Badai Laut Selatan ; Bagian 097


"Aku hanya mengiringi kehendakmu, selaras gending yang kauminta, melayani segala sepak-terjang dan tandang-tandukmu, Mamangkoro."
"Babo-babo, si keparat Narotamal Engkau terlalu memandang rendah Dibyo Mamangkoro! Dibyo Mamangkoro sekarang tidak sama dengan Dibyo Mamangkoro belasan tahun yang lalu, Narotama!"
Narotama menggeleng kepala.
"Aku tidak melihat sedikitpun perubahan dalam dirimu, Mamangkoro. Masih menjadi abdi angkara murka seperti dahulu juga!"
"Ijinkanlah hamba berdua memberi hajaran kepada mulut kakek sombong ini, kakang senopati!"
Gagak Kunto dan Gagak Rudro sudah melompat maju dengan senjata di tangan. Gagak Kunto memegang tombak pusaka sedangkan Gagak Rudro memegang ruyungnya. Mereka berdua adalah anak buah Dibyo Mamangkoro dan sampai waktu itupun mereka masih menyebut kakang senopati kepada Dibyo Mamangkoro. Tentu saja keduanya cukup maklum akan kesaktian Narotama yang menggiriskan, akan tetapi karena di situ hadir Wirokolo dan terutama Dibyo Mamangkoro, mereka berdua tentu saja ingin menonjolkan jasa, dan keberanian merekapun meningkat. Dibyo Mamangkoro tertawa.
"Heh-heh, boleh-boleh! Biar kulihat bagaimana sepak terjang Narotama sekarang."
Akan tetapi pada saat itu, Joko Wandiro sudah berlutut di depan gurunya dan menyembah, berkata memohon,
"Bapa guru, hamba harap bapa suka mengabulkan hamba mewakili bapa memberi hajaran kepada orang-orang kasar ini. Kiranya tidak perlu bapa yang sudah sepuh mengotorkan tangan melayani orang-orang jahat ini."
Narotama mengangguk.
"Majulah, Joko. Lawan mereka dan jangan ragu-ragu untuk memberi hajaran keras. Membasmi mereka seperti membersihkan bumi daripada abdi-abdi iblis yang kejam. Akan tetapi berhati-hatilah, angger."

