Ia melihat betapa yang melompat maju adalah dua orang senopati yang tadi ikut menghadap sang prabu. Dua orang senopati yang tadi berbisik-bisik ketika ia menghadap. Mereka itu tampak kuat dan sinar mata mereka membayangkan bahwa sedikit banyak mereka memiliki aji kesaktian.
"He,
tahan dulu! Dua orang perempuan setan dari mana berani mernbikin kacau di
Panjalu? Mengakulah sebelum kami turun tangan membunuhmu!" teriak seorang
di antara mereka berdua yang kumisnya sekepal sebelah.
"Bukankah
kalian ini yang pernah mengacau pada waktu malam hari beberapa bulan yang
lalu?"
Ni Durgogini
dan Ni Nogogini berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Mereka tampak gagah dan
cantik sekali. Benar hebat dua orang wanita ini. Ni Durgogini yang dahulu
pernah menjadi selir terkasih Ki Patih Narotama dan bernama Lasmini adalah
seorang wanita yang usianya sudah lima puluh enam tahun, akan tetapi masih
tampak muda dan cantik jelita seperti wanita berusia dua puluh enam tahun saja!
Demikian pula Ni Nogogini, dahulu bekas selir Sang Prabu Airlangga dan bernama
Mandari, usianyapun hanya dua tahun lebih muda daripada Lasmini, akan tetapi
juga masih amat muda dan cantik jelita. Semua ini adalah berkat khasiat obat
Suket-sungsang, semacam rumput laut yang amat sukar didapat, ditambah dengan
ilmu hitam mereka. Ketika Ni Durgogini tertawa, giginya putih indah ber kilat.
"Hi-hik,
orang-orang Panjalu! Ketahuilah, aku bernama Durgogini dan ini adikku Ni
Nogogini. Beberapa bulan yang lalu kami menyerbu dan kalian sudah merasakan
hajaran kami. Hayo, orang Panjalu, keluarkan semua jagomu dan lawanlah kami,
dua orang kepercayaan sang prabu di Jenggala!"
"Ehh,
kalian ini dua ekor tikus, lebih baik mundur saja. Suruh senopati yang paling
sakti maju. Yang kalian andalkan hanya kumis tebal saja, huhhh,
menjijikkan!" Ni Nogogini berkata, kemudian dua orang wanita itu
tertawa-tawa geli.
Melihat lagak
dua orang wanita itu, dua orang senopati muda menjadi tertarik hatinya. Mereka
berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa saat itu, Ni Durgogini dan Ni Nogogini
telah mengerahkan aji pengasihan Guno Asmoro sehingga dalam pandang mata dua
orang senopati itu mereka yang tersenyum-senyum tampak makin cantik jelita
seperti dua orang bidadari yang baru turun dari kahyangan! Lebih celaka lagi,
mereka berdua adalah laki-laki yang tak dapat menahan nafsu berahi kalau
berhadapan dengan wanita cantik. Maka seketika lenyaplah kemarahan mereka,
lenyap nafsu mereka untuk menangkap atau membunuh dua orang wanita musuh yang
membikin kacau itu. Si kumis tebal mendengar ucapan Ni Nogogini yang
menyinggung kumisnya, merasa seperti dipuji, mengira bahwa Ni Nogogini jatuh
hati kepadanya. Ia lalu melangkah maju dan dengan cengar-cengir memasang aksi,
mengelus-elus dan memilin-milin kumisnya, ia berkata,
"Duhai
yayi dewi nan ayu rupawan melebihi bidadari! Sayang nian apabila yayi dewi nan
cantik jelita menerima hukuman mati. Lebih baik menyerahlah saja, dewi.
Menyerahlah kepada kakanda Diroprono, heh Ni Nogogini. Kakanda yang akan mohon
kepada gusti prabu agar adinda diampuni dan menjadi isteri kakanda!"
Bagaikan orang
mabok senopati Diroprono merayu-rayu Ni Nogogini yang tersenyum makin manis.
