Mungkin menggunakan mancung kelapa seperti biasa. Ia sendiripun kini sanggup menyeberang dengan bantuan mancung kelapa, bahkan ia sanggup melakukan yang lebih hebat daripada itu. Akan tetapi ia tidak suka meniru gurunya karena selain melelahkan, juga ombak akan membasahi kainnya. Dengan perahu lebih enak. Sudah sering kali ia bermain-main dengan perahu di sepanjang pantai pulau. Ia bukan seorang ahli berlayar, namun cukup dapat menguasai perahu dengan dayungnya.
Oleh karena
belum pernah Endang Patibroto menyeberang, perahunya hanyut oleh ombak ke timur
sehingga ketika perahu itu tiba di pantai, ia berada jauh daripada tempat
penyeberangan biasa. Betapapun juga, hatinya lega ketika ia meloncat ke darat.
Tidak disangkanya sedemikian sukar mengendalikan perahu yang hanyut oleh aliran
air yang sangat kuatnya. Ia membiarkan perahu itu dihanyutkan ombak ke tengah,
dan dengan pandang mata gembira ia melihat ke depan. Hutan yang lebat dan
gelap, dunia baru baginya setelah enam tahun dikeram dalam pulau kosong.
Bagaikan seekor kijang muda yang baru terlepas dari kurungan, Endang Patibroto
memasuki hutan, terus berlari menuju ke timur. Tujuannya hanya satu. Ke
Kahuripan dan menurut gurunya, Kahuripan terletak di sebelah timur. Ia hendak
ke Kahuripan yang kini terpecah menjadi dua kerajaan, yaitu Panjalu dan
Jenggala, menyusul gurunya. Hanya menyusul guruhya? Tidak! Iapun ingin mencari
ibunya. Ingin mencari eyangnya, Resi Bhargowo. Hatinya rindu kepada ibu,
Hatinya bertanya-tanya, apakah eyangnya, Resi Bhargowo yang dahulu dikeroyok
orang di Pulau Sempu, masih hidup. Dan, teringat akan Joko Wandiro, tak dapat
ia menahan senyum yang dibayangi tarikan bibir mencibir, mengejek! Hi-hik,
hatinya mentertawakan. Àpakah Joko Wandiro masih terus menggendong dan
bermain-main dengan patung kencana ? Endang Patibroto tertawa lagi sambil
meraba gagang kerisnya. Bangga dan senang hatinya bahwa ia dahulu memilih keris
pusaka ini. Pusaka ampuh. Bahkan gurunya sendiri merasa jerih terhadap pusaka
ini! Secara berterang Dibyo Mamangkoro pernah berkata,
"Jangan
engkau main-main dengan pusakamu itu, Endang. Dengan pusaka Ki Brojol Luwuk di
tanganmu, semua aji kepandaianmu menjadi berlipat-lipat ampuhnya. Dengan pusaka
itu, engkau akan mampu menggegerkan dunia, akan dapat menghancurkan kerajaan,
seakan-akan dapat menggugurkan gunung menguras lautan! Kalau tidak terpaksa
sekali, jangan mencabutnya dari sarungnya. Pusaka keramat tidak boleh
dipergunakan sembarangan saja!"
Samar-samar ia
masih ingat ketika enam tahun yang lalu Dibyo Mamangkoro mengajaknya sampai ke
Pulau Iblis. Sedapat mungkin ia mencari jalan itu agar tidak sampai tersesat.
Beberapa hari kemudian, setelah keluar dari sebuah hutan yang luas, tibalah ia
di lembah Sungai Bogowanto. Ia merasa agak lelah karena perutnya lapar sekali.
Melihat sungai dari jauh, begitu keluar dari hutan, ia sudah mengambil
keputusan untuk beristirahat di tepi sungai, mencari kijang atau binatang hutan
lain untuk dipanggang dagingnya, dan buah-buahan yang banyak terdapat di lembah
sungai. Akan tetapi baru saja ia muncul dari daerah hutan, tiba-tiba dari balik
pohon-pohon berlompatan keluar orang-orang tinggi besar yang segera mengepung
Endang.
