Badai Laut Selatan ; Bagian 104


Semenjak ditimpa malapetaka ketika ia diculik Pujo sampai saat itu, agaknya baru kali ini Listyokumolo mendengar kata-kata yang menyatakan kasihan kepadanya dan baru kali ini ada orang hendak menolongnya. Hal ini menggetarkan jantungnya dan tangisnya makin tersedu-sedu. Akan tetapi ketika ia mengangkat mukanya melihat anak dalam pondongan Ki Adibroto, kembali ia mengulurkan kedua lengannya ke depan dan merintih,
"Kembalikan anakku...... berikan anak itu kepadaku...... "
Ki Adibroto menarik napas panjang. Kumat lagi wanita ini, pikirnya.
"Sudah saya jelaskan tadi bahwa anak ini bukanlah anakmu yang bernama Joko Wandiro, anak ini adalah Ayu Candra, anak saya yang sudah tidak beribu lagi"
Listyokumolo membelalakkan mata memandang anak itu. Mata yang masih amat indah bentuknya, lebar dengan bulu mata panjang lentik yang membentuk bayang-bayang teduh di bawah mata, dengan biji mata bening dan ujung mata yang meruncing tajam. Mata yang membayangkan berahi. Akan tetapi mata yang diselimuti kesayuan pandang dan dilayukan hati duka.
"Tidak beribu lagi...... ?"
Agaknya kenyataan ini sejenak menyadarkan Listyokumolo dari keadaan bingung, timbul dari hati iba. Kemudian ia bangkit dan menghampiri Ki Adibroto.
"Biarkan dia kugendong, biarkan aku menjadi pengganti ibunya, aduh kasihan biar aku menjadi pengganti ibunya dan ia menjadi pengganti anakku...... "
Kata-kata ini dikeluarkan dengan suara penuh harap, setengah berbisik, suara yang keluar langsung dari lubuk hatinya. Ki Adibroto sejenak memandang dan tahulah orang sakti ini bahwa sekaligus hatinya terampas oleh wajah yang ayu tapi menyedihkan itu, terampas oleh kepribadian yang menimbulkan cinta kasih akan tetapi sekaligus keharuan dan iba hati. Ia memberikan anaknya dan berbisik pula,
"Aku...... aku akan bahagia sekali kalau anda sudi menjadi pengganti ibunya "
Mungkin makna dari kata-kata Ki Adibroto ini dapat menembus kegelapan yang menyelimuti pikiran Listyokumolo karena tiba-tiba ketika menerima anak itu, kedua pipinya menjadi kemerahan, matanya menunduk dan bibirnya terhias senyum ditahan, senyum malu-malu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena segera wajahnya berubah gembira penuh bahagia ketika ia merasa betapa anak itu bergerak-gerak di dadanya. Sebentar saja anak itupun tertidur setelah didekap oleh dada yang lunak dan hangat.

Tanpa pernah membantah sedikitpun, Listyokumolo lalu ikut dengan Ki Adibroto ke manapun pendekar itu pergi. Setelah setiap hari merawat Ayu Candra, mulai teringatlah ia akan keadaan dirinya dan akhirnya iapun sembuh dari gangguan pikirannya. Bahkan hal yang tak dapat dicegah lagi terjadi setelah wanita cantik jelita yang masih muda ini berkumpul dengan Ki Adibroto, pendekar yang juga belum tua yang gagah serta tampan itu, yaitu mereka saling jatuh cinta. Akhirnya mereka menjadi suami isteri yang saling mencinta, saling menghormat dan saling mengasihi. Dengan kasih sayang besar mereka berdua mendidik dan membesarkan Ayu Candra sehingga anak ini sama sekali tidak pernah tahu bahwa wanita itu bukanlah ibu kandungnya. Setelah Ayu Candra berusia enam belas tahun, ayah bundanya pindah dan memilih Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu sebagai tempat tinggal yang baru.
Tadinya Ayu Candra yang tinggal bersama orang tuanya di daerah Ponorogo, menyatakan keberatan hatinya mengapa ayahnya ke tempat yang sunyi itu. Akan tetapi mengertilah gadis remaja yang cukup cerdik ini ketika ayahnya menjawab,
"Kita tinggal di tempat aman ini hanya untuk sementara, Candra. Ketahuilah bahwa perang saudara antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala sudah hampir pecah. Permusuhan terjadi di mana-mana. Kalau perang pecah, berarti keadaan akan menjadi kacau dan tidak aman. Engkau sudah remaja puteri, tidak akan baik jadinya kalau kita tinggal di tempat ramai. Biarlah kita tidak mencampuri keributan, kita tinggal di tempat yang indah dan aman ini sampai keadaan Negara menjadi aman kembali. Aku sudah bosan akan perang dan keributan, apalagi perang antara saudara sendiri!"

