"Aku hanya mengiringi kehendakmu, selaras gending yang kauminta, melayani segala sepak-terjang dan tandang-tandukmu, Mamangkoro."
"Babo-babo,
si keparat Narotamal Engkau terlalu memandang rendah Dibyo Mamangkoro! Dibyo Mamangkoro
sekarang tidak sama dengan Dibyo Mamangkoro belasan tahun yang lalu,
Narotama!"
Narotama
menggeleng kepala.
"Aku
tidak melihat sedikitpun perubahan dalam dirimu, Mamangkoro. Masih menjadi abdi
angkara murka seperti dahulu juga!"
"Ijinkanlah
hamba berdua memberi hajaran kepada mulut kakek sombong ini, kakang
senopati!"
Gagak Kunto
dan Gagak Rudro sudah melompat maju dengan senjata di tangan. Gagak Kunto
memegang tombak pusaka sedangkan Gagak Rudro memegang ruyungnya. Mereka berdua
adalah anak buah Dibyo Mamangkoro dan sampai waktu itupun mereka masih menyebut
kakang senopati kepada Dibyo Mamangkoro. Tentu saja keduanya cukup maklum akan
kesaktian Narotama yang menggiriskan, akan tetapi karena di situ hadir Wirokolo
dan terutama Dibyo Mamangkoro, mereka berdua tentu saja ingin menonjolkan jasa,
dan keberanian merekapun meningkat. Dibyo Mamangkoro tertawa.
"Heh-heh,
boleh-boleh! Biar kulihat bagaimana sepak terjang Narotama sekarang."
Akan tetapi
pada saat itu, Joko Wandiro sudah berlutut di depan gurunya dan menyembah,
berkata memohon,
"Bapa
guru, hamba harap bapa suka mengabulkan hamba mewakili bapa memberi hajaran
kepada orang-orang kasar ini. Kiranya tidak perlu bapa yang sudah sepuh
mengotorkan tangan melayani orang-orang jahat ini."
Narotama mengangguk.
"Majulah,
Joko. Lawan mereka dan jangan ragu-ragu untuk memberi hajaran keras. Membasmi
mereka seperti membersihkan bumi daripada abdi-abdi iblis yang kejam. Akan
tetapi berhati-hatilah, angger."
Dengan hati
girang Joko Wandiro melompat bangun menghadapi Sepasang Gagak yang sudah siap
dengan sikap menantang itu.
"Bukankah
kalian ini Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang pada lima tahun lalu telah
dirobohkan secara mudah oleh eyang Resi Bhargowo? Dan sekarang kalian masih
berani berlagak di sini? Sungguh kalian orang-orang bermuka tebal dan tidak
tahu malu, orang-orang bebal yang tidak juga hendak insyaf dan sadar kembali ke
jalan benar."
"Bocah
bermulut besar! Siapakah kau, hayo mengaku agar jangan mampus tanpa nama!"
bentak Gagak Kunto.
"Namaku
Joko Wandiro."
"Keluarkan
senjatamu, keparat!" Gagak Rudro membentak sambil memutar-mutar ruyung di
atas kepalanya.
Joko Wandiro
teringat akan jawaban Resi Bhargowo lima tahun yang lalu ketika menghadapi
Sepasang Gagak ini, yang menyatakan bahwa senjatanya adalah kebenaran, maka ia
tersenyum dan menjawab,
"Senjataku
adalah kebenaran. Majulah kalian dengan senjata kalian, akan kuhadapi dengan
tangan kosong!"
"Babo-babo
si keparat! Ujudmu kecil, sumbarmu sebesar gunung anakan! Kau sendiri yang
mencari mati, bukan kami yang tak tahu diri melawan bocah!" bentak Gagak
Kunto makin marah.
"Ah,bukankah
pemuda ini bocah yang dahulu berani kurang ajar ketika kita menyerbu
Jalatunda?" teriak Gagak Rudro.
