Biasanya ia
sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia
bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita. Karena itu, tanpa
disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau
yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!
"Eh, Joko
hati-hatilah harimau ini kelaparan!"
Ayu Candra
menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat
sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.
"Tidak
ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya
akan menerkam mahluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan
sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk
memuaskan nafsu-nafsunya."
"Joko
awas!!"
Ayu Candra
memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan
bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di
belakangnya. Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya. Dahsyat terkamannya,
dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka
lebar siap meremukkan tulang-tulang.
"Joko........!”
Kembali Ayu
Candra menjerit dengan muka berubah pucat. jerit penuh kekhawatiran dan
kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro. Dara itu
mengkhawatirkan dirinya! Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek robek
dan dijadikan mangsa harimau.
"Jangan
khawatir, Ayu.......!" katanya sambil menggerakkan tubuhnya. Dengan sebuah
gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat
mudahnya.
Kembali
harimau itu menerkam tempat kosong. Kini Ayu Candra melongo keheranan. Gerakan
pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan
penyombong seperti gentong kosong. Ketika harimau itu kini menerkam kembali,
dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan, pemuda
itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra.
Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti
tadi, melainkan menonton dengan kagum. Sudah tujuh kali harimau itu menerkam,
makin lama makin dahsyat dan makin marah. Akan tetapi selalu terkamannya
mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko
Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar
girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.
"Joko,
kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!" Akhirnya Ayu Candra
berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan
diri sendiri.
"Ah,
bagaimana aku tega?" balas Joko sambii mengelak lagi ketika si harimau
menerkam dari samping.
"Dia
menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat,
Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"
Sebelum
harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahului dengan loncatan cepat
sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor
harimau yang panjang. Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan
tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornva, akan tetapi tiba-tiba
tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh
Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan
seekor tikus saja. Ayu Candra terbelalak kagum. Dia sendiri tidak takut
menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu. Akan tetapi untuk
memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga
dahsyat dan keberanian yang luar biasa! Kiranya pemuda ini seorang yang sakti!
Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu
seorang penderita penyakit ayan! Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi
dara ini menjadi merah padam. Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam
air! Ah, benar-benar ia telah salah sangka. Pemuda yang tampan dan halus
gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi
tingkat kepandaiannya sendiri. Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa
jengah.
"Lihat,
Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!"
teriak Joko Wandiro dan sekali melernpar, tubuh harimau yang besar dan berat
itu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu
terbanting ke dalam air.
Harimau itu
mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan. la meronta-ronta dan
akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah
kuyub. Kelika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng
dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya ke bawah di
antara kedua kaki belakang.
Ayu Candra dan
Joko Wandiro tertawa tawa melihat harirnau itu lari ketakutan. Akan tetapi
tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka
terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah
berkelojotan di atas tanah. Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko
Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu. Keduanya makin terheran ketika melihat
sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata
binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat. Yang mengerikan
adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempat
itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah
itu mengandung bisa yang amat jahat!.
"Keji.........!"
Joko Wandiro berkata, masih tertegun.
Juga Ayu
Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh
Joko, diampuni dan dibiarkan lari. Akan tetapi ada orang lain yang mernpergunakan
kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali. la
mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan
mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi.
Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat daripada emas
permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut. Wanita itu masih
muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan
memandang ke bawah. Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika
melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah
kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul
kemarahannya.
"lblis
betina yang curang!" bentaknya sambil menudingkan telunjuk ke arah wanita
di atas pohon itu.
"Lihat,
Joko! Dialah yang membunuh harimau secara curang!" Ketika Ayu Candra
menoleh ke belakang, ia melihat Joko berdiri dan terbelalak memandang ke arah
wanita cantik itu.
Pandang mata
penuh kagum, kaget, dan heran. Ketika ia mengalihkan pandang ke atas, ia
melihat wanita cantik itupun memandang ke arah Joko dengan mulut tersenyum!
Rasa panas yang aneh menyelinap dan membakar dada Ayu Candra.
"Iblis
betina yang curang! Kau pengecut sekali, tanpa alasan membunuh harimau secara
curang!" ia makin marah dan menghardik ke atas.
Wanita itu
memperlebar senyumnya lalu menjawab, suaranya halus lunak dan merdu,
"Bocah
dusun, mengapa kau banyak tingkah? Aku sedang berkuda, mendadak harimau ini
menggereng-gereng keras mengagetkan kudaku yang tidak mau berjalan tenang lagi.
Aku datang dan menghukum harimau itu, dan kau masih bilang tanpa alasan?"
"Keparat,
kau sombong sekali! Harimau ini memang tempatnya di hutan. Kau ini wanita
sombong mau apa berkeliaran di sini, mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian
bermain curang membunuhi binatang hutan?" Ayu Candra makin marah karena
dilihatnya Joko masih diam saja seperti orang terkena pesona, menengadah
memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap.
"Turunlah
kalau kau berani! Atau aku harus menyeretmu turun.... ?" Ayu Candra
berteriak marah.
"Ayu.....,
jangan...........! Eh, awas senjata.........!!"
Joko Wandiro
berseru keras ketika melihat berkelebatnya tiga sinar ke arah dirinya dan tiga
sinar lagi ke arah Ayu Candra. Ia cepat menggunakan tenaga saktinya, memutar
tangan dengan jari-jari terbuka, memukul runtuh tiga batang anak panah itu
dengan hawa pukulannya, dan melanjutkan gerakannya untuk menolong Ayu Candra.