"Hi-hik!"
Ni Nogogini tertawa genit sambil menutupi mulutnya dengan tangan kiri.
"Engkau
ingin memperisteri aku? Diroprono, namamu cukup gagah dan aku suka kepadamu.
Akan tetapi......, kumismu itu lho yang nggilani (menjijikkan). Asal kaucukur
kelimis dulu kumismu, baru aku mau mempertimbangkan pinanganmu!"
"Heh......
? Kumisku dicukur kelimis ? Bagaimana ini? Kumisku bagus seperti kumis Raden
Gatotkaca kok disuruh buang? Apa kau tidak kecewa nanti, manis? Tapi biarlah,
asal engkau yang mencukurnya, aku rela berkorban kumis!"
Setelah
berkata demikian, senopati Diroprono melangkah maju seperti orang mabok,
mendekatkan mukanya pada Ni Nogogini. Melihat betapa lawannya ini sudah
terjatuh ke dalam pengaruh aji pengasihan, Ni Nogogini sambil tertawa lalu
menggerakkan tangan mencengkeram ke depan dan sekali renggut saja kumis yang
tebal itu telah dicabutnya dari atas bibir.
"Aduhhh.....!"
Diroprono
mencengkeram bibir atasnya yang robek dan berdarah. Akan tetapi pada saat itu,
sebuah tendangan susulan yang dilakukan Ni Nogogini sambil tertawa terkekeh
membuat tubuhnya terlempar. Adapun senopati muda yang ke dua, seperti Diroprono,
telah mabok oleh kekuasaan aji pengasihan itu dan seketika tubuhnya menjadi
lemas, lenyap semua semangat hendak bertanding dan tanpa disadari lagi ia sudah
menjatuhkan diri berlutut hendak memeluk kaki Ni Durgogini! Tentu saja iapun
menjadi makanan empuk bagi wanita sakti itu. yang sekali pukul telah berhasil
membuat senopati muda itu terjungkal tak dapat bangkit kembali.
Joko Wandiro
yang menyaksikan semua itu menjadi makin tak senang. Seperti itu sajakah
perwira Panjalu? Sungguh memalukan sekali. Dan dua orang wanita itu sungguh
keji.
"Amuk-amuk!
Mana senopati-senopati pilihan di Panjalu? Mana mereka yang beberapa bulan yang
lalu telah mengeroyok kami? Hayo keluarlah jago-jago Panjalu! Inilah Ni
Durgogini menanti tanding!" Durgogini bersumbar dengan lagak sombong.
"Bukankah
Resi Telomoyo membantu Panjalu? Mana monyet tua itu? Dan juga Pujo dan dua
orang isterinya. Hayo keluarlah!" teriak pula Ni Nogogini.
Mendengar
disebutnya ayah angkat atau gurunya, Joko Wandiro terkejut juga, sungguhpun ia
sudah mendengar dari Resi Narotama bahwa guru pertama atau ayah angkatnya itu
membantu Panjalu bersama dua orang isterinya. Ia tidak tahu apakah Pujo berada
di Panjalu ataukah masih berada di Bayuwismo di pantai Laut Selatan. Melihat
sikap congkak dan tantangan yang ditujukan kepada Pujo, panas juga hati Joko
Wandiro. Ia sudah melihat Ki Patih Suroyudo dan beberapa orang senopati tua
yang tampaknya memiliki kepandaian berarti, tidak seperti dua orang senopati
muda tadi, sudah maju. Akan tetapi Joko Wandiro sudah mendahului mereka,
meloncat dengan gerakan sigap sehingga tahu-tahu pemuda ini telah berhadapan
dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Ketika dua orang sakti itu memandang,
sejenak mereka tertegun. Dengan pandang mata mereka yang awas, kedua orang
wanita sakti ini mengerti bahwa pemuda di depan mereka ini bukanlah orang
sembarangan. Dengan kagum mereka memandang pemuda itu. Timbul rasa sayang di
hati wanita cabul ini.