Mereka kini
mengenal Joko Wandiro dan hal ini menambah kemarahan mereka. Ia segera
menerjang maju dengan langkah lebar dan menyerang Joko Wandiro dengan hantaman
ruyungnya ke arah kepala. Serangan ini disusul oleh Gagak Kunto yang sudah
menusukkan tombak ke arah dada pemuda itu. Dua serangan susul-menyusul yang
amat berbahaya! Namun Joko Wandiro bersikap tenang. Dahulu ketika ia melihat
Resi Bhargowo diserang oleh dua orang raksasa liar ini, ia menganggap kakek itu
terlalu tenang dan kurang cepat bergerak. Akan tetapi sekarang setelah
digembleng oleh Resi Narotama, mengertilah Joko Wandiro mengapa kakek itu
demikian tenang. Kiranya untuk menghadapi lawan yang gerakannya buas memang
amat dibutuhkan ketenangan, makin tenang makin mudahlah untuk mengikuti gerakan
lawan.
Kini,
menghadapi terjangan dua orang lawannya ini, Joko Wandiro hanya menggeser
kakinya, menggerakkan kedua lengan dan hanya dengan langkah kecil disertai
kebutan lengan yang membuat tubuhnya miring ke sana ke mari, dua serangan itu
dapat ia elakkan secara amat mudah. Gagak Kunto berseru keras dan kini ia
menusukkan lagi tombaknya ke arah perut setelah tadi tombaknya mengenai tempat
kosong. Gerakan ini disusul oleh hantaman ruyung Gagak Rudro yang mengarah
tengkuk. Melihat datangnya tombak lebih cepat, Joko Wandiro miringkan tubuh ke
kanan, lengan kirinya menangkis dari bawah, tepat mengenai leher tombak yang
mencelat atau menyeleweng ke atas.
“TĂŁangggg!!,
Tombak yang ditangkis dan terpental ke atas itu tepat sekali bertemu dengan
ruyung sehinga seakan-akan Gagak Kunto mewakili Joko Wandiro menangkis serangan
ruyung.
"Keparat!!"
Gagak Kunto marah sekali, kini ia sudah memutar tombaknya setengah lingkaran
dan tiba-tiba tubuhnya merendah, tombaknya diayun menyabet ke arah kaki Joko
Wandiro. Gagak Kunto menggunakan jurus ini yang dilakukan secara tak
tersangka-sangka, dengan maksud mengagetkan lawannya yang muda dan lincah itu,
agar meloncat ke atas untuk dipapak ruyung saudaranya. Gagak Rudro maklum akan
hal ini, maka ruyungnya sudah menggigil di tangan, siap menghantam kepala Joko
Wandiro kalau orang muda itu mengelak sambil meloncat.
Namun Joko
Wandiro yang sikapnya amat tenang dapat melihat semua ini dan ia tidak
mengelak. Dengan gerakan yang amat berani, ia mengangkat kaki kiri ke atas,
kemudian begitu tombak menyambar dekat, ia menurunkan kakinya secepat kilat
sehingga tahu-tahu tombak itu telah terinjak olehnya, digencet di atas tanah
sambil mengerahkan aji yang membuat tubuhnya seberat gunung anakan! Kagetlah
Gagak Kunto, ia berusaha membetot tombaknya, namun sia-sia, seakan-akan
tombaknya telah berakar di bawah injakan kaki Joko Wandiro yang memandang
sambil bertolak pinggang. Gagak Kunto terengah-engah, mengerahkan tenaga
sehingga mengeluarkan suara ah-ah-uhuh membetot-betot. Melihat hal ini Gagak
Rudro lalu menerjang dari belakang, memukulkan ruyungnya sambil mengerahkan
semua tenaganya. Biarpun Joko Wandiro tidak melihat serangan ini, namun
telinganya dapat menangkap sambaran angin. Ia sengaja berlaku lambat, menanti
sampai ruyung itu menyambar dekat, baru ia secara tiba-tiba melepaskan injakan
kakinya pada tombak dan dengan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh
yang amat hebat sehingga tubuhnya lenyap dari situ tak dapat diikuti pandang
mata kedua lawannya. Tentu saja tubuh Gagak Rudro terperosok ke depan terbawa
ruyungnya yang menyambar terus, lalu menghantam tanah dan ia terjungkal mencium
tanah. Sebaliknya Gagak Kunto yang sedang membetot-betot itu, tiba-tiba
terjengkang ke belakang setelah injakan dilepas. Dua orang itu bergulingan,
mengalami babak-belur. Perlu diketahui bahwa sebelum Joko Wandiro digembleng di
Gunung Bekel, ia telah belajar ilmu meringankan tubuh Bayu Tantra dari Pujo,
kemudian disempurnakan oleh Resi Bhargowo. Setelah ia berlatih di Gunung Bekel,
kepandaiannya meningkat hebat,karena ilmu meringankan tubuh itu lebih
disempurnakan lagi ketika ia menerima hadiah Aji Bayu Sakti dari Empu Bharodo.
