Badai Laut Selatan ; Bagian 096


"Hamba perhatikan segala perintah bapa guru " jawab Joko Wandiro.
"Kulanjutkan lagi pertanyaanku sebagai ujian terakhir dan bekal bagimu, kulup Joko Wandiro. Setelah kau mengerti kegunaan ilmu yang kau pelajari itu untuk melakukan kebajikan, apakah pamrihmu dalam melakukan kebajikan? Apakah untuk membikin puas hati? Apakah dengan pamrih agar Dewata kelak memberi ganjaran kemuliaan di kahyangan? Apakah ingin agar dicinta orang, dipuja dan disebut satria budiman dan perkasa? Ataukah ingin kelak diganjar kedudukan tinggi oleh raja? Heh, kulup Joko Wandiro, katakan kepada gurumu, apakah pamrihmu hendak mempergunakan ilmu guna kebajikan?"
"Ampun kalau jawaban hamba keliru dan mohon petunjuk, bapa guru. Sesungguhnya, kalau hamba pergunakan ilmu yang ada pada hamba untuk kebajikan, hamba tiada berpamrih apa-apa di dalam hati hamba, bapa."
"Hemm..... , tidak berpamrih? Lalu, apa dasarnya? Mengapa engkau memilih kebajikan, mengapa tidak memilih sebaliknya? Ada dasarnya maka engkau hendak mempergunakan ilmu untuk perbuatan bajik, membela kebenaran dan keadilan dan sebagainya tadi?"
"Sesungguhnya memang ada dasarnya, bapa guru. Sesuai dengan segala petunjuk dan nasehat bapa, kalau hamba tidak keliru, dasarnya adalah pelaksanaan kewajiban, tidak ada dasar lain!"
Kembali Resi Narotama mengangguk-angguk dan mengelus-elus jenggot memelintir kumisnya yang penuh uban.
"Mendasarkan segala langkah di dalam hidup di atas kewajiban! Sungguh baik sekali ini, kulup. Orang yang mengenal wajib tidak mudah terperosok ke dalam jurang kenistaan. Akan tetapi engkau lupa hal yang jauh lebih penting daripada itu, angger. Seyogjanya engkau dasarkan kepada kewajiban sebagai manusia yang sadar akan kemanusiaannya, dan terutama sekali, engkau dasarkan kepada kebaktian terhadap Hyang Wisesa (Yang Maha Kuasa)!"
"Aduh..... , ampunkan hamba, bapa. Hamba tidak mengucapkan karena hal itu sudah sejiwa dengan hamba, bagaikan pernapasan yang sampai tidak terasa lagi, namun tidak pernah terlupa."
"Bagus! Memang engkau tak akan salah langkah dalam hidupmu, segala perbuatanmu, segala penggunaan Ilmu yang ada padamu, engkau dasarkan sebagai korban kepada Hyang Wisesa, sebagai tanda bakti kepadaNya. Perbuatan yang disertai pamrih tidaklah bersih lagi, tidak wajar lagi. Betapapun besar pertolongan yang kauberikan kepada orang lain, namun apabila pertolongan itu kau lakukan dengan pamrih di dalam hati, betapapun kecilnya pamrih itu, maka perbuatanmu menolong itu bukan menolong lagi namanya! Itu bukan kebajikan lagi namanya, angger, karena engkau bergerak menolong orang lain, digerakkan oleh pamrih demi kepentingan diri pribadi! Pamrih boleh bermacam-macam, namun sama juga. Pamrih dipuji orang? Siapa yang dipuji? Diri sendiril Pamrih disebut satria perkasa dan budiman. Siapa yang disebut? Diri pribadil Perbuatan kebajikan yang berpamrih bukanlah kebajikan, karena andaikata pamrihnya tidak ada, tentu tidak akan terlahir kebajikan itu. Seperti seorang anak kecil yang bersikap rajin dan patuh dengan pamrih agar dipuji dan diberi ganjaran. Kalau tidak akan ada pujian dan ganjaran, takkan terdorong keluar lah sikap rajin dan patuhnya! Berbeda dengan mereka yang mendasarkan langkah hidup dengan wajib dan bakti kepada Hyang Wisesa. Perbuatannya wajar, tiada dorongan demi kepentingan pribadi. Jelaskah bagimu, angger?"
"Cukup jelas, bapa."
"Sekarang kulanjutkan lagi pertanyaanku. Setelah engkau tahu akan penggunaan ilmu yang kau pelajari dan tahu pula bahwa perbuatan yang didasari pamrih itu palsu, jawablah : Apakah yang menjadi cita-citamu ? Jelasnya, apakah yang menjadi keinginanmu dalam hidup di dunia ini, kulup Joko Wandiro?"
"Maaf, bapa. Apakah orang bercita-cita itu bukan berpamrih?"
"Ha-ha! Bukan, angger. Pamrih bukan cita-cita. Yang dimaksud pamrih tadi adalah pamrih yang mendasarl tiap pcrbuatan manusia. Adapun cita-cita adalah tujuan hidup. Manusia sudah dikurniai akal budi dan sudah menjadi kewajiban manusia pula untuk mempegunakan akal budi itu, untuk mencari àðà yang belum diketahuinya, untuk menjenguk dan memandang masa depan, untuk bercita-cita sebagai pengisi hidupnya. Manusia berhak untuk menikmati hidup, untuk memuaskan keinginan hatinya, asal saja tidak melanggar kebajikan, tidak merugikan orang lain. Kesenangan dan kenikmatan hidup adalah anugerah Dewata yang Maha Murah, Maha Kasih. Manusia biasa, bukan pendeta yang menggayuh tingkat lebih tinggi, berhak menikmati hidup, berhak bercita-cita. Karena itu, aku bertanya kepadamu, angger. Apakah yang menjadi cita-cita hidupmu?"

