Karena kulitnya yang putih sejak lahir itulah maka oleh ayahnya diberi nama Joko Seta. Sebagai seorang putera tunggal yang telah kehilangan ibunya semenjak kecii, Joko Seta mewarisi ilmu kepandaian ayahnya dan biarpun masih muda, ia merupakan seorang yang sakti mandraguna. Melihat pemuda ini, timbullah rasa suka dalam hati Ki Adibroto dan dengan persetujuan isterinya pula, ia lalu mengajukan usul kepada Ki Darmobroto untuk berbesanan. Ki Darmobroto menerima usul ini dengan penuh kegembiraan. Biarpun ia menjadi saudara seperguruan yang lebih tua, namun ia sudah cukup tahu akan sepak terjang adik seperguruannya yang mengagumkan, sudah mengenal watak adik seperguruannya ini sebagai seorang pendekar besar yang sakti. Kacang tidak akan meninggalkan lanjarannya, demikian ia berpendapat. Ayahnya seorang pendekar, puterinyapun tentu seorang yang berbudi. Adapun Joko Seta adalah seorang putera yang amat berbakti dan patuh kepada ayahnya. Di lubuk hatinya memang ia kurang puas menerima keputusan itu, menjodohkan dengan seorang dara yang sama sekali belum pernah ia melihatnya. Akan tetapi maklum bahwa penolakannya akan menyusahkan hati ayahnya, maka ia menerima dengan wajah gembira untuk menyenangkan hati ayahnya. Demikianlah, ikatan perjodohan itu diresmikan oleh kedua orang tua.
Penyimpangan
perjalanan ini tidak membuat Listyokumolo berubah niat hatinya. Setelah
meninggalkan rumah calon besan itu, ia lalu mengajak suaminya melanjutkan
perjalanan ke tempat tujuan, yaitu ke Bayuwismo, bekas tempat tinggal Resi
Bhargowo yang diduga menjadi tempat tinggal Pujo dan isterinya sekarang. Sambil
menghela napas Ki Adibroto terpaksa meluluskan kehendak isterinya dengari hati
penuh kekhawatiran. Dalam percakapannya dengan Ki Darmobroto, ia telah
menyinggung tentang Pujo yang dicari-cari isterinya itu dan Apa kata calon
besan itu tentang diri Pujo?
"Aku
mengenal baik paman Resi Bhargowo dan aku pernah bertemu satu kali dengan
adimas Pujo, murid dan mantunya yang gagah perkasa, pendekar yang menjunjung
kebenaran dan keadilan."
Jawaban Ki
Darmobroto itu menambah kedukaan hati Ki Adibroto. Tepat seperti yang telah
diduganya dan ditakutinya. Pujo adalah seorang satria yang perkasa dan tentang
permusuhan itu, tak salah lagi tentulah bekas suami isterinya, Wisangjiwo, yang
memulainya. Betapapun juga, ia merasa tidak setuju dengan sepak terjang Pujo
dalam membalas dendam. Kalau Wisangjiwo yang bersalah terhadap pendekar itu,
kenapa Pujo membalasnya kepada Listyokumolo dan puteranya yang sama sekali tidak
berdosa? Dengan modal pendapat inilah maka ia mengikuti isterinya menuju ke
Bayuwismo. Ia hanya akan melihat dan mendengar dan siap membela isterinya
daripada marabahaya dan mencegah isterinya melakukan sesuatu yang melanggar
kebenaran. Menjelang senja mereka tiba di Sungapan. Dan kebetulan sekali mereka
berdua melihat Pujo berdiri seorang diri di pinggir hutan kering di dekat
pantai, di lembah sungai yang menumpahkan airnya ke laut. Begitu melihat
laki-laki itu, Listyokumolo segera mengenalnya. Wajahnya menjadi merah, sinar
matanya berapi dan ia mendesis.
