Badai Laut Selatan ; Bagian 094


Diam-diam hati Witodurjono panas sekali. Dia adalah seorang pembantu Ki Krendoyakso yang terkenal, seorang yang biasa memberi perintah, biasa ditakuti oleh anak buahnya yang terdiri dari laki-laki kasar. Sekarang, gadis ini sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya, ditanya secara hormat belum menjawab balas bertanya dengan sikap demikian kurang ajar! Akan tetapi, nama Nusakambangan ternyata amat besar pengaruhnya sehingga seorang seperti Witodurjono masih mampu menahan kesabarannya terhadap seorang gadis remaja seperti Endang. Dengan muka menjadi makin merah, ia menjawab,
"Namaku Wirodurjono dan ketahuilah, kami semua adalah anak buah Ki Krendoyakso. Seingat kami, belum pernah kami bersilang jalan dengan Ki Dibyo Mamangkoro yang kami hormati...!"
"Orang macam engkau tak perlu menyebut-nyebut namanya. Pergilah!"

Endang Patibroto dengan melangkah maju dan tangan kirinya bergerak, mendorong ke arah dada Wirodurjono, Kepala rampok itu adalah seorang yang kuat dan sakti. Tentu saja ia merasa makin mendongkol. Gadis ini benar-benar sombong, pikirnya. Biarpun datang dari Nusakambangan, perlu diberi hajaran sedikit biar tahu rasa bahwa anak buah Ki Krendoyakso tak boleh dipandang ringan. Ia berseru keras dan lengan kanannya yang berkulit hitam dan amat kuat itu sudah menyambar untuk menangkis dan menangkap tangan kiri Endang yang mendorong. Akan tetapi entah bagaimana ia sendiri tidak tahu sebabnya, tubuhnya sudah terlempar ke atas bagaikan disambar angin lesus. Ia berteriak kaget dan tubuhnya yang terbang itu menimpa daun-daun dan dahan-dahan. Cepat ia meraih dan untung ia dapat menangkap cabang dan dahan. Ketika ia memandang ke bawah, kiranya ia telah dilemparkan ke atas pohon oleh gadis remaja tadi!
"Huah-hah-hah-hah! Bagus gerakanmu melempar orang itu, Endang! Akan tetapi, tikus-tikus ini sama sekali bukan musuhmu."
"Bapa guru.....!” Endang mengenal suara gurunya.
Dibyo Mamangkoro muncul dan dengan langkah lebar ia mengharnpiri pohon di mana Wirodurjono tersangkut, kemudian sekali mendorong, pohon itu jebol akarnya dan tumbang. Wirodurjono cepat melompat ke bawah dan langsung ia menjatuhkan diri berlutut di depan Dibyo Mamangkoro yang belum pernah dilihatnya akan tetapi sudah amat dikenal namanya.
"Hamba Wirodurjono, anak buah Ki Krendoyakso, mohon ampun telah bersikap kurang ajar karena tidak mengenal murid paduka."
"Huah-hah-hah! Mana bisa kalian berkurang ajar kepada Puteri Nusakambangan? Kalian ini tikus-tikus goblog! Biarpun Ki Krendoyakso sendiri harus merangkak dan menyembah puteri ini, mentaati segala perintahnya. Mengerti??"
"Am.... ampunkan hamba sekalian........"

Wirodurjono menggigil teringat akan cerita Ki Krendoyakso betapa dahsyat kesaktian kakek raksasa ini dan betapa besar bahayanya membikin marah kepadanya. Untung bahwa sisa anak buahnya juga tahu diri dan kini mereka semua sudah berlutut di belakangnya.
"Sudahlah! Kalian sudah cukup diberi hajaran. Sekarang lekas sediakan sebuah kereta lengkap dengan kudanya, untuk kendaraan sang puteri dari Nusakambangan yang hendak mengunjungi Jenggala. Cepat!"
Wirodurjono menyembah dan menyanggupi. Tidak lama kemudian pergilah ia bersama semua anak buahnya. Dibyo Mamangkoro mengajak muridnya duduk di tepi sungai sambil menanti.
"Eh, Endang, kenapa kau bisa sampai di tempat ini?"
"Aku hendak menyusulmu. Kenapa engkau terlalu lama meninggalkan pulau, bapa guru?"
Dibyo Mamangkoro tertawa, lalu memegang tangan muridnya penuh kasih sayang.
"Aku pergi bukan untuk keperluanku, muridku. Melainkan untuk keperluanmu juga. Tibalah waktunya sekarang engkau bersuwita (menghambakan diri) kepada raja di Jenggala. Aku baru puas kalau melihat semua orang di Jenggala menyembahmu, dan melihat Panjalu hancur di bawah telapak kakimu. Dan dengan wajahmu yang cantik jelita, dengan kesaktianmu yang hebat, ditambah keris pusaka Brojol Luwuk di tanganmu, huah-hah-hah, aku yakin takkan kecewa hatiku!"
Endang Patibroto masih meragukan apakah para gerombolan kasar tadi akan mentaati perintah gurunya. Tidak seorangpun di antara mereka kini tampak, bahkan mayat-mayat yang tadi berserakan kini telah diangkut pergi. Kemudian di tepi sungai itu amat sunyi. Akan tetapi, Dibyo Mamangkoro sikapnya tenang dan yakin bahwa perintahnya tentu akan ditaati. Dan ia benar. Tidak lama kemudian muncullah Wirodurjono dengan tujuh orang lain yang merupakan pimpinan perampok dan bajak sungai, anak buah Ki Krendoyakso. Mereka bersikap hormat ketika menyerahkan sebuah kereta yang cukup kuat indah, ditarik dua ekor kuda yang besar kuat. Dibyo Mamangkoro tertawa ketika mendengar mereka akan mengawal dan mengantar sampai ke Jenggaia.
"Tidak usah! Biar kami kendarai sendiri."
la lalu mengajak Endang naik kereta, mengayunkan cambuk dan membalapkan dua ekor kuda itu menarik kereta. Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak. Satu kalipun ia tidak pernah mengucap terima kasih, bahkan melirikpun tidak kepada para pembantu Ki Krendoyakso yang berdiri di pinggir jalan dengan sikap menghormat. Tentu saja semua ini diperhatikan oleh Endang karena ia ingin tahu bagaimana kelak harus bersikap kalau berhadapan dengan orang-orang seperti itu.

