Badai Laut Selatan ; Bagian 091


Pujo tersenyum pahit. Sungguh tidak enak tugasnya bercerita dan membuat pengakuan ini. Akan tetapi memang betul ayah mertuanya. Ia harus berterus terang membuka rahasia ini, demi kebaikan mereka semua.
"Ayah kandungmu yang sejati sebetulnya adalah Raden Wisangjiwo...... "
Kembali Joko Wandiro memotong,
"Tapi, ayah bilang Wisangjiwo adalah musuh besar yang harus kubunuh kelak!"
Mendengar ini, serasa ditampar muka Pujo. Mukanya menjadi merah sekali, lalu berubah pucat dan ia menundukkan mukanya.
"Besar sekali dosaku, anakku...... ! Dan semua ini terjadi hanya karena salah duga yang timbul dari sifat terburu nafsu!"

Berceritalah Pujo tentang peristiwa dua belas tahun yang lalu. Mendengar tentang gurunya yang tadinya ia anggap ayah kandungnya, kemudian mendengar pula betapa ia di waktu kecil bersama ibu kandungnya yang ia lupa lagi bagaimana wajahnya itu, diculik oleh gurunya, makin lama makin pucatlah wajah Joko Wandiro. Dadanya terangsang sesuatu yang menggelora, yang membuat tubuhnya menggigil. Teringat ia akan penuturan Cekel Aksomolo yang pernah menangkapnya, pernah mengatakan bahwa dia adalah putera kadipaten, putera Raden Wisangjiwo, bahwa Pujo adalah penculiknya. Dan ia malah memaki-maki dan memukul Cekel Aksomolo yang disangkanya membohong! Kini mendengar betapa satu-satunya orang di dunia ini yang dicintanya, dipujanya dan disangka ayah kandungnya itu telah sedemikian kejamnya terhadap ayah bundanya, terhadap dia sendiri, hatinya seperti disayat-sayat. Apalagi kalau ia teringat betapa Pujo semenjak ia kecil selalu menekankan bahwa musuh besar di dunia ini adalah Wisangjiwo yang harus dibunuhnya kelak! Ayah kandungnya sendiri! Harus dibunuhnya! Alangkah kejinya dan hal ini sungguh-sungguh mengecewakan dan menghancurkan hatinya. Saking kerasnya desakan gelora hati yang ditekan-tekannya, ketika mendengar cerita bahwa ayah kandungnya, Wisangjiwo gugur dalam perang, sedangkan ibunya yang pulang ke Selogiri dibawa lari perampok, Joko Wandiro terbelalak memandang ke angkasa, lalu tiba-tiba menjerit dan tubuhnya terjungkal roboh pingsan.
Ketika siuman dari pingsannya, Joko Wandiro berada dalam pelukan Roro Luhito. Tentu saja ia terheran-heran, apalagi melihat wanita itu menangis sambil menyebut-nyebut namanya. Sejenak timbul harapannya. Inikah ibu kandungnya? Ah, tak mungkin. Bukankah tadi diceritakan bahwa ibu kandungnya diculik perampok di Selogiri?
"Joko, aku adalah bibimu sendiri, aku adik kandung ayahmu." Dengan suara terputus-putus Roro Luhito memperkenalkan diri. Kemudian ia membuat pengakuan bahwa iapun telah menjadi isteri Pujo.
Makin tertusuk hati Joko Wandiro, makin bingung dan kecewa. Pujo ternyata bukan ayahnya, hanya gurunya. Ayah kandungnya sudah tewas, ibunya diculik perampok, bibinya menikah dengan Pujo yang seakan-akan membikin celaka rumah tangga ayah bundanya. Tidak tertahankan lagi, melihat gurunya menundukkan mukanya yang pucat, melihat eyang gurunya mengelus-elus jenggotnya dengan senyum pahit, melihat isteri gurunya, ibu Endang Patibroto juga tertunduk, kemudian melihat bibinya menangis terisak-isak, Joko Wandiro juga menangis! Tangis penuh penyesalan, penuh kekecewaan.
"Duh, anakku, angger Joko! Gurumu tadi belum menceritakan semuanya. Ayahmu telah meninggal dunia dan bukan maksud bibimu ini memburukkan nama ayahmu, sama sekali bukan. Akan tetapi agaknya engkau harus mendengar segalanya dengan jelas agar jangan engkau timbul kebencian kepada kami."
Setelah berkata demikian, Roro Luhito lalu menceritakan segala yang telah terjadi, betapa Wisangjiwo bersama ayahnya, mendiang Adipati Joyowiseso tadinya menyeleweng dan hendak memberontak, bersekutu dengan tokoh-tokoh sakti yang jahat seperti Cekel Aksomolo dan lain-lain. Betapa Wisangjiwo menyerang Pujo dan Kartikosari di dalam guha gelap sehingga ketika muncul Jokowanengpati mempergunakan namanya, maka Pujo dan Kartikosari tertipu. Semua ia ceritakan dengan jelas, tanpa tedeng aling-aling lagi, bahkan ia ceritakan kekejian dan kejahatan Jokowanengpati terhadap keluarga Kadipaten Selopenangkep, terhadap dirinya sendiri!.