"Itulah
dia, si keparat Pujo!" Hampir ia berlari menuju ke tempat musuh besarnya
berdiri. Namun suaminya sudah memegang lengannya dan berbisik,
"Kau
bersikaplah tenang, isteriku. Jangan dibikin mabuk oleh nafsu dendam. Kau boleh
menemuinya dan bertanyalah secara baik-baik, tegurlah ia akan perbuatannya yang
lalu dan tanyakan di mana adanya puteramu. Jangan bertindak terburu nafsu, dan
apabila puteramu dalam keadaan baik, kurasa tidak perlu kau melanjutkan permusuhan
ini. Aku akan tinggal di sini dan mengamat-amati dari sini, karena aku merasa
tidak enak kalau mencampuri urusan ini."
Listyokumolo
mengangguk kemudian meninggalkan suaminya yang bersembunyi di balik gerombolan
pandan itu. Dengan hati berdebar dan tangan menggigil saking menahan gelora
hatinya, wanita itu berlari cepat menghampiri Pujo yang tengah berdiri melamun
seorang diri. Pondok kecil di pinggir laut tampak puluhan meter dari tempat itu
dan keadaan sekeliling tempat itu sunyi. Pria itu memang Pujo adanya. Beberapa
tahun sudah ia tinggal di Bayuwismo, hidup penuh kebahagiaan dengan kedua orang
isterinya, yaitu Kartikosari dan Roro Luhito. Dua orang wanita ini seakan
berlumba dalam pencurahan cinta kasih yang mendalam terhadap dirinya sehingga Pujo
merupakan seorang pria yang amat bahagia dalam hal ini. Akan tetapi,
kadang-kadang ia suka termenung kalau berada sendirian, teringat akan puterinya
yang tak pernah dilihatnya, yaitu Endang Patibroto. Kalau teringat akan hal
ini, penyesalan memenuhi hatinya, menghambarkan semua kebahagiaan hidupnya. Ia
merasa amat rindu kepada puterinya, anak tunggal yang tidak pernah ia lihat
itu. Memang ada hal yang mengurangi kedukaan dan penyesalan ini yaitu bahwa
kini kedua orang isterinya sedang mengandung! Sekaligus ia akan mendapatkan
pengganti puterinya yang hilang sebanyak dua orang anak. Akan tetapi, betapapun
juga, ia masih sangat ingin bertemu dengan puterinya yang hilang. Apalagi kalau
ia ingat betapa Kartikosari sering kali menangis sedih apabila teringat akan
Endang Patibroto. Teringat akan ini, hati Pujo merasa perih dan membuat ia
teringat akan semua sepak terjangnya yang lalu. Kalau sudah begitu, timbullah
penyesalan besar di dalam hatinya. Teringatlah ia akan Wisangjiwo yang
disangkanya menjadi musuh besarnya. Teringatlah ia betapa nafsu dendam membuat
ia seperti gila, membuat ia mengamuk di Kadipaten Selopenangkep, membunuhi
orang tak berdosa, bahkan telah menculik isteri Wisangjiwo dan puteranya.
Teringat akan keadaan isteri Wisangjiwo yang menjadi gila karena perbuatannya
itu sehingga wanita yang malang nasibnya itu dipulangkan ke desanya, kemudian
bahkan dibawa lari perampok. Semua ini gara-gara perbuatannya yang didorong
nafsu dendam yang menggila.
"Ah,
agaknya hilangnya puteriku merupakan hukuman bagi perbuatanku itu. Beginilah
rasanya kehilangan anak, dan aku telah merenggut Joko Wandiro dari tangan dan
hati ayah bundanya! Hukum karma, tepat seperti yang dikatakan bapa Resi
Bhargowo. Semoga Dewata sudi mengampuni dosaku dan anakku dalam keadaan aman
sentausa "
Demikianlah
pada senja hari itu ia melamun dan menyesali perbuatannya. Tiba-tiba Pujo
meloncat dan memutar tubuhnya membalik. Biarpun gerakan di sebelah belakangnya
itu perlahan sekali, namun sebagai seorang sakti ia telah dapat mendengarnya.
Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik telah
berdiri di situ, menentangnya dengan pandang mata penuh kebencian dan kemarahan
serta memegang sebatang keris yang mengeluar kan sinar, sebuah keris pusaka!
