Badai Laut Selatan ; Bagian 098


Joko Wandiro cukup maklum akan kesaktian raksasa ini yang menggiriskan, bahkan Resi Bhargowo bersama Empu Bharodo yang mengeroyok raksasa inipun tidak dapat menang! Raksasa ini sakti mandraguna dan ahli ilmu hitam. Ular yang melilit leher, pergelangan tangan dan kaki sungguh mengerikan, juga amat berbahaya karena setiap saat ular-ular itu dapat membantu Wirokolo menyerang lawan dengan semburan atau gigitan berbisa. Inilah sebabnya maka Joko Wandiro sama sekali tidak berani memandang rendah lawannya, sejak tadi sudah siap sedia dengan penuh kewaspadaan. Gemblengan Resi Narotama membuat Joko Wandiro menjadi seorang pemuda yang tidak sombong, berhati-hati dan tabah. Juga filsafat kebatinan yang berdasarkan sari pelajaran Sri Bathara Wishnu yang dipuja oleh mendiang Sang Prabu Airlangga dan juga oleh Resi Narotama, telah mendalam di sanubarinya. Oleh karena itu pula, tadi ketika dalam pertandingan melawan Sepasang Gagak, ia berhasil membunuh mereka, tidak terjadi sesuatu di hatinya, tenang saja. Ia tidak merasa membunuh yaitu menurut faham dia dan pelajarannya, ia tidak mempunyai hasrat membunuh, tidak pula membenci lawan-lawannya. Kematian kedua lawannya adalah wajar, sebagai akibat daripada pelaksanaan kewajibannya. Kewajiban seorang satria harus menantang segala bentuk kejahatan. Betapapun juga, karena pemuda gemblengan ini kurang pengalaman dalam pertempuran, maka gebrakan pertama dalam menghadapi Wirokolo hampir mencelakainya. Melihat terjangan Wirokolo sedemikian hebatnya, amat cepat dan mengandung hawa panas pula, Joko Wandiro cepat mengerahkan hawa sakti di tangannya, menggeser kaki kiri ke balakang sehingga tubuhnya miring dan dari samping tangan kirinya menangkis pukulan lawan yang dahsyat itu.
"Desss........!!"
Joko Wandiro merasa betapa tubuhnya didorong tenaga mujijat yang amat kuat dan tak mungkin ia tahan lagi. Kalau ia mempertahankan kedudukan kedua kakinya, ada bahayanya ia akan terjengkang atau setidaknya akan terhuyung-huyung. Oleh karena inilah, ia malah mengerahkan Aji Bayu Sakti, membuat tubuhnya ringan dan membiarkan tubuhnya mencelat ke belakang sampai lima meter jauhnya. Akan tetapi ia terlempar dalam keadaan berdiri, tanpa mengubah sedikitpun kedudukan kuda-kuda kakinya dan dengan ringan bagaikan sehelai daun kering ia turun pula ke atas tanah. Wajahnya tetap biasa, lengannya yang beradu dengan lawan tidak terasa sakit. Namun diam-diam ia harus mengakui bahwa lawannya mempunyai tenaga yang mujijat dan amat kuat. Karena hawa sakti di tubuhnya lebih murni daripada lawan, maka untuk pertahanan di dalam tubuh ia tidak akan kalah oleh lawan. Akan tetapi mengenai tenaga luar, tenaga otot yang kasar, ia kalah jauh! Mengertilah ia bahwa tindakannya menangkis tadi keliru, namun membuat ia dapat mengukur tenaga sendiri dan dapat berlaku lebih hati-hati.
Di lain pihak, Wirokolo sejenak berdiri seperti tertegun, terheran-heran dan juga kagum dan penasaran menjadi satu. Pertemuan lengan tadi menginsafkannya bahwa pemuda itu sungguh bukan merupakan lawan yang ringan! Dapat menangkis tangannya yang mengandung Aji Anolo Hasto sepenuhnya, tanpa mengalami cedera, bahkan sekaligus dapat mengatasi kekalahan tenaga kasar dengan loncatan ke belakang sebagus itu, benar-benar menjadi bukti bahwa hawa sakti pemuda itu amat kuat, tidak berada di bawah tingkatnya sendiri. Ia mengeluarkan pekik dahsyat sambil menerjang maju lagi mengerahkan semua ajinya. Dalam keadaan seperti itu, Wirokolo amat menggiriskan. Lima ekor ular yang melilit leher dan kaki tangannya, bergerak kepalanya, mendesis-desis dan lidahnya yang merah menjilat-jilat keluar dari mulut, Wirokolo sama sekali tidak berani mengeluarkan Aji Calon Arang atau ilmu hitamnya yang lain mengingat bahwa di situ ada Narotama yang tentu akan datang membuyarkan ilmu hitamnya dengan mudah. Pula penggunaan ilmu hitam kalau menemui lawan yang lebih tangguh amatlah berbahaya karena ilmu itu bisa membalik dan memukul diri sendiri. Betapapun juga, karena Aji Calon Arang sudah mendarah daging padanya, ketika ia menjadi marah, tampaklah bayangan nenek iblis yang mengerikan di belakangnya.

