Kartikosari menggigit bibirnya menahan marah. Si bedebah itu benar saja amat pandai berenang. Dan agaknya betul dugaannya, Jokowanengpati sengaja mengejek dan mempermainkan mereka, tentu menanti sampai matahari terbenam. Kalau hari sudah menjadi gelap, tentu saja ia akan dapat mendarat dengan aman. Dan untuk bertahan di atas air sampai malam nanti, bukan merupakan hal yang sukar, bahkan sama sekali tidak melelahkan bagi seorang perenang mahir seperti Jokowanengpati. Ia tentu takkan membiarkan kesempatan amat baik itu lalu begitu saja. Jelas tadi bahwa Jokowanengpati telah mengalami tendangan yang jitu. Tentu orang itu sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya. Kalau tidak terluka, tentu dia tidak selemah tadi dan tidak akan lari meloncat ke laut. Kalau aku kejar dia sekarang, mungkin belum terlambat.
"Diajeng,
biarkan aku mengejarnya! Dia harus mati di tanganku!!”
"Tidak!
Jangan, mbokayu !"
Kartikosari
memberontak, Roro Luhito mempertahankan. Keduanya bersitegang dan untuk sementara
tidak memperhatikan Jokowanengpati. Tiba-tiba terdengar pekik melengking
mengerikan. Otomatis keduanya berhenti meronta dan keduanya menoleh ke laut,
mencari-cari dengan pandang matanya.
Tiba-tiba
keduanya terbelalak memandang ke bawah, ke arah air, dengan mata dibuka lebar
dan mulut celangap, terlampau kaget, terlampau kesima sehingga tidak kuasa
mengeluarkan kata-kata, bahkan seakan-akan berhenti bernapas untuk menyaksikan
pemandangan di air itu. Sepasang mata Roro Luhito bersinar-sinar, sedangkan ujung
bibir Kartikosari membayangkan senyum. Mereka tadi tidak berdaya menghadapi
Jokowanengpati yang agaknya sudah akan lolos, akan tetapi kiranya Dewata Agung
sendiri yang berkenan menghukumnya!
"Toloooooooongggg......
!”
Untuk ketiga
kalinya tubuh Jokowanengpati tersembul ke permukaan air, kedua tangannya
meronta-ronta, memukul-mukul ke arah kakinya. Untuk ketiga kalinya ia memekik
minta toiong, matanya terbelalak lebar sekali, mukanya yang sebagian tertutup
rambut yang awut-awutan itu menyerupai muka setan. Dan di sebelah bawahnya,
seekor ikan hiu menggigit kakinya, seekor ikan hiu yang ganas dan liar!.
Kiranya selagi berenang kian ke mari sambil mengejek Kartikosari dan Roro
Luhito, seekor ikan hiu besar telah menyerangnya, menggigit kakinya. Terjadi pergulatan
hebat antara Jokowanengpati yang mempertahankan nyawanya dan ikan hiu yang
mempertahankan mangsanya. Kalau saja tadi tidak mencurahkan perhatiannya untuk
mengejek kedua orang bekas lawannya, tentu Jokowanengpati dapat menjaga diri,
dapat menggunakan kepandaiannya untuk menendang atau memukul ikan hiu. Akan
tetapi karena perhatiannya ke atas, ia tidak melihat ikan itu yang tahu-tahu
sudah menyambar dan menggigit kakinya.
Ikan hiu itu
berusaha menyeret korbannya ke bawah dan berkali-kali ia berhasil. Namun dalam
keadaan penuh ketakutan seperti itu, timbul semua tenaga Jokowanengpati dan
berkali-kali pula ia berhasil meronta dan timbul di permukaan air, menyerang
ikan itu, meronta memukul menendang. Namun ikan itu tak pernah mau melepaskan
gigitannya. Sekilas pandang Jokowanengpati melihat dua orang wanita di atas
batu karang. Saking takutnya ia berteriak, menjerit parau,
"Tolooooooongggg......
! Tooil....... auupp...... !"
