Pujo tersenyum pahit. Sungguh tidak enak tugasnya bercerita dan membuat pengakuan ini. Akan tetapi memang betul ayah mertuanya. Ia harus berterus terang membuka rahasia ini, demi kebaikan mereka semua.
"Ayah
kandungmu yang sejati sebetulnya adalah Raden Wisangjiwo...... "
Kembali Joko
Wandiro memotong,
"Tapi,
ayah bilang Wisangjiwo adalah musuh besar yang harus kubunuh kelak!"
Mendengar ini,
serasa ditampar muka Pujo. Mukanya menjadi merah sekali, lalu berubah pucat dan
ia menundukkan mukanya.
"Besar
sekali dosaku, anakku...... ! Dan semua ini terjadi hanya karena salah duga
yang timbul dari sifat terburu nafsu!"
Berceritalah
Pujo tentang peristiwa dua belas tahun yang lalu. Mendengar tentang gurunya
yang tadinya ia anggap ayah kandungnya, kemudian mendengar pula betapa ia di
waktu kecil bersama ibu kandungnya yang ia lupa lagi bagaimana wajahnya itu,
diculik oleh gurunya, makin lama makin pucatlah wajah Joko Wandiro. Dadanya
terangsang sesuatu yang menggelora, yang membuat tubuhnya menggigil. Teringat
ia akan penuturan Cekel Aksomolo yang pernah menangkapnya, pernah mengatakan
bahwa dia adalah putera kadipaten, putera Raden Wisangjiwo, bahwa Pujo adalah
penculiknya. Dan ia malah memaki-maki dan memukul Cekel Aksomolo yang disangkanya
membohong! Kini mendengar betapa satu-satunya orang di dunia ini yang
dicintanya, dipujanya dan disangka ayah kandungnya itu telah sedemikian
kejamnya terhadap ayah bundanya, terhadap dia sendiri, hatinya seperti
disayat-sayat. Apalagi kalau ia teringat betapa Pujo semenjak ia kecil selalu
menekankan bahwa musuh besar di dunia ini adalah Wisangjiwo yang harus
dibunuhnya kelak! Ayah kandungnya sendiri! Harus dibunuhnya! Alangkah kejinya
dan hal ini sungguh-sungguh mengecewakan dan menghancurkan hatinya. Saking
kerasnya desakan gelora hati yang ditekan-tekannya, ketika mendengar cerita
bahwa ayah kandungnya, Wisangjiwo gugur dalam perang, sedangkan ibunya yang
pulang ke Selogiri dibawa lari perampok, Joko Wandiro terbelalak memandang ke
angkasa, lalu tiba-tiba menjerit dan tubuhnya terjungkal roboh pingsan.
Ketika siuman
dari pingsannya, Joko Wandiro berada dalam pelukan Roro Luhito. Tentu saja ia
terheran-heran, apalagi melihat wanita itu menangis sambil menyebut-nyebut
namanya. Sejenak timbul harapannya. Inikah ibu kandungnya? Ah, tak mungkin.
Bukankah tadi diceritakan bahwa ibu kandungnya diculik perampok di Selogiri?
"Joko,
aku adalah bibimu sendiri, aku adik kandung ayahmu." Dengan suara
terputus-putus Roro Luhito memperkenalkan diri. Kemudian ia membuat pengakuan
bahwa iapun telah menjadi isteri Pujo.
Makin tertusuk
hati Joko Wandiro, makin bingung dan kecewa. Pujo ternyata bukan ayahnya, hanya
gurunya. Ayah kandungnya sudah tewas, ibunya diculik perampok, bibinya menikah
dengan Pujo yang seakan-akan membikin celaka rumah tangga ayah bundanya. Tidak
tertahankan lagi, melihat gurunya menundukkan mukanya yang pucat, melihat eyang
gurunya mengelus-elus jenggotnya dengan senyum pahit, melihat isteri gurunya,
ibu Endang Patibroto juga tertunduk, kemudian melihat bibinya menangis
terisak-isak, Joko Wandiro juga menangis! Tangis penuh penyesalan, penuh
kekecewaan.
