Badai Laut Selatan ; Bagian 109


"Apa........kau bilang...... ?"
Ayu Candra bertanya dengan mata terbelalak lebar, memandang penuh perhatian. Tidak salah lagi. Orang ini otaknya miring! Sayang sekali, muda belia yang tampan sekali ini, yang memiliki sifat gagah juga karena ditampar sama sekali tidak mengeluh, ternyata tidak beres ingatannya. Tentu saja Joko Wandiro makin gagap.
"Ku..... kumaksudkan..... eh, biarpun mata..... eh, sama sekali tidak mata keranjang, tapi aku.....aku bukan tidak mengenal budi dan sama sekali tidak berniat kurang ajar, dan...." berhenti dan bingung sendiri.
Mata gadis itu yang membingungkannya. Matanya begitu lebar, begitu jernih, begitu indah.
"Apa? Engkau hampir mampus di kedung itu, susah payah aku menolongmu. Akan tetapi kau......kau memandang...... dengan mata melotot! Apa itu namanya tahu terima kasih, mengenal budi? Apa itu namanya tidak mata keranjang dan kurang ajar?"
"Memandang........ ? Melotot....... ?"
"Ya! Biji matamu tadi hampir terloncat keluar, melotot memandang....... memandang........ hemm, ini!"
Ayu Candra menuding ke arah dadanya dan tiba-tiba pipinya menjadi merah sekali. Kedua pipi Joko Wandiro lebih merah daripada pipi dara itu. Ia menundukkan mukanya dan menjawab,
"Bu..... bukan aku yang menyebabkan kain....... merosot."
"Tentu saja, akan tetapi matamu memandang!"

Joko Wandiro menjadi penasaran juga. Gadis ini hebat, cantik jelita dan menarik, akan tetapi terlalu galak dan mau menang sendiri.
"Aku tidak sengaja memandang, habis............................ di depan mata sih. Dan lagi, untuk apa punya mata kalau tidak untuk memandang? Kalau aku tahu bakal menjadikanmu marah, aku lebih senang meramkan mataku tadi. Kaukira aku ini begitu ceriwis untuk memandangi.... anu orang?"
Diserang begini, Ayu Candra kewalahan. Bagaimanapun juga, pemuda itu tak dapat dipersalahkan karena begitu membuka mata melihat dadanya terbuka di depannya.
"Mata sih boleh dipakai memandang, tapi kau memandang sampai melotot!"
Wah benar-benar dara yang mau menang sendiri.
"Kuharap engkau sekali lagi suka maafkan aku. Sesungguhnya, ketika kau berada di hutan sana tadi, aku menjadi amat heran dan kaget melihat betapa seorang dara berada di tempat sesunyi ini sendirian saja. Sungguh mati, aku menyangka kau bukan manusia, sebangsa peri atau bidadari kahyangan, maka seperti orang bermimpi aku mengikutimu sampai di sini. Kau lalu mandi dan aku...... aku menjadi gugup ketika kau tegur. Akupun hendak mandi... "
"Gila! Mana ada orang mandi berpakaian lengkap begitu, langsung terjun tanpa melihat air itu dalam atau tidak? Nyaris engkau mampus!"
"Hemm, agaknya ada salah pengertian di sini. Aku tadi sudah minta maaf, akan tetapi mengapa engkau tidak membiarkan aku mandi dengan aman? Aku sudah menjauhimu akan tetapi engkau malah mendekat, menyusul ke bawah air dan dengan sewenang-wenang engkau memiting leherku sampai hampir patah, menyeretku ke darat. Belum juga kutegur perbuatanmu ini, baru saja mataku kubuka, kau sudah menamparku. Coba, kalau perbuatanmu terhadapku ini tidak sewenang-wenang, apa namanya?"
Ayu Candra membelalakkan matanya lagi dan kembali Joko Wandiro merasa jantungnya jungkir balik. Celaka, pikirnya sambil mengalihkan pandang agar ia jangan menentang mata yang sedemikian indahnya. Kalau terlalu sering ia membelalakkan matanya, aku akan gila, pikirnya.
"Jadi kau..... kau tidak gendeng....... ?"
"Gendeng..... ?!?" Joko Wandiro berteriak kaget.
"Ya, gendeng, begini.......!” Ayu Candra menaruh telunjuk di depan dahi, melintang. Aih, aih....... orang ini terlalu amat, pikir Joko Wandiro dan kini ia yang melototkan matanya.
"Kukira engkau tadi gendeng atau setidaknya mempunyai penyakit ayan "
"Ayan...... ? Aku....... , ayan....... ?!?"

