Badai Laut Selatan ; Bagian 108


Selama hidupnya, baru kali ini Joko Wandiro terpesona oleh seorang wanita. Ya! Pemuda itu bukan lain adalah Joko Wandiro. Setelah ia gagal mengabdi kepada Sang Prabu Panjalu, kemudian di alun-alun kerajaan itu ia berhasil mengalahkan dan mengusir Ni Durgogini dan Ni Nogogini, Joko Wandiro lalu meninggalkan Kerajaan Panjalu. Ia terus mengembara ke barat karena tujuan hatinya adalah mencari ayah angkatnya dan bibinya di Bayuwismo pantai Laut Selatan. Ia melakukan perjalanan seenaknya, melalui gunung-gunung sambil menikmati pemandangan alam yang indah sehingga akhirnya ia sampai di lereng Gunung Lawu dan bermalan di sebuah hutan tidak jauh dari Telaga Sarangan. Perjumpaannya dengan Ayu Candra benar-benar tak disangkanya sama sekali. Tidak pernah ia menyangka bahwa di tempat sunyi ini tinggal seorang gadis jelita seorang diri sehingga mau ia percaya bahwa gadis itu tentulah sebangsa bidadari penghuni kahyangan. Biarpun Joko Wandiro semenjak kecil digembleng oleh orang-orang pandai, memiliki batin yang amat kuat, namun ia seorang manusia juga. Manusia laki-laki yang masih muda, baru berusia dua puluh tahun kurang. Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja iapun mempunyai perasaan wajar terhadap wanita, teristimewa kepala wanita yang memiliki daya penarik khas terhadap perasaan dan seleranya. Joko Wandiro bukanlah seorang laki-laki mata keranjang, dan biasanya hatinya acuh tak acuh apabiia ia bertemu dengan wanita muda. Memang setelah dewasa, ia dapat menilai akan cantik tidakhya seorang wanita, namun belum pernah ia merasa tertarik dan boleh dikatakan hatinya selalu dingin.terhadap mahluk jenis lawan ini.

Akan tetapi sekali ini lain sama sekali. Begitu melihat Ayu Candra, ia terpesona, jantungnya berdebar-debar tidak karuan dan semangatnya serasa melayang-layang. Tidak ada hasrat lain di hatinya kecuali mengikuti ke manapun juga dara itu pergi! Seperti, seorang linglung kini ia berindap-indap dan mengikuti dara itu yang menuju ke pinggir telaga sambil bertembang amat merdunya. Ayu Candra tidak tahu bahwa dirinya diikuti dan diperhatikan orang. Ia lalu turun ke dalam air, terus ke depan di mana air sampai di pinggangnya. Amat sejuk dan segar. Ia menyelam tiga kali lalu menggosok-gosokkan daun pandan dan bunga-bungaan kepada rambutnya yang terurai basah. Rambut yang hitam gemuk panjang itu mengkilap tertimpa sinar matanari pagi dan kulit yang putih menguning itu seperti kencana muda. Joko Wandiro berindap-indap mendekat pantai. Seperti mimpi ia terus mendekat sampai berada di tepi pantai, hanya beberapa meter jauhnya dari gadis itu, lalu bersimpuh di atas rumput. Kini ia tidak bersembunyi lagi, melainkan duduk menonton di tepi telaga seperti orang tak sadar akan keadaan dirinya. Terpesona ia memandang ke depan, melihat tubuh belakang dara itu. Kain yang basah itu menempel ketat dan mencetak tubuh belakang yang ramping, padat dan gempal. Di bagian pinggul, kain itu seakan-akan hendak pecah, tidak kuat menahan gumpalan daging yang menonjol haus akan kebebasan. Ketika kedua tangan dara itu bergerak-gerak mulai menggosok leher dan dadanya, dari belakang tampak tulang belikatnya bergerakgerak, membuat punggung yang halus itu bergerak-gerak pula seperti menari. Melihat semua keindahan yang selama hidupnya baru kali ini mengikat perhatiannya, Joko Wandiro menahan napas. Pandang mata manusia mengandung getaran-getaran yang kuat, apalagi kalau pandang mata itu didorong perasaan. Juga manusia diperlengkapi alat-alat halus untuk menerima getaran ini, menangkap dengan indera ke enam. Makin bersih batin manusia, makin kuat indera ke enam ini sehingga membuat ia mungkin menerima getaran-getaran yang paling halus, memungkinkan ia melihat yang tak terlihat mata, mendengar yang tak terdengar telinga.

