“Apa katamu?? Paman Dibyo Mamangkoro, harap jangan main-main begitu. Kami benar-benar sedang menghadapi perang saudara, dan Panjalu mempunyai banyak orang sakti. Bagaimana kami dapat memakai tenaga seorang gadis remaja untuk menghadapi mereka?"
"Huah-ha-ha-hal
Hendaknya gusti tidak salah menduga. Murid hamba ini tidak boleh disamakan
dengan segala wanita di jagad ini! Dia puteri di antara segala puteri! Sakti
mandraguna tidak kalah oleh laki-laki yang manapun juga. Hamba sendiri sekarang
belum tentu akan mampu mengalahkan murid hamba ini!"
Ucapan Dibyo
Mamangkoro mengandung kebanggaan luar biasa dan memang ia tidak terlalu
melebih-lebihkan karena pada saat itu tingkat kepandaian Endang Patibroto
memang sudah luar biasa sekali. Mungkin belum dapat menandingi kedigdayaan
gurunya, akan tetapi kalau ia mempergunakan pusaka Ki Brojol Luwuk, belum tentu
Dibyo Mamangkoro sanggup mengalahkannya!
Tentu saja
sang prabu dan para senopati memandang dengan kening berkerut dan tidak percaya.
Namun, karena para senopati itu mengenal baik-baik siapa dia Dibyo Mamangkoro,
sungguhpun mereka merasa tersinggung dan terhina dengan usul yang diajukan
raksasa itu, mereka tidak berani mengeluarkan bantahan. Hanya sang prabu yang
berani berseru,
"Paman
Dibyol Hentikan kelakarmu ini! Gadis muridmu ini paling banyak berusia sembilan
belas tahun"
"Baru
tujuh belas tahun usia hamba!" Tiba-tiba Endang Patibroto memotong sabda
sri baginda dengan suara melengking nyaring, mengagetkan semua orang. Sejenak sang
prabu sendiri tercengang, kemudian tertawalah beliau dengan geli hati.
"Ha-ha-ha!
Baru tujuh belas tahun lagi! Paman Dibyo, sungguh kau lucu, akan tetapi
leluconmu ini kaukeluarkan tidak pada saat yang tepat. Sedangkan Ni Nogogini
dan Ni Durgogini berdua yang merupakan wanita-wanita paling sakti di dunia ini,
masih tidak sanggup memimpin semua barisan menghadapi Panjalu. Apalagi gadis
remaja ini!"
"Huh,
nenek-nenek!" Dibyo Mamangkoro berseru mengejek.
"Harap
paduka jangan memandang rendah murid hamba ini. Benar dia baru tujuh belas
tahun usianya, akan tetapi nenek-nenek Durgogini dan Nogogini bukan
tandingannya!”
"Ahhh.........!!”
Para hulu-balang tidak dapat menahan seruan kaget mereka.
"Benarkah
itu, paman Dibyo Mamangkoro?" sang prabu juga terkejut dan heran.
"Hamba
tidak berkata bohong. Mohon paduka perintahkan apa saja, tentu akan dapat
dilakukan murid hamba."
Sang prabu
mengerutkan kening, masih meragu. Benarkah seorang wanita begini muda dapat
menandingi kedigdayaan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Sukar dipercaya. Ia
menarik napas panjang lalu berkata,
"Menjadi
senopati bukanlah hal mudah, paman. Tentu saja tentang hal ini paman sendiri
yang pernah menjadi senopati besar telah mengerti, bukannya aku tidak percaya
kepadamu, akan tetapi melihat muridmu ini hanya seorang wanita muda, memang
amatlah sukar dipercaya kalau tidak ada buktinya. Pada saat kami menghadapi
perang besar ini, hanya dua hal yang selalu membuat hatiku selalu khawatir.
