Badai Laut Selatan ; Bagian 092


Mungkin menggunakan mancung kelapa seperti biasa. Ia sendiripun kini sanggup menyeberang dengan bantuan mancung kelapa, bahkan ia sanggup melakukan yang lebih hebat daripada itu. Akan tetapi ia tidak suka meniru gurunya karena selain melelahkan, juga ombak akan membasahi kainnya. Dengan perahu lebih enak. Sudah sering kali ia bermain-main dengan perahu di sepanjang pantai pulau. Ia bukan seorang ahli berlayar, namun cukup dapat menguasai perahu dengan dayungnya.

Oleh karena belum pernah Endang Patibroto menyeberang, perahunya hanyut oleh ombak ke timur sehingga ketika perahu itu tiba di pantai, ia berada jauh daripada tempat penyeberangan biasa. Betapapun juga, hatinya lega ketika ia meloncat ke darat. Tidak disangkanya sedemikian sukar mengendalikan perahu yang hanyut oleh aliran air yang sangat kuatnya. Ia membiarkan perahu itu dihanyutkan ombak ke tengah, dan dengan pandang mata gembira ia melihat ke depan. Hutan yang lebat dan gelap, dunia baru baginya setelah enam tahun dikeram dalam pulau kosong. Bagaikan seekor kijang muda yang baru terlepas dari kurungan, Endang Patibroto memasuki hutan, terus berlari menuju ke timur. Tujuannya hanya satu. Ke Kahuripan dan menurut gurunya, Kahuripan terletak di sebelah timur. Ia hendak ke Kahuripan yang kini terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Panjalu dan Jenggala, menyusul gurunya. Hanya menyusul guruhya? Tidak! Iapun ingin mencari ibunya. Ingin mencari eyangnya, Resi Bhargowo. Hatinya rindu kepada ibu, Hatinya bertanya-tanya, apakah eyangnya, Resi Bhargowo yang dahulu dikeroyok orang di Pulau Sempu, masih hidup. Dan, teringat akan Joko Wandiro, tak dapat ia menahan senyum yang dibayangi tarikan bibir mencibir, mengejek! Hi-hik, hatinya mentertawakan. Àpakah Joko Wandiro masih terus menggendong dan bermain-main dengan patung kencana ? Endang Patibroto tertawa lagi sambil meraba gagang kerisnya. Bangga dan senang hatinya bahwa ia dahulu memilih keris pusaka ini. Pusaka ampuh. Bahkan gurunya sendiri merasa jerih terhadap pusaka ini! Secara berterang Dibyo Mamangkoro pernah berkata,
"Jangan engkau main-main dengan pusakamu itu, Endang. Dengan pusaka Ki Brojol Luwuk di tanganmu, semua aji kepandaianmu menjadi berlipat-lipat ampuhnya. Dengan pusaka itu, engkau akan mampu menggegerkan dunia, akan dapat menghancurkan kerajaan, seakan-akan dapat menggugurkan gunung menguras lautan! Kalau tidak terpaksa sekali, jangan mencabutnya dari sarungnya. Pusaka keramat tidak boleh dipergunakan sembarangan saja!"
Samar-samar ia masih ingat ketika enam tahun yang lalu Dibyo Mamangkoro mengajaknya sampai ke Pulau Iblis. Sedapat mungkin ia mencari jalan itu agar tidak sampai tersesat. Beberapa hari kemudian, setelah keluar dari sebuah hutan yang luas, tibalah ia di lembah Sungai Bogowanto. Ia merasa agak lelah karena perutnya lapar sekali. Melihat sungai dari jauh, begitu keluar dari hutan, ia sudah mengambil keputusan untuk beristirahat di tepi sungai, mencari kijang atau binatang hutan lain untuk dipanggang dagingnya, dan buah-buahan yang banyak terdapat di lembah sungai. Akan tetapi baru saja ia muncul dari daerah hutan, tiba-tiba dari balik pohon-pohon berlompatan keluar orang-orang tinggi besar yang segera mengepung Endang.

