Badai Laut Selatan ; Bagian 105


Keadaan laki-laki ini mengerikan. Laki-laki itu usianya tentu empat puluh tahun lebih pakaiannya compang-camping, wajahnya penuh bekas luka. Melihat ke bawah Ayu Candra merasa makin ngeri. Kedua kaki orang itu buntung sebatas lutut! Karena celananya juga compang camping maka tampaklah kaki yang buntung itu yang ujungnya merupakan tulang menjedol keluar dikelilingi daging terbungkus kulit berkeriputan. Laki-laki itu setelah menggelundung keluar, lalu menoleh dan sepasang matanya terbelalak penuh kekaguman memandang wajah cantik jelita dan tubuh yang muda, montok, dan padat. Akan tetapi hanya sebentar saja kekaguman itu terpancar keluar dari sinar matanya. Segera ia mengerang kesakitan dan sinar matanya layu.
“aduh…..mati aku….!”
Ayu Candra memiliki dasar watak yang penuh welas asih seperti watak ayahnya. Melihat keadaan orang itu dan mendengar rintihannya, ia merasa sangat kasihan sekali. Bagaimana ada orang sampai begini sengsara?
"Kasihan sekali engkau paman. Mengapa engkau sampai menjadi begini?!.”
Laki-laki itu mengerang panjang, tubuhnya yang miring itu terlentang dan ia memandang ke arah wajah yang cantik jelita itu.
"Aku....... aku menderita sakit..ohh.. tolonglah aaugghhh.” Kembali ia mengerang dan melanjutkan, terengah-engah,
"lapar…. Haus…aduh…."
Ayu Candra merasa hatinya seperti di tusuk-tusuk. Entah bagaimana wajah orang ini mendatangkan iba dalam hatinya. Ia dapat melihat bahwa dahulunya orang ini memiliki bentuk wajah yang tampan dan pakaiannya walaupun butut, dilihat dari celana, baju, kain dan destarnya, pasti bukan orang dusun biasa. Dan sinar mata itu amat tajam berpengaruh menandakan seorang "berisi".
“Aku hanya punya kelapa. Maukah kau minum air dawegan?"
Laki-laki itu menggerakkan kepala mengangguk. Ayu Candra lalu berjongkok memungut sebutir dawegan yang tadi ia lemparkan ke atas tanah, kemudian menggunakan sepotong batu untuk mengupas kulitnya bagian atas dan membuat lubang. Hal ini dapat ia lakukan dengan mudah, menggunakan tenaga dalam. Orang biasa saja, biarpun ia laki laki, takkan mungkin mengupas kulit kelapa yang amat liat dan keras itu hanya menggunakan sepotong batu! Hal ini rupanya dimengerti pula oleh laki-laki buntung karena ia kini sudah bangkit duduk sambil memandang dengan mata terbelalak kaget.

