Badai Laut Selatan ; Bagian 099


Dua hawa sakti yang sama-sama ampuh dan mengandung hawa panas bertemu di udara dengan hebatnya. Seperti Dibyo Mamangkoro yang menggunakan Aji Wisangnala, Narotama juga mengerahkan Aji Bojro Dahono yang mengandung hawa panas yang keluar dari sumbernya di pusar. Biarpun kedua kepalan tangan itu masih terpisah satu depa lebih jauhnya satu kepada yang lain, namun pertemuan kedua hawa sakti Itu menimbulkan cahaya bagaikan api ber kilat. Dahsyat sekali pertemuan tenaga sakti ini. Resi Narotama masih tetap kedudukan kakinya, akan tetapi ia terdorong ke belakang sampai setombak lebih, kedua kakinya yang masih tetap memasang kuda-kuda itu menggurat tanah sampai sejengkal dalamnya. Wajahnya pucat keningnya berkerut dahinya berkeringat.
Adapun Dibyo Mamangkoro juga terhuyung ke belakang, tampaknya ia tertawa mengejek, akan tetapi matanya merah sekali, berbeda dengan mukanya yang memperlihatkan bayangan kehijauan. Ia masih tertawa ketika melompat maju lagi dan kembali ia melakukan pukulan seperti tadi bahkan kini dibarengi dengan suaranya yang parau berteriak seperti srigala marah. Narotama juga melakukan gerakan menyambut seperti tadi, melayani lawan tangguh itu sambil berteriak keras pula.
"Wessss!!!"
Akibat pertemuan dahsyat tenaga sakti mereka untuk yang kedua kalinya ini, Resi Narotama jatuh bertekuk lutut, tubuhnya agak menggigil dan keringat di dahi makin banyak. Akan tetapi Dibyo Mamangkoro mencelat ke belakang, melakukan gerak jungkir balik tiga kali dan akhirnya dapat ia menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga tidak roboh terguling. Matanya yang tadi merah itu kini makin merah sehingga seperti berubah hitam, mulutnya masih tertawa menyeringai akan tetapi di ujung bibirnya tampak sedikit darah!
"Belum puaskah engkau.....?" Narotama berkata, suaranya halus agak terengah.
"Huah-hah-hahl Mampuslah......!”

Dibyo Mamangkoro kembali melakukan pukulan ke tiga, lebih hebat karena agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya. Narotama yang sudah bangkit berdiri kembali menyambut seperti tadi, juga bekas Patih Kahuripan yang sakti ini mengerahkan seluruh tenaga terakhir, maklum sepenuhnya bahwa ia mempertahankan nyawanya dalam gempuran tenaga sakti ini.
"Desss werrrrr ....!!!!”
Kini akibatnya lebih hebat lagi daripada dua pukulan pertama. Bukan saja karena pukulan ke tiga ini mereka lakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya, juga karena tubuh mereka sudah lelah dan lemah oleh benturan dua kali tadi. Resi Narotama mengeluh perlahan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang lalu ia jatuh terduduk di atas tanah, napasnya terengah-engah mukanya pucat. Adapun Dibyo Mamangkoro terpental dan roboh miring di atas tanah, lalu bergulingan menjauhkan diri lalu lenyap dari situ, hanya suara ketawanya saja yang terdengar bergema sampai di tempat itu, suara ketawa yang aneh karena bercampur rintihan.
Sementara itu, pertandingan antara Wirokolo dan Joko Wandiro juga berkesudahan amat hebat. Wirokolo yang merasa amat penasaran belum juga dapat merobohkan lawannya yang muda, menerjang makin dahsyat. Akan tetapi ketika tadi Resi Narotama mengeluarkan aji pekik melengking dahsyat Dirodo Meto, jantungnya tergetar hebat sekali. Sejenak matanya berkunang dan jantungnya berdebar-debar. Hanya dengan pengerahan tenaga dalam sekuatnya saja ia mampu menahan. Akan tetapi, serangan pekik mujijat Resi Narotama yang sebetulnya tidak langsung ditujukan kepadanya ini membuat tenaga dalamnya banyak berkurang. Namun, Wirokolo yang berwatak sombong dan terlalu bangga àkan kesaktian sendiri ini tidak sadar akan hal ini. Ketika itu Joko Wandiro yang juga ingin mengakhiri pertandingan karena melihat gurunya sudah menghadapi Dibyo Mamangkoro yang amat sakti, telah mengirim pukulannya yang paling ampuh, yaitu Bojro Dahono.
Pukulannya dilakukan dengan kepalan tangan kiri yang meluncur ke arah dada Wirokolo. Tadi sebelum musuh-musuh datang, pemuda ini sudah mendemonstrasikan kepandaiannya ini dan dengan Aji Bojro Dahono telah membuat sebatang pohon menjadi hangus sebelah dalamnya! Tentu saja Wirokolo juga merasa akan datangnya hawa panas mujijat yang mengiringi pukulan anak muda itu. Akan tetapi karena ia terlalu mengandalkan ajinya Anolo Hasto, melihat datangnya pukulan tangan kiri ini, ia menjadi girang dan segera menyambut dengan telapak tangan kanannya yang lebar dan besar.

