"Kau kaukah yang melukainya.... ? Kang-mbok........... dia...... dia ini adalah suamiku........ "
"Suamimu?!?
Keparat...........!"
"Wuuuttt!"
Listyokumolo kini sudah dapat menguasai dirinya sehingga ia menjadi marah
sekali mendengar pengakuan ini.
Serta-merta ia
melakukan serangan hebat dengan melancarkan pukulan maut ke arah dada bekas
adik iparnya. Roro Luhito kaget sekali, kaget dan heran sambil mengelak cepat.
Tidak disangkanya bahwa kini bekas kakak iparnya dapat melakukan penyerangan
begini hebat, padahal dahulu Listyokumolo adalah seorang wanita yang halus dan
lemah. Melihat betapa penyerangannya gagal, Listyokumolo menerjang lagi, Roro
Luhito kembali mengelak. Betapapun sakit hatinya melihat suaminya dilukai, namun
di dalam hatinya Roro Luhito memaklumi sakit hati yang diderita bekas kakak
iparnya, maka ia bersikap mengalah dan hanya mengeiak saja.
Tidak demikian
dengan Kartikosari. Ketika ia memeriksa keadaan suaminya dan melihat betapa
keris itu menancap sampai ke gagangnya dalam lambung suaminya, ia hampir gila
oleh rasa marah dan duka. Ia maklum bahwa keadaan suaminya amat parah dan
terancam bahaya maut. Hal ini membuat ia hampir gila dan dengan pekik dahsyat
wanita ini lalu menerjang maju. Ketika Listyokumolo menangkis pukulan ini, ia
sampai terpental ke belakang hampir terjengkang roboh.
"Wanita
jahat, kau harus mampus!" bentak Kartikosari sambil mtenubruk ke depan.
"Tahan
dulu........ "
Terdengar
suara halus dan sebuah lengan yang amat kuat menangkis lengan Kartikosari yang
cepat melompat ke samping. Diam-diam ia harus mengakui bahwa yang menangkis ini
memiliki tenaga yang amat kuat. Ketika memandang, ia melihat bahwa yang
menangkis adalah seorang laki-laki setengah tua yang bersikap tenang, namun
wajahnya diselimuti kedukaan dan penyesalan.
"Nimas
Sari nimas Roro, sudahlah....... tak perlu dilanjutkan permusuhan ini aku sudah
menerima salah, aku sudah menebus dosaku terhadap Joko Wandiro dan ibunya.
Jangan kalian mengulangi lagi dosaku, jangan kalian mengotori lagi apa yang
sudah kucuci bersih dengan darah......... " Terdengar suara Pujo berkata
lemah.
Mendengar
kata-kata ini, Kartikosari dan Roro Luhito teringat kembali akan suaminya.
Mereka menengok dan keduanya menubruk Pujo sambil rnenangis. Mereka sibuk ingin
menolong suami mereka yang tercinta ingin merenggut kembali nyawa yang sudah
dalam cengkeraman maut. Akan tetapi Pujo menggeleng kepala.
"Tiada
guna aku sudah merasa takkan hidup lagi nimas Sari, ketahuilah...... dia itu”.
telunjuknya menuding ke arah Listyokumolo yang berdiri pucat di samping
suaminya, “dia itu isteri Wisangjiwo.................. dialah ibu kandung Joko
Wandiro. Dia dahulu yang kuculik, kurampas puteranya dalam kegilaanku hendak
membalas W isangjiwo, dalam dendam kita yang salah alamat kini ia datang
membalas sudah sepatutnya, aku sengaja membiarkan dia menanamkan kerisnya sudah
kuhancurkan hidupnya........ biarlah dia yang merenggut nyawaku....... "
"Tidak........!
Tidak boleh! Ahh........ kakangmas tidak mungkin aku mendiamkannya saja tanpa
membalas!"
Bagaikan
seekor singa betina Kartikosari meloncat lagi dan rnenerjang Listyokumolo.
"Harap
andika sudi bersabar!" Ki Adibroto kembali menangkis pukulan Kartikosari
yang ditujukan kepada isterinya.
"Dukkk!"
Tubuh Kartikosari terpental ke belakang, namun karena pendekar itu menggunakan
tenaga lemas, ia tidak merasa nyeri.
"Siapa
engkau?!?" Kartikosari membentak, tangan kanan meraba gagang keris
pusakanya, yaitu keris pusaka ki Banuwilis milik suaminya. Ki Adibroto
membungkuk dengan sikap hormat.
"Saya
bernama Adibroto, sekarang menjadi suami Listyokumolo..... "
"Kau
hendak membela isterimu? Boleh!!" Kartikosari membentak.
