Badai Laut Selatan ; Bagian 090


Kartikosari menggigit bibirnya menahan marah. Si bedebah itu benar saja amat pandai berenang. Dan agaknya betul dugaannya, Jokowanengpati sengaja mengejek dan mempermainkan mereka, tentu menanti sampai matahari terbenam. Kalau hari sudah menjadi gelap, tentu saja ia akan dapat mendarat dengan aman. Dan untuk bertahan di atas air sampai malam nanti, bukan merupakan hal yang sukar, bahkan sama sekali tidak melelahkan bagi seorang perenang mahir seperti Jokowanengpati. Ia tentu takkan membiarkan kesempatan amat baik itu lalu begitu saja. Jelas tadi bahwa Jokowanengpati telah mengalami tendangan yang jitu. Tentu orang itu sudah terluka di sebelah dalam tubuhnya. Kalau tidak terluka, tentu dia tidak selemah tadi dan tidak akan lari meloncat ke laut. Kalau aku kejar dia sekarang, mungkin belum terlambat.
"Diajeng, biarkan aku mengejarnya! Dia harus mati di tanganku!!”
"Tidak! Jangan, mbokayu !"
Kartikosari memberontak, Roro Luhito mempertahankan. Keduanya bersitegang dan untuk sementara tidak memperhatikan Jokowanengpati. Tiba-tiba terdengar pekik melengking mengerikan. Otomatis keduanya berhenti meronta dan keduanya menoleh ke laut, mencari-cari dengan pandang matanya.
Tiba-tiba keduanya terbelalak memandang ke bawah, ke arah air, dengan mata dibuka lebar dan mulut celangap, terlampau kaget, terlampau kesima sehingga tidak kuasa mengeluarkan kata-kata, bahkan seakan-akan berhenti bernapas untuk menyaksikan pemandangan di air itu. Sepasang mata Roro Luhito bersinar-sinar, sedangkan ujung bibir Kartikosari membayangkan senyum. Mereka tadi tidak berdaya menghadapi Jokowanengpati yang agaknya sudah akan lolos, akan tetapi kiranya Dewata Agung sendiri yang berkenan menghukumnya!
"Toloooooooongggg...... !”
Untuk ketiga kalinya tubuh Jokowanengpati tersembul ke permukaan air, kedua tangannya meronta-ronta, memukul-mukul ke arah kakinya. Untuk ketiga kalinya ia memekik minta toiong, matanya terbelalak lebar sekali, mukanya yang sebagian tertutup rambut yang awut-awutan itu menyerupai muka setan. Dan di sebelah bawahnya, seekor ikan hiu menggigit kakinya, seekor ikan hiu yang ganas dan liar!. Kiranya selagi berenang kian ke mari sambil mengejek Kartikosari dan Roro Luhito, seekor ikan hiu besar telah menyerangnya, menggigit kakinya. Terjadi pergulatan hebat antara Jokowanengpati yang mempertahankan nyawanya dan ikan hiu yang mempertahankan mangsanya. Kalau saja tadi tidak mencurahkan perhatiannya untuk mengejek kedua orang bekas lawannya, tentu Jokowanengpati dapat menjaga diri, dapat menggunakan kepandaiannya untuk menendang atau memukul ikan hiu. Akan tetapi karena perhatiannya ke atas, ia tidak melihat ikan itu yang tahu-tahu sudah menyambar dan menggigit kakinya.
Ikan hiu itu berusaha menyeret korbannya ke bawah dan berkali-kali ia berhasil. Namun dalam keadaan penuh ketakutan seperti itu, timbul semua tenaga Jokowanengpati dan berkali-kali pula ia berhasil meronta dan timbul di permukaan air, menyerang ikan itu, meronta memukul menendang. Namun ikan itu tak pernah mau melepaskan gigitannya. Sekilas pandang Jokowanengpati melihat dua orang wanita di atas batu karang. Saking takutnya ia berteriak, menjerit parau,
"Tolooooooongggg...... ! Tooil....... auupp...... !"

