"Aku harus dapatkan dia! Harus! Matipun takkan penasaran lagi, setiap waktu matipun aku akan rela asal sudah mendapatkan dia. Ah, Ayu Candra bocah ayu denok, kau membikin aku tergila-gila"
Ki Jatoko lalu
bersedakap dan matek aji sirep. Sejam kemudian, keadaan pondok dan
sekelilingnya sunyi mati, tidak terdengar suara sedikitpun karena terkena
pengaruh aji sirep yang ampuh. Ki Jatoko lalu meloncat turun dari lincak dan
kini gerakannya amat gesit ketika ia membuka daun pintu pondok dan berjalan
biasa menggunakan kedua kaki buntungnya. Berindap-indap ia menghampiri bilik
tempat tidur Ayu Candra. Dari dalam bilik bersinar cahaya dian yang menyorot
keluar menembus celah-celah anyamam bambu, menyinari wajah Ki Jatoko yang kelihatan
mengerikan sekali. Wajah itu lebih buruk daripada biasanya. Kini berkilat-kilat
basah oleh peluh, matanya agak kemerahan dan bersinar-sinar penuh nafsu berahi,
mulutnya menyeringai basah, napasnya agak tersendat-sendat tertahan karena
gelora nafsu asmara.
Dengan tangan
gemetar didorongnya daun pintu bilik itu dan di lain saat ia sudah memasuki
bilik. Seperti terpesona ia berdiri di ambang pintu. Dian itu kecil sumbunya.
Api minyak kelapa itu kecil namun anteng dan membuat keadaan bilik
remang-remang. Ayu Candra tampak tidur nyenyak. Rambut yang panjang gemuk dan
hitam itu terurai, sebagian menutupi muka, terus terurai ke bawah menutupi
dada, membuat kulit dada itu tampak makin putih halus di balik kehitaman
rambut. Dada padat membusung itu bergerak perlahan naik turun seirama dengan
napas yang halus dan tidak bersuara. Mata yang membuat bulu mata tampak panjang
melengkung dan membuat bayang-bayang di bawah mata. Bibir yang merah membentuk
gendewa terpentang itu mengulum senyum, manis mengalahkan sari madu. Tubuh yang
padat, denok dan ramping, kelihatan panjang ketika tidur telentang. Lengan kiri
dara itu ditekuk ke atas, lengan kanan menyilang perut, seperti gerak tari yang
amat indah gemulai. Ki Jatoko mengejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala. Akan
tetapi ketika memandang kembali, tetap saja ia menjadi seperti mabuk.
Berkali-kali ia menelan ludah, tubuhnya makin menggigil, dan perlahan-lahan ia
mendekati pembaringan.
"Ayu...
Ayu Candra....... aduhhh alangkah cantik jelita engkau...... belum pernah kumelihat
wanita secantik engkau, Ayu......!”
Ucapan ini
tidak dibisikkannya, melainkan diucapkan. Akan tetapi Ayu Candra yang biasanya
peka dan mudah bangun dari tidurnya setiap mendengar suara yang tidak
sewajarnya, kini tetap pulas. Ternyata ia telah terkena pengaruh aji sirep yang
ampuh tadi sehingga keadaannya seperti orang pingsan. Jangankan hanya suara
manusia, biar suara harimau mengaum dekat telinganya, ia takkan dapat bangun.
Andaikata ia diseret turun dari atas pembaringan sekalipun, ia takkan dapat
sadar!. Ki Jatoko kini sudah dekat, berdiri di pinggir pembaringan. Harum
kembang mawar putih yang tersebar di atas pembaringan membuat ia sejenak
memejamkan kedua matanya. Cuping hidungnya tergetar dan napasnya menjadi sesak.
Ketika ia membuka matanya kembali, tampak matanya membasah. Keindahan yang
tampak di depan matanya begitu mempesona, begitu memikat, begitu indah sampai
mendatangkan rasa haru.
"Aduh,
dewiku...... kalau engkau tidak membalas cintaku, aku tidak mau hidup
lagi.....!”
