Kembali wanita itu mengeluh dan meronta, namun tak mungkin ia dapat melepaskan diri dari cengkeraman dua tangan kasar dan kuat itu. Para anak buah perampok hanya tertawa-tawa menyaksikan perbuatan tak tahu malu ini.
"Kekasihku
yang ayu kuning, denok montok, kaulihatlah ada rejeki datang, perhiasan emas
anak itu akan menghias tubuhmu, manis..... " kata laki-laki brewokan
setelah melepaskan mukanya yang brewokan dari atas muka yang halus itu.
Menyaksikan
peristiwa ini, dada Ki Adibroto terasa panas. Kemarahan bergejolak dalam
hatinya. Ia dapat menduga kini bahwa wanita cantik itu tentulah seorang wanita
yang dipaksa, diperkosa atau diculik oleh kepala perampok itu. Dengan sepasang
mata berkilat dan muka merah saking marahnya, Ki Adibroto memandang kepala
perampok itu. Agaknya dadanya yang panas terasa oleh anaknya karena tiba-tiba
Ayu Candra terbangun dari tidurnya lalu menangis menjerit-jerit!.
"Anakku!
Ke sinikan anakku!!"
Tiba-tiba
wanita cantik itu menjerit dan memberontak dari dekapan kepala perampok.
Pengaruh tangisan anak itu sedemikian hebat sehingga agaknya wanita itu
memperoleh tenaga mujijat dan ia berhasil merenggutkan diri dan terlepas dari
pelukan, lalu lari menubruk Ki Adibroto dengan kedua tangan terbuka, agaknya
hendak merampas Ayu Candra.
"Anakku!
Kembalikan anakku!"
Berdiri bulu
tengkuk Ki Adibroto ketika ia cepat mengelak. Gilakah wanita itu? Ataukah dia
sendiri yang gila dan melihat yang bukan-bukan? Ataukah arwah isterinya
menyusup ke dalam tubuh wanita ini? Akan tetapi, melihat betapa kepala rampok
brewokan itu agaknya marah melihat wanita cantik itu melepaskan diri, kemudian
sekali menggerakkan cambuk panjang kepala rampok itu telah membelit kaki si
wanita dengan ujung cambuk dan menarik cambuk sehingga wanita itu roboh
terguling, hatinya tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sambil
mengeluarkan suara gerengan, Ki Adibroto yang masih memondong anaknya yang
menangis menjerit-jerit lalu menerjang ke depan. Tangan kirinya memondong
anaknya, namun dengan tangan kanannya ia menyerang. Tubuhnya berkelebat ke arah
kepala rampok, tangan kanannya bergerak memukul. Kepala rampok itu berusaha
untuk menangkis akan tetapi tangkisan tangannya tidak ada gunanya karena selain
tangannya terpental, juga pukulan Ki Adibroto terus meluncur mengenai
kepalanya.
"Desss.......!!”
Terdengar
jerit ngeri dan tubuh kepala rampok yang tinggi besar itu terlempar beberapa
meter jauhnya, terbanting ke atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi
karena kepalanya sudah pecah berantakan terkena hantaman tangan yang ampuh itu.
Para perampok
yang terdiri dari orang-orang kasar itu terkejut sekali, akan tetapi mereka
kurang cerdik untuk memaklumi bahwa pendekar yang memondong anak kecil itu sama
sekali bukanlah tandingan mereka. Mereka hanya menurutkan nafsu amarah melihat
kepala mereka roboh tewas. Sambil berteriak-teriak mereka lalu menyerbu dengan
senjata di tangan. Golok, pedang, keris dan tombak berkilauan datang bagaikan
hujan menyerbu Ki Adibroto. Tentu saja para perampok kasar itu tidak dipandang
sebelah mata oleh Ki Adibroto. Akan tetapi oleh karena ia sedang memondong
anaknya, ia lebih mengkhawatirkan keselamatan puterinya itu. Maka cepat ia
melolos lepas sabuk dan pinggangnya. Ketika ia menggerakkan sabuk berwarna
putih ini di tangan kanannya, terdengar teriakan-teriakan kesakitan.