Tubuhnya sudah diseret masuk ke dalam air lagi. Sejenak tampak kedua tangannya menjangkau ke atas permukaan air, kedua tangan yang jari-jarinya kaku seperti cakar setan, lalu kedua tangan inipun lenyap ditelan air. Bagaikan dua buah arca batu, Kartikosari dan Roro Luhito berdiri terbelalak memandang peristiwa mengerikan di depan mata itu. Setelah beberapa lama Jokowanengpati tidak timbul kembali dan air di mana untuk terakhir kali tubuhnya terseret dan tenggelam tadi berwarna agak kemerahan, keduanya melepas isak dan menutupi muka dengan kedua tangan. Pundak mereka menggigil. Betapapun juga, mereka bukanlah wanita yang berhati kejam. Hukuman yang dialami Jokowanengpati merupakan siksaan yang terlalu mengerikan bagi
mereka.
"Duh Jagad Dewa Batara........ tiada kejahatan tanpa hukuman! Habislah riwayat Jokowanengpati manusia berhati iblis....... !!”
Kartikosari dan Roro Luhito terkejut sekali. Tersentak kagetlah mereka, akan tetapi ketika keduanya membalikkan tubuh, kiranya yang mengeluarkan kata-kata itu bukan lain adalah Pujo, suami mereka ! Kartikosari dan Roro Luhito kembali melepas isak, lalu keduanya lari ke depan, menjatuhkan diri berlutut dan menubruk kaki suami mereka. Pujo berlutut pula, merangkul kedua isterinya penuh kasih sayang.
"Nimas berdua...... sudahlah. Memang pemandangan yang mengerikan hati. Akan tetapi, kiranya sudah sepatutnya manusia keji dan jahat itu menemui siksa seperti itu. Marilah kita lupakan itu semua. Kita telah bebas, bebas dari dendam yang menyiksa batin. Marilah kita pergi, nimas. Jangan lupa, kita masih ada kewajiban mencari Joko Wandiro dan Endang Patibroto."
Kedua orang wanita itu mengangkat muka dan mereka bertiga saling pandang dengan mesra. Biarpun mulut tidak mengatakan sesuatu, namun pandang mata mereka kini lebih mesra, penuh kasih sayang, tidak dibayangi lagi oleh dendam dan aib. Bebaslah mereka kini, dapat melakukan tugas sebagai suami isteri sebagaimana mestinya, dapat menyatakan cinta kasih sepenuhnya tanpa diganggu keraguan dan sakit hati. Dengan hati bunga penuh bahagia, mereka bertiga bergandeng tangan meninggalkan pantai Laut Selatan.

Karena merekapun melihat betapa Resi Bhargowo muncul di medan perang di samping Sang Prabu Airlangga, maka tentu saja mereka segera langsung menuju ke pertapaan bekas raja itu, di Jalatunda. Tepat seperti perhitungan mereka, mereka dapat bertemu dengan Resi Bhargowo di tempat itu. Perlu diketahui bahwa ketika Pujo dan kedua isterinya berada di keraton Pangeran Sepuh sebelum terjadi perang campuh di alun-alun, Resi Bhargowo yang ketika itu tengah melakukan penyelidikan ke kota raja, bertemu dengan mereka, Pertemuan yang mengharukan dan menggirangkan, akan tetapi bagi Resi Bhargowo tidaklah mengherankan karena kakek ini sudah seringkali melihat Pujo dan puterinya ketika mereka berdua masih berpisah dan bertapa masing-masing di muara Sungai Lorog dan di Karang Racuk. Dalam pertemuan singkat itulah, Pujo dan isterinya menceritakan segala pengalaman mereka tanpa menyembunyikan sesuatu. Di lain fihak, Resi Bhargowo menceritakan bahwa dialah yang membawa pergi Endang Patibroto dan Jokî Wandiro ke Pulau Sempu dan menganjurkan agar kedua orang anak itu dibiarkan belajar disana untuk sementara waktu.
Setelah ketiga orang itu menghaturkan sembah sujud kepada Sang Resi Jatinendra dan Empu Bharodo, mereka lalu menceritakan betapa mereka mengejar Jokowanengpati yang akhirnya menemui kematian mengerikan di Laut Selatan, menjadi mangsa ikan hiu. Ketika bercerita perihal kematian Jokowanengpati inilah, mau tak mau Pujo melirik kepada uwak gurunya. Ia melihat Empu Bharodo menarik napas panjang dan berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya yang rambutnya sudah putih.

