Badai Laut Selatan ; Bagian 113


"Kau kaukah yang melukainya.... ? Kang-mbok........... dia...... dia ini adalah suamiku........ "
"Suamimu?!? Keparat...........!"
"Wuuuttt!" Listyokumolo kini sudah dapat menguasai dirinya sehingga ia menjadi marah sekali mendengar pengakuan ini.

Serta-merta ia melakukan serangan hebat dengan melancarkan pukulan maut ke arah dada bekas adik iparnya. Roro Luhito kaget sekali, kaget dan heran sambil mengelak cepat. Tidak disangkanya bahwa kini bekas kakak iparnya dapat melakukan penyerangan begini hebat, padahal dahulu Listyokumolo adalah seorang wanita yang halus dan lemah. Melihat betapa penyerangannya gagal, Listyokumolo menerjang lagi, Roro Luhito kembali mengelak. Betapapun sakit hatinya melihat suaminya dilukai, namun di dalam hatinya Roro Luhito memaklumi sakit hati yang diderita bekas kakak iparnya, maka ia bersikap mengalah dan hanya mengeiak saja.
Tidak demikian dengan Kartikosari. Ketika ia memeriksa keadaan suaminya dan melihat betapa keris itu menancap sampai ke gagangnya dalam lambung suaminya, ia hampir gila oleh rasa marah dan duka. Ia maklum bahwa keadaan suaminya amat parah dan terancam bahaya maut. Hal ini membuat ia hampir gila dan dengan pekik dahsyat wanita ini lalu menerjang maju. Ketika Listyokumolo menangkis pukulan ini, ia sampai terpental ke belakang hampir terjengkang roboh.
"Wanita jahat, kau harus mampus!" bentak Kartikosari sambil mtenubruk ke depan.
"Tahan dulu........ "
Terdengar suara halus dan sebuah lengan yang amat kuat menangkis lengan Kartikosari yang cepat melompat ke samping. Diam-diam ia harus mengakui bahwa yang menangkis ini memiliki tenaga yang amat kuat. Ketika memandang, ia melihat bahwa yang menangkis adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersikap tenang, namun wajahnya diselimuti kedukaan dan penyesalan.
"Nimas Sari nimas Roro, sudahlah....... tak perlu dilanjutkan permusuhan ini aku sudah menerima salah, aku sudah menebus dosaku terhadap Joko Wandiro dan ibunya. Jangan kalian mengulangi lagi dosaku, jangan kalian mengotori lagi apa yang sudah kucuci bersih dengan darah......... " Terdengar suara Pujo berkata lemah.

Mendengar kata-kata ini, Kartikosari dan Roro Luhito teringat kembali akan suaminya. Mereka menengok dan keduanya menubruk Pujo sambil rnenangis. Mereka sibuk ingin menolong suami mereka yang tercinta ingin merenggut kembali nyawa yang sudah dalam cengkeraman maut. Akan tetapi Pujo menggeleng kepala.
"Tiada guna aku sudah merasa takkan hidup lagi nimas Sari, ketahuilah...... dia itu”. telunjuknya menuding ke arah Listyokumolo yang berdiri pucat di samping suaminya, “dia itu isteri Wisangjiwo.................. dialah ibu kandung Joko Wandiro. Dia dahulu yang kuculik, kurampas puteranya dalam kegilaanku hendak membalas W isangjiwo, dalam dendam kita yang salah alamat kini ia datang membalas sudah sepatutnya, aku sengaja membiarkan dia menanamkan kerisnya sudah kuhancurkan hidupnya........ biarlah dia yang merenggut nyawaku....... "
"Tidak........! Tidak boleh! Ahh........ kakangmas tidak mungkin aku mendiamkannya saja tanpa membalas!"
Bagaikan seekor singa betina Kartikosari meloncat lagi dan rnenerjang Listyokumolo.
"Harap andika sudi bersabar!" Ki Adibroto kembali menangkis pukulan Kartikosari yang ditujukan kepada isterinya.
"Dukkk!" Tubuh Kartikosari terpental ke belakang, namun karena pendekar itu menggunakan tenaga lemas, ia tidak merasa nyeri.
"Siapa engkau?!?" Kartikosari membentak, tangan kanan meraba gagang keris pusakanya, yaitu keris pusaka ki Banuwilis milik suaminya. Ki Adibroto membungkuk dengan sikap hormat.
"Saya bernama Adibroto, sekarang menjadi suami Listyokumolo..... "
"Kau hendak membela isterimu? Boleh!!" Kartikosari membentak.
"Harap bersabar." Ki Adibroto menarik napas panjang penuh sesal dan duka.
"Sudah bertahun-tahun isteri saya merajuk dan membujuk untuk mencari puteranya dan mencari musuh besarnya, saudara Pujo. Sudah sebanyak itu pula saya mencegah dan berusaha menghapus dendam, namun sia-sia. Akhirnya kami datang dan tadi saya melihat sendiri betapa saudara Pujo sengaja menyerahkan diri untuk dibalas. Saya menyesal dan berduka sekali. Saudara Pujo ternyata seorang satria utama dan seorang yang suka mengenal diri pribadi, suka mengakui kesalahan sendiri. Alangkah bahagianya seorang yang dapat mengakui kesalahan sendiri kemudian menikmati hukuman yang akan membebaskannya dari rasa salah diri. Saudara Pujo dahulu melakukan pembalasan dendam secara membuta, tidak kepada orang yang telah menyakitkan hatinya, melainkan kepada keluarga orang itu. Dan sekarang saya amat prihatin, tidak ingin melihat isteri saya melakukan kekeliruan yang sama. Urusannya dengan saudara Pujo sudah beres dan terhadap andika berdua, isteri saya tidak punya urusan sesuatu yang patut dipersoalkan lagi. Harap andika berdua suka berpikir mendalam akan hal ini dan menghentikan dendam-mendendam ini."
"Enak saja kau bicara! Suamiku telah dibunuh isterimu dan aku disuruh menerima begitu saja? laki-laki bedebah! Kalau aku tidak dapat membunuh Listyokumolo, tidak patut aku menjadi puteri Resi Bhargowo dan namaku bukan Kartikosari lagi!"