Setelah berpikir sejenak, Joko Wandiro menjawab.
"Hamba bercita-cita untuk memperjuangkan kewajiban hamba sehingga lenyaplah kejahatan di dunia, sehingga hamba tidak perlu lagi mempergunakan ilmu untuk menentang kejahatan. Hamba ingin melihat dunia yang tata tenteram karta raharja, ingin hidup bersama-sama manusia lain dalam keadaan rukun, kasih-mengasihi, hormat-menghormati, tolong-menolong, di mana tiada dengki tiada iri, tiada murka, tiada permusuhan, yang ada hanya persahabatan dan persaudaraan."
"Ha-ha-ha-ha-ha!" Resi Narotama tertawa sampai terbahak-bahak dan ia menghapus dua butir air mata yang keluar karena tertawa itu.
"Alangkah indahnya kalau ada keadaan seperti itu di dunia, angger. Sayang seribu sayang, aku sendiri belum pernah mengalami hidup dalam dunia seperti itu indahnya. Mudah-mudahan saja engkau kelak akan mengalaminya. Akan tetapi, muridku. Cita-cita tinggal cita-cita, yang penting adalah pelaksanaan yang menjadi kewajiban. Jangan sekali-kali engkau mabok oleh cita-cita kosong, angger."
"Bagaimanakah maksud bapa? Hamba kurang mengerti."
"Cita-cita adalah harapan akan tercapainya sesuatu yang indah sebagai akibat atau hasil daripada perjuangan. Karena cita-cita adalah hasil atau akibat, oleh' karena itu takkan tercapai tanpa perjuangan, tanpa pelaksanaan. Dan karena keindahannya maka dapat memabokkan orang. Seorang yang lemah batinnya selalu menghendaki sesuatu yang indah tanpa perjuangan yang susah payah, selalu menghendaki tercapainya cita-cita dengan mudah, tidak perduli baik buruknya cara yang ditempuhnya. Namun seorang bijaksana, tidak mabok oleh cita-cita, melainkan penuh ketekunan dan keyakinan melaksanakan tugas sebagai kewajibannya. Karena cita-cita hanya akibat, maka dengan sendirinya akan dating dan tercapai apabila kewajibannya dilaksanakan. Seperti halnya orang yang bercita-cita mengenyam buah manga yang harum manis dari pohon mangga yang hendak ditanamnya. Kalau ia hanya mabok dalam cita-citanya yang muluk-muluk, ia hanya akan mengenyam mangga dalam alam mimpi belaka. Sebaliknya, orang yang sadar akan kewajibannya, akan tekun menanam bibit mangga, memeliharanya baik-baik, menyiraminya setiap hari, menjaganya dari gangguan luar. Kelak hasilnya akan datang sendiri!”

