Badai Laut Selatan ; Bagian 107


"Aku harus dapatkan dia! Harus! Matipun takkan penasaran lagi, setiap waktu matipun aku akan rela asal sudah mendapatkan dia. Ah, Ayu Candra bocah ayu denok, kau membikin aku tergila-gila"
Ki Jatoko lalu bersedakap dan matek aji sirep. Sejam kemudian, keadaan pondok dan sekelilingnya sunyi mati, tidak terdengar suara sedikitpun karena terkena pengaruh aji sirep yang ampuh. Ki Jatoko lalu meloncat turun dari lincak dan kini gerakannya amat gesit ketika ia membuka daun pintu pondok dan berjalan biasa menggunakan kedua kaki buntungnya. Berindap-indap ia menghampiri bilik tempat tidur Ayu Candra. Dari dalam bilik bersinar cahaya dian yang menyorot keluar menembus celah-celah anyamam bambu, menyinari wajah Ki Jatoko yang kelihatan mengerikan sekali. Wajah itu lebih buruk daripada biasanya. Kini berkilat-kilat basah oleh peluh, matanya agak kemerahan dan bersinar-sinar penuh nafsu berahi, mulutnya menyeringai basah, napasnya agak tersendat-sendat tertahan karena gelora nafsu asmara.

Dengan tangan gemetar didorongnya daun pintu bilik itu dan di lain saat ia sudah memasuki bilik. Seperti terpesona ia berdiri di ambang pintu. Dian itu kecil sumbunya. Api minyak kelapa itu kecil namun anteng dan membuat keadaan bilik remang-remang. Ayu Candra tampak tidur nyenyak. Rambut yang panjang gemuk dan hitam itu terurai, sebagian menutupi muka, terus terurai ke bawah menutupi dada, membuat kulit dada itu tampak makin putih halus di balik kehitaman rambut. Dada padat membusung itu bergerak perlahan naik turun seirama dengan napas yang halus dan tidak bersuara. Mata yang membuat bulu mata tampak panjang melengkung dan membuat bayang-bayang di bawah mata. Bibir yang merah membentuk gendewa terpentang itu mengulum senyum, manis mengalahkan sari madu. Tubuh yang padat, denok dan ramping, kelihatan panjang ketika tidur telentang. Lengan kiri dara itu ditekuk ke atas, lengan kanan menyilang perut, seperti gerak tari yang amat indah gemulai. Ki Jatoko mengejapkan matanya, menggoyang-goyang kepala. Akan tetapi ketika memandang kembali, tetap saja ia menjadi seperti mabuk. Berkali-kali ia menelan ludah, tubuhnya makin menggigil, dan perlahan-lahan ia mendekati pembaringan.
"Ayu... Ayu Candra....... aduhhh alangkah cantik jelita engkau...... belum pernah kumelihat wanita secantik engkau, Ayu......!”
Ucapan ini tidak dibisikkannya, melainkan diucapkan. Akan tetapi Ayu Candra yang biasanya peka dan mudah bangun dari tidurnya setiap mendengar suara yang tidak sewajarnya, kini tetap pulas. Ternyata ia telah terkena pengaruh aji sirep yang ampuh tadi sehingga keadaannya seperti orang pingsan. Jangankan hanya suara manusia, biar suara harimau mengaum dekat telinganya, ia takkan dapat bangun. Andaikata ia diseret turun dari atas pembaringan sekalipun, ia takkan dapat sadar!. Ki Jatoko kini sudah dekat, berdiri di pinggir pembaringan. Harum kembang mawar putih yang tersebar di atas pembaringan membuat ia sejenak memejamkan kedua matanya. Cuping hidungnya tergetar dan napasnya menjadi sesak. Ketika ia membuka matanya kembali, tampak matanya membasah. Keindahan yang tampak di depan matanya begitu mempesona, begitu memikat, begitu indah sampai mendatangkan rasa haru.
"Aduh, dewiku...... kalau engkau tidak membalas cintaku, aku tidak mau hidup lagi.....!”
Kedua tangan Ki Jatoko terulur, jari-jari tangannya tergetar, ia bergerak memeluk, hendak merangkul. Akan tetapi sebelum jari tangannya menyentuh kulit yang putih halus itu, tiba-tiba ia tersentak kaget dan menarik kembali tangannya.
"Duh Jagad Dewa Bathara! Gilakah aku? Ayu Candra....... bocah ayu kuning....... bagaimana aku dapat memperlakukannya seperti wanita-wanita lain? Bagaimana aku tega untuk memperkosanya? Tentu dia akan benci kepadaku! Tentu ia akan memandang rendah, akan mengutukku, memusuhiku. Ahhh... tidak boleh begini! Jokowanengpati, engkau sudah gila! Gadis ini benar-benar telah menjatuhkan hatiku. Aku aku cinta kepadanya, tidak boleh ia membenciku. Aduh,..... Ayu Candra........ engkau maafkan aku, nimas! Aku tidak tega memaksamu, aku akan menanti sampai engkau dengan suka rela menyerahkan diri kepadaku, membalas cinta kasihku.......!!”
Lemaslah kedua kaki yang tinggal paha itu dan Ki Jatoko hanya berani mencium ujung rambut yang terurai keluar dari pembaringan. Kemudian dengan pipi basah air mata ia keluar lagi dari bilik menutupkan pintu dan merebahkan diri di atas lincak di depan pondok. Ia gelisah tak dapat tidur, mengeluh panjang pendek, dan akhirnya baru bisa pulas menjelang fajar. Cinta memang perasaan ajaib. Akibat daripada cintapun banyak macamnya dan aneh-aneh. Orang merasa dirinya dalam surga dunia karena cinta. Akan tetapi dapat juga merasa dirinya dalam neraka dunia karena cinta. Cinta ditempeli nafsu berahi membuat orang lupa akan tata susila. Cinta dicampur cemburu dapat membuat orang menjadi kejam dan suka menyiksa. Cinta dapat merubah seorang baik-baik menjadi seorang yang jahat dan keji. Sebaliknya cinta dapat pula merubah seorang yang biasanya jahat menjadi seorang yang baik dan setia terhadap orang yang dicintainya. Cinta mampu merubah watak domba menjadi watak harimau, sebaliknya watak harimau dirubah menjadi watak domba.