Senjata-senjata lawan beterbangan dan bagaikan membabat rumput saja, tubuh para
perampok bergelimpangan. Ternyata sabuk yang lemas itu ketika disabetkan, dapat
memecah kulit meremuk tulang sehingga banyak perampok roboh untuk tak dapat
bangun kembali karena telah pingsan. Kini para perampok yang tadinya tinggal di
belakang, sudah maju pula. Namun Ki Adibroto mengamuk dan sebentar saja belasan
orang perampok sudah roboh. Setelah setengah lebih para perampok roboh
bertumpang tindih, baru sisanya sadar bahwa kalau dilanjutkan pengeroyokan itu,
berarti mereka semua membunuh diri. Timbul sifat pengecut mereka. Dengan tubuh
gemetar mereka melempar senjata lalu menjatuhkan diri berlutut sambil
menyembah-nyembah minta ampun! Ki Adibroto tegak berdiri. Anaknya di pondongan
masih menangis. Ia memandang ke arah para perampok yang berlutut, lalu
tersenyum masam.
"Kalau
menurut sepatutnya kalian harus kubunuh semua. Akan tetapi biarlah aku melihat
muka anakku ini dan mengampuni kalian semua!"
Setelah
berkata demikian, tanpa menoleh ke belakang lagi Ki Adibroto lalu meninggalkan
tempat itu sambil memondong dan mengayun-ayun anaknya yang masih terus
menangis. Hatinya bingung dan gelisah sekali. Pendekar ini boleh jadi gagah perkasa
dan selalu tenang menghadapi apapun juga. Akan tetapi, semenjak melakukan
perjalanan, apabila anaknya menangis dan rewel seperti ini, ia betul-betul
bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan kecuali mengayun-ayun tubuh
kecil lemah ini dengan keringat membasahi dahi dan jantung serasa
diremas-remas. Sudah jauh juga ia meninggalkan tempat pertempuran tadi, akan
tetapi anaknya masih juga menangis. Saking bingungnya ia lalu duduk di bawah
pohon yang teduh, memangku anaknya sambil mengeluh berkali-kali,
"Aduh
anakku sayang..... angger Ayu Candra, kau diamlah, nak. Diamlah anakku bocah
ayu.......... jangan kau membikin hancur hati ayahmu..!”
Akan tetapi
anak kecil itu tetap menangis sampai terisak-isak. Saking bingungnya, tak
terasa pula dua butir air mata menetes turun ke atas pipi Ki Adibroto. Pendekar
yang baru saja dengan sebelah tangan membikin kocar-kacir pengeroyokan tiga
puluh lebih perampok-kasar, kini ingin sekali menangis meraung-raung saking
sedih dan bingungnya menghadapi puterinya yang menangis terus!
"Anakk.......!
Aduh kasihanilah aku, kasihani anakku........ mari kembalikan anakku, biar dia
kugendong selendang, kubopong kutimang-timang, kutidur-tidurkan"
Ki Adibroto
terkejut. Saking bingungnya, ia tidak tahu bahwa sejak tadi, wanita yang tadi
bersama kepala rampok telah mengikutinya. Cepat ia melompat bangun dan
memandang. Wanita itu amat cantik. Cantik jelita, akan tetapi wajahnya pucat,
rambutnya kusut, pakaiannya sudah robek sana-sini, sebagian membayangkan kulit
tubuhnya yang kuning halus. Kini wanita itu memandangnya dengan mata penuh
permohonan, mata yang bercucuran air mata.
"Apa.......
Apa maksudmu...... ??!!” Ki Adibroto tergagap.
"Siapakah
engkau?"
"Dia
anakku anakku sayang kembalikanlah....... " Kini wanita itu menekuk lutut,
mengembangkan kedua lengannya, wajahnya menimbulkan iba.
