"Apa........kau bilang...... ?"
Ayu Candra
bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian. Tidak salah
lagi. Orang ini otaknya miring! Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali
ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh,
ternyata tidak beres ingatannya. Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.
"Ku.....
kumaksudkan..... eh, biarpun mata..... eh, sama sekali tidak mata keranjang,
tapi aku.....aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang
ajar, dan...." berhenti dan bingung sendiri.
Mata gadis itu
yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah.
"Apa?
Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi
kau......kau memandang...... dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima
kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang
ajar?"
"Memandang........
? Melotot....... ?"
"Ya! Biji
matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang....... memandang........
hemm, ini!"
Ayu Candra
menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi
Joko Wandiro lebih merah daripada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan
menjawab,
"Bu.....
bukan aku yang menyebabkan kain....... merosot."
"Tentu
saja, akan tetapi matamu memandang!"
Joko Wandiro
menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi
terlalu galak dan mau menang sendiri.
"Aku
tidak sengaja memandang, habis............................ di depan mata sih.
Dan lagi, untuk apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu
bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. Kaukira aku
ini begitu ceriwis untuk memandangi.... anu orang?"
Diserang
begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimanapun juga, pemuda itu tak dapat
dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.
"Mata sih
boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"
Wah
benar-benar dara yang mau menang sendiri.
"Kuharap
engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan
sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada
di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan
manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka seperti orang bermimpi aku
mengikutimu sampai di sini. Kau lalu mandi dan aku...... aku menjadi gugup
ketika kau tegur. Akupun hendak mandi... "
"Gila!
Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat
air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"
"Hemm,
agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi
mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu
akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan
sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke
darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah
menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, apa
namanya?"
Ayu Candra
membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir
balik. Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang
mata yang sedemikian indahnya. Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya,
aku akan gila, pikirnya.
"Jadi
kau..... kau tidak gendeng....... ?"
"Gendeng.....
?!?" Joko Wandiro berteriak kaget.
"Ya,
gendeng, begini.......!” Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang.
Aih, aih....... orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang
melototkan matanya.
"Kukira
engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan "
"Ayan......
? Aku....... , ayan....... ?!?"
Cuping hidung
Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu
amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.
"Kau
jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!" ia balas
menghardik.
"Habis
engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa
pura-pura tenggelam?"
"Siapa
yang pura-pura? Memang aku menyelam. Kau kira hanya kau seorang di dunia ini
yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang
atau kuat-kuatan menyelam!" Joko Wandiro menantang.
Akan tetapi
Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya. Dara ini agaknya teringat akan
sesuatu dan kembali matanya terbelalak. Aduh, jangan lagi! Joko Wandiro
mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.
"Kalau
begitu..... ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul............ "
"Maksudmu
kaupiting sampai leherku hampir patah tadi?"
"Ketika
itu..... engkau...... tidak pingsan?"
"Siapa
bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"
"Kenapa
kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? Kau sengaja, ya? Kau mempergunakan
kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu
kurangkul.... mukamu...... kudekap.....kau, manusia kurang ajar!"
Ayu Candra
kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal.
Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut.
Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki
kepandaian pula.
"Eh,
eh........ sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan
kebenaran sendiri. Kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku
berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis apa yang harus
kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau
kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam
air mana dapat? Kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu
menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam.
Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapapun
juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan
maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."
"Kau bisa
saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"
"Kalau
lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut," Joko Wandiro membantah
karena merasa jengkel juga.
"Kau tidak
meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah
tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura
memejamkan matamu?? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan
pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"
Joko Wandiro
menarik napas panjang.
"Agaknya
kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau
sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita
tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku
hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani
membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu...... ngeri!! Ah,
sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan
aku?"
Sejenak Ayu
Candra membuang muka dengan mulut cemberut. Apa yang harus ia lakukan terhadap
pemuda ini?
"Engkau
menggigil. Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk
angin. Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi. Aku bersedia
minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."
Suara Joko
Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah. Ayu Candra
mengangkat muka memandang. Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran
melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.
"Aku
sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit
demam, pakaianmu basah kuyup."
Joko Wandiro
tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin
tadi galak terdorong rasa malunya.
"Akupun
sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima
kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!”
"Hemm,siapa
yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis...... ada apa?"
"Tidak apa-apa,
hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga
bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana
tempat tinggalmu?"
"Namaku
Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku
sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada...... "
Tiba-tiba Ayu
Candra menahan kata-katanya. Cuping hidungnya bergerak sediklt. Ia mencium bau
wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu! Ia terkejut, akan tetapi
bersikap tenang kembali. Malu kalau memperlihatkan kekagetannya. Pula ia meragu
apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya? Mengapa ia mendadak
menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap
seorang laki-laki kurang ajar?
"Ada Apa?
Mengapa tidak kaulanjutkan?" Joko Wandiro mendesak.
"Tidak
ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. Kau sendiri, kau orang dari manakah
dan di mana tempat tinggalmu?"
Joko Wandiro
menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia
tidak mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan
berkata lirih seperti orang melamun,
"Ayu
Candra.... bukan main indahnya nama ini....... memang ayu seperti candra
(bulan)"
"Hishh!
Ditanya tidak menjawab malah ngaco.........!" Ayu Candra menghardik dan
mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!
"O ya,
aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini. Rumahku buana bebas, atap
rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami
rumput hijau, batu-batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon
pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."
Ayu Candra
tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah
ketika bau yang wengur makin keras.
"Kau
seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu......... ?"
"Namaku
Joko....... " Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu
Ayu Ccindra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa
semrepet (pusing dan gelap mata). Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit,
"Joko.......
awas.....!!"
Kedua tangan
gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda
ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau,
akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin
dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali. Iapun tahu bahwa
pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari
belakang. Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka
ia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Begitu dadanya didorong, ia
membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!
Seekor harimau
yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu
membalik dan menggereng. Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan
menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di
sekitarnya. Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas
memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai
perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko
Wandiro.
Pemuda ini
yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan
menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.
"Joko
jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!" terdengar Ayu Candra berkata.
Gadis itu
sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau.
Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra
memiliki kepandaian yang tinggi juga. Akan tetapi harimau itu amat besar dan
buas. Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra. Biarpun
bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tentu akan
menimbulkan luka-luka parah.
"Jangan,
Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku
tidak gentar."
Jawaban ini
membuat Ayu Candra tertegun.
"Kau.....
? Kau...... berani..... melawannya ??”
Joko Wandiro
tersenyum bangga. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan
kepandaiannya. Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan
orang lain!
No comments:
Post a Comment