"Hamba perhatikan segala perintah bapa guru " jawab Joko Wandiro.
"Kulanjutkan
lagi pertanyaanku sebagai ujian terakhir dan bekal bagimu, kulup Joko Wandiro.
Setelah kau mengerti kegunaan ilmu yang kau pelajari itu untuk melakukan
kebajikan, apakah pamrihmu dalam melakukan kebajikan? Apakah untuk membikin
puas hati? Apakah dengan pamrih agar Dewata kelak memberi ganjaran kemuliaan di
kahyangan? Apakah ingin agar dicinta orang, dipuja dan disebut satria budiman
dan perkasa? Ataukah ingin kelak diganjar kedudukan tinggi oleh raja? Heh,
kulup Joko Wandiro, katakan kepada gurumu, apakah pamrihmu hendak mempergunakan
ilmu guna kebajikan?"
"Ampun
kalau jawaban hamba keliru dan mohon petunjuk, bapa guru. Sesungguhnya, kalau
hamba pergunakan ilmu yang ada pada hamba untuk kebajikan, hamba tiada
berpamrih apa-apa di dalam hati hamba, bapa."
"Hemm.....
, tidak berpamrih? Lalu, apa dasarnya? Mengapa engkau memilih kebajikan,
mengapa tidak memilih sebaliknya? Ada dasarnya maka engkau hendak mempergunakan
ilmu untuk perbuatan bajik, membela kebenaran dan keadilan dan sebagainya
tadi?"
"Sesungguhnya
memang ada dasarnya, bapa guru. Sesuai dengan segala petunjuk dan nasehat bapa,
kalau hamba tidak keliru, dasarnya adalah pelaksanaan kewajiban, tidak ada
dasar lain!"
Kembali Resi
Narotama mengangguk-angguk dan mengelus-elus jenggot memelintir kumisnya yang
penuh uban.
"Mendasarkan
segala langkah di dalam hidup di atas kewajiban! Sungguh baik sekali ini,
kulup. Orang yang mengenal wajib tidak mudah terperosok ke dalam jurang
kenistaan. Akan tetapi engkau lupa hal yang jauh lebih penting daripada itu,
angger. Seyogjanya engkau dasarkan kepada kewajiban sebagai manusia yang sadar
akan kemanusiaannya, dan terutama sekali, engkau dasarkan kepada kebaktian
terhadap Hyang Wisesa (Yang Maha Kuasa)!"
"Aduh.....
, ampunkan hamba, bapa. Hamba tidak mengucapkan karena hal itu sudah sejiwa
dengan hamba, bagaikan pernapasan yang sampai tidak terasa lagi, namun tidak
pernah terlupa."
"Bagus!
Memang engkau tak akan salah langkah dalam hidupmu, segala perbuatanmu, segala
penggunaan Ilmu yang ada padamu, engkau dasarkan sebagai korban kepada Hyang
Wisesa, sebagai tanda bakti kepadaNya. Perbuatan yang disertai pamrih tidaklah
bersih lagi, tidak wajar lagi. Betapapun besar pertolongan yang kauberikan
kepada orang lain, namun apabila pertolongan itu kau lakukan dengan pamrih di
dalam hati, betapapun kecilnya pamrih itu, maka perbuatanmu menolong itu bukan
menolong lagi namanya! Itu bukan kebajikan lagi namanya, angger, karena engkau
bergerak menolong orang lain, digerakkan oleh pamrih demi kepentingan diri
pribadi! Pamrih boleh bermacam-macam, namun sama juga. Pamrih dipuji orang?
Siapa yang dipuji? Diri sendiril Pamrih disebut satria perkasa dan budiman.
Siapa yang disebut? Diri pribadil Perbuatan kebajikan yang berpamrih bukanlah
kebajikan, karena andaikata pamrihnya tidak ada, tentu tidak akan terlahir
kebajikan itu. Seperti seorang anak kecil yang bersikap rajin dan patuh dengan
pamrih agar dipuji dan diberi ganjaran. Kalau tidak akan ada pujian dan
ganjaran, takkan terdorong keluar lah sikap rajin dan patuhnya! Berbeda dengan
mereka yang mendasarkan langkah hidup dengan wajib dan bakti kepada Hyang
Wisesa. Perbuatannya wajar, tiada dorongan demi kepentingan pribadi. Jelaskah
bagimu, angger?"
