Badai Laut Selatan ; Bagian 114


"Endang........ Ohhh, Endang..........! Engkaukah ini, Endang Patibroto anakku... ??" Kartikosari menjerit dan kedua orang wanita itu saling tubruk dan saling rangkul.
"Kakangmas, jangan bergerak...... "

Roro Luhito mencegah Pujo yang berusaha hendak bangun. Tadi ia sudah rebah terlentang dan kini ia berusaha bangkit, matanya terbelalak memandang ke arah Endang Patibroto.
"Biar......... biar.......... aku harus melihat dia, ohhh, Endang puteriku....... "
Mendengar ini barulah Kartikosari sadar dan teringat akan suaminya. Ia memegang tangan puterinya mendekati Pujo yang sudah duduk.
"Endang, lihatlah baik-baik, inilah ayah kandungmu, anakku. Inilah ayahmu Pujo, beri sembah kepadanya, anakku...... "
Kartikosari tak tahan lagi, terisak menangis.
"Ayah ?........ Ayah kandungku......... "
Sejenak Endang Patibroto tertegun, kemudian terbelalak memandang ke arah gagang keris yang menempel pada lambung laki-laki itu. Setelah saling pandang sampai lama, Endang Patibroto lalu berlutut menyembah.
"Ayah!"
"Anakku!..... Endang Patibroto! Anakku........!” Pujo merangkul dan mengambungi rambut yang harum dan halus itu.
"Ha-ha-ha-ha, terima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung! Sebelum mati aku diberi kebahagian bertemu muka dengan anakku......! Ha-ha-ha-ha! Tiada penasaran lagi sekarang, dosa hapus anak jumpa......! Nimas Sari,...., nimas Luhito......... dengar baik-baik, untuk terakhir ini....... kalian harus memenuhi pesanku......... ja...... jangan kalian membalas kepada Listyokumolo.... "
"Aduh, kakangmas Pujo..... Jangan...... tinggalkan aku, kakangmas bawalah aku.....!" Kartikosari memeluki, menciumi dan menangis tersedu-sedu.
Juga Roro Luhito memeluk dan menangis. Tinggal Endang Patibroto yang memandang semua ini dengan kening berkerut. Tidak biasa ia menangis. Semenjak menjadi murid Dibyo Mamangkoro, hatinya mengeras melebihi batu,
"Endang....... anakku cah ayu, anakku yang cantik jelita kau....... kau turutilah permintaan ayahmu, nak " Suara Pujo makin lemah, napasnya terengah-engah.
"Permintaan apakah, ayah?" Endang Patibroto mendekatkan kepalanya dan memegang tangan ayahnya. Pujo meremas jari jari tangan puterinya, sejenak matanya yang sudah layu itu bersinar-sinar.
"Anakku...... , kau.......... kau.......... kujodohkan dengan....... Joko Wandiro jangan jangan.... uggghhh....... " Suara terakhir ini mengantar nyawa Pujo meninggalkan badannya.
"Kakangmas Pujo.......!!" Kartikosari terguling roboh dan pingsan.
"Kakangmas.......... " Roro Luhito merangkul tubuh suaminya dan menangis menjerit-jerit.

