Badai Laut Selatan ; Bagian 095


“Apa katamu?? Paman Dibyo Mamangkoro, harap jangan main-main begitu. Kami benar-benar sedang menghadapi perang saudara, dan Panjalu mempunyai banyak orang sakti. Bagaimana kami dapat memakai tenaga seorang gadis remaja untuk menghadapi mereka?"
"Huah-ha-ha-hal Hendaknya gusti tidak salah menduga. Murid hamba ini tidak boleh disamakan dengan segala wanita di jagad ini! Dia puteri di antara segala puteri! Sakti mandraguna tidak kalah oleh laki-laki yang manapun juga. Hamba sendiri sekarang belum tentu akan mampu mengalahkan murid hamba ini!"
Ucapan Dibyo Mamangkoro mengandung kebanggaan luar biasa dan memang ia tidak terlalu melebih-lebihkan karena pada saat itu tingkat kepandaian Endang Patibroto memang sudah luar biasa sekali. Mungkin belum dapat menandingi kedigdayaan gurunya, akan tetapi kalau ia mempergunakan pusaka Ki Brojol Luwuk, belum tentu Dibyo Mamangkoro sanggup mengalahkannya!

Tentu saja sang prabu dan para senopati memandang dengan kening berkerut dan tidak percaya. Namun, karena para senopati itu mengenal baik-baik siapa dia Dibyo Mamangkoro, sungguhpun mereka merasa tersinggung dan terhina dengan usul yang diajukan raksasa itu, mereka tidak berani mengeluarkan bantahan. Hanya sang prabu yang berani berseru,
"Paman Dibyol Hentikan kelakarmu ini! Gadis muridmu ini paling banyak berusia sembilan belas tahun"
"Baru tujuh belas tahun usia hamba!" Tiba-tiba Endang Patibroto memotong sabda sri baginda dengan suara melengking nyaring, mengagetkan semua orang. Sejenak sang prabu sendiri tercengang, kemudian tertawalah beliau dengan geli hati.
"Ha-ha-ha! Baru tujuh belas tahun lagi! Paman Dibyo, sungguh kau lucu, akan tetapi leluconmu ini kaukeluarkan tidak pada saat yang tepat. Sedangkan Ni Nogogini dan Ni Durgogini berdua yang merupakan wanita-wanita paling sakti di dunia ini, masih tidak sanggup memimpin semua barisan menghadapi Panjalu. Apalagi gadis remaja ini!"
"Huh, nenek-nenek!" Dibyo Mamangkoro berseru mengejek.
"Harap paduka jangan memandang rendah murid hamba ini. Benar dia baru tujuh belas tahun usianya, akan tetapi nenek-nenek Durgogini dan Nogogini bukan tandingannya!”
"Ahhh.........!!” Para hulu-balang tidak dapat menahan seruan kaget mereka.
"Benarkah itu, paman Dibyo Mamangkoro?" sang prabu juga terkejut dan heran.
"Hamba tidak berkata bohong. Mohon paduka perintahkan apa saja, tentu akan dapat dilakukan murid hamba."
Sang prabu mengerutkan kening, masih meragu. Benarkah seorang wanita begini muda dapat menandingi kedigdayaan Ni Durgogini dan Ni Nogogini? Sukar dipercaya. Ia menarik napas panjang lalu berkata,
"Menjadi senopati bukanlah hal mudah, paman. Tentu saja tentang hal ini paman sendiri yang pernah menjadi senopati besar telah mengerti, bukannya aku tidak percaya kepadamu, akan tetapi melihat muridmu ini hanya seorang wanita muda, memang amatlah sukar dipercaya kalau tidak ada buktinya. Pada saat kami menghadapi perang besar ini, hanya dua hal yang selalu membuat hatiku selalu khawatir. Pertama, adalah paman Narotama yang kini masih menjadi pertapa di lereng Gunung Bekel. Biarpun semenjak pembagian kerajaan, paman Narotama tidak pernah mencampuri urusan pemerintahan, namun aku tahu bahwa diam-diam ia berpihak kepada Panjalu! Sebelum dia mati, hatiku takkan merasa tenteram dan aku selalu masih ragu-ragu untuk mulai perang melawan Panjalu. Ke dua, keadaan di Panjalu kini tertutup, penuh rahasia sehingga sukarlah bagi para penyelidikku untuk mengukur kekuatan mereka. Pernah aku mengutus Ni Durgogini dan Ni Nogogini pergi menyelidik, akan tetapi hampir saja mereka berdua tertawan. Kiranya Panjalu sudah mengumpulkan banyak orang sakti."

Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak. Suara ketawanya mengumandang di seluruh ruangan yang luas itu.
"Terbukalah kesempatan bagi murid hamba untuk memperlihatkan kepandaian. Apa yang tidak dapat dicapai oleh dua orang nenek itu, tentu akan dapat dilakukan oleh murid hamba. Eh, Endang muridku yang denok montok, muridku yang ayu manis! Engkau sudah mendengar sabda sang prabu. Beranikah engkau menyelidiki keadaan keraton Panjalu?"
Sambil mengangkat muka dan membusungkan dada Endang Patibroto menjawab,
"Mengapa tidak berani? Kapan aku harus berangkat, bapa? Dan apa yang harus kukerjakan di keraton Panjalu?"
Selagi sang prabu dan para menteri terkejut mendengar jawaban seenaknya ini, Dibyo Mamangkoro tertawa lagi saking girang dan bangga hatinya.
"Huah-ha-ha! Muridku, kau berhati-hatilah kalau berada di Kota Raja Panjalu. Jangan bertindak sembrono dan jangan sekali-kali membiarkan dirimu terkepung atau tertawan. Kauselidiki keadaan di sana, sedapat mungkin kautangkap pembicaraan antara sang prabu di Panjalu dengan menteri-menterinya, kemudian sebagai tanda kenang-kenangan kaubawa ke sini bendera pusaka yang berkibar di atas keraton Panjalu. Sanggupkah?"
"Sanggup, dan aku berangkat sekarang juga, bapa. Hamba mohon diri, gusti!"
Belum lenyap gema suaranya, gadis remaja itu telah berkelebat secepat kilat dan tahu-tahu sudah lenyap dari ruangan itu!.
"Jagad Dewa Bathara! Bukan main muridmu itu, paman Dibyo Mamangkorol" Sang prabu akhirnya bersabda setelah sejenak terpaku keheranan. Juga para menteri dan hulubalang saling pandang. Menipis keraguan mereka terhadap gadis remaja tadi, menyaksikan gerakan yang sedemikian cepat seakan-akan gadis itu pandai ilmu "menghilang" saja.
"Sudah hamba haturkan tadi, murid hamba takkan mengecewakan paduka. Akan tetapi, tentu saja untuk berhadapan dengan Narotama, murid hamba kalah gemblengan dan kalah pengalaman. Untuk mengatasi Narotama, hamba sendirilah yang akan maju, gusti. Perkenankan hamba mundur, karena hamba hendak langsung menuju ke Gunung Bekel dan mencari si Narotama, musuh besar hamba!"
"Apakah engkau tidak membutuhkan pasukan pengawal, paman?"
"Ha-ha-ha! Tidak perlu, gusti. Hamba sudah mempunyai pasukan sendiri, yang telah hamba beri kabar dan sekarang agaknya sudah menanti di alun-alun."
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar lapat-lapat suara gagak. Dibyo Mamangkoro tertawa,
"Ha-ha, itulah mereka, gusti, para anak buah hamba telah menanti di alun-alun."

