Marah terhadap ikan itu dan kini seluruh perhatiannya dicurahkan kepada musuh barunya ini, yang mengancam keselamatan nyawanya. Timbul akalnya. Yang digigit ikan itu adalah kedua kakinya. Ketika tadi ia meronta, gigitan ikan itu melorot turun dan kini gigi ikan yang seperti gigi gergaji itu tertanam di kedua paha dekat lutut. Kini kedua tangannya dapat menjangkau ke bawah. Jokowanengpati tadi telah menghirup napas sepenuh paru-parunya ketika akan dibawa menyelam, ketika ia melepaskan perlawanannya ketika diseret ke bawah permukaan air laut. Kini, sambil mengerahkan seluruh tenaga ke dalam jari-jari tangan kanannya, ia meraih ke depan, sejauh mungkin sehingga ia mampu mencapai mata ikan.
Ia mengerahkan
tenaganya dan...... jari-jari tangannya menusuk mata ikan itu dan mengoreknya
keluar, lalu cepat tangannya meraih mata yang sebelah lagi. Ikan itu kesakitan
dan berkelojotan, membawa tubuh Jokowanengpati ikut pula terbanting-banting dan
berputaran di dalam air. Akan tetapi dia berhasil membikin buta mata yang
sebelah lagi. Karena sakit sekali agaknya, ikan itu mengatupkan mulutnya dengan
tenaga yang luar biasa dan Jokowanengpati tiba-tiba merasa tubuhnya terlepas
dari pada gigitan ikan hiu. Rasa girang berbareng dengan timbulnya harapan
membuat tenaganya menjadi berlipat ganda. la menggerakkan kedua tangan menekan
air dan tubuhnya mumbul ke atas. Hari telah menjelang malam dan Jokowanengpati
segera menggerakkan kedua tangannya berenang menuju ke pantai yang kelihatan
remang remang. Ketika ia berenang dan menggerakkan kaki, ia merasa jantungnya
seperti tidak berdenyut lagi. Kedua kakinya! Begitu ringan! la menoleh dan
matanya terbelalak lebar. Kedua kakinya tidak ada lagi! Hampir ia pingsan
saking kagetnya. Dan sekiranya ia pingsan pada saat itu, tentu akan tamatlah
riwayat hidupnya. Akan tetapi Jokowanengpati masih suka hidup dan berenanglah
ia tanpa kaki, dengan susah payah menuju pantai. Ketika tiba di tempat dangkal
ia tak dapat berenang lagi, tidak dapat berdiri pula. la lalu merangkak dan
pada saat itulah semua rasa nyeri yang hebat menyelubungi tubuhnya. Nyeri pada
kedua kaki yang mendenyut-denyut sampai menembus jantung dan tulang sumsum.
Nyeri karena perih dan sakit-sakit pada seluruh tubuh, pada mukanya. Nyeri yang
tak tertahankan lagi, bagaikan dibetot-betot nyawa dari tubuh. Serasa
ditarik-tarik semua urat di tubuhnya. Jokowanengpati tidak kuat lagi dan
akhirnya ia roboh pingsan di atas pasir. Saat itulah penentuan mati hidupnya.
Dan jelas bahwa Tuhan menghendaki dia hidup. Buktinya, secara kebetulan sekali
air laut menjadi surut setelah ia roboh pingsan. Andaikata air laut tidak surut
dan sebaliknya malah pasang, tentu ia akan terendam air atau dibawa hanyut ke
tengah oleh ombak.