Tubuhnya sudah
diseret masuk ke dalam air lagi. Sejenak tampak kedua tangannya menjangkau ke
atas permukaan air, kedua tangan yang jari-jarinya kaku seperti cakar setan,
lalu kedua tangan inipun lenyap ditelan air. Bagaikan dua buah arca batu,
Kartikosari dan Roro Luhito berdiri terbelalak memandang peristiwa mengerikan
di depan mata itu. Setelah beberapa lama Jokowanengpati tidak timbul kembali
dan air di mana untuk terakhir kali tubuhnya terseret dan tenggelam tadi
berwarna agak kemerahan, keduanya melepas isak dan menutupi muka dengan kedua
tangan. Pundak mereka menggigil. Betapapun juga, mereka bukanlah wanita yang
berhati kejam. Hukuman yang dialami Jokowanengpati merupakan siksaan yang
terlalu mengerikan bagi
mereka.
"Duh
Jagad Dewa Batara........ tiada kejahatan tanpa hukuman! Habislah riwayat
Jokowanengpati manusia berhati iblis....... !!”
Kartikosari
dan Roro Luhito terkejut sekali. Tersentak kagetlah mereka, akan tetapi ketika
keduanya membalikkan tubuh, kiranya yang mengeluarkan kata-kata itu bukan lain
adalah Pujo, suami mereka ! Kartikosari dan Roro Luhito kembali melepas isak,
lalu keduanya lari ke depan, menjatuhkan diri berlutut dan menubruk kaki suami
mereka. Pujo berlutut pula, merangkul kedua isterinya penuh kasih sayang.
"Nimas
berdua...... sudahlah. Memang pemandangan yang mengerikan hati. Akan tetapi,
kiranya sudah sepatutnya manusia keji dan jahat itu menemui siksa seperti itu.
Marilah kita lupakan itu semua. Kita telah bebas, bebas dari dendam yang
menyiksa batin. Marilah kita pergi, nimas. Jangan lupa, kita masih ada
kewajiban mencari Joko Wandiro dan Endang Patibroto."
Kedua orang
wanita itu mengangkat muka dan mereka bertiga saling pandang dengan mesra.
Biarpun mulut tidak mengatakan sesuatu, namun pandang mata mereka kini lebih
mesra, penuh kasih sayang, tidak dibayangi lagi oleh dendam dan aib. Bebaslah
mereka kini, dapat melakukan tugas sebagai suami isteri sebagaimana mestinya,
dapat menyatakan cinta kasih sepenuhnya tanpa diganggu keraguan dan sakit hati.
Dengan hati bunga penuh bahagia, mereka bertiga bergandeng tangan meninggalkan
pantai Laut Selatan.
Karena
merekapun melihat betapa Resi Bhargowo muncul di medan perang di samping Sang
Prabu Airlangga, maka tentu saja mereka segera langsung menuju ke pertapaan
bekas raja itu, di Jalatunda. Tepat seperti perhitungan mereka, mereka dapat
bertemu dengan Resi Bhargowo di tempat itu. Perlu diketahui bahwa ketika Pujo
dan kedua isterinya berada di keraton Pangeran Sepuh sebelum terjadi perang
campuh di alun-alun, Resi Bhargowo yang ketika itu tengah melakukan
penyelidikan ke kota raja, bertemu dengan mereka, Pertemuan yang mengharukan
dan menggirangkan, akan tetapi bagi Resi Bhargowo tidaklah mengherankan karena
kakek ini sudah seringkali melihat Pujo dan puterinya ketika mereka berdua
masih berpisah dan bertapa masing-masing di muara Sungai Lorog dan di Karang Racuk.
Dalam pertemuan singkat itulah, Pujo dan isterinya menceritakan segala
pengalaman mereka tanpa menyembunyikan sesuatu. Di lain fihak, Resi Bhargowo
menceritakan bahwa dialah yang membawa pergi Endang Patibroto dan Jokî Wandiro
ke Pulau Sempu dan menganjurkan agar kedua orang anak itu dibiarkan belajar
disana untuk sementara waktu.