Cuping hidung Joko Wandiro mulai kembang-kempis. Dara ini benar-benar lancang mulut. Terlalu amat sangat melewati ukuran! Melanggar batas Kesabarannya.
"Kau jangan main-main, memaki orang seenak perut sendiri saja!" ia balas menghardik.
"Habis engkau yang bikin orang mendongkol! Kalau tidak gendeng tidak ayan, kenapa pura-pura tenggelam?"
"Siapa yang pura-pura? Memang aku menyelam. Kau kira hanya kau seorang di dunia ini yang pandai berenang dan menyelam? Hayo kita bertaruh, kita berlumba renang atau kuat-kuatan menyelam!" Joko Wandiro menantang.
Akan tetapi Ayu Candra tidak memperhatikan tantangannya. Dara ini agaknya teringat akan sesuatu dan kembali matanya terbelalak. Aduh, jangan lagi! Joko Wandiro mengeluh dalam hati dan mengalihkan pandang.
"Kalau begitu..... ketika kau kutolong tadi, ketika kurangkul............ "
"Maksudmu kaupiting sampai leherku hampir patah tadi?"
"Ketika itu..... engkau...... tidak pingsan?"
"Siapa bilang pingsan! Baru enak-enak menyelam kau seret saja aku!"
"Kenapa kau pura-pura pingsan? Kenapa kau diam saja? Kau sengaja, ya? Kau mempergunakan kesempatan selagi aku salah menduga kau tenggelam, kau membiarkan lehermu kurangkul.... mukamu...... kudekap.....kau, manusia kurang ajar!"
Ayu Candra kini marah sama sekali dan ia sudah menerjang dengan kedua tangan dikepal. Melihat kedudukan dara ini memasang kuda-kuda, kembali Joko Wandiro terkejut. Agaknya dara ini selain cantik jelita dan mau menang sendiri, juga memiliki kepandaian pula.
"Eh, eh........ sabar dulu! Jangan mau menang sendiri dan jangan kukuh akan kebenaran sendiri. Kau memiting leherku erat-erat sampai hampir tercekik. Aku berada dalam air ketika kau tiba-tiba memitingku. Habis apa yang harus kulakukan ketika itu? Apakah aku harus memberontak dan melawanmu? Kalau kulakukan itu, tentu kita berdua akan celaka. Apakah harus berteriak? Di dalam air mana dapat? Kau sendiri yang salah, tanpa periksa lebih dulu tahu-tahu menjatuhkan dugaan aku orang edan atau orang ayan yang akan mampus tenggelam. Maksud hatimu memang mulia akan tetapi pelaksanaannya yang keliru. Betapapun juga, kau telah bermaksud menolong nyawaku dan untuk itu biarlah aku memaafkan maki-makianmu tadi dan aku menghaturkan banyak terima kasih."
"Kau bisa saja membela diri. Lidah memang tak bertulang!"
"Kalau lidah bertulang, tentu sukar bergerak dalam mulut," Joko Wandiro membantah karena merasa jengkel juga.
"Kau tidak meronta dan berteriak di dalam air siapa peduli? Akan tetapi ketika sudah tersembul di atas permukaan air, mengapa kau masih enak-enak saja, pura-pura memejamkan matamu?? Hayo jawab, bukankah ini kau sengaja menyalahgunakan pertolongan orang untuk melakukan penghinaan?"

Joko Wandiro menarik napas panjang.
"Agaknya kau berkeras hati untuk memaksa aku mengaku kurang ajar. Apa boleh buat, engkau sudah menamparku, biarlah aku berterus terang. Ketahuilah, ketika kita tersembul di permukaan air, aku memang membuka mata. Baru kuketahui bahwa aku hemm bahwa mukaku tadi ah, bagaimana ini, terus terang saja, aku tidak berani membuka mata atau membuka suara. Aku terlalu bingung, terlalu...... ngeri!! Ah, sudahlah. Aku jadi bingung kau desak-desak. Apakah kau tidak mau memaafkan aku?"
Sejenak Ayu Candra membuang muka dengan mulut cemberut. Apa yang harus ia lakukan terhadap pemuda ini?
"Engkau menggigil. Berdiri di sini dengan kain basah tertiup angin dingin, bisa masuk angin. Pulanglah, kalau engkau punya rumah, dan jangan pikir lagi. Aku bersedia minta maaf dan biarlah kuakui lagi kesalahanku."
Suara Joko Wandiro kini amat halus dan penuh kesabaran, jelas ia mengalah. Ayu Candra mengangkat muka memandang. Kini wajah pemuda itu amat tampan dan ia heran melihat pandang mata yang demlkian tajam, seperti mata harimau.
"Aku sudah biasa dengan hawa dingin, tidak apa-apa. Engkau malah yang bisa sakit demam, pakaianmu basah kuyup."
Joko Wandiro tersenyum, girang hatinya. Agaknya dara ini tidak segalak yang ia sangka tadi. Mungkin tadi galak terdorong rasa malunya.
"Akupun sudah biasa melawan hawa dingin atau panas. Engkau baik sekali, dan terima kasih atas kemurahan hatimu yang suka memaafkan aku!”
"Hemm,siapa yang bilang aku sudah memaafkanmu, habis...... ada apa?"
"Tidak apa-apa, hanya setelah kita berjumpa secara kebetulan di sini dan sudah lama juga bercakap-cakap, kalau boleh, aku ingin mengetahui siapa anda ini dan di mana tempat tinggalmu?"
"Namaku Ayu Candra, tempat tinggalku di sana, tak jauh dari tempat ini. Ayah ibuku sedang pergi, aku sendirian saja di pondok, akan tetapi ada...... "

