Dara itu tidak menjawab, bahkan tangisnya makin menjadi, sampai mengguguk sehingga Joko Wandiro menjadi bingung sekali. Dengan gerakan halus ia menyentuh pundak dara itu dan berkata lagi,
"Ayu, aku
mengaku salah. Aku...... aku telah berlaku amat tidak sopan. Kau maafkanlah
aku, Ayu. Tadipun sebelumnya aku sudah minta maaf. Sekarang, aku minta maaf
lagi dan kalau kau mau melampiaskan kemarahanmu, kaupukullah aku, kaubunuhlah
aku."
Ayu Candra
tiba-tiba menghentikan tangisnya, mengangkat muka dari balik telapak tangan.
Mukanya masih merah padam, akan tetapi basah air mata. Hanya sebentar saja ia
berani bertentang pandang dengan Joko Wandiro karena ia segera menundukkan muka
seperti orang yang merasa malu. Bibirnya bergerak perlahan, berbisik lirih,
"Mengapa
kau lakukan itu?"
"Mengapa?
Tentu saja untuk menolongmu, Ayu. Kaupun maklum bahwa anak panah itu mengandung
bisa yang amat jahat. Karena tidak mungkin mendapatkan obat yang bisa cepat
menyedot racun, jalan satu-satunya terpaksa harus menyedotnya langsung dengan
mulut untuk mengeluarkan racunnya. Memang aku lancang........ kurang ajar,
tapi..... kau maafkanlah aku, aku terpaksa"
"Tidak
Apa, bukan itu. Yang kumaksud, kenapa kau menolongku dan rela melakukan hal
semacam itu? Kenapa?"
Joko Wandiro
bingung.
"Kenapa
aku menolongmu? Ah, Ayu, aku harus menolongmu, biar apapun akibatnya. Andaikata
aku akan kehilangan nyawa untuk menolongmu, aku rela."
Kembali Ayu
Candra mengangkat muka memandang, kini amat tajam pandangannya, penuh selidik.
"Kenapa
begitu? Mengapa kau rela berkorban nyawa untukku? Kita baru saja bertemu, kita
bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang. Kenapa kau rela berkorban nyawa
untukku?"
Joko Wandiro
merasa terpojok. Iapun memeras otaknya untuk mencari jawaban dari pertanyaan
yang sama, yang mengaduk hatinya. Memang sudah menjadi kewajibannya sebagai
seorang pendekar untuk menolong sesamanya. Hal ini sudah ia janjikan kepada
gurunya. Akan tetapi, mengapa terhadap gadis ini landasan itu berubah? Tidak
sekedar sebagai kewajiban lagi, bahkan agaknya ia, akan rela mati berkorban
nyawa untuk gadis ini. Mengapa?
"Karena.......
karena aku tidak ingin melihat kau mati, Ayu. Dan karena bagiku kau bukanlah
seorang yang baru saja kukenal. Bagiku, kau seakan-akan sudah selama hidupku
kukenal baik, bahkan lebih dari itu. Aku sendiri tidak mengerti mengapa begini,
Ayu. Semenjak pertemuan kita tadi, aku tidak dapat menguasai hatiku sehingga
aku melakukan hal-hal yang tidak patut. Sudah mengintaimu, mengikutimu secara
diam-diam sampai-sampai menimbulkan kemarahanmu. Aku sendiri tidak mengerti,
Ayu. Selama hidupku baru kali ini aku mengalami hal aneh seperti ini.
Agaknya..... kalau menurut dongeng....... dalam kelahiran dahulu, agaknya kita
sudah saling mengenal, tidak asing lagi. Aku malah ingin bertanya kepadamu
mengaku kau berhal seperti ini, Ayu Candra."
