Badai Laut Selatan ; Bagian 106


Marah terhadap ikan itu dan kini seluruh perhatiannya dicurahkan kepada musuh barunya ini, yang mengancam keselamatan nyawanya. Timbul akalnya. Yang digigit ikan itu adalah kedua kakinya. Ketika tadi ia meronta, gigitan ikan itu melorot turun dan kini gigi ikan yang seperti gigi gergaji itu tertanam di kedua paha dekat lutut. Kini kedua tangannya dapat menjangkau ke bawah. Jokowanengpati tadi telah menghirup napas sepenuh paru-parunya ketika akan dibawa menyelam, ketika ia melepaskan perlawanannya ketika diseret ke bawah permukaan air laut. Kini, sambil mengerahkan seluruh tenaga ke dalam jari-jari tangan kanannya, ia meraih ke depan, sejauh mungkin sehingga ia mampu mencapai mata ikan.

Ia mengerahkan tenaganya dan...... jari-jari tangannya menusuk mata ikan itu dan mengoreknya keluar, lalu cepat tangannya meraih mata yang sebelah lagi. Ikan itu kesakitan dan berkelojotan, membawa tubuh Jokowanengpati ikut pula terbanting-banting dan berputaran di dalam air. Akan tetapi dia berhasil membikin buta mata yang sebelah lagi. Karena sakit sekali agaknya, ikan itu mengatupkan mulutnya dengan tenaga yang luar biasa dan Jokowanengpati tiba-tiba merasa tubuhnya terlepas dari pada gigitan ikan hiu. Rasa girang berbareng dengan timbulnya harapan membuat tenaganya menjadi berlipat ganda. la menggerakkan kedua tangan menekan air dan tubuhnya mumbul ke atas. Hari telah menjelang malam dan Jokowanengpati segera menggerakkan kedua tangannya berenang menuju ke pantai yang kelihatan remang remang. Ketika ia berenang dan menggerakkan kaki, ia merasa jantungnya seperti tidak berdenyut lagi. Kedua kakinya! Begitu ringan! la menoleh dan matanya terbelalak lebar. Kedua kakinya tidak ada lagi! Hampir ia pingsan saking kagetnya. Dan sekiranya ia pingsan pada saat itu, tentu akan tamatlah riwayat hidupnya. Akan tetapi Jokowanengpati masih suka hidup dan berenanglah ia tanpa kaki, dengan susah payah menuju pantai. Ketika tiba di tempat dangkal ia tak dapat berenang lagi, tidak dapat berdiri pula. la lalu merangkak dan pada saat itulah semua rasa nyeri yang hebat menyelubungi tubuhnya. Nyeri pada kedua kaki yang mendenyut-denyut sampai menembus jantung dan tulang sumsum. Nyeri karena perih dan sakit-sakit pada seluruh tubuh, pada mukanya. Nyeri yang tak tertahankan lagi, bagaikan dibetot-betot nyawa dari tubuh. Serasa ditarik-tarik semua urat di tubuhnya. Jokowanengpati tidak kuat lagi dan akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir. Saat itulah penentuan mati hidupnya. Dan jelas bahwa Tuhan menghendaki dia hidup. Buktinya, secara kebetulan sekali air laut menjadi surut setelah ia roboh pingsan. Andaikata air laut tidak surut dan sebaliknya malah pasang, tentu ia akan terendam air atau dibawa hanyut ke tengah oleh ombak.

