Badai Laut Selatan ; Bagian 093


Setelah berkata demikian, dengan gerakan seenaknya saja Endang mengipatkan tangan kirinya ke arah pohon jati di dekatnya. Terdengar suara keras dan batang pohon sebesar paha itu patah, pohonnya tumbang! Pucat wajah Surosardulo dan anak buahnya.
"Tidak....karni tidak bermaksud apa-apa....hanya ingin tahu nama paduka..." kata Surosardulo.

Endang mencibirkan bibirnya lalu membalikkan tubuh, melanjutkan perjalanan. Diam-diam Surosardulo yang jantungnya masih berdebar dan wajahnya pucat itu memberi perintah kepada dua orang anak buahnya untuk mengambil jalan terdekat, mendahului gadis sakti itu menyeberang sungai dan memberi tahu kepada pimpinannya. Mereka ini, Surosardulo dan anak buahnya, sebetulnya adalah anggota gerombolan perampok dan bajak sungai yang berada di bawah kekuasaan Ki Krendoyakso. Hampir semua penjahat yang beroperasi di daerah Bagelen, adalah anak buah Ki Krendoyakso. Mengandalkan nama besar dan kesaktian Ki Krendoyakso inilah maka para penjahat itu tidak pernah ada yang berani melawan. Akan tetapi pada hari itu mereka mengalami kesialan, bertemu dengan Endang Patibroto. Karena Surosardulo maklum bahwa gadis jelita itu adaiah seorang yang sakti mandraguna, maka ia tidak begitu bodoh untuk bunuh diri melawan. Diam-diam ia mengirim berita ke depan agar pimpinannya dapat mencegat perjalanan gadis yang telah membunuh tiga orang anak buahnya itu. Biarpun ia tahu bahwa pada waktu itu Ki Krendoyakso sendiri tidak berada disitu, namun di sebelah timur Sungai Bogowonto banyak terdapat anggota-anggota pimpinan yang sakti, yang tentu akan sanggup menghadapi gadis itu. Endang Patibroto tentu saja tidak tahu dan tidak menduga akan hal ini. Dia tidak perduli. Andaikata tahu sekalipun, ia juga tidak perduii. Tidak perduli akan orang lain, asal jangan mengganggunya. Yang berani mengganggunya, akan ia binasakan! Dengan tenang ia melanjutkan perjalanan. Dari jauh sudah tampak Sungai Bogowonto yang lebar dan penuh airnya. Perutnya makin lapar. Tidak tampak seekorpun binatang hutan di daerah itu. Tentu habis oleh manusia-manusia kasar tadi, pikirnya jengkel. Juga tidak tampak ada dusun di sekitar situ. Mungkin di seberang ada. Tampak olehnya atap rumah pedusunan. Tentu di sana ada makanan. Ketika ia mendekat pantai sungai, ia melihat ada sebuah perahu kecil di pinggir. Entah perahu siapa. Ia tidak perduli dan segera melangkah masuk duduk dan mengambil sebatang dayung panjang yang berada di perahu. Perahu siapa ia tidak perduli, ia perlu menyeberang. Andaikata tidak ada perahu di situ sekalipun, ia tetap akan menyeberang. Banyak cara untuk menyeberangi sungai yang amat kecil jika dibandingkan dengan selat Pulau Iblis, akan tetapi cara yang paling mudah dan enak adalah berperahu. Ia juga tidak menaruh curiga mengapa di tempat sesunyi itu terdapat sebuah perahu tanpa pemiliknya. Iapun tidak tahu betapa dari dua seberang sungai, banyak pasang mata mengintainya penuh perhatian. Iapun tidak tahu betapa dari seberang lain, seorang laki-laki yang tubuhnya ramping panjang telah bergerak memasuki air ketika perahunya bergerak ke tengah.

