdesak. Ia sudah menangkis Kartikosari dan mengelak dari terjangan lain, namun dia kurang cepat dan sambaran tangan kiri Roro Luhito masih berhasil menyerempet pundak kanannya, membuat ia terhuyung-huyung ke belakang. Tamparan Roro Luhito memang tidaklah begitu hebat bagi tubuhnya yang kebal, akan tetapi karena dadanya masih menderita luka dalam, tamparan itu terasa juga. Baiknya ia cepat menggerakkan kerisnya dengan Ilmu Jonggring Saloko sehingga ujung keris di tangannya berubah menjadi belasan banyaknya, membuat dua orang lawannya tidak berani sembrono menerjang terlalu dekat. Pertandingan itu makin lama makin seru dan mati-matian. Namun makin lama makin berat terasa oleh Jokowanengpati. Kartikosari hebat bukan main. Tiap kali keris mereka beradu, biarpun ia telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja ia merasa betapa tangannya tergetar saking hebatnya pertemuan itu, tanda bahwa Kartikosari kini memiliki tenaga dalam yang hebat! Roro Luhito tidaklah memiliki tenaga dalam yang terlalu besar, akan tetapi wanita ini cerdik bukan main dan memiliki gerakan yang tangkas dan aneh. Tak pernah Roro Luhito mau mengadu senjata dan selalu menarik kerisnya tiap kali ditangkis, untuk disusul dengan terjangan-terjangan yang aneh dan cepat.
Ketika merasa
bahwa dadanya makin lama makin sakit karena ia harus mengerahkan tenaga dalam,
Jokowanengpati maklum bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, akhirnya ia tentu
roboh. Maka mulailah ia mencari kesempatan untuk lari. Ia mulai melakukan
perlawanan sambil menjauhkan diri. Setiap kali ada kesempatan, ia meloncat
jauh, akan tetapi celaka baginya, kedua wanita itu dalam hal kecepatan, tidak
kalah olehnya. Andaikata ia tidak terluka di dalam dadanya, tentu ia dapat
menggunakan Aji Bayu Sakti yang sampai saat itu merupakan aji keringanan tubuh
yang tak terkalahkan, untuk melarikan diri. Akan tetapi, dengan luka dalam di
dadanya, ia tidak mampu menggunakan Aji Bayu Sakti sepenuhnya, dan karena kedua
wanita itupun memiliki aji meringankan tubuh yang hebat, terutama sekali Roro
Luhito, sukar baginya untuk dapat melarikan diri daripada kepungan mereka. Cara
yang dipergunakan Jokowanengpati untuk bertanding sambil berlompatan menjauh
ini membuat tempat pertandingan berpindah-pindah. Makin lama karena
loncatan-loncatan untuk berusaha lari ini, mereka bertempur tidak di atas pasir
di pantai lagi melainkan berloncatan ke atas batu karang, makin lama makin
tinggi sehingga akhirnya mereka bertanding di tebing karang yang curam!
Jokowanengpati
yang makin terdesak itu tiba-tiba menjadi nekat. la menggunakan kesempatan
ketika Kartikosari terhuyung ke belakang oleh tangkisan kerisnya yang kuat,
menggunakan kecepatan menerjang Roro Luhito yang lebih lemah kalau dibandingkan
Kartikosari.
"Heeeiiit!
Mampuslah!" la membentak, kerisnya menusuk dada, tangan kiri menggempur
kepala!
Roro Luhito
tidak menjadi gentar. Setelah ia menguasai ilmu Kapi Dibyo, ia memiliki gerakan
otomatis yang amat gesit. Menghadapi terjangan ini, ia dapat membuang tubuh
kebelakang, berjungkir balik cepat sekali dan di lain saat ia malah menyerang
lawan dari kiri dengan tusukan cepat. Girang hati Roro Luhito melihat bahwa
dalam keadaan posisi tubuh miring, Jokowanengpati kurang cepat bergerak
sehingga keris yang ditusukkannya itu agaknya akan berhasil kali ini!. Akan tetapi,
siapa kira, kelambatan Jokowanengpati itu adalah pancingan belaka. Memang harus
diakui bahwa dalam hal pertandingan, Jokowanengpati jauh lebih berpengalaman
dan merripunyai banyak siasat licik. Bcgitu keris sudah dekat perutnya,
tiba-tiba Jokowanengpati menggerakkan kerisnya dari atas ke bawah, menangkis
disertai tenaga dalam sekuatnya.
"Cringgg......
!!”
"Aiiihhh!"