Sebentar saja
lima belas orang telah berdiri mengepung dengan sikap garang. Mereka semua
adalah laki-laki yang bertubuh tegap, bersikap kasar dan beroman galak. Paling
depan berdiri seorang laki-laki setengah tua yang kelihatan paling buas di
antara mereka, jelas memperlihatkan sikap pimpinan. Baju orang itu berkembang
totol-totol besar seperti kulit harimau. Mukanya juga mengerikan seperti muka
harimau, dengan sepasang mata lebar berkilauan dan agak hijau, tidak seperti
mata manusia. Hidungnya gemuk tebal, mulutnya terkurung kumis dan jenggot yang
kasar menjijikkan. Sambil meraba gagang golok, laki-laki tinggi besar ini
membentak,
"Berhenti
! Siluman, peri ataukah manusia yang berani mati lewat di sini? Eh, bocah denok
ayu, langsing kuning seperti kijang kencana, denok montrok seperti bidadari
kahyangan! Kedua kakimu menginjak tanah, berarti engkau adalah anak manusia.
Siapa engkau, dari mana hendak ke mana dan mengapa seorang gadis jelita seperti
engkau berani menjelajah hutan rimba seorang diri tanpa pengawal?".
"Kakang
Suro, alangkah jelita gadis ini! Aduh, disambar kerling matanya saja seperti
dicabut rasa jantungku !” Seorang di antara mereka, yang masih muda, berkata,
"Kakang
Suro, berikan dia padaku sebagai hadiah! Wah, mau aku dikurangi umurku sepuluh
tahun kalau dia menjadi punyaku!" kata orang ke dua.
"Uuuh,
bodoh amat! Kalau aku yang beruntung mendapat dia, akan kuusahakan supaya aku
jangan menjadi tua, jangan mati-mati,. lebih lama lebih baik menikmati hidup di
sampingnya," seru orang ke tiga.
Mereka semua
tertawa-tawa, atau setidaknya menyeringai lebar. Semua mata memandang penuh
selidik, menjelajahi seluruh tubuh Endang Patibroto dengan lahap seperti mata
harimau kelaparan menjilat kelinci muda. Gigi yang besar-besar menguning atau
menghitam karena kinang, tampak di balik kumis yang tak terpelihara. Belasan
orang laki-laki buas dan liar, yang terlalu lama berkeliaran di dalam hutan,
berbulan-bulan tidak bertemu wanita. Sikap mereka akan membuat seorang
laki-laki pun akan menjadi gentar, karena jelas dari sikap mereka bahwa belasan
orang Ini adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, sudah
biasa memaksakan kehendak mereka mengandalkan golok yang tergantung di
pinggang. Akan tetapi Endang Patibroto sama sekali tidak merasa gentar. Seujung
rambut pun ia tidak takut menghadapi kepungan belasan laki-laki tinggi besar
dan bersikap kasar itu. Dengan tangan kanan meraba gagang keris di pinggang, ia
berdiri menentang pandang mereka, lalu perlahan-lahan ia memutar tubuh agar
dapat memandang wajah mereka seorang demi seorang. Pandang matanya dingin, tak
pernah berkejap, sikapnya tenang dan pada wajahnya yang jelita tidak terbayang
perasaan apa-apa, tenang dingin seperti permukaan air telaga yang dalam. Ia
harus mengukur keadaan belasan orang itu dengan sapuan pandang mata tadi dan
mendapat kenyataan, menurut ajaran gurunya, bahwa mereka ini orang-orang yang
memiliki keberanian dan tenaga besar saja, akan tetapi pada hakekatnya kosong.