Begitu kepalan tangan kiri Joko Wandiro tiba, Wirokolo menerimanya dengan telapak tangan kanan dan menggenggamnya. Kepalan tangan yang kecil itu lenyap dalam genggaman tangan kanannya yang penuh dengan Aji Anolo Hasto sehingga kepalan tangan Joko Wandiro seakan-akan masuk dan terjepit ke dalam tungku api membara! Melihat ini, Joko Wandiro memukul lagi, kini dengan tangan kanannya, juga tetap menggunakan Aji Bojro Dahono. Melihat kenekadan pemuda ini, Wirokolo tertawa terbahak-bahak dan menggunakan tangan kirinya menyambut pukulan ke dua dan di lain saat kembali kepalan tangan kanan Joko Wandiro lenyap dalam genggaman tangan kiri Wirokoio! Sambil mengerahkan kekuatannya untuk menghancurkan kedua kepalan tangan Joko Wandiro dalam genggaman tangannya, Wirokolo tertawa bergelak. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya terhenti, matanya terbelalak, mukanya pucat sekali dan bagaikan disambar petir, tubuhnya mencelat ke belakang, kedua tangannya yang tadi menggenggam kepalan tangan Joko Wandiro kini mencengkeram dadanya sendiri, kemudian ia mengeluarkan jerit mengerikan dan sambil mencengkeram dadanya Wirokolo membalikkan tubuh, lari terhuyung-huyung dan membabi buta sehingga tanpa disadarinya ia lari ke arah jurang. Ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang, kembali ia memekik nyaring. Kemudian sunyi. Wirokolo salah hitung, terlalu memandang rendah lawan atau terlalu membanggakan diri sendiri sehingga ia lalai dan ketika menggenggam kedua kepalan pemuda tadi, ia hanya ingin menghancurkan kepalan dengan remasan tenaga kasar. Siapa kira, dari kepalan Joko Wandiro tersalur hawa sakti Bojro Dahono (Kilat Api) sehingga karena Wirokolo tidak mengerahkan hawa saktinya, maka ia terserang aji itu yang membuat isi dadanya seperti disambar petir! Andaikata ia tidak terjungkal ke dalam jurang yang membuat tubuhnya hancur, juga ia akan tewas oleh Bojro Dahono yang ampuhnya menggiriskan itu.

Joko Wandiro memandang kedua tangannya. Punggung tangannya kebiruan dan membengkak. Untung tulang-tulang tangannya tidak sampai remuk. Bukan main hebatnya Wirokolo. Kemudian ia teringat gurunya, menoleh. Dilihatnya Resi Narotama duduk bersila di atas tanah, wajahnya pucat, napasnya memburu, dari ujung kanan kiri bibirnya keluar darah!
"Bapa guru!" Joko Wandiro lari menghampiri lalu berlutut di depannya.
Resi Narotama membuka mata, lalu dengan gerakan lemah menghapus darah di kedua ujung bibirnya.
"Sungguh mengagumkan Dibyo Mamangkoro....." Ia menghela napas pnnjang.
"Tapi, bukankah tadi dia kalah dan lari, bapa!!”
Narotama menggeleng kepala.
"Ia jerih terhadap aku, akan tetapi sesungguhnya, dia hebat. Kalau dia tidak jerih dan tadi melanjutkan, belum tentu aku akan menang. Hemmm.... "
Resi Narotama mengerutkan kening, jelas menahan rasa nyeri hebat, tangannya meraba dada.
"Bapa terluka........ "
Resi Narotama mengangguk.
"Joko, muridku. Kini tibalah waktunya kita saling berpisah. Kau harus meninggalkan tempat ini"
"Akan tetapi, bapa. Hamba yang bertahun-tahun menerima petunjuk bapa guru, bagaimana sekarang dapat berlaku sekeji itu? Hamba melihat bapa sedang menderita luka dan perlu perawatan, bagaimana hamba tega untuk meninggalkan bapa? Tidak, hamba mohon agar diperkenankan tinggal di sini, merawat bapa guru sampai sembuh."
"Tidak, muridku. Perawatanmu takkan menolong tubuhku. Kau tidak bisa tinggal di sini, karena aku sendiripun akan meninggalkan tempat ini. Tidak guna kau bertanya ke mana aku hendak pergi." Narotama tersenyum, lalu berkata lagi,
"Sudah kuceritakan padamu bahwa aku sudah berjanji kepada mendiang Sang Prabu Airlangga bahwa aku tidak akan mencampuri urusan kerajaan kedua orang puteranya. Akan tetapi, melihat betapa Kerajaan Jenggala sudah mempergunakan tenaga orang-orang seperti Dibyo Mamangkoro, kurasa tidaklah adil kalau pihak Kerajaan Panjalu tidak menerima bantuan pula. Engkau pergilah ke Panjalu, menghadap sang prabu di Panjalu dan mohon diterima suwita (berhamba) di sana. Aku sekali-kali tidak menganjurkanmu untuk mencari kedudukan, muridku, hanya engkau harus sadar akan kewajibanmu menentang kejahatan. Dan menurut wawasanku, setelah Kerajaan Jenggala mempergunakan Dibyo Mamangkoro, kewajibanmulah untuk menentang mereka."
"Hamba akan mentaati perintah bapa. Akan tetapi.... bilakah hamba diperkenankan menghadap bapa lagi? Dimana?"
Resi Narotama menggeleng kepala sambil tersenyum.
"Dasar orang muda, nafsu perasaan masih tebal menyelimuti kesadaran. Pergunakanlah kesadaranmu. Lupakah kau bahwa sebetulnya tidak ada kesusahan seperti juga tidak ada kesenangan? Sadarlah dan kembalilah kepada kepribadianmu yang berpegang kepada kewajiban hidup berdasarkan kebaktian. Nah, engkau berangkatlah sekarang, muridku dan kau terimalah Ki Megantoro ini, kuberikan kepadamu."
Sambil berlutut dan menyembah Joko Wandiro menerima keris pusaka gurunya, Ki Megantoro, keris eluk tujuh yang ampuh dan puluhan tahun menjadi sahabat setia Resi Narotama. Kemudian pergilah Joko Wandiro menuruni lereng Gunung Bekel, diikuti doa restu dan pandang mata penuh kasih gurunya Sang Resi Narotama.

