Semenjak ditimpa malapetaka ketika ia diculik Pujo sampai saat itu, agaknya baru kali ini Listyokumolo mendengar kata-kata yang menyatakan kasihan kepadanya dan baru kali ini ada orang hendak menolongnya. Hal ini menggetarkan jantungnya dan tangisnya makin tersedu-sedu. Akan tetapi ketika ia mengangkat mukanya melihat anak dalam pondongan Ki Adibroto, kembali ia mengulurkan kedua lengannya ke depan dan merintih,
"Kembalikan
anakku...... berikan anak itu kepadaku...... "
Ki Adibroto
menarik napas panjang. Kumat lagi wanita ini, pikirnya.
"Sudah
saya jelaskan tadi bahwa anak ini bukanlah anakmu yang bernama Joko Wandiro,
anak ini adalah Ayu Candra, anak saya yang sudah tidak beribu lagi"
Listyokumolo
membelalakkan mata memandang anak itu. Mata yang masih amat indah bentuknya,
lebar dengan bulu mata panjang lentik yang membentuk bayang-bayang teduh di
bawah mata, dengan biji mata bening dan ujung mata yang meruncing tajam. Mata
yang membayangkan berahi. Akan tetapi mata yang diselimuti kesayuan pandang dan
dilayukan hati duka.
"Tidak
beribu lagi...... ?"
Agaknya
kenyataan ini sejenak menyadarkan Listyokumolo dari keadaan bingung, timbul
dari hati iba. Kemudian ia bangkit dan menghampiri Ki Adibroto.
"Biarkan
dia kugendong, biarkan aku menjadi pengganti ibunya, aduh kasihan biar aku
menjadi pengganti ibunya dan ia menjadi pengganti anakku...... "
Kata-kata ini
dikeluarkan dengan suara penuh harap, setengah berbisik, suara yang keluar
langsung dari lubuk hatinya. Ki Adibroto sejenak memandang dan tahulah orang
sakti ini bahwa sekaligus hatinya terampas oleh wajah yang ayu tapi menyedihkan
itu, terampas oleh kepribadian yang menimbulkan cinta kasih akan tetapi
sekaligus keharuan dan iba hati. Ia memberikan anaknya dan berbisik pula,
"Aku......
aku akan bahagia sekali kalau anda sudi menjadi pengganti ibunya "
Mungkin makna
dari kata-kata Ki Adibroto ini dapat menembus kegelapan yang menyelimuti
pikiran Listyokumolo karena tiba-tiba ketika menerima anak itu, kedua pipinya
menjadi kemerahan, matanya menunduk dan bibirnya terhias senyum ditahan, senyum
malu-malu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena segera wajahnya berubah
gembira penuh bahagia ketika ia merasa betapa anak itu bergerak-gerak di
dadanya. Sebentar saja anak itupun tertidur setelah didekap oleh dada yang
lunak dan hangat.
Tanpa pernah
membantah sedikitpun, Listyokumolo lalu ikut dengan Ki Adibroto ke manapun
pendekar itu pergi. Setelah setiap hari merawat Ayu Candra, mulai teringatlah
ia akan keadaan dirinya dan akhirnya iapun sembuh dari gangguan pikirannya.
Bahkan hal yang tak dapat dicegah lagi terjadi setelah wanita cantik jelita
yang masih muda ini berkumpul dengan Ki Adibroto, pendekar yang juga belum tua
yang gagah serta tampan itu, yaitu mereka saling jatuh cinta. Akhirnya mereka
menjadi suami isteri yang saling mencinta, saling menghormat dan saling
mengasihi. Dengan kasih sayang besar mereka berdua mendidik dan membesarkan Ayu
Candra sehingga anak ini sama sekali tidak pernah tahu bahwa wanita itu bukanlah
ibu kandungnya. Setelah Ayu Candra berusia enam belas tahun, ayah bundanya
pindah dan memilih Telaga Sarangan di lereng Gunung Lawu sebagai tempat tinggal
yang baru.
