Dua hawa sakti yang sama-sama ampuh dan mengandung hawa panas bertemu di udara dengan hebatnya. Seperti Dibyo Mamangkoro yang menggunakan Aji Wisangnala, Narotama juga mengerahkan Aji Bojro Dahono yang mengandung hawa panas yang keluar dari sumbernya di pusar. Biarpun kedua kepalan tangan itu masih terpisah satu depa lebih jauhnya satu kepada yang lain, namun pertemuan kedua hawa sakti Itu menimbulkan cahaya bagaikan api ber kilat. Dahsyat sekali pertemuan tenaga sakti ini. Resi Narotama masih tetap kedudukan kakinya, akan tetapi ia terdorong ke belakang sampai setombak lebih, kedua kakinya yang masih tetap memasang kuda-kuda itu menggurat tanah sampai sejengkal dalamnya. Wajahnya pucat keningnya berkerut dahinya berkeringat.
Adapun Dibyo
Mamangkoro juga terhuyung ke belakang, tampaknya ia tertawa mengejek, akan
tetapi matanya merah sekali, berbeda dengan mukanya yang memperlihatkan
bayangan kehijauan. Ia masih tertawa ketika melompat maju lagi dan kembali ia
melakukan pukulan seperti tadi bahkan kini dibarengi dengan suaranya yang parau
berteriak seperti srigala marah. Narotama juga melakukan gerakan menyambut
seperti tadi, melayani lawan tangguh itu sambil berteriak keras pula.
"Wessss!!!"
Akibat
pertemuan dahsyat tenaga sakti mereka untuk yang kedua kalinya ini, Resi
Narotama jatuh bertekuk lutut, tubuhnya agak menggigil dan keringat di dahi
makin banyak. Akan tetapi Dibyo Mamangkoro mencelat ke belakang, melakukan
gerak jungkir balik tiga kali dan akhirnya dapat ia menguasai keseimbangan
tubuhnya sehingga tidak roboh terguling. Matanya yang tadi merah itu kini makin
merah sehingga seperti berubah hitam, mulutnya masih tertawa menyeringai akan
tetapi di ujung bibirnya tampak sedikit darah!
"Belum
puaskah engkau.....?" Narotama berkata, suaranya halus agak terengah.
"Huah-hah-hahl
Mampuslah......!”
Dibyo
Mamangkoro kembali melakukan pukulan ke tiga, lebih hebat karena agaknya ia
mengerahkan seluruh tenaganya. Narotama yang sudah bangkit berdiri kembali
menyambut seperti tadi, juga bekas Patih Kahuripan yang sakti ini mengerahkan
seluruh tenaga terakhir, maklum sepenuhnya bahwa ia mempertahankan nyawanya
dalam gempuran tenaga sakti ini.
"Desss
werrrrr ....!!!!”
Kini akibatnya
lebih hebat lagi daripada dua pukulan pertama. Bukan saja karena pukulan ke
tiga ini mereka lakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, juga karena tubuh
mereka sudah lelah dan lemah oleh benturan dua kali tadi. Resi Narotama
mengeluh perlahan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang lalu ia jatuh terduduk
di atas tanah, napasnya terengah-engah mukanya pucat. Adapun Dibyo Mamangkoro
terpental dan roboh miring di atas tanah, lalu bergulingan menjauhkan diri lalu
lenyap dari situ, hanya suara ketawanya saja yang terdengar bergema sampai di
tempat itu, suara ketawa yang aneh karena bercampur rintihan.
Sementara itu,
pertandingan antara Wirokolo dan Joko Wandiro juga berkesudahan amat hebat.
