"Endang........ Ohhh, Endang..........! Engkaukah ini, Endang Patibroto anakku... ??" Kartikosari menjerit dan kedua orang wanita itu saling tubruk dan saling rangkul.
"Kakangmas,
jangan bergerak...... "
Roro Luhito mencegah
Pujo yang berusaha hendak bangun. Tadi ia sudah rebah terlentang dan kini ia
berusaha bangkit, matanya terbelalak memandang ke arah Endang Patibroto.
"Biar.........
biar.......... aku harus melihat dia, ohhh, Endang puteriku....... "
Mendengar ini
barulah Kartikosari sadar dan teringat akan suaminya. Ia memegang tangan
puterinya mendekati Pujo yang sudah duduk.
"Endang,
lihatlah baik-baik, inilah ayah kandungmu, anakku. Inilah ayahmu Pujo, beri
sembah kepadanya, anakku...... "
Kartikosari
tak tahan lagi, terisak menangis.
"Ayah
?........ Ayah kandungku......... "
Sejenak Endang
Patibroto tertegun, kemudian terbelalak memandang ke arah gagang keris yang
menempel pada lambung laki-laki itu. Setelah saling pandang sampai lama, Endang
Patibroto lalu berlutut menyembah.
"Ayah!"
"Anakku!.....
Endang Patibroto! Anakku........!” Pujo merangkul dan mengambungi rambut yang
harum dan halus itu.
"Ha-ha-ha-ha,
terima kasih kepada Dewata Yang Maha Agung! Sebelum mati aku diberi kebahagian
bertemu muka dengan anakku......! Ha-ha-ha-ha! Tiada penasaran lagi sekarang,
dosa hapus anak jumpa......! Nimas Sari,...., nimas Luhito......... dengar
baik-baik, untuk terakhir ini....... kalian harus memenuhi pesanku.........
ja...... jangan kalian membalas kepada Listyokumolo.... "
"Aduh,
kakangmas Pujo..... Jangan...... tinggalkan aku, kakangmas bawalah
aku.....!" Kartikosari memeluki, menciumi dan menangis tersedu-sedu.
Juga Roro
Luhito memeluk dan menangis. Tinggal Endang Patibroto yang memandang semua ini
dengan kening berkerut. Tidak biasa ia menangis. Semenjak menjadi murid Dibyo
Mamangkoro, hatinya mengeras melebihi batu,
"Endang.......
anakku cah ayu, anakku yang cantik jelita kau....... kau turutilah permintaan
ayahmu, nak " Suara Pujo makin lemah, napasnya terengah-engah.
"Permintaan
apakah, ayah?" Endang Patibroto mendekatkan kepalanya dan memegang tangan
ayahnya. Pujo meremas jari jari tangan puterinya, sejenak matanya yang sudah
layu itu bersinar-sinar.
"Anakku......
, kau.......... kau.......... kujodohkan dengan....... Joko Wandiro jangan
jangan.... uggghhh....... " Suara terakhir ini mengantar nyawa Pujo
meninggalkan badannya.
"Kakangmas
Pujo.......!!" Kartikosari terguling roboh dan pingsan.
"Kakangmas..........
" Roro Luhito merangkul tubuh suaminya dan menangis menjerit-jerit.
Listyokumolo
berdiri dengan muka pucat sekali. Setelah kini menyaksikan akibat pembalasan
dendamnya sedemikian menyedihkan, hatinya diliputi keharuan yang amat hebat,
tubuhnya bergoyang-goyang dan ia tentu akan roboh terguling kalau tidak dipeluk
suaminya yang juga memandang dengan muka pucat.
Ki Adibroto
menghela napas panjang dan diam-diam ia membaca mantera untuk mengantar nyawa
Pujo yang dianggapnya seorang satria luhur budi pekertinya. Suami isteri ini
berdiri seperti arca, tidak tahu harus berbuat Apa. Ketika Kartikosari sadar
dari pingsannya dan melihat Roro Luhito masih menangis menjerit-jerit dan
memanggil-manggil nama suaminya, segera ia meloncat dan menudingkan telunjuknya
ke arah muka Listyokumolo.
