Badai Laut Selatan ; Bagian 102


Bagi pandangan para perwira yang kurang tinggi ilmunya, keadaan Joko Wandiro seperti terdesak. Pemuda ini kelihatan menggerak-gerakkan kaki tangan melawan dua bayangnn yang amat cepatnya. Akan tetapi bagi Ki Patih Suroyuda dan mereka yang ahli, terutarna bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini sendiri, mereka amat kagum menyaksikan perlawanan Joko Wandiro yang jelas membuktikan keunggulannya.
"Pergilah!!" Tiba-tiba Joko Wandiro berseru keras dan tubuh dua orang wanita itu kembali terlempar jauh, melayang seperti daun kering tertiup angin. Bentakan tadi disertai Aji Dirodo Meto dan kedua tangannya mendorong dengan Aji Bojro Dahono. Demikian dahsyat serangan balasan ini sehingga tidak tertahankan oleh kedua orang lawannya yang mencelat sampai beberapa meter jauhnya.

Namun Ni Durgogini dan Ni Nogogini juga bukan orang sembarangan. Biarpun mereka tidak kuat menahan hawa sakti yang mendorong sedemikian dahsyatnya, namun tubuh mereka juga memiliki kekebalan sehingga biarpun terlempar, mereka masih belum terluka karena cepat-cepat mereka tadi mengerahkan tenaga sehingga ketika terbanting ke tanah, mereka dapat mencelat kembali ke atas dan kini sudah berdiri dengan muka merah saking marahnya.
"Tar-tar-tar!!"
Terdengar ledakan-ledakan nyaring ketika Ni Durgogini menggerakkan dan melecutkan cambuknya di udara. Kiranya dalam keadaan marah sekali wanita ini telah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu cambuk Sarpokenoko. Juga Ni Nogogini tidak mau ketinggalan. Ia pun merasa marah dan malu, maka dengan gerakan cepat penuh kegemasan ia telah menghunus pusakanya, yaitu sebuah cundrik yang terkenal ampuh dan mengeluarkan sinar berkilauan. Inilah cundrik Embun Sumilir! Joko Wandiro cepat mengerahkan Bayu Sakti untuk menyelamatkan diri daripada hujan serangan itu. Cambuk Sarpokenoko hebat bukan main. Suaranya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat, karena suara ledakan-ledakan itu mengandung daya menggetarkan jantung. Dari atas, cambuk itu menyambar-nyambar ganas sekali melingkar-lingkar, ujungnya mematuk-matuk mencari bagian tubuh yang berbahaya atau jalan darah mematikan, seperti seekor ular sakti! Selain diserang oleh sambaran cambuk dari atas yang sudah amat berbahaya, dari bawah Joko Wandiro diterjang bertubi-tubi oleh Ni Nogogini yang mempergunakan keris pusakanya Embun Sumilir. Hanya dengan gerakan Bayu Sakti yang luar biasa cepatnya, barulah ia dapat menghindarkan diri dari serangkaian serangan itu lalu melompat ke belakang. Dua orang lawannya berseru garang dan menerjang maju lagi. Akan tetapi pada saat itu, para senopati dan pengawal yang menonton pertandingan, tiba-tiba menjadi gaduh, menuding-nuding ke arah dua orang wanita itu, berseru kaget dan ada yang menahan ketawa. Hal ini mengherankan hati kedua orang wanita itu sehingga sesaat mereka menunda penyerangan mereka lalu saling pandang. Begitu mereka saling pandang, keduanya menahan jerit, tangan kiri membuat gerakan menutup mulut.
"Aiiiiihh! Mbok-ayu Lasmini......! Kau kenapa....... ? Rambutmu penuh uban, mukamu penuh keriput........!" Ni Nogogini menegur dengan mata terbelalak.
"Kau..... kau....... juga, Mandari.......!"
Ni Durgogini berkata sambil menudingkan telunjuk kiri ke arah adiknya dan dengan suara terisak. Kedua orang wanita itu lalu sibuk meraba-raba rambut dan wajahnya sendiri. Jelas terasa oleh ujung jari betapa kulit muka yang biasanya halus itu kini menjadi kasar dan kerut-merut berkeriputan. Dan ketika mereka membawa rambut ke depan untuk dilihat, sebagian besar rambut itu membodol (rontok) dan yang masih tinggal bercampur banyak uban!