Mungkin hanya orang bermuka singa itu saja, pemimpin mereka, yang agaknya
sedikit berisi! Orang-orang macam begini berani menghadangnya dan bersikap
kurang ajar, Endang Patibroto tersenyum, senyum yang membuat wajahnya menjadi
manis sekali, akan tetapi senyum yang dingin, yang akan membuat beku dan ngeri
orang yang berperasaan. Akan tetapi lima belas orang itu adalah orang-orang
kasar sehingga seperti buta terhadap kenyataan yang tersembunyi. Melihat gadis
jelita ini tersenyum, mereka makin berani dan tertawa-tawa gembira, bahkan
mulai bergerak mendekat dengan sikap kurang ajar. Melihat mereka itu maju dekat
sehingga muka-muka menyeringai itu amat menjijikkan, ditambah bau keringat yang
apek, Endang Patibroto menjadi marah. Namun wajahnya tidak membayangkan
sesuatu, hanya senyum yang masih membayang di bibirnya menjadi masih dingin.
Tiba-tiba ia menggerakkan kedua tangannya, diputar sambil berseru,
"
Mundur.. ..!!"
Hebat
kesudahannya! Tujuh orang tinggi besar yang berdiri paling depan, seperti
daun-daun kering diterbangkan lesus (angin puyuh), terpelanting dan menabrak
kawan sendiri yang berdiri di belakang! Tentu saja mereka menjadi terkejut dan mundur.
Endang Patibroto yang masih berdiri di tengah kepungan, kini dengan sikap
tenang berkata,
"Pergi
kalian ! Ataukah ada yang sudah bosan hidup? Mereka yang sudah bosan hidup
boleh maju!”
Surosardulo,
demikian nama kepala gerombolan yang bermuka singa itu, tadi juga merasa betapa
ada angin mendorongnya, namun ia hanya terhuyung ke belakang. Kini ia berkata
marah,
"Heh-heh,
kiranya gadis cilik yang punya kepandaian juga! Berani kau menyentuh kumis
harimau! Hayo konco, siapa yang berani menangkapnya untukku?"
Mereka yang
tadi berdiri di belakang, tidak merasai kehebatan sambaran hawa dari tangan
Endang Patibroto. Mendengar seruan kepala mereka ini, tiga orang laki-laki yang
bertubuh tinggi besar meloncat hampir berbareng ke depan menghadapi Endang
Patibroto. Yang Iain-lain agaknya merasa malu untuk maju setelah melihat bahwa
sudah ada tiga orang kawannya yang maju. Tentu saja mereka merasa malu kalau
menghadapi seorang gadis cilik saja mereka harus maju bersama mengeroyok. Tiga
orang itu yang amat kepingin menangkap dan rnendekap tubuh muda yang padat itu,
seperti hendak berlomba. Endang Patibroto memandang tiga orang ini dengan sinar
mata mengukur dan bibir mengejek.
"Kalian
benar sudah bosan hidup? Ingin mampus secara bagaimana?"
Ucapan ini
bernada dingin penuh ancaman maut, akan tetapi oleh karena keluar dari mulut
mungil, terdengar lucu bagi tiga orang raksasa itu. Mereka bergelak tertawa.
"Ha-ha,
cah-ayu manis! Apa engkau bisa membikin aku mati tanpa kepala?" ejek orang
pertama yang mukanya pucat.
"Aduh
mati aku! Kerlingmu dan senyummu sudah cukup membikin remuk dadaku,
denok." Orang ke dua yang matanya juling berkata.
"Dan aku
rela mati dengan tubuh hancur di depan kakimu, asal...... hemm, engkau suka
menjadi punyaku, sayangl" kata orang ke tiga yang kumisnya jarang.
Endang
Patibroto dengan sikap tenang menghitung-hitung dengan jari tangannya.
"Seorang
ingin mampus tanpa kepala, yang ke dua ingin mampus dengan dada remuk, yang ke
tiga dengan tubuh hancur. Hemmm, kehendak kalian akan terpenuhi. Majulah!"
Si mata juling
agaknya sudah tidak dapat menahan lagi hasrat hatinya, ingin segera dapat
memeluk gadis itu, maka sambil tertawa ia sudah menubruk maju dengan gerakan
laksana seekor harimau menubruk kelinci. Dua orang temannya tidak mau kalah
dulu, juga segera menerjang maju dengan kedua tangan menjangkau ke depan.