Dara itu
menundukkan mukanya, menyembunyikan senyum! Senyum yang mekar dari hati penuh
kebungahan. Ia sendiripun tidak mengerti mengapa hatinya menjadi begini bungah
mendengar ucapan pemuda itu. Sedangkan perasaannya sendiri yang aneh ia tidak
dapat mengerti artinya, apalagi keadaan pemuda itu. Ia hanya tahu bahwa ia
senang sekali dekat dengan pemuda ini, dan bahwa tadi, biarpun ia merasa amat
malu dan marah, namun di balik itu ia merasakan kebahagiaan yang amat aneh
dalam hatinya.
"Joko"
Ia sendiri
kaget mengapa mulutnya memanggil nama ini. Ia tidak bermaksud memanggil, akan
tetapi sebutan dalam hatinya ini menyundul sampai ke mulutnya.
"Ya........
? Ada Apa, Ayu?"
"Ahh…
tidak ada Apa-Apa, Joko. Eh, maksudku, kau baik sekali dan aku berterima kasih
atas pertolonganmu tadi. Kau telah menyelamatkan nyawaku, Joko."
Girang bukan
main hati Joko Wandiro. Dara ini ternyata benar seorang yang amat baik hatinya,
tidak seperti yang kadang kadang ingin diperlihatkannya. Saking girang hatinya,
ia memegang gadis itu, memegang kedua tangannya.
"Bukan
aku yang baik, Ayu, melainkan engkau. Aku hanya membalas, ingat? Kaulah yang
pertama-tama nekat berusaha menyelamatkan nyawaku dari dalam air. Kaulah seorang
yang berhati mulia, Ayu."
"Ahh, kau
hanya pura-pura tenggelam."
"Betapapun
juga, kau mengira aku benar-benar akan mati tenggelam dan kau telah terjun
menolongku. Apa bedanya? Aku yang berterima kasih kepadamu."
Sejenak kedua
orang remaja itu berdiri dan saling berpegang tangan. Jari-jari tangan mereka
saling menggenggam. Hati mereka berdebar aneh penuh kebahagiaan. Mereka sendiri
tidak tahu mengapa begitu, tidak tahu Apa artinya perasaan yang menerbangkan
semangat mereka ke angkasa ini. Namun jari-jari tangan mereka, digerakkan oleh
perasaan halus, lebih tahu. Jari-jari tangan mereka membelai mesra, saling
mencurahkan rasa kasih asmara.
Akan tetapi
hanya sebentar. Kewanitaannya membuat Ayu Candra melepaskan kedua tangannya
karena jengah. Mukanya merah sekali, matanya bersinar-sinar, akan tetapi
pandang matanya tidak berani langsung menatap wajah Joko Wandiro. Untuk
menenangkan dada yang berdebar-debar ia mengalihkan perhatian.
"Joko,
siapakah wanita tadi?"
"Entahlah,
aku tidak tahu, sungguhpun serasa pernah aku melihatnya, akan tetapi entah di
mana."
"Dia
cantik sekali."
"Hemmm,
agaknya dia berkepandaian hebat, melihat cara ia melayang turun dari pohon.
Cara dia melepaskan anak panah tanpa busur, benar-benar membutuhkan tenaga yang
hebat. Akan tetapi ia kejam."
"Dia
cantik sekali," Ayu Candra mengulang.
"Memang
cantik dia."
"Lebih
cantik daripada aku."
"Lebih
cantik daripada engkau? memang, pakaiannya lebih cantik, lebih mewah, akan
tetapi orangnya.......hemmm, tiada bidadari kahyangan, apalagi manusia biasa,
yang menandingi kecantikanmu, Ayu."
Makin merah
wajah dara itu, sampai ke leher dan daun telinganya. Akan tetapi giginya
berkilat putih di balik bibirnya.
"Bisa
saja kau memuji."
"Bukan
memuji, melainkan bicara sebenarnya. Dia memang cantik dan kepandaiannya hebat.
Hal itu tidak ada artinya. Yang mengkhawatirkan, ia amat kejam dan entah
mengapa dia memusuhi kita."
"Karena
harimau."