"Cukup
jelas, bapa."
"Sekarang
kulanjutkan lagi pertanyaanku. Setelah engkau tahu akan penggunaan ilmu yang
kau pelajari dan tahu pula bahwa perbuatan yang didasari pamrih itu palsu,
jawablah : Apakah yang menjadi cita-citamu ? Jelasnya, apakah yang menjadi
keinginanmu dalam hidup di dunia ini, kulup Joko Wandiro?"
"Maaf,
bapa. Apakah orang bercita-cita itu bukan berpamrih?"
"Ha-ha!
Bukan, angger. Pamrih bukan cita-cita. Yang dimaksud pamrih tadi adalah pamrih
yang mendasarl tiap pcrbuatan manusia. Adapun cita-cita adalah tujuan hidup.
Manusia sudah dikurniai akal budi dan sudah menjadi kewajiban manusia pula
untuk mempegunakan akal budi itu, untuk mencari àðà yang belum diketahuinya,
untuk menjenguk dan memandang masa depan, untuk bercita-cita sebagai pengisi
hidupnya. Manusia berhak untuk menikmati hidup, untuk memuaskan keinginan
hatinya, asal saja tidak melanggar kebajikan, tidak merugikan orang lain.
Kesenangan dan kenikmatan hidup adalah anugerah Dewata yang Maha Murah, Maha Kasih.
Manusia biasa, bukan pendeta yang menggayuh tingkat lebih tinggi, berhak
menikmati hidup, berhak bercita-cita. Karena itu, aku bertanya kepadamu,
angger. Apakah yang menjadi cita-cita hidupmu?"
Setelah
berpikir sejenak, Joko Wandiro menjawab.
"Hamba
bercita-cita untuk memperjuangkan kewajiban hamba sehingga lenyaplah kejahatan
di dunia, sehingga hamba tidak perlu lagi mempergunakan ilmu untuk menentang
kejahatan. Hamba ingin melihat dunia yang tata tenteram karta raharja, ingin
hidup bersama-sama manusia lain dalam keadaan rukun, kasih-mengasihi,
hormat-menghormati, tolong-menolong, di mana tiada dengki tiada iri, tiada
murka, tiada permusuhan, yang ada hanya persahabatan dan persaudaraan."
"Ha-ha-ha-ha-ha!"
Resi Narotama tertawa sampai terbahak-bahak dan ia menghapus dua butir air mata
yang keluar karena tertawa itu.
"Alangkah
indahnya kalau ada keadaan seperti itu di dunia, angger. Sayang seribu sayang,
aku sendiri belum pernah mengalami hidup dalam dunia seperti itu indahnya.
Mudah-mudahan saja engkau kelak akan mengalaminya. Akan tetapi, muridku.
Cita-cita tinggal cita-cita, yang penting adalah pelaksanaan yang menjadi
kewajiban. Jangan sekali-kali engkau mabok oleh cita-cita kosong, angger."
"Bagaimanakah
maksud bapa? Hamba kurang mengerti."
"Cita-cita
adalah harapan akan tercapainya sesuatu yang indah sebagai akibat atau hasil
daripada perjuangan. Karena cita-cita adalah hasil atau akibat, oleh' karena
itu takkan tercapai tanpa perjuangan, tanpa pelaksanaan. Dan karena
keindahannya maka dapat memabokkan orang. Seorang yang lemah batinnya selalu
menghendaki sesuatu yang indah tanpa perjuangan yang susah payah, selalu
menghendaki tercapainya cita-cita dengan mudah, tidak perduli baik buruknya
cara yang ditempuhnya. Namun seorang bijaksana, tidak mabok oleh cita-cita,
melainkan penuh ketekunan dan keyakinan melaksanakan tugas sebagai
kewajibannya. Karena cita-cita hanya akibat, maka dengan sendirinya akan dating
dan tercapai apabila kewajibannya dilaksanakan. Seperti halnya orang yang
bercita-cita mengenyam buah manga yang harum manis dari pohon mangga yang
hendak ditanamnya. Kalau ia hanya mabok dalam cita-citanya yang muluk-muluk, ia
hanya akan mengenyam mangga dalam alam mimpi belaka. Sebaliknya, orang yang
sadar akan kewajibannya, akan tekun menanam bibit mangga, memeliharanya
baik-baik, menyiraminya setiap hari, menjaganya dari gangguan luar. Kelak
hasilnya akan datang sendiri!”