Mereka bertiga hidup tenang dan penuh damai di pinggir telaga. Sampai setahun lebih lamanya mereka bertiga tinggal di tempat yang indah itu. Akan tetapi hanya kelihatannya saja mereka hidup penuh ketenangan dan damai. Sebetulnya ada hal yang mengganggu hati Listyokumolo. Di waktu malam, setelah tidur pulas, seringkali suami isteri ini berbantahan. Listyokumolo tidak pernah dapat melupakan sakit hatinya terhadap Pujo! Dendam ini pula yang membuat ia semenjak menjadi isteri Ki Adibroto, dengan tekun dan rajin bersama puteri tirinya menggembleng diri dengan ilmu silat dan kesaktian. Biarpun ia tidak semaju Ayu Candra, namun setelah lewat enam belas tahun, Listyokumolo yang sekarang bukanlah Listyokumolo belasan tahun yang lalu. Ia kini menjadi seorang wanita yang berkepandaian. Dan setiap malam, ia membujuk suaminya untuk membantunya mencari Pujo, mencari puteranya, Joko Wandiro dan membalaskan dendamnya kepada Pujo.
Ki Adibroto adalah seorang yang memiliki pandangan luas dan karena ia telah mendengar riwayat isterinya, ia dapat menduga bahwa suami isterinya yang pertama, Raden Wisangjiwo tentu bukan seorang baik-baik sehingga dimusuhi orang yang bernama Pujo. Ia selalu mengingatkan isterinya,
"Engkau sendiri menyatakan bahwa bekas suamimu, Wisangjiwo adalah seorang yang menyeleweng daripada kebenaran. Sangat boleh jadi dia itu melakukan sesuatu yang mendatangkan dendam kepada Pujo."
"Memang begitulah. Agaknya Wisangjiwo telah memperkosa isteri Pujo karena ketika menculikku, Pujo menyatakan hal itu kepadaku. Akan tetapi mengapa dia membalasnya kepadaku dan membawa pergi anakku?" Listyokumolo penasaran.