Ayu Candra yang tadi sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai tidak memperhatikan getaran-getaran halus yang semenjak tadi menyerangnya, kini mulai merasakan getaran itu dan membuatnya melakukan gerak otomatis membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba ke belakang. Dua pasang mata bertemu pandang. Dua pasang mata yang bersinar sama tajam, penuh getaran. Sampai lama dua pasang mata itu bergelut pandang, yang satu terpesona yang ke dua kaget dan heran. Menyaksikan tubuh dara itu dari belakang sudah hebat, kini menatapnya dari depan, benar-benar menakjubkan, membuat kerongkongan Joko Wandiro serasa kering tercekik sehingga terpaksa ia berusaha menelan ludah. Kemudian, terdorong oleh keharuan dan perasaan kagum terpikat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, terdorong pula oleh rasa kesadaran bahwa ia telah bersikap tidak sebagaimana mestinya dan melakukan pelanggaran susila yang semenjak ia kecil sudah digariskan oleh guru-gurunya, mendadak Joko Wandiro menunduk dan menyembah!
"Duh sang dewi, hamba mohon ampun akan kelancangan hamba, berani menjatuhkan pandang mata terhadap paduka."
Sejenak Ayu Candra tertegun. Sinar kemarahan yang mulai menyelubungi mukanya, perlahan-lahan lenyap, berganti keheranan, tidak mengerti, kemudian setelah sikap pemuda yang amat aneh itu dapat ia duga maksudnya, ia tersenyum lebar dan menutupkan tangan kiri ke depan mulut menahan ketawa geli.
"Hi-hi-hik! Kau sangka aku ini dewi penjaga telaga? Hi-hik!"
Joko Wandiro mengangkat muka memandang dan hampir saja ia terjungkal ke dalam telaga! Setelah kini tersenyum, wajah itu makin hebat! Dan dara itu tertawa dan mengeluarkan kata-kata, ia menjadi sadar akan keadaannya yang tidak sewajarnya, menyeretnya kembali ke alam dunia dari alam mimpi. Seketika wajahnya menjadi kemerahan dan rasa malu membuat mukanya terasa dingin panas tidak keruan! Ia hanya bisa memandang dengan mulut melongo dan hal ini kembali mendatangkan kemarahan di hati Ayu Candra karena kembali timbul prasangka bahwa pemuda itu tentu mengintainya dengan sengaja untuk bersikap kurang ajar,
"Heh! mau apa kau di situ? Kau mau mengintai orang mandi, ya? Kurang ajar......!”
Joko Wandiro yang telah sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang manusia, seorang dara jelita, seakan-akan disiram air dingin. Ia gelagapan, bingung, malu dan gugup. Jelas tertekan dalam benaknya betapa ia telah berlaku terlalu kurang ajar, melanggar tata susila. Dengan gagap-gugup ia menyangkal,
"Tidak........ tidak.......! Aku tidak berniat kurang ajar.....!”
Diam-diam Ayu Candra memperhatikan pemuda itu dan iapun kagum. Pemuda ini amat tampan dan muka seperti itu tak mungkin kurang ajar! Akan tetapi dengan mulut cemberut ia mendesak,
"Kalau tidak mau kurang ajar, mau apa kau di sini?"
"Aku mau..... mau mandi.........!"
Ayu Candra membentak,
"Mana ada orang mandi di darat?"
"........ aku........ belum........sekarang juga...... mandi........"