Tidak mengherankan apabila gerakannya menghindar tadi sedemikian cepatnya
sehingga tidak tampak oleh kedua orang lawannya.
Sepasang Gagak
sudah melompat bangun. Muka mereka merah sekali karena marah dan malu. Dalam
gebrakan ke dua, mereka telah dibikin jatuh bangun oleh pemuda itu tanpa si
pemuda membalas serangan, benar-benar merupakan hal yang amat memalukan. Begitu
melompat bangun, mereka sudah mengeluarkan senjata-senjata rahasia mereka yang
terkenal. Kedua orang Gagak ini selain terkenai akan ilmu silat mereka, juga
terkenal sebagai ahli-ahli meng gunakan senjata rahasia. Gagak Kunto memiliki
senjata rahasia berupa tombak-tombak kecil sepanjang dua jengkal yang ujungnya
kebiruan karena direndam racun. Adapun Gagak Rudro terkenal dengan senjata
rahasia Watu Lintang (Batu Bintang), merupakan batu-batu sebesar kepalan
tangan, juga batu-batu ini sudah direndam wiso (racun) ular sehingga kulit
lawan yang terserempet sedikit saja sampai lecet, tentu akan mendatangkan
bahaya maut. Kini Sepasang Gagak itu memutar tubuh, melihat Joko Wandiro
berdiri tidak jauh, hanya dalam jarak empat lima meter, mereka lalu
menggerakkan tangan menyerang dengan sambitan.
"Sing-sing-singggg.......!"
Tiga batang tombak kecil menyambar laksana anak panah terlepas dari gendewa,
amat cepat, ke arah sepasang mata dan tenggorokan.
"Wer-wer-werrr.......
" Juga Watu Lintang terbang dari tangan Gagak Rudro, menyambar ke arah
kepala, dada, dan pusar.
Joko Wandiro
tidak pernah mendapat latihan mempergunakan senjata rahasia. Semua gurunya
adalah satria-satria perkasa yang tidak sudi mempergunakan siasat curang dalam
pertandingan untuk mencari kemenangan. Ia tidak dapat menggunakan senjata
rahasia. Akan tetapi oleh karena tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi
sehingga semua panca inderanya bekerja sempurna, pemuda ini dapat melihat jelas
terbangnya tombak-tombak kecil itu. Cepat ia miringkan tubuh atas sambil
menggerakkan tangan dengan jari-jari terbuka. Tombak yang mengarah tenggorokannya,
lewat dekat lehernya dan terbang entah ke mana. Akan tetapi dua batang tombak
kecil yang tadinya mengarah sepasang matanya kini telah terjepit di antara jari
tengah dan telunjuk kedua tangannya!.
Pada saat itu,
tiga buah Watu Lintang sudah menyambar pula. Joko Wandiro mengenjot tanah,
tubuhnya mencelat ke atas dan tiga buah. Watu Lintang itu lewat di bawah kaki
kirinya. Ketika ia berjungkir balik turun, kedua tangannya bergerak dan dua
batang tombak kecil rampasan tadi kini melayang ke arah Gagak Kunto dan Gagak
Rudro. Joko Wandiro tidak biasa mempergunakan senjata ini, maka kini dua batang
tombak kecil itu yang ia lemparkan tidak meluncur seperti anak panah, melainkan
berputaran, namun amat cepat menerjang lawan seperti dua baling-baling angin!
Gagak Kunto dan Gagak Kudro, dua orang ahli dalam permainan ini, tentu saja
dapat cepat menghindarkan diri. Mereka sejenak terlongong kagum dan mulailah
mereka merasa jerih terhadap pemuda yang benar-benar sakti mandraguna itu. Joko
Wandiro yang sudah turun ke atas tanah, kini menudingkan telunjuknya ke arah
mereka sambil berkata,
"Gagak
Kunto dan Gagak Rudro! Belum terlambat bagi kalian untuk sadar dan insyaf.