Kalau saja Ayu Candra tidak sedang asyik membuka kulit kelapa, dan melihat cara laki-laki itu bangkit duduk, tentu ia akan menjadi curiga, Ketika itu, laki-laki buntung itu tidak kelihatan selemah tadi, bahkan sekali tubuhnya bergerak ia sudah dapat bangkit dan duduk. Ketika Ayu Candra membalikkan tubuh membawa kelapa yang sudah terkupas dan terlubang, laki-laki itu kembali kelihatan menyeringai kesakitan, sungguhpun matanya masih terbelalak heran dan kaget.
"Minumlah air kelapa ini, paman. baik untuk kesehatan selain mengurangi haus," kata Ayu Candra dengan suara halus dan penuh perasaan.
Makin dipandang, makin kasihan ia terhadap laki-laki itu. Sebaliknya bagi laki-laki itu, makin dipandang, makin luar biasa cantik jelita dan halus budi pekerti gadis itu, membuat ia menelan ludah bukan karena haus.
"Terima kasih. terima kasih” katanya menerima dawegan, menyembunyikan debar jantungnya yang berdegupan ketika jari tangannya menyentuh jari tangan yang halus dan hangat.
Diteguknya air dawegan itu sampai habis, kemudian diusapnya air yang membasahi ujung bibir dan dagunya.
"Aaahhhh segar sekali. Sudah berkurang peningku. Terima kasih, nak. Engkau sungguh baik sekali."
Tiba-tiba Ayu Candra merasa betapa mukanya menjadi agak panas dan cepat ia membuang muka. Pandang mata orang itu membuat hatinya berdebar. Pandang mata itu seakan-akan menembus jantungnya dan menjenguk isi hati dan pikirannya. Bukan main tajamnya dan ia merasa aneh. Untuk menghilangkan rasa anehnya ini ia lalu memandang dan berkata,
"Apakah paman mau dahar daging dawegan ini?"
Kembali laki-laki itu mengangguk-angguk, menjilati bibir dengan lidah dan memandang kelapa muda sambil berkata,
"Bagaimana membukanya? Kulihat engkau tidak membawa parang......... "
Ayu Candra merasa bahwa di depan seorang tapadaksa itu tidak perlu lagi ia berpura-pura dan menyembunyikan kepandaiannya.
“Tidak perlu pakai parang," katanya singkat sambil mengangkat tangan kanan, dipukulkan pada kelapa muda yang berada di atas telapak tangan kirinya.
"Prakkk!" Kelapa muda itu pecah menjadi dua, terbelah seperti dibacok kapak tajam saja. Padahal kelapa itu masih terbungkus serabutnya yang liat!
Laki-laki itu makin heran sampai melongo, kemudian diam-diam ia mengangguk-anggukkan kepalanya, diterimanya kelapa itu dan dimakanlah daging kelapa muda yang lembut, gurih dan manis dengan lahapnya.
"Mau lagikah, paman? Aku masih punya dua butir........ " tanya Ayu Candra sejujurnya ketika melihat orang itu sudah makan daging kelapa muda.
"Tidak........ , sudah cukup. Terima kasih "
"Di manakah rumah paman? Dan mengapa sampai di tempat. ini dalam keadaan seperti........ itu?" Ia menudingkan telunjuknya ke arah kedua kaki yang buntung.
Laki-laki itu memandang kepadanya dan perlahan-lahan beberapa butir air mata menetes turun.. Trenyuh sekali hati Ayu Candra.
"Apakah paman dicelakai orang? Siapa mereka yang mencelakai paman? Kejam benar mereka!"
Mewarisi watak ayahnya, seorang pendekar besar, Ayu Candra mengepal kedua tinju, merasa marah sekali menyaksikan kekejaman orang terhadap laki-laki buntung ini. Dengan suara pilu laki-laki itu berkata,
"Terima kasih atas perhatianmu, nak. Aku........ aku memang seorang yang bernasib buruk. Aku disiksa orang-orang jahat, kedua kakiku dibuntungi dan nyaris dibunuh mereka. Akan tetapi, aku sendiri tidak tahu siapa mereka. Namaku Ki Jatoko dan aku tidak bersanak-kadang, tidak berkeluarga tidak punya tempat tinggal. Aku berusaha mencari pedusunan sambil merangkak-rangkak sedapatnya, sampai di tempat ini terserang sakit dan agaknya Dewata sudah akan mencabut nyawaku. Akan tetapi engkau muncul dan menolongku, ini hanya berarti kematianku agak diperpanjang berikut siksaan dan derita"