"Dia
anakku, jangan engkau mengaku yang tidak-tidak!" Ki Adibroto berkata,
masih ragu-ragu tidak tahu dengan orang bagaimana ia berhadapan. Gilakah wanita
ini? Atau mempunyai niat buruk hendak mencelakai puterinya? Ataukah ataukah
berpikir begini kembali bulu tengkuknya meremang, arwah isterinya menyusup ke
dalam tubuh wanita ini?
"Kasihanilah
dia.... ooohhh, betapa kejam hatimu...! Lihat, dia menangis begitu hebat.......
aduh, bisa putus dan sesak napasnya..... dia minta dipondong ibunya.....
hu-hu-huukk!!" Wanita itu menangis makin keras sampai tersedu-sedu.
Ki Adibroto
menundukkan muka memandang puterinya. Benar-benar aneh anak ini. Menangis
begini hebat. Kembali bulu tengkuknya meremang. Benarkah anak ini minta
dipondong ibunya? Dan wanita itu benarkah arwah isterinya di situ? Tanpa
disadarinya lagi ia mengulurkan kedua lengan, memberikan puterinya. Namun
seluruh urat syaraf di tubuhnya siap untuk mencegah kalau-kalau wanita itu akan
mencelakai anaknya. Dengan teriakan girang sekali wanita itu menerima Ayu
Candra yang masih menangis, mendekap anak itu ke dadanya, menciumnya sambil
bercucuran air mata dan berbisik-bisik,
"Anakku......
anakku....... diamlah, nak. Ini ibumu ini ibumu..... engkau juntung hatiku,
pujaan kalbu, mustika hidupku................ ahhh, anakku, Joko Wandiro.
"
Ki Adibroto
memandang dengan mata tcrbelalak. Benar saja. Anaknya mulai berkurang
tangisnya, kemudian malah berhenti menangis ketika wanita itu memangkunya,
menidurkannya membujur di ruas pangkuan sambil melepas-lepaskan baju dan
selimut sarung yang membungkusnya.
"Aduh
kasihan engkau, anakku.. tentu saja kau menangis karena panas. Orang telah
berlaku nakal kepadamu manis? Engkau merasa panas? Ah, tentu saja, tapi
diamlah, ibu kini menjagamu, nak"
Ki Adibroto
melongo. Tahulah ia kini bahwa anaknya tadi menangis sampai begitu kerasnya.
Kiranya anak itu merasa gerah, panas tubuhnya dibungkus serapat itu!.
"Nah, ini
dia! Engkau digigit semut ini, anakku? Semut kurang ajar. Huh mampus tidak kau
sekarang!" Wanita itu meremas seekor semut angkrang yang tadi menempel di
paha anak kecil itu.
Makin
mengertilah kini Ki Adibroto. Kiranya hawa panas dan semut angkrang, ia mulai
merasa girang dan tertarik ke pada wanita itu. Ia memandang jari-jari tangan
halus yang cekatan sekali membuka-buka pakaian anaknya dan tiba-tiba wanita itu
terbelalak dan berteriak keras,
"Joko
anakku kenapa menjadi perempuan.... ??? "
Mengertilah
kini Ki Adibroto. Wanita ini sama sekali tidak disusupi arwah mendiang
isterinya. Wanita ini terganggu jiwanya, agaknya karena kehilangan puteranya
yang bernama Joko Wandiro. Entah hilang karena tewas ataukah hilang karena
diculik orang. Akan tetapi agaknya puteranya itu tewas, mengingat bahwa wanita
ini sendiri terjatuh ke tangan kepala rampok yang demikian kejam. Naik hawa
amarah di dadanya, akan tetapi segera dingin kembali setelah ia ingat bahwa
kepala rampok itu telah ia bunuh tadi. Mau rasanya ia membunuh sekali lagi
kepala rampok keji itu. Dengan hati penuh iba menyaksikan wajah wanita itu
demikian kaget, bingung, dan duka, ia lalu berjongkok di dekatnya dan berkata
halus,
"Harap
andika jangan kaget. Anak ini adalah anak saya, bernama Ayu Candra. Tentu saja
perempuan. Karena itulah tadi tidak saya berikan kepadamu." Setelah
berkata demikian, Ki Adibroto mengambil anaknya dari pangkuan wanita itu dan
memondongnya kembali.