Baru saja perahu itu ia dayung sampai di tengah sungai, tiba-tiba perahunya terguncang keras lalu terguling!. Tentu saja Endang kaget sekali. Akan tetapi ia tidak pernah ketinggalan ketenangan dan ketabahannya. Guncangan perahu yang tidak sewajarnya sudah mencurigakan hatinya, maka sebelum perahu terguling, ia telah meloncat tinggi ke atas sambil membawa dayungnya dan di tengah udara ia mematahkan dayung menjadi dua potong. Ketika tubuhnya turun ke air, ia melempar dua batang potongan dayung itu dan bagaikan seekor burung, kedua kakinya hinggap di atas dua potong kayu yang mengambang di air. Dengan demikian, kini ia berdiri di atas air, menggunakan dua potong kayu itu sebagai landasan kakinya! Perahunya telah terbalik dan hanyut, akan tetapi Endang tidak perduli. Dengan pengerahan tenaga dalam disalurkan ke arah kedua kaki, ia dapat menggerakkan kakinya mendorong kayu yang diinjak itu ke depan dan bergeraklah ia seolah-olah "berjalan" di atas air! Ia tidak tahu betapa banyak pasang mata yang mengintainya dari kedua tepi sungai, melotot lebar dan seakan-akan biji-biji mata itu akan meloncat keluar dari pelupuknya saking heran dan kaget mereka yang menyaksikan gadis jelita ini berjalan di atas air!. Tiba-tiba sebuah lengan yang berbulu dan kuat muncul dari permukaan air dan menyambar mata kaki kiri Endang yang kecil merit. Tangan dengan jari-jari besar kuat itu mencengkeram lalu menarik dengan tujuan menenggelamkan gadis jelita itu. Akan tetapi Endang yang tadi melihat sambaran tangan ke arah kakinya, hanya tersenyum dan sama sekali tidak mengelak. Tentu saja kalau ia mau mengelak, amatlah mudahnya. Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal ini, bahkan kini ia berhenti bergerak, menundukkan muka melihat apa yang hendak dilakukan oleh orang yang memegang kaki kirinya itu.

Ketika orang itu dengan tenaga kuat menarik-nariknya ke bawah, Endang mengerahkan tenaga dan mempertahankan. Sedikitpun kaki kecil yang dibetot oleh tangan kuat itu sama sekali tidak bergoyang! Betapa pun lengan kuat itu mengerahkan tenaga, menarik-narik dan menyeret, namun sia-sia belaka. Si gadis jelita tetap berdiri di atas air!. Bahkan saking penasaran, orang yang punya tangan itu kini muncul kepalanya di permukaan air, selain untuk menghirup hawa, juga untuk menyaksikan dengan mata sendiri bahwa tangannya sudah betul-betul mencengkeram kaki gadis itu. Ia hampir tidak percaya bahwa ia tidak mampu menyeret gadis itu masuk ke dalam air. Dikerahkannya kembali tenaganya menarik-narik. Endang yang melihat munculnya kepala seorang laki-laki tua yang wajahnya menyeramkan, bergidik jijik. la menambah tenaga pada kaki kirinya dan mendadak ia melakukan gerakan menendang ke atas dan tubuh laki-laki itu ikut terbawa ke atas dan terlempar setinggi lima enam meter dari permukaan air! Sebelum tubuhnya terbanting lagi ke air, Endang sudah meluncur maju dan sekali ia menggerakkan tangan, ia telah menjambak rambut orang itu, kemudian ia terus menggerakkan kedua kakinya menyeberang, tangan kirinya menyeret laki-laki yang dijambak rambutnya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan takutnya laki-laki itu. Ia merintih-rintih dan mengaduh-aduh,
"Aduhh....... ampun... ampunkan hamba....... hamba Bajulbiru sudah tobat....... !"
Setelah dekat dengan pantai sungai, Endang lalu melemparkan tubuh Bajulbiru ke darat. Laki-laki itu terbanting dan mengaduh-aduh. Masih untung baginya bahwa Endang yang diam-diam kagum terhadap kepandaiannya dalam air tidak hendak membunuhnya sehingga tubuhnya hanya terbanting dan terluka saja, tidak sampai tewas. Kalau Endang menghendaki, tentu saja sekali pukul dapat membunuhnya. Selagi Endang hendak melompat ke darat, tiba-tiba muncul belasan orang yang menyambutnya sambil berlari dan membawa jala yang lebar. Dengan gerakan serentak dan berbareng, belasan orang itu melempar jala yang jatuh bagaikan air hujan menyelimuti tubuhnya! Endang menggigit bibir, kemarahannya memuncak. Ia membiarkan jala itu menangkap dirinya. Ketika belasan orang itu menarik, ia meloncat ke darat dan sekali kedua tangannya bergerak, jala itu jebol dan ia melompat keluar. Kaki tangannya menyambar-nyambar dan terdengar suara mengaduh susul-menyusul ketika belasan orang itu roboh satu-satu tak dapat bangun pula!