Setelah ketiga
orang itu menghaturkan sembah sujud kepada Sang Resi Jatinendra dan Empu
Bharodo, mereka lalu menceritakan betapa mereka mengejar Jokowanengpati yang
akhirnya menemui kematian mengerikan di Laut Selatan, menjadi mangsa ikan hiu.
Ketika bercerita perihal kematian Jokowanengpati inilah, mau tak mau Pujo
melirik kepada uwak gurunya. Ia melihat Empu Bharodo menarik napas panjang dan
berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya sudah putih.
"Alangkah
akan baik dan untungnya andaikata ia benar telah berhenti menjadi hamba
nafsu-nafsunya."
Pujo dan kedua
isterinya heran mendengar kata-kata ini. Pujo dan Kartikosari tahu betul betapa
dahulu Empu Bharodo amat mencinta muridnya itu. Akan tetapi ketika mereka
memandang, mereka melihat Empu Bharodo, seperti juga Resi Jatinendra, duduk
tepekur dan meramkan mata, tampaknya pulas dalam samadhi. Resi Bhargowo lalu
memberi isyarat kepada mereka untuk keluar dari guha, agar mereka dapat
melakukan percakapan tanpa mengganggu kedua orang pertapa itu.
"Rama, di
manakah Endang Patibroto anakku? Apakah rama tinggalkan di Pulau Sempu?"
Serta-merta Kartikosari bertanya ketika mereka sudah duduk di bawah pohon
beringin yang terdapat di tempat agak jauh dari guha pertapaan.
Kini Resi
Bhargowo menarik napas panjang dengan wajah agak muram.
"Segala
perbuatan di dunia ini tentu ada akibatnya, seperti juga pohon ada buahnya.
Mereka berdua itu tadinya lenyap dari pulau ketika aku diserbu oleh kaki tangan
Pangeran Anom." Resi Bhargowo lalu menceritakan peristiwa yang terjadi di
Sempu. "Joko Wandiro sudah berada di sini, sekarang menjadi murid Ki Patih
Narotama. Akan tetapi............ tentang Endang Patibroto, sampai sekarang aku
sendiripun tidak tahu ke mana perginya."
Roro Luhito
girang sekali mendengar bahwa keponakannya telah berada di situ, akan tetapi
melihat Pujo dan Kartikosari menjadi muram wajahnya mendengar akan hilangnya
Endang Patibroto, ia menekan kegirangannya di dalam hati dan ikut berprihatin.
Melihat kemuraman wajah puteri dan mantunya, Resi Bhargowo berkata,
"Sudah
kukatakan tadi, Sari dan engkau, Pujo. Tiada perbuatan yang tak berakibat,
tiada pohon yang tak berbuah. Akibat selalu mengikuti perbuatan seperti bayangan
mengikuti dirimu. Kadang-kadang tidak tampak namun pasti ada dan tidak pernah
jauh. Engkau merasa bagaimana prihatin dan khawatir kehilangan anak. Pikir dan
kenanglah, apakah ini bukan merupakan akibat daripada perbuatanmu
sendiri?"
Mendengar
ucapan ini, Pujo dan Kartikosari seketika sadar. Lenyap kemuraman dari wajah
mereka, akan tetapi kini berganti penyesalan. Pujo lebih-lebih lagi merasa
betapa perbuatannya yang lalu merupakan dosa besar. Karena salah duga, ia telah
menghancurkan rumah tangga Wisangjiwo, bahkan telah menculik Joko Wandiro,
memisahkan anak itu dari ayah bundanya sehingga sampai pada kematiannya,
Wisangjiwo tidak pernah bertemu dengan puteranya!. Alangkah hebatnya
penderitaan itu, sedangkan mereka sendiri, baru beberapa bulan saja kehilangan
Endang Patibroto, sudah merasa gelisah dan duka!.
"Saya
mengaku dosa saya, rama, semoga Dewata mengampuni saya......." kata Pujo
sambil menundukkan muka, penuh penyesalan.
Resi Bhargowo
mengelus jenggotnya.