Wirokolo yang merasa amat penasaran belum juga dapat merobohkan lawannya yang
muda, menerjang makin dahsyat. Akan tetapi ketika tadi Resi Narotama
mengeluarkan aji pekik melengking dahsyat Dirodo Meto, jantungnya tergetar
hebat sekali. Sejenak matanya berkunang dan jantungnya berdebar-debar. Hanya
dengan pengerahan tenaga dalam sekuatnya saja ia mampu menahan. Akan tetapi, serangan
pekik mujijat Resi Narotama yang sebetulnya tidak langsung ditujukan kepadanya
ini membuat tenaga dalamnya banyak berkurang. Namun, Wirokolo yang berwatak
sombong dan terlalu bangga àkan kesaktian sendiri ini tidak sadar akan hal ini.
Ketika itu Joko Wandiro yang juga ingin mengakhiri pertandingan karena melihat
gurunya sudah menghadapi Dibyo Mamangkoro yang amat sakti, telah mengirim
pukulannya yang paling ampuh, yaitu Bojro Dahono.
Pukulannya
dilakukan dengan kepalan tangan kiri yang meluncur ke arah dada Wirokolo. Tadi
sebelum musuh-musuh datang, pemuda ini sudah mendemonstrasikan kepandaiannya
ini dan dengan Aji Bojro Dahono telah membuat sebatang pohon menjadi hangus
sebelah dalamnya! Tentu saja Wirokolo juga merasa akan datangnya hawa panas mujijat
yang mengiringi pukulan anak muda itu. Akan tetapi karena ia terlalu
mengandalkan ajinya Anolo Hasto, melihat datangnya pukulan tangan kiri ini, ia
menjadi girang dan segera menyambut dengan telapak tangan kanannya yang lebar
dan besar.
Begitu kepalan
tangan kiri Joko Wandiro tiba, Wirokolo menerimanya dengan telapak tangan kanan
dan menggenggamnya. Kepalan tangan yang kecil itu lenyap dalam genggaman tangan
kanannya yang penuh dengan Aji Anolo Hasto sehingga kepalan tangan Joko Wandiro
seakan-akan masuk dan terjepit ke dalam tungku api membara! Melihat ini, Joko
Wandiro memukul lagi, kini dengan tangan kanannya, juga tetap menggunakan Aji
Bojro Dahono. Melihat kenekadan pemuda ini, Wirokolo tertawa terbahak-bahak dan
menggunakan tangan kirinya menyambut pukulan ke dua dan di lain saat kembali
kepalan tangan kanan Joko Wandiro lenyap dalam genggaman tangan kiri Wirokoio!
Sambil mengerahkan kekuatannya untuk menghancurkan kedua kepalan tangan Joko
Wandiro dalam genggaman tangannya, Wirokolo tertawa bergelak. Akan tetapi
tiba-tiba suara ketawanya terhenti, matanya terbelalak, mukanya pucat sekali
dan bagaikan disambar petir, tubuhnya mencelat ke belakang, kedua tangannya
yang tadi menggenggam kepalan tangan Joko Wandiro kini mencengkeram dadanya
sendiri, kemudian ia mengeluarkan jerit mengerikan dan sambil mencengkeram
dadanya Wirokolo membalikkan tubuh, lari terhuyung-huyung dan membabi buta
sehingga tanpa disadarinya ia lari ke arah jurang. Ketika tubuhnya terjungkal
ke dalam jurang, kembali ia memekik nyaring. Kemudian sunyi. Wirokolo salah
hitung, terlalu memandang rendah lawan atau terlalu membanggakan diri sendiri
sehingga ia lalai dan ketika menggenggam kedua kepalan pemuda tadi, ia hanya
ingin menghancurkan kepalan dengan remasan tenaga kasar. Siapa kira, dari
kepalan Joko Wandiro tersalur hawa sakti Bojro Dahono (Kilat Api) sehingga
karena Wirokolo tidak mengerahkan hawa saktinya, maka ia terserang aji itu yang
membuat isi dadanya seperti disambar petir! Andaikata ia tidak terjungkal ke
dalam jurang yang membuat tubuhnya hancur, juga ia akan tewas oleh Bojro Dahono
yang ampuhnya menggiriskan itu.