Sukar diikuti
pandangan mata apa yang selanjutnya terjadi. Dalam sekelebatan mereka yang
tidak bertanding melihat betapa gadis jelita itu menggerakkan tangan kakinya
menyambut tiga orang pengeroyoknya. Mula-mula terdengar suara
"krakkkk!" disusul jeritan si mata juling yang terpelantlng roboh,
Disusul berkelebatnya golok menyambar leher si muka pucat yang roboh dengan
leher putus dan darah menyembur-nyembur, kemudian tampak gadis itu sudah
memegang lengan kanan si kumis jarang dan tubuh laki-laki ini terayun ke atas
lalu terbanting pada batu besar yang terletak tak jauh dari tempat pertempuran.
Kemudian keadaan menjadi sunyi. Gadis itu berdiri di tempat tadi, tegak dan
tenang, matanya tajam dan bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek.
Semua mata
terbelalak memandang penuh kengerian. Tiga orang penyerbu tadi tak dapat bangun
kembali, mata dalam keadaan amat mengerikan. Si muka pucat telah terbabat putus
lehernya, oleh goloknya sendiri, dan kini kepalanya menggelinding agak jauh
dari tubuhnya, mati tanpa kepala! Si mata juling rebah telentang mandi darah,
dadanya pecah terkena hantaman tangan Endang Patibroto. Adapun si kumis jarang
lebih mengerikan lagi. Tubuhnya yang dibanting di atas batu tadi remuk dan
pecah-pecah! Sejenak gerombolan itu tercengang dan dengan muka pucat memandang
mayat tiga orang teman mereka. Akan tetapi segera timbul kemarahan di hati
mereka. Tanpa diperintah lagi, mereka semua menghunus golok dan dua belas orang
itu sudah bergerak maju mengurung dengan sikap mengancam.
Endang
Patibroto masih tenang saja. Baru setelah jarak antara dia dan mereka sudah
dekat, tubuhnya bergerak, kedua tangannya mendorong ke sana ke mari dan
terdengarlah teriakan-teriakan kesakitan disusul terlemparnya tubuh para
pengeroyok. Berturut-turut lima belas orang itu termasuk Surosardulo sendiri,
roboh tumpang-tindih dan babak-bundas. Untung bagi mereka bahwa Endang
Patibroto hanya mempergunakan hawa sakti yang disalurkan dalam kedua lengannya,
merobohkan mereka dengan angin pukulan saja. Kalau sampai mereka tersentuh
tangan gadis perkasa ini, tentu mereka akan mengalami nasib seperti tiga orang
kawan mereka tadi. Sambil meraba gagang keris pusakanya dengan tangan kanan dan
bertolak pinggang dengan tangan kiri, Endang Patibroto memandang mereka yang
roboh, membuang senyum mengejek lalu tanpa sepatah katapun ia melangkah pergi
dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya. Belum sejauh luncuran anak
panah ia berjalan, Endang berhenti tiba-tiba dan memutar tubuhnya, membentak,
"Apakah
di antara kalian ada yang sudah bosan hidup juga?"
Dua belas
orang gerombolan yang dipimpin Surosardulo itu terkejut, dan tiba-tiba
Surosardulo menjatuhkan diri berlutut, diturut anak buahnya. Mereka tadi
sejenak terlongong keheranan, kemudian diam-diam mengikuti gadis itu yang
berjalan menuju ke Sungai Bogowonto. Siapa kira, gadis itu dari jarak yang
cukup jauh dapat mengetahui bahwa ia dibayangi orang!.
"Ampun......"
kata Surosardulo,
"hamba
hanya ingin mengetahui siapa gerangan nama besar paduka. Hamba Surosardulo dan
para anak buah hamba selama hidup belum pernah mendengar, apalagi melihat,
seorang puteri sedemikian sakti mandraguna seperti paduka...... "
Endang
Patibroto mengangkat dagu ke depan.
"Namaku
Endang Patibroto. Apakah kalian masih tidak terima kalah? Mengapa mengikuti
perjalananku?"
No comments:
Post a Comment