Bagi pandangan para perwira yang kurang tinggi ilmunya, keadaan Joko Wandiro seperti terdesak. Pemuda ini kelihatan menggerak-gerakkan kaki tangan melawan dua bayangnn yang amat cepatnya. Akan tetapi bagi Ki Patih Suroyuda dan mereka yang ahli, terutarna bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini sendiri, mereka amat kagum menyaksikan perlawanan Joko Wandiro yang jelas membuktikan keunggulannya.
"Pergilah!!"
Tiba-tiba Joko Wandiro berseru keras dan tubuh dua orang wanita itu kembali
terlempar jauh, melayang seperti daun kering tertiup angin. Bentakan tadi
disertai Aji Dirodo Meto dan kedua tangannya mendorong dengan Aji Bojro Dahono.
Demikian dahsyat serangan balasan ini sehingga tidak tertahankan oleh kedua
orang lawannya yang mencelat sampai beberapa meter jauhnya.
Namun Ni
Durgogini dan Ni Nogogini juga bukan orang sembarangan. Biarpun mereka tidak
kuat menahan hawa sakti yang mendorong sedemikian dahsyatnya, namun tubuh
mereka juga memiliki kekebalan sehingga biarpun terlempar, mereka masih belum
terluka karena cepat-cepat mereka tadi mengerahkan tenaga sehingga ketika
terbanting ke tanah, mereka dapat mencelat kembali ke atas dan kini sudah
berdiri dengan muka merah saking marahnya.
"Tar-tar-tar!!"
Terdengar
ledakan-ledakan nyaring ketika Ni Durgogini menggerakkan dan melecutkan
cambuknya di udara. Kiranya dalam keadaan marah sekali wanita ini telah
mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu cambuk Sarpokenoko. Juga Ni Nogogini
tidak mau ketinggalan. Ia pun merasa marah dan malu, maka dengan gerakan cepat
penuh kegemasan ia telah menghunus pusakanya, yaitu sebuah cundrik yang
terkenal ampuh dan mengeluarkan sinar berkilauan. Inilah cundrik Embun Sumilir!
Joko Wandiro cepat mengerahkan Bayu Sakti untuk menyelamatkan diri daripada hujan
serangan itu. Cambuk Sarpokenoko hebat bukan main. Suaranya saja sudah cukup
untuk merobohkan lawan yang kurang kuat, karena suara ledakan-ledakan itu
mengandung daya menggetarkan jantung. Dari atas, cambuk itu menyambar-nyambar
ganas sekali melingkar-lingkar, ujungnya mematuk-matuk mencari bagian tubuh
yang berbahaya atau jalan darah mematikan, seperti seekor ular sakti! Selain
diserang oleh sambaran cambuk dari atas yang sudah amat berbahaya, dari bawah
Joko Wandiro diterjang bertubi-tubi oleh Ni Nogogini yang mempergunakan keris
pusakanya Embun Sumilir. Hanya dengan gerakan Bayu Sakti yang luar biasa
cepatnya, barulah ia dapat menghindarkan diri dari serangkaian serangan itu
lalu melompat ke belakang. Dua orang lawannya berseru garang dan menerjang maju
lagi. Akan tetapi pada saat itu, para senopati dan pengawal yang menonton
pertandingan, tiba-tiba menjadi gaduh, menuding-nuding ke arah dua orang wanita
itu, berseru kaget dan ada yang menahan ketawa. Hal ini mengherankan hati kedua
orang wanita itu sehingga sesaat mereka menunda penyerangan mereka lalu saling
pandang. Begitu mereka saling pandang, keduanya menahan jerit, tangan kiri
membuat gerakan menutup mulut.
"Aiiiiihh!
Mbok-ayu Lasmini......! Kau kenapa....... ? Rambutmu penuh uban, mukamu penuh
keriput........!" Ni Nogogini menegur dengan mata terbelalak.
"Kau.....
kau....... juga, Mandari.......!"
