Badai Laut Selatan ; Bagian 111


Dara itu tidak menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi, sampai mengguguk sehingga Joko Wandiro menjadi bingung sekali. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak dara itu dan berkata lagi,
"Ayu, aku mengaku salah. Aku...... aku telah berlaku amat tidak sopan. Kau maafkanlah aku, Ayu. Tadipun sebelumnya aku sudah minta maaf. Sekarang, aku minta maaf lagi dan kalau kau mau melampiaskan kemarahanmu, kaupukullah aku, kaubunuhlah aku."
Ayu Candra tiba-tiba menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari balik telapak tangan. Mukanya masih merah padam, akan tetapi basah air mata. Hanya sebentar saja ia berani bertentang pandang dengan Joko Wandiro karena ia segera menundukkan muka seperti orang yang merasa malu. Bibirnya bergerak perlahan, berbisik lirih,
"Mengapa kau lakukan itu?"
"Mengapa? Tentu saja untuk menolongmu, Ayu. Kaupun maklum bahwa anak panah itu mengandung bisa yang amat jahat. Karena tidak mungkin mendapatkan obat yang bisa cepat menyedot racun, jalan satu-satunya terpaksa harus menyedotnya langsung dengan mulut untuk mengeluarkan racunnya. Memang aku lancang........ kurang ajar, tapi..... kau maafkanlah aku, aku terpaksa"
"Tidak Apa, bukan itu. Yang kumaksud, kenapa kau menolongku dan rela melakukan hal semacam itu? Kenapa?"

Joko Wandiro bingung.
"Kenapa aku menolongmu? Ah, Ayu, aku harus menolongmu, biar apapun akibatnya. Andaikata aku akan kehilangan nyawa untuk menolongmu, aku rela."
Kembali Ayu Candra mengangkat muka memandang, kini amat tajam pandangannya, penuh selidik.
"Kenapa begitu? Mengapa kau rela berkorban nyawa untukku? Kita baru saja bertemu, kita bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang. Kenapa kau rela berkorban nyawa untukku?"
Joko Wandiro merasa terpojok. Iapun memeras otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, yang mengaduk hatinya. Memang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang pendekar untuk menolong sesamanya. Hal ini sudah ia janjikan kepada gurunya. Akan tetapi, mengapa terhadap gadis ini landasan itu berubah? Tidak sekedar sebagai kewajiban lagi, bahkan agaknya ia, akan rela mati berkorban nyawa untuk gadis ini. Mengapa?
"Karena....... karena aku tidak ingin melihat kau mati, Ayu. Dan karena bagiku kau bukanlah seorang yang baru saja kukenal. Bagiku, kau seakan-akan sudah selama hidupku kukenal baik, bahkan lebih dari itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa begini, Ayu. Semenjak pertemuan kita tadi, aku tidak dapat menguasai hatiku sehingga aku melakukan hal-hal yang tidak patut. Sudah mengintaimu, mengikutimu secara diam-diam sampai-sampai menimbulkan kemarahanmu. Aku sendiri tidak mengerti, Ayu. Selama hidupku baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti ini. Agaknya..... kalau menurut dongeng....... dalam kelahiran dahulu, agaknya kita sudah saling mengenal, tidak asing lagi. Aku malah ingin bertanya kepadamu mengaku kau berhal seperti ini, Ayu Candra."
Dara itu menundukkan mukanya, menyembunyikan senyum! Senyum yang mekar dari hati penuh kebungahan. Ia sendiripun tidak mengerti mengapa hatinya menjadi begini bungah mendengar ucapan pemuda itu. Sedangkan perasaannya sendiri yang aneh ia tidak dapat mengerti artinya, apalagi keadaan pemuda itu. Ia hanya tahu bahwa ia senang sekali dekat dengan pemuda ini, dan bahwa tadi, biarpun ia merasa amat malu dan marah, namun di balik itu ia merasakan kebahagiaan yang amat aneh dalam hatinya.
"Joko"
Ia sendiri kaget mengapa mulutnya memanggil nama ini. Ia tidak bermaksud memanggil, akan tetapi sebutan dalam hatinya ini menyundul sampai ke mulutnya.
"Ya........ ? Ada Apa, Ayu?"
"Ahh… tidak ada Apa-Apa, Joko. Eh, maksudku, kau baik sekali dan aku berterima kasih atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan nyawaku, Joko."

