"Kaupun agaknya hanya pandai berjanji seperti yang lain-lain, Joko Wandiro "
"Hamba
siap untuk diuji bila perlu, gusti."
"Engkau
berani menghadapi musuh? Melawan maling haguna yang sakti?"
Sejenak Joko
Wandiro tertegun, tidak mengerti apa yang dimaksudkan raja itu. Akan tetapi
ketika melirik ke kanan kiri untuk minta keterangan dari para penghadap, ia
melihat bahwa mereka itu memandang kepadanya dengan sinar mata mencemooh, ia
segera menyembah.
"Hamba
tidak akan mundur, demi menjunjung titah paduka."
Kembali Joko
Wandiro melirik ke kanan kiri karena telinganya yang tajam terlatih itu
mendengar suara tawa tertahan, suara penuh ejekan yang merupakan dengus dari
hidung. Ia maklum bahwa mereka itu diam-diam memandang rendah kepadanya dan
menganggap jawaban tadi seperti sebuah lelucon belaka. Akan tetapi sang prabu,
putera mendiang Prabu Airlangga, sedikitnya mewarisi ketajaman mata dan
kewaspadaan ayahnya. Sang prabu melihat sesuatu pada diri pemuda itu, sesuatu
yang tidak tampak oleh mata orang biasa. Sang prabu mengerti bahwa pemuda ini
bukan pemuda gunung biasa dan bahwa semua ucapannya tadi keluar dari lubuk
hati.
"Hemm,
Joko Wandiro. Kesanggupan dan kesetiaan saja tanpa kepandaian, takkan ada
gunanya. jika sewaktu-waktu kerajaan kedatangan musuh yang tangguh, beranikah
engkau menghadapi dan melawannya?"
"Hamba
berani asal mendapat titah paduka."
"Murid
siapakah engkau?"
Joko Wandiro
sudah mendapat pesan dari Resi Narotama agar jangan menyebut nama kakek itu,
apalagi di depan sang prabu di Panjalu.
"Hamba
murid seorang pertapa yang tidak mau disebut namanya, gusti. Kepandaian hamba
tidak ada artinya, akan tetapi dengan kebulatan tekad dan dengan berkah paduka,
kiranya hamba akan dapat melaksanakan tugas yang paduka titahkan kepada
hamba."
Girang hati
sang prabu mendengar kesanggupan ini. Agak jernih wajahnya. Pemuda ini boleh
diharapkan, sungguhpun masih amat disangsikan kepandaiannya. Kelihatannya hanya
seorang pemuda sederhana, sederhana lahir batinnya. Pada saat itu, terdengar
suara ribut-ribut di luar dan dua orang yang berpakaian prajurit menyerbu
masuk, muka mereka pucat sekali dan serta-merta mereka menjatuhkan diri
berlutut di depan anak tangga ruangan persidangan itu. Dengan tubuh menggigil
mereka menyembah kepada sang prabu. Para senopati dan hulubalang melempar
pandang marah kepada dua orang prajurit ini yang dianggap mengganggu.
"Heh,
bocah perajurit! Mengapa kalian berani lancang menghadap dan mengganggu
persidangan?" Sang prabu menegur sambil mengerutkan keningnya.
"Mohon
diberi ampun, gusti. Hamba berdua berani menghadap tanpa diperintah karena
terpaksa, hamba....... hamba........." Dua orang itu tergagap-gagap
ketakutan.
"Apakah
kalian ini sudah bosan hidup? Keparat! Hayo bikin laporan yang betul di hadapan
gusti prabu!" bentak ki patih yang sejak tadi sudah memandang dengan mata
melotot.
"Kalau
tidak, kuhancurkan kepala kalian!"
Melihat sikap
patih ini, kedua orang prajurit menjadi makin bingung dan gugup.
'Hamba.......
ham.......... "
Mereka menelan
ludah berkali-kali, akan tetapi tetap saja tidak dapat melanjutkan katanya
karena leher serasa tercekik. Ki patih makin marah dan sudah hendak bangkit
untuk memberi hajaran.