Ni Durgogini
berkata sambil menudingkan telunjuk kiri ke arah adiknya dan dengan suara
terisak. Kedua orang wanita itu lalu sibuk meraba-raba rambut dan wajahnya
sendiri. Jelas terasa oleh ujung jari betapa kulit muka yang biasanya halus itu
kini menjadi kasar dan kerut-merut berkeriputan. Dan ketika mereka membawa
rambut ke depan untuk dilihat, sebagian besar rambut itu membodol (rontok) dan
yang masih tinggal bercampur banyak uban!
Sebagai
orang-orang berkepandaian tinggi, mengertilah kedua orang wanita ini Apa yang
telah terjadi. Ternyata pukulan pemuda tadi yang mengandung hawa panas seperti
halilintar, disertai pekik dahsyat, yang membuat mereka berdua terlempar, telah
membuyarkan aji dan khasiat obat Suketsungsang yang membuat mereka menjadi awet
muda. Getaran hebat yang hampir mematahkan tungkai jantung, yang tadi menjalar
ke seluruh tubuh, telah membuat mereka terluka di sebelah dalam sehingga hawa
yang mempengaruhi jalan darah membuat mereka awet muda itu terdorong keluar.
Akibatnya, keadaan mereka menjadi badar dan kembali asal, atau menjadi
sewajarnya, Rambut mereka beruban, kulit mereka berkeriput, sesuai dengan
keadaan semestinya wanita-wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun!. Bagi
seorang wanita biasa dan normal, dalam usia hamper enam puluh tahun, kiranya
kenyataan ini tidak mempengaruhĂ hatinya, uban dan keriput bukan hal yang
mengecilkan hati. Akan tetapi, bagi Ni Durgogini dan Ni Nogogini, kenyataan ini
amat hebat. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadi hamba nafsu berahi,
bagi mereka hidup adalah senang, dan senang hanya dapat mereka nikmati melalui
wajah cantik dan tubuh muda menarik. Kini mereka telah sadar dan kenyataan ini
bagi mereka terasa lebih menderita daripada luka-luka maut. Wajah mereka
menjadi pucat sekali, tubuh gemetaran dan urat syaraf lemas, Kedukaan hati
mereka demikian besar, jauh melampaui kemarahan mereka terhadap Joko Wandiro.
Terdengarlah ratap tangis mereka.
"Aduh
Dewa, cabutlah saja nyawa hamba......!” Ni Nogogini mengeluh.
"Aduh
rama (ayah)......, rama bhagawan......., ketiwasan (celaka), rama.......!"
Ni Durgogini
menjerit-jerit lalu lari pergi dari tempat itu sambil menyeret cambuknya. Ni
Nogogini juga mengikuti kakaknya sambil menangis. Dalam waktu sebentar saja
lenyaplah bayangan kedua oräng wanita sakti itu.
Sejenak Joko
Wandito berdiri tertegun. Kemudian la menarik napas panjang, hatinya terasa
trenyuh. Dia tidak membenci mereka berdua dan hanya menentang mereka berdua
karena mereka membuat geger, membunuh banyak orang dan menantang ayah
angkatnya. Kini, menyaksikan keadaan mereka, mendengar ratap tangis mereka,
hati pemuda ini merasa kasihan dan terharu. Akan tetapi tidak ada rasa sesal di
hatinya oleh karena bukan dialah yang membuat mereka berdua menderita. Dia sama
sekali tidak ada niat membuat mereka menderita seperti itu dan semua yang
terjadi tadi adalah buah daripada perbuatan mereka sendiri.
"Orang
muda, kiranya andika adalah seorang satria yang perkasa!" terdengar Ki
Patih Suroyudo berkata kagum.
"Raden
Joko Wandiro, maafkan kami yang tadi kurang hormat kepada andika," kata
seorang perwira.
"Marilah,
Joko Wandiro. Mari ikut bersamaku menghadap sang prabu, akan kulaporkan tentang
kedigdayaanmu dan kau tentu dianugerahi kedudukan yang pantas," kata pula
Ki Patih Suroyudo.
Di dalam
hatinya, Joko Wandiro merasa senang. Ternyata sekarang bahwa ki patih dan para
ponggawa keraton ini adalah orang-orang yang baik hati, tidak menaruh iri hati
dan dengki kepada orang lain yang berjasa. Kiranya tadi memandang rendah
kepadanya karena memang ragu-ragu dan tidak percaya kepada seorang pemuda dari
dusun seperti lajimnya sikap para bangsawan terhadap rakyat kecil.