"Duh,
anakku, angger Joko! Gurumu tadi belum menceritakan semuanya. Ayahmu telah
meninggal dunia dan bukan maksud bibimu ini memburukkan nama ayahmu, sama
sekali bukan. Akan tetapi agaknya engkau harus mendengar segalanya dengan jelas
agar jangan engkau timbul kebencian kepada kami."
Setelah
berkata demikian, Roro Luhito lalu menceritakan segala yang telah terjadi,
betapa Wisangjiwo bersama ayahnya, mendiang Adipati Joyowiseso tadinya
menyeleweng dan hendak memberontak, bersekutu dengan tokoh-tokoh sakti yang
jahat seperti Cekel Aksomolo dan lain-lain. Betapa Wisangjiwo menyerang Pujo
dan Kartikosari di dalam guha gelap sehingga ketika muncul Jokowanengpati
mempergunakan namanya, maka Pujo dan Kartikosari tertipu. Semua ia ceritakan
dengan jelas, tanpa tedeng aling-aling lagi, bahkan ia ceritakan kekejian dan
kejahatan Jokowanengpati terhadap keluarga Kadipaten Selopenangkep, terhadap
dirinya sendiri!.
Mendengar
cerita ini, berubahlah wajah Joko Wandiro. Lenyap semua bayangan penyesalan.
Betapapun juga, orang yang selama ini ia kasihi, ia anggap ayah kandung
sendiri, ternyata adalah seorang satria utama, yang telah salah tindak karena
tertipu. Seluruh penyesalan dan bencinya kini ia timpakan kepada orang yang
bernama Jokowanengpati.
"Si
bedebah Jokowanengpati! Di mana si jahat itu sekarang??" Ia melompat
berdiri dengan kedua tangan terkepal.
Pujo
meraihnya. Girang dan bangga hatinya bahwa murid yang ia kasihi seperti
puteranya sendiri ini sekarang telah melihat kenyataan, dan tidak membencinya.
Ia merangkul dan berkata,
"Joko
anakku, musuh besar itu telah tewas di tangan kedua bibimu, baru-baru
ini."
Joko Wandiro
balas memeluk gurunya, lalu berkata,
"Harap
sebuah permohonanku dikabulkan."
'Tentu saja,
Joko. Jangankan hanya sebuah, biarpun seribu permohonanmu tentu akan
kupenuhi," jawab Pujo terharu.
"Hanya
satu saja, yaitu...... karena ayah kandungku telah tewas...... supaya......
supaya aku tetap boleh menyebut...... ayah kepadamu."
Pujo merangkul
dan memeluk kepala Joko Wandiro. Dari kedua pelupuk matanya mengalir beberapa
butir air mata. Sambil mencium kepala anak itu, ia berkata,
"Engkau
memang anakku! Biarpun bukan anak kandung, akan tetapi engkau anakku, Joko!
Terima kasih bahwa engkau masih mau menyebut ayah kepadaku. Akan tetapi, karena
engkau telah mendapatkan seorang guru yang maha sakti, engkau harus melanjutkan
pelajaranmu kepada gurumu yang sakti mandraguna dan bijaksana, Ki Patih
Narotama. Kami bertiga akan kembali ke Bayuwilis di pantai Laut Selatan, dan
kelak, kalau ada perkenan gurumu, kita akan bertemu lagi, Joko."
Anak yang
semuda itu telah mengalami kecewa, sesal, dan duka yang amat hebat itu hanya
mengangguk-angguk sambil memandang dengan air mata berlinang. Pujo, Roro Luhito
dan Kartikosari memandang anak itu dengan hati penuh keharuan sehingga suasana
menjadi sedih. Tiba-tiba Resi Bhargowo tertawa. Suara ketawanya tenang dan
sewajarnya, sekaligus mengusir suasana yang iengang sedih itu.
"Ha-ha-ha,
alangkah lemahnya kita diseret kedukaan berlarut-larut! Joko, cucuku yang baik.
Gurumu adalah kawula yang paling gagah perkasa dan sakti di seluruh Kahuripan,
sungguh mengecewakan kalau engkau sebagai muridnya tak mampu melawan nafsu perasaan
sendiri!"
Sadarlah
mereka semua. Joko Wandiro lalu menjatuhkan diri berlutut, menyembah kepada
empat orang itu sambil berkata,
"Hamba
pamit mundur.. .... !"
