Diam-diam hati Witodurjono panas sekali. Dia adalah seorang pembantu Ki Krendoyakso yang terkenal, seorang yang biasa memberi perintah, biasa ditakuti oleh anak buahnya yang terdiri dari laki-laki kasar. Sekarang, gadis ini sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya, ditanya secara hormat belum menjawab balas bertanya dengan sikap demikian kurang ajar! Akan tetapi, nama Nusakambangan ternyata amat besar pengaruhnya sehingga seorang seperti Witodurjono masih mampu menahan kesabarannya terhadap seorang gadis remaja seperti Endang. Dengan muka menjadi makin merah, ia menjawab,
"Namaku
Wirodurjono dan ketahuilah, kami semua adalah anak buah Ki Krendoyakso. Seingat
kami, belum pernah kami bersilang jalan dengan Ki Dibyo Mamangkoro yang kami
hormati...!"
"Orang
macam engkau tak perlu menyebut-nyebut namanya. Pergilah!"
Endang
Patibroto dengan melangkah maju dan tangan kirinya bergerak, mendorong ke arah
dada Wirodurjono, Kepala rampok itu adalah seorang yang kuat dan sakti. Tentu
saja ia merasa makin mendongkol. Gadis ini benar-benar sombong, pikirnya.
Biarpun datang dari Nusakambangan, perlu diberi hajaran sedikit biar tahu rasa
bahwa anak buah Ki Krendoyakso tak boleh dipandang ringan. Ia berseru keras dan
lengan kanannya yang berkulit hitam dan amat kuat itu sudah menyambar untuk
menangkis dan menangkap tangan kiri Endang yang mendorong. Akan tetapi entah
bagaimana ia sendiri tidak tahu sebabnya, tubuhnya sudah terlempar ke atas
bagaikan disambar angin lesus. Ia berteriak kaget dan tubuhnya yang terbang itu
menimpa daun-daun dan dahan-dahan. Cepat ia meraih dan untung ia dapat
menangkap cabang dan dahan. Ketika ia memandang ke bawah, kiranya ia telah
dilemparkan ke atas pohon oleh gadis remaja tadi!
"Huah-hah-hah-hah!
Bagus gerakanmu melempar orang itu, Endang! Akan tetapi, tikus-tikus ini sama
sekali bukan musuhmu."
"Bapa
guru.....!” Endang mengenal suara gurunya.
Dibyo
Mamangkoro muncul dan dengan langkah lebar ia mengharnpiri pohon di mana
Wirodurjono tersangkut, kemudian sekali mendorong, pohon itu jebol akarnya dan
tumbang. Wirodurjono cepat melompat ke bawah dan langsung ia menjatuhkan diri
berlutut di depan Dibyo Mamangkoro yang belum pernah dilihatnya akan tetapi
sudah amat dikenal namanya.
"Hamba
Wirodurjono, anak buah Ki Krendoyakso, mohon ampun telah bersikap kurang ajar
karena tidak mengenal murid paduka."
"Huah-hah-hah!
Mana bisa kalian berkurang ajar kepada Puteri Nusakambangan? Kalian ini
tikus-tikus goblog! Biarpun Ki Krendoyakso sendiri harus merangkak dan menyembah
puteri ini, mentaati segala perintahnya. Mengerti??"
"Am....
ampunkan hamba sekalian........"
Wirodurjono
menggigil teringat akan cerita Ki Krendoyakso betapa dahsyat kesaktian kakek
raksasa ini dan betapa besar bahayanya membikin marah kepadanya. Untung bahwa
sisa anak buahnya juga tahu diri dan kini mereka semua sudah berlutut di
belakangnya.
"Sudahlah!
Kalian sudah cukup diberi hajaran. Sekarang lekas sediakan sebuah kereta
lengkap dengan kudanya, untuk kendaraan sang puteri dari Nusakambangan yang
hendak mengunjungi Jenggala. Cepat!"