Air laut yang
surut membuat Jokowanengpati menggeletak tertelungkup di atas pasir, seperti
mayat. Semalam suntuk ia menggeletak tak sadarkan diri di atas pasir. Kalau
saja ia tidak terluka sewaktu berada di dalam air laut, tentu ia akan tewas,
bukan saja karena luka akan tetapi juga karena kehabisan darah. Agaknya air
laut menjadi obat penawar yang mujijat. Pada pagi harinya, Jokowanengpati
siuman dari pingsannya. Dengan merangkak-rangkak ia mendarat. Setelah ia
terbebas daripada cengkeraman maut yang mengerikan, biarpun ia harus
mengorbankan kedua kakinya, kini ia ingin hidup terus! Ia belum mau mati dan
timbul pula semangatnya untuk hidup. Biarpun harus merangkak-rangkak, akhirnya
ia dapat memasuki sebuah hutan dan merawat luka-lukanya sampai sembuh. la tidak
berani keluar dari dalam hutan-hutan lebat. Ia maklum bahwa kalau
musuh-musuhnya mengetahui bahwa ia masih hidup, tentu mereka akan datang
mencarinya dan membunuhnya. Dan dalam keadaan seperti itu, tak mungkin ia mampu
mengadakan perlawanan seimbang. Karena itulah, Jokowanengpati hidup di dalam
hutan-hutan, merawat luka-lukanya dan juga memperdalam ilmu-ilmunya karena la
ingin hidup terus. Dan untuk dapat hidup terus ia harus memperdalam
ilmu-ilmunya untuk mengatasi kebuntungan kakinya. Untuk menyambung hidupnya di
dalam hutan ia tidak khawatir. Biarpun kedua kakinya buntung, namun kedua
tangannya masih ampuh. Sekali sambit dengan batu ia mampu merobohkan binatang
hutan, baik binatang kelinci, kijang, maupun harimau. Demikian, lima tahun
lebih ia merantau seperti binatang di dalam hutan-hutan sehingga akhirnya ia
naik ke lereng Gunung Lawu. Ia tadinya berniat hendak bertapa dan memperdalam
kesaktiannya. Akan tetapi karena selama lima tahun lebih tidak bergaul dengan
manusia, ia merasa kesepian dan terutama sekali ia merasa rindu akan seorang wanita.
Perasaan sepi dan rindu ini yang membuat ia tergoda dan tersiksa dalam tapanya
sehingga ia mengeluh dan merintih ketika secara kebetulan sekali Ayu Candra
lewat. Alangkah kaget, heran, dan girang hati Jokowanengpati ketika ia
mendengar suara wanita menegur di luar pohon dimana ia bertapa! Hampir ia tidak
percaya akan pendengaran telinganya. Suara wanita! Dan begitu merdu, begitu
halus. Telinganya yang sudah hafal akan suara wanita segera dapat menduga bahwa
yang berdiri di luar pohon adalah seorang wanita muda, seorang gadis remaja.
Maka ia lalu bersandiwara, membuka pintu tempat pertapaannya di dalam batang
gerowong, lalu menggelundung keluar. Dengan akal yang cerdik sekali, disertai
Aji Asmoro-kingkin yang pernah ia pelajari dari Ni Nogogini, ia berhasil
membuat hati gadis itu terharu dan suka kepadanya, ia berhasil mempengaruhinya
dan kini dengan hati girang ia ikut gadis remaja yang cantik jelita itu pulang
ke pondok!
Dapat
dibayangkan betapa jantung laki-laki yang sudah bobrok moralnya ini berdebar
tidak karuan ketika ia digandeng oleh Ayu Candra yang menaruh kasihan
kepadanya. Akan tetapi, mengingat akan cara gadis jelita ini tadi memecah buah
kelapa dengan telapak tangan, kemudian melihat pula cara Ayu Candra mendaki dan
menuruni bukit sambil menggandengnya sedemikian cekatan, pula merasa betapa
ketika menggandengnya, gadis itu menyalurkan hawa sakti untuk dapat membawanya
melompati jurang-jurang kecil, Jokowanengpati yang kini sudah berganti nama Ki
Jatoko (Sengsara) itu maklum bahwa Ayu Candra bukanlah gadis sembarangan. Tentu
orang tuanya yang bernama Ki Adibroto juga seorang yang memiliki kesaktian.
Maka ia berlaku hati-hati dan menahan-nahan hasrat hatinya yang timbul oleh
dorongan nafsu berahi melihat gadis yang benar-benar amat jelita ini. Hatinya
girang dan lega mendengar bahwa ayah bunda gadis itu tidak berada di pondok.