Setelah berkata demikian, Kartikosari yang seperti orang gila oleh kedukaan dan kemarahan itu menerjang maju sambil menghunus keris pusaka Banuwilis. Wajah Adibroto menjadi pucat dan ia sedih bukan main, akan tetapi tak mungkin ia menyaksikan isterinya yang terkasih itu dibunuh orang begitu saja di depannya. Ia cepat menarik lengan isterinya dan mendorong tubuh isterinya ke arah belakangnya sehingga dialah yang menghadapi Kartikosari.
"Kau benar-benar hendak membela isterimu?" Kartikosari membentak.
Ki Adibroto hanya menggeleng kepalanya, tidak mampu menjawab dan memandang sedih.
"Nimas Sari!" Terdengar suara Pujo memanggil.
Akan tetapi Kartikosari seperti tidak mendengar panggilan ini karena ia sudah menerjang maju, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Adibroto. Pendekar ini dapat melihat betapa dahsyatnya terjangan lawan, maklum bahwa wanita di depannya ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Cepat-cepat ia menggeser kaki dan mengelak ke kiri. Pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat, sukar diikuti pandangan mata saking cepatnya. Bayangan putih ini berkelebat di antara Kartikosari dan Ki Adibroto dan tubuh Ki Adibroto terjengkang ke belakang sampai terhuyung-huyung dan hampir roboh. Bukan main kagetnya pendekar itu. Bayangan tadi hanya mendorongkan tangan, namun serangkum tenaga dahsyat sekali telah mendorongnya, tak dapat dipertahankan lagi tubuhnya terdorong seperti daun kering terbawa angin. Ketika ia membuka mata memandang, keheranannya makin menghebat karena kiranya bayangan putih itu hanyalah dara yang masih amat muda, seorang dara remaja sebaya puterinya.
Dara remaja yang cantik jelita, berpakaian serba mewah, dengan hiasan rambut dari emas permata, gelang tangan dan lengan, kalung, pendeknya pakaian seorang puteri keraton!. Dara remaja itu tidak memperdulikannya lagi. Kini dara itu memutar tubuh menghadapi Kartikosari yang juga berdiri tercengang. Sejenak kedua orang wanita itu berdiri berhadapan dan saling pandang. Dan dalam keadaan seperti itu, Ki Adibroto merasa bulu tengkuknya meremang. Jelas sekali tampak persamaan di antara kedua orang wanita itu. Bentuk mukanya sama benar, seperti pinang dibelah dua, hanya bedanya, yang seorang setengah tua, yang seorang lagi masih muda belia.
"Bunda.....!!!"

<<< Bagian 112                                                                                      Bagian 114 >>>

No comments:

Post a Comment