Badai Laut Selatan ; Bagian 110



Biasanya ia sama sekali tak mengharapkan pujian orang lain, akan tetapi sekali ini, ia bahkan ingin sekali mendengar pujian si dara jelita. Karena itu, tanpa disadarinya sendiri, ia secara sembarangan malah berjalan mendekati harimau yang sudah menggereng-gereng dan siap menerkamnya itu!
"Eh, Joko hati-hatilah harimau ini kelaparan!"

Ayu Candra menjerit kembali ketika Joko Wandiro menghampiri harimau itu sampai dekat sekali. Joko Wandiro kembali tersenyum.
"Tidak ada binatang sebuas manusia, Ayu. Harimau inipun tidak sebuas manusia. Ia hanya akan menerkam mahluk lain kalau perutnya lapar karena ia membutuhkan makan sebagai penyambung hidupnya. Manusia akan menerkam manusia lain hanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya."
"Joko awas!!"
Ayu Candra memperingatkan, gelisah juga melihat pemuda itu masih enak-enakan mengobrol dan bahkan membelakangi harimau itu yang kini jaraknya hanya tinggal dua meter di belakangnya. Harimau itu menerkam untuk kedua kalinya. Dahsyat terkamannya, dengan cakar runcing melengkung siap merobek kulit daging dan moncong terbuka lebar siap meremukkan tulang-tulang.
"Joko........!”
Kembali Ayu Candra menjerit dengan muka berubah pucat. jerit penuh kekhawatiran dan kengerian yang terdengar merdu memasuki telinga Joko Wandiro. Dara itu mengkhawatirkan dirinya! Berarti dara itu tidak ingin melihat ia dirobek robek dan dijadikan mangsa harimau.
"Jangan khawatir, Ayu.......!" katanya sambil menggerakkan tubuhnya. Dengan sebuah gerakan yang indah cekatan sekali Joko Wandiro sudah menghindar dengan amat mudahnya.
Kembali harimau itu menerkam tempat kosong. Kini Ayu Candra melongo keheranan. Gerakan pemuda itu jelas membayangkan bahwa pemuda itu bukan seorang lemah, bukan penyombong seperti gentong kosong. Ketika harimau itu kini menerkam kembali, dan dari jarak dekat dan dengan gerakan yang lebih indah mengagumkan, pemuda itu kembali menghindar, mulai berkuranglah kekhawatiran hati Ayu Candra. Mulailah ia mencurahkan perhatiannya dan menonton, tidak cemas lagi seperti tadi, melainkan menonton dengan kagum. Sudah tujuh kali harimau itu menerkam, makin lama makin dahsyat dan makin marah. Akan tetapi selalu terkamannya mengenai tempat kosong karena dielakkan secara mudah dan cepat oleh Joko Wandiro yang tersenyum-senyum dan melirik ke arah Ayu Candra, hatinya berdebar girang melihat sinar kekaguman terpancar keluar dari sepasang mata bintang itu.
"Joko, kenapa main-main dengan dia? Lekas bunuh saja!" Akhirnya Ayu Candra berteriak karena mengganggap bahwa dengan main kelit pemuda itu membahayakan diri sendiri.
"Ah, bagaimana aku tega?" balas Joko sambii mengelak lagi ketika si harimau menerkam dari samping.
"Dia menyerangku untuk makan. Akan tetapi aku tidak membutuhkan kematiannya. Lihat, Ayu, akan ku akhiri permainannya ini!"

Sebelum harimau itu membalik, Joko Wandiro sudah mendahului dengan loncatan cepat sekali ke belakang tubuh harimau dan tangan kanan Joko Wandiro menyambar ekor harimau yang panjang. Harimau itu menggereng keras dan berusaha membalikkan tubuh untuk mencakar orang yang memegang ekornva, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terangkat dari atas tanah dan terus tubuhnya itu diputar-putar oleh Joko Wandiro di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak mempermainkan seekor tikus saja. Ayu Candra terbelalak kagum. Dia sendiri tidak takut menghadapi harimau, malah sanggup mengalahkan binatang itu. Akan tetapi untuk memegang ekornya dan memutar-mutar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga dahsyat dan keberanian yang luar biasa! Kiranya pemuda ini seorang yang sakti! Dan dia tadi telah menduganya seorang gila, bahkan disangkanya pemuda itu seorang penderita penyakit ayan! Teringat akan hal ini, mendadak kedua pipi dara ini menjadi merah padam. Dan dia tadi berusaha menolong Joko dari dalam air! Ah, benar-benar ia telah salah sangka. Pemuda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu kiranya memiliki ilmu kesaktian yang mungkin melebihi tingkat kepandaiannya sendiri. Ayu Candra menggigit bibirnya menahan rasa jengah.
"Lihat, Ayu. Biar dia mandi dan minum air banyak-banyak menghilangkan laparnya!" teriak Joko Wandiro dan sekali melernpar, tubuh harimau yang besar dan berat itu melayang ke arah telaga dan terdengarlah suara menjebur ketika binatang itu terbanting ke dalam air.
Harimau itu mengaum dan menggereng penuh kemarahan dan juga ketakutan. la meronta-ronta dan akhirnya berhasil juga berenang ke pinggir lalu mendarat dengan tubuh basah kuyub. Kelika Joko Wandiro meloncat ke depannya, harimau itu kembali menggereng dan tiba-tiba ia menyelinap ke kiri dan lari sambil menekuk ekornya ke bawah di antara kedua kaki belakang.