Pertama, adalah paman Narotama yang kini masih menjadi pertapa di lereng Gunung
Bekel. Biarpun semenjak pembagian kerajaan, paman Narotama tidak pernah
mencampuri urusan pemerintahan, namun aku tahu bahwa diam-diam ia berpihak
kepada Panjalu! Sebelum dia mati, hatiku takkan merasa tenteram dan aku selalu
masih ragu-ragu untuk mulai perang melawan Panjalu. Ke dua, keadaan di Panjalu
kini tertutup, penuh rahasia sehingga sukarlah bagi para penyelidikku untuk
mengukur kekuatan mereka. Pernah aku mengutus Ni Durgogini dan Ni Nogogini
pergi menyelidik, akan tetapi hampir saja mereka berdua tertawan. Kiranya
Panjalu sudah mengumpulkan banyak orang sakti."
Dibyo
Mamangkoro tertawa bergelak. Suara ketawanya mengumandang di seluruh ruangan
yang luas itu.
"Terbukalah
kesempatan bagi murid hamba untuk memperlihatkan kepandaian. Apa yang tidak
dapat dicapai oleh dua orang nenek itu, tentu akan dapat dilakukan oleh murid
hamba. Eh, Endang muridku yang denok montok, muridku yang ayu manis! Engkau
sudah mendengar sabda sang prabu. Beranikah engkau menyelidiki keadaan keraton
Panjalu?"
Sambil
mengangkat muka dan membusungkan dada Endang Patibroto menjawab,
"Mengapa
tidak berani? Kapan aku harus berangkat, bapa? Dan apa yang harus kukerjakan di
keraton Panjalu?"
Selagi sang
prabu dan para menteri terkejut mendengar jawaban seenaknya ini, Dibyo
Mamangkoro tertawa lagi saking girang dan bangga hatinya.
"Huah-ha-ha!
Muridku, kau berhati-hatilah kalau berada di Kota Raja Panjalu. Jangan
bertindak sembrono dan jangan sekali-kali membiarkan dirimu terkepung atau
tertawan. Kauselidiki keadaan di sana, sedapat mungkin kautangkap pembicaraan
antara sang prabu di Panjalu dengan menteri-menterinya, kemudian sebagai tanda
kenang-kenangan kaubawa ke sini bendera pusaka yang berkibar di atas keraton
Panjalu. Sanggupkah?"
"Sanggup,
dan aku berangkat sekarang juga, bapa. Hamba mohon diri, gusti!"
Belum lenyap
gema suaranya, gadis remaja itu telah berkelebat secepat kilat dan tahu-tahu
sudah lenyap dari ruangan itu!.
"Jagad
Dewa Bathara! Bukan main muridmu itu, paman Dibyo Mamangkorol" Sang prabu
akhirnya bersabda setelah sejenak terpaku keheranan. Juga para menteri dan
hulubalang saling pandang. Menipis keraguan mereka terhadap gadis remaja tadi,
menyaksikan gerakan yang sedemikian cepat seakan-akan gadis itu pandai ilmu
"menghilang" saja.
"Sudah
hamba haturkan tadi, murid hamba takkan mengecewakan paduka. Akan tetapi, tentu
saja untuk berhadapan dengan Narotama, murid hamba kalah gemblengan dan kalah
pengalaman. Untuk mengatasi Narotama, hamba sendirilah yang akan maju, gusti.
Perkenankan hamba mundur, karena hamba hendak langsung menuju ke Gunung Bekel
dan mencari si Narotama, musuh besar hamba!"
"Apakah
engkau tidak membutuhkan pasukan pengawal, paman?"
"Ha-ha-ha!
Tidak perlu, gusti. Hamba sudah mempunyai pasukan sendiri, yang telah hamba
beri kabar dan sekarang agaknya sudah menanti di alun-alun."
Pada saat itu,
tiba-tiba terdengar lapat-lapat suara gagak. Dibyo Mamangkoro tertawa,
"Ha-ha,
itulah mereka, gusti, para anak buah hamba telah menanti di alun-alun."
Semua menteri
dan senopati merasa serem. Benar-benar kakek raksasa ini seorang yang
menyeramkan. Adapun sang prabu yang merasa girang melihat datangnya bantuan
seorang sakti seperti Dibyo Mamangkoro, segera berkata,
"Baiklah,
paman. Berangkatlah, doaku mengiringimu dan biarlah kutunda pesta penghormatan
untukmu setelah kau kembali menyelesaikan tugas."