Wirodurjono
menyembah dan menyanggupi. Tidak lama kemudian pergilah ia bersama semua anak
buahnya. Dibyo Mamangkoro mengajak muridnya duduk di tepi sungai sambil
menanti.
"Eh,
Endang, kenapa kau bisa sampai di tempat ini?"
"Aku
hendak menyusulmu. Kenapa engkau terlalu lama meninggalkan pulau, bapa
guru?"
Dibyo
Mamangkoro tertawa, lalu memegang tangan muridnya penuh kasih sayang.
"Aku
pergi bukan untuk keperluanku, muridku. Melainkan untuk keperluanmu juga.
Tibalah waktunya sekarang engkau bersuwita (menghambakan diri) kepada raja di
Jenggala. Aku baru puas kalau melihat semua orang di Jenggala menyembahmu, dan
melihat Panjalu hancur di bawah telapak kakimu. Dan dengan wajahmu yang cantik
jelita, dengan kesaktianmu yang hebat, ditambah keris pusaka Brojol Luwuk di
tanganmu, huah-hah-hah, aku yakin takkan kecewa hatiku!"
Endang
Patibroto masih meragukan apakah para gerombolan kasar tadi akan mentaati
perintah gurunya. Tidak seorangpun di antara mereka kini tampak, bahkan
mayat-mayat yang tadi berserakan kini telah diangkut pergi. Kemudian di tepi
sungai itu amat sunyi. Akan tetapi, Dibyo Mamangkoro sikapnya tenang dan yakin
bahwa perintahnya tentu akan ditaati. Dan ia benar. Tidak lama kemudian
muncullah Wirodurjono dengan tujuh orang lain yang merupakan pimpinan perampok
dan bajak sungai, anak buah Ki Krendoyakso. Mereka bersikap hormat ketika
menyerahkan sebuah kereta yang cukup kuat indah, ditarik dua ekor kuda yang
besar kuat. Dibyo Mamangkoro tertawa ketika mendengar mereka akan mengawal dan
mengantar sampai ke Jenggaia.
"Tidak
usah! Biar kami kendarai sendiri."
la lalu
mengajak Endang naik kereta, mengayunkan cambuk dan membalapkan dua ekor kuda
itu menarik kereta. Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak. Satu kalipun ia tidak
pernah mengucap terima kasih, bahkan melirikpun tidak kepada para pembantu Ki
Krendoyakso yang berdiri di pinggir jalan dengan sikap menghormat. Tentu saja
semua ini diperhatikan oleh Endang karena ia ingin tahu bagaimana kelak harus
bersikap kalau berhadapan dengan orang-orang seperti itu.
"Tidak
boleh! Tidak bisa!! Harus kami laporkan lebih dahulu."
"Mana
bisa kalian masuk begitu saja ke dalam istana?"
Akan tetapi
Dibyo Mamangkoro tidak perdulikan cegahan dan halangan para pengawal istana. Ia
menggandeng lengan Endang Patibroto dan melangkah lebar memasuki pendopo
keraton yang berlantai mengkilap itu. Ketika enam orang pengawal depan istana
itu mengepungnya, tangan kiri Dibyo Mamangkoro bergerak ke depan dan.... enam
orang pengawal itu kini berdiri terbelalak, dengan tubuh kaku-kaku tak bergerak
seperti berubah menjadi arca-arca batu!
Setelah sambil
tertawa Dibyo Mamangkoro menggandeng tangan muridnya masuk ke ruangan dalam,
barulah enam orang itu seakan-akan hidup kembali. Tadi mereka merasa betapa
kaki tangan mereka kaku tak dapat bergerak! Tentu saja mereka menjadi bingung
dan sibuk sekali, karena tentu mereka akan mendapat hukuman berat, membiarkan
kakek raksasa dan gadis jelita itu memasuki keraton. Di ruangan dalam, segera
dari kanan kiri dan depan berdatangan para penjaga dan pengawal istana, dengan
tombak panjang di tangan.