"Alangkah akan baik dan untungnya andaikata ia benar telah berhenti menjadi hamba nafsu-nafsunya."
Pujo dan kedua isterinya heran mendengar kata-kata ini. Pujo dan Kartikosari tahu betul betapa dahulu Empu Bharodo amat mencinta muridnya itu. Akan tetapi ketika mereka memandang, mereka melihat Empu Bharodo, seperti juga Resi Jatinendra, duduk tepekur dan meramkan mata, tampaknya pulas dalam samadhi. Resi Bhargowo lalu memberi isyarat kepada mereka untuk keluar dari guha, agar mereka dapat melakukan percakapan tanpa mengganggu kedua orang pertapa itu.
"Rama, di manakah Endang Patibroto anakku? Apakah rama tinggalkan di Pulau Sempu?" Serta-merta Kartikosari bertanya ketika mereka sudah duduk di bawah pohon beringin yang terdapat di tempat agak jauh dari guha pertapaan.
Kini Resi Bhargowo menarik napas panjang dengan wajah agak muram.
"Segala perbuatan di dunia ini tentu ada akibatnya, seperti juga pohon ada buahnya. Mereka berdua itu tadinya lenyap dari pulau ketika aku diserbu oleh kaki tangan Pangeran Anom." Resi Bhargowo lalu menceritakan peristiwa yang terjadi di Sempu. "Joko Wandiro sudah berada di sini, sekarang menjadi murid Ki Patih Narotama. Akan tetapi............ tentang Endang Patibroto, sampai sekarang aku sendiripun tidak tahu ke mana perginya."
Roro Luhito girang sekali mendengar bahwa keponakannya telah berada di situ, akan tetapi melihat Pujo dan Kartikosari menjadi muram wajahnya mendengar akan hilangnya Endang Patibroto, ia menekan kegirangannya di dalam hati dan ikut berprihatin. Melihat kemuraman wajah puteri dan mantunya, Resi Bhargowo berkata,
"Sudah kukatakan tadi, Sari dan engkau, Pujo. Tiada perbuatan yang tak berakibat, tiada pohon yang tak berbuah. Akibat selalu mengikuti perbuatan seperti bayangan mengikuti dirimu. Kadang-kadang tidak tampak namun pasti ada dan tidak pernah jauh. Engkau merasa bagaimana prihatin dan khawatir kehilangan anak. Pikir dan kenanglah, apakah ini bukan merupakan akibat daripada perbuatanmu sendiri?"