Mendengar cerita ini, berubahlah wajah Joko Wandiro. Lenyap semua bayangan penyesalan. Betapapun juga, orang yang selama ini ia kasihi, ia anggap ayah kandung sendiri, ternyata adalah seorang satria utama, yang telah salah tindak karena tertipu. Seluruh penyesalan dan bencinya kini ia timpakan kepada orang yang bernama Jokowanengpati.
"Si bedebah Jokowanengpati! Di mana si jahat itu sekarang??" Ia melompat berdiri dengan kedua tangan terkepal.
Pujo meraihnya. Girang dan bangga hatinya bahwa murid yang ia kasihi seperti puteranya sendiri ini sekarang telah melihat kenyataan, dan tidak membencinya. Ia merangkul dan berkata,
"Joko anakku, musuh besar itu telah tewas di tangan kedua bibimu, baru-baru ini."
Joko Wandiro balas memeluk gurunya, lalu berkata,
"Harap sebuah permohonanku dikabulkan."
'Tentu saja, Joko. Jangankan hanya sebuah, biarpun seribu permohonanmu tentu akan kupenuhi," jawab Pujo terharu.
"Hanya satu saja, yaitu...... karena ayah kandungku telah tewas...... supaya...... supaya aku tetap boleh menyebut...... ayah kepadamu."
Pujo merangkul dan memeluk kepala Joko Wandiro. Dari kedua pelupuk matanya mengalir beberapa butir air mata. Sambil mencium kepala anak itu, ia berkata,
"Engkau memang anakku! Biarpun bukan anak kandung, akan tetapi engkau anakku, Joko! Terima kasih bahwa engkau masih mau menyebut ayah kepadaku. Akan tetapi, karena engkau telah mendapatkan seorang guru yang maha sakti, engkau harus melanjutkan pelajaranmu kepada gurumu yang sakti mandraguna dan bijaksana, Ki Patih Narotama. Kami bertiga akan kembali ke Bayuwilis di pantai Laut Selatan, dan kelak, kalau ada perkenan gurumu, kita akan bertemu lagi, Joko."
Anak yang semuda itu telah mengalami kecewa, sesal, dan duka yang amat hebat itu hanya mengangguk-angguk sambil memandang dengan air mata berlinang. Pujo, Roro Luhito dan Kartikosari memandang anak itu dengan hati penuh keharuan sehingga suasana menjadi sedih. Tiba-tiba Resi Bhargowo tertawa. Suara ketawanya tenang dan sewajarnya, sekaligus mengusir suasana yang iengang sedih itu.
"Ha-ha-ha, alangkah lemahnya kita diseret kedukaan berlarut-larut! Joko, cucuku yang baik. Gurumu adalah kawula yang paling gagah perkasa dan sakti di seluruh Kahuripan, sungguh mengecewakan kalau engkau sebagai muridnya tak mampu melawan nafsu perasaan sendiri!"
Sadarlah mereka semua. Joko Wandiro lalu menjatuhkan diri berlutut, menyembah kepada empat orang itu sambil berkata,
"Hamba pamit mundur.. .... !"
Tanpa menanti jawaban, tubuhnya sudah melesat dan bagaikan terbang ia lari meninggalkan tempat itu untuk kembali ke tempat pertapaan gurunya yang berada di lereng gunung.