Tadinya Ayu
Candra yang tinggal bersama orang tuanya di daerah Ponorogo, menyatakan keberatan
hatinya mengapa ayahnya ke tempat yang sunyi itu. Akan tetapi mengertilah gadis
remaja yang cukup cerdik ini ketika ayahnya menjawab,
"Kita
tinggal di tempat aman ini hanya untuk sementara, Candra. Ketahuilah bahwa
perang saudara antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala sudah hampir pecah.
Permusuhan terjadi di mana-mana. Kalau perang pecah, berarti keadaan akan
menjadi kacau dan tidak aman. Engkau sudah remaja puteri, tidak akan baik
jadinya kalau kita tinggal di tempat ramai. Biarlah kita tidak mencampuri
keributan, kita tinggal di tempat yang indah dan aman ini sampai keadaan Negara
menjadi aman kembali. Aku sudah bosan akan perang dan keributan, apalagi perang
antara saudara sendiri!"
Mereka bertiga
hidup tenang dan penuh damai di pinggir telaga. Sampai setahun lebih lamanya
mereka bertiga tinggal di tempat yang indah itu. Akan tetapi hanya kelihatannya
saja mereka hidup penuh ketenangan dan damai. Sebetulnya ada hal yang
mengganggu hati Listyokumolo. Di waktu malam, setelah tidur pulas, seringkali
suami isteri ini berbantahan. Listyokumolo tidak pernah dapat melupakan sakit
hatinya terhadap Pujo! Dendam ini pula yang membuat ia semenjak menjadi isteri
Ki Adibroto, dengan tekun dan rajin bersama puteri tirinya menggembleng diri
dengan ilmu silat dan kesaktian. Biarpun ia tidak semaju Ayu Candra, namun
setelah lewat enam belas tahun, Listyokumolo yang sekarang bukanlah
Listyokumolo belasan tahun yang lalu. Ia kini menjadi seorang wanita yang
berkepandaian. Dan setiap malam, ia membujuk suaminya untuk membantunya mencari
Pujo, mencari puteranya, Joko Wandiro dan membalaskan dendamnya kepada Pujo.
Ki Adibroto
adalah seorang yang memiliki pandangan luas dan karena ia telah mendengar
riwayat isterinya, ia dapat menduga bahwa suami isterinya yang pertama, Raden Wisangjiwo
tentu bukan seorang baik-baik sehingga dimusuhi orang yang bernama Pujo. Ia
selalu mengingatkan isterinya,
"Engkau
sendiri menyatakan bahwa bekas suamimu, Wisangjiwo adalah seorang yang
menyeleweng daripada kebenaran. Sangat boleh jadi dia itu melakukan sesuatu
yang mendatangkan dendam kepada Pujo."
"Memang
begitulah. Agaknya Wisangjiwo telah memperkosa isteri Pujo karena ketika
menculikku, Pujo menyatakan hal itu kepadaku. Akan tetapi mengapa dia
membalasnya kepadaku dan membawa pergi anakku?" Listyokumolo penasaran.
Ki Adibroto
menghela napas panjang.
"Isteriku,
orang yang diracuni dendam hatinya menjadi seperti orang buta. Mungkin Pujo
melarikan engkau, kemudian menculik anakmu, sama sekali tidak bermaksud sesuatu
kepada dirimu pribadi melainkan semua ia tujukan untuk merusak hati bekas
suamimu. Sudah kukatakan tadi bahwa dendam membuat orang seperti buta sehingga
ia tidak melihat bahwa perbuatannya itu bukan hanya merusak hati Wisangjiwo
secara tidak langsung, akan tetapi bahkan secara langsung merusak hatimu dan
Joko Wandiro. Akan tetapi, setelah tahu bahwa dendam amat tidak baik, apakah
engkau masih mau diracuni dendam terhadap Pujo?”
"Kakang
Adibroto, aku tidak akan ngawur seperti Pujo. Aku hanya akan membalas
kepadanya, bukan kepada orang lain. Pula, aku harus bertemu dengan dia untuk
menanyakan dimana adanya Joko Wandiro. Kalau engkau tidak mau mengantarku,
biarlah aku mencarinya sendiri. Biarpun belum tentu aku mampu mengalahkan Pujo,
akan tetapi apa yang telah kupelajari darimu kiranya cukup untuk bekal
melakukan perjalanan."