Gadis itu berada seorang diri! Calon korban yang mudah dan lunak. Betapapun
juga, ia tidak mau berlaku sembrono dan ada sesuatu dalam gerak-gerik dan sikap
Ayu Candra yang amat menarik dan yang mengguncangkan hatinya, perasaan yang
selamanya belum pernah ia alami. Biasanya, menghadapi setiap orang wanita dari
gadis dusun sampai puteri bangsawan, ia memandang dan menganggapnya sebagai
setangkai bunga yang menarik hati, yang menimbulkan rangsang dan hasrat untuk
memetik, menikmati keindahannya, mencium keharumannya, kemudian melemparkannya
bunga yang melayu tanpa perasaan kecewa atau menyesal lagi. Akan tetapi, kali
ini tidak demikian. Memang tersentuh berahinya menyaksikan gadis jelita ini,
mendorong nafsunya untuk memiliki Ayu Candra, akan tetapi berbeda dengan yang
sudah-sudah, ia mendapat keyakinan dalam perasaannya bahwa hidupnya akan selalu
bahagia apabila ia dapat terus berdampingan dengan gadis ini! Inilah yang
membuat hati Ki Jatoko ragu-ragu untuk mempergunakan kekerasan seperti yang
seringkali ia lakukan terhadap para wanita korbannya. Inilah yang membuat Ki
Jatoko timbul keinginan di hatinya untuk mempersunting Ayu Candra dengan bujuk
rayu, ingin dicinta gadis itu sepenuh hati, dan ingin melihat gadis itu
menyerahkan diri dan jiwa kepadanya dengan landasan cinta kasih!
Menggelikan
sekali! Ki Jatoko, atau Jokowanengpati, yang dahulunya seorang pria yang gagah
dan tampan, yang tidak pernah jatuh hati kepada wanita manapun juga, yang hanya
suka untuk mempermainkannya, kini setelah berusia empat puluh tahun lebih,
setelah kedua kakinya buntung dan badan serta mukanya penuh cacad, secara
mendadak ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik jelita berusia tujuh belas
tahun! Sungguh gila! Gilakah Jokowanengpati karena mencinta gadis jelita remaja
puteri? Kalau dia dikatakan gila, maka agaknya di dunia ini penuh orang gila!.
Betapa banyaknya di dunia ini terdapat orangorang seperti Jokowanengpati, malah
banyak yang lebih gila daripada itu. Orang-orang dimabuk cinta, dimabuk benci,
dirangsang marah, dibakar dendam, digoda iri dan dengki. Tidak, Jokowanengpati
atau Ki Jatoko tidak gila, melainkan lemah. Dia lemah seperti manusia
kebanyakan, lemah terhadap nafsu nafsu pribadi, menjadi hamba nafsu dan
karenanya menjadi abdi iblis dan setan! Cinta kasih yang bersemi secara aneh di
lubuk hati Ki Jatoko inilah yang membuat Ayu Candra terjamin keamanannya dalam
perjalanan pulang itu. Andaikata tidak ada cinta kasih yang ganjil ini tentu ia
telah ditubruknya dan diperkosa dengan kekerasan. Dan betapapun pandai gadis
itu dalam ilmu silat dan kesaktian, dia bukanlah lawan Ki Jatoko atau
Jokowanengpati! Dalam perjalanan pulang ke pondok di Sarangan ini, sambil
bergandeng tangan, Ki Jatoko berhasil memancing Ayu Candra menceritakan
keadaannya. Gadis ayu yang sama sekali tidak menaruh curiga itu menceritakan
bahwa ayahnya, Ki Adibroto, adalah seorang pendekar daerah Ponorogo yang
terkenal, seorang "warok" golongan putih, yang tidak akan ragu-ragu
untuk membasmi kejahatan. Dalam bercerita tentang ayahnya, Ayu Candra merasa
bangga.
"Pantas
saja engkaupun hebat sekali!" Ki Jatoko memuji.
"Aku tadi
merasa kagum dan heran ketika engkau memecah buah kelapa dengan tanganmu yang
halus lunak ini. Kiranya engkau puteri seorang pendekar perkasa!"
Ayu Candra
adalah seorang gadis yang masih hijau dalam pergaulan dan pengalaman. Ia tidak
dapat membedakan antara bujuk rayu dan pujian sesungguhnya. Ia merasa bangga
dan dengan kedua pipi kemerahan ia berkata,
"Ah,
paman Jatoko, kau terlalu memuji. Kepandaianku tidak ada artinya kalau
dibandingkah dengan ayah. Kau tunggulah sampai ayah pulang, tentu ayah akan
menolongmu."
