Badai Laut Selatan ; Bagian 101


Ia melihat betapa yang melompat maju adalah dua orang senopati yang tadi ikut menghadap sang prabu. Dua orang senopati yang tadi berbisik-bisik ketika ia menghadap. Mereka itu tampak kuat dan sinar mata mereka membayangkan bahwa sedikit banyak mereka memiliki aji kesaktian.
"He, tahan dulu! Dua orang perempuan setan dari mana berani mernbikin kacau di Panjalu? Mengakulah sebelum kami turun tangan membunuhmu!" teriak seorang di antara mereka berdua yang kumisnya sekepal sebelah.
"Bukankah kalian ini yang pernah mengacau pada waktu malam hari beberapa bulan yang lalu?"
Ni Durgogini dan Ni Nogogini berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Mereka tampak gagah dan cantik sekali. Benar hebat dua orang wanita ini. Ni Durgogini yang dahulu pernah menjadi selir terkasih Ki Patih Narotama dan bernama Lasmini adalah seorang wanita yang usianya sudah lima puluh enam tahun, akan tetapi masih tampak muda dan cantik jelita seperti wanita berusia dua puluh enam tahun saja! Demikian pula Ni Nogogini, dahulu bekas selir Sang Prabu Airlangga dan bernama Mandari, usianyapun hanya dua tahun lebih muda daripada Lasmini, akan tetapi juga masih amat muda dan cantik jelita. Semua ini adalah berkat khasiat obat Suket-sungsang, semacam rumput laut yang amat sukar didapat, ditambah dengan ilmu hitam mereka. Ketika Ni Durgogini tertawa, giginya putih indah ber kilat.
"Hi-hik, orang-orang Panjalu! Ketahuilah, aku bernama Durgogini dan ini adikku Ni Nogogini. Beberapa bulan yang lalu kami menyerbu dan kalian sudah merasakan hajaran kami. Hayo, orang Panjalu, keluarkan semua jagomu dan lawanlah kami, dua orang kepercayaan sang prabu di Jenggala!"
"Ehh, kalian ini dua ekor tikus, lebih baik mundur saja. Suruh senopati yang paling sakti maju. Yang kalian andalkan hanya kumis tebal saja, huhhh, menjijikkan!" Ni Nogogini berkata, kemudian dua orang wanita itu tertawa-tawa geli.

Melihat lagak dua orang wanita itu, dua orang senopati muda menjadi tertarik hatinya. Mereka berdua ini sama sekali tidak tahu bahwa saat itu, Ni Durgogini dan Ni Nogogini telah mengerahkan aji pengasihan Guno Asmoro sehingga dalam pandang mata dua orang senopati itu mereka yang tersenyum-senyum tampak makin cantik jelita seperti dua orang bidadari yang baru turun dari kahyangan! Lebih celaka lagi, mereka berdua adalah laki-laki yang tak dapat menahan nafsu berahi kalau berhadapan dengan wanita cantik. Maka seketika lenyaplah kemarahan mereka, lenyap nafsu mereka untuk menangkap atau membunuh dua orang wanita musuh yang membikin kacau itu. Si kumis tebal mendengar ucapan Ni Nogogini yang menyinggung kumisnya, merasa seperti dipuji, mengira bahwa Ni Nogogini jatuh hati kepadanya. Ia lalu melangkah maju dan dengan cengar-cengir memasang aksi, mengelus-elus dan memilin-milin kumisnya, ia berkata,
"Duhai yayi dewi nan ayu rupawan melebihi bidadari! Sayang nian apabila yayi dewi nan cantik jelita menerima hukuman mati. Lebih baik menyerahlah saja, dewi. Menyerahlah kepada kakanda Diroprono, heh Ni Nogogini. Kakanda yang akan mohon kepada gusti prabu agar adinda diampuni dan menjadi isteri kakanda!"
Bagaikan orang mabok senopati Diroprono merayu-rayu Ni Nogogini yang tersenyum makin manis.
"Hi-hik!" Ni Nogogini tertawa genit sambil menutupi mulutnya dengan tangan kiri.
"Engkau ingin memperisteri aku? Diroprono, namamu cukup gagah dan aku suka kepadamu. Akan tetapi......, kumismu itu lho yang nggilani (menjijikkan). Asal kaucukur kelimis dulu kumismu, baru aku mau mempertimbangkan pinanganmu!"
"Heh...... ? Kumisku dicukur kelimis ? Bagaimana ini? Kumisku bagus seperti kumis Raden Gatotkaca kok disuruh buang? Apa kau tidak kecewa nanti, manis? Tapi biarlah, asal engkau yang mencukurnya, aku rela berkorban kumis!"