Air laut yang surut membuat Jokowanengpati menggeletak tertelungkup di atas pasir, seperti mayat. Semalam suntuk ia menggeletak tak sadarkan diri di atas pasir. Kalau saja ia tidak terluka sewaktu berada di dalam air laut, tentu ia akan tewas, bukan saja karena luka akan tetapi juga karena kehabisan darah. Agaknya air laut menjadi obat penawar yang mujijat. Pada pagi harinya, Jokowanengpati siuman dari pingsannya. Dengan merangkak-rangkak ia mendarat. Setelah ia terbebas daripada cengkeraman maut yang mengerikan, biarpun ia harus mengorbankan kedua kakinya, kini ia ingin hidup terus! Ia belum mau mati dan timbul pula semangatnya untuk hidup. Biarpun harus merangkak-rangkak, akhirnya ia dapat memasuki sebuah hutan dan merawat luka-lukanya sampai sembuh. la tidak berani keluar dari dalam hutan-hutan lebat. Ia maklum bahwa kalau musuh-musuhnya mengetahui bahwa ia masih hidup, tentu mereka akan datang mencarinya dan membunuhnya. Dan dalam keadaan seperti itu, tak mungkin ia mampu mengadakan perlawanan seimbang. Karena itulah, Jokowanengpati hidup di dalam hutan-hutan, merawat luka-lukanya dan juga memperdalam ilmu-ilmunya karena la ingin hidup terus. Dan untuk dapat hidup terus ia harus memperdalam ilmu-ilmunya untuk mengatasi kebuntungan kakinya. Untuk menyambung hidupnya di dalam hutan ia tidak khawatir. Biarpun kedua kakinya buntung, namun kedua tangannya masih ampuh. Sekali sambit dengan batu ia mampu merobohkan binatang hutan, baik binatang kelinci, kijang, maupun harimau. Demikian, lima tahun lebih ia merantau seperti binatang di dalam hutan-hutan sehingga akhirnya ia naik ke lereng Gunung Lawu. Ia tadinya berniat hendak bertapa dan memperdalam kesaktiannya. Akan tetapi karena selama lima tahun lebih tidak bergaul dengan manusia, ia merasa kesepian dan terutama sekali ia merasa rindu akan seorang wanita. Perasaan sepi dan rindu ini yang membuat ia tergoda dan tersiksa dalam tapanya sehingga ia mengeluh dan merintih ketika secara kebetulan sekali Ayu Candra lewat. Alangkah kaget, heran, dan girang hati Jokowanengpati ketika ia mendengar suara wanita menegur di luar pohon dimana ia bertapa! Hampir ia tidak percaya akan pendengaran telinganya. Suara wanita! Dan begitu merdu, begitu halus. Telinganya yang sudah hafal akan suara wanita segera dapat menduga bahwa yang berdiri di luar pohon adalah seorang wanita muda, seorang gadis remaja. Maka ia lalu bersandiwara, membuka pintu tempat pertapaannya di dalam batang gerowong, lalu menggelundung keluar. Dengan akal yang cerdik sekali, disertai Aji Asmoro-kingkin yang pernah ia pelajari dari Ni Nogogini, ia berhasil membuat hati gadis itu terharu dan suka kepadanya, ia berhasil mempengaruhinya dan kini dengan hati girang ia ikut gadis remaja yang cantik jelita itu pulang ke pondok!

Dapat dibayangkan betapa jantung laki-laki yang sudah bobrok moralnya ini berdebar tidak karuan ketika ia digandeng oleh Ayu Candra yang menaruh kasihan kepadanya. Akan tetapi, mengingat akan cara gadis jelita ini tadi memecah buah kelapa dengan telapak tangan, kemudian melihat pula cara Ayu Candra mendaki dan menuruni bukit sambil menggandengnya sedemikian cekatan, pula merasa betapa ketika menggandengnya, gadis itu menyalurkan hawa sakti untuk dapat membawanya melompati jurang-jurang kecil, Jokowanengpati yang kini sudah berganti nama Ki Jatoko (Sengsara) itu maklum bahwa Ayu Candra bukanlah gadis sembarangan. Tentu orang tuanya yang bernama Ki Adibroto juga seorang yang memiliki kesaktian. Maka ia berlaku hati-hati dan menahan-nahan hasrat hatinya yang timbul oleh dorongan nafsu berahi melihat gadis yang benar-benar amat jelita ini. Hatinya girang dan lega mendengar bahwa ayah bunda gadis itu tidak berada di pondok. Gadis itu berada seorang diri! Calon korban yang mudah dan lunak. Betapapun juga, ia tidak mau berlaku sembrono dan ada sesuatu dalam gerak-gerik dan sikap Ayu Candra yang amat menarik dan yang mengguncangkan hatinya, perasaan yang selamanya belum pernah ia alami. Biasanya, menghadapi setiap orang wanita dari gadis dusun sampai puteri bangsawan, ia memandang dan menganggapnya sebagai setangkai bunga yang menarik hati, yang menimbulkan rangsang dan hasrat untuk memetik, menikmati keindahannya, mencium keharumannya, kemudian melemparkannya bunga yang melayu tanpa perasaan kecewa atau menyesal lagi. Akan tetapi, kali ini tidak demikian. Memang tersentuh berahinya menyaksikan gadis jelita ini, mendorong nafsunya untuk memiliki Ayu Candra, akan tetapi berbeda dengan yang sudah-sudah, ia mendapat keyakinan dalam perasaannya bahwa hidupnya akan selalu bahagia apabila ia dapat terus berdampingan dengan gadis ini! Inilah yang membuat hati Ki Jatoko ragu-ragu untuk mempergunakan kekerasan seperti yang seringkali ia lakukan terhadap para wanita korbannya. Inilah yang membuat Ki Jatoko timbul keinginan di hatinya untuk mempersunting Ayu Candra dengan bujuk rayu, ingin dicinta gadis itu sepenuh hati, dan ingin melihat gadis itu menyerahkan diri dan jiwa kepadanya dengan landasan cinta kasih!