Dengan hati girang Joko Wandiro melompat bangun menghadapi Sepasang Gagak yang sudah siap dengan sikap menantang itu.
"Bukankah kalian ini Gagak Kunto dan Gagak Rudro yang pada lima tahun lalu telah dirobohkan secara mudah oleh eyang Resi Bhargowo? Dan sekarang kalian masih berani berlagak di sini? Sungguh kalian orang-orang bermuka tebal dan tidak tahu malu, orang-orang bebal yang tidak juga hendak insyaf dan sadar kembali ke jalan benar."
"Bocah bermulut besar! Siapakah kau, hayo mengaku agar jangan mampus tanpa nama!" bentak Gagak Kunto.
"Namaku Joko Wandiro."
"Keluarkan senjatamu, keparat!" Gagak Rudro membentak sambil memutar-mutar ruyung di atas kepalanya.
Joko Wandiro teringat akan jawaban Resi Bhargowo lima tahun yang lalu ketika menghadapi Sepasang Gagak ini, yang menyatakan bahwa senjatanya adalah kebenaran, maka ia tersenyum dan menjawab,
"Senjataku adalah kebenaran. Majulah kalian dengan senjata kalian, akan kuhadapi dengan tangan kosong!"
"Babo-babo si keparat! Ujudmu kecil, sumbarmu sebesar gunung anakan! Kau sendiri yang mencari mati, bukan kami yang tak tahu diri melawan bocah!" bentak Gagak Kunto makin marah.
"Ah,bukankah pemuda ini bocah yang dahulu berani kurang ajar ketika kita menyerbu Jalatunda?" teriak Gagak Rudro.
Mereka kini mengenal Joko Wandiro dan hal ini menambah kemarahan mereka. Ia segera menerjang maju dengan langkah lebar dan menyerang Joko Wandiro dengan hantaman ruyungnya ke arah kepala. Serangan ini disusul oleh Gagak Kunto yang sudah menusukkan tombak ke arah dada pemuda itu. Dua serangan susul-menyusul yang amat berbahaya! Namun Joko Wandiro bersikap tenang. Dahulu ketika ia melihat Resi Bhargowo diserang oleh dua orang raksasa liar ini, ia menganggap kakek itu terlalu tenang dan kurang cepat bergerak. Akan tetapi sekarang setelah digembleng oleh Resi Narotama, mengertilah Joko Wandiro mengapa kakek itu demikian tenang. Kiranya untuk menghadapi lawan yang gerakannya buas memang amat dibutuhkan ketenangan, makin tenang makin mudahlah untuk mengikuti gerakan lawan.
Kini, menghadapi terjangan dua orang lawannya ini, Joko Wandiro hanya menggeser kakinya, menggerakkan kedua lengan dan hanya dengan langkah kecil disertai kebutan lengan yang membuat tubuhnya miring ke sana ke mari, dua serangan itu dapat ia elakkan secara amat mudah. Gagak Kunto berseru keras dan kini ia menusukkan lagi tombaknya ke arah perut setelah tadi tombaknya mengenai tempat kosong. Gerakan ini disusul oleh hantaman ruyung Gagak Rudro yang mengarah tengkuk. Melihat datangnya tombak lebih cepat, Joko Wandiro miringkan tubuh ke kanan, lengan kirinya menangkis dari bawah, tepat mengenai leher tombak yang mencelat atau menyeleweng ke atas.
“TĂŁangggg!!, Tombak yang ditangkis dan terpental ke atas itu tepat sekali bertemu dengan ruyung sehinga seakan-akan Gagak Kunto mewakili Joko Wandiro menangkis serangan ruyung.
"Keparat!!" Gagak Kunto marah sekali, kini ia sudah memutar tombaknya setengah lingkaran dan tiba-tiba tubuhnya merendah, tombaknya diayun menyabet ke arah kaki Joko Wandiro. Gagak Kunto menggunakan jurus ini yang dilakukan secara tak tersangka-sangka, dengan maksud mengagetkan lawannya yang muda dan lincah itu, agar meloncat ke atas untuk dipapak ruyung saudaranya. Gagak Rudro maklum akan hal ini, maka ruyungnya sudah menggigil di tangan, siap menghantam kepala Joko Wandiro kalau orang muda itu mengelak sambil meloncat.

Namun Joko Wandiro yang sikapnya amat tenang dapat melihat semua ini dan ia tidak mengelak. Dengan gerakan yang amat berani, ia mengangkat kaki kiri ke atas, kemudian begitu tombak menyambar dekat, ia menurunkan kakinya secepat kilat sehingga tahu-tahu tombak itu telah terinjak olehnya, digencet di atas tanah sambil mengerahkan aji yang membuat tubuhnya seberat gunung anakan! Kagetlah Gagak Kunto, ia berusaha membetot tombaknya, namun sia-sia, seakan-akan tombaknya telah berakar di bawah injakan kaki Joko Wandiro yang memandang sambil bertolak pinggang. Gagak Kunto terengah-engah, mengerahkan tenaga sehingga mengeluarkan suara ah-ah-uhuh membetot-betot. Melihat hal ini Gagak Rudro lalu menerjang dari belakang, memukulkan ruyungnya sambil mengerahkan semua tenaganya. Biarpun Joko Wandiro tidak melihat serangan ini, namun telinganya dapat menangkap sambaran angin. Ia sengaja berlaku lambat, menanti sampai ruyung itu menyambar dekat, baru ia secara tiba-tiba melepaskan injakan kakinya pada tombak dan dengan Aji Bayu Tantra, yaitu ilmu meringankan tubuh yang amat hebat sehingga tubuhnya lenyap dari situ tak dapat diikuti pandang mata kedua lawannya. Tentu saja tubuh Gagak Rudro terperosok ke depan terbawa ruyungnya yang menyambar terus, lalu menghantam tanah dan ia terjungkal mencium tanah. Sebaliknya Gagak Kunto yang sedang membetot-betot itu, tiba-tiba terjengkang ke belakang setelah injakan dilepas. Dua orang itu bergulingan, mengalami babak-belur. Perlu diketahui bahwa sebelum Joko Wandiro digembleng di Gunung Bekel, ia telah belajar ilmu meringankan tubuh Bayu Tantra dari Pujo, kemudian disempurnakan oleh Resi Bhargowo. Setelah ia berlatih di Gunung Bekel, kepandaiannya meningkat hebat,karena ilmu meringankan tubuh itu lebih disempurnakan lagi ketika ia menerima hadiah Aji Bayu Sakti dari Empu Bharodo. Tidak mengherankan apabila gerakannya menghindar tadi sedemikian cepatnya sehingga tidak tampak oleh kedua orang lawannya.