"Tidak boleh! Tidak bisa!! Harus kami laporkan lebih dahulu."
"Mana bisa kalian masuk begitu saja ke dalam istana?"
Akan tetapi Dibyo Mamangkoro tidak perdulikan cegahan dan halangan para pengawal istana. Ia menggandeng lengan Endang Patibroto dan melangkah lebar memasuki pendopo keraton yang berlantai mengkilap itu. Ketika enam orang pengawal depan istana itu mengepungnya, tangan kiri Dibyo Mamangkoro bergerak ke depan dan.... enam orang pengawal itu kini berdiri terbelalak, dengan tubuh kaku-kaku tak bergerak seperti berubah menjadi arca-arca batu!
Setelah sambil tertawa Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya masuk ke ruangan dalam, barulah enam orang itu seakan-akan hidup kembali. Tadi mereka merasa betapa kaki tangan mereka kaku tak dapat bergerak! Tentu saja mereka menjadi bingung dan sibuk sekali, karena tentu mereka akan mendapat hukuman berat, membiarkan kakek raksasa dan gadis jelita itu memasuki keraton. Di ruangan dalam, segera dari kanan kiri dan depan berdatangan para penjaga dan pengawal istana, dengan tombak panjang di tangan.
"Hai, berhenti! Siapa berani masuk tanpa ijin?"
Melihat mereka itu, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah.
"Butakah mata kalian? Siapa berani menghalangi aku, Dibyo Mamangkoro, datang menghadap raja??"

Dengan mata mendelik dan sikap mengancam Dibyo Mamangkoro menantang. Seketika berubah pucat wajah para pengawal itu. Baru sekarang ia mengenal kakek itu, seorang kakek raksasa yang amat terkenal. Tentu saja mereka maklum akan kesaktian kakek ini dan tidak berani melawan. Namun, sebagai petugas-petugas dan penjaga, merekapun tidak berani membiarkan kakek itu masuk ke dalam ruangan persidangan, di mana sang prabu sedang bercengkerama dengan para ponggawanya.
"Tapi...... tapi...... harap paduka menunggu, biar kami laporkan lebih dulu kepada gusti prabu.......... " Dan beberapa orang sudah berlari ke dalam untuk menyampaikan laporan.
Namun Dibyo Mamangkoro tidak perduli, terus menggandeng tangan muridnya melangkah masuk.
"Maafkan, kami tidak berani membiarkan paduka masuk sebelum ada perintah dari sang prabu."
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak.
"Hendak kulihat bagaimana kalian tikus-tikus ini bisa mencegah aku masuk!"
Ia melangkah terus dan keadaan menjadi tegang. Para pengawal tidak berani turun tangan, akan tetapi merekapun tidak mau memberi jalan, sehingga mereka itu membentuk lingkaran yang menghadang di depan Dibyo Mamangkoro dan muridnya, sambil mundur-mundur ketakutan. Dalam keadaan ketegangan mengancam keributan ini, tiba-tiba terdengar suara dari sebelah dalam,
"Ki Dibyo Mamangkoro dan temannya diperkenankan menghadap."
Suara itu adalah suara pengawal dalam yang merupakan hasil pelaporan dua orang pengawal tengah tadi. Begitu mendengar bahwa orang yang mendatangkan ribut di luar adalah Dibyo Mamangkoro, sang prabu tersenyum dan memberi tanda agar raksasa itu diperbolehkan masuk dan menghadapnya.
Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak, lalu bersama muridnya memasuki ruangan yang amat indah itu. Endang Patibroto celingukan memandang ke kenan kiri, mengagumi segala yang indah-indah dan yang baru pertama kali ini dilihatnya. Melihat sikap muridnya ini, Dibyo Mamangkoro tertawa.
"Semua ini, dan banyak yang jauh lebih hebat dan indah lagi, kelak menjadi punyamu, Endang!”