Ki Adibroto menghela napas panjang.
"Isteriku, orang yang diracuni dendam hatinya menjadi seperti orang buta. Mungkin Pujo melarikan engkau, kemudian menculik anakmu, sama sekali tidak bermaksud sesuatu kepada dirimu pribadi melainkan semua ia tujukan untuk merusak hati bekas suamimu. Sudah kukatakan tadi bahwa dendam membuat orang seperti buta sehingga ia tidak melihat bahwa perbuatannya itu bukan hanya merusak hati Wisangjiwo secara tidak langsung, akan tetapi bahkan secara langsung merusak hatimu dan Joko Wandiro. Akan tetapi, setelah tahu bahwa dendam amat tidak baik, apakah engkau masih mau diracuni dendam terhadap Pujo?”
"Kakang Adibroto, aku tidak akan ngawur seperti Pujo. Aku hanya akan membalas kepadanya, bukan kepada orang lain. Pula, aku harus bertemu dengan dia untuk menanyakan dimana adanya Joko Wandiro. Kalau engkau tidak mau mengantarku, biarlah aku mencarinya sendiri. Biarpun belum tentu aku mampu mengalahkan Pujo, akan tetapi apa yang telah kupelajari darimu kiranya cukup untuk bekal melakukan perjalanan."
Ki Adibroto yang amat mencinta isterinya, tentu saja tidak dapat membiarkan isterinya pergi seorang diri menempuh bahaya. Akhirnya ia terpaksa menerima permintaan isterinya. Apalagi kalau ia ingat bahwa kini puterinya, Ayu Candra sudah berusia tujuh belas tahun, sudah cukup dewasa untuk menjaga diri sendiri di tempat yang aman itu sampai mereka kembali dari perjalanan. Malah selain memenuhi permintaan isterinya, ia juga ada keperluan lain, yaitu pergi menemui sahabat-sahabatnya untuk mencari dan memilihkan seorang calon suami bagi Ayu Candra!
"Candra, ayah bundamu ada keperluan penting sekali, akan pergi untuk beberapa pekan lamanya. Engkau harus tinggal sendiri di sini, menanti sampai kami pulang."
Alis yang kecil panjang hitam melengkung itu berkerut.
"Mengapa aku tidak diajak pergi, ayah? Mengapa ditinggal sendiri di sini? Ayah dan ibu hendak ke manakah?"
"Negara sedang kacau, Candra. Permusuhan terjadi di mana-mana dan banyak orang jahat berkeliaran bebas. Engkau seorang wanita muda yang tentu akan menarik perhatian dan menimbulkan pertentangan. Pula, urusan yang akan kami urus adalah urusan kami orang-orang tua, tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Perhatikanlah, jangan kau pergi ke mana-mana, tinggal saja di sini dan tunggu sampai kami pulang."

Ayu Candra memang seorang anak yang taat kepada ayahnya. Biarpun hatinya amat kecewa dan tidak senang, ia tidak berani banyak membantah lagi. Akan tetapi ketika pagi hari itu ia melihat ayah bundanya pergi turun dari lereng, ia berdiri termangu-mangu dan memandang ke arah bayangan mereka sampai mereka lenyap di sebuah tikungan. Barulah ia menjatuhkan diri di atas rumput dan menghapus air matanya. Namun, Ayu Candra bukan seorang anak perempuan yang cengeng. Hanya sebentar saja ia melepaskan kekecewaannya dengan menangis Tidak lama kemudian ia sudah bekerja seperti biasa, menyapu pekarangan mengumpulkan daun kering yang memenuhi pekarangan dan membakarnya. Kemudian ia melakukan pekerjaan rumah seperti biasa dan wajahnya sudah cerah kembali. Beberapa hari kemudian, karena kayu bakar persediaan mereka habis, Ayu Candra pagi-pagi telah meninggalkan pondoknya dan berlari-lari mendaki jalan yang menanjak. Sejak kecil ia sudah dilatih ayahnya untuk melawan hawa dingin pegunungan di waktu pagi dengan berlari-larian. Amat lincah gerakannya, laksana seekor kijang muda ketika ia lari mendaki jalan yang licin dan sukar itu. Namun bagi Ayu Candra tidaklah sukar. Selain untuk melawan hawa dingin, juga pagi itu amat indah, udara cerah dan sinar matahari pagi mulai menerobos rnelalui celah-celah daun pohon membagi cahaya kehidupan ke muka bumi. Pagi cerah yang menimbulkan rasa gembira di hati Ayu Candra, segembira burung-burung di pohon yang berkicau riang, segembira bajing-bajing yang berloncatan dari cabang ke cabang, kelinci yang lari berkejaran menyusup semak-semak. Baru kali ini Ayu Candra merasa betapa senangnya bebas seperti itu. la merasa bebas, seorang diri di dunia ini setelah ayah bundanya pergi. Ia masih ingat akan pesan ayahnya agar ia jangan pergi mengunjungi dusun-dusun yang terletak di kaki gunung. Akan tetapi pagi ini ia tidak mengunjungi dusun-dusun itu, ia malah mendaki naik menjauhi dusun dusun, menjauhi manusia. Apa salahnya? Belum pernah ia pergi ke hutan di sebelah puncak kiri itu. Ia akan mencari kayu bakar di sana sambil melihat lihat keadaan hutan yang belum pernah ia kunjungi. Dari jauh tampak beberapa batang pohon kelapa dan hal ini menambah tertarik hatinya. Sukar mencari pohon kelapa di daerah Sarangan, dan agaknya hanya kebetulan saja di hutan sebelah depan itu terdapat beberapa batang pohon kelapa. Makin girang hatinya setelah dekat ia melihat bahwa sebatang di antara pohon-pohon kelapa itu ada buahnya yang sudah besar. Sudah lama ia tidak pernah makan dawegan (kelapa muda), maka tiga butir buah yang tergantung di pohon tinggi itu merupakan daya penarik yang amat kuat sehingga Ayu Candra mempercepat larinya. Setelah tiba di bawah pohon kelapa, ia segera mengambil batu dan dua kali lontaran saja dengan tangannya yang kuat, ia telah berhasil merontokkan tiga butir kelapa muda itu. Dengan girang ia mengambil tiga butir buah itu, membayangkan kesedapan air dawegan dan kelezatan dagingnya. Akan tetapi teringat olehnya akan kayu bakar yang habis persediaannya. Ia segera pergi mengumpulkan kayu bakar yang amat banyak terdapat di hutan itu, kemudian setelah mengikat kayu-kayu kering itu ia menggendongnya dan menjinjing tiga butir kelapa, hendak dibawa pulang.