Wajah Ayu Candra menjadi pucat. Ia tidak tahu bagaimana harus menolong orang ini. Kalau sekarang ia pulang dan meninggalkan orang ini di sini, tentu orang ini akan mati. Kalau tidak mati diterkam harimau atau binatang buas lain, tentu akan mati kelaparan dan kehausan. Membawanya pulang? Bagaimana caranya? Dia sudah buntung kedua kakinya. Pula, kedua orang tuanya tidak berada di rumah.
"Sayang. Ayah dan ibu tidak ada di rumah. Entah kapan pulangnya. Kalau ada ayah, tentu dia akan dapat menolongmu, paman. Ayah tidak akan membiarkan orang lain menderita tanpa menolongnya."
Ayu Candra tidak melihat betapa sinar mata laki-laki itu berkilat ketika mendengar bahwa ayah bunda gadis itu tidak berada di rumah.
"Siapakan nama ayahmu yang mulia,nak? Dan siapakah namamu? Aku harus tahu nama dewi penolongku"
"Ayah bernama Ki Adibroto. Kini bersama ibu sedang pergi, mungkin masih lama kembalinya karena baru sepekan dan menurut pesan ayah, mungkin sampai berbulan. Aku bernama Ayu Candra."
"Ayu Candra, anak yang baik, engkau telah menyambung nyawaku tadi apakah sekarang engkau tega meninggalkan paman mati kelaparan di sini? Tolonglah aku, nak, tolonglah........biarlah aku ikut mondok di tempat tinggalmu, sampai orang tuamu datang, atau sampai aku sembuh kembali aduuhhh......!"
Laki-laki itu roboh dan bergulingan di atas tanah. Ayu Candra kaget sekali, cepat ia berjongkok dan meraba dahi orang. Amat panas! Terang bahwa orang ini terkena penyakit demam. Bagaimana mungkin ia membiarkan saja orang yang sakit ini di dalam hutan tanpa menolongnya?
"Aku suka menolongmu, paman. Dan aku tidak keberatan kau mondok di pondok kami. Akan tetapi bagaimana kau dapat sampai ke sana? Dari tempat ini agak jauh juga, dan jalannya sukar, naik turun dan licin."
Laki-laki ini mengeluh dan kembali bangkit duduk sambil menekan tanah. Cepat-cepat ia menjawab,
"Jangan khawatir, nak. Keadaanku ini membuat aku terpaksa dapat berjalan menggunakan kedua tanganku. Bertahun-tahun aku melatih jalan dengan kedua tanganku dan aku berhasil. Asal tidak terlalu cepat, agaknya aku akan dapat bersamamu pergi ke pondokmu."
Ayu Candra mengangguk-angguk.
"Baiklah, paman. Dan nanti apabila menemui jalan yang terlalu sukar, aku dapat membantumu."
Laki-laki yang mengaku bernama Ki Jatoko itu kelihatan girang sekali. Dengan menekankan kedua tangan ke atas tanah, ia bangkit dan "berdiri" di atas kedua kakinya" yang buntung. Kemudian ia menggerakkan kedua kaki dan ia dapat berjalan cukup baik, seperti seorang anak kecil.
"Jika aku merasa lelah dan kedua kakiku yang bunting terasa nyeri, aku dapat membantunya dengan kedua tangan seperti ini." katanya dan kini ia berjalan dengan "empat kaki", sehingga Ayu Candra yang melihatnya merasa terharu sekali.
Melihat keharuan membayang di wajah yang cantik manis itu, Ki Jantoko berkata dengan suara memelas,
"Ayu Candra, bocah ayu yang berhati emas, cantik berbudi seperti Dewi Suprobo, sudikah engkau menolong paman yang sengsara ini? Kalau engkau tidak merasa jijik untuk menggandeng tanganku, agaknya aku akan berjalan lebih cepat, tidak usah merangkak seperti binatang berkaki empat"
Suara itu amat mengharukan hati Ayu Candra yang merasa heran kepada dirinya sendiri mengapa ia begini lemah perasaannya sehingga terhadap laki-laki ini, yang sudah setengah tua, buntung lagi buruk mukanya menjijikkan penuh bekas luka, ia merasa amat kasihan dan juga merasa suka! Betapapun juga, ia memiliki batin yang amat kuat dan masih murni, bersih daripada niat dan pamrih buruk, sehingga andaikata dia tidak merasa amat kasihan kepada Ki Jatoko tentu ia tidak sudi melaksanakan permintaan si buntuhg itu.
"Marilah agar kita cepat sampai di pondokku," katanya mengulurkan tangan kiri kepada Ki Jatoko.
Dengan pandang mata penuh haru dan syukur laki-laki itu memegang tangan kiri Ayu Candra dengan tangan kanannya. Di dalam hati laki-laki ini menyebut nama Dewata yang memberi berkah sedemikian besar kepadanya. Jantungnya berdebar-debar ketika kulit tangannya meraba kulit tangan gadis remaja yang halus lunak dan hangat itu. Kehangatan lembut yang seakan-akan menjalar melalui tangannya dan bagaikan embun membasahi hatinya yang mulai melayu sehingga hatinya menjadi segar kembali, semangatnya yang sudah tidur menjadi bangkit kembali. Kedua kakinya yang buntung tidak terasa sakit lagi ketika ia berlari-lari kecil dalam langkahnya untuk mengimbangi langkah Ayu Candra yang tentu saja lebih lebar daripada langkah kedua kaki buntungnya.