Ayu Candra bangun dari tidurnya, bangkit dengan malas, menggeliat dan menguap di belakang kepalan tangannya. Ia merasa tubuhnya segar. Enak sekali tidurnya malam tadi. Akan tetapi....... tiba-tiba ia mengerutkan alisnya yang hitam melengkung. Ia bermimpi malam tadi! Mimpi aneh sekali, dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua pundaknya yang telanjang seperti orang jijik. Ia mimpi menggandeng tangan Ki Jatoko seperti kemarin akan tetapi tiba-tiba Ki Jatoko mencium ujung jarinya. Ketika dilepaskan pegangannya, tangan yang dicium itu menjadi busuk dan rusak, seperti orang saklt kusta dan makin lama penyakit itu menjalar makin ke atas, makan jarinya, tangannya, lengannya!
"Ihhh........! Gila, menjijikkan!"
la melompat turun dari pembaringan dan mencoba untuk menghibur diri dengan keyakinan bahwa hal itu hanya terjadi dalam mimpi. Akan tetapi hatinya tetap tidak enak, seakan-akan ada kotoran yang hinggap pada tubuhnya dan harus segera dibersihkan!.
Di luar pondok, ayam hutan terdengar berkokok saling sahut. Memang sudah biasa dara ini bangun pagi-pagi sekali. Bangun pagi di waktu ayam berkokok menyehatkan dan menyegarkan badan. Ia lalu meniup padam dian di atas meja, dan berjalan keluar dari bilik. Hati-hati ia membuka pintu depan dan ketika menjenguk keluar, ia melihat Ki Jatoko masih tidur meringkuk di atas lincak. Kelihatan pendek sekali. Mulutnya terbuka dan dengkurnya kasar. Ayu Candra bergidik teringat akan mimpinya semalam.
Makin tak enak perasaan hatinya setelah melihat orang yang kakinya buntung itu tidur mendengkur di atas lincak. Benar menjijikkan sekali. Karena keadaan si buntung itu tidak menderita seperti siang tadi, rasa kasihan menipis di hatinya dan rasa jijik timbul. Sialan, pikirnya. Mimpi saja kok macam itu. Ia jarang sekali mimpi dan mimpi yang sekali ini benar-benar membuat ia tak tenang jiwanya. Ia menutup daun pintu depan lalu melangkah keluar dan cepat-cepat ia berlari menuju ke telaga. la sengaja jalan memutar dan memilih bagian yang jauh dari pondoknya, yang sunyi dan memang bagian ini menjadi tempat ia mencuci pakaian dan mandi. Bagian ini airnya paling bersih.
Sampai tempat itu, ia duduk di atas batu yang bersih licin. Duduk termenung. Mengapa ayah bundanya lama amat perginya? Kalau mereka pulang, tentu hatinya akan tenteram. Kini teringat ia betapa sepasang mata orang buntung itu seperti mata setan. Aneh sekali, pikirnya. Orang buntung yang sengsara dan lemah itu memiliki sepasang mata yang memancarkan cahaya aneh dan begitu kuatnya, seakan-akan mampu menjenguk isi hatinya. Mata seperti itu sepatutnya dimiliki seorang yang sakti! Ada persamaan dengan sinar mata ayahnya, hanya kalau sinar mata ayahnya yang tajam itu mengandung kelembutan dan ketenangan, adalah mata orang buntung ini juga tajam akan tetapi mengandung sesuatu yang aneh dan liar tidak tenang.