Perasaan Joko
Wandiro yang halus segera dapat memaklumi hal ini dan dia memang tidak suka
memelihara dendam. Akan tetapi, sejak semula ia memang tidak mempunyai hasrat
untuk menghambakan diri ke istana. Kalau tadi ia menghadap raja, hanyalah untuk
memenuhi pesan gurunya. Dan ia tadi sudah menghadap, berarti ia tidak
mengabaikan pesan gurunya. Kalau ia tidak diterima, itu bukan salahnya. Maka ia
cepat-cepat memberi hormat dan berkata,
"Gusti
patih, hamba tidak berani lagi mengganggu gusti prabu. Biarlah lain kali saja
hamba datang menghadap."
Setelah berkata
demikian, tanpa jawaban lagi, Joko Wandiro sudah melompat jauh ke belakang lalu
menggunakan Aji Bayu Sakti lari meninggalkan tempat itu. Ki Patih Suroyudo dan
para senopati dan pasukan pengawal, hanya dapat memandang dengan melongo.
Mereka semua merasa menyesal sekali mengapa seorang pemuda sakti mandraguna
seperti itu kini tidak mau tinggal di kota raja karena kekeliruan sikap mereka
tadi. Agaknya hanya orang sesakti pemuda itu yang akan mampu menandingi si
maling haguna yang telah menggegerkan istana sebulan yang lalu.
Telaga
Sarangan di lereng Gunung Lawu itu amat luas dan indah. Air kebiruan menelan
bayangan pohon-pohon cemara yang tumbuh di tepinya. Sunyi dan damai keadaan
sekelilingnya. Hanya kicau burung dan teriakan-teriakan kera bercanda kadang-kadang
terdengar, menambah indah keadaan. Hawa udaranya sejuk bersih. Di pinggir
telaga sebelah selatan tampak sebuah pondok kayu berdiri sunyi menyendiri. Para
pendeta, pertapa, dan orang-orang yang sudah bosan akan keramaian kota dan
dusun, yang ingin menyatukan diri dengan keindahan alam aseli itu, tentu akan
mengilar karena kepingin melihat pondok dan suasana di sekitarnya yang hening
dan bersih ini.
Dahulu,
beberapa tahun yang lalu, pondok ini menjadi tempat tinggal Ki Tejoranu.
Seperti telah kita ketahui, Ki Tejoranu beberapa tahun yang lalu telah pergi
meninggalkan Pulau Jawa, pulang ke tanah asalnya, yaitu Negeri Cina. Pondok itu
ditinggalkan begitu saja tak terpelihara dan menjadi rusak. Akan tetapi setahun
yang lalu, datanglah seorang laki-laki tinggi kurus bersama isteri dan
puterinya. Mereka menemukan pondok kosong ini, memperbaikinya dan selanjutnya
merekalah yang tinggal di tempat indah sunyi ini. Mereka bertiga hidup penuh
damai dan bahagia.
Siapakah
gerangan mereka bertiga yang memilih tempat sunyi sebagai tempat tinggal ini?
Laki-laki tinggi kurus berusia lima puluh tahun itu adalah seorang pendekar
terkenal. Namanya Ki Adibroto, seorang sakti mandraguna dari Ponorogo. Di
Ponorogo iapun terkenal sebagai seorang warok yang gemblengan dan namanya tidak
kalah terkenalnya kalau dibandingkan dengan Ki Warok Gendroyono. Akan tetapi,
berbeda dengan Ki Gendroyono, Ki Adibroto ini adalah tokoh warok golongan putih
yang selalu menentang kejahatan. Berkat pimpinan Ki Adibroto bersama
saudara-saudara seperguruan dan para tokoh warok aliran atau golongan putih
inilah maka daerah Ponorogo menjadi aman dari gangguan para warok golongan
hitam. Bahkan Ki Warok Gendroyono yang menjadi tokoh utama warok golongan
hitam, terdesak dan akhirnya menghilang dari daerah Ponorogo.