Joko Wandiro
mengangguk.
"Hamba
mengerti sekarang, bapa."
"Setelah
engkau berpisah dariku, berhati-hatilah dan waspadalah, angger. Seperti kau
ketahui, dunia ini penuh dengan pertentangan, iblis dan setan selalu berusaha
menyeret manusia untuk melakukan kejahatan, sebaliknya para dewata bertugas
menuntun manusia ke arah jalan kebajikan. Akan tetapi iblis dan setan amatlah pandai,
kadang-kadang membujuk manusia sambil menyamar sebagai dewata. Kadang-kadang ia
akan membujukmu melakukan sesuatu yang kelihatannya baik, namun sesungguhnya
adalah kejahatan belaka. Inilah sebabnya maka timbul kebaikan-kebaikan palsu,
yang pada hakekatnya hanya kejahatan yang berkedok, seperti musang berbulu
ayam. Inilah sebabnya mengapa orang-orang memperebutkan kebenaran dan keadilan,
Kebajikan yang diperebutkan pada hakekatnya bukanlah kebajikan lagi karena
kebajikan itu sifatnya memberi, bukan meminta. Kebenaran dan keadilan bagi
orang lain, barulah benar! Kebenaran dan keadilan untuk dan demi diri pribadi,
masih diragukan kebersihannya!"
Hening sejenak
mengikuti gema ucapan sang resi ini, seakan-akan alam sendiri termenung
memikirkan dan mencari-cari makna daripada wejangan itu. Kemudian tiba-tiba
sekali terdengarlah suara parau kasar,
"Gaaaokk.....
gaaaoookkk.....!"
Suara burung
gagak! Suara ini seakan-akan suara iblis sendiri yang menjawab
wejangan-wejangan tadi, penuh ejekan. Guru dan murid itu saling pandang, Wajah
si murid berkerut tegang, akan tetapi wajah si guru tetap tenang, bahkan
tersenyum.
"Agaknya
para dewata sudah menghendaki, muridku, bahwa pada saat terakhir ini engkau
harus menghadapi ujian berat. Pernahkah engkau mendengar suara itu?"
Joko Wandiro
mengangguk, berusaha menenteramkan hatinya.
"Kalau
hamba tidak keliru, mereka adalah Gagak Kembar, bapa."
"Benar,
suara itu sudah kukenal baik. Gagak Kunto dan Gagak Rudro, kaki tangan Wirokolo
si manusia liar. Heran, apa yang mereka kehendaki, sedangkan bertahun-tahun aku
telah menjauhkan diri dari dunia ramai."
Tiba-tiba
agaknya sebagai jawaban ucapan sang resi ini, terdengar ketawa terbahak-bahak,
nyaring sekali sampai menggema di seluruh lereng dan memasuki telinga seperti
jarum-jarum berbisa!
"Wah!
Siapa lagi itu kalau bukan Dibyo Mamangkoro?" Resi Narotama tampak
tercengang dan kaget, akan tetapi hanya sebentar karena ia segera tersenyum
kembali dan wajahnya tenang-tenang saja.
"Joko,
kita kedatangan orang-orang sakti yang masih belum kuketahui niatnya. Akan
tetapi, mendengar suaranya, agaknya sang waktu tidak merobah watak mereka dan
kalau dugaanku ini benar, berarti kita akan diserang. Akan tetapi kau hanya
boleh bergerak kalau kusuruh."