Sebagai orang-orang berkepandaian tinggi, mengertilah kedua orang wanita ini Apa yang telah terjadi. Ternyata pukulan pemuda tadi yang mengandung hawa panas seperti halilintar, disertai pekik dahsyat, yang membuat mereka berdua terlempar, telah membuyarkan aji dan khasiat obat Suketsungsang yang membuat mereka menjadi awet muda. Getaran hebat yang hampir mematahkan tungkai jantung, yang tadi menjalar ke seluruh tubuh, telah membuat mereka terluka di sebelah dalam sehingga hawa yang mempengaruhi jalan darah membuat mereka awet muda itu terdorong keluar. Akibatnya, keadaan mereka menjadi badar dan kembali asal, atau menjadi sewajarnya, Rambut mereka beruban, kulit mereka berkeriput, sesuai dengan keadaan semestinya wanita-wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun!. Bagi seorang wanita biasa dan normal, dalam usia hamper enam puluh tahun, kiranya kenyataan ini tidak mempengaruhĂ­ hatinya, uban dan keriput bukan hal yang mengecilkan hati. Akan tetapi, bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini, kenyataan ini amat hebat. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadi hamba nafsu berahi, bagi mereka hidup adalah senang, dan senang hanya dapat mereka nikmati melalui wajah cantik dan tubuh muda menarik. Kini mereka telah sadar dan kenyataan ini bagi mereka terasa lebih menderita daripada luka-luka maut. Wajah mereka menjadi pucat sekali, tubuh gemetaran dan urat syaraf lemas, Kedukaan hati mereka demikian besar, jauh melampaui kemarahan mereka terhadap Joko Wandiro. Terdengarlah ratap tangis mereka.
"Aduh Dewa, cabutlah saja nyawa hamba......!” Ni Nogogini mengeluh.
"Aduh rama (ayah)......, rama bhagawan......., ketiwasan (celaka), rama.......!"
Ni Durgogini menjerit-jerit lalu lari pergi dari tempat itu sambil menyeret cambuknya. Ni Nogogini juga mengikuti kakaknya sambil menangis. Dalam waktu sebentar saja lenyaplah bayangan kedua oräng wanita sakti itu.

Sejenak Joko Wandito berdiri tertegun. Kemudian la menarik napas panjang, hatinya terasa trenyuh. Dia tidak membenci mereka berdua dan hanya menentang mereka berdua karena mereka membuat geger, membunuh banyak orang dan menantang ayah angkatnya. Kini, menyaksikan keadaan mereka, mendengar ratap tangis mereka, hati pemuda ini merasa kasihan dan terharu. Akan tetapi tidak ada rasa sesal di hatinya oleh karena bukan dialah yang membuat mereka berdua menderita. Dia sama sekali tidak ada niat membuat mereka menderita seperti itu dan semua yang terjadi tadi adalah buah daripada perbuatan mereka sendiri.
"Orang muda, kiranya andika adalah seorang satria yang perkasa!" terdengar Ki Patih Suroyudo berkata kagum.
"Raden Joko Wandiro, maafkan kami yang tadi kurang hormat kepada andika," kata seorang perwira.
"Marilah, Joko Wandiro. Mari ikut bersamaku menghadap sang prabu, akan kulaporkan tentang kedigdayaanmu dan kau tentu dianugerahi kedudukan yang pantas," kata pula Ki Patih Suroyudo.
Di dalam hatinya, Joko Wandiro merasa senang. Ternyata sekarang bahwa ki patih dan para ponggawa keraton ini adalah orang-orang yang baik hati, tidak menaruh iri hati dan dengki kepada orang lain yang berjasa. Kiranya tadi memandang rendah kepadanya karena memang ragu-ragu dan tidak percaya kepada seorang pemuda dari dusun seperti lajimnya sikap para bangsawan terhadap rakyat kecil.
Perasaan Joko Wandiro yang halus segera dapat memaklumi hal ini dan dia memang tidak suka memelihara dendam. Akan tetapi, sejak semula ia memang tidak mempunyai hasrat untuk menghambakan diri ke istana. Kalau tadi ia menghadap raja, hanyalah untuk memenuhi pesan gurunya. Dan ia tadi sudah menghadap, berarti ia tidak mengabaikan pesan gurunya. Kalau ia tidak diterima, itu bukan salahnya. Maka ia cepat-cepat memberi hormat dan berkata,
"Gusti patih, hamba tidak berani lagi mengganggu gusti prabu. Biarlah lain kali saja hamba datang menghadap."
Setelah berkata demikian, tanpa jawaban lagi, Joko Wandiro sudah melompat jauh ke belakang lalu menggunakan Aji Bayu Sakti lari meninggalkan tempat itu. Ki Patih Suroyudo dan para senopati dan pasukan pengawal, hanya dapat memandang dengan melongo. Mereka semua merasa menyesal sekali mengapa seorang pemuda sakti mandraguna seperti itu kini tidak mau tinggal di kota raja karena kekeliruan sikap mereka tadi. Agaknya hanya orang sesakti pemuda itu yang akan mampu menandingi si maling haguna yang telah menggegerkan istana sebulan yang lalu.

Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu itu amat luas dan indah. Air kebiruan menelan bayangan pohon-pohon cemara yang tumbuh di tepinya. Sunyi dan damai keadaan sekelilingnya. Hanya kicau burung dan teriakan-teriakan kera bercanda kadang-kadang terdengar, menambah indah keadaan. Hawa udaranya sejuk bersih. Di pinggir telaga sebelah selatan tampak sebuah pondok kayu berdiri sunyi menyendiri. Para pendeta, pertapa, dan orang-orang yang sudah bosan akan keramaian kota dan dusun, yang ingin menyatukan diri dengan keindahan alam aseli itu, tentu akan mengilar karena kepingin melihat pondok dan suasana di sekitarnya yang hening dan bersih ini.
Dahulu, beberapa tahun yang lalu, pondok ini menjadi tempat tinggal Ki Tejoranu. Seperti telah kita ketahui, Ki Tejoranu beberapa tahun yang lalu telah pergi meninggalkan Pulau Jawa, pulang ke tanah asalnya, yaitu Negeri Cina. Pondok itu ditinggalkan begitu saja tak terpelihara dan menjadi rusak. Akan tetapi setahun yang lalu, datanglah seorang laki-laki tinggi kurus bersama isteri dan puterinya. Mereka menemukan pondok kosong ini, memperbaikinya dan selanjutnya merekalah yang tinggal di tempat indah sunyi ini. Mereka bertiga hidup penuh damai dan bahagia.
Siapakah gerangan mereka bertiga yang memilih tempat sunyi sebagai tempat tinggal ini? Laki-laki tinggi kurus berusia lima puluh tahun itu adalah seorang pendekar terkenal. Namanya Ki Adibroto, seorang sakti mandraguna dari Ponorogo. Di Ponorogo iapun terkenal sebagai seorang warok yang gemblengan dan namanya tidak kalah terkenalnya kalau dibandingkan dengan Ki Warok Gendroyono. Akan tetapi, berbeda dengan Ki Gendroyono, Ki Adibroto ini adalah tokoh warok golongan putih yang selalu menentang kejahatan. Berkat pimpinan Ki Adibroto bersama saudara-saudara seperguruan dan para tokoh warok aliran atau golongan putih inilah maka daerah Ponorogo menjadi aman dari gangguan para warok golongan hitam. Bahkan Ki Warok Gendroyono yang menjadi tokoh utama warok golongan hitam, terdesak dan akhirnya menghilang dari daerah Ponorogo.