"Hai,
berhenti! Siapa berani masuk tanpa ijin?"
Melihat mereka
itu, muka Dibyo Mamangkoro menjadi merah.
"Butakah
mata kalian? Siapa berani menghalangi aku, Dibyo Mamangkoro, datang menghadap
raja??"
Dengan mata
mendelik dan sikap mengancam Dibyo Mamangkoro menantang. Seketika berubah pucat
wajah para pengawal itu. Baru sekarang ia mengenal kakek itu, seorang kakek
raksasa yang amat terkenal. Tentu saja mereka maklum akan kesaktian kakek ini
dan tidak berani melawan. Namun, sebagai petugas-petugas dan penjaga, merekapun
tidak berani membiarkan kakek itu masuk ke dalam ruangan persidangan, di mana
sang prabu sedang bercengkerama dengan para ponggawanya.
"Tapi......
tapi...... harap paduka menunggu, biar kami laporkan lebih dulu kepada gusti
prabu.......... " Dan beberapa orang sudah berlari ke dalam untuk
menyampaikan laporan.
Namun Dibyo
Mamangkoro tidak perduli, terus menggandeng tangan muridnya melangkah masuk.
"Maafkan,
kami tidak berani membiarkan paduka masuk sebelum ada perintah dari sang
prabu."
Dibyo
Mamangkoro tertawa bergelak.
"Hendak
kulihat bagaimana kalian tikus-tikus ini bisa mencegah aku masuk!"
Ia melangkah
terus dan keadaan menjadi tegang. Para pengawal tidak berani turun tangan, akan
tetapi merekapun tidak mau memberi jalan, sehingga mereka itu membentuk
lingkaran yang menghadang di depan Dibyo Mamangkoro dan muridnya, sambil
mundur-mundur ketakutan. Dalam keadaan ketegangan mengancam keributan ini, tiba-tiba
terdengar suara dari sebelah dalam,
"Ki Dibyo
Mamangkoro dan temannya diperkenankan menghadap."
Suara itu
adalah suara pengawal dalam yang merupakan hasil pelaporan dua orang pengawal
tengah tadi. Begitu mendengar bahwa orang yang mendatangkan ribut di luar
adalah Dibyo Mamangkoro, sang prabu tersenyum dan memberi tanda agar raksasa
itu diperbolehkan masuk dan menghadapnya.
Dibyo
Mamangkoro tertawa bergelak, lalu bersama muridnya memasuki ruangan yang amat
indah itu. Endang Patibroto celingukan memandang ke kenan kiri, mengagumi
segala yang indah-indah dan yang baru pertama kali ini dilihatnya. Melihat
sikap muridnya ini, Dibyo Mamangkoro tertawa.
"Semua
ini, dan banyak yang jauh lebih hebat dan indah lagi, kelak menjadi punyamu,
Endang!”
Mereka memasuki
pintu tebal terakhir dan tampaklah ruangan yang indah. Di sebelah paling dalam,
yang terhias sutera-sutera berkembang beraneka warna, tampak Raja Jenggala
duduk di atas singgasana, sebuah kursi kencana. Endang Patibroto menahan napas.
Raja itu tampan, seperti dewa kahyangan. Tubuh atas yang tak berbaju itu
berkulit kuning dan seperti emas mengeluarkan cahaya. Kepalanya memakai mahkota
bertabur emas permata wajahnya tampan sekali. Heran sekali hati Endang. Gurunya
pernah bilang bahwa Raja Jenggala berusia empat puluh tahun lebih, mengapa
mukanya begitu halus dan kelihatannya tampan seperti seorang pemuda? Juga
perhiasan leher dan lengannya gemerlapan, pakaian yang menutup tubuh bagian
bawah mewah dan indah pula. Beberapa orang ponggawa duduk bersila menghadap
sang prabu. Akan tetapi pada saat itu, para hulubalang hanya mendengarkan saja
dan sang prabu agaknya sedang merundingkan sesuatu yang amat penting dengan
tiga orang yang duduk menghadap dekat di depan singgasana. Mereka ini adalah ki
patih dan dua orang senopati.
