Joko Wandiro cukup maklum akan kesaktian raksasa ini yang menggiriskan, bahkan Resi Bhargowo bersama Empu Bharodo yang mengeroyok raksasa inipun tidak dapat menang! Raksasa ini sakti mandraguna dan ahli ilmu hitam. Ular yang melilit leher, pergelangan tangan dan kaki sungguh mengerikan, juga amat berbahaya karena setiap saat ular-ular itu dapat membantu Wirokolo menyerang lawan dengan semburan atau gigitan berbisa. Inilah sebabnya maka Joko Wandiro sama sekali tidak berani memandang rendah lawannya, sejak tadi sudah siap sedia dengan penuh kewaspadaan. Gemblengan Resi Narotama membuat Joko Wandiro menjadi seorang pemuda yang tidak sombong, berhati-hati dan tabah. Juga filsafat kebatinan yang berdasarkan sari pelajaran Sri Bathara Wishnu yang dipuja oleh mendiang Sang Prabu Airlangga dan juga oleh Resi Narotama, telah mendalam di sanubarinya. Oleh karena itu pula, tadi ketika dalam pertandingan melawan Sepasang Gagak, ia berhasil membunuh mereka, tidak terjadi sesuatu di hatinya, tenang saja. Ia tidak merasa membunuh yaitu menurut faham dia dan pelajarannya, ia tidak mempunyai hasrat membunuh, tidak pula membenci lawan-lawannya. Kematian kedua lawannya adalah wajar, sebagai akibat daripada pelaksanaan kewajibannya. Kewajiban seorang satria harus menantang segala bentuk kejahatan. Betapapun juga, karena pemuda gemblengan ini kurang pengalaman dalam pertempuran, maka gebrakan pertama dalam menghadapi Wirokolo hampir mencelakainya. Melihat terjangan Wirokolo sedemikian hebatnya, amat cepat dan mengandung hawa panas pula, Joko Wandiro cepat mengerahkan hawa sakti di tangannya, menggeser kaki kiri ke balakang sehingga tubuhnya miring dan dari samping tangan kirinya menangkis pukulan lawan yang dahsyat itu.
"Desss........!!"
Joko Wandiro
merasa betapa tubuhnya didorong tenaga mujijat yang amat kuat dan tak mungkin
ia tahan lagi. Kalau ia mempertahankan kedudukan kedua kakinya, ada bahayanya
ia akan terjengkang atau setidaknya akan terhuyung-huyung. Oleh karena inilah,
ia malah mengerahkan Aji Bayu Sakti, membuat tubuhnya ringan dan membiarkan
tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya. Akan tetapi ia
terlempar dalam keadaan berdiri, tanpa mengubah sedikitpun kedudukan kuda-kuda
kakinya dan dengan ringan bagaikan sehelai daun kering ia turun pula ke atas
tanah. Wajahnya tetap biasa, lengannya yang beradu dengan lawan tidak terasa
sakit. Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa lawannya mempunyai tenaga yang
mujijat dan amat kuat. Karena hawa sakti di tubuhnya lebih murni daripada
lawan, maka untuk pertahanan di dalam tubuh ia tidak akan kalah oleh lawan.
Akan tetapi mengenai tenaga luar, tenaga otot yang kasar, ia kalah jauh!
Mengertilah ia bahwa tindakannya menangkis tadi keliru, namun membuat ia dapat
mengukur tenaga sendiri dan dapat berlaku lebih hati-hati.