Menggelikan sekali! Ki Jatoko, atau Jokowanengpati, yang dahulunya seorang pria yang gagah dan tampan, yang tidak pernah jatuh hati kepada wanita manapun juga, yang hanya suka untuk mempermainkannya, kini setelah berusia empat puluh tahun lebih, setelah kedua kakinya buntung dan badan serta mukanya penuh cacad, secara mendadak ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik jelita berusia tujuh belas tahun! Sungguh gila! Gilakah Jokowanengpati karena mencinta gadis jelita remaja puteri? Kalau dia dikatakan gila, maka agaknya di dunia ini penuh orang gila!. Betapa banyaknya di dunia ini terdapat orangorang seperti Jokowanengpati, malah banyak yang lebih gila daripada itu. Orang-orang dimabuk cinta, dimabuk benci, dirangsang marah, dibakar dendam, digoda iri dan dengki. Tidak, Jokowanengpati atau Ki Jatoko tidak gila, melainkan lemah. Dia lemah seperti manusia kebanyakan, lemah terhadap nafsu nafsu pribadi, menjadi hamba nafsu dan karenanya menjadi abdi iblis dan setan! Cinta kasih yang bersemi secara aneh di lubuk hati Ki Jatoko inilah yang membuat Ayu Candra terjamin keamanannya dalam perjalanan pulang itu. Andaikata tidak ada cinta kasih yang ganjil ini tentu ia telah ditubruknya dan diperkosa dengan kekerasan. Dan betapapun pandai gadis itu dalam ilmu silat dan kesaktian, dia bukanlah lawan Ki Jatoko atau Jokowanengpati! Dalam perjalanan pulang ke pondok di Sarangan ini, sambil bergandeng tangan, Ki Jatoko berhasil memancing Ayu Candra menceritakan keadaannya. Gadis ayu yang sama sekali tidak menaruh curiga itu menceritakan bahwa ayahnya, Ki Adibroto, adalah seorang pendekar daerah Ponorogo yang terkenal, seorang "warok" golongan putih, yang tidak akan ragu-ragu untuk membasmi kejahatan. Dalam bercerita tentang ayahnya, Ayu Candra merasa bangga.
"Pantas saja engkaupun hebat sekali!" Ki Jatoko memuji.
"Aku tadi merasa kagum dan heran ketika engkau memecah buah kelapa dengan tanganmu yang halus lunak ini. Kiranya engkau puteri seorang pendekar perkasa!"
Ayu Candra adalah seorang gadis yang masih hijau dalam pergaulan dan pengalaman. Ia tidak dapat membedakan antara bujuk rayu dan pujian sesungguhnya. Ia merasa bangga dan dengan kedua pipi kemerahan ia berkata,

