Setelah berkata demikian, dengan gerakan seenaknya saja Endang mengipatkan tangan kirinya ke arah pohon jati di dekatnya. Terdengar suara keras dan batang pohon sebesar paha itu patah, pohonnya tumbang! Pucat wajah Surosardulo dan anak buahnya.
"Tidak....karni
tidak bermaksud apa-apa....hanya ingin tahu nama paduka..." kata
Surosardulo.
Endang
mencibirkan bibirnya lalu membalikkan tubuh, melanjutkan perjalanan. Diam-diam
Surosardulo yang jantungnya masih berdebar dan wajahnya pucat itu memberi
perintah kepada dua orang anak buahnya untuk mengambil jalan terdekat,
mendahului gadis sakti itu menyeberang sungai dan memberi tahu kepada
pimpinannya. Mereka ini, Surosardulo dan anak buahnya, sebetulnya adalah
anggota gerombolan perampok dan bajak sungai yang berada di bawah kekuasaan Ki
Krendoyakso. Hampir semua penjahat yang beroperasi di daerah Bagelen, adalah
anak buah Ki Krendoyakso. Mengandalkan nama besar dan kesaktian Ki Krendoyakso
inilah maka para penjahat itu tidak pernah ada yang berani melawan. Akan tetapi
pada hari itu mereka mengalami kesialan, bertemu dengan Endang Patibroto.
Karena Surosardulo maklum bahwa gadis jelita itu adaiah seorang yang sakti
mandraguna, maka ia tidak begitu bodoh untuk bunuh diri melawan. Diam-diam ia
mengirim berita ke depan agar pimpinannya dapat mencegat perjalanan gadis yang
telah membunuh tiga orang anak buahnya itu. Biarpun ia tahu bahwa pada waktu
itu Ki Krendoyakso sendiri tidak berada disitu, namun di sebelah timur Sungai
Bogowonto banyak terdapat anggota-anggota pimpinan yang sakti, yang tentu akan
sanggup menghadapi gadis itu. Endang Patibroto tentu saja tidak tahu dan tidak
menduga akan hal ini. Dia tidak perduli. Andaikata tahu sekalipun, ia juga
tidak perduii. Tidak perduli akan orang lain, asal jangan mengganggunya. Yang
berani mengganggunya, akan ia binasakan! Dengan tenang ia melanjutkan
perjalanan. Dari jauh sudah tampak Sungai Bogowonto yang lebar dan penuh
airnya. Perutnya makin lapar. Tidak tampak seekorpun binatang hutan di daerah
itu. Tentu habis oleh manusia-manusia kasar tadi, pikirnya jengkel. Juga tidak
tampak ada dusun di sekitar situ. Mungkin di seberang ada. Tampak olehnya atap
rumah pedusunan. Tentu di sana ada makanan. Ketika ia mendekat pantai sungai,
ia melihat ada sebuah perahu kecil di pinggir. Entah perahu siapa. Ia tidak
perduli dan segera melangkah masuk duduk dan mengambil sebatang dayung panjang
yang berada di perahu. Perahu siapa ia tidak perduli, ia perlu menyeberang.
Andaikata tidak ada perahu di situ sekalipun, ia tetap akan menyeberang. Banyak
cara untuk menyeberangi sungai yang amat kecil jika dibandingkan dengan selat
Pulau Iblis, akan tetapi cara yang paling mudah dan enak adalah berperahu. Ia
juga tidak menaruh curiga mengapa di tempat sesunyi itu terdapat sebuah perahu
tanpa pemiliknya. Iapun tidak tahu betapa dari dua seberang sungai, banyak
pasang mata mengintainya penuh perhatian. Iapun tidak tahu betapa dari seberang
lain, seorang laki-laki yang tubuhnya ramping panjang telah bergerak memasuki
air ketika perahunya bergerak ke tengah.