Kedua tangan
Ki Jatoko terulur, jari-jari tangannya tergetar, ia bergerak memeluk, hendak
merangkul. Akan tetapi sebelum jari tangannya menyentuh kulit yang putih halus
itu, tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.
"Duh
Jagad Dewa Bathara! Gilakah aku? Ayu Candra....... bocah ayu kuning.......
bagaimana aku dapat memperlakukannya seperti wanita-wanita lain? Bagaimana aku
tega untuk memperkosanya? Tentu dia akan benci kepadaku! Tentu ia akan
memandang rendah, akan mengutukku, memusuhiku. Ahhh... tidak boleh begini!
Jokowanengpati, engkau sudah gila! Gadis ini benar-benar telah menjatuhkan
hatiku. Aku aku cinta kepadanya, tidak boleh ia membenciku. Aduh,..... Ayu
Candra........ engkau maafkan aku, nimas! Aku tidak tega memaksamu, aku akan
menanti sampai engkau dengan suka rela menyerahkan diri kepadaku, membalas
cinta kasihku.......!!”
Lemaslah kedua
kaki yang tinggal paha itu dan Ki Jatoko hanya berani mencium ujung rambut yang
terurai keluar dari pembaringan. Kemudian dengan pipi basah air mata ia keluar
lagi dari bilik menutupkan pintu dan merebahkan diri di atas lincak di depan
pondok. Ia gelisah tak dapat tidur, mengeluh panjang pendek, dan akhirnya baru
bisa pulas menjelang fajar. Cinta memang perasaan ajaib. Akibat daripada
cintapun banyak macamnya dan aneh-aneh. Orang merasa dirinya dalam surga dunia
karena cinta. Akan tetapi dapat juga merasa dirinya dalam neraka dunia karena
cinta. Cinta ditempeli nafsu berahi membuat orang lupa akan tata susila. Cinta
dicampur cemburu dapat membuat orang menjadi kejam dan suka menyiksa. Cinta
dapat merubah seorang baik-baik menjadi seorang yang jahat dan keji. Sebaliknya
cinta dapat pula merubah seorang yang biasanya jahat menjadi seorang yang baik
dan setia terhadap orang yang dicintainya. Cinta mampu merubah watak domba
menjadi watak harimau, sebaliknya watak harimau dirubah menjadi watak domba.
Ayu Candra
bangun dari tidurnya, bangkit dengan malas, menggeliat dan menguap di belakang
kepalan tangannya. Ia merasa tubuhnya segar. Enak sekali tidurnya malam tadi.
Akan tetapi....... tiba-tiba ia mengerutkan alisnya yang hitam melengkung. Ia
bermimpi malam tadi! Mimpi aneh sekali, dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua
pundaknya yang telanjang seperti orang jijik. Ia mimpi menggandeng tangan Ki
Jatoko seperti kemarin akan tetapi tiba-tiba Ki Jatoko mencium ujung jarinya.
Ketika dilepaskan pegangannya, tangan yang dicium itu menjadi busuk dan rusak,
seperti orang saklt kusta dan makin lama penyakit itu menjalar makin ke atas,
makan jarinya, tangannya, lengannya!
"Ihhh........!
Gila, menjijikkan!"
la melompat
turun dari pembaringan dan mencoba untuk menghibur diri dengan keyakinan bahwa
hal itu hanya terjadi dalam mimpi. Akan tetapi hatinya tetap tidak enak,
seakan-akan ada kotoran yang hinggap pada tubuhnya dan harus segera dibersihkan!.
Di luar
pondok, ayam hutan terdengar berkokok saling sahut. Memang sudah biasa dara ini
bangun pagi-pagi sekali. Bangun pagi di waktu ayam berkokok menyehatkan dan
menyegarkan badan. Ia lalu meniup padam dian di atas meja, dan berjalan keluar
dari bilik. Hati-hati ia membuka pintu depan dan ketika menjenguk keluar, ia
melihat Ki Jatoko masih tidur meringkuk di atas lincak. Kelihatan pendek
sekali. Mulutnya terbuka dan dengkurnya kasar. Ayu Candra bergidik teringat
akan mimpinya semalam.