"Bukan,
Ayu. Tidak mungkin kalau hanya karena harimau tadi ia melepas anak panah untuk
membunuh kita. Aku khawatir sekali kalau-kalau ia akan datang kembali ke sini
dan mengganggumu. Kau katakan tadi bahwa ayah bundamu sedang bepergian,
bukan?"
"Kalau
begitu engkau jangan pergi dulu, Joko. Kautemani aku sampai ayah bundaku
pulang."
Di balik
kata-kata ini ada harapan di hati Ayu Candra agar pemuda ini berkenalan dengan
ayah bundanya!. Joko Wandiro mengangguk-angguk.
"Baiklah,
Ayu. Akan tetapi karena engkau hanya seorang diri di pondok, tidak baik kalau
aku bermalam di pondokmu. Biarlah aku tinggal di luar pondokmu, menjaga kalau-kalau
wanita kejam itu datang kembali."
"Apa
engkau mampu melawan dia? Tidak kusangka kau seorang yang sakti, Joko. Kalau
kubayangkan betapa tadi kusangka kau seorang....... " Dia menutupi mulut
menahan tawa.
"....seorang
gendeng dan berpenyakit ayan.......!"
"Kau
bocah nakal Aku bukan orang sakti, bukan pula gendeng atau ayan, akan tetapi
sedikit-sedikit aku mengerti bagaimana caranya menghadapi orang jahat."
Ketika mereka
berjalan menuju ke pondok Ayu Candra, kadang-kadang tangan Joko Wandiro menggandeng
tangan dara itu. Mula mula tangan dara itu gemetar, akan tetapi tak lama
kemudian, tangan itu menjadi hangat dan mereka bergandengan tangan sambil
bercakap-cakap. Ketika Ayu Candra bercerita tentang laki-laki buntung, Joko
Wandiro mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu. Setelah
tiba di depan pondok, dari jauh mereka melihat laki-laki buntung duduk di atas
bangku depan pondok. Mereka saling melepaskan gandengan tangan.
"Ayu
Candra! Kalau ayah bundamu mendengar , bahwa engkau bermain-main dengan seorang
pria muda, tentu mereka akan menjadi marah sekali!"
Ayu Candra
terkejut mendengar teguran ini. Dan ia merasa heran pula mengapa laki-laki
buntung itu kelihatan begitu marah. Menurutkan suara hatinya, ia membentak
laki-laki bunting itu, ingin mengatakan agar laki-laki itu tidak mencampuri
urusannya. Akan tetapi mengingat bahwa laki-laki itu sudah tua dan buntung pula
kedua kakinya, ia hanya menjawab dengan mata bersinar marah,
"Paman
Jatoko, dia ini adalah seorang sahabat baruku yang telah menolongku dari maut.
Namanya Joko, dan dia akan menemaniku di sini sampai ayah ibuku pulang."
Dalam ucapan
yang sifatnya memberi keterangan ini terkandung tantangan dan penandasan bahwa
dialah pemilik pondok dan dia pula yang berhak menentukan Apa yang akan
dibuatnya. Mendadak sikap Ki Jatoko berubah. Lenyap sinar matanya yang marah,
lenyap pula sikapnya yang keras dan kaku. Mulutnya kini tersenyum dan Joko
Wandiro mendadak merasa kasihan. Muka yang buruk itu makin jelek kalau
tersenyum, laki-laki yang malang, pikirnya.
"Ahh,
lain lagi kalau begitu! Ada terjadi apakah? Aku tadipun mendengar suara harimau
menggereng-gereng marah. Saking takut aku tadi masuk ke pondok bersembunyi.
Apakah kalian diserang harimau?"
Ayu Candra
lalu menceritakan pengalaman mereka. Tentu saja ia tidak bercerita tentang
anggapannya semula bahwa Joko adalah seorang gila atau ayan. Ia menceritakan
betapa mereka diserang harimau dan betapa Joko telah mengalahkan harimau itu.