Ayu Candra dan Joko Wandiro tertawa tawa melihat harirnau itu lari ketakutan. Akan tetapi tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti seketika dan pandang mata mereka terbelalak ditujukan ke arah tubuh harimau yang mendadak terjungkal dan rebah berkelojotan di atas tanah. Dengan beberapa kali loncatan, Ayu Candra dan Joko Wandiro sudah tiba di dekat harimau itu. Keduanya makin terheran ketika melihat sebatang anak panah yang kecil pendek sudah menancap di antara kedua mata binatang itu yang kini berkelojotan dalam keadaan sekarat. Yang mengerikan adalah keadaan luka di mana anak panah itu menancap karena di sekitar tempat itu, ialah seluruh muka harimau, menjadi biru kehitaman tanda bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat!.
"Keji.........!" Joko Wandiro berkata, masih tertegun.
Juga Ayu Candra marah sekali jelas bahwa harimau itu dikalahkan, bahkan ditaklukkan oleh Joko, diampuni dan dibiarkan lari. Akan tetapi ada orang lain yang mernpergunakan kesempatan itu untuk membunuh binatang ini secara curang dan kejam sekali. la mencari-cari ke arah dari mana datangnya anak panah dan ketika ia menengadahkan mukanya, ia melihat seorang wanita berdiri di atas cabang pohon yang tinggi. Wanita yang berpakaian indah dan mewah, dengan hiasan terbuat daripada emas permata pada pergelangan tangan, lengan, leher dan rambut. Wanita itu masih muda, sebaya dengan dirinya, amat cantik dan tersenyum-senyum penuh ejekan memandang ke bawah. Sejenak Ayu Candra tertegun dan kagum, akan tetapi ketika melihat betapa kedua tangan wanita itu memegang beberapa batang anak panah kecil yang sebentuk dengan anak panah yang menancap di kepala harimau, timbul kemarahannya.
"lblis betina yang curang!" bentaknya sambil menudingkan telunjuk ke arah wanita di atas pohon itu.
"Lihat, Joko! Dialah yang membunuh harimau secara curang!" Ketika Ayu Candra menoleh ke belakang, ia melihat Joko berdiri dan terbelalak memandang ke arah wanita cantik itu.

Pandang mata penuh kagum, kaget, dan heran. Ketika ia mengalihkan pandang ke atas, ia melihat wanita cantik itupun memandang ke arah Joko dengan mulut tersenyum! Rasa panas yang aneh menyelinap dan membakar dada Ayu Candra.
"Iblis betina yang curang! Kau pengecut sekali, tanpa alasan membunuh harimau secara curang!" ia makin marah dan menghardik ke atas.
Wanita itu memperlebar senyumnya lalu menjawab, suaranya halus lunak dan merdu,
"Bocah dusun, mengapa kau banyak tingkah? Aku sedang berkuda, mendadak harimau ini menggereng-gereng keras mengagetkan kudaku yang tidak mau berjalan tenang lagi. Aku datang dan menghukum harimau itu, dan kau masih bilang tanpa alasan?"
"Keparat, kau sombong sekali! Harimau ini memang tempatnya di hutan. Kau ini wanita sombong mau apa berkeliaran di sini, mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian bermain curang membunuhi binatang hutan?" Ayu Candra makin marah karena dilihatnya Joko masih diam saja seperti orang terkena pesona, menengadah memandang wanita itu dengan mata terbelalak dan mulut celangap.
"Turunlah kalau kau berani! Atau aku harus menyeretmu turun.... ?" Ayu Candra berteriak marah.
"Ayu....., jangan...........! Eh, awas senjata.........!!"
Joko Wandiro berseru keras ketika melihat berkelebatnya tiga sinar ke arah dirinya dan tiga sinar lagi ke arah Ayu Candra. Ia cepat menggunakan tenaga saktinya, memutar tangan dengan jari-jari terbuka, memukul runtuh tiga batang anak panah itu dengan hawa pukulannya, dan melanjutkan gerakannya untuk menolong Ayu Candra. Ia berhasil meruntuhkan sebatang anak panah lagi dan Ayu Candra sendiri berhasil mengelak dari sambaran sebatang anak panah, akan tetapi anak panah yang terakhir menyambar, tak dapat dielakkannya dan karena ia berdiri agak jauh dari Joko Wandiro, pemuda inipun tidak sempat menyelamatkannya.
"bles!"
Anak panah itu menancap di dada kanan Ayu Candra yang mengeluarkan suara rintihan dan terguling roboh!
"Ayu!"
Joko Wandiro berseru kaget. la menoleh dan melihat wanita cantik itu melayang turun dengan gerakan ringan seperti seekor burung, kemudian mulut yang selalu tersenyum manis itu mengeluarkan suara mencemooh dan sekali berkelebat, wanita itu lenyap. Kemudian terdengar suara derap kaki kuda pergi menjauh. Rasa penasaran hampir saja membuat Joko Wandiro meninggalkan Ayu Candra untuk mengejar dan memberi hajaran kepada wanita cantik itu. Akan tetapi pada saat itu Ayu Candra merintih-rintih dan ia cepat menghampiri dan berlutut. Alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa anak panah itu menancap di dada dan betapa di sekitar kepala anak panah itu kulit yang tadinya putih kuning tampak menghitam. Anak panah beracun!