Semua menteri dan senopati merasa serem. Benar-benar kakek raksasa ini seorang yang menyeramkan. Adapun sang prabu yang merasa girang melihat datangnya bantuan seorang sakti seperti Dibyo Mamangkoro, segera berkata,
"Baiklah, paman. Berangkatlah, doaku mengiringimu dan biarlah kutunda pesta penghormatan untukmu setelah kau kembali menyelesaikan tugas."
"Huah-ha-ha Seorang panglima yang baik tidak akan bicara tentang jasa sebelum tugas terlaksana, gusti. Hamba mohon diri!”
Setelah sang prabu mengangkat tangan kanan memberi perkenan, raksasa tua itu mengundurkan diri dan melangkah lebar meninggalkan Keraton Jenggala. Benar saja seperti perhitungannya, di alun-alun telah menanti pembantu-pembantunya, yaitu Wirokolo, sepasang Gagak dan sepasukan orang-orang tinggi besar berjumlah tiga puluh enam orang.
"Hayo, konco, kita berangkat sekarang juga ke Gunung Bekel!" teriak Dibyo Mamangkoro setelah tiba di alun-alun disambut oleh Wirokolo dan sepasang Gagak.
"Gunung Bekel??" sepasang Gagak bertanya hamper berbareng.
Agaknya Gagak Kunto dan Gagak Rudro masih teringat akan pengalaman mereka ketika menyerbu Jalatunda sehingga disebutnya gunung itu membuat mereka jerih.
"Huah-ha-ha! Sang prabu ingin agar kita lebih dulu membereskan si keparat Narotama!"
"Na..... Narotama..... ??" Gagak Kunto berseru kaget. Juga Gagak Rudro nampak pucat.
"Huh, kalian takut apa? Bersama kakang Dibyo Mamangkoro, iblis mana yang takkan dapat kita hancurkan?" bentak Wirokolo sambil melototkan mata.
Teringat akan hadirnya Dibyo Mamangkoro, sepasang Gagak timbul pula keberaniannya dan tertawa-tawalah mereka ketika rombongan ini bergerak menuju ke Gunung Bekel.

"Sekarang ujilah Aji Bojro Dahono pada pohon itu!" terdengar kakek tua yang duduk bersila di atas batu kepada Joko Wandiro yang baru saja selesai berlatih di depan gurunya. Mendengar perintah ini, Joko Wandiro mengerahkan hawa sakti, menyalurkan hawa dari pusar ke arah kedua lengannya, lalu kedua kakinya bergerak, tubuhnya diputar dan kedua lengannya dipukulkan ke depan, ke arah pohon trembesi yang besarnya sepelukan orang dan yang letaknya kurang lebih tiga meter di depannya.
"Werrrr.....!!”
Tidak terjadi apa-apa pada pohon itu, akan tetapi Joko Wandiro mengeluarkan keringat pada dahinya, tanda bahwa ia telah mengerahkan tenaga. Sehabis melakukan gerak pukulan ini, ia lalu meramkan mata dan menyalurkan pernapasan panjang untuk memulihkan tenaganya.
"Bagus! Cukup baik, kuat, dan tepat gerakannya. Muridku yang baik, kau dorong roboh pohon itu ke sebelah sana, agar jangan roboh oleh angin dan menimpa pondok kita."
Joko Wandiro menghampiri pohon trembesi yang dihantamnya dari jarak jauh tadi, lalu perlahan ia mendorong dan..... dengan amat mudahnya pohon itu tumbang. Kiranya di sebelah dalam pohon itu sudah hangus seperti dibakar atau seperti disambar geledek! Demikian hebat ilmu pukulan Bojro Dahono (Api Berkilat) yang telah dimiliki Jokî Wandiro.
"Ke sinilah, angger Joko Wandiro, dan dengarlah wejanganku." Dengan suara penuh kasih sayang, kakek yang bukan lain adalah Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna itu memanggil Joko Wandiro.
Joko Wandiro, kini sudah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah berusia sembilan belas tahun, cepat menghampiri gurunya, menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan bersila di depan kaki gurunya.
"Hamba siap menanti perintah dan petuah bapa guru yang mulia," kata Joko Wandiro, sikapnya penuh hormat. Ia amat mencinta gurunya ini yang selama bertahun-tahun telah menggemblengnya, baik dengan ilmu silat yang luar biasa, aji-aji mantera yang hebat, maupun ilmu batin dan filsafat hidup yang tinggi.
"Angger, Joko Wandiro, muridku. Setelah Bojro Dahono dapat kaulakukan dengan baik, berarti tamatlah sudah pelajaranmu. Tidak ada aji lain yang belum kuberikan kepadamu, Joko. Dan aku merasa puas melihat hasilnya. Engkau sudah menjadi seperti aku ketika masih muda. Sekarang sebelum kita saling berpisah...."
"Berpisah, bapa guru? Mengapa..... mesti saling berpisah..... ?!”