Tadinya, Ki
Adibroto hidup bahagia bersama isterinya dan seorang puteri yang diberi nama
Ayu Candra, tinggal di Ponorogo sebagai seorang yang dihormati kawan disegani
lawan. Namun, seperti segala apa di permukaan bumi ini, juga keadaan hidup
seseorang tidaklah kekal. Ketika Ayu Candra berusia satu tahun, ibu anak ini
meninggal dunia karena sakit. Hal ini menghancurkan kebahagiaan Ki Adibroto
yang tenggelam dalam laut kedukaan. Tidak tahan lagi hati Ki Adibroto untuk
tinggal di tempat di mana ia akan selalu terkenang kepada isterinya. Maka ia
lalu membawa puterinya yang masih kecil itu pergi merantau.
Pada suatu
pagi, sambil memondong puterinya, Ki Adibroto berjalan perlahan melewati sebuah
hutan di lereng Gunung Lawu sebelah barat. Ia berniat hendak menuruni gunung
ini dari barat. Melihat anaknya yang tidur pulas dalam pondongannya, hati
pendekar ini amat trenyuh. Anak ini mirip benar dengan ibunya, dan teringat
akan isterinya yang sudah meninggal, meninggalkan dia dan puterinya, Ki
Adibroto mengeluh dan mengambungi pipi anaknya yang masih tidur pulas.
"Duh
Hyang Wiseso yang menguasai jagad semoga hamba diberi kekuatan menahan segala
derita ini demi anak hamba Ayu Candra!"
Dua butir air
mata menetes di atas pipi anaknya. Pada saat itu muncullah belasan orang
perampok yang segera mengurung Ki Adibroto. Kalau saja Ki Adibroto tidak sedang
tenggelam dalam duka nestapa, tentu sejak tadi ia sudah tahu bahwa di
sekeliling tempat itu terdapat banyak orang. Kini ia baru sadar bahwa ia telah
dikepung, ketika beberapa orang di antara para perampok itu tertawa.
Ki Adibroto
mengangkat mukanya dan memandang ke sekeliling. Ada tujuh belas orang laki-laki
kasar yang mudah diduga dari golongan Apa. Dan di belakang mereka ini, di
tempat-tempat tersembunyi, masih ada belasan orang lagi. Di sudut kiri berdiri
seorang laki-laki yang mukanya penuh brewok. Melihat pakaiannya, agaknya
laki-laki brewokan ini tentulah kepala perampok. Ia berdiri sambil merangkulkan
lengan kirinya pada leher seorang wanita yang cantik manis. Heran sekali hati
Ki Adibroto melihat seorang wanita cantik dan gerak-geriknya halus seperti itu
dapat bersama dengan orang-orang kasar macam ini. Melihat wajah orang-orang
kasar yang mengepungnya itu menyeringai, Ki Adibroto menegur,
"Kalian
ini mengapa mengepungku?"
"Ha-ha-ha!
Lihat mukanya sudah pucat!"
"Heh-heh-heh,
tubuhnya menggigil!"
Banyak suara
mengejek dan menertawakannya. Kemudian terdengar suara laki-laki brewokan,
suara yang parau dan keras,
"Kisanak,
tinggalkan semua pakaian, juga perhiasan-perhiasan emas di tubuh anak
itu!"
Ki Adibroto
penasaran.
"Untuk
apa harus kutinggalkan?"
Kembali
muka-muka yang mengerikan itu tertawa bergelak.
"Untuk
ditukar dengan nyawamu, tolol!" teriak seorang di antara mereka.
Si kepala
rampok hanya tersenyum-senyum saja, tangannya yang merangkul leher itu kini
meraih dagu dan hendak mencium muka yang ayu manis itu. Akan tetapi wanita itu
mengeluh, memalingkan mukanya dan keningnya berkerut tanda tidak senang hati.
Namun pandang mata wanita itu tidak pernah beralih dari anak dalam pondongan Ki
Adibroto.
"Ha-ha-ha-ha,
bojoku denok ayu, sudah hampir setahun kau bersamaku, mengapa masih jual mahal?
Hayo beri cium........!" Laki-Iaki brewokan itu menangkap dagu wanita itu,
lalu dengan paksa menariknya dan mencium bibirnya dengan kasar sekali.
No comments:
Post a Comment