Badai Laut Selatan ; Bagian 103


Kembali wanita itu mengeluh dan meronta, namun tak mungkin ia dapat melepaskan diri dari cengkeraman dua tangan kasar dan kuat itu. Para anak buah perampok hanya tertawa-tawa menyaksikan perbuatan tak tahu malu ini.
"Kekasihku yang ayu kuning, denok montok, kaulihatlah ada rejeki datang, perhiasan emas anak itu akan menghias tubuhmu, manis..... " kata laki-laki brewokan setelah melepaskan mukanya yang brewokan dari atas muka yang halus itu.
Menyaksikan peristiwa ini, dada Ki Adibroto terasa panas. Kemarahan bergejolak dalam hatinya. Ia dapat menduga kini bahwa wanita cantik itu tentulah seorang wanita yang dipaksa, diperkosa atau diculik oleh kepala perampok itu. Dengan sepasang mata berkilat dan muka merah saking marahnya, Ki Adibroto memandang kepala perampok itu. Agaknya dadanya yang panas terasa oleh anaknya karena tiba-tiba Ayu Candra terbangun dari tidurnya lalu menangis menjerit-jerit!.
"Anakku! Ke sinikan anakku!!"
Tiba-tiba wanita cantik itu menjerit dan memberontak dari dekapan kepala perampok. Pengaruh tangisan anak itu sedemikian hebat sehingga agaknya wanita itu memperoleh tenaga mujijat dan ia berhasil merenggutkan diri dan terlepas dari pelukan, lalu lari menubruk Ki Adibroto dengan kedua tangan terbuka, agaknya hendak merampas Ayu Candra.
"Anakku! Kembalikan anakku!"
Berdiri bulu tengkuk Ki Adibroto ketika ia cepat mengelak. Gilakah wanita itu? Ataukah dia sendiri yang gila dan melihat yang bukan-bukan? Ataukah arwah isterinya menyusup ke dalam tubuh wanita ini? Akan tetapi, melihat betapa kepala rampok brewokan itu agaknya marah melihat wanita cantik itu melepaskan diri, kemudian sekali menggerakkan cambuk panjang kepala rampok itu telah membelit kaki si wanita dengan ujung cambuk dan menarik cambuk sehingga wanita itu roboh terguling, hatinya tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sambil mengeluarkan suara gerengan, Ki Adibroto yang masih memondong anaknya yang menangis menjerit-jerit lalu menerjang ke depan. Tangan kirinya memondong anaknya, namun dengan tangan kanannya ia menyerang. Tubuhnya berkelebat ke arah kepala rampok, tangan kanannya bergerak memukul. Kepala rampok itu berusaha untuk menangkis akan tetapi tangkisan tangannya tidak ada gunanya karena selain tangannya terpental, juga pukulan Ki Adibroto terus meluncur mengenai kepalanya.
"Desss.......!!”
Terdengar jerit ngeri dan tubuh kepala rampok yang tinggi besar itu terlempar beberapa meter jauhnya, terbanting ke atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi karena kepalanya sudah pecah berantakan terkena hantaman tangan yang ampuh itu.