"Huah-ha-ha
Seorang panglima yang baik tidak akan bicara tentang jasa sebelum tugas
terlaksana, gusti. Hamba mohon diri!”
Setelah sang
prabu mengangkat tangan kanan memberi perkenan, raksasa tua itu mengundurkan
diri dan melangkah lebar meninggalkan Keraton Jenggala. Benar saja seperti
perhitungannya, di alun-alun telah menanti pembantu-pembantunya, yaitu
Wirokolo, sepasang Gagak dan sepasukan orang-orang tinggi besar berjumlah tiga
puluh enam orang.
"Hayo,
konco, kita berangkat sekarang juga ke Gunung Bekel!" teriak Dibyo
Mamangkoro setelah tiba di alun-alun disambut oleh Wirokolo dan sepasang Gagak.
"Gunung
Bekel??" sepasang Gagak bertanya hamper berbareng.
Agaknya Gagak
Kunto dan Gagak Rudro masih teringat akan pengalaman mereka ketika menyerbu
Jalatunda sehingga disebutnya gunung itu membuat mereka jerih.
"Huah-ha-ha!
Sang prabu ingin agar kita lebih dulu membereskan si keparat Narotama!"
"Na.....
Narotama..... ??" Gagak Kunto berseru kaget. Juga Gagak Rudro nampak
pucat.
"Huh,
kalian takut apa? Bersama kakang Dibyo Mamangkoro, iblis mana yang takkan dapat
kita hancurkan?" bentak Wirokolo sambil melototkan mata.
Teringat akan
hadirnya Dibyo Mamangkoro, sepasang Gagak timbul pula keberaniannya dan tertawa-tawalah
mereka ketika rombongan ini bergerak menuju ke Gunung Bekel.
"Sekarang
ujilah Aji Bojro Dahono pada pohon itu!" terdengar kakek tua yang duduk
bersila di atas batu kepada Joko Wandiro yang baru saja selesai berlatih di
depan gurunya. Mendengar perintah ini, Joko Wandiro mengerahkan hawa sakti,
menyalurkan hawa dari pusar ke arah kedua lengannya, lalu kedua kakinya
bergerak, tubuhnya diputar dan kedua lengannya dipukulkan ke depan, ke arah
pohon trembesi yang besarnya sepelukan orang dan yang letaknya kurang lebih
tiga meter di depannya.
"Werrrr.....!!”
Tidak terjadi
apa-apa pada pohon itu, akan tetapi Joko Wandiro mengeluarkan keringat pada
dahinya, tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaga. Sehabis melakukan gerak
pukulan ini, ia lalu meramkan mata dan menyalurkan pernapasan panjang untuk
memulihkan tenaganya.
"Bagus!
Cukup baik, kuat, dan tepat gerakannya. Muridku yang baik, kau dorong roboh
pohon itu ke sebelah sana, agar jangan roboh oleh angin dan menimpa pondok
kita."
Joko Wandiro
menghampiri pohon trembesi yang dihantamnya dari jarak jauh tadi, lalu perlahan
ia mendorong dan..... dengan amat mudahnya pohon itu tumbang. Kiranya di
sebelah dalam pohon itu sudah hangus seperti dibakar atau seperti disambar
geledek! Demikian hebat ilmu pukulan Bojro Dahono (Api Berkilat) yang telah
dimiliki Jokî Wandiro.
"Ke
sinilah, angger Joko Wandiro, dan dengarlah wejanganku." Dengan suara
penuh kasih sayang, kakek yang bukan lain adalah Ki Patih Narotama yang sakti
mandraguna itu memanggil Joko Wandiro.
Joko Wandiro,
kini sudah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah berusia sembilan belas
tahun, cepat menghampiri gurunya, menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan
bersila di depan kaki gurunya.
"Hamba
siap menanti perintah dan petuah bapa guru yang mulia," kata Joko Wandiro,
sikapnya penuh hormat. Ia amat mencinta gurunya ini yang selama bertahun-tahun
telah menggemblengnya, baik dengan ilmu silat yang luar biasa, aji-aji mantera
yang hebat, maupun ilmu batin dan filsafat hidup yang tinggi.