Masih untung bahwa Ayu Candra bukan seorang wanita biasa. Ketika tadi mengelak kemudian melihat bahwa sebatang anak panah tak mungkin dielakkan, ia mengerahkan tenaga dalam dan hal ini membuat anak panah itu menancap hanya sampai di kepala anak panah saja, tidak terlalu dalam. Namun cukup membahayakan keselamatan nyawanya karena racun di ujung anak panah mulai bekerja.
"Ayu, diamlah saja jangan bergerak, dan maafkan aku. Ini demi keselamatan nyawamu, Ayu."
Tanpa meragu lagi, Joko Wandiro membalikkan tubuh Ayu Candra sehingga terlentang, kemudian sekali mengerahkan tenaga ia mencabut keluar anak panah itu. Darah yang hitam mengalir keluar dari luka di dada. Joko Wandiro lalu mengerahkan tenaga dalam, menyalurkan hawa sakti. Kemudian menunduk. Ia harus mengerahkan kekuatan batin seluruhnya, bukan hanya untuk pengobatan, melainkan terutama sekali untuk menekan guncangan hatinya. Terpaksa ia meramkan mata untuk mengusir bayangan dada yang membusung, kulit yang halus putih ketika ia menempelkan bibirnya pada luka menghitam itu. Dengan mengerahkan tenaga ia menyedot luka itu, menyedot terus sampai darah hitam memenuhi mulutnya. Ia melepaskan mukanya dan meludahkan darah hitam itu keluar. Ketika ia hendak menempelkan mukanya lagi, tiba-tiba Ayu Candra menampar pipinya.
"Plakk.........!!”
Berkunang pandang mata Joko Wandiro. Pipi yang ditampar terasa berdenyut-denyut panas. Ketika ia menatap wajah dara itu, ia melihat Ayu Candra menjadi merah sekali kedua pipinya dan dua butir air mata menitik turun. Ia tidak perduli. Luka itu belum bersih betul dari racun. Dengan nekad Joko Wandiro kembali menempelkan mukanya pada dada, mulut-nya menyedot luka. Ia merasa betapa tubuh dara itu meronta, mendengar suara dara itu mengeluh dan merintih, akan tetapi ia tidak perduli. Ia cukup maklum betapa keadaan ini amat janggal, betapa perbuatan ini merupakan pelanggaran susila yang hebat, tetapi apa artinya pelanggaran itu kalau dipikirkan betapa keselamatan nyawa dara ini terancam hebat? Kåmbali ia meludahkan darah dari dalam mulutnya. Hatinya lega melihat warna hitam di sekitar luka itu telah menipis, tinggal warna hijau.
"Sekali lagi cukup" katanya perlahan dan kembali ia menunduk.
"Plakk.........!!"

Tamparan di pipi kirinya lebih keras daripada tadi, sampai terasa nanar kepalanya. Kini air mata di kedua pipi dara itu makin banyak. Joko Wandiro maklum akan perasaan dara itu namun keyakinan bahwa apa yang ia lakukan itu berlandaskan kebenaran dan usaha menolong, ia tidak perduli, terus saja ia membenamkan muka pada dada yang lembut dan menempelkan mulut pada luka, lalu menghisap. Baru sekarang setelah perasaannya tidak tercekam kegelisahan lagi, ia merasa betapa lembut dada itu, dan jantungnya berdebar seperti hendak meledak. Tiba-tiba ia merasa betapa kedua tangan gadis itu mencengkeram rambut di kepalanya, menjambak-jambak dan betapa Ayu Candra menangis terisak-isak. la melepaskan mukanya dan ketika ia menyemburkan darah dari mulutnya, darah itu sudah banyak yang merah. Ia memandang ke arah luka. Tidak ada warna hijau lagi dan darah mulai mengalir keluar. Bahaya sudah lewat. Akan tetapi Ayu Candra menangis tersedu-sedu, bangkit duduk dan menyembunyikan muka di belakang kedua tangan, pundaknya berguncang-guncang, tangisnya tersedu-sedu.
"Ayu, kenapa kau menangis? Kau sudah bebas daripada bahaya maut. Diamlah, Ayu, mengapa kau begini berduka?"

<<< Bagian 109                                                                                      Bagian 111 >>>

No comments:

Post a Comment