Sepasang Gagak sudah melompat bangun. Muka mereka merah sekali karena marah dan malu. Dalam gebrakan ke dua, mereka telah dibikin jatuh bangun oleh pemuda itu tanpa si pemuda membalas serangan, benar-benar merupakan hal yang amat memalukan. Begitu melompat bangun, mereka sudah mengeluarkan senjata-senjata rahasia mereka yang terkenal. Kedua orang Gagak ini selain terkenai akan ilmu silat mereka, juga terkenal sebagai ahli-ahli meng gunakan senjata rahasia. Gagak Kunto memiliki senjata rahasia berupa tombak-tombak kecil sepanjang dua jengkal yang ujungnya kebiruan karena direndam racun. Adapun Gagak Rudro terkenal dengan senjata rahasia Watu Lintang (Batu Bintang), merupakan batu-batu sebesar kepalan tangan, juga batu-batu ini sudah direndam wiso (racun) ular sehingga kulit lawan yang terserempet sedikit saja sampai lecet, tentu akan mendatangkan bahaya maut. Kini Sepasang Gagak itu memutar tubuh, melihat Joko Wandiro berdiri tidak jauh, hanya dalam jarak empat lima meter, mereka lalu menggerakkan tangan menyerang dengan sambitan.
"Sing-sing-singggg.......!" Tiga batang tombak kecil menyambar laksana anak panah terlepas dari gendewa, amat cepat, ke arah sepasang mata dan tenggorokan.
"Wer-wer-werrr....... " Juga Watu Lintang terbang dari tangan Gagak Rudro, menyambar ke arah kepala, dada, dan pusar.
Joko Wandiro tidak pernah mendapat latihan mempergunakan senjata rahasia. Semua gurunya adalah satria-satria perkasa yang tidak sudi mempergunakan siasat curang dalam pertandingan untuk mencari kemenangan. Ia tidak dapat menggunakan senjata rahasia. Akan tetapi oleh karena tingkat kepandaiannya sudah amat tinggi sehingga semua panca inderanya bekerja sempurna, pemuda ini dapat melihat jelas terbangnya tombak-tombak kecil itu. Cepat ia miringkan tubuh atas sambil menggerakkan tangan dengan jari-jari terbuka. Tombak yang mengarah tenggorokannya, lewat dekat lehernya dan terbang entah ke mana. Akan tetapi dua batang tombak kecil yang tadinya mengarah sepasang matanya kini telah terjepit di antara jari tengah dan telunjuk kedua tangannya!.