Baru saja
perahu itu ia dayung sampai di tengah sungai, tiba-tiba perahunya terguncang
keras lalu terguling!. Tentu saja Endang kaget sekali. Akan tetapi ia tidak
pernah ketinggalan ketenangan dan ketabahannya. Guncangan perahu yang tidak
sewajarnya sudah mencurigakan hatinya, maka sebelum perahu terguling, ia telah
meloncat tinggi ke atas sambil membawa dayungnya dan di tengah udara ia
mematahkan dayung menjadi dua potong. Ketika tubuhnya turun ke air, ia melempar
dua batang potongan dayung itu dan bagaikan seekor burung, kedua kakinya
hinggap di atas dua potong kayu yang mengambang di air. Dengan demikian, kini
ia berdiri di atas air, menggunakan dua potong kayu itu sebagai landasan
kakinya! Perahunya telah terbalik dan hanyut, akan tetapi Endang tidak perduli.
Dengan pengerahan tenaga dalam disalurkan ke arah kedua kaki, ia dapat
menggerakkan kakinya mendorong kayu yang diinjak itu ke depan dan bergeraklah
ia seolah-olah "berjalan" di atas air! Ia tidak tahu betapa banyak
pasang mata yang mengintainya dari kedua tepi sungai, melotot lebar dan
seakan-akan biji-biji mata itu akan meloncat keluar dari pelupuknya saking
heran dan kaget mereka yang menyaksikan gadis jelita ini berjalan di atas air!.
Tiba-tiba sebuah lengan yang berbulu dan kuat muncul dari permukaan air dan
menyambar mata kaki kiri Endang yang kecil merit. Tangan dengan jari-jari besar
kuat itu mencengkeram lalu menarik dengan tujuan menenggelamkan gadis jelita
itu. Akan tetapi Endang yang tadi melihat sambaran tangan ke arah kakinya,
hanya tersenyum dan sama sekali tidak mengelak. Tentu saja kalau ia mau
mengelak, amatlah mudahnya. Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal ini, bahkan
kini ia berhenti bergerak, menundukkan muka melihat apa yang hendak dilakukan
oleh orang yang memegang kaki kirinya itu.
Ketika orang
itu dengan tenaga kuat menarik-nariknya ke bawah, Endang mengerahkan tenaga dan
mempertahankan. Sedikitpun kaki kecil yang dibetot oleh tangan kuat itu sama
sekali tidak bergoyang! Betapa pun lengan kuat itu mengerahkan tenaga,
menarik-narik dan menyeret, namun sia-sia belaka. Si gadis jelita tetap berdiri
di atas air!. Bahkan saking penasaran, orang yang punya tangan itu kini muncul
kepalanya di permukaan air, selain untuk menghirup hawa, juga untuk menyaksikan
dengan mata sendiri bahwa tangannya sudah betul-betul mencengkeram kaki gadis
itu. Ia hampir tidak percaya bahwa ia tidak mampu menyeret gadis itu masuk ke
dalam air. Dikerahkannya kembali tenaganya menarik-narik. Endang yang melihat munculnya
kepala seorang laki-laki tua yang wajahnya menyeramkan, bergidik jijik. la
menambah tenaga pada kaki kirinya dan mendadak ia melakukan gerakan menendang
ke atas dan tubuh laki-laki itu ikut terbawa ke atas dan terlempar setinggi
lima enam meter dari permukaan air! Sebelum tubuhnya terbanting lagi ke air,
Endang sudah meluncur maju dan sekali ia menggerakkan tangan, ia telah
menjambak rambut orang itu, kemudian ia terus menggerakkan kedua kakinya
menyeberang, tangan kirinya menyeret laki-laki yang dijambak rambutnya. Dapat
dibayangkan betapa kaget dan takutnya laki-laki itu. Ia merintih-rintih dan
mengaduh-aduh,
"Aduhh.......
ampun... ampunkan hamba....... hamba Bajulbiru sudah tobat....... !"
Setelah dekat
dengan pantai sungai, Endang lalu melemparkan tubuh Bajulbiru ke darat.