"Patih
Suroyudo, biarkan mereka tenang dan memberi laporan yang betul. Heh, bocah
prajurit. Jangan takut dan ceritakan, apa yang terjadi?" kata sang prabu.
"Ampun,
gusti. Di alun-alun ada dua orang musuh melakukan amuk. Banyak sudah para
prajurit dan perwira yang tewas. Mereka berdua amat digdaya dan menyebar maut
di antara prajurit. Sepak terjang mereka seperti iblis betina...."
"Apa? Dua
orang wanita?" Sang prabu memotong heran.
"Betul
seperti sabda paduka. Dua orang pengamuk itu adalah wanita-wanita cantik."
"Siapa
nama mereka?" Sang prabu memotong.
"Mereka
mengaku bernama Ni Nogogini dan Ni Durgogini, gusti...."
"Patih
Suroyuda, kiranya dua orang iblis itu yang datang lagi mengacau! Bawa pasukan
dan kerahkan senopati, tangkap mereka!"
"Paduka
jangan khawatir. Hamba akan menangkap mereka!" jawab Patih Suroyuda yang
segera pamit keluar diikuti para senopati dan hulubalang.
Karena sedang
pusing menghadapi banyak kekacauan, sang prabu meninggalkan ruangan itu, lupa
kepada Joko Wandiro yang masih duduk bersila. Setelah semua orang pergi,
barulah Joko Wandiro sadar bahwa ia ditinggalkan begitu saja. Selagi ia
bingung, seorang pengawal membentaknya,
"Heh
bocah gunung! Mau apa lagi di sini? Hayo keluar!"
"Tapi......!
tapi..... hamba ingin menghambakan diri kepada sang prabu.... "
"Bocah
seperti engkau ini mau bekerja apa di sini? Tidak tahukah engkau betapa sang
prabu sedang duka? Engkau tidak diterima, tahu? Hayo pergi keluar!"
Joko Wandiro
mendongkol sekali, akan tetapi ia menekan perasaannya dan bersikap sabar.
Setelah menarik napas panjang ia lalu keluar dari tempat itu. Diam-diam ia
berpikir, andaikata ia mengaku sebagai murid Resi Narotama yang dahulu
merupakan seorang patih junjungan di Kahuripan, agaknya tidak akan begini sikap
sang prabu dan para pengawal. Setelah ia tiba di luar istana, ia melihat
keadaan kacau dan geger, terutama sekali di alun-alun. Tampak para prajurit
berlarian ke sana ke mari membawa tombak. Ada pula prajurit-prajurit yang
mengangkut teman-temannya yang terluka atau yang telah tewas.
Teringatlah
Joko Wandiro akan pelaporan dua orang prajurit tadi. Di alun-alun ada dua orang
wanita mengamuk, dua orang wanita musuh. Karena adanya pelaporan tentang
mengamuknya dua orang wanita inilah sang prabu lalu membubarkan persidangan dan
meninggalkannya. Karena gara-gara dua orang wanita itulah maka ia sampai
dilupakan begitu saja sehingga ia ditegur dan diusir pengawal. Joko Wandiro
membelokkan kakinya berjalan ke arah alun-alun. Ingin ia melihat siapa gerangan
dua orang wanita yang demikian digdaya, berani melawan dan merobohkan para
prajurit dan pengawal.
Dari jauh
sudah kelihatan betapa di tengah alun-alun terjadi pertandingan hebat. Joko
Wandiro mempercepat langkahnya dan ketika ia tiba di tempat pertempuran, ia
memandang dengan kaget dan heran. Benar saja laporan tadi. Di situ terdapat dua
orang wanita yang mengamuk. Dua orang wanita yang cantik-cantik, mengamuk
dengan kaki tangan tanpa senjata. Akan tetapi gerakan mereka hebat sehingga
para prajurit yang mengeroyok dan bersenjata itu tidak mampu mendesak mereka.
