Keadaan laki-laki ini mengerikan. Laki-laki itu usianya tentu empat puluh tahun lebih pakaiannya compang-camping, wajahnya penuh bekas luka. Melihat ke bawah Ayu Candra merasa makin ngeri. Kedua kaki orang itu buntung sebatas lutut! Karena celananya juga compang camping maka tampaklah kaki yang buntung itu yang ujungnya merupakan tulang menjedol keluar dikelilingi daging terbungkus kulit berkeriputan. Laki-laki itu setelah menggelundung keluar, lalu menoleh dan sepasang matanya terbelalak penuh kekaguman memandang wajah cantik jelita dan tubuh yang muda, montok, dan padat. Akan tetapi hanya sebentar saja kekaguman itu terpancar keluar dari sinar matanya. Segera ia mengerang kesakitan dan sinar matanya layu.
“aduh…..mati aku….!”
Ayu Candra
memiliki dasar watak yang penuh welas asih seperti watak ayahnya. Melihat
keadaan orang itu dan mendengar rintihannya, ia merasa sangat kasihan sekali.
Bagaimana ada orang sampai begini sengsara?
"Kasihan
sekali engkau paman. Mengapa engkau sampai menjadi begini?!.”
Laki-laki itu
mengerang panjang, tubuhnya yang miring itu terlentang dan ia memandang ke arah
wajah yang cantik jelita itu.
"Aku.......
aku menderita sakit..ohh.. tolonglah aaugghhh.” Kembali ia mengerang dan
melanjutkan, terengah-engah,
"lapar….
Haus…aduh…."
Ayu Candra
merasa hatinya seperti di tusuk-tusuk. Entah bagaimana wajah orang ini
mendatangkan iba dalam hatinya. Ia dapat melihat bahwa dahulunya orang ini
memiliki bentuk wajah yang tampan dan pakaiannya walaupun butut, dilihat dari
celana, baju, kain dan destarnya, pasti bukan orang dusun biasa. Dan sinar mata
itu amat tajam berpengaruh menandakan seorang "berisi".
“Aku hanya
punya kelapa. Maukah kau minum air dawegan?"
Laki-laki itu
menggerakkan kepala mengangguk. Ayu Candra lalu berjongkok memungut sebutir
dawegan yang tadi ia lemparkan ke atas tanah, kemudian menggunakan sepotong
batu untuk mengupas kulitnya bagian atas dan membuat lubang. Hal ini dapat ia
lakukan dengan mudah, menggunakan tenaga dalam. Orang biasa saja, biarpun ia
laki laki, takkan mungkin mengupas kulit kelapa yang amat liat dan keras itu
hanya menggunakan sepotong batu! Hal ini rupanya dimengerti pula oleh laki-laki
buntung karena ia kini sudah bangkit duduk sambil memandang dengan mata
terbelalak kaget.
Kalau saja Ayu
Candra tidak sedang asyik membuka kulit kelapa, dan melihat cara laki-laki itu
bangkit duduk, tentu ia akan menjadi curiga, Ketika itu, laki-laki buntung itu
tidak kelihatan selemah tadi, bahkan sekali tubuhnya bergerak ia sudah dapat bangkit
dan duduk. Ketika Ayu Candra membalikkan tubuh membawa kelapa yang sudah
terkupas dan terlubang, laki-laki itu kembali kelihatan menyeringai kesakitan,
sungguhpun matanya masih terbelalak heran dan kaget.
"Minumlah
air kelapa ini, paman. baik untuk kesehatan selain mengurangi haus," kata
Ayu Candra dengan suara halus dan penuh perasaan.
Makin
dipandang, makin kasihan ia terhadap laki-laki itu. Sebaliknya bagi laki-laki
itu, makin dipandang, makin luar biasa cantik jelita dan halus budi pekerti
gadis itu, membuat ia menelan ludah bukan karena haus.
"Terima
kasih. terima kasih” katanya menerima dawegan, menyembunyikan debar jantungnya
yang berdegupan ketika jari tangannya menyentuh jari tangan yang halus dan
hangat.