Roro Luhito menjerit kaget ketika merasa tangannya sakit dan lumpuh sehingga
keris yang dipegangnya terlepas, terlempar ke bawah tebing, masuk laut! Cepat
ia menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi lawan. Pada saat itu, melihat
keadaan Roro Luhito, Kartikosari marah sekali. Ia menerjang dengan cepat dan
dahsyat. Padahal saat itu, Jokowanengpati baru saja menangkis keris Roro Luhito
dan tubuhnya masih setengah berputar. Tidak ada jalan lain baginya kecuali
menangkis tusukan hebat itu dengan pengerahan tenaga dalam tanpa memperdulikan
dadanya yang terasa sakit sekali.
"Trakkkl!"
Dua batang
keris yang bertemu dengan tenaga dalam yang dahsyat itu menjadi patah! Dua
batang keris itu adalah keris pusaka yang terbuat dari wesi aji (besi mulia)
pilihan; Namun karena digetarkan oleh tenaga sakti, tidak dapat menahan dan
patah-patah. Jokowanengpati menyumpah dan melempar gagang kerisnya. Juga
Kartikosari membuang gagang kerisnya. Pertandingan dilanjutkan dengan tangan
kosong.
"Kucekik
lehermu" Jokowanengpati mendesis marah, matanya sudah merah dan mukanya
penuh keringat, bukan hanya keringat lelah, melainkan lebih banyak keringat
menahan sakit pada dadanya.
"Maut
sudah di depan mata masih banyak lagak!"
Roro Luhito
berseru dan tiba-tiba wanita ini menerjang maju dengan kedua kaki tangan
bergerak sekaligus! Serangan ini adalah bagian dari Aji Sosro Satwo, mirip
dengan serangan seekor garuda yang menggunakan sepasang kaki. Kartikosari juga
tidak mau ketinggalan, menyerbu dengan dahsyat didorong kebencian yang
mendalam.
Jokowanengpati
berusaha mengelak, namun tetap saja pundaknya terkena hantaman tungkak kaki
Roro Luhito. Tungkak yang berkulit halus berwarna kemerahan, lunak dan hangat.
Akan tetapi karena dipergunakan untuk mendugang dan disertai tenaga keras,
membuat tulang pundak serasa remuk! Jokowanengpati menggulingkan tubuhnya, akan
tetapi begitu ia meloncat bangun, ia sudah menghadapi serbuan yang lebih hebat
lagi!.
Diam-diam ia
mengeluh. Dua orang wanita ini tanpa senjata malah lebih hebat! Ia sudah
berusaha membalas dengan pukulan yang tidak kepalang tanggung, yaitu dengan Aji
Siyung Warak yang apabila mengenai sasaran tentu akan meremukkan kepala memecahkan
rongga dada. Namun kedua lawannya amat gesit dan saling bantu, sama sekali
tidak memberi kesempatan kepadanya. Ia dapat membayangkan betapa sangat ngeri
nasibnya apabila roboh di tangan kedua wanita ini. Masih lebih ringan jatuh ke
tangan dua ekor harimau betina daripada terjatuh ke tangan dua orang wanita
yang mabok dendam sakit hati! Apalagi ketika ia mendengar seruan-seruan mereka
yang agaknya sudah membayangkan kemenangan, jantungnya serasa beku.
"Tangkap
hidup-hidup, jeng ! Akan kubeset kulitnya, kuminum darahnya!" teriak
Kartikosari.
"Baik,
mbokayu! Akupun hendak melihat bagaimana macam jantungnya!" teriak pula
Roro Luhito.
Jokowanengpati
merasa serem dan hal ini membuat gerakannya agak lamban sehingga sebuah pukulan
Kartikosari berhasil "masuk" dan menghantam perutnya.
"Ngekkk!"
Pukulan yang
keras sekali dan biarpun Jokowanengpati sudah mengerahkan tenaga dalam untuk
melawan, tetap saja ia merasa seakan-akan isi perutnya berantakan di dalam dan
dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.
"Aduh,
mati aku....... !” teriaknya.
Untung ia
masih sempat menghindarkan tendangan kaki Roro Luhito yang menyambar ke arah
pusarnya, lalu menangkis pukulan ke dua Kartikosari yang melayang ke arah
dadanya. Kalau tendangan atau pukulan ini mengenai sasaran, tentu ia akan
roboh. Sepasang mata Jokowanengpati jelilatan. Ia sudah putus harapan untuk
melawan lebih lama lagi. Sudah tidak kuat. Matanya mencari-cari, akan tetapi
sudah tidak ada batu atau senjata lain di atas karang itu. Ia melirik ke
belakang. Tebing tinggi dan laut bergelombang. Laut! Jalan keluar satu-satunya
dari ancaman maut mengerikan di tangan dua orang musuhnya. Tiba-tiba, sebelum
dua orang lawannya sempat mencegah, ia sudah meloncat ke belakang dan dengan
tiga kali berjungkir balik terus ke belakang, akhirnya tubuhnya melayang ke
bawah tebing batu karang besar dan......