Ketika Dibyo
Mamangkoro dan Endang Patibroto muncul, sang prabu menghentikan percakapan,
mengangkat muka dan memandang kepada kakek raksasa itu dengan senyum gembira.
Akan tetapi sepasang alisnya terangkat, agaknya heran ketika melihat kakek itu
datang bersama seorang gadis yang berwajah jelita. Kalau saja yang datang itu
bukan murid Dibyo Mamangkoro, tentu sang prabu akan marah sekali. Seorang
wanita muda datang menghadap dengan langkah tenang begitu saja, tidak berjalan
jongkok, memakai baju lagi!.
Dengan lagak
kasar tidak dibuat-buat, Dibyo Mamangkoro menarik muridnya maju, lalu mengajak
muridnya itu berlutut memberi hormat. Ia duduk bersila sedangkan Endang
Patibroto duduk bersimpuh. Berbeda dengan semua wanita yang mendapat kehormatan
hadir di depan sang prabu dan selalu menundukkan muka, gadis remaja ini
mengangkat muka, matanya berkeliaran memandang ke mana-mana, bahkan secara
terang-terangan menatap wajah sri baginda tanpa takut sedikit pun juga!
Sikapnya sama benar dengan sikap Dibyo Mamangkoro yang tidak mengherankan hati
sang prabu, karena sang prabu sudah mengenal watak kakek raksasa yang kasar dan
liar ini.
"Kiranya
paman Dibyo Mamangkoro yang membikin geger para pengawal keraton!"
Demiklan tegur sang prabu sambil melirik ke arah Endang Patibroto.
"Hamba,
Dibyo Mamagkoro dan murid terkasih hamba, Endang Patibroto menghaturkan sembah
sujut!” Suara raksasa tua ini menggema di seluruh ruang persidangan.
Sang prabu
tersenyum lagi.
"Bagus,
paman Dibyo. Kedatanganmu memang sangat tepat karena sesungguhnya kami amat
membutuhkan bantuanmu."
"Untuk
menggempur Panjalu, gusti?" Dibyo Mamangkoro memotong.
"Eh,
bagaimana engkau bisa tahu, paman?"
"Huah-hah-hahi
justeru karena itulah hamba datang menghadap dan membawa murid hamba ke sini.
Hamba menawarkan tenaga bantuan murid hamba ini dan percayalah, gusti, kalau
Endang Patibroto mengepalai semua senopati Jenggala, dalam waktu singkat saja
Panjalu akan dapat dihancurkan. Huah-hah-hah!"
Ucapan ini
terlalu mengejutkan sehingga sri baginda dan semua hulubalang yang hadir tidak
memperdulikan sikap dan kata-kata yang kasar itu. Mereka semua kini menengok
dan memandang ke arah Endang Patibroto, yang bersikap tenang-tenang saja,
bahkan membalas pandang mata mereka dengan senyum setengah mengejek. Sri baginda
salah tampa, mengira bahwa Dibyo Mamangkoro sanggup membantu kerajaannya dengan
syarat agar wanita yang menjadi muridnya itu diterima menjadi dayang di
keraton. Karena gadis itupun cantik jelita, hanya sayang belum tahu tata susila
keraton, pula karena memang amat membutuhkan tenaga bantuan orang-orang sakti
seperti Dibyo Mamangkoro, tanpa ragu-ragu lagi sang prabu berkata,
"Baiklah,
paman Dibyo. Muridmu ini kuangkat menjadi pelayan dalam, sedangkan engkau boleh
memimpin para senopati di sini...... "
"Bukan
demikian maksud hamba, gusti! Murid hamba ini, Endang Patibroto, Puteri
Nusakambangan, hamba tawarkan menjadi senopati, memimpin perang terhadap
Panjalu, bukan hamba!"
No comments:
Post a Comment