Suara burung
gagak makin lama makin sering dan makin dekat. Kemudian, tampaklah pasukan
terdiri dari orang-orang tinggi besar berjumlah tiga puluh enam orang itu,
dipimpin oleh dua orang yang sama bentuk, sama wajah, dan sama pakaian, yaitu
Sepasang Gagak, kakak beradik kembar, Gagak Kunto dan Gagak Rudrol Setelah tiba
di depan pondok, mereka segera membuat setengah lingkaran, berbaris rapi, siap
dan menanti komando.
Kemudian
muncullah dua orang raksasa yang dengan langkah lebar mendatangi tempat itu
sambil tertawa-tawa. Mereka itu bukan lain adalah Dibyo Mamangkoro si raksasa
tua tampan dan gagah bersama adik seperguruannya, Wirokolo. Dibyo Mamangkoro
segera melangkah maju sedangkan Wirokolo berdiri di sebelah Sepasang Gagak.
Melihat Resi Narotama yang duduk bersila di atas batu, didampingi seorang pemuda
tanggung yang menundukkan muka, Dibyo Mamangkoro tertawa bergelak dan
mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
"Huah-ha-ha-ha!
Narotama.....! Kiranya engkau masih hidup dan bersembunyi di sini?"
Dengan sikap
tenang Resi Narotama mengangkat muka memandang. Sepasang matanya memandang dan
biarpun sikapnya tenang wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun sepasang
mata itu berkilat penuh wibawa. Suaranya halus penuh kesabaran ketika ia
berkata,
"Dibyo
Mamangkoro, makin dalam orang mengenal dirinya, makin dinginlah hatinya untuk
membiarkan diri hanyut oleh gelombang nafsu. Tiada yang lebih baik daripada
diam dan tenang di dunia ini, Mamangkoro. Engkau datang mengganggu
ketenanganku, mempunyai kehendak bagaimanakah? "
Kembali
raksasa tua itu tertawa bergelak.
"Narotama,
kita sudah sama-sama tua sekarang, agaknya tidak patut kalau kita harus
bertanding yuda seperti belasan tahun yang lalu. Tentu kita akan ditertawai
kanak-kanak kalau masih berkelahi. Dengarlah, aku diutus sang prabu di Jenggala
untuk memanggil engkau menghadap ke keraton Jenggala sekarang juga."
"Hemmm!
Sudah bertahun-tahun aku Narotama bertapa di gunung ini, tidak mengganggu orang
lain, juga tidak ingin diganggu. Antara Jenggala dan Narotama tidak ada urusan
sesuatu, Dibyo Mamangkoro, tidak ada sangkut-pautnya, maka terpaksa aku tidak
dapat memenuhi permintaanmu ini."
"Heh-heh,
ingatlah Narotama! Engkau adalah Patih Kahuripan. Bukankah ia junjunganmu juga?
Mengapa kau membangkang?"
"Memang
dahulu aku Patih Kahuripan, akan tetapi sekarang bukan patih lagi, melainkan
Resi Narotama. Antara Resi Narotama dan Kerajaan Jenggala sungguh tidak ada
urusan apa-apa."
"Jadi kau
kukuh tidak akan mau ikut bersamaku ke Jenggala?"
"sekarang
tidak, besokpun tidak, Mamangkoro."
"Heh, si
sombong Narotama! Tahukah engkau bahwa aku telah diberi purbawa sesa (mandat
penuh) oleh sang prabu? Tahukah kau bahwa kalau aku tidak dapat membawamu
bersamaku ke Jenggala, aku harus membawa kepalamu?"
Narotama
tersenyum dan kilat sinar matanya makin terang.
"Apakah
itu berarti bahwa engkau hendak memenggal leherku dan membawa kepalaku ke
Jenggala, Dibyo Mamangkoro?"
"Benar
begitu, Narotama."
"Kalau
begitu silahkan, hendak kulihat apakah engkau mampu memanggal leherku!"
"Engkau
menantang, si keparat??"
No comments:
Post a Comment