Pada saat itu, tiga buah Watu Lintang sudah menyambar pula. Joko Wandiro mengenjot tanah, tubuhnya mencelat ke atas dan tiga buah. Watu Lintang itu lewat di bawah kaki kirinya. Ketika ia berjungkir balik turun, kedua tangannya bergerak dan dua batang tombak kecil rampasan tadi kini melayang ke arah Gagak Kunto dan Gagak Rudro. Joko Wandiro tidak biasa mempergunakan senjata ini, maka kini dua batang tombak kecil itu yang ia lemparkan tidak meluncur seperti anak panah, melainkan berputaran, namun amat cepat menerjang lawan seperti dua baling-baling angin! Gagak Kunto dan Gagak Kudro, dua orang ahli dalam permainan ini, tentu saja dapat cepat menghindarkan diri. Mereka sejenak terlongong kagum dan mulailah mereka merasa jerih terhadap pemuda yang benar-benar sakti mandraguna itu. Joko Wandiro yang sudah turun ke atas tanah, kini menudingkan telunjuknya ke arah mereka sambil berkata,
"Gagak Kunto dan Gagak Rudro! Belum terlambat bagi kalian untuk sadar dan insyaf. Mundurlah dan rubahlah jalan hidupmu, bertaubat dan hidup sebagai manusia baik-baik. Mundurlah sebelum terlambat!"
Sepasang Gagak ini dalah bekas perwira perwira Kerajaan Wengker. Hidup mereka sudah penuh dengan kejahatan, berlepotan darah tangan tangan mereka. Mereka tidak mengenal hukum lain kecuali siapa kuat dia menang. Hukum rimba yang mengakibatkan mereka menjadi buas dan pengecut, menindas bawahan menjilat atasan. Tentu saja peringatan seorang muda seperti Joko Wandiro sama sekali tidak meninggalkan kesan di hati mereka, bahkan membangkitkan kemarahan karena merasa dihina. Sambil mengeluarkan suara seperti burung-burung gagak marah, keduanya sudah menerjang maju lagi. Kini mereka telah mengeluarkan semua aji, dan sedikit llmu hitam yang mereka miliki membuat wajah mereka tampak beringas menakutkan, ada getaran hawa dingin menyeramkan menyerang Joko Wandiro dan sekeliling dua orang itu tampak awan gelap menyelimuti mereka. Akan tetapi, semenjak digembleng oleh Resi Narotama, permainan ilmu hitam itu sama sekali tidak ada artinya bagi Joko Wandiro. Sekali dia membaca mentera singkat memperkuat batin dan kedua tangannya mengebut ke depan, lenyaplah hawa dingin dan awan gelap itu. Saat itu, Gagak Kunto dan Gagak Rudro sudah menyerbu ke depan sambil mengayun senjata mereka. Sikap mereka ganas sekali, liar dan buas, tidak seperti manusia lagi. Joko Wandiro menarik napas panjang. Tubuhnya tidak beralih dari tempatnya, hanya kedua tangannya yang menyambut, bergerak dengan jari-jari terbuka. Begitu kedua senjata lawan itu menyambar, ia memapaki dengan tamparan-tamparan jari tangannya yang menggunakan Aji Pethit Nogo.
"Krakkk.....! Krakkk...............!!"
Gagak Kunto dan Gagak Rudro berteriak kaget, akan tetapi teriakan mereka segera disusul lengking tinggi yang merupakan jerit maut. Ketika tadi tamparan-tamparan Pethit Nogo berhasil mematahkan kedua senjata lawan, Joko Wandiro melanjutkan tamparannya dua kali yang dapat menyambar pelipis Gagak Kunto dan tengkuk Gagak Rudro. Kelihatannya perlahan saja tamparan itu, namun akibatnya hebat bukan main. Sepasang Gagak itu mengeluarkan pekik maut, tubuh mereka berputar-putar seperti disambar halilintar, mata mereka terbelalak dan agaknya dalam ingatan terakhir, mereka hendak melarikan diri ke arah pasukan mereka, akan tetapi di depan Wirokolo, mereka jatuh tersungkur, tertelungkup dan tidak bergerak-gerak lagi karena nyawa mereka telah melayang pergi!
"Bojleng-bojleng iblis laknat!"
Wirokolo memaki dan menggereng-gereng saking marahnya menyaksikan kedua orang pembantunya yang setia itu tewas.
"Joko Wandiro bocah keparat! Kau harus mengganti nyawa mereka!"

Serta-merta raksasa tinggi besar ini menerjang maju dengan gerakan kilat. Pukulan tangannya mengandung hawa panas Aji Anolo Hasto (Tangan Berapi) dan tampak betapa kedua telapak tangannya kemerahan mengeluarkan asap! Lima tahun yang lalu, di Jalatunda, pernah Joko Wandiro menerjang Wirokolo dengan sepasang goloknya, akan tetapi hantaman goloknya tidak melukai tubuh yang kebal itu, sebaliknya sekali ia kena ditampar, ia roboh pingsan.

<<< Bagian 096                                                                                   Bagian 098 >>>

No comments:

Post a Comment