Setelah berkata demikian, senopati Diroprono melangkah maju seperti orang mabok, mendekatkan mukanya pada Ni Nogogini. Melihat betapa lawannya ini sudah terjatuh ke dalam pengaruh aji pengasihan, Ni Nogogini sambil tertawa lalu menggerakkan tangan mencengkeram ke depan dan sekali renggut saja kumis yang tebal itu telah dicabutnya dari atas bibir.
"Aduhhh.....!"
Diroprono mencengkeram bibir atasnya yang robek dan berdarah. Akan tetapi pada saat itu, sebuah tendangan susulan yang dilakukan Ni Nogogini sambil tertawa terkekeh membuat tubuhnya terlempar. Adapun senopati muda yang ke dua, seperti Diroprono, telah mabok oleh kekuasaan aji pengasihan itu dan seketika tubuhnya menjadi lemas, lenyap semua semangat hendak bertanding dan tanpa disadari lagi ia sudah menjatuhkan diri berlutut hendak memeluk kaki Ni Durgogini! Tentu saja iapun menjadi makanan empuk bagi wanita sakti itu. yang sekali pukul telah berhasil membuat senopati muda itu terjungkal tak dapat bangkit kembali.
Joko Wandiro yang menyaksikan semua itu menjadi makin tak senang. Seperti itu sajakah perwira Panjalu? Sungguh memalukan sekali. Dan dua orang wanita itu sungguh keji.
"Amuk-amuk! Mana senopati-senopati pilihan di Panjalu? Mana mereka yang beberapa bulan yang lalu telah mengeroyok kami? Hayo keluarlah jago-jago Panjalu! Inilah Ni Durgogini menanti tanding!" Durgogini bersumbar dengan lagak sombong.
"Bukankah Resi Telomoyo membantu Panjalu? Mana monyet tua itu? Dan juga Pujo dan dua orang isterinya. Hayo keluarlah!" teriak pula Ni Nogogini.

Mendengar disebutnya ayah angkat atau gurunya, Joko Wandiro terkejut juga, sungguhpun ia sudah mendengar dari Resi Narotama bahwa guru pertama atau ayah angkatnya itu membantu Panjalu bersama dua orang isterinya. Ia tidak tahu apakah Pujo berada di Panjalu ataukah masih berada di Bayuwismo di pantai Laut Selatan. Melihat sikap congkak dan tantangan yang ditujukan kepada Pujo, panas juga hati Joko Wandiro. Ia sudah melihat Ki Patih Suroyudo dan beberapa orang senopati tua yang tampaknya memiliki kepandaian berarti, tidak seperti dua orang senopati muda tadi, sudah maju. Akan tetapi Joko Wandiro sudah mendahului mereka, meloncat dengan gerakan sigap sehingga tahu-tahu pemuda ini telah berhadapan dengan Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Ketika dua orang sakti itu memandang, sejenak mereka tertegun. Dengan pandang mata mereka yang awas, kedua orang wanita sakti ini mengerti bahwa pemuda di depan mereka ini bukanlah orang sembarangan. Dengan kagum mereka memandang pemuda itu. Timbul rasa sayang di hati wanita cabul ini.
"Eh-eh, bocah bagus. Siapakah engkau? Pakaianmu bukan seperti seorang ponggawa kerajaan. Apa kehendakmu maju menghadapi kami?" tanya Ni Durgogini sambil tersenyum memikat.
"Bocah sigit, siapakah namamu? Kalau kami pulang nanti, ikutlah kami karena kau mempunyai bakat yang baik sekali untuk menjadi murid kami yang terkasih!" kata Ni Nogogini. Kali ini mereka mengerahkan aji pengasihan bukan untuk melumpuhkan dan mengalahkan, melainkan terdorong hati tertarik dan rasa suka.
Joko Wandiro tidak biasa bersikap kasar, sungguhpun ia maklum akan hawa mujijat yang seakan-akan menarik dirinya mendekat dan membuat kedua orang wanita itu seakan-akan menjadi makin cantik. Diam-diam ia lalu membaca mantera pelindung diri dari ilmu hitam, kemudian tersenyum menjawab,
"Namaku Joko Wandiro dan aku menghadapi kalian untuk menyambut tantanganmu tadi. Aku mewakili Pujo, guruku dan juga ayah angkatku!"