Mendengar pekik dahsyat dan melihat keadaan Wirokolo dan nenek iblis membayang di belakangnya itu, tergetar juga hati Joko Wandiro. Pemuda ini cepat-cepat menggosok kedua telapak tangannya tiga kali sambil membaca mantera Widodo Mantera. Begitu bibirnya mengucapkan Widodo Mantera, seketika bayangan iblis betina itu lenyap atau tidak tertampak lagi olehnya, dan Wirokolo juga tidak tampak menakutkan lagi. Adapun kedua telapak tangannya setelah ia gosok tiga kali, menjadi panas dan mengeluarkan cahaya. Menghadapi lawan setangguh Wirokolo, Joko Wandiro tidak berani memandang rendah maka ia sudah mengeluarkan Aji Bojro Dahono yang tadi ia latih dan coba pada batang pohon!
"Hyyaaaahhh.......... mampus kau.......!!'"
Bentakan ini mengiringi serangan Wirokolo yang sudah menubruk maju dengan pukulan kedua tangan saling susul, ke arah kepala dan dada Joko Wandiro.
"Wuuuttt... wuuuttt...!" Joko Wandiro sudah menggunakan Aji Bayu Sakti dan dengan gerakan lincah sekali ia mengelak, akan tetapi elakan yang sama sekali tidak menjauhkan diri, bahkan gerakan mengelak ke samping dengan tubuh setengah melingkar ini membuat ia mendekati lawan, kemudian ia langsung mengirim pukulan balasan.
Karena ia tadi bergerak mengelak dengan Aji Bayu Sakti, maka untuk mengimbangi aji ini, ia melanjutkan serangan dengan pukulan Pethit Nogo, yaitu dengan jari-jari tangan dikipatkan. Memang lebih mudah menggunakan pukulan Pethit Nogo dengan kebutan jari-jari tangan dalam kedudukan tubuh melengkung seperti itu.
Kembali Wirokolo terkejut. Tidak disangkanya lawannya yang masih muda ini dapat mengelak secara demikian anehnya, mengelaknya sambil mendekat dan balas menyerang. Demikian cepat gerakan Joko Wandiro sehingga tahu-tahu jari-jari tangan pemuda itu sudah mengancam pelipisnya, bagian yang paling lemah di kepala.
"Celaka.......!!”
Wirokolo berteriak sambil membuang tubuhnya ke belakang. Dari sambaran angin pukulan Pethit Nogo itu saja ia maklum bahwa amatlah berbahaya mengandalkan kekebalannya untuk menerima tamparan macam itu dengan pelipis kepalanya!
"Tasss!"
Oleh elakan ini, pelipis luput tertampar, akan tetapi sebagai gantinya, pundak dekat leher raksasa itu terkena jepretan jari-jari tangan yang ampuh. Wirokolo terhuyung-huyung. Tubuhnya kebal dan kuat luar biasa. Kalau pukulan Pethit Nogo ini mengenai pundak sebelah luar saja tak mungkin ia sampai terhuyung. Akan tetapi karena kenanya dekat leher, terasa juga olehnya. Pandang matanya sampai berkunang!
"Bocah setan! Awas kau Kalau tertangkap olehku, kubeset kulitmu, kuganyang dagingmu, kuhisap darahmu dan kukemah-kemah tulangmul"
Wirokolo mengancam dengan muka merah seperti udang direbus. Biarpun ancamannya menunjukkan kemarahan luar biasa dan kini ia menerjang lagi dengan buas, namun Wirokolo tidak sembrono seperti tadi, maklum bahwa lawannya biar masih muda akan tetapi amat kuat. Ia menerjang dengan hati-hati sehingga ketika Joko Wandiro mengelak lalu balas memukul, ia dapat pula menangkis.

Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Pukulan dan gerakan Wirokolo mendatangkan angin berpusing, tenaganya yang dahsyat membuat bumi yang diinjaknya tergetar, angin pukulan tangannya membuat tetumbuhan di sekitar tempat itu bergoyang-goyang. Namun sukar sekali baginya untuk dapat menyentuh Joko Wandiro karena pemuda ini memiliki gerakan yang lebih gesit. Sebaliknya, hujan serangan lawan yang buas dan dahsyat itu membuat Joko Wandiro sukar sekali untuk membalas dengan serangan yang seimbang karena ia maklum akan bahayanya pukulan tangan lawan yang ampuh. Ia selalu menghindar atau kalau menangkispun hanya berani ia lakukan dalam keadaan posisi tubuh menang kuat, itupun dengan cara mendorong dari samping. Tidak mau ia menempatkan diri dalam bahaya dengan cara menangkis langsung mengadu tenaga. Akan tetapi, sikapnya yang amat berhati-hati ini membuat ia sukar sekali dapat merobohkan lawan. Balasan serangannya yang hanya kadang-kadang itu ada kalanya berhasil menyentuh tubuh lawan. Akan tetapi karena kenanya tidak tepat, tubuh Wirokolo yang kebal seakan-akan tidak merasa apa-apa! Pertandingan sudah berlangsung sejam lebih, namun belum tampak siapa yang akan menang. Melihat ini, diam-diam Dibyo Mamangkoro terkejut bukan main. Ia tahu akan kesaktian adik seperguruannya, yang tidak kalah jauh olehnya sendiri. Bagaimana kini adik seperguruannya itu tidak mampu mengalahkan seorang pemuda? Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Tadinya ia mengira bahwa di dalam dunia ini, orang muda satu-satunya yang memiliki ilmu kesaktian tinggi hanyalah muridnya. Siapa kira, pemuda inipun hebat. Kalau tidak dibunuh sekarang, kelak tentu merupakan tandingan berat bagi Endang Patibroto. Pemuda ini tidak banyak selisih tingkatnya dengan Wirokolo, hanya menang cepat. Kalau pertandingan itu dilanjutkan, belum dapat dipastikan siapa yang akan menang, akan tetapi sudah jelas akan makan waktu lama sekali.
Keadaan mereka berimbang, maka kalau Wirokolo dibantu sedikit saja, pemuda itu tentu akan dapat dirobohkan. Lebih baik pasukan dikerahkan untuk membantu Wirokolo, sedangkan Narotama sendiri kalau turun tangan, dialah yang akan menanggulanginya!
"Àpa kerja kalian? Hanya menonton saja? Hayo serbu bocah setan itu!" Tiba-tiba Dibyo Mamangkoro berseru.