Tanpa menanti
jawaban, tubuhnya sudah melesat dan bagaikan terbang ia lari meninggalkan tempat
itu untuk kembali ke tempat pertapaan gurunya yang berada di lereng gunung.
Segala sesuatu
di permukaan bumi ini, mau atau tidak, semua harus tunduk kepada kekuatan Sang
Waktu. Betapapun kerasnya besi baja, betapapun besarnya gunung dan luasnya
lautan, semua itu akan lenyap atau berubah setelah tiba saatnya. Namun,
demikian halus Sang Waktu bekerja sehingga sedikit demi sedikit kesemuanya itu
digerogoti sampai habis tanpa ada yang merasakannya! Manusia sendiri, setiap
hari digerogoti waktu dalam bentuk usia, kanak-kanak menjadi dewasa, dewasa
menjadi tua dan kakek-kakek, tanpa si manusia merasainya, sehingga tahu-tahu
Sang Waktu menyeretnya ke lubang kubur!. Sang Waktu merayap selambat kura-kura
apabila diperhatikan, akan tetapi terbang secepat kilat apabila tidak
diperhatikan. Tahun-tahun lalu serasa hari kemarin! Karena inilah, sebelum
terlambat, seyogianya manusia mengisi hidupnya yang tak berapa lama ini dengan
perbuatan-perbuatan bermanfaat bagi dunia, bangsa, negara, masyarakat atau
sedikitnya bagi orang lain. Bahagialah mereka yang tidak menyia-nyiakan waktu
hidup sebentar ini hanya dengan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri
saja. Karena sudah pasti bahwa pada akhir hidup, hati nurani sendiri menuntut
jasa apakah yang telah diperbuat semasa hidupnya bagi dunia dan manusia?.
Sang Waktu
melesat cepat sehingga tanpa disadari, Endang Patibroto telah enam tahun
tinggal di Pulau Iblis. Selama enam tahun ini, setiap hari ia menerima
gemblengan dari gurunya. Dibyo Mamangkoro yang amat mencinta muridnya, bahkan
menganggap muridnya itu seperti anak atau cucu sendiri. Tidak ada ilmu yang ia
sembunyikan, semua kedigdayaannya ia turunkan kepada Endang Patibroto. Bahkan
pada kesempatan menurunkan ilmu terakhir, Dibyo Mamangkoro berkata,
"Muridku
yang pintar, anakku yang denok! Sudah habislah sekarang semua aji kaupelajari.
Tidak ada apa-apa lagi yang dapat kuajarkan kepadamu, kecuali hanya hawa sakti
di dalam tubuhku yang dapat kuberikan kepadamu. Akan tetapi tidak sekarang,
muridku, karena penyerahan hawa sakti itu akan mendatangkan kematian padaku.
Aku tidak sayang mengorbankan nyawa untukmu, Endang, akan tetapi jangan
sekarang."
Endang
Patibroto, kini seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahun, cantik manis
dengan tubuh padat berisi dan ramping, dengan sepasang mata yang tajam akan
tetapi bersinar dingin, bibirnya yang selalu merah basah itupun tak pernah
ketinggalan senyum, senyum dingin mengejek, kini berdiri memandang gurunya.
Sukar untuk menduga apa yang terkandung di hati gadis muda ini, karena wajahnya
menyerupai topeng puteri jelita yang tidak pernah berubah.
Bahkan Dibyo
Mamangkoro sendiri, seorang sakti mandraguna, seorang yang berwatak aneh, liar
dan ganas, kadang-kadang mengakui di dalam hati bahwa dalam diri muridnya ini
terdapat kekuatan luar biasa, dan memancarkan keanehan dan kesereman. Bahwa di
balik sinar mata yang tajam bersinar itu tersembunyi kedinginan yang membeku,
dan di balik senyum yang manis menggairahkan hati tiap pria itu tersembunyi
maut yang selalu mengintai korban!.
"Bapa
guru," jawab Endang Patibroto terhadap ucapan gurunya tadi. "Kalau
bapa tidak hendak memberikan hawa sakti kepadaku karena takut mati, perlu apa
bapa menceritakannya kepadaku? Tenagaku sendiri cukup, dan sesungguhnya aku
tidak membutuhkan penambahan tenaga dari luar lagi." Setelah berkata
demikian, perlahan Endang Patibroto membalikkan tubuhnya, lengan kirinya
bergerak lambat ke depan, seperti main-main mendorong sebatang pohon sebesar
tubuh manusia dan......