Listyokumolo berdiri dengan muka pucat sekali. Setelah kini menyaksikan akibat pembalasan dendamnya sedemikian menyedihkan, hatinya diliputi keharuan yang amat hebat, tubuhnya bergoyang-goyang dan ia tentu akan roboh terguling kalau tidak dipeluk suaminya yang juga memandang dengan muka pucat.
Ki Adibroto menghela napas panjang dan diam-diam ia membaca mantera untuk mengantar nyawa Pujo yang dianggapnya seorang satria luhur budi pekertinya. Suami isteri ini berdiri seperti arca, tidak tahu harus berbuat Apa. Ketika Kartikosari sadar dari pingsannya dan melihat Roro Luhito masih menangis menjerit-jerit dan memanggil-manggil nama suaminya, segera ia meloncat dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Listyokumolo.
"Kau perempuan keji! Kau telah membunuh suamiku......... dan aku tidak berani melanggar pesannya terakhir. Hayo kaubunuhlah aku sekalian, agar aku dapat menyusul suamiku.......! bunuhlah aku...... bunuhlah....."
Sambil menangis dan berteriak-teriak minta dibunuh Kartikosari yang amat mencinta suaminya itu jatuh berlutut di depan Listyokumolo. Tidak dapat lagi Listyokumolo menahan hatinya yang hampir meledak karena rasa haru. Iapun berlutut dan merangkul Kartikosari sarnbil menangis. Akan tetapi tiba-tiba rangkulan Listyokumolo terenggut dan tubuhnya terlempar sampai terjengkang. Ketika wanita ini meloncat, ia dan suaminya sudah berhadapan dengan Endang Patibroto! Suami isteri itu merasa ngeri memandang wajah yang demikian cantik jelitanya itu seakan-akan merupakan kedok yang mati, begitu dingin dan tidak membayangkan apa-apa.
"Engkau yang membunuh ayahku?" Pertanyaan ini terdengar halus dan merdu, tenang dan, seakan-akan biasa saja.
"Betul!" jawab Listyokumolo yang sudah dapat menekan perasaannya, suaranya tegas dan agak marah.
Biarpun dara ini cantik jelita seperti puteri keraton, namun sikapnya mengerikan seperti iblis betina. Gadis ini oleh Pujo hendak dijodohkan dengan puteranya! Berarti bahwa puteranya benar-benar masih hidup. Ia sudah merasa menyesal telah membunuh Pujo, akan tetapi ia benar-benar tidak setuju kalau puteranya dijodohkan dengan gadis yang sikapnya seperti siluman ini.
"Aku yang membunuhnya dan ia sudah menerima kematiannya dengan rela karena dosanya terhadap diriku."
"Hemmm, begitukah?" Dengan sikap tenang Endang Patibroto menghampiri mayat ayahnya yang masih ditangisi Kartikosari dan Roro Luhito, kemudian dicabutnya keris yang menancap dilambung Pujo. Sedikit darah keluar dari luka di lambung dan tanpa memperdulikan Kartikosari dan Roro Luhito yang berteriak kaget, Endang Patibroto membawa keris itu sambil menghampiri Listyokumolo. Ia memegang ujung keris pusaka itu dan mengangsurkannya kepada pemiliknya.
"Nah, karena engkau sudah membunuh ayahku, sekarang gunakan kerismu ini untuk menusuk perutmu sendiri!"
Ucapan inipun dikeluarkan dengan suara halus dan sewajarnya, tanpa perasaan sehingga Listyokumolo dan Ki Adibroto yang mendengarnya menjadi bergidik. Bahkan Kartikosari dan Roro Luhito juga tercengang.
"Endang! Apa yang kaulakukan....?" Kartikosari berseru sambil melompat ke depan dan memeluk pundak puterinya.
Akan tetapi dengan halus akan tetapi bertenaga Endang Patibroto mendorong ibunya sehingga Kartikosari kembali duduk di dekat mayat suaminya dengan mata terbelalak.
"Angger, Endang Patibroto. kau ingatlah pesan ayahmu..." Roro Luhito juga berusaha mengingatkannya.
Endang Patibroto memandang Roro Luhito dengan kening berkerut.
"Siapakah wanita ini?"
Pertanyaan ini ia tujukan kepada ibunya akan tetapi pandang matanya tetap menatap wajah Roro Luhito.
"Dia Roro Luhito, dia juga ibumu, Endang, karena diapun isteri ayahmu...." Kembali Kartikosari terisak dan merangkul mayat suaminya.
"Hemm, ibu berdua jangan mencampuri urusan ini, biar kubereskan sendiri." Ia lalu membalikkan tubuh menghadapi Listyokumolo kembali.
"Hayo lekas, belum juga kautusuk perutmu sendiri?" bentaknya ketika melihat Listyokumolo yang tadi menerima kerisnya masih memandang keris di tangan dengan mata terbelalak, seakan-akan ia merasa ngeri melihat ujung keris yang berlumuran darah yang kini sudah menghitam itu. Ki Adibroto mengerutkan kening dan dengan suara tegas ia berkata,
"Isteriku telah membunuh Pujo untuk membalas dendam yang amat mendalam. Pujo sendiri telah mengakui kesalahannya dan telah menyerahkan nyawanya tanpa melawan sehingga ia tewas di tangan isteriku. Sekarang engkau menyuruh isteriku membunuh diri, Apa maksud dan kehendak mu?”
"Kau suaminya? Bagus! Hayo suruh dia tusuk perutnya sendiri atau kalau dia tidak berani, kau yang mewakilinya dan menusuk perutnya dengan keris itu sampai mampus!"
"Babo-babo! Dara remaja sungguh sombong dan bermulut besar! Kalau kami tidak mau melakukan permintaanmu yang gila itu, lalu bagaimana?"
"Mau atau tidak, dia harus menusuk perutnya sampai mati."
"Tobat-tobat sombongnya. Hendak kami lihat apa yang hendak kaulakukan!"
"Engkau banyak bantahan, engkaupun harus dihajar!" Endang Patibroto berseru dan tubuhnya berkelebat ke depan menerjang Ki Adibroto.