Joko Wandiro
memandang kedua tangannya. Punggung tangannya kebiruan dan membengkak. Untung
tulang-tulang tangannya tidak sampai remuk. Bukan main hebatnya Wirokolo.
Kemudian ia teringat gurunya, menoleh. Dilihatnya Resi Narotama duduk bersila
di atas tanah, wajahnya pucat, napasnya memburu, dari ujung kanan kiri bibirnya
keluar darah!
"Bapa
guru!" Joko Wandiro lari menghampiri lalu berlutut di depannya.
Resi Narotama
membuka mata, lalu dengan gerakan lemah menghapus darah di kedua ujung
bibirnya.
"Sungguh
mengagumkan Dibyo Mamangkoro....." Ia menghela napas pnnjang.
"Tapi,
bukankah tadi dia kalah dan lari, bapa!!”
Narotama
menggeleng kepala.
"Ia jerih
terhadap aku, akan tetapi sesungguhnya, dia hebat. Kalau dia tidak jerih dan
tadi melanjutkan, belum tentu aku akan menang. Hemmm.... "
Resi Narotama
mengerutkan kening, jelas menahan rasa nyeri hebat, tangannya meraba dada.
"Bapa
terluka........ "
Resi Narotama
mengangguk.
"Joko,
muridku. Kini tibalah waktunya kita saling berpisah. Kau harus meninggalkan
tempat ini"
"Akan
tetapi, bapa. Hamba yang bertahun-tahun menerima petunjuk bapa guru, bagaimana
sekarang dapat berlaku sekeji itu? Hamba melihat bapa sedang menderita luka dan
perlu perawatan, bagaimana hamba tega untuk meninggalkan bapa? Tidak, hamba
mohon agar diperkenankan tinggal di sini, merawat bapa guru sampai
sembuh."
"Tidak,
muridku. Perawatanmu takkan menolong tubuhku. Kau tidak bisa tinggal di sini,
karena aku sendiripun akan meninggalkan tempat ini. Tidak guna kau bertanya ke
mana aku hendak pergi." Narotama tersenyum, lalu berkata lagi,
"Sudah
kuceritakan padamu bahwa aku sudah berjanji kepada mendiang Sang Prabu
Airlangga bahwa aku tidak akan mencampuri urusan kerajaan kedua orang
puteranya. Akan tetapi, melihat betapa Kerajaan Jenggala sudah mempergunakan
tenaga orang-orang seperti Dibyo Mamangkoro, kurasa tidaklah adil kalau pihak
Kerajaan Panjalu tidak menerima bantuan pula. Engkau pergilah ke Panjalu,
menghadap sang prabu di Panjalu dan mohon diterima suwita (berhamba) di sana.
Aku sekali-kali tidak menganjurkanmu untuk mencari kedudukan, muridku, hanya
engkau harus sadar akan kewajibanmu menentang kejahatan. Dan menurut wawasanku,
setelah Kerajaan Jenggala mempergunakan Dibyo Mamangkoro, kewajibanmulah untuk
menentang mereka."
"Hamba
akan mentaati perintah bapa. Akan tetapi.... bilakah hamba diperkenankan
menghadap bapa lagi? Dimana?"
Resi Narotama
menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Dasar
orang muda, nafsu perasaan masih tebal menyelimuti kesadaran. Pergunakanlah
kesadaranmu. Lupakah kau bahwa sebetulnya tidak ada kesusahan seperti juga
tidak ada kesenangan? Sadarlah dan kembalilah kepada kepribadianmu yang
berpegang kepada kewajiban hidup berdasarkan kebaktian. Nah, engkau
berangkatlah sekarang, muridku dan kau terimalah Ki Megantoro ini, kuberikan kepadamu."
Sambil
berlutut dan menyembah Joko Wandiro menerima keris pusaka gurunya, Ki
Megantoro, keris eluk tujuh yang ampuh dan puluhan tahun menjadi sahabat setia
Resi Narotama. Kemudian pergilah Joko Wandiro menuruni lereng Gunung Bekel,
diikuti doa restu dan pandang mata penuh kasih gurunya Sang Resi Narotama.