"Eh-eh,
bocah bagus. Siapakah engkau? Pakaianmu bukan seperti seorang ponggawa
kerajaan. Apa kehendakmu maju menghadapi kami?" tanya Ni Durgogini sambil
tersenyum memikat.
"Bocah
sigit, siapakah namamu? Kalau kami pulang nanti, ikutlah kami karena kau
mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi murid kami yang terkasih!"
kata Ni Nogogini. Kali ini mereka mengerahkan aji pengasihan bukan untuk
melumpuhkan dan mengalahkan, melainkan terdorong hati tertarik dan rasa suka.
Joko Wandiro
tidak biasa bersikap kasar, sungguhpun ia maklum akan hawa mujijat yang
seakan-akan menarik dirinya mendekat dan membuat kedua orang wanita itu
seakan-akan menjadi makin cantik. Diam-diam ia lalu membaca mantera pelindung
diri dari ilmu hitam, kemudian tersenyum menjawab,
"Namaku
Joko Wandiro dan aku menghadapi kalian untuk menyambut tantanganmu tadi. Aku
mewakili Pujo, guruku dan juga ayah angkatku!"
Dua orang
wanita itu tersenyum lebar. Pujo sendiri bukan lawan mereka, apalagi hanya
seorang muridnya. Akan tetapi diam-diam mereka terheran bagaimana Pujo dapat
mempunyai seorang murid seperti ini. Mereka saling pandang, mulai terheran
mengapa pemuda ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda terpengaruh Aji Guno
Asmoro! Ni Durgogini mengerahkan tenaga batinnya, lalu melangkah maju dengan
langkah bergaya, lenggangnya menarik seperti orang menari, matanya disipitkan,
hidungnya kembang-kempis. Demikian hebat pengaruh Guno Asmoro yang diterapkan
oleh Ni Durgogini pada saat itu sehingga biarpun aji itu ditujukan kepada Joko
Wandiro, namun para perwira dan tamtama yang mengepung alun-alun itu ikut
terpengaruh dan terpesona menatap wajah cantik jelita dan bentuk tubuh padat
menggiurkan itu.
"Joko
Wandiro, bocah bagus, mari ke sini, kuberi peluk cium......!" suara Ni
Durgogini merdu merayu bagaikan orang bertembang.
"Ni
Durgogini dan Ni Nogogini, hentikan permainan kotor ini! Ilmu setanmu itu hanya
merobohkan hati laki-laki mata keranjang. Bagiku hanya menimbulkan muak dan
jijik! Lebih baik lekas minggat kalian dari sini!"
"Aiiihhhh!!"
Ni Durgogini
tersentak kaget dan meloncat mundur. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah.
Para senopati yang kini melihat wajah yang tidak diselimuti Aji Guno Asmoro
lagi juga kaget karena wajah kedua orang wanita itu kini menjadi beringas.
Mereka semua terlongong menyaksikan betapa pemuda yang tadi menghadap sang
prabu yang mereka jadikan bahan ejekan, kini dengan penuh keberanian menghadapi
dua orang wanita sakti seperti iblis itu.
"Bocah
keparat, rasakan pukulan mautku!" Ni Durgogini berteriak marah.
"Bocah
tak tahu disayang, lebih baik mampus!" Ni Nogogini juga berseru, kedua
orang wanita itu lalu meloncat maju dan menyerang Joko Wandiro dengaan tamparan
tangan mereka yang ampuh.