Laki-laki itu terbanting dan mengaduh-aduh. Masih untung baginya bahwa Endang
yang diam-diam kagum terhadap kepandaiannya dalam air tidak hendak membunuhnya
sehingga tubuhnya hanya terbanting dan terluka saja, tidak sampai tewas. Kalau
Endang menghendaki, tentu saja sekali pukul dapat membunuhnya. Selagi Endang
hendak melompat ke darat, tiba-tiba muncul belasan orang yang menyambutnya
sambil berlari dan membawa jala yang lebar. Dengan gerakan serentak dan
berbareng, belasan orang itu melempar jala yang jatuh bagaikan air hujan
menyelimuti tubuhnya! Endang menggigit bibir, kemarahannya memuncak. Ia
membiarkan jala itu menangkap dirinya. Ketika belasan orang itu menarik, ia
meloncat ke darat dan sekali kedua tangannya bergerak, jala itu jebol dan ia
melompat keluar. Kaki tangannya menyambar-nyambar dan terdengar suara mengaduh
susul-menyusul ketika belasan orang itu roboh satu-satu tak dapat bangun pula!
Mendadak dari
depan terdengar suara berciutan dan kiranya puluhan batang anak panah sudah
menyambar dari depan, kanan dan kiri ke arah tubuh Endang. Gadis ini
benar-benar menjadi marah sekali. Ia hanya menggunakan tangan menyampok anak
panah yang mengarah kepala. Anak-anak panah yang mengarah bagian tubuh lainnya
ia biarkan saja dan ternyata anak-anak panah itu runtuh semua seperti bertemu
dengan tubuh baja saja! Sambil menyampok anak panah, Endang memperhatikan ke
depan dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke depan dan sekali ia mengulurkan
lengan, ia telah menangkap dua orag tukang panah terdekat dan dengan gemas ia
mengadu kumba kepala mereka satu kepada yang lain.
"Prakkk!"
Keduanya roboh
tak bernyawa lagi dengan kepala pecah! Dari tempat itu, Endang kembali meloncat
ke belakang pohon, menyambar tubuh tukang panah lain, membantingnya mati
seketika pada akar pohon. Tentu saja perbuatannya ini menggegerkan mereka yang
bersembunyi. Serentak mereka mundur dan lari ketakutan dan berkelompok dari
jauh memandang ke arah gadis yang kesaktiannya mengerikan itu. Jumlah para
perampok dan bajak yang menjadi kaki tangan Ki Krendoyakso ini berjumlah empat
puluh orang lebih. Mereka telah menerima kabar dari Surosardulo, maka telah
mengatur penyambutan di seberang sungai. Bahkan seorang di antara mereka yang
memimpin gerombolan bajak sungai, yang terkenal memiliki ilmu kepandaian di
air, yaitu Bajulbiru, telah menyambut lebih dulu dan berusaha menangkap gadis
itu di tengah sungai.
Endang
Patibroto menjadi marah sekali. Jelas orang-orang itu tidak mau berhenti
memusuhinya. Ia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah segolongan dengan
Surosardulo, buktinya menyerangnya tanpa bertanya dulu. Melihat puluhan orang
laki-laki berkumpul di depan, ia tidak menjadi gentar, bahkan dengan gerakan
cepat ia berlari ke depan. Mukanya merah, matanya bersinar tajam, mulutnya
masih tersenyum manis!
Biarpun tadi
menyaksikan sepak terjang yang amat dahsyat dari gadis ini, namun karena jumlah
mereka puluhan orang, tentu saja para penjahat itu menjadi besar dan timbul
pula keberanian mereka. Apalagi di situ terdapat Wirodurjono yang mengepalai
perampok ini, orang yang menjadi pembantu Ki Krendoyakso dan memiliki ilmu
kesaktian yang lebih tinggi daripada kepandaian Surosardulo maupun Bajulbiru.
"Serbu!
Tangkap!!" Wirodurjono berseru dengan suaranya yang garang.