Betapapun juga, Ki Adibroto adalah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Biarpun ia maklum betapa dahsyatnya terjangan itu, namun ia tidak takut. Melihat betapa tangan kiri dara itu bergerak dengan jari-jari tangan kiri terbuka hendak mencengkeram ubun-ubun kepalanya, ia bergidik. Alangkah kejinya cara penyerangan ini! Sungguh tidak patut dilakukan seorang dara jelita semuda itu, lebih patut serangan seorang iblis kejam. Dengan pengerahan hawa sakti untuk melawan tendangan ini, ia menangkis dari bawah dengan melintangkan lengan kanan ke atas kepala.
"Dessss.......!!"
Dua lengan bertemu di udara dan tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang sampai tiga meter. Akan tetapi terpentalnya dalam keadaan enak saja, dan wajahnya tetap tersenyum-senyum. Tidak demikian dengan Ki Adibroto. Biarpun ia menang tenaga karena memang menang matang latihannya, namun ketika bertemu lengan, ia merasa betapa lengannya panas seperti dimasuki api yang terus menyelinap ke dalam tubuhnya, membuat dadanya terasa sakit. Ia kaget bukan main, juga terheran-heran. Bocah ini benar-benar tidak menyombong kosong belaka, melainkan memiliki llmu yang tinggi, seorang yang sakti mandraguna! Endang Patibroto diam-diam marah pula karena tenaga lawannya benar hebat sehingga ia terpental. Biarpun-hal ini tidak berarti ia kalah, akan tetapi pada lahirnya memang kelihatan bahwa dia tidak mampu menandingi tenaga lawan. Dengan gemas ia lalu menggerakkan tangannya dan,
"sing......... sing........ sing!!"
Tiga batang anak panah meluncur ke arah paha, perut dan tenggorokan Ki Adibroto. Anak panah ini diluncurkan dengan sentilan jari tangan, namun kecepatannya luar biasa, tidak kalah oleh anak panah yang diluncurkan dengan gendewa. Apalagi dilepas dari jarak empat lima meter, bukan main cepatnya laksana kilat menyambar. Endang Patibroto sudah memastikan bahwa kali ini lawannya pasti akan roboh. Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat tubuh lawannya itu tiba-tiba mencelat ke atas setinggi dua meter lebih sehingga tiga batang anah panah itu lewat di bawah kakinya dan tidak sebatangpun mengenai sasaran. Dengan gemas yang meluap-luap Endang Patibroto lalu meloncat ke depan, tubuhnya agak merendah kemudian kedua tangannya melakukan gerak memukul ke depan. Inilah ilmu pukulan yang luar biasa ampuhnya, yaitu Aji Wisangnolo Api Beracun yang amat dahsyat, ilmu pukulan jarak jauh yang telah ia latih masak-masak dari gurunya!.
Ketika itu, tubuh Ki Adibroto masih belum turun, masih melayang. Hatinya sudah berdebar karena serangan tiga batang anak panah tadi benar-benar amat berbahaya dan hanya sedikit selisihnya. Nyaris ia terkena anak panah yang ia dapat menduga tentu mengandung bisa ujungnya. Pada saat itu, Ki Adibroto sama sekali tidak menyangka bahwa lawannya yang masih begitu muda, dapat melakukan siasat pertandingan yang demikian licik dan curangnya. Karena inilah, maka dengan tidak menduga akan datangnya pukulan jarak jauh yang demikian hebat, tahu-tahu ia merasa dadanya dihantam hawa pukulan yang panas sekali. Tubuhnya terlempar ke belakang dan robohlah ia terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!.
"Perempuan iblis.....!" Listyokumolo menjerit sambil menerjang maju dengan keris di tangan.
Namun, dengan mudah sekali Endang Patibroto miringkan tubuh, tangannya menyambar tangan kanan Listyokumolo yang memegang keris, kemudian ia memaksa tangan lawan itu untuk membalikkan keris dan menusuk lambung sendiri! Hebat bukan main tenaga dan ketangkasan Endang Patibroto. Listyokumolo tahu benar betapa tangannya yang memegang keris itu tiba-tiba membalik, akan tetapi ia tidak kuasa mencegah atau menahan tangannya sendiri. Seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar kekuasaannya dan seolah-olah tangannya itu kini sudah bukan tangannya lagi.

Melihat betapa tangannya sendiri tanpa dapat dicegahnya menusuk ke arah lambungnya sendiri, Listyokumolo menjerit dengan mata terbelalak lebar. Dengan tenaga terakhir ia berusaha menahan tangan kanan dengan tangan kirinya, namun sia-sia belaka usahanya. Dengan mata terbeialak ia melihat jelas betapa keris itu menusuk lambungnya, terus menusuk dan amblas sampai ke gagangnya. Ia merasa perih dan panas, mendengar suara ketawa lirih dari dara remaja yang sudah melepaskannya, suara ketawa yang bagi pendengarannya merupakan ketawa iblis yang menyeramkan. Listyokumolo sekali lagi menjerit kemudian tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Keris itu menancap tepat di lambung kiri, persis seperti lambung Pujo tadi!
Ki Adibroto tersentak kaget mendengar jerit isterinya. Ia melompat bangun, mengeluh karena dadanya terasa terbakar dan lehernya seperti dicekik. Ketika menoleh ke bawah, ia melihat isterinya berkelojotan.
"Nimas!!"
Ia menubruk, hanya untuk menyaksikan isterinya menghembuskan napas terakhir tanpa dapat mengeluarkan suara lagi. Seketika api kemarahan membakar diri Ki Adibroto. Ingin ia melompat dan menerjang pembunuh isterinya. Akan tetapi kesadarannya mencegahnya. Bunuh-membunuh akibat dendam-mendendam.

<<< Bagian 113                                                                                       Bagian 115 >>>

No comments:

Post a Comment