Badai Laut Selatan ; Bagian 100


"Kaupun agaknya hanya pandai berjanji seperti yang lain-lain, Joko Wandiro "
"Hamba siap untuk diuji bila perlu, gusti."
"Engkau berani menghadapi musuh? Melawan maling haguna yang sakti?"
Sejenak Joko Wandiro tertegun, tidak mengerti apa yang dimaksudkan raja itu. Akan tetapi ketika melirik ke kanan kiri untuk minta keterangan dari para penghadap, ia melihat bahwa mereka itu memandang kepadanya dengan sinar mata mencemooh, ia segera menyembah.
"Hamba tidak akan mundur, demi menjunjung titah paduka."

Kembali Joko Wandiro melirik ke kanan kiri karena telinganya yang tajam terlatih itu mendengar suara tawa tertahan, suara penuh ejekan yang merupakan dengus dari hidung. Ia maklum bahwa mereka itu diam-diam memandang rendah kepadanya dan menganggap jawaban tadi seperti sebuah lelucon belaka. Akan tetapi sang prabu, putera mendiang Prabu Airlangga, sedikitnya mewarisi ketajaman mata dan kewaspadaan ayahnya. Sang prabu melihat sesuatu pada diri pemuda itu, sesuatu yang tidak tampak oleh mata orang biasa. Sang prabu mengerti bahwa pemuda ini bukan pemuda gunung biasa dan bahwa semua ucapannya tadi keluar dari lubuk hati.
"Hemm, Joko Wandiro. Kesanggupan dan kesetiaan saja tanpa kepandaian, takkan ada gunanya. jika sewaktu-waktu kerajaan kedatangan musuh yang tangguh, beranikah engkau menghadapi dan melawannya?"
"Hamba berani asal mendapat titah paduka."
"Murid siapakah engkau?"
Joko Wandiro sudah mendapat pesan dari Resi Narotama agar jangan menyebut nama kakek itu, apalagi di depan sang prabu di Panjalu.
"Hamba murid seorang pertapa yang tidak mau disebut namanya, gusti. Kepandaian hamba tidak ada artinya, akan tetapi dengan kebulatan tekad dan dengan berkah paduka, kiranya hamba akan dapat melaksanakan tugas yang paduka titahkan kepada hamba."

Girang hati sang prabu mendengar kesanggupan ini. Agak jernih wajahnya. Pemuda ini boleh diharapkan, sungguhpun masih amat disangsikan kepandaiannya. Kelihatannya hanya seorang pemuda sederhana, sederhana lahir batinnya. Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut di luar dan dua orang yang berpakaian prajurit menyerbu masuk, muka mereka pucat sekali dan serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut di depan anak tangga ruangan persidangan itu. Dengan tubuh menggigil mereka menyembah kepada sang prabu. Para senopati dan hulubalang melempar pandang marah kepada dua orang prajurit ini yang dianggap mengganggu.
"Heh, bocah perajurit! Mengapa kalian berani lancang menghadap dan mengganggu persidangan?" Sang prabu menegur sambil mengerutkan keningnya.
"Mohon diberi ampun, gusti. Hamba berdua berani menghadap tanpa diperintah karena terpaksa, hamba....... hamba........." Dua orang itu tergagap-gagap ketakutan.
"Apakah kalian ini sudah bosan hidup? Keparat! Hayo bikin laporan yang betul di hadapan gusti prabu!" bentak ki patih yang sejak tadi sudah memandang dengan mata melotot.
"Kalau tidak, kuhancurkan kepala kalian!"
Melihat sikap patih ini, kedua orang prajurit menjadi makin bingung dan gugup.
'Hamba....... ham.......... "
Mereka menelan ludah berkali-kali, akan tetapi tetap saja tidak dapat melanjutkan katanya karena leher serasa tercekik. Ki patih makin marah dan sudah hendak bangkit untuk memberi hajaran.
"Patih Suroyudo, biarkan mereka tenang dan memberi laporan yang betul. Heh, bocah prajurit. Jangan takut dan ceritakan, apa yang terjadi?" kata sang prabu.
"Ampun, gusti. Di alun-alun ada dua orang musuh melakukan amuk. Banyak sudah para prajurit dan perwira yang tewas. Mereka berdua amat digdaya dan menyebar maut di antara prajurit. Sepak terjang mereka seperti iblis betina...."
"Apa? Dua orang wanita?" Sang prabu memotong heran.
"Betul seperti sabda paduka. Dua orang pengamuk itu adalah wanita-wanita cantik."
"Siapa nama mereka?" Sang prabu memotong.
"Mereka mengaku bernama Ni Nogogini dan Ni Durgogini, gusti...."
"Patih Suroyuda, kiranya dua orang iblis itu yang datang lagi mengacau! Bawa pasukan dan kerahkan senopati, tangkap mereka!"
"Paduka jangan khawatir. Hamba akan menangkap mereka!" jawab Patih Suroyuda yang segera pamit keluar diikuti para senopati dan hulubalang.