"Perbuatanmu
terdorong oleh rangsangan dendam dan nafsu membalas dan karena salah
pengertian. Kurasa tidak ada malapetaka menimpa diri Endang, akan tetapi segala
hal Dewatalah yang mengaturnya. Sekarang masih belum terlambat untuk
memperbaiki kesalahan lama dengan membuat pengakuan kepada Joko Wandiro.
Baiknya bahwa biarpun engkau bukan ayahnya, akan tetapi sekarang telah menjadi
suami bibinya. Itu dia datang! Sering ia berkunjung ke sini."
Semua orang
menengok dan benar saja, dari jauh tampak pemuda tanggung itu berjalan dengan
langkah tenang. Agaknya diapun melihat bahwa kakek gurunya bercakap-cakap
dengan tiga orang yang dari jauh tidak dikenalnya. Akan tetapi setelah agak
dekat ia mengenal Pujo, maka berlarilah ia. Gerakannya tangkas, larinya cepat
sekali sehingga mengagumkan dan menggirangkan hati Pujo dan kedua isterinya.
"Sayang
iapun tidak tahu ke mana perginya Endang," Resi Bhargowo berkata.
"Di Pulau
Sempu mereka memang berpisah jalan... "
"Ayaaaaahhh......
!!"
Joko Wandiro
berseru girang lalu merangkul ayahnya. Pujo memeluknya dan sepasang matanya
menjadi basah air mata ketika ia teringat bahwa anak yang dikasihi ini harus
mendengar bahwa ia bukan ayahnya! Joko Wandiro amat rindu kepada Pujo dan tentu
ia akan bersikap lebih mesra lagi kalau saja ia tidak ingat bahwa di situ
terdapat orang lain. Ia lalu melepaskan rangkulannya, menoleh kepada Roro
Luhito yang memandangnya dengan air mata bercucuran!
Wanita ini
masih mengenal keponakannya, yang dahulu sering ia gendong-gendong dan sekarang
sudah menjadi seorang pemuda tanggung. Saking terharu hatirya, ia tidak dapat
mengeluarkan katakata. Joko Wandiro hanya merasa heran mengapa wanita itu
menangis dan menduga-duga siapa gerangan wanita cantik ini. Ketika ia memandang
kepada Kartikosari, ia segera mengenalnya dan menegur,
"Ah......
bibi ! Bukankah bibi ini ibu Endang Patibroto? Dimanakah dia sekarang, bibi ?
"
Melihat Roro
Luhito menangis dan teringat akan Wisangjiwo, Kartikosari juga meruntuhkan air
mata. Lalu memegang pundak anak itu, merangkulnya dan berkata,
"Anak
yang baik, kami sendiri tidak tahu dia sekarang berada di mana."
Joko Wandiro
makin terheran melihat semua orang meruntuhkan air mata. Ia menoleh lagi kepada
ayahnya dan Pujo lalu menarik tangannya, diajak duduk di atas batu.
"Anakku,
Joko Wandiro, kau dengarlah baik-baik dan dengan hati tenang ada yang akan
kuceritakan kepadamu. Rama resi ini memang benar adalah kakek gurumu karena
aku...... aku hanyalah gurumu, sama sekali bukan ayahmu....."
"Aaahh......
!!!”
Joko Wandiro
meloncat bangun dari tempat duduknya. Benar-benar ia terkejut seperti disambar
petir mendengar keterangan yang sama sekali di luar dugaannya ini. Wajahnya
menjadi pucat dan ia memandang Pujo dengan mata terbelalak.
"Tenanglah,
nak...... !!”
Pujo menegur,
terharu akan tetapi juga mendesak. Merah sekali wajah Joko Wandiro. Sudah
bertahun-tahun ia digembleng oleh ayahnya ini, digembleng lahir batin sehingga
sebetulnya ia dapat menguasai perasaannya. Akan tetapi tadi ia hampir tak dapat
menguasai perasaannya oleh karena memang berita itu amat mengejutkan. Ia duduk
lagi dan berbisik,
"Maaf,
ayah !”
No comments:
Post a Comment