Diteguknya air
dawegan itu sampai habis, kemudian diusapnya air yang membasahi ujung bibir dan
dagunya.
"Aaahhhh
segar sekali. Sudah berkurang peningku. Terima kasih, nak. Engkau sungguh baik
sekali."
Tiba-tiba Ayu
Candra merasa betapa mukanya menjadi agak panas dan cepat ia membuang muka. Pandang
mata orang itu membuat hatinya berdebar. Pandang mata itu seakan-akan menembus
jantungnya dan menjenguk isi hati dan pikirannya. Bukan main tajamnya dan ia
merasa aneh. Untuk menghilangkan rasa anehnya ini ia lalu memandang dan
berkata,
"Apakah
paman mau dahar daging dawegan ini?"
Kembali
laki-laki itu mengangguk-angguk, menjilati bibir dengan lidah dan memandang
kelapa muda sambil berkata,
"Bagaimana
membukanya? Kulihat engkau tidak membawa parang......... "
Ayu Candra
merasa bahwa di depan seorang tapadaksa itu tidak perlu lagi ia berpura-pura
dan menyembunyikan kepandaiannya.
“Tidak perlu
pakai parang," katanya singkat sambil mengangkat tangan kanan, dipukulkan
pada kelapa muda yang berada di atas telapak tangan kirinya.
"Prakkk!"
Kelapa muda itu pecah menjadi dua, terbelah seperti dibacok kapak tajam saja.
Padahal kelapa itu masih terbungkus serabutnya yang liat!
Laki-laki itu
makin heran sampai melongo, kemudian diam-diam ia mengangguk-anggukkan
kepalanya, diterimanya kelapa itu dan dimakanlah daging kelapa muda yang
lembut, gurih dan manis dengan lahapnya.
"Mau
lagikah, paman? Aku masih punya dua butir........ " tanya Ayu Candra
sejujurnya ketika melihat orang itu sudah makan daging kelapa muda.
"Tidak........
, sudah cukup. Terima kasih "
"Di manakah
rumah paman? Dan mengapa sampai di tempat. ini dalam keadaan seperti........
itu?" Ia menudingkan telunjuknya ke arah kedua kaki yang buntung.
Laki-laki itu
memandang kepadanya dan perlahan-lahan beberapa butir air mata menetes turun..
Trenyuh sekali hati Ayu Candra.
"Apakah
paman dicelakai orang? Siapa mereka yang mencelakai paman? Kejam benar
mereka!"
Mewarisi watak
ayahnya, seorang pendekar besar, Ayu Candra mengepal kedua tinju, merasa marah
sekali menyaksikan kekejaman orang terhadap laki-laki buntung ini. Dengan suara
pilu laki-laki itu berkata,
"Terima
kasih atas perhatianmu, nak. Aku........ aku memang seorang yang bernasib
buruk. Aku disiksa orang-orang jahat, kedua kakiku dibuntungi dan nyaris
dibunuh mereka. Akan tetapi, aku sendiri tidak tahu siapa mereka. Namaku Ki
Jatoko dan aku tidak bersanak-kadang, tidak berkeluarga tidak punya tempat
tinggal. Aku berusaha mencari pedusunan sambil merangkak-rangkak sedapatnya,
sampai di tempat ini terserang sakit dan agaknya Dewata sudah akan mencabut
nyawaku. Akan tetapi engkau muncul dan menolongku, ini hanya berarti kematianku
agak diperpanjang berikut siksaan dan derita"
Wajah Ayu
Candra menjadi pucat. Ia tidak tahu bagaimana harus menolong orang ini. Kalau
sekarang ia pulang dan meninggalkan orang ini di sini, tentu orang ini akan
mati. Kalau tidak mati diterkam harimau atau binatang buas lain, tentu akan
mati kelaparan dan kehausan. Membawanya pulang? Bagaimana caranya? Dia sudah
buntung kedua kakinya. Pula, kedua orang tuanya tidak berada di rumah.