Para perampok yang terdiri dari orang-orang kasar itu terkejut sekali, akan tetapi mereka kurang cerdik untuk memaklumi bahwa pendekar yang memondong anak kecil itu sama sekali bukanlah tandingan mereka. Mereka hanya menurutkan nafsu amarah melihat kepala mereka roboh tewas. Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu dengan senjata di tangan. Golok, pedang, keris dan tombak berkilauan datang bagaikan hujan menyerbu Ki Adibroto. Tentu saja para perampok kasar itu tidak dipandang sebelah mata oleh Ki Adibroto. Akan tetapi oleh karena ia sedang memondong anaknya, ia lebih mengkhawatirkan keselamatan puterinya itu. Maka cepat ia melolos lepas sabuk dan pinggangnya. Ketika ia menggerakkan sabuk berwarna putih ini di tangan kanannya, terdengar teriakan-teriakan kesakitan. Senjata-senjata lawan beterbangan dan bagaikan membabat rumput saja, tubuh para perampok bergelimpangan. Ternyata sabuk yang lemas itu ketika disabetkan, dapat memecah kulit meremuk tulang sehingga banyak perampok roboh untuk tak dapat bangun kembali karena telah pingsan. Kini para perampok yang tadinya tinggal di belakang, sudah maju pula. Namun Ki Adibroto mengamuk dan sebentar saja belasan orang perampok sudah roboh. Setelah setengah lebih para perampok roboh bertumpang tindih, baru sisanya sadar bahwa kalau dilanjutkan pengeroyokan itu, berarti mereka semua membunuh diri. Timbul sifat pengecut mereka. Dengan tubuh gemetar mereka melempar senjata lalu menjatuhkan diri berlutut sambil menyembah-nyembah minta ampun! Ki Adibroto tegak berdiri. Anaknya di pondongan masih menangis. Ia memandang ke arah para perampok yang berlutut, lalu tersenyum masam.
"Kalau menurut sepatutnya kalian harus kubunuh semua. Akan tetapi biarlah aku melihat muka anakku ini dan mengampuni kalian semua!"
Setelah berkata demikian, tanpa menoleh ke belakang lagi Ki Adibroto lalu meninggalkan tempat itu sambil memondong dan mengayun-ayun anaknya yang masih terus menangis. Hatinya bingung dan gelisah sekali. Pendekar ini boleh jadi gagah perkasa dan selalu tenang menghadapi apapun juga. Akan tetapi, semenjak melakukan perjalanan, apabila anaknya menangis dan rewel seperti ini, ia betul-betul bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan kecuali mengayun-ayun tubuh kecil lemah ini dengan keringat membasahi dahi dan jantung serasa diremas-remas. Sudah jauh juga ia meninggalkan tempat pertempuran tadi, akan tetapi anaknya masih juga menangis. Saking bingungnya ia lalu duduk di bawah pohon yang teduh, memangku anaknya sambil mengeluh berkali-kali,
"Aduh anakku sayang..... angger Ayu Candra, kau diamlah, nak. Diamlah anakku bocah ayu.......... jangan kau membikin hancur hati ayahmu..!”
Akan tetapi anak kecil itu tetap menangis sampai terisak-isak. Saking bingungnya, tak terasa pula dua butir air mata menetes turun ke atas pipi Ki Adibroto. Pendekar yang baru saja dengan sebelah tangan membikin kocar-kacir pengeroyokan tiga puluh lebih perampok-kasar, kini ingin sekali menangis meraung-raung saking sedih dan bingungnya menghadapi puterinya yang menangis terus!
"Anakk.......! Aduh kasihanilah aku, kasihani anakku........ mari kembalikan anakku, biar dia kugendong selendang, kubopong kutimang-timang, kutidur-tidurkan"
Ki Adibroto terkejut. Saking bingungnya, ia tidak tahu bahwa sejak tadi, wanita yang tadi bersama kepala rampok telah mengikutinya. Cepat ia melompat bangun dan memandang. Wanita itu amat cantik. Cantik jelita, akan tetapi wajahnya pucat, rambutnya kusut, pakaiannya sudah robek sana-sini, sebagian membayangkan kulit tubuhnya yang kuning halus. Kini wanita itu memandangnya dengan mata penuh permohonan, mata yang bercucuran air mata.
"Apa....... Apa maksudmu...... ??!!” Ki Adibroto tergagap.
"Siapakah engkau?"
"Dia anakku anakku sayang kembalikanlah....... " Kini wanita itu menekuk lutut, mengembangkan kedua lengannya, wajahnya menimbulkan iba.
"Dia anakku, jangan engkau mengaku yang tidak-tidak!" Ki Adibroto berkata, masih ragu-ragu tidak tahu dengan orang bagaimana ia berhadapan. Gilakah wanita ini? Atau mempunyai niat buruk hendak mencelakai puterinya? Ataukah ataukah berpikir begini kembali bulu tengkuknya meremang, arwah isterinya menyusup ke dalam tubuh wanita ini?
"Kasihanilah dia.... ooohhh, betapa kejam hatimu...! Lihat, dia menangis begitu hebat....... aduh, bisa putus dan sesak napasnya..... dia minta dipondong ibunya..... hu-hu-huukk!!" Wanita itu menangis makin keras sampai tersedu-sedu.

Ki Adibroto menundukkan muka memandang puterinya. Benar-benar aneh anak ini. Menangis begini hebat. Kembali bulu tengkuknya meremang. Benarkah anak ini minta dipondong ibunya? Dan wanita itu benarkah arwah isterinya di situ? Tanpa disadarinya lagi ia mengulurkan kedua lengan, memberikan puterinya. Namun seluruh urat syaraf di tubuhnya siap untuk mencegah kalau-kalau wanita itu akan mencelakai anaknya. Dengan teriakan girang sekali wanita itu menerima Ayu Candra yang masih menangis, mendekap anak itu ke dadanya, menciumnya sambil bercucuran air mata dan berbisik-bisik,
"Anakku...... anakku....... diamlah, nak. Ini ibumu ini ibumu..... engkau juntung hatiku, pujaan kalbu, mustika hidupku................ ahhh, anakku, Joko Wandiro. "
Ki Adibroto memandang dengan mata tcrbelalak. Benar saja. Anaknya mulai berkurang tangisnya, kemudian malah berhenti menangis ketika wanita itu memangkunya, menidurkannya membujur di ruas pangkuan sambil melepas-lepaskan baju dan selimut sarung yang membungkusnya.
"Aduh kasihan engkau, anakku.. tentu saja kau menangis karena panas. Orang telah berlaku nakal kepadamu manis? Engkau merasa panas? Ah, tentu saja, tapi diamlah, ibu kini menjagamu, nak"
Ki Adibroto melongo. Tahulah ia kini bahwa anaknya tadi menangis sampai begitu kerasnya. Kiranya anak itu merasa gerah, panas tubuhnya dibungkus serapat itu!.
"Nah, ini dia! Engkau digigit semut ini, anakku? Semut kurang ajar. Huh mampus tidak kau sekarang!" Wanita itu meremas seekor semut angkrang yang tadi menempel di paha anak kecil itu.
Makin mengertilah kini Ki Adibroto. Kiranya hawa panas dan semut angkrang, ia mulai merasa girang dan tertarik ke pada wanita itu. Ia memandang jari-jari tangan halus yang cekatan sekali membuka-buka pakaian anaknya dan tiba-tiba wanita itu terbelalak dan berteriak keras,
"Joko anakku kenapa menjadi perempuan.... ??? "
Mengertilah kini Ki Adibroto. Wanita ini sama sekali tidak disusupi arwah mendiang isterinya. Wanita ini terganggu jiwanya, agaknya karena kehilangan puteranya yang bernama Joko Wandiro. Entah hilang karena tewas ataukah hilang karena diculik orang. Akan tetapi agaknya puteranya itu tewas, mengingat bahwa wanita ini sendiri terjatuh ke tangan kepala rampok yang demikian kejam. Naik hawa amarah di dadanya, akan tetapi segera dingin kembali setelah ia ingat bahwa kepala rampok itu telah ia bunuh tadi. Mau rasanya ia membunuh sekali lagi kepala rampok keji itu. Dengan hati penuh iba menyaksikan wajah wanita itu demikian kaget, bingung, dan duka, ia lalu berjongkok di dekatnya dan berkata halus,
"Harap andika jangan kaget. Anak ini adalah anak saya, bernama Ayu Candra. Tentu saja perempuan. Karena itulah tadi tidak saya berikan kepadamu." Setelah berkata demikian, Ki Adibroto mengambil anaknya dari pangkuan wanita itu dan memondongnya kembali.