"Angger,
Joko Wandiro, muridku. Setelah Bojro Dahono dapat kaulakukan dengan baik,
berarti tamatlah sudah pelajaranmu. Tidak ada aji lain yang belum kuberikan
kepadamu, Joko. Dan aku merasa puas melihat hasilnya. Engkau sudah menjadi
seperti aku ketika masih muda. Sekarang sebelum kita saling berpisah...."
"Berpisah,
bapa guru? Mengapa..... mesti saling berpisah..... ?!”
Resi Narotama
tersenyum dan terbayanglah ketampanannya yang sudah terselimut usia tua.
"Mengapa?
Ha-ha-ha, pertanyaan yang selalu akan timbul dalam hati sanubari manusia. Ya,
mengapa selalu ada perpisahan sebagai akhir pertemuan? Mengapa ada kematian
sebagai akhir kelahiran? Mengapa ada ketidakadaan sebagai akhir keadaan? Karena
memang sudah semestinya demikian, angger! Karena ada pertemuan, maka timbul perpisahan.
Karena ada kelahiran, maka timbul kematian dan seterusnya. Hal ini tidak perlu
engkau herankan, lebih-lebih tidak boleh kausesalkan, Joko. Sudah banyak
kuwejangkan kepadamu tentang sebab akibat. Sekarang kulanjutkan kata-kataku
tadi yang terputus oleh pertanyaanmu. Kuulangi lagi, sebelum kita saling
berpisah, kau jawablah lebih dulu pertanyaanku ini. Setelah bertahun-tahun
engkau bersusah payah mempelajari segala macam ilmu dan kini telah tamat
belajar dengan hasil memiliki ilmu, akan kaupergunakan untuk apakah ilmu yang
kau pelajari dengan segala pengerahan jerih payah itu, angger?"
Joko Wandiro
menundukkan mukanya, berpikir dalam-dalam sebelum menjawab. Pertanyaan yang
gawat dan pelik ini harus ia jawab dengan hati-hati, maka ia kumpulkan kembali
segala wejangan yang pernah ia terima dari gurunya untuk bahan jawaban,
kemudian ia menyembah dan menjawab, suaranya lantang,
"Hamba
akan pergunakan segala ilmu yang hamba dapat berkat bimbingan bapa guru yang
bijaksana, untuk melakukan prikebajikan, membela kebenaran dan keadilan,
memberantas, menindas, dan melenyapkan kejahatan, melindungi kaum lemah
tertindas, menentang mereka yang sewenang-wenang adigang-adigung-adiguna
mengandalkan kepintaran, kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan untuk
bersimaharajalela melakukan kejahatan yang menyusahkan lain orang. Semoga hamba
akan selalu ingat akan hal itu seperti yang diajarkan oleh bapa guru."
Resi Narotama
mengangguk-angguk.
"Benar,
angger. Kalau demikian, tidak percuma kau berjerih payah selama bertahun-tahun
mempelajari ilmu. Baik buruknya ilmu, bersih kotornya kepandaian yang dimiliki,
tergantung daripada penggunaannya. Betapapun baik ilmu, betapa tinggi
kepandaian, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itupun akan menjadi
ilmu jahat. Hitam putihnya ilmu tergantung daripada pemakaiannya. Ilmu
merupakan alat, angger. Tiada bedanya dengan sebatang golok. Kalau golok
dipergunakan untuk membabat alang-alang, menebang kayu membuat alat rumah
tangga, golok itu merupakan alat berguna. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk
membacok leher manusia lain tanpa dosa, golok itu menjadi alat pembunuh keji!
Oleh karena itu, bahagialah
orang yang
pandai mempergunakan ilmu untuk kebajikan dan terutama sekali, untuk mendatang
kan manfaat bagi orang-orang Iain. Sebaliknya, kasihanlah mereka yang setelah
dikaruniai ilmu lalu menjadi besar kepala, sombong dan merasa diri sendiri
paling pintar, paling jagoan sehingga ia terperosok ke dalam jurang kegelapan,
melakukan segala tindak maksiat dan kejahatan."
No comments:
Post a Comment