Akan tetapi, pendekar sakti ini segera dapat menenangkan hatinya dan dengan
sabar dan tenang ia bertanya,
"Siapakah
andika dan apakah kehen..."
"Pujo!
Sudah butakah matamu sehingga kau tidak mengenal aku? Ataukah engkau pura-pura
tidak mengenal? Lupakah kau akan peristiwa di Guha Siluman delapan belas tahun
yang lalu?"
Wanita itu
membentak dan memotong pertanyaannya. Kini Pujo benar-benar kaget sekali. Ia
mengenal suara ini, mengenal pula sekarang wajah ini dan ia benar-benar
terkejut bukan main. Kedua matanya terbelalak dan ia berdiri bagaikah arca,
bibirnya bergerak,
"Andika...........
Listyokumolo....??" Ia masih belum percaya akan dugaan ini dan memandang
dengan penuh keheranan.
Listyokumolo
tersenyum mengejek, dan tangan yang memegang keris itu gemetar.
"Bagus,
engkau masih ingat kepadaku. Aku datang untuk menuntut balas, untuk minta
pertanggungan jawabmu atas kekejian yang kau lakukan delapan belas tahun yang
lalu! Hayo katakan di mana kau kubur anakku? Kau tentu telah membunuh Joko
Wandiro!"
Seketika lemas
kedua lutut Pujo ketika mendapatkan kenyataan bahwa wanita ini memang betul
Listyokumolo. Wanita inilah yang selama ini ia bayangkan, menjadi pengganggu
kebahagiaan hidupnya karena ia merasa berdosa kepada wanita ini. Sekarang
wanita ini datang. Dia ibu Joko Wandiro, muridnya! Melihat sinar mata penuh
kebencian, penuh dendam dan kedukaan, tak tertahankan lagi Pujo menjatuhkan
diri berlutut. Sejenak ia merasa kepalanya pening dan ia menutupi muka dengan
kedua tangannya. Alangkah besar dosanya kepada wanita ini, wanita yang tidak
berdosa sama sekali. Ia telah merenggut semua kebahagiaan hidup wanita ini,
merampas puteranya, membuat ia menjadi gila sehingga terpisah pula dari suami.
Kehidupan wanita ini telah hancur lebur, semua karena akibat perbuatannya.
Dendamnya kepada Wisangjiwo dahulu telah membuat ia gila, membuat ia
menumpahkan dendamnya kepada wanita tak berdosa ini. Alangkah kejamnya ia.
Alangkah menyesal hatinya sekarang, apalagi kalau dia ingat bahwa dendamnya
kepada Wisangjiwo dahulu itu salah alamat! Dosanya kepada wanita ini adalah
dosa tak berampun. Ia telah merusak kehidupan Listyokumolo, merusak sehingga
tak dapat diperbaikinya kembali.
"Aku
berdosa........... , aku mengaku bersalah. Aku telah menjadi gila dan buta oleh
dendam kepada suamimu, dendam yang salah alamat pula. Engkau sudah datang,
engkau berhak menuntut balas. Aku menerima segala pembalasanmu. Akan tetapi,
percayalah, puteramu Joko Wandiro tidak kubunuh. Dia kupelihara baik-baik,
bahkan menjadi puteraku, menjadi muridku. Kini ia menjadi murid Ki Patih
Narotama"
"Bohong!
Pengecut kau! Inikah seorang satria? Berani berbuat tidak berani bertanggung
jawab, tidak berani mengaku. Aku tak percaya omonganmu! Kalau Joko Wandiro
masih hidup, tentu dia sudah mencari ibu kandungnya"
"Aku
sengaja tidak menceritakan kepadanya tentang ibu kandungnya, baru akhir-akhir
ini ia tahu dan aku mendengar kau diculik perampok dan suamimu kakangmas
Wisangjiwo telah gugur dalam perang " Suara Pujo terisak menahan getaran
perasaannya yang penuh penyesalan dan iba kepada wanita di depannya itu.
"Huh,
siapa percaya obrolanmu? Kau kemukakan ini semua karena kau takut akan
pembalasanku. Kau takut menebus dosa-dosamu, pengecut!"
Pujo bangkit
berdiri, mukanya menjadi pucat sekali.