"Ah, paman Jatoko, kau terlalu memuji. Kepandaianku tidak ada artinya kalau dibandingkah dengan ayah. Kau tunggulah sampai ayah pulang, tentu ayah akan menolongmu."
"Aku boleh tinggal bersamamu di pondok? Apakah ayah bundamu tidak akan marah?"
Ayu Candra masih bodoh. Belum begitu mendalam pengertiannya tentang tata susila antara pria dan wanita. ApaJagi, dalam pandang matanya, Ki Jatoko adalah seorang tua yang bercacad, pantas menjadi pamannya. Apa salahnya kalau mondok di rumahnya? Orang yang berpikiran bersih memang tidak ada syak wasangka yang bukan-bukan.
"Mengapa tidak boleh? Tentu saja mereka tidak akan marah! Siapa orangnya takkan menolong kalau melihat keadaanmu seperti ini?"
"Kau baik sekali.... kau baik sekali..... " Entah mengapa, Ki Jatoko menggigil seluruh tubuhnya dan biarpun ia berusaha menekan, tangan Ayu Candra yang menggandeng tangannya merasa betapa tangan laki-laki buntung itu tergetar. Hal ini dianggap oleh gadis itu sebagai perasaan terharu si laki-laki buntung yang merasa amat bersyukur dan berterima kasih. Ia menjadi makin kasihan.
Setibanya di pondok, Ayu Candra cepat menanak nasi dan memasak sayuran untuk Ki Jatoko yang duduk di lincak (bangku bambu) depan pondok. Setelah matang, gadis itu mempersilahkan tamunya dahar yang diterima dengan rasa syukur dan girang oleh Ki Jatoko. Malam itu Ki Jatoko bermalam di pondok. Akan tetapi ia menolak ketika oleh Ayu Candra ditawarkan bilik belakang.
"Tidak, anak manis, biarlah di sini saja di atas lincak ini cukuplah."
"Akan tetapi, di luar dingin sekali, paman. Pula, kalau malam nanti datang binatang buas, kan berbahaya?"
Di dalam hatinya, Ki Jatoko mentertawakan. Masa ia takut akan segala binatang buas? Akan tetapi mulutnya menjawab,
"Ah, kiranya tidak akan ada binatang buas yang doyan tubuhku lagi. Pula, biasanya binatang buas tidak berani mendekati tempat tinggal manusia. Aku sudah biasa tidur di luar, mungkin kalau tidur di dalam pondok malah menjadi gelisah tak dapat tidur."

Ayu Candra tidak memaksa dan malam itu dia segera memasuki biliknya. Betapapun juga, tidak enak hatinya kalau malam-malam bercakap-cakap dengan laki-laki buntung itu, ia merasa canggung juga. Ia tidak tahu bahwa Ki Jatoko memang sengaja tidak mau tidur di dalam pondok karena ada niatnya. Di samping itu, laki-laki yang cerdik ini menjaga kalau-kalau orang tua gadis itu sewaktu waktu pulang. Jika pulang di waktu malam dan melihat dia sebagai seorang pria berani tidur sepondok dengan puteri mereka, tentu mereka akan marah dan menganggap dia tidak tahu aturan. Sungguh dia polos, suci murni dan baik budi. Demikian Ki Jatoko termenung memikirkan gadis ayu itu yang tanpa ragu-ragu mempersilahkan dia seorang laki-laki asing, untuk tidur di dalam pondok. Bagi umum, tentu hal ini dianggap pelanggaran susila, akan tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu menawarkan pondok dengan hati bersih daripada segala pikiran yang bukan-bukan. Ki jatoko gelisah sekali. Sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, hanya duduk merenung di atas lincak. Bayangan wajah yang cantik jelita, bentuk tubuh yang ramping padat, keindahan dan keranuman usia muda, kulit tangan yang halus lunak dan hangat, semua ini menggoda hatinya, membangkltkan berahi yang makin berkobar. Apalagi kalau ia terkenang akan semua perbuatannya di masa lalu, membanding-bandingkan semua korbannya, yaitu wanita-wanita yang dimilikinya baik secara halus maupun kasar, secara suka rela maupun perkosaan, dalam kenangannya tidak ada yang dapat melawan Ayu Candra!

<<< Bagian 105                                                                                     Bagian 107 >>>

No comments:

Post a Comment