"Sayang.
Ayah dan ibu tidak ada di rumah. Entah kapan pulangnya. Kalau ada ayah, tentu
dia akan dapat menolongmu, paman. Ayah tidak akan membiarkan orang lain
menderita tanpa menolongnya."
Ayu Candra
tidak melihat betapa sinar mata laki-laki itu berkilat ketika mendengar bahwa
ayah bunda gadis itu tidak berada di rumah.
"Siapakan
nama ayahmu yang mulia,nak? Dan siapakah namamu? Aku harus tahu nama dewi
penolongku"
"Ayah
bernama Ki Adibroto. Kini bersama ibu sedang pergi, mungkin masih lama
kembalinya karena baru sepekan dan menurut pesan ayah, mungkin sampai berbulan.
Aku bernama Ayu Candra."
"Ayu
Candra, anak yang baik, engkau telah menyambung nyawaku tadi apakah sekarang
engkau tega meninggalkan paman mati kelaparan di sini? Tolonglah aku, nak,
tolonglah........biarlah aku ikut mondok di tempat tinggalmu, sampai orang
tuamu datang, atau sampai aku sembuh kembali aduuhhh......!"
Laki-laki itu
roboh dan bergulingan di atas tanah. Ayu Candra kaget sekali, cepat ia
berjongkok dan meraba dahi orang. Amat panas! Terang bahwa orang ini terkena
penyakit demam. Bagaimana mungkin ia membiarkan saja orang yang sakit ini di
dalam hutan tanpa menolongnya?
"Aku suka
menolongmu, paman. Dan aku tidak keberatan kau mondok di pondok kami. Akan
tetapi bagaimana kau dapat sampai ke sana? Dari tempat ini agak jauh juga, dan
jalannya sukar, naik turun dan licin."
Laki-laki ini
mengeluh dan kembali bangkit duduk sambil menekan tanah. Cepat-cepat ia
menjawab,
"Jangan
khawatir, nak. Keadaanku ini membuat aku terpaksa dapat berjalan menggunakan
kedua tanganku. Bertahun-tahun aku melatih jalan dengan kedua tanganku dan aku
berhasil. Asal tidak terlalu cepat, agaknya aku akan dapat bersamamu pergi ke
pondokmu."
Ayu Candra
mengangguk-angguk.
"Baiklah,
paman. Dan nanti apabila menemui jalan yang terlalu sukar, aku dapat
membantumu."
Laki-laki yang
mengaku bernama Ki Jatoko itu kelihatan girang sekali. Dengan menekankan kedua
tangan ke atas tanah, ia bangkit dan "berdiri" di atas kedua
kakinya" yang buntung. Kemudian ia menggerakkan kedua kaki dan ia dapat
berjalan cukup baik, seperti seorang anak kecil.
"Jika aku
merasa lelah dan kedua kakiku yang bunting terasa nyeri, aku dapat membantunya
dengan kedua tangan seperti ini." katanya dan kini ia berjalan dengan
"empat kaki", sehingga Ayu Candra yang melihatnya merasa terharu
sekali.
Melihat
keharuan membayang di wajah yang cantik manis itu, Ki Jantoko berkata dengan
suara memelas,
"Ayu
Candra, bocah ayu yang berhati emas, cantik berbudi seperti Dewi Suprobo,
sudikah engkau menolong paman yang sengsara ini? Kalau engkau tidak merasa
jijik untuk menggandeng tanganku, agaknya aku akan berjalan lebih cepat, tidak
usah merangkak seperti binatang berkaki empat"
Suara itu amat
mengharukan hati Ayu Candra yang merasa heran kepada dirinya sendiri mengapa ia
begini lemah perasaannya sehingga terhadap laki-laki ini, yang sudah setengah
tua, buntung lagi buruk mukanya menjijikkan penuh bekas luka, ia merasa amat
kasihan dan juga merasa suka! Betapapun juga, ia memiliki batin yang amat kuat
dan masih murni, bersih daripada niat dan pamrih buruk, sehingga andaikata dia
tidak merasa amat kasihan kepada Ki Jatoko tentu ia tidak sudi melaksanakan
permintaan si buntuhg itu.