"Harap
bersabar." Ki Adibroto menarik napas panjang penuh sesal dan duka.
"Sudah
bertahun-tahun isteri saya merajuk dan membujuk untuk mencari puteranya dan
mencari musuh besarnya, saudara Pujo. Sudah sebanyak itu pula saya mencegah dan
berusaha menghapus dendam, namun sia-sia. Akhirnya kami datang dan tadi saya
melihat sendiri betapa saudara Pujo sengaja menyerahkan diri untuk dibalas.
Saya menyesal dan berduka sekali. Saudara Pujo ternyata seorang satria utama
dan seorang yang suka mengenal diri pribadi, suka mengakui kesalahan sendiri.
Alangkah bahagianya seorang yang dapat mengakui kesalahan sendiri kemudian
menikmati hukuman yang akan membebaskannya dari rasa salah diri. Saudara Pujo
dahulu melakukan pembalasan dendam secara membuta, tidak kepada orang yang
telah menyakitkan hatinya, melainkan kepada keluarga orang itu. Dan sekarang
saya amat prihatin, tidak ingin melihat isteri saya melakukan kekeliruan yang
sama. Urusannya dengan saudara Pujo sudah beres dan terhadap andika berdua,
isteri saya tidak punya urusan sesuatu yang patut dipersoalkan lagi. Harap
andika berdua suka berpikir mendalam akan hal ini dan menghentikan dendam-mendendam
ini."
"Enak
saja kau bicara! Suamiku telah dibunuh isterimu dan aku disuruh menerima begitu
saja? laki-laki bedebah! Kalau aku tidak dapat membunuh Listyokumolo, tidak
patut aku menjadi puteri Resi Bhargowo dan namaku bukan Kartikosari lagi!"
Setelah
berkata demikian, Kartikosari yang seperti orang gila oleh kedukaan dan
kemarahan itu menerjang maju sambil menghunus keris pusaka Banuwilis. Wajah
Adibroto menjadi pucat dan ia sedih bukan main, akan tetapi tak mungkin ia
menyaksikan isterinya yang terkasih itu dibunuh orang begitu saja di depannya.
Ia cepat menarik lengan isterinya dan mendorong tubuh isterinya ke arah
belakangnya sehingga dialah yang menghadapi Kartikosari.
"Kau
benar-benar hendak membela isterimu?" Kartikosari membentak.
Ki Adibroto
hanya menggeleng kepalanya, tidak mampu menjawab dan memandang sedih.
"Nimas
Sari!" Terdengar suara Pujo memanggil.
Akan tetapi
Kartikosari seperti tidak mendengar panggilan ini karena ia sudah menerjang
maju, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Adibroto. Pendekar ini dapat melihat
betapa dahsyatnya terjangan lawan, maklum bahwa wanita di depannya ini sama
sekali tidak boleh dipandang ringan. Cepat-cepat ia menggeser kaki dan mengelak
ke kiri. Pada saat itu tampak bayangan putih berkelebat, sukar diikuti
pandangan mata saking cepatnya. Bayangan putih ini berkelebat di antara
Kartikosari dan Ki Adibroto dan tubuh Ki Adibroto terjengkang ke belakang
sampai terhuyung-huyung dan hampir roboh. Bukan main kagetnya pendekar itu.
Bayangan tadi hanya mendorongkan tangan, namun serangkum tenaga dahsyat sekali
telah mendorongnya, tak dapat dipertahankan lagi tubuhnya terdorong seperti
daun kering terbawa angin. Ketika ia membuka mata memandang, keheranannya makin
menghebat karena kiranya bayangan putih itu hanyalah dara yang masih amat muda,
seorang dara remaja sebaya puterinya.
Dara remaja
yang cantik jelita, berpakaian serba mewah, dengan hiasan rambut dari emas
permata, gelang tangan dan lengan, kalung, pendeknya pakaian seorang puteri
keraton!. Dara remaja itu tidak memperdulikannya lagi. Kini dara itu memutar
tubuh menghadapi Kartikosari yang juga berdiri tercengang. Sejenak kedua orang
wanita itu berdiri berhadapan dan saling pandang. Dan dalam keadaan seperti
itu, Ki Adibroto merasa bulu tengkuknya meremang. Jelas sekali tampak persamaan
di antara kedua orang wanita itu. Bentuk mukanya sama benar, seperti pinang
dibelah dua, hanya bedanya, yang seorang setengah tua, yang seorang lagi masih
muda belia.
"Bunda.....!!!"
No comments:
Post a Comment