Segala sesuatu di permukaan bumi ini, mau atau tidak, semua harus tunduk kepada kekuatan Sang Waktu. Betapapun kerasnya besi baja, betapapun besarnya gunung dan luasnya lautan, semua itu akan lenyap atau berubah setelah tiba saatnya. Namun, demikian halus Sang Waktu bekerja sehingga sedikit demi sedikit kesemuanya itu digerogoti sampai habis tanpa ada yang merasakannya! Manusia sendiri, setiap hari digerogoti waktu dalam bentuk usia, kanak-kanak menjadi dewasa, dewasa menjadi tua dan kakek-kakek, tanpa si manusia merasainya, sehingga tahu-tahu Sang Waktu menyeretnya ke lubang kubur!. Sang Waktu merayap selambat kura-kura apabila diperhatikan, akan tetapi terbang secepat kilat apabila tidak diperhatikan. Tahun-tahun lalu serasa hari kemarin! Karena inilah, sebelum terlambat, seyogianya manusia mengisi hidupnya yang tak berapa lama ini dengan perbuatan-perbuatan bermanfaat bagi dunia, bangsa, negara, masyarakat atau sedikitnya bagi orang lain. Bahagialah mereka yang tidak menyia-nyiakan waktu hidup sebentar ini hanya dengan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri saja. Karena sudah pasti bahwa pada akhir hidup, hati nurani sendiri menuntut jasa apakah yang telah diperbuat semasa hidupnya bagi dunia dan manusia?.
Sang Waktu melesat cepat sehingga tanpa disadari, Endang Patibroto telah enam tahun tinggal di Pulau Iblis. Selama enam tahun ini, setiap hari ia menerima gemblengan dari gurunya. Dibyo Mamangkoro yang amat mencinta muridnya, bahkan menganggap muridnya itu seperti anak atau cucu sendiri. Tidak ada ilmu yang ia sembunyikan, semua kedigdayaannya ia turunkan kepada Endang Patibroto. Bahkan pada kesempatan menurunkan ilmu terakhir, Dibyo Mamangkoro berkata,
"Muridku yang pintar, anakku yang denok! Sudah habislah sekarang semua aji kaupelajari. Tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuajarkan kepadamu, kecuali hanya hawa sakti di dalam tubuhku yang dapat kuberikan kepadamu. Akan tetapi tidak sekarang, muridku, karena penyerahan hawa sakti itu akan mendatangkan kematian padaku. Aku tidak sayang mengorbankan nyawa untukmu, Endang, akan tetapi jangan sekarang."
Endang Patibroto, kini seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahun, cantik manis dengan tubuh padat berisi dan ramping, dengan sepasang mata yang tajam akan tetapi bersinar dingin, bibirnya yang selalu merah basah itupun tak pernah ketinggalan senyum, senyum dingin mengejek, kini berdiri memandang gurunya. Sukar untuk menduga apa yang terkandung di hati gadis muda ini, karena wajahnya menyerupai topeng puteri jelita yang tidak pernah berubah.
Bahkan Dibyo Mamangkoro sendiri, seorang sakti mandraguna, seorang yang berwatak aneh, liar dan ganas, kadang-kadang mengakui di dalam hati bahwa dalam diri muridnya ini terdapat kekuatan luar biasa, dan memancarkan keanehan dan kesereman. Bahwa di balik sinar mata yang tajam bersinar itu tersembunyi kedinginan yang membeku, dan di balik senyum yang manis menggairahkan hati tiap pria itu tersembunyi maut yang selalu mengintai korban!.