"Kau
perempuan keji! Kau telah membunuh suamiku......... dan aku tidak berani
melanggar pesannya terakhir. Hayo kaubunuhlah aku sekalian, agar aku dapat
menyusul suamiku.......! bunuhlah aku...... bunuhlah....."
Sambil
menangis dan berteriak-teriak minta dibunuh Kartikosari yang amat mencinta
suaminya itu jatuh berlutut di depan Listyokumolo. Tidak dapat lagi
Listyokumolo menahan hatinya yang hampir meledak karena rasa haru. Iapun
berlutut dan merangkul Kartikosari sarnbil menangis. Akan tetapi tiba-tiba
rangkulan Listyokumolo terenggut dan tubuhnya terlempar sampai terjengkang.
Ketika wanita ini meloncat, ia dan suaminya sudah berhadapan dengan Endang
Patibroto! Suami isteri itu merasa ngeri memandang wajah yang demikian cantik
jelitanya itu seakan-akan merupakan kedok yang mati, begitu dingin dan tidak
membayangkan apa-apa.
"Engkau
yang membunuh ayahku?" Pertanyaan ini terdengar halus dan merdu, tenang
dan, seakan-akan biasa saja.
"Betul!"
jawab Listyokumolo yang sudah dapat menekan perasaannya, suaranya tegas dan
agak marah.
Biarpun dara
ini cantik jelita seperti puteri keraton, namun sikapnya mengerikan seperti
iblis betina. Gadis ini oleh Pujo hendak dijodohkan dengan puteranya! Berarti
bahwa puteranya benar-benar masih hidup. Ia sudah merasa menyesal telah
membunuh Pujo, akan tetapi ia benar-benar tidak setuju kalau puteranya
dijodohkan dengan gadis yang sikapnya seperti siluman ini.
"Aku yang
membunuhnya dan ia sudah menerima kematiannya dengan rela karena dosanya
terhadap diriku."
"Hemmm,
begitukah?" Dengan sikap tenang Endang Patibroto menghampiri mayat ayahnya
yang masih ditangisi Kartikosari dan Roro Luhito, kemudian dicabutnya keris
yang menancap dilambung Pujo. Sedikit darah keluar dari luka di lambung dan
tanpa memperdulikan Kartikosari dan Roro Luhito yang berteriak kaget, Endang
Patibroto membawa keris itu sambil menghampiri Listyokumolo. Ia memegang ujung
keris pusaka itu dan mengangsurkannya kepada pemiliknya.
"Nah,
karena engkau sudah membunuh ayahku, sekarang gunakan kerismu ini untuk menusuk
perutmu sendiri!"
Ucapan inipun
dikeluarkan dengan suara halus dan sewajarnya, tanpa perasaan sehingga
Listyokumolo dan Ki Adibroto yang mendengarnya menjadi bergidik. Bahkan
Kartikosari dan Roro Luhito juga tercengang.
"Endang!
Apa yang kaulakukan....?" Kartikosari berseru sambil melompat ke depan dan
memeluk pundak puterinya.
Akan tetapi
dengan halus akan tetapi bertenaga Endang Patibroto mendorong ibunya sehingga
Kartikosari kembali duduk di dekat mayat suaminya dengan mata terbelalak.
"Angger,
Endang Patibroto. kau ingatlah pesan ayahmu..." Roro Luhito juga berusaha
mengingatkannya.
Endang
Patibroto memandang Roro Luhito dengan kening berkerut.
"Siapakah
wanita ini?"
Pertanyaan ini
ia tujukan kepada ibunya akan tetapi pandang matanya tetap menatap wajah Roro
Luhito.
"Dia Roro
Luhito, dia juga ibumu, Endang, karena diapun isteri ayahmu...." Kembali
Kartikosari terisak dan merangkul mayat suaminya.
"Hemm,
ibu berdua jangan mencampuri urusan ini, biar kubereskan sendiri." Ia lalu
membalikkan tubuh menghadapi Listyokumolo kembali.