Wanita itu kini diam saja hanya memandang dengan mata terbuka lebar, mata yang bening dan bagus bentuknya, sayang bersinar layu dan penuh duka. Alangkah akan indahnya mata ini kalau sinarnya penuh bahagia pikir Ki Adibroto.
"Aduh, Jagad Dewa Bathara kenapa tidak dicabut saja nyawa hamba??" Wanita itu merintih-rintih lalu menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya sambil tetap berlutut.
Wanita itu bukan lain adalah Listykumolo, isteri Raden Wisangjiwo, mantu Kadipaten Selopenangkep. Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini wanita yang bernasib malang ini setelah kehilangan anaknya, Joko Wandiro yang dibawa lari Pujo, telah terganggu ingatannya. Oleh suaminya ia dipulangkan ke rumah ayahnya yang menjadi lurah Selogiri di lereng Gunung Lawu. Ketika Wisangjiwo sudah insyaf dan menyuruh pasukan menjemput isterinya, ia mendengar bahwa Listyokumolo telah diculik oleh gerombolan perampok, tidak lama setelah pulang ke dusun itu, sedangkan dusun Selogiri dibumi hanguskan para perampok! Memang amat malang nasib wanita ini. ia diculik oleh perampok kasar dan ada baiknya bahwa kepala rampok itu jatuh cinta padanya, biarpun ia memperlihatkan tanda-tanda tidak waras otaknya. Cinta kasih kepala rampok ini menyelamatkan Listyokumolo dari serbuan para perampok yang haus perempuan itu. Namun, ia harus menderita siksaan lahir batin di tangan kepala perampok. Wanita ini seakan-akan mati sekerat demi sekerat. Baiknya Ki Adibroto yang membebaskannya dari siksaan batin itu. Melihat Listyokumolo menangis sedih, hati Ki Adibroto serasa ditusuk. Ia merasa terharu dan kasihan sekali. Apalagi ketika itu anaknya mulai menangis lagi!
"Di manakah rumah andika? Biar saya antar andika pulang." Akhirnya Ki Adibroto bertanya, suaranya mengandung getaran iba hati.
Listyokumolo mengangkat mukanya, memandang. Matanya kemerahan, pipinya basah oleh air mata yang masih terus bercucuran, sangat mengharukan.
"Pulang...... ? Pulang...... ? Ke mana pulang? Aku aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai keluarga...... ,aku sebatangkara...... tinggal menanti maut datang menjemput. Sungguh tega benar para Dewata membiarkan aku hidup seperti ini...... "
Ki Adibroto menarik napas panjang, kembali memandang anaknya. Berkali-kali ia menggeleng kepala, ragu-ragu. Ia amat mencinta isterinya dan seakan-akan merasa berdosa kalau sepeninggal isterinya ia menoleh kepada wanita lain. Ah, tidak, bukan demi aku sendiri, melainkan demi Ayu Candra, demikian akhirnya ia menghibur hatinya dan menekan debar jantungnya sebelum berkata,
"Saya amat kasihan melihat anda. Siapakah nama anda dan apa yang telah terjadi dengan keluargamu? Mengapa sampai terjatuh ke tangan perampok laknat itu? Harap anda suka ceritakan kepada saya dan percayalah bahwa saya tentu akan menolong anda sekuasa saya."

<<< Bagian 102                                                                                     Bagian 104 >>>

No comments:

Post a Comment