Di lain pihak,
Wirokolo sejenak berdiri seperti tertegun, terheran-heran dan juga kagum dan
penasaran menjadi satu. Pertemuan lengan tadi menginsafkannya bahwa pemuda itu
sungguh bukan merupakan lawan yang ringan! Dapat menangkis tangannya yang
mengandung Aji Anolo Hasto sepenuhnya, tanpa mengalami cedera, bahkan sekaligus
dapat mengatasi kekalahan tenaga kasar dengan loncatan ke belakang sebagus itu,
benar-benar menjadi bukti bahwa hawa sakti pemuda itu amat kuat, tidak berada
di bawah tingkatnya sendiri. Ia mengeluarkan pekik dahsyat sambil menerjang
maju lagi mengerahkan semua ajinya. Dalam keadaan seperti itu, Wirokolo amat
menggiriskan. Lima ekor ular yang melilit leher dan kaki tangannya, bergerak
kepalanya, mendesis-desis dan lidahnya yang merah menjilat-jilat keluar dari
mulut, Wirokolo sama sekali tidak berani mengeluarkan Aji Calon Arang atau ilmu
hitamnya yang lain mengingat bahwa di situ ada Narotama yang tentu akan datang
membuyarkan ilmu hitamnya dengan mudah. Pula penggunaan ilmu hitam kalau
menemui lawan yang lebih tangguh amatlah berbahaya karena ilmu itu bisa
membalik dan memukul diri sendiri. Betapapun juga, karena Aji Calon Arang sudah
mendarah daging padanya, ketika ia menjadi marah, tampaklah bayangan nenek
iblis yang mengerikan di belakangnya.
Mendengar
pekik dahsyat dan melihat keadaan Wirokolo dan nenek iblis membayang di
belakangnya itu, tergetar juga hati Joko Wandiro. Pemuda ini cepat-cepat
menggosok kedua telapak tangannya tiga kali sambil membaca mantera Widodo
Mantera. Begitu bibirnya mengucapkan Widodo Mantera, seketika bayangan iblis
betina itu lenyap atau tidak tertampak lagi olehnya, dan Wirokolo juga tidak
tampak menakutkan lagi. Adapun kedua telapak tangannya setelah ia gosok tiga
kali, menjadi panas dan mengeluarkan cahaya. Menghadapi lawan setangguh
Wirokolo, Joko Wandiro tidak berani memandang rendah maka ia sudah mengeluarkan
Aji Bojro Dahono yang tadi ia latih dan coba pada batang pohon!
"Hyyaaaahhh..........
mampus kau.......!!'"
Bentakan ini
mengiringi serangan Wirokolo yang sudah menubruk maju dengan pukulan kedua
tangan saling susul, ke arah kepala dan dada Joko Wandiro.
"Wuuuttt...
wuuuttt...!" Joko Wandiro sudah menggunakan Aji Bayu Sakti dan dengan
gerakan lincah sekali ia mengelak, akan tetapi elakan yang sama sekali tidak
menjauhkan diri, bahkan gerakan mengelak ke samping dengan tubuh setengah
melingkar ini membuat ia mendekati lawan, kemudian ia langsung mengirim pukulan
balasan.
Karena ia tadi
bergerak mengelak dengan Aji Bayu Sakti, maka untuk mengimbangi aji ini, ia
melanjutkan serangan dengan pukulan Pethit Nogo, yaitu dengan jari-jari tangan
dikipatkan. Memang lebih mudah menggunakan pukulan Pethit Nogo dengan kebutan
jari-jari tangan dalam kedudukan tubuh melengkung seperti itu.
Kembali
Wirokolo terkejut. Tidak disangkanya lawannya yang masih muda ini dapat
mengelak secara demikian anehnya, mengelaknya sambil mendekat dan balas
menyerang. Demikian cepat gerakan Joko Wandiro sehingga tahu-tahu jari-jari
tangan pemuda itu sudah mengancam pelipisnya, bagian yang paling lemah di
kepala.
"Celaka.......!!”
Wirokolo
berteriak sambil membuang tubuhnya ke belakang. Dari sambaran angin pukulan
Pethit Nogo itu saja ia maklum bahwa amatlah berbahaya mengandalkan
kekebalannya untuk menerima tamparan macam itu dengan pelipis kepalanya!
"Tasss!"
Oleh elakan
ini, pelipis luput tertampar, akan tetapi sebagai gantinya, pundak dekat leher
raksasa itu terkena jepretan jari-jari tangan yang ampuh. Wirokolo
terhuyung-huyung. Tubuhnya kebal dan kuat luar biasa. Kalau pukulan Pethit Nogo
ini mengenai pundak sebelah luar saja tak mungkin ia sampai terhuyung. Akan
tetapi karena kenanya dekat leher, terasa juga olehnya. Pandang matanya sampai
berkunang!