Bahkan Patih Suroyudo sendiri bersama beberapa orang senopati yang tadi
memandangnya penuh ejekan, kini berdiri dengan senjata di tangan dan ikut
menyerang. Namun dua orang wanita itu benar-benar hebat dan gesit gerakan
mereka. Hanya ki patih dan senopati yang baru keluar dari istana saja yang
tidak roboh oleh sambaran tangan kedua orang wanita itu. Para prajurit biasa,
baru terkena sambaran hawa pukulan saja sudah jatuh tunggang-langgang! Sepasang
mata Joko Wandiro yang berpemandangan awas itu melihat hawa yang kotor dari
ilmu hitam. Juga kedua wanita itu memiliki wajah cantik yang tidak sewajarnya,
dengan kilatan sepasang mata genit dan cabul. Sekali pandang saja Joko Wandiro
tahu bahwa dua orang wanita ini bukanlah orang baik-baik. Diam-diam ia
menduga-duga siapa gerangan kedua orang wanita itu. Joko Wandiro memang belum pernah
bertemu dengan dua orang wanita ini yang bukan lain adalah Ni Durgogini dan Ni
Nogogini. Mengapa kedua orang wanita sakti ini datang ke Panjalu dan mengamuk
di alun-alun? Hal ini ada hubungannya dengan perbuatan Endang Patibroto. Telah
kita ketahui betapa Endang Patibroto diajak gurunya, Dibyo Mamangkoro untuk
menghadap sang prabu di Jenggala dan di sana kepandaiannya diuji oleh sang
prabu. Gadis remaja ini disuruh menyelidiki keadaan di Panjalu dan mencuri
bendera pusaka yang berkibar di puncak istana!
Gadis remaja
yang sakti itu segera berangkat menuju Kerajaan Panjalu dan dengan
kepandaiannya yang tinggi, malam hari itu ia berhasil menyelundup ke pekarangan
belakang istana. Dengan cara melompat ke atas genteng istana seperti seekor
kucing Candramawa, ia berhasil mencuri bendera pusaka yang sedang berkibar di
atas puncak istana tertiup angin malam.
Ketika ia
melompat turun, Endang Patibroto bertemu dengan dua orang perwira pengawal yang
segera menerjang untuk menangkapnya. Akan tetapi dengan mudah Endang Patibroto
merobohkan mereka, menggunakan golok mereka memenggal leher keduanya dan
menjambak rambut dua buah kepala itu dibawa kembali ke Jenggala untuk bukti
bahwa tugasnya telah terlaksana dengan baik! Tentu saja hal ini menggemparkan
Jenggala. Sang prabu di Jenggaia merasa kaget, heran dan juga girang sekali.
Tanpa menanti kembalinya Dibyo Mamangkoro lagi, sang prabu lalu mengangkat
Endang Patibroto sebagai kepala pengawal istana! Semua senopati di Jenggala
membicarakan hal ini dengan penuh kekaguman, memuji-muji Endang Patibroto
setinggi langit, padahal mereka itu seorangpun tidak ada yang pernah
menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kesaktian gadis remaja itu. Sudah
lajim di dunia ini semenjak jaman dahulu sampai sekarang, setiap ada orang mencapai
kemuliaan, sudah tentu ada orang lain yang merasa iri hati dan dengki. Hal ini
tidak terluput pada diri Endang Patibroto. Banyak di antara para senopati dan
orang-orang sakti yang menghambakan diri di Jenggala merasa iri hati.
Masih untung
bagi Endang Patibroto bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro. Nama gurunya ini
cukup mengerikan sehingga mereka yang merasa iri hati merasa ragu-ragu dan
takut untuk mcngganggu murid Dibyo Mamangkoro. Mereka tidak takut terhadap
Endang Patibroto yang mereka buktikan kesaktiannya, akan tetapi tak seorangpun
di antara mereka yang tidak gentar menghadapi Dibyo Mamangkoro. Di antara
mereka yang merasa iri hati kepada Endang Patibroto, juga termasuk mereka yang
terkenal sebagai orang-orang sakti yang membantu Kerajaan Jenggala, yaitu
tokoh-tokoh yang sudah lama kita kenal dan yang sejak Sang Prabu Jenggala masih
menjadi Pangeran Anom dahulu telah pula membantunya. Mereka ini adalah Cekel
Aksomolo, Ki Warok Gendroyono, Ki Krendoyakso, Ni Durgogini dan Ni Nogogini.