Ayu Candra tidak segera turun ke air. Hari masih terlalu pagi, dan hawa udara amat dingin. Biasanya, ia baru berani terjun ke air kalau matahari sudah muncul sehingga begitu selesai mandi ia dapat berjemur menghangatkan tubuh dan mengeringkan rambut. Apalagi sekarang karena tergesa-gesa hendak segera meninggalkan pondok dan orang buntung itu, ia teiah kelupaan membawa kain pengganti.

Ibunya melarangnya mandi bertelanjang, kecuali di waktu malam gelap. Banyak mata laki-laki kurang ajar, kata ibunya. Pernah dibantahnya bahwa di telaga tidak ada orang lain. Siapa tahu, kata ibunya. Di mana-mana dalam dunia ini akan kau jumpai laki-laki kurang ajar yang suka mengintai wanita mandi, apalagi kalau mandi bertelanjang, kata pula ibunya. Ia teringat akan laki-laki buntung. Apakah mata laki-laki itupun mata kurang ajar? Ayu Candra belum mampu membedakan dengan jelas. Pernah ketika di Ponorogo dahulu, ketika ia pulang dari pasar, lima orang pemuda berandalan menggodanya dengan ucapan ucapan kasar, bahkan tangan mereka berlancang hendak menjamahnya. Mula-mula Ayu Candra melayani mereka bicara, akan tetapi setelah tangan mereka mulai jahil, ia mengeluarkan kepandaiannya dan membuat mereka berlima berjungkir balik dan babak belur. Mulailah ia dikenal orang dan tak seorangpun pemuda berani berkurang ajar kepadanya. Apalagi setelah orang tahu bahwa dia puteri pendekar Adibroto!. Kalau teringat kepada Ki Jatoko dan mimpinya semalam, Ayu Candra masih merasa jijik dan merasa seakan-akan tubuhnya menjadi kotor. Ia bangkit dari duduknya dan mencari daun pandan dan bunga-bungaan karena ia hendak keramas. Kalau hanya mandi biasa tanpa keramas, ia takkan merasa dirinya bersih kembali. Sementara itu, matahari sudah mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan kemerahan.