Girang bukan main hati Joko Wandiro. Dara ini ternyata benar seorang yang amat baik hatinya, tidak seperti yang kadang kadang ingin diperlihatkannya. Saking girang hatinya, ia memegang gadis itu, memegang kedua tangannya.
"Bukan aku yang baik, Ayu, melainkan engkau. Aku hanya membalas, ingat? Kaulah yang pertama-tama nekat berusaha menyelamatkan nyawaku dari dalam air. Kaulah seorang yang berhati mulia, Ayu."
"Ahh, kau hanya pura-pura tenggelam."
"Betapapun juga, kau mengira aku benar-benar akan mati tenggelam dan kau telah terjun menolongku. Apa bedanya? Aku yang berterima kasih kepadamu."
Sejenak kedua orang remaja itu berdiri dan saling berpegang tangan. Jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Hati mereka berdebar aneh penuh kebahagiaan. Mereka sendiri tidak tahu mengapa begitu, tidak tahu Apa artinya perasaan yang menerbangkan semangat mereka ke angkasa ini. Namun jari-jari tangan mereka, digerakkan oleh perasaan halus, lebih tahu. Jari-jari tangan mereka membelai mesra, saling mencurahkan rasa kasih asmara.
Akan tetapi hanya sebentar. Kewanitaannya membuat Ayu Candra melepaskan kedua tangannya karena jengah. Mukanya merah sekali, matanya bersinar-sinar, akan tetapi pandang matanya tidak berani langsung menatap wajah Joko Wandiro. Untuk menenangkan dada yang berdebar-debar ia mengalihkan perhatian.
"Joko, siapakah wanita tadi?"
"Entahlah, aku tidak tahu, sungguhpun serasa pernah aku melihatnya, akan tetapi entah di mana."
"Dia cantik sekali."
"Hemmm, agaknya dia berkepandaian hebat, melihat cara ia melayang turun dari pohon. Cara dia melepaskan anak panah tanpa busur, benar-benar membutuhkan tenaga yang hebat. Akan tetapi ia kejam."
"Dia cantik sekali," Ayu Candra mengulang.
"Memang cantik dia."
"Lebih cantik daripada aku."
"Lebih cantik daripada engkau? memang, pakaiannya lebih cantik, lebih mewah, akan tetapi orangnya.......hemmm, tiada bidadari kahyangan, apalagi manusia biasa, yang menandingi kecantikanmu, Ayu."
Makin merah wajah dara itu, sampai ke leher dan daun telinganya. Akan tetapi giginya berkilat putih di balik bibirnya.
"Bisa saja kau memuji."
"Bukan memuji, melainkan bicara sebenarnya. Dia memang cantik dan kepandaiannya hebat. Hal itu tidak ada artinya. Yang mengkhawatirkan, ia amat kejam dan entah mengapa dia memusuhi kita."
"Karena harimau."
"Bukan, Ayu. Tidak mungkin kalau hanya karena harimau tadi ia melepas anak panah untuk membunuh kita. Aku khawatir sekali kalau-kalau ia akan datang kembali ke sini dan mengganggumu. Kau katakan tadi bahwa ayah bundamu sedang bepergian, bukan?"
"Kalau begitu engkau jangan pergi dulu, Joko. Kautemani aku sampai ayah bundaku pulang."
Di balik kata-kata ini ada harapan di hati Ayu Candra agar pemuda ini berkenalan dengan ayah bundanya!. Joko Wandiro mengangguk-angguk.
"Baiklah, Ayu. Akan tetapi karena engkau hanya seorang diri di pondok, tidak baik kalau aku bermalam di pondokmu. Biarlah aku tinggal di luar pondokmu, menjaga kalau-kalau wanita kejam itu datang kembali."
"Apa engkau mampu melawan dia? Tidak kusangka kau seorang yang sakti, Joko. Kalau kubayangkan betapa tadi kusangka kau seorang....... " Dia menutupi mulut menahan tawa.
"....seorang gendeng dan berpenyakit ayan.......!"
"Kau bocah nakal Aku bukan orang sakti, bukan pula gendeng atau ayan, akan tetapi sedikit-sedikit aku mengerti bagaimana caranya menghadapi orang jahat."

Ketika mereka berjalan menuju ke pondok Ayu Candra, kadang-kadang tangan Joko Wandiro menggandeng tangan dara itu. Mula mula tangan dara itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian, tangan itu menjadi hangat dan mereka bergandengan tangan sambil bercakap-cakap. Ketika Ayu Candra bercerita tentang laki-laki buntung, Joko Wandiro mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu. Setelah tiba di depan pondok, dari jauh mereka melihat laki-laki buntung duduk di atas bangku depan pondok. Mereka saling melepaskan gandengan tangan.
"Ayu Candra! Kalau ayah bundamu mendengar , bahwa engkau bermain-main dengan seorang pria muda, tentu mereka akan menjadi marah sekali!"
Ayu Candra terkejut mendengar teguran ini. Dan ia merasa heran pula mengapa laki-laki buntung itu kelihatan begitu marah. Menurutkan suara hatinya, ia membentak laki-laki bunting itu, ingin mengatakan agar laki-laki itu tidak mencampuri urusannya. Akan tetapi mengingat bahwa laki-laki itu sudah tua dan buntung pula kedua kakinya, ia hanya menjawab dengan mata bersinar marah,
"Paman Jatoko, dia ini adalah seorang sahabat baruku yang telah menolongku dari maut. Namanya Joko, dan dia akan menemaniku di sini sampai ayah ibuku pulang."
Dalam ucapan yang sifatnya memberi keterangan ini terkandung tantangan dan penandasan bahwa dialah pemilik pondok dan dia pula yang berhak menentukan Apa yang akan dibuatnya. Mendadak sikap Ki Jatoko berubah. Lenyap sinar matanya yang marah, lenyap pula sikapnya yang keras dan kaku. Mulutnya kini tersenyum dan Joko Wandiro mendadak merasa kasihan. Muka yang buruk itu makin jelek kalau tersenyum, laki-laki yang malang, pikirnya.
"Ahh, lain lagi kalau begitu! Ada terjadi apakah? Aku tadipun mendengar suara harimau menggereng-gereng marah. Saking takut aku tadi masuk ke pondok bersembunyi. Apakah kalian diserang harimau?"