Dua orang wanita itu tersenyum lebar. Pujo sendiri bukan lawan mereka, apalagi hanya seorang muridnya. Akan tetapi diam-diam mereka terheran bagaimana Pujo dapat mempunyai seorang murid seperti ini. Mereka saling pandang, mulai terheran mengapa pemuda ini belum juga memperlihatkan tanda-tanda terpengaruh Aji Guno Asmoro! Ni Durgogini mengerahkan tenaga batinnya, lalu melangkah maju dengan langkah bergaya, lenggangnya menarik seperti orang menari, matanya disipitkan, hidungnya kembang-kempis. Demikian hebat pengaruh Guno Asmoro yang diterapkan oleh Ni Durgogini pada saat itu sehingga biarpun aji itu ditujukan kepada Joko Wandiro, namun para perwira dan tamtama yang mengepung alun-alun itu ikut terpengaruh dan terpesona menatap wajah cantik jelita dan bentuk tubuh padat menggiurkan itu.
"Joko Wandiro, bocah bagus, mari ke sini, kuberi peluk cium......!" suara Ni Durgogini merdu merayu bagaikan orang bertembang.
"Ni Durgogini dan Ni Nogogini, hentikan permainan kotor ini! Ilmu setanmu itu hanya merobohkan hati laki-laki mata keranjang. Bagiku hanya menimbulkan muak dan jijik! Lebih baik lekas minggat kalian dari sini!"
"Aiiihhhh!!"
Ni Durgogini tersentak kaget dan meloncat mundur. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Para senopati yang kini melihat wajah yang tidak diselimuti Aji Guno Asmoro lagi juga kaget karena wajah kedua orang wanita itu kini menjadi beringas. Mereka semua terlongong menyaksikan betapa pemuda yang tadi menghadap sang prabu yang mereka jadikan bahan ejekan, kini dengan penuh keberanian menghadapi dua orang wanita sakti seperti iblis itu.
"Bocah keparat, rasakan pukulan mautku!" Ni Durgogini berteriak marah.
"Bocah tak tahu disayang, lebih baik mampus!" Ni Nogogini juga berseru, kedua orang wanita itu lalu meloncat maju dan menyerang Joko Wandiro dengaan tamparan tangan mereka yang ampuh.