Wajah sang prabu di Kerajaan Panjalu kelihatan muram. Demikian pula para senopati dan hulubalang yang menghadap di persidangan, tampak muram dan gelisah. Peristiwa sebulan yang lalu masih saja membekas di hati mereka. Sang prabu berikut semua senopati merasa terhina. Sang prabu selalu marah-marah kepada para pengawal yang dianggapnya tiada guna. Bayangkan saja! Pada suatu malam, kurang lebih sebulan yang lalu, dua orang kepala pengawal tahu-tahu tewas tanpa kepala! Kepala mereka lenyap bersama dengan bendera pusaka yang berkibar di puncak istana! Tidak seorangpun tahu siapa yang melakukan hal yang menggemparkan itu. Seakan-akan iblis sendiri yang sudah turun tangan mendatangkan bencana dan meramalkan mala petaka hebat di Kerajaan Panjalu! Bahkan para menteri dan para pendeta yang dimintai nasehat, tidak seorangpun dapat menduga siapa gerangan pelaku perbuatan dahsyat itu. Dan pada pagi hari itu, persidangan terganggu oleh datangnya seorang pemuda gunung yang menghadap sang nata untuk mohon diterima menjadi ponggawa keraton! Seorang pemuda tampan dan berpakaian sederhana yang kelihatan pendiam dan pemalu. Ketika pemuda itu berlutut di depan sang Prabu yang memandang dengan wajah muram, para ponggawa saling berbisik.
"Untuk apa pemuda lemah ini?" Demikian bisik mereka.
"Kita membutuhkan seorang sakti mandraguna untuk menandingi maling haguna, bukan seorang bocah dusun!"
"Untuk kacung kandang kudapun masih belum memenuhi syarat!" bisik yang lain.
"Berani mampus, bocah desa berani mengotori lantai persidangan menghadap sang prabu. Tentu beliau akan marah!" kata yang lain.

Akan tetapi ketika sang prabu menggerakkan kepala mengangkat muka untuk memandang ke arah mereka yang kasak-kusuk itu, semua suara lenyap dan semua orang duduk bersila dengan anteng seperti area. Sang prabu lalu menunduk dan kembali memandang kepada pemuda yang masih bersila di depannya itu.
"Siapa namamu tadi? Ruangan ini seperti pasar sehingga kami tidak begitu mendengar keteranganmu!" sabda sang prabu yang semenjak peristiwa memalukan itu menjadi seorang pemarah.
"Hamba Joko Wandiro, gusti," kata pemuda itu dengan suaranya yang lantang dan sikapnya yang tenang, menundukkan muka.
"Engkau mohon akan menghambakan diri di sini?"
"Betul seperti sabda paduka, gusti."
"Hemmm, engkau bocah dari mana, Joko Wandiro?"
"Hamba hidup sebatangkara, gusti, tiada ayah bunda, tiada tempat tinggal. Hamba laksana sehelai daun kering tertiup angin, melayang ke mana saja menurutkan arah angin."
"Joko Wandiro! Engkau minta bekerja di sini. Bekerja apakah, dan apa yang dapat kaulakukan?"
"Bekerja apa saja hamba sanggup melakukan, gusti. Hamba menyediakan jiwa raga hamba untuk melakukan tugas yang paduka perintahkan."

Sang prabu mengeluarkan suara mengejek.
"Huh, semua orang sebelum diterima bekerja, memberi janji muluk-muluk setinggi langit. Setelah diberi tugas, tidak seorangpun becus memegangnya. Begini banyak prajurit dan pengawal, seperti tidak ada manusia saja!"
Semua senopati dan hulubalang tertunduk mendengar ini, maklum bahwa kembali sang prabu teringat akan peristiwa sebulan yang lalu.

<<< Bagian 098                                                                                    Bagian 100 >>>

No comments:

Post a Comment