"Bocah
setan! Awas kau Kalau tertangkap olehku, kubeset kulitmu, kuganyang dagingmu,
kuhisap darahmu dan kukemah-kemah tulangmul"
Wirokolo
mengancam dengan muka merah seperti udang direbus. Biarpun ancamannya
menunjukkan kemarahan luar biasa dan kini ia menerjang lagi dengan buas, namun
Wirokolo tidak sembrono seperti tadi, maklum bahwa lawannya biar masih muda
akan tetapi amat kuat. Ia menerjang dengan hati-hati sehingga ketika Joko
Wandiro mengelak lalu balas memukul, ia dapat pula menangkis.
Terjadilah
pertandingan yang seru dan hebat. Pukulan dan gerakan Wirokolo mendatangkan
angin berpusing, tenaganya yang dahsyat membuat bumi yang diinjaknya tergetar,
angin pukulan tangannya membuat tetumbuhan di sekitar tempat itu
bergoyang-goyang. Namun sukar sekali baginya untuk dapat menyentuh Joko Wandiro
karena pemuda ini memiliki gerakan yang lebih gesit. Sebaliknya, hujan serangan
lawan yang buas dan dahsyat itu membuat Joko Wandiro sukar sekali untuk
membalas dengan serangan yang seimbang karena ia maklum akan bahayanya pukulan
tangan lawan yang ampuh. Ia selalu menghindar atau kalau menangkispun hanya
berani ia lakukan dalam keadaan posisi tubuh menang kuat, itupun dengan cara
mendorong dari samping. Tidak mau ia menempatkan diri dalam bahaya dengan cara
menangkis langsung mengadu tenaga. Akan tetapi, sikapnya yang amat berhati-hati
ini membuat ia sukar sekali dapat merobohkan lawan. Balasan serangannya yang
hanya kadang-kadang itu ada kalanya berhasil menyentuh tubuh lawan. Akan tetapi
karena kenanya tidak tepat, tubuh Wirokolo yang kebal seakan-akan tidak merasa
apa-apa! Pertandingan sudah berlangsung sejam lebih, namun belum tampak siapa
yang akan menang. Melihat ini, diam-diam Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main.
Ia tahu akan kesaktian adik seperguruannya, yang tidak kalah jauh olehnya
sendiri. Bagaimana kini adik seperguruannya itu tidak mampu mengalahkan seorang
pemuda? Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Tadinya ia mengira bahwa di dalam
dunia ini, orang muda satu-satunya yang memiliki ilmu kesaktian tinggi hanyalah
muridnya. Siapa kira, pemuda inipun hebat. Kalau tidak dibunuh sekarang, kelak
tentu merupakan tandingan berat bagi Endang Patibroto. Pemuda ini tidak banyak
selisih tingkatnya dengan Wirokolo, hanya menang cepat. Kalau pertandingan itu
dilanjutkan, belum dapat dipastikan siapa yang akan menang, akan tetapi sudah
jelas akan makan waktu lama sekali.
Keadaan mereka
berimbang, maka kalau Wirokolo dibantu sedikit saja, pemuda itu tentu akan
dapat dirobohkan. Lebih baik pasukan dikerahkan untuk membantu Wirokolo,
sedangkan Narotama sendiri kalau turun tangan, dialah yang akan
menanggulanginya!
"Àpa
kerja kalian? Hanya menonton saja? Hayo serbu bocah setan itu!" Tiba-tiba
Dibyo Mamangkoro berseru.
Pasukan
terdiri dari tiga puluh enam orang itu terkejut. Tadi mereka tertegun dan
terpesona menyaksikan pertandingan yang demikian hebatnya. Karena kepala
pasukan, Sepasang Gagak sudah roboh dan tewas oleh pemuda itu dan kini bahkan
Wirokolo sendiri sampai sekian lamanya belum mampu mengalahkannya, pasukan itu
menonton dengan hati berdebar, tidak berani bergerak kalau tidak diperintah,
maklum akan hebatnya kepandaian Joko Wandiro. Akan tetapi kini mendengar
bentakan Dibyo Mamangkoro, mereka segera bergerak, mencabut senjata
masing-masing dan mendekat medan pertandingan.