Gerakan mereka serupa dan ketika mereka berdua menggerakkan tangan kanan dengan jari-jari terbuka, terdengar suara mencicit nyaring memekakkan telinga. Itulah aji pukulan Ampak-ampak yang ampuhnya menggila. Joko Wandiro mengerti bahwa ia menghadapi serangan dahsyat. Hawa dingin yang diakibatkan sambaran tangan itu memberi tahu kepadanya bahwa kedua orang lawannya mempergunakan pukulan yang berdasarkan hawa sakti di dalam tubuh, pukulan berhawa dingin yang amat berbahaya bagi tulang-tulangnya. Oleh karena itu, iapun cepat mengerahkan hawa sakti ke arah kedua tangannya, kemudian dengan tabah ia memapaki kedua lawannya ini sambil mengipatkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka pula. Untuk melawan hawa dingin yang keluar dari tangan lawan, ia sengaja menggunakan Aji Bojro Dahono dan tangannya digerakkan dengan pukulan Pethit Nogo.
"Plakk.......... plakkk......!!"
Tamparan kedua orang wanita sakti itu ditangkisnya dan sengaja Joko Wandiro mengadu telapak tangannya dengan telapak tangan mereka.
"Iiiiihhh.......!!"
Ni Durgogini dan Ni Nogogini mengeluarkan jerit nyaring ketika tubuh mereka terlempar sampai lima meter lebih seakan-akan dilontarkan tenaga mujijat. Namun sebagai dua orang wanita yang memiliki kedigdayaan, mereka dapat meloncat turun dan tidak sampai terbanting. Kemarahan mereka meluap-luap, bercampur rasa keheranan dan penasaran.
Adapun Ki Patih Suroyudo dan para perwira kerajaan, kini benar-benar berdiri dengan mata terbelalak lebar dan mulut ternganga. Andaikata ada lalat memasuki mulut pada saat itu, agaknya mereka tidak merasakannya. Mereka tenggelan ke dalam keheranan yang amat sangat. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sudah tentu takkan ada yang percaya kalau mendengar bahwa pemuda gunung yang tadi minta pekerjaan di istana, kini dalam gebrakan pertama sudah sanggup membuat Ni Durgogini dan Ni Nogogini terlempar sampai jauh!

Dengan dua kali loncatan, Ni Durgogini dan Ni Nogogini sudah kembali ke hadapan Joko Wandiro. Sepasang mata mereka berkilat-kilat penuh kemarahan, wajah mereka kini cemberut kehilangan manisnya, kening berkerut. Sinar maut membayang pada mata mereka yang dengan penuh kebencian menentang wajah Joko Wandiro. Pemuda ini tetap tenang, lalu berkata.
"Sesungguhnya aku tidak mencari permusuhan. Andaikata kalian ini tidak melakukan sesuatu yang jahat, tidak nanti aku akan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi, melihat kalian mengamuk di alun-alun Kerajaan Panjalu, membunuh banyak orang kemudian malah menantang-nantang semua orang yang terkenal sebagai satria-satria utama, tidak mungkin aku mendiamkannya saja."
"bocah keparat!"
"Jahanam sialan!"
"Ni Durgogini dan Ni Nogogini, belum terlambat apabila kalian insyaf dan pergi dari sini."
Akan tetapi dua orang wanita itu mana mau berhenti sampai sekian saja? Sambil memekik nyaring, suaranya melengking seperti bukan suara manusia lagi, kakak beradik yang sakti mandraguna ini lalu menerjang Joko Wandiro. Gerakan mereka cekatan sekali, tubuh mereka seperti lenyap dan hanya tampak bayangan mereka menyambar-nyambar di sekeliling Joko Wandiro. Apabila bayangan tangan mereka berkelebat, terdengar angin bersiutan. membuat debu beterbangan daun daun pohon waringin yang kecil-kecil itu bergoyang-goyang. Namun Joko Wandiro menghadapi mereka dengan tenang. Gerakannyapun lambat dan tenang, namun kedua tangannya yang bergerak itu membentuk lingkaran-lingkaran hawa sakti yang amat kuat, yang merupakan benteng melindungi tubuhnya daripada terjangan-terjangan lawan. Semua pukulan lawan, sebelum dapat menyentuh tubuhnya telah bertemu dengan lingkaran hawa sakti itu dan membalik.

<<< Bagian 100                                                                                     Bagian 102 >>>

No comments:

Post a Comment