Pasukan
terdepan terdiri dari dua puluh empat orang segera bersorak dan menyerbu maju
dengan golok terhunus. Tingkah laku mereka seolah-olah barisan hendak maju
perang campuh. Sungguh kelihatan lucu sekali kalau dipikir bahwa yang mereka
serbu ini hanya seorang gadis remaja yang bertangan kosong! Namun, mereka itu
kini tidak berani memandang rendah, maka serentak mereka maju dengan senjata
terhunus disertai teriakan-teriakan untuk menindas rasa nyeri dan takut.
Endang
Patibroto tidak menghentikan larinya, ia terus berlari maju, tidak perduli akan
ancaman golok yang menyilaukan mata itu, tidak perduli pula betapa dua puluh
empat orang itu bergerak mengepungnya. Begitu Endang dekat dengan orang
pertama, kaki tangannya bergerak. Tangannya dengan jari-jari terbuka bergetar
seperti menggigil, akan tetapi setiap kali digerakkan,
terdengar
jerit mengerikan dan tentu orang yang disentuh tangannya roboh terjengkang atau
terpelanting tak mampu bangun lagi, Endang mengamuk. Tubuhnya berputaran karena
kini ia dikeroyok dari empat penjuru. Tidak perduli gotok yang bagaimana berat
dan tajampun, kalau menyambar ke arahnya, ia papaki dengan tangannya yang
terbuka jari-jarinya, dan...... golok itu tentu terpukul patah atau terlepas
dari tangan si pemegangnya. Kemudian, setiap kali kaki atau tangannya menyentuh
lawan, tentu lawan itu terjungkal dan tewas! Dalam waktu beberapa menit saja,
mayat para perompak roboh malang-melintang. Hebatnya, tidak setetespun darah
keluar dari tubuh mayat-mayat itu, yang mati dalam keadaan mengerikan, kalau
tidak mukanya hangus menghitam, tentu tulang-tulang dadanya remuk-remuk atau
isi perutnya hancur oleh pukulan sakti! Setelah lima belas orang roboh tewas,
barulah sisanya ketakutan dan tanpa dikomando lagi mereka lari
tunggang-langgang kembali ke dalam pasukan kedua yang menonton dari jarak
belasan tombak. Kini mereka, termasuk Wirodurjono, memandang dengan mata
terbelalak dan muka pucat. Sukar dapat mereka percaya. Seorang wanita, gadis
remaja pula, dengan tangan kosong, demikian mudahnya membunuh belasan orang kawan
mereka yang terkenal sebagai jagoan-jagoan tukang berkelahi! Mana mungkin hal
ini terjadi? Akan tetapi mereka telah menyaksikan dengan mata sendiri!
"Hayoooohh.......!
Mengapa kalian berhenti, pengecut-pengecut tak bermalu? Majulah semua,
keroyoklah aku! Hayo, kalau kalian ingin mampus di tanganku. Inilah puteri dari
Nusakambangan!"
Endang
Patibroto yang sudah marah sekali menantang. Mendengar tantangan ini,
Wirodurjono kaget sekali. Tentu saja, sebagai seorang tokoh dari Bagelen, ia
sudah mendengar tentang Pulau Iblis, bahkan dia sendiri menerima peringatan
langsung dari Ki Krendoyakso agar jangan membolehkan anak buahnya mendekati
atau mengganggu Pulau Nusakambangan karena manusia raksasa Dibyo Mamangkoro
yang amat mereka takuti tinggal di pulau itu. Dan kini, seorang gadis sakti
muncul dan mengaku penghuni pulau itu, mengaku Puteri Nusakambangan! Dengan
heran ia sekali loncat telah berada di depan Endang Patibroto, sikapnya agak
hormat ketika bertanya,
"Wah,
kiranya nona datang dari Pulau Nusakambangan? Bolehkah kami mengetahui, ada
hubungan apakah antara kau dengan Dibyo Mamangkoro?"
Melihat
laki-laki setengah tua yang bermuka merah dan bengis ini, hati Endang sudah tak
senang.
"Kau yang
mengepalai gerombolan pengecut ini? Siapa namamu?"
No comments:
Post a Comment