Dengan gagap dan gugup Joko Wandiro yang hendak menyembunyikan rasa malunya itu bangkit dan segera pergi ke sebelah kanan, terpisah sepuluh meter dari tempat dara itu mandi, kemudian ia melompat ke air tanpa membuka pakaian pula!.
"Eeeeeeh, awas di situ amat dalam....!”
Ayu Candra menjerit kaget, akan tetapi sudah terlambat, pemuda itu sudah ambyur ke air sehingga air muncrat tinggi ketika terdengar suara menjebur. Tubuh pemuda itu tenggelam dan tak tampak lagi sampai permukaan air menjadi tenang kembali dan hanya tampak air berbunyi blekutuk-blekutuk karena ada hawa naik dari bawah.
"Celaka........!” Ayu Candra berseru kaget melihat cara pemuda tadi terjun ke air, begitu kaku dan dengan perut lebih dulu, dapat diduga bahwa pemuda itu tidak pandai berenang, kini ternyata pemuda itu tenggelam dan tidak muncul kembali! Gerak gerik pemuda tadi amat aneh. Kalau bukan orang yang miring otaknya tentu orang yang mempunyai penyakit ayan! Menurut ayahnya, penyakit ini hebat sekali dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit ayan sama sekali tidak boleh dekat air yang dalam karena sekali tergelihcir ke dalam air di waktu penyakitnya kumat, orang itu tentu akan mati! Teringat akan hal ini, bangkit sikap pendekar dalam diri Ayu Candra. Bagian di mana pemuda tadi terjun amat dalam, kata ayahnya dalamnya setinggi pohon bambu tua! Ia lalu berenang ke depan, ke bagian telaga yang dalam di mana pemuda tadi terjun, kemudian mengambil napas panjang dan menyelam. Dengan gerakan kedua kakinya disertai tenaga dalam yang amat kuat, Ayu Candra terus menyelam. Ia membuka mata di dalam air dan untung baginya bahwa sinar matahari ada yang menimpa bagian itu dan air amat jernih sehingga ia dapat melihat ke bawah. Tidak jauh di sebelah bawah ia melihat benda hitam bergerak-gerak. Tidak salah lagi, tentulah itu pemuda yang gendeng tadi, atau mungkin sedang sekarat karena penyakit ayannya kumat. Dengan gerakan kaki dan tangan, Ayu Candra menyelam terus dan setelah dekat, benar saja ia melihat bayangan kepala orang. Menolong orang kalap (tenggelam di air) sekali-kali tidak boleh sembrono, pikirnya, teringat akan nasehat ayahnya. Kalau yang ditolong itu saking takutnya merangkul dan memeluk mencari pegangan, bisa celaka pula orang yang berusaha menolong. Harus dijambak rambutnya, atau dibikin tak berdaya, atau dipukul sekali biar pingsan!.
Ayu Candra meragu. Untuk menempiling kepala itu ia khawatir kalau-kalau pukulannya terlalu keras dan yang dipukul akan mampus sama sekali! Ketika tangannya meraih ke depan, jari-jari tangannya mencengkeram muka dan menangkap hidung. Ia merasa betapa muka itu hangat dan dari hidungnya keluar hawa yang menimbulkan gelembung-gelembung air, maka ia cepat merangkul leher orang itu dan memiting (menjepit) dengan lengan erat erat. Kalau ia meronta dan hendak mencengkeram, kuperkeras jepitanku pada lehernya, hendak kulihat apakah ia takkan tercekik pingsan, pikirnya.