"Marilah
agar kita cepat sampai di pondokku," katanya mengulurkan tangan kiri
kepada Ki Jatoko.
Dengan pandang
mata penuh haru dan syukur laki-laki itu memegang tangan kiri Ayu Candra dengan
tangan kanannya. Di dalam hati laki-laki ini menyebut nama Dewata yang memberi
berkah sedemikian besar kepadanya. Jantungnya berdebar-debar ketika kulit tangannya
meraba kulit tangan gadis remaja yang halus lunak dan hangat itu. Kehangatan
lembut yang seakan-akan menjalar melalui tangannya dan bagaikan embun membasahi
hatinya yang mulai melayu sehingga hatinya menjadi segar kembali, semangatnya
yang sudah tidur menjadi bangkit kembali. Kedua kakinya yang buntung tidak
terasa sakit lagi ketika ia berlari-lari kecil dalam langkahnya untuk
mengimbangi langkah Ayu Candra yang tentu saja lebih lebar daripada langkah
kedua kaki buntungnya.
Siapakah
gerangan laki-laki buntung itu? Benarkah seperti Apa yang ia ceritakan bahwa ia
dianiaya oleh orang-orang jahat sehingga kedua kakinya buntung dan mukanya
penuh cacad? Ah, kalau saja Ayu Candra tahu siapa dia sebenarnya! Laki-laki itu
sama sekali bukanlah orang lemah seperti tampaknya. Dan kedua kaki yang buntung
itu tidak lagi terasa sakit seperti yang diperlihatkannya. Tidak, sama sekali
tidak. Kaki itu sudah buntung selama lima tahun yang lalu! Dan laki-laki itu
sama sekali bukan orang lemah, bahkan dengan kedua kakinya yang buntung itu
masih memiliki kesaktian yang hebat. Karena dia ini bukan lain adalah
Jokowanengpati! Ya, kedengarannya aneh, akan tetapi sebetulnya tidak aneh.
Tidak ada yang aneh di dunia ini, bahkan di alam semesta, apabila Tuhan
menghendaki. Semua sudah wajar dan semestinya demikian, sesuai dengan kehendak
Tuhan karena apabila Tuhan tidak menghendaki, tentu tidak akan terjadi
demikian! Ketika Jokowanengpati dalam pertandingan melawan pengeroyokan
Kartikosari dan Roro Luhito, terjun ke dalam Laut Selatan dan mengejek kedua
orang wanita musuh besarnya itu, ia disambar ikan hiu. Dalam pandangan
Kartikosari dan Roro Luhito, juga Pujo yang diam-diam menyaksikan babak
terakhir pertandingan hebat itu, tentu saja Jokowanengpati tewas karena diseret
ikan hiu yang buas dan lenyap ke bawah permukaan air laut. Mereka ini tidak
melihat Jokowanengpati muncul kembali, maka sudah tentu menganggap bahwa musuh
besarnya itu habis riwayatnya dikubur ke dalam perut ikan. Akan tetapi
sesungguhnya tidak seperti yang mereka sangka dan harapkan. Jokowanengpati
adalah seorang yang sakti dan memiliki tubuh yang kebal, juga amat cerdik,
licin dan penuh akal. Tadinya ia memang kehilangan akal ketika secara tiba-tiba
diserang ikan hiu yang besar dan amat kuat itu. Rasa ngeri dan takut membuat ia
menjerit-jerit minta tolong, lupa untuk mempergunakan kecerdikan dan kekuatan
sendiri untuk menolong dirinya. Akan tetapi ketika ikan hiu itu membawanya
menyelam, menyeretnya sampai jauh di dalam air, dalam keadaan pelik ini, dalam
cengkeraman maut yang agaknya takkan dapat dihindarinya lagi, Jokowanengpati
menjadi marah sekali.
No comments:
Post a Comment