Makin tak enak
perasaan hatinya setelah melihat orang yang kakinya buntung itu tidur
mendengkur di atas lincak. Benar menjijikkan sekali. Karena keadaan si buntung
itu tidak menderita seperti siang tadi, rasa kasihan menipis di hatinya dan
rasa jijik timbul. Sialan, pikirnya. Mimpi saja kok macam itu. Ia jarang sekali
mimpi dan mimpi yang sekali ini benar-benar membuat ia tak tenang jiwanya. Ia
menutup daun pintu depan lalu melangkah keluar dan cepat-cepat ia berlari
menuju ke telaga. la sengaja jalan memutar dan memilih bagian yang jauh dari
pondoknya, yang sunyi dan memang bagian ini menjadi tempat ia mencuci pakaian
dan mandi. Bagian ini airnya paling bersih.
Sampai tempat
itu, ia duduk di atas batu yang bersih licin. Duduk termenung. Mengapa ayah
bundanya lama amat perginya? Kalau mereka pulang, tentu hatinya akan tenteram.
Kini teringat ia betapa sepasang mata orang buntung itu seperti mata setan.
Aneh sekali, pikirnya. Orang buntung yang sengsara dan lemah itu memiliki
sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh dan begitu kuatnya, seakan-akan
mampu menjenguk isi hatinya. Mata seperti itu sepatutnya dimiliki seorang yang
sakti! Ada persamaan dengan sinar mata ayahnya, hanya kalau sinar mata ayahnya
yang tajam itu mengandung kelembutan dan ketenangan, adalah mata orang buntung
ini juga tajam akan tetapi mengandung sesuatu yang aneh dan liar tidak tenang.
Ayu Candra
tidak segera turun ke air. Hari masih terlalu pagi, dan hawa udara amat dingin.
Biasanya, ia baru berani terjun ke air kalau matahari sudah muncul sehingga
begitu selesai mandi ia dapat berjemur menghangatkan tubuh dan mengeringkan
rambut. Apalagi sekarang karena tergesa-gesa hendak segera meninggalkan pondok
dan orang buntung itu, ia teiah kelupaan membawa kain pengganti.
Ibunya
melarangnya mandi bertelanjang, kecuali di waktu malam gelap. Banyak mata
laki-laki kurang ajar, kata ibunya. Pernah dibantahnya bahwa di telaga tidak
ada orang lain. Siapa tahu, kata ibunya. Di mana-mana dalam dunia ini akan kau
jumpai laki-laki kurang ajar yang suka mengintai wanita mandi, apalagi kalau
mandi bertelanjang, kata pula ibunya. Ia teringat akan laki-laki buntung.
Apakah mata laki-laki itupun mata kurang ajar? Ayu Candra belum mampu
membedakan dengan jelas. Pernah ketika di Ponorogo dahulu, ketika ia pulang
dari pasar, lima orang pemuda berandalan menggodanya dengan ucapan ucapan
kasar, bahkan tangan mereka berlancang hendak menjamahnya. Mula-mula Ayu Candra
melayani mereka bicara, akan tetapi setelah tangan mereka mulai jahil, ia
mengeluarkan kepandaiannya dan membuat mereka berlima berjungkir balik dan
babak belur. Mulailah ia dikenal orang dan tak seorangpun pemuda berani
berkurang ajar kepadanya. Apalagi setelah orang tahu bahwa dia puteri pendekar
Adibroto!. Kalau teringat kepada Ki Jatoko dan mimpinya semalam, Ayu Candra
masih merasa jijik dan merasa seakan-akan tubuhnya menjadi kotor. Ia bangkit
dari duduknya dan mencari daun pandan dan bunga-bungaan karena ia hendak
keramas. Kalau hanya mandi biasa tanpa keramas, ia takkan merasa dirinya bersih
kembali. Sementara itu, matahari sudah mulai menyinarkan cahayanya yang lembut
dan kemerahan.