Joko Wandiro mengangguk.
"Hamba mengerti sekarang, bapa."
"Setelah engkau berpisah dariku, berhati-hatilah dan waspadalah, angger. Seperti kau ketahui, dunia ini penuh dengan pertentangan, iblis dan setan selalu berusaha menyeret manusia untuk melakukan kejahatan, sebaliknya para dewata bertugas menuntun manusia ke arah jalan kebajikan. Akan tetapi iblis dan setan amatlah pandai, kadang-kadang membujuk manusia sambil menyamar sebagai dewata. Kadang-kadang ia akan membujukmu melakukan sesuatu yang kelihatannya baik, namun sesungguhnya adalah kejahatan belaka. Inilah sebabnya maka timbul kebaikan-kebaikan palsu, yang pada hakekatnya hanya kejahatan yang berkedok, seperti musang berbulu ayam. Inilah sebabnya mengapa orang-orang memperebutkan kebenaran dan keadilan, Kebajikan yang diperebutkan pada hakekatnya bukanlah kebajikan lagi karena kebajikan itu sifatnya memberi, bukan meminta. Kebenaran dan keadilan bagi orang lain, barulah benar! Kebenaran dan keadilan untuk dan demi diri pribadi, masih diragukan kebersihannya!"
Hening sejenak mengikuti gema ucapan sang resi ini, seakan-akan alam sendiri termenung memikirkan dan mencari-cari makna daripada wejangan itu. Kemudian tiba-tiba sekali terdengarlah suara parau kasar,
"Gaaaokk..... gaaaoookkk.....!"
Suara burung gagak! Suara ini seakan-akan suara iblis sendiri yang menjawab wejangan-wejangan tadi, penuh ejekan. Guru dan murid itu saling pandang, Wajah si murid berkerut tegang, akan tetapi wajah si guru tetap tenang, bahkan tersenyum.
"Agaknya para dewata sudah menghendaki, muridku, bahwa pada saat terakhir ini engkau harus menghadapi ujian berat. Pernahkah engkau mendengar suara itu?"
Joko Wandiro mengangguk, berusaha menenteramkan hatinya.
"Kalau hamba tidak keliru, mereka adalah Gagak Kembar, bapa."
"Benar, suara itu sudah kukenal baik. Gagak Kunto dan Gagak Rudro, kaki tangan Wirokolo si manusia liar. Heran, apa yang mereka kehendaki, sedangkan bertahun-tahun aku telah menjauhkan diri dari dunia ramai."