Resi Narotama tersenyum dan terbayanglah ketampanannya yang sudah terselimut usia tua.
"Mengapa? Ha-ha-ha, pertanyaan yang selalu akan timbul dalam hati sanubari manusia. Ya, mengapa selalu ada perpisahan sebagai akhir pertemuan? Mengapa ada kematian sebagai akhir kelahiran? Mengapa ada ketidakadaan sebagai akhir keadaan? Karena memang sudah semestinya demikian, angger! Karena ada pertemuan, maka timbul perpisahan. Karena ada kelahiran, maka timbul kematian dan seterusnya. Hal ini tidak perlu engkau herankan, lebih-lebih tidak boleh kausesalkan, Joko. Sudah banyak kuwejangkan kepadamu tentang sebab akibat. Sekarang kulanjutkan kata-kataku tadi yang terputus oleh pertanyaanmu. Kuulangi lagi, sebelum kita saling berpisah, kau jawablah lebih dulu pertanyaanku ini. Setelah bertahun-tahun engkau bersusah payah mempelajari segala macam ilmu dan kini telah tamat belajar dengan hasil memiliki ilmu, akan kaupergunakan untuk apakah ilmu yang kau pelajari dengan segala pengerahan jerih payah itu, angger?"
Joko Wandiro menundukkan mukanya, berpikir dalam-dalam sebelum menjawab. Pertanyaan yang gawat dan pelik ini harus ia jawab dengan hati-hati, maka ia kumpulkan kembali segala wejangan yang pernah ia terima dari gurunya untuk bahan jawaban, kemudian ia menyembah dan menjawab, suaranya lantang,
"Hamba akan pergunakan segala ilmu yang hamba dapat berkat bimbingan bapa guru yang bijaksana, untuk melakukan prikebajikan, membela kebenaran dan keadilan, memberantas, menindas, dan melenyapkan kejahatan, melindungi kaum lemah tertindas, menentang mereka yang sewenang-wenang adigang-adigung-adiguna mengandalkan kepintaran, kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan untuk bersimaharajalela melakukan kejahatan yang menyusahkan lain orang. Semoga hamba akan selalu ingat akan hal itu seperti yang diajarkan oleh bapa guru."
Resi Narotama mengangguk-angguk.
"Benar, angger. Kalau demikian, tidak percuma kau berjerih payah selama bertahun-tahun mempelajari ilmu. Baik buruknya ilmu, bersih kotornya kepandaian yang dimiliki, tergantung daripada penggunaannya. Betapapun baik ilmu, betapa tinggi kepandaian, kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka ilmu itupun akan menjadi ilmu jahat. Hitam putihnya ilmu tergantung daripada pemakaiannya. Ilmu merupakan alat, angger. Tiada bedanya dengan sebatang golok. Kalau golok dipergunakan untuk membabat alang-alang, menebang kayu membuat alat rumah tangga, golok itu merupakan alat berguna. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk membacok leher manusia lain tanpa dosa, golok itu menjadi alat pembunuh keji! Oleh karena itu, bahagialah
orang yang pandai mempergunakan ilmu untuk kebajikan dan terutama sekali, untuk mendatang kan manfaat bagi orang-orang Iain. Sebaliknya, kasihanlah mereka yang setelah dikaruniai ilmu lalu menjadi besar kepala, sombong dan merasa diri sendiri paling pintar, paling jagoan sehingga ia terperosok ke dalam jurang kegelapan, melakukan segala tindak maksiat dan kejahatan."

<<< Bagian 094                                                                                   Bagian 096 >>>

No comments:

Post a Comment