Sebentar saja lima belas orang telah berdiri mengepung dengan sikap garang. Mereka semua adalah laki-laki yang bertubuh tegap, bersikap kasar dan beroman galak. Paling depan berdiri seorang laki-laki setengah tua yang kelihatan paling buas di antara mereka, jelas memperlihatkan sikap pimpinan. Baju orang itu berkembang totol-totol besar seperti kulit harimau. Mukanya juga mengerikan seperti muka harimau, dengan sepasang mata lebar berkilauan dan agak hijau, tidak seperti mata manusia. Hidungnya gemuk tebal, mulutnya terkurung kumis dan jenggot yang kasar menjijikkan. Sambil meraba gagang golok, laki-laki tinggi besar ini membentak,
"Berhenti ! Siluman, peri ataukah manusia yang berani mati lewat di sini? Eh, bocah denok ayu, langsing kuning seperti kijang kencana, denok montrok seperti bidadari kahyangan! Kedua kakimu menginjak tanah, berarti engkau adalah anak manusia. Siapa engkau, dari mana hendak ke mana dan mengapa seorang gadis jelita seperti engkau berani menjelajah hutan rimba seorang diri tanpa pengawal?".
"Kakang Suro, alangkah jelita gadis ini! Aduh, disambar kerling matanya saja seperti dicabut rasa jantungku !” Seorang di antara mereka, yang masih muda, berkata,
"Kakang Suro, berikan dia padaku sebagai hadiah! Wah, mau aku dikurangi umurku sepuluh tahun kalau dia menjadi punyaku!" kata orang ke dua.
"Uuuh, bodoh amat! Kalau aku yang beruntung mendapat dia, akan kuusahakan supaya aku jangan menjadi tua, jangan mati-mati,. lebih lama lebih baik menikmati hidup di sampingnya," seru orang ke tiga.

Mereka semua tertawa-tawa, atau setidaknya menyeringai lebar. Semua mata memandang penuh selidik, menjelajahi seluruh tubuh Endang Patibroto dengan lahap seperti mata harimau kelaparan menjilat kelinci muda. Gigi yang besar-besar menguning atau menghitam karena kinang, tampak di balik kumis yang tak terpelihara. Belasan orang laki-laki buas dan liar, yang terlalu lama berkeliaran di dalam hutan, berbulan-bulan tidak bertemu wanita. Sikap mereka akan membuat seorang laki-laki pun akan menjadi gentar, karena jelas dari sikap mereka bahwa belasan orang Ini adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, sudah biasa memaksakan kehendak mereka mengandalkan golok yang tergantung di pinggang. Akan tetapi Endang Patibroto sama sekali tidak merasa gentar. Seujung rambut pun ia tidak takut menghadapi kepungan belasan laki-laki tinggi besar dan bersikap kasar itu. Dengan tangan kanan meraba gagang keris di pinggang, ia berdiri menentang pandang mereka, lalu perlahan-lahan ia memutar tubuh agar dapat memandang wajah mereka seorang demi seorang. Pandang matanya dingin, tak pernah berkejap, sikapnya tenang dan pada wajahnya yang jelita tidak terbayang perasaan apa-apa, tenang dingin seperti permukaan air telaga yang dalam. Ia harus mengukur keadaan belasan orang itu dengan sapuan pandang mata tadi dan mendapat kenyataan, menurut ajaran gurunya, bahwa mereka ini orang-orang yang memiliki keberanian dan tenaga besar saja, akan tetapi pada hakekatnya kosong. Mungkin hanya orang bermuka singa itu saja, pemimpin mereka, yang agaknya sedikit berisi! Orang-orang macam begini berani menghadangnya dan bersikap kurang ajar, Endang Patibroto tersenyum, senyum yang membuat wajahnya menjadi manis sekali, akan tetapi senyum yang dingin, yang akan membuat beku dan ngeri orang yang berperasaan. Akan tetapi lima belas orang itu adalah orang-orang kasar sehingga seperti buta terhadap kenyataan yang tersembunyi. Melihat gadis jelita ini tersenyum, mereka makin berani dan tertawa-tawa gembira, bahkan mulai bergerak mendekat dengan sikap kurang ajar. Melihat mereka itu maju dekat sehingga muka-muka menyeringai itu amat menjijikkan, ditambah bau keringat yang apek, Endang Patibroto menjadi marah. Namun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, hanya senyum yang masih membayang di bibirnya menjadi masih dingin. Tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya, diputar sambil berseru,
" Mundur.. ..!!"
Hebat kesudahannya! Tujuh orang tinggi besar yang berdiri paling depan, seperti daun-daun kering diterbangkan lesus (angin puyuh), terpelanting dan menabrak kawan sendiri yang berdiri di belakang! Tentu saja mereka menjadi terkejut dan mundur. Endang Patibroto yang masih berdiri di tengah kepungan, kini dengan sikap tenang berkata,
"Pergi kalian ! Ataukah ada yang sudah bosan hidup? Mereka yang sudah bosan hidup boleh maju!”
Surosardulo, demikian nama kepala gerombolan yang bermuka singa itu, tadi juga merasa betapa ada angin mendorongnya, namun ia hanya terhuyung ke belakang. Kini ia berkata marah,
"Heh-heh, kiranya gadis cilik yang punya kepandaian juga! Berani kau menyentuh kumis harimau! Hayo konco, siapa yang berani menangkapnya untukku?"