Tadinya, Ki Adibroto hidup bahagia bersama isterinya dan seorang puteri yang diberi nama Ayu Candra, tinggal di Ponorogo sebagai seorang yang dihormati kawan disegani lawan. Namun, seperti segala apa di permukaan bumi ini, juga keadaan hidup seseorang tidaklah kekal. Ketika Ayu Candra berusia satu tahun, ibu anak ini meninggal dunia karena sakit. Hal ini menghancurkan kebahagiaan Ki Adibroto yang tenggelam dalam laut kedukaan. Tidak tahan lagi hati Ki Adibroto untuk tinggal di tempat di mana ia akan selalu terkenang kepada isterinya. Maka ia lalu membawa puterinya yang masih kecil itu pergi merantau.
Pada suatu pagi, sambil memondong puterinya, Ki Adibroto berjalan perlahan melewati sebuah hutan di lereng Gunung Lawu sebelah barat. Ia berniat hendak menuruni gunung ini dari barat. Melihat anaknya yang tidur pulas dalam pondongannya, hati pendekar ini amat trenyuh. Anak ini mirip benar dengan ibunya, dan teringat akan isterinya yang sudah meninggal, meninggalkan dia dan puterinya, Ki Adibroto mengeluh dan mengambungi pipi anaknya yang masih tidur pulas.
"Duh Hyang Wiseso yang menguasai jagad semoga hamba diberi kekuatan menahan segala derita ini demi anak hamba Ayu Candra!"
Dua butir air mata menetes di atas pipi anaknya. Pada saat itu muncullah belasan orang perampok yang segera mengurung Ki Adibroto. Kalau saja Ki Adibroto tidak sedang tenggelam dalam duka nestapa, tentu sejak tadi ia sudah tahu bahwa di sekeliling tempat itu terdapat banyak orang. Kini ia baru sadar bahwa ia telah dikepung, ketika beberapa orang di antara para perampok itu tertawa.
Ki Adibroto mengangkat mukanya dan memandang ke sekeliling. Ada tujuh belas orang laki-laki kasar yang mudah diduga dari golongan Apa. Dan di belakang mereka ini, di tempat-tempat tersembunyi, masih ada belasan orang lagi. Di sudut kiri berdiri seorang laki-laki yang mukanya penuh brewok. Melihat pakaiannya, agaknya laki-laki brewokan ini tentulah kepala perampok. Ia berdiri sambil merangkulkan lengan kirinya pada leher seorang wanita yang cantik manis. Heran sekali hati Ki Adibroto melihat seorang wanita cantik dan gerak-geriknya halus seperti itu dapat bersama dengan orang-orang kasar macam ini. Melihat wajah orang-orang kasar yang mengepungnya itu menyeringai, Ki Adibroto menegur,
"Kalian ini mengapa mengepungku?"
"Ha-ha-ha! Lihat mukanya sudah pucat!"
"Heh-heh-heh, tubuhnya menggigil!"
Banyak suara mengejek dan menertawakannya. Kemudian terdengar suara laki-laki brewokan, suara yang parau dan keras,
"Kisanak, tinggalkan semua pakaian, juga perhiasan-perhiasan emas di tubuh anak itu!"
Ki Adibroto penasaran.
"Untuk apa harus kutinggalkan?"

Kembali muka-muka yang mengerikan itu tertawa bergelak.
"Untuk ditukar dengan nyawamu, tolol!" teriak seorang di antara mereka.
Si kepala rampok hanya tersenyum-senyum saja, tangannya yang merangkul leher itu kini meraih dagu dan hendak mencium muka yang ayu manis itu. Akan tetapi wanita itu mengeluh, memalingkan mukanya dan keningnya berkerut tanda tidak senang hati. Namun pandang mata wanita itu tidak pernah beralih dari anak dalam pondongan Ki Adibroto.
"Ha-ha-ha-ha, bojoku denok ayu, sudah hampir setahun kau bersamaku, mengapa masih jual mahal? Hayo beri cium........!" Laki-Iaki brewokan itu menangkap dagu wanita itu, lalu dengan paksa menariknya dan mencium bibirnya dengan kasar sekali.

<<< Bagian 101                                                                                     Bagian 103 >>>

No comments:

Post a Comment