Lama juga
gadis ini duduk termenung tadi. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa ketika
sedang memetik daun pandan dan bunga-bunga mawar, sepasang mata yang baru
bangun tidur menatapnya dari atas sebatang pohon yang besar. Mata itu mula-mula
terbuka kaget dan bangun dari tidur ketika Ayu Candra menginjak daun-daun
kering, kemudian terbelalak memandang ke bawah, lalu ketap-ketip
(berkejap-kejap) dan tangannya menggaruk-garuk kepala, menggosok-gosok kedua
mata yang masih sepet, memandang kembali dan sekali lagi melongo.
"Mimpikah
aku? Gila benar, ada mimpi begini jelas?"
Tangan itu
kini mencubit pahanya sendiri dan mulutnya menyeringai ketika ia merasa nyeri.
Ketika memandang ke bawah lagi, ia melihat dara jelita itu yang sudah selesai
memetik bunga, kini berjalan pergi. Lenggang yang seenaknya tak dibuat-buat itu
seakan-akan mempunyai daya tarik dan membetot-Betot hati laki-laki yang rebah
di atas batang pohon besar. Ia bangkit dan duduk di atas cabang pohon, matanya
terbelalak memandang pinggul yang menari-nari itu.
"Bukan
mimpi! Dia itu peri penjaga hutan atau peri telaga yang kesiangan! Atau
bidadari kahyangan hendak mandi! Kalau manusia tak mungkin. Bagaimana seorang
dara remaja berada seorang diri dihutan sunyi dan liar ini? Dan kalau manusia
tidak ada yang sedemikian eloknya, wajahnya bersinar-sinar seperti mengeluarkan
cahaya keemasan, rambutnya seperti awan hitam berarak, kakinya begitu ringan
tak menyentuh bumi! Aduh Gusti, benar-benarkah aku melihat bidadari?"
Laki-laki itu
menyingkap rambut yang turun ke dahi itu, lalu sekali menggerakkan tubuh ia
telah melayang turun dari pohon. Gerakannya amat ringan dan sigap, kedua
kakinya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara! Dia seorang laki-laki yang
masih amat muda, bertubuh sedang dengan bentuk tegap kuat, wajahnya tampan.
Akan tetapi pada saat itu sinar matanya yang tajam berpengaruh itu diselimuti
kebingungan yang timbul dari hati yang berdebar-debar. Dengan gerakan yang amat
gesit namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia mengejar ke depan dan
mengikuti Ayu Chandra yang berjalan dengan lenggang sewajarnya menuju ke
pinggir telaga.
Sinar matahari
pagi disambut keriangan burung yang berkicau merdu, tanda bahwa permukaan bumi
mulai bangun untuk menyambut kemegahan sang surya. Keadaan yang indah ini
agaknya mempengaruhi hati Ayu Candra karena mulutnya mulai tersenyum-senyum,
wajahnya berseri dan ia lalu bersenandung.
"Ana
pandhita akarya wangsit,
minda kumbang
angajab ing tawang,
susuh angin
ngendi nggone,
lawan galihing
kangkung,
wekasane
langit jaladri,
Isining wulung
wungwang,
lan gigiring
punglu,
tapaking
kuntul anglayang,
manuk miber
uluke ngurgkuli langit,
kusuma jrahing
tawang."
Pemuda yang
mengikuti dari belakang itu melongo. Aduhh, pikirnya, tentu bidadari kahyangan.
Kalau seorang gadis gunung biasa tak mungkin bertembang seperti itu! Suaranya
merdu melebihi burung kenari. Tembang Dandanggendis itu tepat dan indah
alunannya seperti nyanyian waranggana istana saja. Dan kata-katanya Mengandung
makna yang amat dalam, penuh filsalat kebatinan yang hebat!
No comments:
Post a Comment