Wanita itu
kini diam saja hanya memandang dengan mata terbuka lebar, mata yang bening dan
bagus bentuknya, sayang bersinar layu dan penuh duka. Alangkah akan indahnya
mata ini kalau sinarnya penuh bahagia pikir Ki Adibroto.
"Aduh,
Jagad Dewa Bathara kenapa tidak dicabut saja nyawa hamba??" Wanita itu
merintih-rintih lalu menangis tersedu-sedu, menutupi mukanya sambil tetap
berlutut.
Wanita itu
bukan lain adalah Listykumolo, isteri Raden Wisangjiwo, mantu Kadipaten
Selopenangkep. Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini wanita yang
bernasib malang ini setelah kehilangan anaknya, Joko Wandiro yang dibawa lari
Pujo, telah terganggu ingatannya. Oleh suaminya ia dipulangkan ke rumah ayahnya
yang menjadi lurah Selogiri di lereng Gunung Lawu. Ketika Wisangjiwo sudah
insyaf dan menyuruh pasukan menjemput isterinya, ia mendengar bahwa
Listyokumolo telah diculik oleh gerombolan perampok, tidak lama setelah pulang
ke dusun itu, sedangkan dusun Selogiri dibumi hanguskan para perampok! Memang
amat malang nasib wanita ini. ia diculik oleh perampok kasar dan ada baiknya
bahwa kepala rampok itu jatuh cinta padanya, biarpun ia memperlihatkan
tanda-tanda tidak waras otaknya. Cinta kasih kepala rampok ini menyelamatkan
Listyokumolo dari serbuan para perampok yang haus perempuan itu. Namun, ia
harus menderita siksaan lahir batin di tangan kepala perampok. Wanita ini
seakan-akan mati sekerat demi sekerat. Baiknya Ki Adibroto yang membebaskannya
dari siksaan batin itu. Melihat Listyokumolo menangis sedih, hati Ki Adibroto
serasa ditusuk. Ia merasa terharu dan kasihan sekali. Apalagi ketika itu
anaknya mulai menangis lagi!
"Di
manakah rumah andika? Biar saya antar andika pulang." Akhirnya Ki Adibroto
bertanya, suaranya mengandung getaran iba hati.
Listyokumolo
mengangkat mukanya, memandang. Matanya kemerahan, pipinya basah oleh air mata
yang masih terus bercucuran, sangat mengharukan.
"Pulang......
? Pulang...... ? Ke mana pulang? Aku aku tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai
keluarga...... ,aku sebatangkara...... tinggal menanti maut datang menjemput.
Sungguh tega benar para Dewata membiarkan aku hidup seperti ini...... "
Ki Adibroto
menarik napas panjang, kembali memandang anaknya. Berkali-kali ia menggeleng
kepala, ragu-ragu. Ia amat mencinta isterinya dan seakan-akan merasa berdosa
kalau sepeninggal isterinya ia menoleh kepada wanita lain. Ah, tidak, bukan
demi aku sendiri, melainkan demi Ayu Candra, demikian akhirnya ia menghibur
hatinya dan menekan debar jantungnya sebelum berkata,
"Saya
amat kasihan melihat anda. Siapakah nama anda dan apa yang telah terjadi dengan
keluargamu? Mengapa sampai terjatuh ke tangan perampok laknat itu? Harap anda
suka ceritakan kepada saya dan percayalah bahwa saya tentu akan menolong anda
sekuasa saya."
No comments:
Post a Comment