Siapakah gerangan laki-laki buntung itu? Benarkah seperti Apa yang ia ceritakan bahwa ia dianiaya oleh orang-orang jahat sehingga kedua kakinya buntung dan mukanya penuh cacad? Ah, kalau saja Ayu Candra tahu siapa dia sebenarnya! Laki-laki itu sama sekali bukanlah orang lemah seperti tampaknya. Dan kedua kaki yang buntung itu tidak lagi terasa sakit seperti yang diperlihatkannya. Tidak, sama sekali tidak. Kaki itu sudah buntung selama lima tahun yang lalu! Dan laki-laki itu sama sekali bukan orang lemah, bahkan dengan kedua kakinya yang buntung itu masih memiliki kesaktian yang hebat. Karena dia ini bukan lain adalah Jokowanengpati! Ya, kedengarannya aneh, akan tetapi sebetulnya tidak aneh. Tidak ada yang aneh di dunia ini, bahkan di alam semesta, apabila Tuhan menghendaki. Semua sudah wajar dan semestinya demikian, sesuai dengan kehendak Tuhan karena apabila Tuhan tidak menghendaki, tentu tidak akan terjadi demikian! Ketika Jokowanengpati dalam pertandingan melawan pengeroyokan Kartikosari dan Roro Luhito, terjun ke dalam Laut Selatan dan mengejek kedua orang wanita musuh besarnya itu, ia disambar ikan hiu. Dalam pandangan Kartikosari dan Roro Luhito, juga Pujo yang diam-diam menyaksikan babak terakhir pertandingan hebat itu, tentu saja Jokowanengpati tewas karena diseret ikan hiu yang buas dan lenyap ke bawah permukaan air laut. Mereka ini tidak melihat Jokowanengpati muncul kembali, maka sudah tentu menganggap bahwa musuh besarnya itu habis riwayatnya dikubur ke dalam perut ikan. Akan tetapi sesungguhnya tidak seperti yang mereka sangka dan harapkan. Jokowanengpati adalah seorang yang sakti dan memiliki tubuh yang kebal, juga amat cerdik, licin dan penuh akal. Tadinya ia memang kehilangan akal ketika secara tiba-tiba diserang ikan hiu yang besar dan amat kuat itu. Rasa ngeri dan takut membuat ia menjerit-jerit minta tolong, lupa untuk mempergunakan kecerdikan dan kekuatan sendiri untuk menolong dirinya. Akan tetapi ketika ikan hiu itu membawanya menyelam, menyeretnya sampai jauh di dalam air, dalam keadaan pelik ini, dalam cengkeraman maut yang agaknya takkan dapat dihindarinya lagi, Jokowanengpati menjadi marah sekali.

<<< Bagian 104                                                                                     Bagian 106 >>>

No comments:

Post a Comment