Tiba-tiba agaknya sebagai jawaban ucapan sang resi ini, terdengar ketawa terbahak-bahak, nyaring sekali sampai menggema di seluruh lereng dan memasuki telinga seperti jarum-jarum berbisa!
"Wah! Siapa lagi itu kalau bukan Dibyo Mamangkoro?" Resi Narotama tampak tercengang dan kaget, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera tersenyum kembali dan wajahnya tenang-tenang saja.
"Joko, kita kedatangan orang-orang sakti yang masih belum kuketahui niatnya. Akan tetapi, mendengar suaranya, agaknya sang waktu tidak merobah watak mereka dan kalau dugaanku ini benar, berarti kita akan diserang. Akan tetapi kau hanya boleh bergerak kalau kusuruh."
Suara burung gagak makin lama makin sering dan makin dekat. Kemudian, tampaklah pasukan terdiri dari orang-orang tinggi besar berjumlah tiga puluh enam orang itu, dipimpin oleh dua orang yang sama bentuk, sama wajah, dan sama pakaian, yaitu Sepasang Gagak, kakak beradik kembar, Gagak Kunto dan Gagak Rudrol Setelah tiba di depan pondok, mereka segera membuat setengah lingkaran, berbaris rapi, siap dan menanti komando.
Kemudian muncullah dua orang raksasa yang dengan langkah lebar mendatangi tempat itu sambil tertawa-tawa. Mereka itu bukan lain adalah Dibyo Mamangkoro si raksasa tua tampan dan gagah bersama adik seperguruannya, Wirokolo. Dibyo Mamangkoro segera melangkah maju sedangkan Wirokolo berdiri di sebelah Sepasang Gagak. Melihat Resi Narotama yang duduk bersila di atas batu, didampingi seorang pemuda tanggung yang menundukkan muka, Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak dan mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
"Huah-ha-ha-ha! Narotama.....! Kiranya engkau masih hidup dan bersembunyi di sini?"

Dengan sikap tenang Resi Narotama mengangkat muka memandang. Sepasang matanya memandang dan biarpun sikapnya tenang wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun sepasang mata itu berkilat penuh wibawa. Suaranya halus penuh kesabaran ketika ia berkata,
"Dibyo Mamangkoro, makin dalam orang mengenal dirinya, makin dinginlah hatinya untuk membiarkan diri hanyut oleh gelombang nafsu. Tiada yang lebih baik daripada diam dan tenang di dunia ini, Mamangkoro. Engkau datang mengganggu ketenanganku, mempunyai kehendak bagaimanakah? "
Kembali raksasa tua itu tertawa bergelak.
"Narotama, kita sudah sama-sama tua sekarang, agaknya tidak patut kalau kita harus bertanding yuda seperti belasan tahun yang lalu. Tentu kita akan ditertawai kanak-kanak kalau masih berkelahi. Dengarlah, aku diutus sang prabu di Jenggala untuk memanggil engkau menghadap ke keraton Jenggala sekarang juga."
"Hemmm! Sudah bertahun-tahun aku Narotama bertapa di gunung ini, tidak mengganggu orang lain, juga tidak ingin diganggu. Antara Jenggala dan Narotama tidak ada urusan sesuatu, Dibyo Mamangkoro, tidak ada sangkut-pautnya, maka terpaksa aku tidak dapat memenuhi permintaanmu ini."
"Heh-heh, ingatlah Narotama! Engkau adalah Patih Kahuripan. Bukankah ia junjunganmu juga? Mengapa kau membangkang?"
"Memang dahulu aku Patih Kahuripan, akan tetapi sekarang bukan patih lagi, melainkan Resi Narotama. Antara Resi Narotama dan Kerajaan Jenggala sungguh tidak ada urusan apa-apa."
"Jadi kau kukuh tidak akan mau ikut bersamaku ke Jenggala?"
"sekarang tidak, besokpun tidak, Mamangkoro."
"Heh, si sombong Narotama! Tahukah engkau bahwa aku telah diberi purbawa sesa (mandat penuh) oleh sang prabu? Tahukah kau bahwa kalau aku tidak dapat membawamu bersamaku ke Jenggala, aku harus membawa kepalamu?"

Narotama tersenyum dan kilat sinar matanya makin terang.
"Apakah itu berarti bahwa engkau hendak memenggal leherku dan membawa kepalaku ke Jenggala, Dibyo Mamangkoro?"
"Benar begitu, Narotama."
"Kalau begitu silahkan, hendak kulihat apakah engkau mampu memanggal leherku!"
"Engkau menantang, si keparat??"

<<< Bagian 095                                                                                    Bagian 097 >>>

No comments:

Post a Comment