Ki Adibroto
yang amat mencinta isterinya, tentu saja tidak dapat membiarkan isterinya pergi
seorang diri menempuh bahaya. Akhirnya ia terpaksa menerima permintaan
isterinya. Apalagi kalau ia ingat bahwa kini puterinya, Ayu Candra sudah
berusia tujuh belas tahun, sudah cukup dewasa untuk menjaga diri sendiri di
tempat yang aman itu sampai mereka kembali dari perjalanan. Malah selain
memenuhi permintaan isterinya, ia juga ada keperluan lain, yaitu pergi menemui
sahabat-sahabatnya untuk mencari dan memilihkan seorang calon suami bagi Ayu
Candra!
"Candra,
ayah bundamu ada keperluan penting sekali, akan pergi untuk beberapa pekan
lamanya. Engkau harus tinggal sendiri di sini, menanti sampai kami
pulang."
Alis yang
kecil panjang hitam melengkung itu berkerut.
"Mengapa
aku tidak diajak pergi, ayah? Mengapa ditinggal sendiri di sini? Ayah dan ibu
hendak ke manakah?"
"Negara
sedang kacau, Candra. Permusuhan terjadi di mana-mana dan banyak orang jahat
berkeliaran bebas. Engkau seorang wanita muda yang tentu akan menarik perhatian
dan menimbulkan pertentangan. Pula, urusan yang akan kami urus adalah urusan
kami orang-orang tua, tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Perhatikanlah, jangan
kau pergi ke mana-mana, tinggal saja di sini dan tunggu sampai kami
pulang."
Ayu Candra
memang seorang anak yang taat kepada ayahnya. Biarpun hatinya amat kecewa dan
tidak senang, ia tidak berani banyak membantah lagi. Akan tetapi ketika pagi
hari itu ia melihat ayah bundanya pergi turun dari lereng, ia berdiri
termangu-mangu dan memandang ke arah bayangan mereka sampai mereka lenyap di
sebuah tikungan. Barulah ia menjatuhkan diri di atas rumput dan menghapus air
matanya. Namun, Ayu Candra bukan seorang anak perempuan yang cengeng. Hanya
sebentar saja ia melepaskan kekecewaannya dengan menangis Tidak lama kemudian
ia sudah bekerja seperti biasa, menyapu pekarangan mengumpulkan daun kering
yang memenuhi pekarangan dan membakarnya. Kemudian ia melakukan pekerjaan rumah
seperti biasa dan wajahnya sudah cerah kembali. Beberapa hari kemudian, karena
kayu bakar persediaan mereka habis, Ayu Candra pagi-pagi telah meninggalkan
pondoknya dan berlari-lari mendaki jalan yang menanjak. Sejak kecil ia sudah
dilatih ayahnya untuk melawan hawa dingin pegunungan di waktu pagi dengan
berlari-larian. Amat lincah gerakannya, laksana seekor kijang muda ketika ia
lari mendaki jalan yang licin dan sukar itu. Namun bagi Ayu Candra tidaklah
sukar. Selain untuk melawan hawa dingin, juga pagi itu amat indah, udara cerah
dan sinar matahari pagi mulai menerobos rnelalui celah-celah daun pohon membagi
cahaya kehidupan ke muka bumi. Pagi cerah yang menimbulkan rasa gembira di hati
Ayu Candra, segembira burung-burung di pohon yang berkicau riang, segembira
bajing-bajing yang berloncatan dari cabang ke cabang, kelinci yang lari
berkejaran menyusup semak-semak. Baru kali ini Ayu Candra merasa betapa
senangnya bebas seperti itu. la merasa bebas, seorang diri di dunia ini setelah
ayah bundanya pergi. Ia masih ingat akan pesan ayahnya agar ia jangan pergi
mengunjungi dusun-dusun yang terletak di kaki gunung. Akan tetapi pagi ini ia
tidak mengunjungi dusun-dusun itu, ia malah mendaki naik menjauhi dusun dusun,
menjauhi manusia. Apa salahnya? Belum pernah ia pergi ke hutan di sebelah