Tiba-tiba Ayu Candra menahan kata-katanya. Cuping hidungnya bergerak sediklt. Ia mencium bau wengur, bau seekor harimau berada dekat tempat itu! Ia terkejut, akan tetapi bersikap tenang kembali. Malu kalau memperlihatkan kekagetannya. Pula ia meragu apakah ia harus bercerita sebanyak itu tentang dirinya? Mengapa ia mendadak menaruh kepercayaan yang mendalam kepada pemuda ini yang tadinya ia anggap seorang laki-laki kurang ajar?
"Ada Apa? Mengapa tidak kaulanjutkan?" Joko Wandiro mendesak.
"Tidak ada apa-apa lagi, sudah cukup keteranganku. Kau sendiri, kau orang dari manakah dan di mana tempat tinggalmu?"
Joko Wandiro menarik napas panjang, memandang wajah gadis itu dan sikapnya seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaannya. Bukannya menjawab pertanyaan orang, ia melainkan berkata lirih seperti orang melamun,
"Ayu Candra.... bukan main indahnya nama ini....... memang ayu seperti candra (bulan)"
"Hishh! Ditanya tidak menjawab malah ngaco.........!" Ayu Candra menghardik dan mukanya menjadi merah sekali namun jantungnya berdebar girang!
"O ya, aku tidak punya tempat tinggal tertentu di dunia ini. Rumahku buana bebas, atap rumahku langit biru, dinding rumahku pohon-pohon, lantai rumahku bumi ditilami rumput hijau, batu-batu dan akar-akar pohon meja kursiku, ranting-ranting pohon pembaringanku, bintang-bintang di langit pelitaku."
Ayu Candra tertawa mendengar jawaban ini, akan tetapi jantungnya makin berdebar gelisah ketika bau yang wengur makin keras.
"Kau seperti badut saja, suka melucu. Dan namamu......... ?"
"Namaku Joko....... " Aduh, tertelan kembali lanjutan namanya karena pada saat itu Ayu Ccindra sudah membelalakkan matanya lagi sehingga Joko Wandiro merasa semrepet (pusing dan gelap mata). Akan tetapi, tiba-tiba Ayu Candra menjerit,
"Joko....... awas.....!!"
Kedua tangan gadis itu secepat kilat mendorong ke depan, ke arah dada Joko Wandiro. Pemuda ini tentu saja maklum bahwa sejak tadi di dekat situ terdapat seekor harimau, akan tetapi ia memang pura-pura tidak tahu, karena selain tidak suka membikin dara itu terkejut, juga ia tentu saja tidak takut sama sekali. Iapun tahu bahwa pada saat itu sang harimau telah meloncat dan menerkam ke arahnya dari belakang. Karena ia tadi terpesona oleh sepasang mata yang melebar indah, maka ia seperti orang yang kehilangan kesadaran. Begitu dadanya didorong, ia membiarkan dirinya terlempar sampai tiga meter lebih!

Seekor harimau yang amat besar telah menerkam dan kini, karena terkamannya luput, harimau itu membalik dan menggereng. Suara geramannya itu amat keras, seakan-akan menggetarkan seluruh permukaan telaga dan menggema di dalam hutan-hutan di sekitarnya. Bibir atas binatang itu bergerak-gerak tertarik ke atas memperlihatkan taring yang runcing kuat, tubuhnya yang panjang merendah sampai perutnya menempel tanah, sepasang matanya tajam penuh kemarahan menatap Joko Wandiro.
Pemuda ini yang tadi terlempar oleh dorongan Ayu Candra, sudah bangkit kembali dan menghadapi ancaman harimau dengan sikap tenang sekali.
"Joko jangan bergerak. Biarkan aku melawannya!" terdengar Ayu Candra berkata.
Gadis itu sudah memasang kuda kuda dan kakinya berindap-indap menghampiri harimau. Melihat gerak-gerik dara itu, Joko Wandiro dapat menduga bahwa Ayu Candra memiliki kepandaian yang tinggi juga. Akan tetapi harimau itu amat besar dan buas. Menghadapi binatang sebuas ini banyak bahayanya bagi Ayu Candra. Biarpun bukan bahaya maut, setidaknya kalau terkena cakaran kaki harimau, tentu akan menimbulkan luka-luka parah.
"Jangan, Ayu. Biarkanlah, menghadapi harimau macam ini saja, biar ada lima ekor aku tidak gentar."
Jawaban ini membuat Ayu Candra tertegun.
"Kau..... ? Kau...... berani..... melawannya ??”
Joko Wandiro tersenyum bangga. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasa bangga akan kepandaiannya. Dan baru sekali ini ia ingin memamerkan kepandaiannya di depan orang lain!

<<< Bagian 108                                                                                     Bagian 110 >>>

No comments:

Post a Comment