Pasukan terdiri dari tiga puluh enam orang itu terkejut. Tadi mereka tertegun dan terpesona menyaksikan pertandingan yang demikian hebatnya. Karena kepala pasukan, Sepasang Gagak sudah roboh dan tewas oleh pemuda itu dan kini bahkan Wirokolo sendiri sampai sekian lamanya belum mampu mengalahkannya, pasukan itu menonton dengan hati berdebar, tidak berani bergerak kalau tidak diperintah, maklum akan hebatnya kepandaian Joko Wandiro. Akan tetapi kini mendengar bentakan Dibyo Mamangkoro, mereka segera bergerak, mencabut senjata masing-masing dan mendekat medan pertandingan.
Melihat ini, tiba-tiba Narotama meloncat dari atas batu tempat ia bersila, mengerahkan Aji Dirodo Meto dan terdengarlah pekik melengking dahsyat sekali yang seakan-akan menimbulkan gempa bumi hebat dan angin taufan mengamuk! Aji Dirodo Meto (Gajah Mengamuk) merupakan aji kewibawaan yang berdasarkan pekik dahsyat sekali seakan-akan pekik seekor gajah jantan yang sedang marah. Mendengar pekik dahsyat ini tiga puluh enam orang itu seketika seperti lumpuh, jantung serasa copot, tubuh menggigil dan muka pucat. Ketika mereka menengok dan memandang ke arah Narotama yang berdiri tegak, pandang mata mereka seakan-akan melihat seekor gajah raksasa yang mengancam. Tanpa dapat dicegah lagi, tiga puluh enam orang itu memaksa kaki mereka yang dengkelen (menggigil sukar digerakkan) untuk lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Bahkan Wirokolo sendiri merasa betapa jantungnya tergetar hebat dan ketika ia mengerahkan hawa sakti untuk menahan pengaruh pekik melengking, ia merasa kelelahan.
Bukan main marahnya Dibyo Mamangkoro. Ia sendiri memiliki ilmu yang sangat tinggi sehingga Aji Dirodo Meto yang dahsyat itu dapat ia lawan dengan pengerahan hawa sakti.
"Si keparat Narotama! Kau curang!!" bentaknya.
"Hemm, Dibyo Mamangkoro, siapa yang curang? Engkau yang mengerahkan balamu hendak mengeroyok muridku ataukah aku yang menghalangi pengeroyokan curang itu? Sudah kukatakan tadi, aku siap melayani segala tingkahmu!"
"Babo-babo, Narotama! Kalau begitu kita harus mengadu nyawa! Sambutlah!!"

Setelah berkata demikian, Dibyo Mamangkoro menggerakkan tangan kanannya, diputar-putar dan tubuhnya agak merendah, kemudian dengan tangan terkepal ia memukul ke depan, ke arah Narotama. Inilah pukulan maut yang bernama Aji Wisangnala! Namanya saja sudah menyebutkan keampuhannya, yaitu Api Berbisa! Kalau dilakukan dari jarak jauh, angin pukulannya yang membawa hawa panas beracun dapat merobohkan dan menewaskan lawan tangguh. Apalagi kalau sampai mengenai kulit lawan, sukar dibayangkan akibatnya. Terlalu ngeri! Namun Narotama yang cukup mengenal kesaktian lawannya ini, sudah siap sedia. Dua puluh tahun yang lalu, dalam perang menundukkan Kerajaan Wengker, la sudah pernah bertanding yuda melawan Dibyo Mamangkoro. Dalam pertandingan mati-matian yang memakan waktu sampai dua hari dua malam, setelah mengeluarkan semua aji dan kesaktian, barulah ia berhasil mengalahkan Dibyo Mamangkoro yang lalu melarikan diri! Kini melihat betapa begitu menyerang, Dibyo Mamangkoro menggunakan aji pukulan maut yang demikian ganas dan dahsyatnya, ia terkejut dan maklum bahwa benar-benar raksasa Wengker itu hendak mengadu nyawa dan tidak ingin bertempur berlambat-lambatan seperti dahulu lagi. Serangan itu adalah serangan maut dan akibatnya hanyalah dua, kalah atau menang! Ia cukup maklum bahwa untuk pukulan macam itu, pukulan yang sedemikian hebatnya sehingga kepalan tangan raksasa itu mengeluarkan sinar, tidak dapat dielakkan tanpa merugikan dirinya. Oleh karena itu iapun lalu mengerahkan tenaga memutar tubuhnya dan berseru keras sambil mengangkat tangan kiri ke atas kepala dari belakang tubuh, sedangkan tangan kanannya dikepal dan dlpukulkan ke depan, menyambut hawa pukulan Dibyo Mamangkoro.
"Syuuuuttt!!"

<<< Bagian 097                                                                                    Bagian 099 >>>

No comments:

Post a Comment