Melihat ini,
tiba-tiba Narotama meloncat dari atas batu tempat ia bersila, mengerahkan Aji
Dirodo Meto dan terdengarlah pekik melengking dahsyat sekali yang seakan-akan
menimbulkan gempa bumi hebat dan angin taufan mengamuk! Aji Dirodo Meto (Gajah
Mengamuk) merupakan aji kewibawaan yang berdasarkan pekik dahsyat sekali
seakan-akan pekik seekor gajah jantan yang sedang marah. Mendengar pekik
dahsyat ini tiga puluh enam orang itu seketika seperti lumpuh, jantung serasa
copot, tubuh menggigil dan muka pucat. Ketika mereka menengok dan memandang ke
arah Narotama yang berdiri tegak, pandang mata mereka seakan-akan melihat
seekor gajah raksasa yang mengancam. Tanpa dapat dicegah lagi, tiga puluh enam
orang itu memaksa kaki mereka yang dengkelen (menggigil sukar digerakkan) untuk
lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Bahkan Wirokolo sendiri merasa
betapa jantungnya tergetar hebat dan ketika ia mengerahkan hawa sakti untuk
menahan pengaruh pekik melengking, ia merasa kelelahan.
Bukan main
marahnya Dibyo Mamangkoro. Ia sendiri memiliki ilmu yang sangat tinggi sehingga
Aji Dirodo Meto yang dahsyat itu dapat ia lawan dengan pengerahan hawa sakti.
"Si
keparat Narotama! Kau curang!!" bentaknya.
"Hemm,
Dibyo Mamangkoro, siapa yang curang? Engkau yang mengerahkan balamu hendak
mengeroyok muridku ataukah aku yang menghalangi pengeroyokan curang itu? Sudah
kukatakan tadi, aku siap melayani segala tingkahmu!"
"Babo-babo,
Narotama! Kalau begitu kita harus mengadu nyawa! Sambutlah!!"
Setelah
berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan kanannya, diputar-putar
dan tubuhnya agak merendah, kemudian dengan tangan terkepal ia memukul ke
depan, ke arah Narotama. Inilah pukulan maut yang bernama Aji Wisangnala!
Namanya saja sudah menyebutkan keampuhannya, yaitu Api Berbisa! Kalau dilakukan
dari jarak jauh, angin pukulannya yang membawa hawa panas beracun dapat
merobohkan dan menewaskan lawan tangguh. Apalagi kalau sampai mengenai kulit
lawan, sukar dibayangkan akibatnya. Terlalu ngeri! Namun Narotama yang cukup
mengenal kesaktian lawannya ini, sudah siap sedia. Dua puluh tahun yang lalu,
dalam perang menundukkan Kerajaan Wengker, la sudah pernah bertanding yuda
melawan Dibyo Mamangkoro. Dalam pertandingan mati-matian yang memakan waktu
sampai dua hari dua malam, setelah mengeluarkan semua aji dan kesaktian,
barulah ia berhasil mengalahkan Dibyo Mamangkoro yang lalu melarikan diri! Kini
melihat betapa begitu menyerang, Dibyo Mamangkoro menggunakan aji pukulan maut
yang demikian ganas dan dahsyatnya, ia terkejut dan maklum bahwa benar-benar
raksasa Wengker itu hendak mengadu nyawa dan tidak ingin bertempur
berlambat-lambatan seperti dahulu lagi. Serangan itu adalah serangan maut dan
akibatnya hanyalah dua, kalah atau menang! Ia cukup maklum bahwa untuk pukulan
macam itu, pukulan yang sedemikian hebatnya sehingga kepalan tangan raksasa itu
mengeluarkan sinar, tidak dapat dielakkan tanpa merugikan dirinya. Oleh karena
itu iapun lalu mengerahkan tenaga memutar tubuhnya dan berseru keras sambil
mengangkat tangan kiri ke atas kepala dari belakang tubuh, sedangkan tangan
kanannya dikepal dan dlpukulkan ke depan, menyambut hawa pukulan Dibyo
Mamangkoro.
"Syuuuuttt!!"
No comments:
Post a Comment