Mereka yang tadi berdiri di belakang, tidak merasai kehebatan sambaran hawa dari tangan Endang Patibroto. Mendengar seruan kepala mereka ini, tiga orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar meloncat hampir berbareng ke depan menghadapi Endang Patibroto. Yang Iain-lain agaknya merasa malu untuk maju setelah melihat bahwa sudah ada tiga orang kawannya yang maju. Tentu saja mereka merasa malu kalau menghadapi seorang gadis cilik saja mereka harus maju bersama mengeroyok. Tiga orang itu yang amat kepingin menangkap dan rnendekap tubuh muda yang padat itu, seperti hendak berlomba. Endang Patibroto memandang tiga orang ini dengan sinar mata mengukur dan bibir mengejek.
"Kalian benar sudah bosan hidup? Ingin mampus secara bagaimana?"
Ucapan ini bernada dingin penuh ancaman maut, akan tetapi oleh karena keluar dari mulut mungil, terdengar lucu bagi tiga orang raksasa itu. Mereka bergelak tertawa.
"Ha-ha, cah-ayu manis! Apa engkau bisa membikin aku mati tanpa kepala?" ejek orang pertama yang mukanya pucat.
"Aduh mati aku! Kerlingmu dan senyummu sudah cukup membikin remuk dadaku, denok." Orang ke dua yang matanya juling berkata.
"Dan aku rela mati dengan tubuh hancur di depan kakimu, asal...... hemm, engkau suka menjadi punyaku, sayangl" kata orang ke tiga yang kumisnya jarang.