Mereka memasuki pintu tebal terakhir dan tampaklah ruangan yang indah. Di sebelah paling dalam, yang terhias sutera-sutera berkembang beraneka warna, tampak Raja Jenggala duduk di atas singgasana, sebuah kursi kencana. Endang Patibroto menahan napas. Raja itu tampan, seperti dewa kahyangan. Tubuh atas yang tak berbaju itu berkulit kuning dan seperti emas mengeluarkan cahaya. Kepalanya memakai mahkota bertabur emas permata wajahnya tampan sekali. Heran sekali hati Endang. Gurunya pernah bilang bahwa Raja Jenggala berusia empat puluh tahun lebih, mengapa mukanya begitu halus dan kelihatannya tampan seperti seorang pemuda? Juga perhiasan leher dan lengannya gemerlapan, pakaian yang menutup tubuh bagian bawah mewah dan indah pula. Beberapa orang ponggawa duduk bersila menghadap sang prabu. Akan tetapi pada saat itu, para hulubalang hanya mendengarkan saja dan sang prabu agaknya sedang merundingkan sesuatu yang amat penting dengan tiga orang yang duduk menghadap dekat di depan singgasana. Mereka ini adalah ki patih dan dua orang senopati.
Ketika Dibyo Mamangkoro dan Endang Patibroto muncul, sang prabu menghentikan percakapan, mengangkat muka dan memandang kepada kakek raksasa itu dengan senyum gembira. Akan tetapi sepasang alisnya terangkat, agaknya heran ketika melihat kakek itu datang bersama seorang gadis yang berwajah jelita. Kalau saja yang datang itu bukan murid Dibyo Mamangkoro, tentu sang prabu akan marah sekali. Seorang wanita muda datang menghadap dengan langkah tenang begitu saja, tidak berjalan jongkok, memakai baju lagi!.
Dengan lagak kasar tidak dibuat-buat, Dibyo Mamangkoro menarik muridnya maju, lalu mengajak muridnya itu berlutut memberi hormat. Ia duduk bersila sedangkan Endang Patibroto duduk bersimpuh. Berbeda dengan semua wanita yang mendapat kehormatan hadir di depan sang prabu dan selalu menundukkan muka, gadis remaja ini mengangkat muka, matanya berkeliaran memandang ke mana-mana, bahkan secara terang-terangan menatap wajah sri baginda tanpa takut sedikit pun juga! Sikapnya sama benar dengan sikap Dibyo Mamangkoro yang tidak mengherankan hati sang prabu, karena sang prabu sudah mengenal watak kakek raksasa yang kasar dan liar ini.

"Kiranya paman Dibyo Mamangkoro yang membikin geger para pengawal keraton!" Demiklan tegur sang prabu sambil melirik ke arah Endang Patibroto.
"Hamba, Dibyo Mamagkoro dan murid terkasih hamba, Endang Patibroto menghaturkan sembah sujut!” Suara raksasa tua ini menggema di seluruh ruang persidangan.
Sang prabu tersenyum lagi.
"Bagus, paman Dibyo. Kedatanganmu memang sangat tepat karena sesungguhnya kami amat membutuhkan bantuanmu."
"Untuk menggempur Panjalu, gusti?" Dibyo Mamangkoro memotong.
"Eh, bagaimana engkau bisa tahu, paman?"
"Huah-hah-hahi justeru karena itulah hamba datang menghadap dan membawa murid hamba ke sini. Hamba menawarkan tenaga bantuan murid hamba ini dan percayalah, gusti, kalau Endang Patibroto mengepalai semua senopati Jenggala, dalam waktu singkat saja Panjalu akan dapat dihancurkan. Huah-hah-hah!"

Ucapan ini terlalu mengejutkan sehingga sri baginda dan semua hulubalang yang hadir tidak memperdulikan sikap dan kata-kata yang kasar itu. Mereka semua kini menengok dan memandang ke arah Endang Patibroto, yang bersikap tenang-tenang saja, bahkan membalas pandang mata mereka dengan senyum setengah mengejek. Sri baginda salah tampa, mengira bahwa Dibyo Mamangkoro sanggup membantu kerajaannya dengan syarat agar wanita yang menjadi muridnya itu diterima menjadi dayang di keraton. Karena gadis itupun cantik jelita, hanya sayang belum tahu tata susila keraton, pula karena memang amat membutuhkan tenaga bantuan orang-orang sakti seperti Dibyo Mamangkoro, tanpa ragu-ragu lagi sang prabu berkata,
"Baiklah, paman Dibyo. Muridmu ini kuangkat menjadi pelayan dalam, sedangkan engkau boleh memimpin para senopati di sini...... "
"Bukan demikian maksud hamba, gusti! Murid hamba ini, Endang Patibroto, Puteri Nusakambangan, hamba tawarkan menjadi senopati, memimpin perang terhadap Panjalu, bukan hamba!"

<<< Bagian 093                                                                                    Bagian 095 >>>

No comments:

Post a Comment