Ayu Candra lalu menceritakan pengalaman mereka. Tentu saja ia tidak bercerita tentang anggapannya semula bahwa Joko adalah seorang gila atau ayan. Ia menceritakan betapa mereka diserang harimau dan betapa Joko telah mengalahkan harimau itu. Ia bercerita pula tentang munculnya wanita keji yang membunuh harimau dan berusaha membunuh mereka pula, dan tentang dirinya yang terkena anak panah, sehingga hampir saja nyawanya melayang.
"Aduh kau terpanah? Ah, kulihat dadamu itu..... di situkah yang terpanah?" Ki Jatoko membelalakkan kedua matanya, kelihatan terkejut dan khawatir sekali.
"Betul, paman. Akan tetapi sekarang sudah sembuh."
Ki Jatoko memandang ke arah Joko Wandiro penuh selidik.
"Kalau wanita itu demikian jahat dan kau hendak melindungi Ayu Candra, hal itu adalah baik sekali. Biarlah aku berganti tempat, kalau malam aku tidur di bilik belakang dan kau boleh tidur di bangku ini, orang muda."
Joko Wandiro menggeleng kepalanya.
"Tidak usah, paman. Biarlah saya akan mencari tempat di luar untuk mengaso. Saya tidak mau mengganggu Ayu dan paman."
"Sesukamulah! Ayu Candra, biarkan hari ini aku yang masak. Aku sudah menanak nasi dan tadi kebetulan sekali ada seekor kelinci yang kudapati terluka dan tidak bisa lari. Mungkin terluka oleh harimau tadi. Aku akan memasaknya."
Tanpa menanti jawaban, Ki Jatoko turun dari bangku dan berjalan terbongkok-bongkok dan sukar sekali ke samping pondok, diikuti pandang mata Joko Wandiro dengan kening berkerut.
"Ayu," bisiknya, "kau berhati-hatilah terhadap dia...... "
"Apa?!” Ayu Candra juga berbisik, wajahnya terheran,
"dia seorang tapadaksa, orang yang lemah dan patut dikasihani"
"Ssttt, aku melihat sesuatu yang tak menyenangkan akan dirinya. Aku tidak percaya kepadanya. Kau berhati-hatilah, Ayu."
'Tapi" Melihat wajah Joko Wandiro yang bersungguh-sungguh, Ayu Ñàndra tidak mau membantah lagi.
"Baiklah, Joko, akan kuperhatikan pesanmu. Akan tetapi.... engkau hendak bermalam di mana?"
Pemuda itu tersenyum.
"Mudah bagiku. Kalau perlu biar di atas pohon dekat pondokmu, agar lebih mudah aku menjaga keselamatanmu."
Ayu Candra menyentuh tangan Joko Wandiro yang segera menggenggam tangan yang kecil hangat itu.
"Engkau baik sekali kepadaku, Joko."
"Aku harus baik kepadamu, Ayu. Harus, dan selamanya."
"Siapa mengharuskan?"
"Hatiku."
"lhh, bicaramu aneh sekali, tapi... tapi..... hatiku sendiripun mengharuskan aku berbaik dan tunduk kepadamu, Joko."
Kembali kedua tangan itu saling genggam ketika mereka bercakap-cakap sambil berbisik dan baru mereka saling menjauhkan diri ketika Ki Jatoko berteriak memanggil mereka, mengundang mereka untuk makan.

Sia-sia saja Ki Adibroto membujuk-bujuk isterinya agar suka membatalkan niatnya mencari Pujo untuk membalas dendam. Ia sudah berusaha sekuatnya dan melakukan perjaianan secara memutar, tidak langsung menuju ke Sungapan Kali Progo. Dengan dalih mencari sabahat baiknya, ia bahkan mengajak isterinya menyimpang ke kaki Gunung Merbabu untuk mengunjungi Ki Darmobroto, saudara seperguruannya dan sahabat baiknya yang tinggai di dusun kecil. Perjumpaan dengan kakak seperguruannya ini amat menggembirakan, apalagi ketika Ki Adibroto melihat putera tunggal sahabatnya itu. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan gagah, bersikap halus dan berkulit putih bersih.

<<< Bagian 110                                                                                      Bagian 112 >>>

No comments:

Post a Comment