Karena sedang pusing menghadapi banyak kekacauan, sang prabu meninggalkan ruangan itu, lupa kepada Joko Wandiro yang masih duduk bersila. Setelah semua orang pergi, barulah Joko Wandiro sadar bahwa ia ditinggalkan begitu saja. Selagi ia bingung, seorang pengawal membentaknya,
"Heh bocah gunung! Mau apa lagi di sini? Hayo keluar!"
"Tapi......! tapi..... hamba ingin menghambakan diri kepada sang prabu.... "
"Bocah seperti engkau ini mau bekerja apa di sini? Tidak tahukah engkau betapa sang prabu sedang duka? Engkau tidak diterima, tahu? Hayo pergi keluar!"
Joko Wandiro mendongkol sekali, akan tetapi ia menekan perasaannya dan bersikap sabar. Setelah menarik napas panjang ia lalu keluar dari tempat itu. Diam-diam ia berpikir, andaikata ia mengaku sebagai murid Resi Narotama yang dahulu merupakan seorang patih junjungan di Kahuripan, agaknya tidak akan begini sikap sang prabu dan para pengawal. Setelah ia tiba di luar istana, ia melihat keadaan kacau dan geger, terutama sekali di alun-alun. Tampak para prajurit berlarian ke sana ke mari membawa tombak. Ada pula prajurit-prajurit yang mengangkut teman-temannya yang terluka atau yang telah tewas.
Teringatlah Joko Wandiro akan pelaporan dua orang prajurit tadi. Di alun-alun ada dua orang wanita mengamuk, dua orang wanita musuh. Karena adanya pelaporan tentang mengamuknya dua orang wanita inilah sang prabu lalu membubarkan persidangan dan meninggalkannya. Karena gara-gara dua orang wanita itulah maka ia sampai dilupakan begitu saja sehingga ia ditegur dan diusir pengawal. Joko Wandiro membelokkan kakinya berjalan ke arah alun-alun. Ingin ia melihat siapa gerangan dua orang wanita yang demikian digdaya, berani melawan dan merobohkan para prajurit dan pengawal.

Dari jauh sudah kelihatan betapa di tengah alun-alun terjadi pertandingan hebat. Joko Wandiro mempercepat langkahnya dan ketika ia tiba di tempat pertempuran, ia memandang dengan kaget dan heran. Benar saja laporan tadi. Di situ terdapat dua orang wanita yang mengamuk. Dua orang wanita yang cantik-cantik, mengamuk dengan kaki tangan tanpa senjata. Akan tetapi gerakan mereka hebat sehingga para prajurit yang mengeroyok dan bersenjata itu tidak mampu mendesak mereka. Bahkan Patih Suroyudo sendiri bersama beberapa orang senopati yang tadi memandangnya penuh ejekan, kini berdiri dengan senjata di tangan dan ikut menyerang. Namun dua orang wanita itu benar-benar hebat dan gesit gerakan mereka. Hanya ki patih dan senopati yang baru keluar dari istana saja yang tidak roboh oleh sambaran tangan kedua orang wanita itu. Para prajurit biasa, baru terkena sambaran hawa pukulan saja sudah jatuh tunggang-langgang! Sepasang mata Joko Wandiro yang berpemandangan awas itu melihat hawa yang kotor dari ilmu hitam. Juga kedua wanita itu memiliki wajah cantik yang tidak sewajarnya, dengan kilatan sepasang mata genit dan cabul. Sekali pandang saja Joko Wandiro tahu bahwa dua orang wanita ini bukanlah orang baik-baik. Diam-diam ia menduga-duga siapa gerangan kedua orang wanita itu. Joko Wandiro memang belum pernah bertemu dengan dua orang wanita ini yang bukan lain adalah Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Mengapa kedua orang wanita sakti ini datang ke Panjalu dan mengamuk di alun-alun? Hal ini ada hubungannya dengan perbuatan Endang Patibroto. Telah kita ketahui betapa Endang Patibroto diajak gurunya, Dibyo Mamangkoro untuk menghadap sang prabu di Jenggala dan di sana kepandaiannya diuji oleh sang prabu. Gadis remaja ini disuruh menyelidiki keadaan di Panjalu dan mencuri bendera pusaka yang berkibar di puncak istana!
Gadis remaja yang sakti itu segera berangkat menuju Kerajaan Panjalu dan dengan kepandaiannya yang tinggi, malam hari itu ia berhasil menyelundup ke pekarangan belakang istana. Dengan cara melompat ke atas genteng istana seperti seekor kucing Candramawa, ia berhasil mencuri bendera pusaka yang sedang berkibar di atas puncak istana tertiup angin malam.