"Tentu
kau tidak mau percaya kepadaku, orang yang telah melakukan perbuatan kejl
terhadap dirimu, terhadap puteramu. Listyokumolo, sudah kukatakan tadi, aku
bersalah dan aku menerima kesalahanku. Aku tidak akan mundur untuk menghadapi
hukumanmu, tidak akan gentar untuk menerima pembalasanmu. Nah, lakukanlah niat
yang sudah membayang di matamu, aku takkan melawan!" Pujo memasang dadanya
dengan penuh penyerahan karena ia merasa akan dosanya yang hebat terhadap
wanita ini.
"Kau
telah merusak hidupku, kau telah membunuh puteraku. Rasakan pembalasanku
ini!" Listyokumolo menggerakkan tangan kanannya menusuk. Pujo tidak mau
melawan dan sengaja memasang tubuhnya.
"Blesss........!!"
Keris pusaka
itu nancap di lambung Pujo sampai ke gagangnya! Biarpun Listyokumolo seperti
gila oleh dendam, dan belasan tahun ia digembleng suaminya dengan ilmu
kesaktian, akan tetapi ia bukanlah seorang wanita kejam dan belum pernah selama
hidupnya ia membunuh orang. Kini merasa betapa lambung itu dengan mudah
tertusuk kerisnya, tangannya menggigil dan ia meloncat mundur dengan muka pucat.
Ia menggunakan tangan menutup mulutnya yang hendak menjerit ketika ia melihat
Pujo terhuyung-huyung ke belakang sambil memegang lambung yang ditancapi keris
sanpai ke gagangnya. Pujo tersenyum. Lenyaplah sekarang perasaan sesalnya. Ia
telah menebus dosa yang selama ini menyelubungi dan menggelapkan kebahagiaan
hidupnya!
"Sudah
tertebus...........!" Ia menggumam lalu terhuyung-huyung ke belakang dan
akhirnya roboh terduduk di atas rumput.
"Aku aku
tidak bohong............. Joko Wandiro masih hidup dia di lereng Gunung
Bekel" ia masih berusaha untuk memberi keterangan.
"Kakangmas
Pujo........!!”
Mendengar
jerit melengking ini Listyokumolo terkejut dan mengangkat mukanya memandang dua
orang wanita yang datang berlari-lari secepat terbang. Matanya terbelalak ketika
ia mengenal bahwa seorang dl antara dua wanita cantlk itu bukan lain adalah
Roro Luhito, bekas adik iparnya. Dan lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia
melihat Roro Luhito menubruk Pujo yang duduk bersandar pohon, memeluknya dan
menangis. Tiba-tiba Listyokumolo meloncat ke samping, menghindarkan diri
daripada terjangan wanita ke dua yang amat hebat.
"Kau.......
, wanita Iblis....... kau berani melukai suamiku?" teriak wanita itu yang
bukan lain adalah Kartikosari.
Mendengar
bentakan ini, Roro Luhito agaknya baru sadar bahwa musuh yang melukai suaminya
masih berada di situ. Sekali tubuhnya bergerak, ia telah meloncat dan
berhadapan dengan Listyokumolo.
"Kau.........
?!? Kang-mbok Listyo "
Tentu saja
Roro Luhito terkejut bukan main setelah mengenal wanita yang masih berdiri
bingung itu. Teguran ini membuyarkan semua kebingungan hati Listyokumolo.
Matanya mengeluarkan sinar berapi ketika ia memandang bekas adik iparnya.
"Benar,
Roro. Akulah Listyokumolo. Akulah orang yang dihancurkan kebahagiaannya oleh si
keparat Pujo ini. Akulah yang diculiknya, dirampas puteraku sehingga aku
menjadi gila dan dipulangkan oleh kakakmu. Dia ini musuh besarku dan pula yang
menjerumuskan aku sampai aku terculik oleh perampok-perampok liar. Roro Luhito,
dia, si keparat ini telah menyerbu dan mengacau Selopenangkep, dia musuh besar
kita. Mengapa sekarang kulihat engkau menangisinya??"
No comments:
Post a Comment