puncak kiri itu. Ia akan mencari kayu bakar di sana sambil melihat lihat
keadaan hutan yang belum pernah ia kunjungi. Dari jauh tampak beberapa batang
pohon kelapa dan hal ini menambah tertarik hatinya. Sukar mencari pohon kelapa
di daerah Sarangan, dan agaknya hanya kebetulan saja di hutan sebelah depan itu
terdapat beberapa batang pohon kelapa. Makin girang hatinya setelah dekat ia
melihat bahwa sebatang di antara pohon-pohon kelapa itu ada buahnya yang sudah
besar. Sudah lama ia tidak pernah makan dawegan (kelapa muda), maka tiga butir
buah yang tergantung di pohon tinggi itu merupakan daya penarik yang amat kuat
sehingga Ayu Candra mempercepat larinya. Setelah tiba di bawah pohon kelapa, ia
segera mengambil batu dan dua kali lontaran saja dengan tangannya yang kuat, ia
telah berhasil merontokkan tiga butir kelapa muda itu. Dengan girang ia
mengambil tiga butir buah itu, membayangkan kesedapan air dawegan dan kelezatan
dagingnya. Akan tetapi teringat olehnya akan kayu bakar yang habis
persediaannya. Ia segera pergi mengumpulkan kayu bakar yang amat banyak
terdapat di hutan itu, kemudian setelah mengikat kayu-kayu kering itu ia
menggendongnya dan menjinjing tiga butir kelapa, hendak dibawa pulang.
Ayu Candra
dengan wajah berseri berjalan keluar dari hutan itu. Ia sengaja menahan haus
dan baru di pondok nanti akan menikmati air dawegan yang manis dan sedap. Akan
tetapi ketika tiba di pinggir hutan dan melewati sebuah pohon randu alas yang
besar sekali karena tiga batang pohon tumbuh menjadi satu, mendadak ia berhenti
melangkah karena mendengar suara orang!
"Duh
Dewa........ kenapa tidak dicabut saja nyawaku? Tidak kuat aku menderita
siksaan ini........!”
Ayu Candra
adalah seorang gadis yang tidak pernah mengenal takut karena sejak kecil ia
telah digembleng ayahnya. Akan tetapi, mendengar dengan telinga sendiri betapa
pohon randu alas dapat bicara dan mengeluh seperti manusia benar-benar ia
merasa ngeri juga dan wajahnya yang cantik jelita itu berubah agak pucat. Ia
tahu bahwa iblis dan setan berkeliaran di atas bumi ini, akan tetapi di waktu
malam hari.mSekarang, di waktu matahari masih bersinar seterang-terangnya,
menjelang tengah hari, bagaimana ada iblis berani muncul dan memperdengarkan
suaranya? Kalau bukan iblis, mustahil ada pohon randu alas benar-benar bisa mengeluh
seperti manusia dan menyatakan bosan hidup? Ah tak mungkin, pikirnya. Tentu
orang! Akan tetapi kalau ada orangnya, di mana sembunyinya? Ayu Candra merasa
curiga dan karena kedua tangannya menjinjing buah buah kelapa, ia lalu
melemparkan tiga butir buah kelapa itu ke atas tanah. Kemudian ia mendekati
pohon randu alas dan bertanya,
"Siapakah
orangnya yang mengeluarkan suara keluhan tadi?"
Sunyi
mengikuti pertanyaan ini, seakan akan orang yang mengeluarkan suara tadi merasa
kaget. Kemudian terdengar orang merintih, suaranya keluar dari dalam pohon!
"Sudah
begini menderita masih ada wanita menggangguku lagi? Ah, Dewata Yang Agung,
sampai di ambang maut masih haruskah aku berhadapan dengan penggodaku?"
Tiba-tiba
"kulit " pohon itu terbuka dari dalam dan seorang laki-laki
menggelundung keluar. Kiranya batang pohon itu berlubang dalamnya dan laki-laki
ini tadi bersembunyi di dalam pohon. Melihat keadaan laki-laki ini, Ayu Candra
terkejut bukan main.
No comments:
Post a Comment