Sebelum Dibyo Mamangkoro dan muridnya, bersama pengikutnya Wirokolo, Sepasang
Gagak dan anak buahnya datang ke Jenggala, mereka adalah orang-orang terhormat
yang dianggap sebagai pembantu-pembantu utama.
Kini
menyaksikan betapa murid Dibyo Mamangkoro seorang diri sanggup menyerbu
Panjalu, berhasil mencuri bendera pusaka, tentu saja mereka merasa kedudukan
mereka terancam. Apalagi setelah mendengar betapa sang prabu amat menghormat
dan menyambut Endang Patibroto penuh kegembiraan, memberi gadis remaja itu
kedudukan tinggi di dalam istana sebagai kepala semua pengawal pribadi sang
prabu, mereka menjadi makin tidak enak. Sudah tentu saja yang merasa paling iri
dan tidak enak di antara mereka, adalah Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Bukan
hanya karena Endang Patibroto hanyalah seorang gadis remaja, akan tetapi
terutama sekali karena mereka berdua pernah berusaha mcncuri bendera pusaka itu
dan gagal!. Usaha Endang Patibroto yang berhasil baik itu merupakan tamparan
bagi mereka berdua, maka untuk "menebus kekalahan" dan menebus muka,
mereka berdua lalu pergi menyerbu ke Panjalu dan melakukan pengamukan di
alun-alun! Tentu saja perbuatan mereka ini hanya terdorong hati panas dan untuk
mengangkat kembali nama mereka yang jatuh oleh persaingan Endang Patibroto.
Mereka berdua, betapapun saktinya, maklum bahwa hanya tenaga mereka berdua saja
tidak mungkin dapat melawan prajurit dan pengawal Panjalu yang ribuan orang
banyaknya. Merekapun bukan bermaksud untuk menaklukkan Panjalu hanya dengan
tenaga mereka berdua, melainkan hanya untuk mengamuk, kemudian kalau kewalahan
akan melarikan diri, kembali ke Jenggala dengan perasaan bangga. Tentu saja
sang prabu di Jenggala akan mendengar hal ini dan akan menghargai mereka.
Demikianlah,
ketika Joko Wandiro yang keluar dari istana Kerajaan Panjalu dengan hati
mendongkol menonton keributan di alun-alun, ia melihat dua orang wanita cantik
itu tengah mengamuk. Pasukan prajurit Panjalu sama sekali bukan lawan kedua
orang wanita sakti ini, seperti mentimun melawan durian saja. Kalau saja
perasaan hatinya tidak terpukul oleh penolakan yang dilakukan terhadap dirinya
di dalam istana, tentu Joko Wandiro sudah menyerbu dan menghadapi dua orang
wanita yang berhawa jahat itu. Akan tetapi karena hatinya masih mendongkol, ia
kini hanya duduk di pinggiran, di atas akar pohon waringin yang tumbuh di
pinggir alun-alun, menongkrong dan menonton pertandingan.
"Minggir!
Biarkan kami menangkap iblis-iblis betina ini!"
Tiba-tiba
terdengar bentakan. Para prajurit pengeroyok yang memang sejak tadi sudah
gentar sekali, girang mendengar bentakan ini dan cepat-cepat mereka mundur
sambil menarik pergi teman-teman yang menggeletak terluka.
Joko Wandiro
kini terpaksa berdiri agar dapat menonton lebih jelas karena mundurnya para
prajurit itu menjadi penghalang bagi penglihatannya.
No comments:
Post a Comment