Mundurlah dan rubahlah jalan hidupmu, bertaubat dan hidup sebagai manusia
baik-baik. Mundurlah sebelum terlambat!"
Sepasang Gagak
ini dalah bekas perwira perwira Kerajaan Wengker. Hidup mereka sudah penuh
dengan kejahatan, berlepotan darah tangan tangan mereka. Mereka tidak mengenal
hukum lain kecuali siapa kuat dia menang. Hukum rimba yang mengakibatkan mereka
menjadi buas dan pengecut, menindas bawahan menjilat atasan. Tentu saja
peringatan seorang muda seperti Joko Wandiro sama sekali tidak meninggalkan
kesan di hati mereka, bahkan membangkitkan kemarahan karena merasa dihina.
Sambil mengeluarkan suara seperti burung-burung gagak marah, keduanya sudah
menerjang maju lagi. Kini mereka telah mengeluarkan semua aji, dan sedikit llmu
hitam yang mereka miliki membuat wajah mereka tampak beringas menakutkan, ada
getaran hawa dingin menyeramkan menyerang Joko Wandiro dan sekeliling dua orang
itu tampak awan gelap menyelimuti mereka. Akan tetapi, semenjak digembleng oleh
Resi Narotama, permainan ilmu hitam itu sama sekali tidak ada artinya bagi Joko
Wandiro. Sekali dia membaca mentera singkat memperkuat batin dan kedua
tangannya mengebut ke depan, lenyaplah hawa dingin dan awan gelap itu. Saat
itu, Gagak Kunto dan Gagak Rudro sudah menyerbu ke depan sambil mengayun
senjata mereka. Sikap mereka ganas sekali, liar dan buas, tidak seperti manusia
lagi. Joko Wandiro menarik napas panjang. Tubuhnya tidak beralih dari
tempatnya, hanya kedua tangannya yang menyambut, bergerak dengan jari-jari
terbuka. Begitu kedua senjata lawan itu menyambar, ia memapaki dengan
tamparan-tamparan jari tangannya yang menggunakan Aji Pethit Nogo.
"Krakkk.....!
Krakkk...............!!"
Gagak Kunto
dan Gagak Rudro berteriak kaget, akan tetapi teriakan mereka segera disusul
lengking tinggi yang merupakan jerit maut. Ketika tadi tamparan-tamparan Pethit
Nogo berhasil mematahkan kedua senjata lawan, Joko Wandiro melanjutkan
tamparannya dua kali yang dapat menyambar pelipis Gagak Kunto dan tengkuk Gagak
Rudro. Kelihatannya perlahan saja tamparan itu, namun akibatnya hebat bukan
main. Sepasang Gagak itu mengeluarkan pekik maut, tubuh mereka berputar-putar
seperti disambar halilintar, mata mereka terbelalak dan agaknya dalam ingatan
terakhir, mereka hendak melarikan diri ke arah pasukan mereka, akan tetapi di
depan Wirokolo, mereka jatuh tersungkur, tertelungkup dan tidak bergerak-gerak
lagi karena nyawa mereka telah melayang pergi!
"Bojleng-bojleng
iblis laknat!"
Wirokolo
memaki dan menggereng-gereng saking marahnya menyaksikan kedua orang
pembantunya yang setia itu tewas.
"Joko
Wandiro bocah keparat! Kau harus mengganti nyawa mereka!"
Serta-merta
raksasa tinggi besar ini menerjang maju dengan gerakan kilat. Pukulan tangannya
mengandung hawa panas Aji Anolo Hasto (Tangan Berapi) dan tampak betapa kedua
telapak tangannya kemerahan mengeluarkan asap! Lima tahun yang lalu, di
Jalatunda, pernah Joko Wandiro menerjang Wirokolo dengan sepasang goloknya,
akan tetapi hantaman goloknya tidak melukai tubuh yang kebal itu, sebaliknya
sekali ia kena ditampar, ia roboh pingsan.
No comments:
Post a Comment