Wajah sang
prabu di Kerajaan Panjalu kelihatan muram. Demikian pula para senopati dan
hulubalang yang menghadap di persidangan, tampak muram dan gelisah. Peristiwa
sebulan yang lalu masih saja membekas di hati mereka. Sang prabu berikut semua
senopati merasa terhina. Sang prabu selalu marah-marah kepada para pengawal
yang dianggapnya tiada guna. Bayangkan saja! Pada suatu malam, kurang lebih
sebulan yang lalu, dua orang kepala pengawal tahu-tahu tewas tanpa kepala!
Kepala mereka lenyap bersama dengan bendera pusaka yang berkibar di puncak
istana! Tidak seorangpun tahu siapa yang melakukan hal yang menggemparkan itu.
Seakan-akan iblis sendiri yang sudah turun tangan mendatangkan bencana dan
meramalkan mala petaka hebat di Kerajaan Panjalu! Bahkan para menteri dan para
pendeta yang dimintai nasehat, tidak seorangpun dapat menduga siapa gerangan
pelaku perbuatan dahsyat itu. Dan pada pagi hari itu, persidangan terganggu
oleh datangnya seorang pemuda gunung yang menghadap sang nata untuk mohon
diterima menjadi ponggawa keraton! Seorang pemuda tampan dan berpakaian
sederhana yang kelihatan pendiam dan pemalu. Ketika pemuda itu berlutut di
depan sang Prabu yang memandang dengan wajah muram, para ponggawa saling
berbisik.
"Untuk
apa pemuda lemah ini?" Demikian bisik mereka.
"Kita
membutuhkan seorang sakti mandraguna untuk menandingi maling haguna, bukan
seorang bocah dusun!"
"Untuk
kacung kandang kudapun masih belum memenuhi syarat!" bisik yang lain.
"Berani
mampus, bocah desa berani mengotori lantai persidangan menghadap sang prabu.
Tentu beliau akan marah!" kata yang lain.
Akan tetapi
ketika sang prabu menggerakkan kepala mengangkat muka untuk memandang ke arah
mereka yang kasak-kusuk itu, semua suara lenyap dan semua orang duduk bersila
dengan anteng seperti area. Sang prabu lalu menunduk dan kembali memandang
kepada pemuda yang masih bersila di depannya itu.
"Siapa
namamu tadi? Ruangan ini seperti pasar sehingga kami tidak begitu mendengar
keteranganmu!" sabda sang prabu yang semenjak peristiwa memalukan itu
menjadi seorang pemarah.
"Hamba
Joko Wandiro, gusti," kata pemuda itu dengan suaranya yang lantang dan
sikapnya yang tenang, menundukkan muka.
"Engkau
mohon akan menghambakan diri di sini?"
"Betul
seperti sabda paduka, gusti."
"Hemmm,
engkau bocah dari mana, Joko Wandiro?"
"Hamba
hidup sebatangkara, gusti, tiada ayah bunda, tiada tempat tinggal. Hamba
laksana sehelai daun kering tertiup angin, melayang ke mana saja menurutkan
arah angin."
"Joko
Wandiro! Engkau minta bekerja di sini. Bekerja apakah, dan apa yang dapat
kaulakukan?"
"Bekerja
apa saja hamba sanggup melakukan, gusti. Hamba menyediakan jiwa raga hamba
untuk melakukan tugas yang paduka perintahkan."
Sang prabu
mengeluarkan suara mengejek.
"Huh,
semua orang sebelum diterima bekerja, memberi janji muluk-muluk setinggi
langit. Setelah diberi tugas, tidak seorangpun becus memegangnya. Begini banyak
prajurit dan pengawal, seperti tidak ada manusia saja!"
Semua senopati
dan hulubalang tertunduk mendengar ini, maklum bahwa kembali sang prabu
teringat akan peristiwa sebulan yang lalu.
No comments:
Post a Comment