Mendadak dari depan terdengar suara berciutan dan kiranya puluhan batang anak panah sudah menyambar dari depan, kanan dan kiri ke arah tubuh Endang. Gadis ini benar-benar menjadi marah sekali. Ia hanya menggunakan tangan menyampok anak panah yang mengarah kepala. Anak-anak panah yang mengarah bagian tubuh lainnya ia biarkan saja dan ternyata anak-anak panah itu runtuh semua seperti bertemu dengan tubuh baja saja! Sambil menyampok anak panah, Endang memperhatikan ke depan dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke depan dan sekali ia mengulurkan lengan, ia telah menangkap dua orag tukang panah terdekat dan dengan gemas ia mengadu kumba kepala mereka satu kepada yang lain.
"Prakkk!"
Keduanya roboh tak bernyawa lagi dengan kepala pecah! Dari tempat itu, Endang kembali meloncat ke belakang pohon, menyambar tubuh tukang panah lain, membantingnya mati seketika pada akar pohon. Tentu saja perbuatannya ini menggegerkan mereka yang bersembunyi. Serentak mereka mundur dan lari ketakutan dan berkelompok dari jauh memandang ke arah gadis yang kesaktiannya mengerikan itu. Jumlah para perampok dan bajak yang menjadi kaki tangan Ki Krendoyakso ini berjumlah empat puluh orang lebih. Mereka telah menerima kabar dari Surosardulo, maka telah mengatur penyambutan di seberang sungai. Bahkan seorang di antara mereka yang memimpin gerombolan bajak sungai, yang terkenal memiliki ilmu kepandaian di air, yaitu Bajulbiru, telah menyambut lebih dulu dan berusaha menangkap gadis itu di tengah sungai.
Endang Patibroto menjadi marah sekali. Jelas orang-orang itu tidak mau berhenti memusuhinya. Ia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah segolongan dengan Surosardulo, buktinya menyerangnya tanpa bertanya dulu. Melihat puluhan orang laki-laki berkumpul di depan, ia tidak menjadi gentar, bahkan dengan gerakan cepat ia berlari ke depan. Mukanya merah, matanya bersinar tajam, mulutnya masih tersenyum manis!