Lama juga gadis ini duduk termenung tadi. Ayu Candra sama sekali tidak tahu bahwa ketika sedang memetik daun pandan dan bunga-bunga mawar, sepasang mata yang baru bangun tidur menatapnya dari atas sebatang pohon yang besar. Mata itu mula-mula terbuka kaget dan bangun dari tidur ketika Ayu Candra menginjak daun-daun kering, kemudian terbelalak memandang ke bawah, lalu ketap-ketip (berkejap-kejap) dan tangannya menggaruk-garuk kepala, menggosok-gosok kedua mata yang masih sepet, memandang kembali dan sekali lagi melongo.
"Mimpikah aku? Gila benar, ada mimpi begini jelas?"
Tangan itu kini mencubit pahanya sendiri dan mulutnya menyeringai ketika ia merasa nyeri. Ketika memandang ke bawah lagi, ia melihat dara jelita itu yang sudah selesai memetik bunga, kini berjalan pergi. Lenggang yang seenaknya tak dibuat-buat itu seakan-akan mempunyai daya tarik dan membetot-Betot hati laki-laki yang rebah di atas batang pohon besar. Ia bangkit dan duduk di atas cabang pohon, matanya terbelalak memandang pinggul yang menari-nari itu.
"Bukan mimpi! Dia itu peri penjaga hutan atau peri telaga yang kesiangan! Atau bidadari kahyangan hendak mandi! Kalau manusia tak mungkin. Bagaimana seorang dara remaja berada seorang diri dihutan sunyi dan liar ini? Dan kalau manusia tidak ada yang sedemikian eloknya, wajahnya bersinar-sinar seperti mengeluarkan cahaya keemasan, rambutnya seperti awan hitam berarak, kakinya begitu ringan tak menyentuh bumi! Aduh Gusti, benar-benarkah aku melihat bidadari?"
Laki-laki itu menyingkap rambut yang turun ke dahi itu, lalu sekali menggerakkan tubuh ia telah melayang turun dari pohon. Gerakannya amat ringan dan sigap, kedua kakinya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara! Dia seorang laki-laki yang masih amat muda, bertubuh sedang dengan bentuk tegap kuat, wajahnya tampan. Akan tetapi pada saat itu sinar matanya yang tajam berpengaruh itu diselimuti kebingungan yang timbul dari hati yang berdebar-debar. Dengan gerakan yang amat gesit namun sama sekali tidak mengeluarkan suara, ia mengejar ke depan dan mengikuti Ayu Chandra yang berjalan dengan lenggang sewajarnya menuju ke pinggir telaga.

Sinar matahari pagi disambut keriangan burung yang berkicau merdu, tanda bahwa permukaan bumi mulai bangun untuk menyambut kemegahan sang surya. Keadaan yang indah ini agaknya mempengaruhi hati Ayu Candra karena mulutnya mulai tersenyum-senyum, wajahnya berseri dan ia lalu bersenandung.

"Ana pandhita akarya wangsit,
minda kumbang angajab ing tawang,
susuh angin ngendi nggone,
lawan galihing kangkung,
wekasane langit jaladri,
Isining wulung wungwang,
lan gigiring punglu,
tapaking kuntul anglayang,
manuk miber uluke ngurgkuli langit,
kusuma jrahing tawang."

Pemuda yang mengikuti dari belakang itu melongo. Aduhh, pikirnya, tentu bidadari kahyangan. Kalau seorang gadis gunung biasa tak mungkin bertembang seperti itu! Suaranya merdu melebihi burung kenari. Tembang Dandanggendis itu tepat dan indah alunannya seperti nyanyian waranggana istana saja. Dan kata-katanya Mengandung makna yang amat dalam, penuh filsalat kebatinan yang hebat!

<<< Bagian 106                                                                                     Bagian 108 >>>

No comments:

Post a Comment