Ia bercerita pula tentang munculnya wanita keji yang membunuh harimau dan
berusaha membunuh mereka pula, dan tentang dirinya yang terkena anak panah,
sehingga hampir saja nyawanya melayang.
"Aduh kau
terpanah? Ah, kulihat dadamu itu..... di situkah yang terpanah?" Ki Jatoko
membelalakkan kedua matanya, kelihatan terkejut dan khawatir sekali.
"Betul,
paman. Akan tetapi sekarang sudah sembuh."
Ki Jatoko
memandang ke arah Joko Wandiro penuh selidik.
"Kalau
wanita itu demikian jahat dan kau hendak melindungi Ayu Candra, hal itu adalah
baik sekali. Biarlah aku berganti tempat, kalau malam aku tidur di bilik
belakang dan kau boleh tidur di bangku ini, orang muda."
Joko Wandiro
menggeleng kepalanya.
"Tidak
usah, paman. Biarlah saya akan mencari tempat di luar untuk mengaso. Saya tidak
mau mengganggu Ayu dan paman."
"Sesukamulah!
Ayu Candra, biarkan hari ini aku yang masak. Aku sudah menanak nasi dan tadi
kebetulan sekali ada seekor kelinci yang kudapati terluka dan tidak bisa lari.
Mungkin terluka oleh harimau tadi. Aku akan memasaknya."
Tanpa menanti
jawaban, Ki Jatoko turun dari bangku dan berjalan terbongkok-bongkok dan sukar
sekali ke samping pondok, diikuti pandang mata Joko Wandiro dengan kening
berkerut.
"Ayu,"
bisiknya, "kau berhati-hatilah terhadap dia...... "
"Apa?!”
Ayu Candra juga berbisik, wajahnya terheran,
"dia
seorang tapadaksa, orang yang lemah dan patut dikasihani"
"Ssttt,
aku melihat sesuatu yang tak menyenangkan akan dirinya. Aku tidak percaya
kepadanya. Kau berhati-hatilah, Ayu."
'Tapi"
Melihat wajah Joko Wandiro yang bersungguh-sungguh, Ayu Ñàndra tidak mau
membantah lagi.
"Baiklah,
Joko, akan kuperhatikan pesanmu. Akan tetapi.... engkau hendak bermalam di
mana?"
Pemuda itu
tersenyum.
"Mudah
bagiku. Kalau perlu biar di atas pohon dekat pondokmu, agar lebih mudah aku
menjaga keselamatanmu."
Ayu Candra menyentuh
tangan Joko Wandiro yang segera menggenggam tangan yang kecil hangat itu.
"Engkau
baik sekali kepadaku, Joko."
"Aku
harus baik kepadamu, Ayu. Harus, dan selamanya."
"Siapa
mengharuskan?"
"Hatiku."
"lhh,
bicaramu aneh sekali, tapi... tapi..... hatiku sendiripun mengharuskan aku
berbaik dan tunduk kepadamu, Joko."
Kembali kedua
tangan itu saling genggam ketika mereka bercakap-cakap sambil berbisik dan baru
mereka saling menjauhkan diri ketika Ki Jatoko berteriak memanggil mereka,
mengundang mereka untuk makan.
Sia-sia saja
Ki Adibroto membujuk-bujuk isterinya agar suka membatalkan niatnya mencari Pujo
untuk membalas dendam. Ia sudah berusaha sekuatnya dan melakukan perjaianan
secara memutar, tidak langsung menuju ke Sungapan Kali Progo. Dengan dalih mencari
sabahat baiknya, ia bahkan mengajak isterinya menyimpang ke kaki Gunung Merbabu
untuk mengunjungi Ki Darmobroto, saudara seperguruannya dan sahabat baiknya
yang tinggai di dusun kecil. Perjumpaan dengan kakak seperguruannya ini amat
menggembirakan, apalagi ketika Ki Adibroto melihat putera tunggal sahabatnya
itu. Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang tampan dan gagah, bersikap
halus dan berkulit putih bersih.
No comments:
Post a Comment