"kraaakkk!"
pohon waru itu roboh!.
"Huah-hah-hah-hahl
Kiranya tidak akan mudah mencari orang yang mampu melawan Endang Patibroto,
murid terkasih Dibyo Mamangkoro!" Kakek raksasa itu tertawa bergelak, akan
tetapi akhirnya suara ketawanya lenyap dalam keraguan. Keningnya yang tebal
berkerut ketika ia berkata,
"Betapapun
juga, menghadapi manusia-manusia luar biasa seperti Airlangga dan Narotama,
Empu Bharodo, Resi Bhargowo dan lain-lain tokoh di Kahuripan, tak boleh
sekali-kali kau memandang rendah, muridku. Kalau teringat akan mereka itulah
timbul kegelisahanku, dan agaknya hanya kalau engkau mendapatkan tambahan hawa
sakti dari tubuhku, kau akan dapat menghadapi mereka. Sudah enam tahun engkau
berada di sini, Endang. Biarlah sekarang aku pergi dulu menyelidik ke
Kahuripan, melihat bagaimana perkembangan keadaannya sekarang. Wirokolo hanya
mengabarkan bahwa Sang Prabu Airlangga telah meninggal dunia dalam
pertapaannya, bahwa Narotama masih menjadi pertapa dan tidak mencampuri urusan
kerajaan. Selain itu, ada berita baik bahwa mulailah kini Kerajaan Jenggala
bergerak untuk menumpas Kerajaan Panjalu! Sekaranglah saatnya engkau muncul dan
memperkenalkan diri pada dunia, muridku. Biarlah dunia membuka mata terhadap
munculnya Endang Patibroto, sang puteri perkasa. Kau tinggallah menanti di
sini, muridku. Aku pergi ke Kahuripan, menyelidiki keadaan."
Pada hari-hari
pertama kepergian Dibyo Mamangkoro, tidak dirasakan oleh Endang Patibroto. Akan
tetapi, setelah lewat tiga pekan, mulailah ia merasa betapa sunyi pulau itu.
Selama enam tahun tak pernah ia berpisah dari gurunya. Kini mulailah ia
kehilangan suara gurunya yang bergema di seluruh pojok pulau. Endang Patibroto
mulai merasa tidak senang dan tidak kerasan di pulau ini, di mana selama enam
tahun belum pernah ia tinggalkan. Diam-diam timbul rasa marah di dalam hatinya
terhadap gurunya yang begitu lama meninggalkannya. Kenapa gurunya tidak
mengajaknya pergi? Makin lama kemarahannya makin membesar, rasa jemu tinggal
seorang diri di pulau tak tertahankan lagi dan akhirnya iapun meninggalkan
Pulau Ibiis!.
Biarpun enam
tahun ia tinggal di pulau, namun gurunya selalu mencukupi semua keperluannya.
Bahkan pakaianpun Endang Patibroto tidak pernah kekurangan. Ia selalu menerima
pakaian-pakaian yang halus dan indah. Bahkan keris pusakanya, Brojol Luwuk,
kini memakai gagang yang amat indah, bertabur mutiara pilihan dan sarungnya
terbuat daripada emas berukir!.
Pagi hari itu,
karena tidak tahan lagi, Endang Patibroto meninggalkan Pulau Iblis. Ia
mengenakan pakaiannya yang paling baru. Ia mempunyai banyak kain, akan tetapi sayang,
sungguhpun bajunya banyak, namun oleh gurunya disuruh orang luar pulau
membuatnya setahun yang lalu. Kini pakaiannya yang terbaik sekalipun terlalu
ketat mencetak tubuhnya, agak kurang longgar karena tubuhnya makin berisi
selama setahun ini. Keris pusaka tidak ia sembunyikan seperti dahulu lagi,
melainkan kini terselip di pinggangnya yang dihias sabuk emas pula. Perahu
rampasan dahulu itu masih ada. Gurunya tidak menggunakan perahu ketika pergi.
No comments:
Post a Comment