"Aku
boleh tinggal bersamamu di pondok? Apakah ayah bundamu tidak akan marah?"
Ayu Candra
masih bodoh. Belum begitu mendalam pengertiannya tentang tata susila antara
pria dan wanita. ApaJagi, dalam pandang matanya, Ki Jatoko adalah seorang tua
yang bercacad, pantas menjadi pamannya. Apa salahnya kalau mondok di rumahnya?
Orang yang berpikiran bersih memang tidak ada syak wasangka yang bukan-bukan.
"Mengapa
tidak boleh? Tentu saja mereka tidak akan marah! Siapa orangnya takkan menolong
kalau melihat keadaanmu seperti ini?"
"Kau baik
sekali.... kau baik sekali..... " Entah mengapa, Ki Jatoko menggigil seluruh
tubuhnya dan biarpun ia berusaha menekan, tangan Ayu Candra yang menggandeng
tangannya merasa betapa tangan laki-laki buntung itu tergetar. Hal ini dianggap
oleh gadis itu sebagai perasaan terharu si laki-laki buntung yang merasa amat
bersyukur dan berterima kasih. Ia menjadi makin kasihan.
Setibanya di
pondok, Ayu Candra cepat menanak nasi dan memasak sayuran untuk Ki Jatoko yang
duduk di lincak (bangku bambu) depan pondok. Setelah matang, gadis itu
mempersilahkan tamunya dahar yang diterima dengan rasa syukur dan girang oleh
Ki Jatoko. Malam itu Ki Jatoko bermalam di pondok. Akan tetapi ia menolak
ketika oleh Ayu Candra ditawarkan bilik belakang.
"Tidak,
anak manis, biarlah di sini saja di atas lincak ini cukuplah."
"Akan
tetapi, di luar dingin sekali, paman. Pula, kalau malam nanti datang binatang
buas, kan berbahaya?"
Di dalam
hatinya, Ki Jatoko mentertawakan. Masa ia takut akan segala binatang buas? Akan
tetapi mulutnya menjawab,
"Ah,
kiranya tidak akan ada binatang buas yang doyan tubuhku lagi. Pula, biasanya
binatang buas tidak berani mendekati tempat tinggal manusia. Aku sudah biasa
tidur di luar, mungkin kalau tidur di dalam pondok malah menjadi gelisah tak
dapat tidur."
Ayu Candra
tidak memaksa dan malam itu dia segera memasuki biliknya. Betapapun juga, tidak
enak hatinya kalau malam-malam bercakap-cakap dengan laki-laki buntung itu, ia
merasa canggung juga. Ia tidak tahu bahwa Ki Jatoko memang sengaja tidak mau
tidur di dalam pondok karena ada niatnya. Di samping itu, laki-laki yang cerdik
ini menjaga kalau-kalau orang tua gadis itu sewaktu waktu pulang. Jika pulang
di waktu malam dan melihat dia sebagai seorang pria berani tidur sepondok
dengan puteri mereka, tentu mereka akan marah dan menganggap dia tidak tahu
aturan. Sungguh dia polos, suci murni dan baik budi. Demikian Ki Jatoko
termenung memikirkan gadis ayu itu yang tanpa ragu-ragu mempersilahkan dia
seorang laki-laki asing, untuk tidur di dalam pondok. Bagi umum, tentu hal ini
dianggap pelanggaran susila, akan tetapi ia tahu betul bahwa gadis itu
menawarkan pondok dengan hati bersih daripada segala pikiran yang bukan-bukan.
Ki jatoko gelisah sekali. Sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, hanya duduk
merenung di atas lincak. Bayangan wajah yang cantik jelita, bentuk tubuh yang
ramping padat, keindahan dan keranuman usia muda, kulit tangan yang halus lunak
dan hangat, semua ini menggoda hatinya, membangkltkan berahi yang makin
berkobar. Apalagi kalau ia terkenang akan semua perbuatannya di masa lalu,
membanding-bandingkan semua korbannya, yaitu wanita-wanita yang dimilikinya
baik secara halus maupun kasar, secara suka rela maupun perkosaan, dalam
kenangannya tidak ada yang dapat melawan Ayu Candra!
No comments:
Post a Comment