Ketika ia melompat turun, Endang Patibroto bertemu dengan dua orang perwira pengawal yang segera menerjang untuk menangkapnya. Akan tetapi dengan mudah Endang Patibroto merobohkan mereka, menggunakan golok mereka memenggal leher keduanya dan menjambak rambut dua buah kepala itu dibawa kembali ke Jenggala untuk bukti bahwa tugasnya telah terlaksana dengan baik! Tentu saja hal ini menggemparkan Jenggala. Sang prabu di Jenggaia merasa kaget, heran dan juga girang sekali. Tanpa menanti kembalinya Dibyo Mamangkoro lagi, sang prabu lalu mengangkat Endang Patibroto sebagai kepala pengawal istana! Semua senopati di Jenggala membicarakan hal ini dengan penuh kekaguman, memuji-muji Endang Patibroto setinggi langit, padahal mereka itu seorangpun tidak ada yang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kesaktian gadis remaja itu. Sudah lajim di dunia ini semenjak jaman dahulu sampai sekarang, setiap ada orang mencapai kemuliaan, sudah tentu ada orang lain yang merasa iri hati dan dengki. Hal ini tidak terluput pada diri Endang Patibroto. Banyak di antara para senopati dan orang-orang sakti yang menghambakan diri di Jenggala merasa iri hati.
Masih untung bagi Endang Patibroto bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro. Nama gurunya ini cukup mengerikan sehingga mereka yang merasa iri hati merasa ragu-ragu dan takut untuk mcngganggu murid Dibyo Mamangkoro. Mereka tidak takut terhadap Endang Patibroto yang mereka buktikan kesaktiannya, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang tidak gentar menghadapi Dibyo Mamangkoro. Di antara mereka yang merasa iri hati kepada Endang Patibroto, juga termasuk mereka yang terkenal sebagai orang-orang sakti yang membantu Kerajaan Jenggala, yaitu tokoh-tokoh yang sudah lama kita kenal dan yang sejak Sang Prabu Jenggala masih menjadi Pangeran Anom dahulu telah pula membantunya. Mereka ini adalah Cekel Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Sebelum Dibyo Mamangkoro dan muridnya, bersama pengikutnya Wirokolo, Sepasang Gagak dan anak buahnya datang ke Jenggala, mereka adalah orang-orang terhormat yang dianggap sebagai pembantu-pembantu utama.

Kini menyaksikan betapa murid Dibyo Mamangkoro seorang diri sanggup menyerbu Panjalu, berhasil mencuri bendera pusaka, tentu saja mereka merasa kedudukan mereka terancam. Apalagi setelah mendengar betapa sang prabu amat menghormat dan menyambut Endang Patibroto penuh kegembiraan, memberi gadis remaja itu kedudukan tinggi di dalam istana sebagai kepala semua pengawal pribadi sang prabu, mereka menjadi makin tidak enak. Sudah tentu saja yang merasa paling iri dan tidak enak di antara mereka, adalah Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Bukan hanya karena Endang Patibroto hanyalah seorang gadis remaja, akan tetapi terutama sekali karena mereka berdua pernah berusaha mcncuri bendera pusaka itu dan gagal!. Usaha Endang Patibroto yang berhasil baik itu merupakan tamparan bagi mereka berdua, maka untuk "menebus kekalahan" dan menebus muka, mereka berdua lalu pergi menyerbu ke Panjalu dan melakukan pengamukan di alun-alun! Tentu saja perbuatan mereka ini hanya terdorong hati panas dan untuk mengangkat kembali nama mereka yang jatuh oleh persaingan Endang Patibroto. Mereka berdua, betapapun saktinya, maklum bahwa hanya tenaga mereka berdua saja tidak mungkin dapat melawan prajurit dan pengawal Panjalu yang ribuan orang banyaknya. Merekapun bukan bermaksud untuk menaklukkan Panjalu hanya dengan tenaga mereka berdua, melainkan hanya untuk mengamuk, kemudian kalau kewalahan akan melarikan diri, kembali ke Jenggala dengan perasaan bangga. Tentu saja sang prabu di Jenggala akan mendengar hal ini dan akan menghargai mereka.

Demikianlah, ketika Joko Wandiro yang keluar dari istana Kerajaan Panjalu dengan hati mendongkol menonton keributan di alun-alun, ia melihat dua orang wanita cantik itu tengah mengamuk. Pasukan prajurit Panjalu sama sekali bukan lawan kedua orang wanita sakti ini, seperti mentimun melawan durian saja. Kalau saja perasaan hatinya tidak terpukul oleh penolakan yang dilakukan terhadap dirinya di dalam istana, tentu Joko Wandiro sudah menyerbu dan menghadapi dua orang wanita yang berhawa jahat itu. Akan tetapi karena hatinya masih mendongkol, ia kini hanya duduk di pinggiran, di atas akar pohon waringin yang tumbuh di pinggir alun-alun, menongkrong dan menonton pertandingan.
"Minggir! Biarkan kami menangkap iblis-iblis betina ini!"
Tiba-tiba terdengar bentakan. Para prajurit pengeroyok yang memang sejak tadi sudah gentar sekali, girang mendengar bentakan ini dan cepat-cepat mereka mundur sambil menarik pergi teman-teman yang menggeletak terluka.
Joko Wandiro kini terpaksa berdiri agar dapat menonton lebih jelas karena mundurnya para prajurit itu menjadi penghalang bagi penglihatannya.

<<< Bagian 099                                                                                     Bagian 101 >>>

No comments:

Post a Comment