Endang Patibroto dengan sikap tenang menghitung-hitung dengan jari tangannya.
"Seorang ingin mampus tanpa kepala, yang ke dua ingin mampus dengan dada remuk, yang ke tiga dengan tubuh hancur. Hemmm, kehendak kalian akan terpenuhi. Majulah!"
Si mata juling agaknya sudah tidak dapat menahan lagi hasrat hatinya, ingin segera dapat memeluk gadis itu, maka sambil tertawa ia sudah menubruk maju dengan gerakan laksana seekor harimau menubruk kelinci. Dua orang temannya tidak mau kalah dulu, juga segera menerjang maju dengan kedua tangan menjangkau ke depan.
Sukar diikuti pandangan mata apa yang selanjutnya terjadi. Dalam sekelebatan mereka yang tidak bertanding melihat betapa gadis jelita itu menggerakkan tangan kakinya menyambut tiga orang pengeroyoknya. Mula-mula terdengar suara "krakkkk!" disusul jeritan si mata juling yang terpelantlng roboh, Disusul berkelebatnya golok menyambar leher si muka pucat yang roboh dengan leher putus dan darah menyembur-nyembur, kemudian tampak gadis itu sudah memegang lengan kanan si kumis jarang dan tubuh laki-laki ini terayun ke atas lalu terbanting pada batu besar yang terletak tak jauh dari tempat pertempuran. Kemudian keadaan menjadi sunyi. Gadis itu berdiri di tempat tadi, tegak dan tenang, matanya tajam dan bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek.
Semua mata terbelalak memandang penuh kengerian. Tiga orang penyerbu tadi tak dapat bangun kembali, mata dalam keadaan amat mengerikan. Si muka pucat telah terbabat putus lehernya, oleh goloknya sendiri, dan kini kepalanya menggelinding agak jauh dari tubuhnya, mati tanpa kepala! Si mata juling rebah telentang mandi darah, dadanya pecah terkena hantaman tangan Endang Patibroto. Adapun si kumis jarang lebih mengerikan lagi. Tubuhnya yang dibanting di atas batu tadi remuk dan pecah-pecah! Sejenak gerombolan itu tercengang dan dengan muka pucat memandang mayat tiga orang teman mereka. Akan tetapi segera timbul kemarahan di hati mereka. Tanpa diperintah lagi, mereka semua menghunus golok dan dua belas orang itu sudah bergerak maju mengurung dengan sikap mengancam.

Endang Patibroto masih tenang saja. Baru setelah jarak antara dia dan mereka sudah dekat, tubuhnya bergerak, kedua tangannya mendorong ke sana ke mari dan terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul terlemparnya tubuh para pengeroyok. Berturut-turut lima belas orang itu termasuk Surosardulo sendiri, roboh tumpang-tindih dan babak-bundas. Untung bagi mereka bahwa Endang Patibroto hanya mempergunakan hawa sakti yang disalurkan dalam kedua lengannya, merobohkan mereka dengan angin pukulan saja. Kalau sampai mereka tersentuh tangan gadis perkasa ini, tentu mereka akan mengalami nasib seperti tiga orang kawan mereka tadi. Sambil meraba gagang keris pusakanya dengan tangan kanan dan bertolak pinggang dengan tangan kiri, Endang Patibroto memandang mereka yang roboh, membuang senyum mengejek lalu tanpa sepatah katapun ia melangkah pergi dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya. Belum sejauh luncuran anak panah ia berjalan, Endang berhenti tiba-tiba dan memutar tubuhnya, membentak,
"Apakah di antara kalian ada yang sudah bosan hidup juga?"
Dua belas orang gerombolan yang dipimpin Surosardulo itu terkejut, dan tiba-tiba Surosardulo menjatuhkan diri berlutut, diturut anak buahnya. Mereka tadi sejenak terlongong keheranan, kemudian diam-diam mengikuti gadis itu yang berjalan menuju ke Sungai Bogowonto. Siapa kira, gadis itu dari jarak yang cukup jauh dapat mengetahui bahwa ia dibayangi orang!.
"Ampun......" kata Surosardulo,
"hamba hanya ingin mengetahui siapa gerangan nama besar paduka. Hamba Surosardulo dan para anak buah hamba selama hidup belum pernah mendengar, apalagi melihat, seorang puteri sedemikian sakti mandraguna seperti paduka...... "
Endang Patibroto mengangkat dagu ke depan.
"Namaku Endang Patibroto. Apakah kalian masih tidak terima kalah? Mengapa mengikuti perjalananku?"

<<< Bagian 091                                                                                    Bagian 093 >>>

No comments:

Post a Comment