Gerakan mereka
serupa dan ketika mereka berdua menggerakkan tangan kanan dengan jari-jari
terbuka, terdengar suara mencicit nyaring memekakkan telinga. Itulah aji
pukulan Ampak-ampak yang ampuhnya menggila. Joko Wandiro mengerti bahwa ia
menghadapi serangan dahsyat. Hawa dingin yang diakibatkan sambaran tangan itu
memberi tahu kepadanya bahwa kedua orang lawannya mempergunakan pukulan yang
berdasarkan hawa sakti di dalam tubuh, pukulan berhawa dingin yang amat
berbahaya bagi tulang-tulangnya. Oleh karena itu, iapun cepat mengerahkan hawa
sakti ke arah kedua tangannya, kemudian dengan tabah ia memapaki kedua lawannya
ini sambil mengipatkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka pula. Untuk
melawan hawa dingin yang keluar dari tangan lawan, ia sengaja menggunakan Aji
Bojro Dahono dan tangannya digerakkan dengan pukulan Pethit Nogo.
"Plakk..........
plakkk......!!"
Tamparan kedua
orang wanita sakti itu ditangkisnya dan sengaja Joko Wandiro mengadu telapak
tangannya dengan telapak tangan mereka.
"Iiiiihhh.......!!"
Ni Durgogini
dan Ni Nogogini mengeluarkan jerit nyaring ketika tubuh mereka terlempar sampai
lima meter lebih seakan-akan dilontarkan tenaga mujijat. Namun sebagai dua orang
wanita yang memiliki kedigdayaan, mereka dapat meloncat turun dan tidak sampai
terbanting. Kemarahan mereka meluap-luap, bercampur rasa keheranan dan
penasaran.
Adapun Ki
Patih Suroyudo dan para perwira kerajaan, kini benar-benar berdiri dengan mata
terbelalak lebar dan mulut ternganga. Andaikata ada lalat memasuki mulut pada
saat itu, agaknya mereka tidak merasakannya. Mereka tenggelan ke dalam
keheranan yang amat sangat. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri,
sudah tentu takkan ada yang percaya kalau mendengar bahwa pemuda gunung yang
tadi minta pekerjaan di istana, kini dalam gebrakan pertama sudah sanggup
membuat Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar sampai jauh!
Dengan dua
kali loncatan, Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah kembali ke hadapan Joko
Wandiro. Sepasang mata mereka berkilat-kilat penuh kemarahan, wajah mereka kini
cemberut kehilangan manisnya, kening berkerut. Sinar maut membayang pada mata
mereka yang dengan penuh kebencian menentang wajah Joko Wandiro. Pemuda ini
tetap tenang, lalu berkata.
"Sesungguhnya
aku tidak mencari permusuhan. Andaikata kalian ini tidak melakukan sesuatu yang
jahat, tidak nanti aku akan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi, melihat
kalian mengamuk di alun-alun Kerajaan Panjalu, membunuh banyak orang kemudian
malah menantang-nantang semua orang yang terkenal sebagai satria-satria utama,
tidak mungkin aku mendiamkannya saja."
"bocah
keparat!"
"Jahanam
sialan!"
"Ni
Durgogini dan Ni Nogogini, belum terlambat apabila kalian insyaf dan pergi dari
sini."
Akan tetapi
dua orang wanita itu mana mau berhenti sampai sekian saja? Sambil memekik
nyaring, suaranya melengking seperti bukan suara manusia lagi, kakak beradik
yang sakti mandraguna ini lalu menerjang Joko Wandiro. Gerakan mereka cekatan
sekali, tubuh mereka seperti lenyap dan hanya tampak bayangan mereka
menyambar-nyambar di sekeliling Joko Wandiro. Apabila bayangan tangan mereka
berkelebat, terdengar angin bersiutan. membuat debu beterbangan daun daun pohon
waringin yang kecil-kecil itu bergoyang-goyang. Namun Joko Wandiro menghadapi
mereka dengan tenang. Gerakannyapun lambat dan tenang, namun kedua tangannya
yang bergerak itu membentuk lingkaran-lingkaran hawa sakti yang amat kuat, yang
merupakan benteng melindungi tubuhnya daripada terjangan-terjangan lawan. Semua
pukulan lawan, sebelum dapat menyentuh tubuhnya telah bertemu dengan lingkaran
hawa sakti itu dan membalik.
No comments:
Post a Comment