Dengan lengan kiri memiting leher, Ayu Candra lalu menjejakkan kedua kaki bergantian ke bawah dan tangan kanannya membantu. Memang hebat tenaga dalam dara ini sehingga dalam waktu singkat, kepalanya sudah tersembul keluar dari permukaan air. Ia mengguncang-guncang kepala dan menghapus air dari muka dengan tangan kanan, kemudian melihat sejenak ke arah yang menempel di dadanya. Orang yang dipiting lehernya itu matanya meram, napasnya terengah-engah akan tetapi tidak mati. Ayu Candra lalu berenang ke pinggir dan setelah tiba di pinggir, di tempat dangkal, ia melepaskan pitingannya dan menyeret orang itu dengan mencengkeram leher bajunya, menariknya ke darat. Akan tetapi, perut orang itu sama sekali tidak kembung, tidak terisi air seperti biasanya orang yang tenggelam. Bahkan begitu sampai di darat, pemuda itu membuka matanya dan bangkit duduk! Matanya terbelalak lebar, mukanya kemerahan dan pemuda itu memandangnya dengan bengong.
Ayu Candra melihat arah pandang mata pemuda itu ditujukan ke dadanya. Cepat ia menunduk dan hampir ia menjerit ketika melihat betapa kainnya telah merosot turun sampai ke pinggang membuka bagian dadanya yang hanya sebagian tertutup rambutnya. Secepat kilat tangan kirinya menarik kainnya ke atas dan tangan kanannya menampar.
"Plakk!!"
Tamparan itu keras sekali dan diam-diam Joko Wandiro kaget bukan main. Tidak disangkanya dara ini memiliki tenaga yang demikian hebatnya. Untung dia memiliki kesaktian, kalau orang biasa menerima tamparan sehebat itu, tentu akan rontok giginya! Akan tetapi, karena tidak menyangka-nyangka sehingga ia tidak mengerahkan tenaga, untuk menerima tamparan, pipinya terasa panas dan perih juga. Joko Wandiro mengangkat tangannya, mengusap-usap pipinya yang kena tampar. Ia tidak tahu bahwa dara itu lebih terkejut dan lebih heran daripadanya. Ayu Candra merasa kaget melihat betapa pemuda yang disangkanya gendeng (setengah gila) atau berpenyakit ayan itu menerima tamparannya seperti orang yang pipinya dihinggapi lalat saja agaknya! Padahal tadi karena malu dan marah ia telah melakukan penamparan yang cukup keras untuk membikin gigi rontok bibir pecah. Ataukah tanpa disadarinya ia merasa kasihan dan menampar tidak sekeras yang ia kehendaki semula?

Kini Joko Wandiro sudah dapat menentramkan hatinya kembali. Agaknya tamparan tadi mengusir semua sisa kegugupan dan kecanggungan yang masih ada di hatinya. Akan tetapi kalau teringat akan penglihatan yang baru saja terbentang di depan matanya, ia merasa ubun-ubun kepalanya berdenyut-denyut dan kedua pipinya terasa panas. Kini ia bangkit berdiri dan berkata,
"Sungguh aku tidak mengerti sama sekali mengapa engkau begini marah kepadaku. Sudah kuakui kesalahanku tadi yang tidak sengaja datang ke tempat ini dan mendapatkan kau sedang berjalan seorang diri lalu mandi. Aku sudah minta maaf dan akupun hendak mandi, sudah menjauhimu dan..... "
"Cerewet! Kau orang tak kenal budi, tak tahu terima kasih dan mata keranjang!" Ayu Candra berkata marah sekali.
Joko Wandiro menekan jantungnya yang berdebar keras. Bukan main! Marah-marah malah bertambah manisnya. Heran ia mengapa hatinya berhal demikian. Mengapa ia kini sekali bertemu tergila-gila kepada seorang wanita? Apakah ini yang namanya mata keranjang?
"Benar mata keranjang!" Joko Wandiro menampar kepalanya dan ia kaget sendiri karena kata-kata dan gerakannya ini di luar kehendaknya. Saking kerasnya berpikir, ia sampai mengeluarkan suara hati melalui mulutnya tanpa disadarinya.

<<< Bagian 107                                                                                     Bagian 109 >>>

No comments:

Post a Comment