Ayu Candra dengan wajah berseri berjalan keluar dari hutan itu. Ia sengaja menahan haus dan baru di pondok nanti akan menikmati air dawegan yang manis dan sedap. Akan tetapi ketika tiba di pinggir hutan dan melewati sebuah pohon randu alas yang besar sekali karena tiga batang pohon tumbuh menjadi satu, mendadak ia berhenti melangkah karena mendengar suara orang!
"Duh Dewa........ kenapa tidak dicabut saja nyawaku? Tidak kuat aku menderita siksaan ini........!”
Ayu Candra adalah seorang gadis yang tidak pernah mengenal takut karena sejak kecil ia telah digembleng ayahnya. Akan tetapi, mendengar dengan telinga sendiri betapa pohon randu alas dapat bicara dan mengeluh seperti manusia benar-benar ia merasa ngeri juga dan wajahnya yang cantik jelita itu berubah agak pucat. Ia tahu bahwa iblis dan setan berkeliaran di atas bumi ini, akan tetapi di waktu malam hari.mSekarang, di waktu matahari masih bersinar seterang-terangnya, menjelang tengah hari, bagaimana ada iblis berani muncul dan memperdengarkan suaranya? Kalau bukan iblis, mustahil ada pohon randu alas benar-benar bisa mengeluh seperti manusia dan menyatakan bosan hidup? Ah tak mungkin, pikirnya. Tentu orang! Akan tetapi kalau ada orangnya, di mana sembunyinya? Ayu Candra merasa curiga dan karena kedua tangannya menjinjing buah buah kelapa, ia lalu melemparkan tiga butir buah kelapa itu ke atas tanah. Kemudian ia mendekati pohon randu alas dan bertanya,
"Siapakah orangnya yang mengeluarkan suara keluhan tadi?"
Sunyi mengikuti pertanyaan ini, seakan akan orang yang mengeluarkan suara tadi merasa kaget. Kemudian terdengar orang merintih, suaranya keluar dari dalam pohon!
"Sudah begini menderita masih ada wanita menggangguku lagi? Ah, Dewata Yang Agung, sampai di ambang maut masih haruskah aku berhadapan dengan penggodaku?"

Tiba-tiba "kulit " pohon itu terbuka dari dalam dan seorang laki-laki menggelundung keluar. Kiranya batang pohon itu berlubang dalamnya dan laki-laki ini tadi bersembunyi di dalam pohon. Melihat keadaan laki-laki ini, Ayu Candra terkejut bukan main.

<<< Bagian 103                                                                                     Bagian 105 >>>

No comments:

Post a Comment