Mendengar ucapan ini, Pujo dan Kartikosari seketika sadar. Lenyap kemuraman dari wajah mereka, akan tetapi kini berganti penyesalan. Pujo lebih-lebih lagi merasa betapa perbuatannya yang lalu merupakan dosa besar. Karena salah duga, ia telah menghancurkan rumah tangga Wisangjiwo, bahkan telah menculik Joko Wandiro, memisahkan anak itu dari ayah bundanya sehingga sampai pada kematiannya, Wisangjiwo tidak pernah bertemu dengan puteranya!. Alangkah hebatnya penderitaan itu, sedangkan mereka sendiri, baru beberapa bulan saja kehilangan Endang Patibroto, sudah merasa gelisah dan duka!.
"Saya mengaku dosa saya, rama, semoga Dewata mengampuni saya......." kata Pujo sambil menundukkan muka, penuh penyesalan.
Resi Bhargowo mengelus jenggotnya.
"Perbuatanmu terdorong oleh rangsangan dendam dan nafsu membalas dan karena salah pengertian. Kurasa tidak ada malapetaka menimpa diri Endang, akan tetapi segala hal Dewatalah yang mengaturnya. Sekarang masih belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan lama dengan membuat pengakuan kepada Joko Wandiro. Baiknya bahwa biarpun engkau bukan ayahnya, akan tetapi sekarang telah menjadi suami bibinya. Itu dia datang! Sering ia berkunjung ke sini."
Semua orang menengok dan benar saja, dari jauh tampak pemuda tanggung itu berjalan dengan langkah tenang. Agaknya diapun melihat bahwa kakek gurunya bercakap-cakap dengan tiga orang yang dari jauh tidak dikenalnya. Akan tetapi setelah agak dekat ia mengenal Pujo, maka berlarilah ia. Gerakannya tangkas, larinya cepat sekali sehingga mengagumkan dan menggirangkan hati Pujo dan kedua isterinya.
"Sayang iapun tidak tahu ke mana perginya Endang," Resi Bhargowo berkata.
"Di Pulau Sempu mereka memang berpisah jalan... "
"Ayaaaaahhh...... !!"
Joko Wandiro berseru girang lalu merangkul ayahnya. Pujo memeluknya dan sepasang matanya menjadi basah air mata ketika ia teringat bahwa anak yang dikasihi ini harus mendengar bahwa ia bukan ayahnya! Joko Wandiro amat rindu kepada Pujo dan tentu ia akan bersikap lebih mesra lagi kalau saja ia tidak ingat bahwa di situ terdapat orang lain. Ia lalu melepaskan rangkulannya, menoleh kepada Roro Luhito yang memandangnya dengan air mata bercucuran!
Wanita ini masih mengenal keponakannya, yang dahulu sering ia gendong-gendong dan sekarang sudah menjadi seorang pemuda tanggung. Saking terharu hatirya, ia tidak dapat mengeluarkan katakata. Joko Wandiro hanya merasa heran mengapa wanita itu menangis dan menduga-duga siapa gerangan wanita cantik ini. Ketika ia memandang kepada Kartikosari, ia segera mengenalnya dan menegur,
"Ah...... bibi ! Bukankah bibi ini ibu Endang Patibroto? Dimanakah dia sekarang, bibi ? "
Melihat Roro Luhito menangis dan teringat akan Wisangjiwo, Kartikosari juga meruntuhkan air mata. Lalu memegang pundak anak itu, merangkulnya dan berkata,
"Anak yang baik, kami sendiri tidak tahu dia sekarang berada di mana."
Joko Wandiro makin terheran melihat semua orang meruntuhkan air mata. Ia menoleh lagi kepada ayahnya dan Pujo lalu menarik tangannya, diajak duduk di atas batu.
"Anakku, Joko Wandiro, kau dengarlah baik-baik dan dengan hati tenang ada yang akan kuceritakan kepadamu. Rama resi ini memang benar adalah kakek gurumu karena aku...... aku hanyalah gurumu, sama sekali bukan ayahmu....."
"Aaahh...... !!!”

Joko Wandiro meloncat bangun dari tempat duduknya. Benar-benar ia terkejut seperti disambar petir mendengar keterangan yang sama sekali di luar dugaannya ini. Wajahnya menjadi pucat dan ia memandang Pujo dengan mata terbelalak.
"Tenanglah, nak...... !!”
Pujo menegur, terharu akan tetapi juga mendesak. Merah sekali wajah Joko Wandiro. Sudah bertahun-tahun ia digembleng oleh ayahnya ini, digembleng lahir batin sehingga sebetulnya ia dapat menguasai perasaannya. Akan tetapi tadi ia hampir tak dapat menguasai perasaannya oleh karena memang berita itu amat mengejutkan. Ia duduk lagi dan berbisik,
"Maaf, ayah !”

<<< Bagian 089                                                                                    Bagian 091 >>>

No comments:

Post a Comment