Biarpun tadi menyaksikan sepak terjang yang amat dahsyat dari gadis ini, namun karena jumlah mereka puluhan orang, tentu saja para penjahat itu menjadi besar dan timbul pula keberanian mereka. Apalagi di situ terdapat Wirodurjono yang mengepalai perampok ini, orang yang menjadi pembantu Ki Krendoyakso dan memiliki ilmu kesaktian yang lebih tinggi daripada kepandaian Surosardulo maupun Bajulbiru.
"Serbu! Tangkap!!" Wirodurjono berseru dengan suaranya yang garang.
Pasukan terdepan terdiri dari dua puluh empat orang segera bersorak dan menyerbu maju dengan golok terhunus. Tingkah laku mereka seolah-olah barisan hendak maju perang campuh. Sungguh kelihatan lucu sekali kalau dipikir bahwa yang mereka serbu ini hanya seorang gadis remaja yang bertangan kosong! Namun, mereka itu kini tidak berani memandang rendah, maka serentak mereka maju dengan senjata terhunus disertai teriakan-teriakan untuk menindas rasa nyeri dan takut.
Endang Patibroto tidak menghentikan larinya, ia terus berlari maju, tidak perduli akan ancaman golok yang menyilaukan mata itu, tidak perduli pula betapa dua puluh empat orang itu bergerak mengepungnya. Begitu Endang dekat dengan orang pertama, kaki tangannya bergerak. Tangannya dengan jari-jari terbuka bergetar seperti menggigil, akan tetapi setiap kali digerakkan,
terdengar jerit mengerikan dan tentu orang yang disentuh tangannya roboh terjengkang atau terpelanting tak mampu bangun lagi, Endang mengamuk. Tubuhnya berputaran karena kini ia dikeroyok dari empat penjuru. Tidak perduli gotok yang bagaimana berat dan tajampun, kalau menyambar ke arahnya, ia papaki dengan tangannya yang terbuka jari-jarinya, dan...... golok itu tentu terpukul patah atau terlepas dari tangan si pemegangnya. Kemudian, setiap kali kaki atau tangannya menyentuh lawan, tentu lawan itu terjungkal dan tewas! Dalam waktu beberapa menit saja, mayat para perompak roboh malang-melintang. Hebatnya, tidak setetespun darah keluar dari tubuh mayat-mayat itu, yang mati dalam keadaan mengerikan, kalau tidak mukanya hangus menghitam, tentu tulang-tulang dadanya remuk-remuk atau isi perutnya hancur oleh pukulan sakti! Setelah lima belas orang roboh tewas, barulah sisanya ketakutan dan tanpa dikomando lagi mereka lari tunggang-langgang kembali ke dalam pasukan kedua yang menonton dari jarak belasan tombak. Kini mereka, termasuk Wirodurjono, memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Sukar dapat mereka percaya. Seorang wanita, gadis remaja pula, dengan tangan kosong, demikian mudahnya membunuh belasan orang kawan mereka yang terkenal sebagai jagoan-jagoan tukang berkelahi! Mana mungkin hal ini terjadi? Akan tetapi mereka telah menyaksikan dengan mata sendiri!
"Hayoooohh.......! Mengapa kalian berhenti, pengecut-pengecut tak bermalu? Majulah semua, keroyoklah aku! Hayo, kalau kalian ingin mampus di tanganku. Inilah puteri dari Nusakambangan!"

Endang Patibroto yang sudah marah sekali menantang. Mendengar tantangan ini, Wirodurjono kaget sekali. Tentu saja, sebagai seorang tokoh dari Bagelen, ia sudah mendengar tentang Pulau Iblis, bahkan dia sendiri menerima peringatan langsung dari Ki Krendoyakso agar jangan membolehkan anak buahnya mendekati atau mengganggu Pulau Nusakambangan karena manusia raksasa Dibyo Mamangkoro yang amat mereka takuti tinggal di pulau itu. Dan kini, seorang gadis sakti muncul dan mengaku penghuni pulau itu, mengaku Puteri Nusakambangan! Dengan heran ia sekali loncat telah berada di depan Endang Patibroto, sikapnya agak hormat ketika bertanya,
"Wah, kiranya nona datang dari Pulau Nusakambangan? Bolehkah kami mengetahui, ada hubungan apakah antara kau dengan Dibyo Mamangkoro?"
Melihat laki-laki setengah tua yang bermuka merah dan bengis ini, hati Endang sudah tak senang.
"Kau yang mengepalai gerombolan pengecut ini? Siapa namamu?"

<<< Bagian 092                                                                                    Bagian 094 >>>

No comments:

Post a Comment