"byuuurrr......
!”
Tidak berapa
tinggi air muncrat ketika tubuhnya terbanting ke air, karena ombak Laut Selatan
yang mulai membesar itu telah mulai menelannya. Kartikosari dan Roro Luhito
cepat lari ke pinggir tebing batu karang dan mencari-cari dengan pandang mata
mereka. Hati mereka kecewa sekali.
"Ahh,
celaka, dia berhasil lolos......" Kartikosari membanting-banting kakinya
dengan penuh sesal.
"Tidak
mungkin ! Biar kita ikuti dia, kemanapun dia mendarat, kita akan siap memberi
hajaran. Binatang itu kali ini harus mampus di tangan kita!" kata Roro
Luhito.
Mereka mencari
terus dengan pandang mata mereka. Ombak yang memecah di batu karang, berbeda
dengan ombak yang menepis di pantai pasir. Air laut dipukul-pukulkan pada batu
karang menciptakan busa membuih putih sehingga menyilaukan mata dan agak sukar
mencari tubuh Jokowanengpati di antara buih putih menyilaukan. Sinar matahari
yang terik membuat air laut berkilauan seperti kaca.
"Itu
dia...... !!”
Tiba-tiba Roro
Luhito bersorak dan menudingkan telunjuknya ke laut. Kartikosari cepat
memandang dan benar saja, ia melihat Jokowanengpati menggerak-gerakkan
tangannya, berenang agak tengah, sudah lewat ombak. Jelas tampak Jokowanengpati
melambai-larnbaikan tangannya dengan sikap mengejek, bahkan terdengar suara
ketawanya menggema terbawa angin!.
"Binatang!
la dapat berenang ke tengah. Celaka sekali, kalau ia menyelam, sukar mencegat
dia mendarat!” Kartikosari berkata dengan suara menyesal sekali.
"Tempat
ini tinggi, tentu akan kelihatan ke mana dia mendarat. Kurasa ia takkan kuat
bertahan sampai malam nanti di tengah laut."
"Belum
tentu! Dia tentu saja tidaklah begitu bodoh, diajeng. Bagaimana kalau dia tidak
mau mendarat sebelum hari menjadi gelap? Aku akan mengejarnyal Di lautpun aku
tidak takut, dia harus mati di tanganku!" Berkata demikian, Kartikosari
melangkah ke bagian yang paling rendah untuk melompat ke laut dan mengejar
musuh besarnya.
"Mbokayu.......,
jangan...... !" Roro Luhito memegang lengan Kartikosari, wajahnya tampak
ketakutan.
Kartikosari
menoleh kepadanya dan mengerutkan kening.
"Kau
kenapakah, jeng? Takutkah engkau ??" Suaranya penuh ketidak percayaan.
Akan tetapi
Roro Luhito mengangguk!
"Aku.......
aku takut, aku....... aku selamanya tidak pernah berenang, apalagi di
laut...... !”
Kartikosari
mengangguk-angguk. Tentu saja, ia sampai lupa. Dia sendiri adalah seorang
wanita yang tidak asing dengan laut, bahkan semenjak kecil ia tinggal di tepi
laut, pandai berenang dan selama bersembunyi di Karang Racuk ia telah
memperdalam ilmunya, termasuk ilmu bermain dalam air laut. Akan tetapi bagi
Roro Luhito yang berenangpun tidak pandai, tentu saja tak mungkin dapat
mengejar Jokowanengpati.
"Engkau
lihatlah saja dari sini, diajeng. Biar aku sendiri yang mengejarnya dan
menyeretnya ke darat. Dia agaknya sudah terluka."
"Jangan......
, berbahaya sekali. Andaikata kali ini tidak berhasil kita menewaskannya, masih
banyak waktu dan kita selalu akan mencari dan mengejarnya, mbokayu. Lihat, dia
masih segar-bugar dan nampaknya ia pandai sekali bermain di air. Kalau engkau
mengejar kemudian kalah dan bahkan tewas olehnya di air, lalu bagaimana?"
Roro Luhito memegang lengan Kartikosari erat-erat, tidak mau melepaskan lagi.
Memang betul
kata-kata Roro Luhito dan diam-diam Kartikosari mulai merasa sangsi apakah ia
benar-benar akan dapat menangkan Jokowanengpati di air. Orang itu kini berenang
mendekat, berenang dengan gerakan mahir, ketika akan dekat lalu melambaikan
tangannya ke arah mereka.
"Mari, kekasihku
berdua.......! Marilah ikut kakangmas Jokowanengpati bermain di air!
Ha-ha-ha-ha! Apakah kalian takut, manis? Biar lah kugendong, seorang sebelah,
ha-ha-ha!!”
No comments:
Post a Comment