"Bapa guru," jawab Endang Patibroto terhadap ucapan gurunya tadi. "Kalau bapa tidak hendak memberikan hawa sakti kepadaku karena takut mati, perlu apa bapa menceritakannya kepadaku? Tenagaku sendiri cukup, dan sesungguhnya aku tidak membutuhkan penambahan tenaga dari luar lagi." Setelah berkata demikian, perlahan Endang Patibroto membalikkan tubuhnya, lengan kirinya bergerak lambat ke depan, seperti main-main mendorong sebatang pohon sebesar tubuh manusia dan......
"kraaakkk!" pohon waru itu roboh!.
"Huah-hah-hah-hahl Kiranya tidak akan mudah mencari orang yang mampu melawan Endang Patibroto, murid terkasih Dibyo Mamangkoro!" Kakek raksasa itu tertawa bergelak, akan tetapi akhirnya suara ketawanya lenyap dalam keraguan. Keningnya yang tebal berkerut ketika ia berkata,
"Betapapun juga, menghadapi manusia-manusia luar biasa seperti Airlangga dan Narotama, Empu Bharodo, Resi Bhargowo dan lain-lain tokoh di Kahuripan, tak boleh sekali-kali kau memandang rendah, muridku. Kalau teringat akan mereka itulah timbul kegelisahanku, dan agaknya hanya kalau engkau mendapatkan tambahan hawa sakti dari tubuhku, kau akan dapat menghadapi mereka. Sudah enam tahun engkau berada di sini, Endang. Biarlah sekarang aku pergi dulu menyelidik ke Kahuripan, melihat bagaimana perkembangan keadaannya sekarang. Wirokolo hanya mengabarkan bahwa Sang Prabu Airlangga telah meninggal dunia dalam pertapaannya, bahwa Narotama masih menjadi pertapa dan tidak mencampuri urusan kerajaan. Selain itu, ada berita baik bahwa mulailah kini Kerajaan Jenggala bergerak untuk menumpas Kerajaan Panjalu! Sekaranglah saatnya engkau muncul dan memperkenalkan diri pada dunia, muridku. Biarlah dunia membuka mata terhadap munculnya Endang Patibroto, sang puteri perkasa. Kau tinggallah menanti di sini, muridku. Aku pergi ke Kahuripan, menyelidiki keadaan."

Pada hari-hari pertama kepergian Dibyo Mamangkoro, tidak dirasakan oleh Endang Patibroto. Akan tetapi, setelah lewat tiga pekan, mulailah ia merasa betapa sunyi pulau itu. Selama enam tahun tak pernah ia berpisah dari gurunya. Kini mulailah ia kehilangan suara gurunya yang bergema di seluruh pojok pulau. Endang Patibroto mulai merasa tidak senang dan tidak kerasan di pulau ini, di mana selama enam tahun belum pernah ia tinggalkan. Diam-diam timbul rasa marah di dalam hatinya terhadap gurunya yang begitu lama meninggalkannya. Kenapa gurunya tidak mengajaknya pergi? Makin lama kemarahannya makin membesar, rasa jemu tinggal seorang diri di pulau tak tertahankan lagi dan akhirnya iapun meninggalkan Pulau Ibiis!.
Biarpun enam tahun ia tinggal di pulau, namun gurunya selalu mencukupi semua keperluannya. Bahkan pakaianpun Endang Patibroto tidak pernah kekurangan. Ia selalu menerima pakaian-pakaian yang halus dan indah. Bahkan keris pusakanya, Brojol Luwuk, kini memakai gagang yang amat indah, bertabur mutiara pilihan dan sarungnya terbuat daripada emas berukir!.
Pagi hari itu, karena tidak tahan lagi, Endang Patibroto meninggalkan Pulau Iblis. Ia mengenakan pakaiannya yang paling baru. Ia mempunyai banyak kain, akan tetapi sayang, sungguhpun bajunya banyak, namun oleh gurunya disuruh orang luar pulau membuatnya setahun yang lalu. Kini pakaiannya yang terbaik sekalipun terlalu ketat mencetak tubuhnya, agak kurang longgar karena tubuhnya makin berisi selama setahun ini. Keris pusaka tidak ia sembunyikan seperti dahulu lagi, melainkan kini terselip di pinggangnya yang dihias sabuk emas pula. Perahu rampasan dahulu itu masih ada. Gurunya tidak menggunakan perahu ketika pergi.

<<< Bagian 090                                                                                   Bagian 092 >>>

No comments:

Post a Comment