Ia berhasil meruntuhkan sebatang anak panah lagi dan Ayu Candra sendiri
berhasil mengelak dari sambaran sebatang anak panah, akan tetapi anak panah
yang terakhir menyambar, tak dapat dielakkannya dan karena ia berdiri agak jauh
dari Joko Wandiro, pemuda inipun tidak sempat menyelamatkannya.
"bles!"
Anak panah itu
menancap di dada kanan Ayu Candra yang mengeluarkan suara rintihan dan
terguling roboh!
"Ayu!"
Joko Wandiro
berseru kaget. la menoleh dan melihat wanita cantik itu melayang turun dengan
gerakan ringan seperti seekor burung, kemudian mulut yang selalu tersenyum
manis itu mengeluarkan suara mencemooh dan sekali berkelebat, wanita itu
lenyap. Kemudian terdengar suara derap kaki kuda pergi menjauh. Rasa penasaran
hampir saja membuat Joko Wandiro meninggalkan Ayu Candra untuk mengejar dan
memberi hajaran kepada wanita cantik itu. Akan tetapi pada saat itu Ayu Candra
merintih-rintih dan ia cepat menghampiri dan berlutut. Alangkah kagetnya ketika
ia melihat betapa anak panah itu menancap di dada dan betapa di sekitar kepala
anak panah itu kulit yang tadinya putih kuning tampak menghitam. Anak panah
beracun!
Masih untung
bahwa Ayu Candra bukan seorang wanita biasa. Ketika tadi mengelak kemudian
melihat bahwa sebatang anak panah tak mungkin dielakkan, ia mengerahkan tenaga
dalam dan hal ini membuat anak panah itu menancap hanya sampai di kepala anak
panah saja, tidak terlalu dalam. Namun cukup membahayakan keselamatan nyawanya
karena racun di ujung anak panah mulai bekerja.
"Ayu,
diamlah saja jangan bergerak, dan maafkan aku. Ini demi keselamatan nyawamu,
Ayu."
Tanpa meragu
lagi, Joko Wandiro membalikkan tubuh Ayu Candra sehingga terlentang, kemudian
sekali mengerahkan tenaga ia mencabut keluar anak panah itu. Darah yang hitam
mengalir keluar dari luka di dada. Joko Wandiro lalu mengerahkan tenaga dalam,
menyalurkan hawa sakti. Kemudian menunduk. Ia harus mengerahkan kekuatan batin
seluruhnya, bukan hanya untuk pengobatan, melainkan terutama sekali untuk
menekan guncangan hatinya. Terpaksa ia meramkan mata untuk mengusir bayangan
dada yang membusung, kulit yang halus putih ketika ia menempelkan bibirnya pada
luka menghitam itu. Dengan mengerahkan tenaga ia menyedot luka itu, menyedot
terus sampai darah hitam memenuhi mulutnya. Ia melepaskan mukanya dan
meludahkan darah hitam itu keluar. Ketika ia hendak menempelkan mukanya lagi,
tiba-tiba Ayu Candra menampar pipinya.
"Plakk.........!!”
Berkunang
pandang mata Joko Wandiro. Pipi yang ditampar terasa berdenyut-denyut panas.
Ketika ia menatap wajah dara itu, ia melihat Ayu Candra menjadi merah sekali
kedua pipinya dan dua butir air mata menitik turun. Ia tidak perduli. Luka itu
belum bersih betul dari racun. Dengan nekad Joko Wandiro kembali menempelkan
mukanya pada dada, mulut-nya menyedot luka. Ia merasa betapa tubuh dara itu
meronta, mendengar suara dara itu mengeluh dan merintih, akan tetapi ia tidak
perduli. Ia cukup maklum betapa keadaan ini amat janggal, betapa perbuatan ini
merupakan pelanggaran susila yang hebat, tetapi apa artinya pelanggaran itu
kalau dipikirkan betapa keselamatan nyawa dara ini terancam hebat? Kåmbali ia
meludahkan darah dari dalam mulutnya. Hatinya lega melihat warna hitam di
sekitar luka itu telah menipis, tinggal warna hijau.
"Sekali
lagi cukup" katanya perlahan dan kembali ia menunduk.
"Plakk.........!!"
Tamparan di
pipi kirinya lebih keras daripada tadi, sampai terasa nanar kepalanya. Kini air
mata di kedua pipi dara itu makin banyak. Joko Wandiro maklum akan perasaan
dara itu namun keyakinan bahwa apa yang ia lakukan itu berlandaskan kebenaran
dan usaha menolong, ia tidak perduli, terus saja ia membenamkan muka pada dada
yang lembut dan menempelkan mulut pada luka, lalu menghisap. Baru sekarang
setelah perasaannya tidak tercekam kegelisahan lagi, ia merasa betapa lembut
dada itu, dan jantungnya berdebar seperti hendak meledak. Tiba-tiba ia merasa
betapa kedua tangan gadis itu mencengkeram rambut di kepalanya,
menjambak-jambak dan betapa Ayu Candra menangis terisak-isak. la melepaskan
mukanya dan ketika ia menyemburkan darah dari mulutnya, darah itu sudah banyak
yang merah. Ia memandang ke arah luka. Tidak ada warna hijau lagi dan darah
mulai mengalir keluar. Bahaya sudah lewat. Akan tetapi Ayu Candra menangis
tersedu-sedu, bangkit duduk dan menyembunyikan muka di belakang kedua tangan,
pundaknya berguncang-guncang, tangisnya tersedu-sedu.
"Ayu,
kenapa kau menangis? Kau sudah bebas daripada bahaya maut. Diamlah, Ayu,
mengapa kau begini berduka?"
No comments:
Post a Comment