"Hayo
lekas, belum juga kautusuk perutmu sendiri?" bentaknya ketika melihat
Listyokumolo yang tadi menerima kerisnya masih memandang keris di tangan dengan
mata terbelalak, seakan-akan ia merasa ngeri melihat ujung keris yang
berlumuran darah yang kini sudah menghitam itu. Ki Adibroto mengerutkan kening
dan dengan suara tegas ia berkata,
"Isteriku
telah membunuh Pujo untuk membalas dendam yang amat mendalam. Pujo sendiri
telah mengakui kesalahannya dan telah menyerahkan nyawanya tanpa melawan
sehingga ia tewas di tangan isteriku. Sekarang engkau menyuruh isteriku
membunuh diri, Apa maksud dan kehendak mu?”
"Kau
suaminya? Bagus! Hayo suruh dia tusuk perutnya sendiri atau kalau dia tidak
berani, kau yang mewakilinya dan menusuk perutnya dengan keris itu sampai mampus!"
"Babo-babo!
Dara remaja sungguh sombong dan bermulut besar! Kalau kami tidak mau melakukan
permintaanmu yang gila itu, lalu bagaimana?"
"Mau atau
tidak, dia harus menusuk perutnya sampai mati."
"Tobat-tobat
sombongnya. Hendak kami lihat apa yang hendak kaulakukan!"
"Engkau
banyak bantahan, engkaupun harus dihajar!" Endang Patibroto berseru dan
tubuhnya berkelebat ke depan menerjang Ki Adibroto.
Betapapun
juga, Ki Adibroto adalah seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi. Biarpun ia
maklum betapa dahsyatnya terjangan itu, namun ia tidak takut. Melihat betapa
tangan kiri dara itu bergerak dengan jari-jari tangan kiri terbuka hendak
mencengkeram ubun-ubun kepalanya, ia bergidik. Alangkah kejinya cara
penyerangan ini! Sungguh tidak patut dilakukan seorang dara jelita semuda itu,
lebih patut serangan seorang iblis kejam. Dengan pengerahan hawa sakti untuk
melawan tendangan ini, ia menangkis dari bawah dengan melintangkan lengan kanan
ke atas kepala.
"Dessss.......!!"
Dua lengan
bertemu di udara dan tubuh Endang Patibroto terpental ke belakang sampai tiga
meter. Akan tetapi terpentalnya dalam keadaan enak saja, dan wajahnya tetap
tersenyum-senyum. Tidak demikian dengan Ki Adibroto. Biarpun ia menang tenaga
karena memang menang matang latihannya, namun ketika bertemu lengan, ia merasa
betapa lengannya panas seperti dimasuki api yang terus menyelinap ke dalam
tubuhnya, membuat dadanya terasa sakit. Ia kaget bukan main, juga
terheran-heran. Bocah ini benar-benar tidak menyombong kosong belaka, melainkan
memiliki llmu yang tinggi, seorang yang sakti mandraguna! Endang Patibroto
diam-diam marah pula karena tenaga lawannya benar hebat sehingga ia terpental.
Biarpun-hal ini tidak berarti ia kalah, akan tetapi pada lahirnya memang
kelihatan bahwa dia tidak mampu menandingi tenaga lawan. Dengan gemas ia lalu
menggerakkan tangannya dan,
"sing.........
sing........ sing!!"
Tiga batang
anak panah meluncur ke arah paha, perut dan tenggorokan Ki Adibroto. Anak panah
ini diluncurkan dengan sentilan jari tangan, namun kecepatannya luar biasa,
tidak kalah oleh anak panah yang diluncurkan dengan gendewa. Apalagi dilepas
dari jarak empat lima meter, bukan main cepatnya laksana kilat menyambar.
Endang Patibroto sudah memastikan bahwa kali ini lawannya pasti akan roboh.
Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat tubuh lawannya itu
tiba-tiba mencelat ke atas setinggi dua meter lebih sehingga tiga batang anah
panah itu lewat di bawah kakinya dan tidak sebatangpun mengenai sasaran. Dengan
gemas yang meluap-luap Endang Patibroto lalu meloncat ke depan, tubuhnya agak
merendah kemudian kedua tangannya melakukan gerak memukul ke depan. Inilah ilmu
pukulan yang luar biasa ampuhnya, yaitu Aji Wisangnolo Api Beracun yang amat
dahsyat, ilmu pukulan jarak jauh yang telah ia latih masak-masak dari gurunya!.
Ketika itu,
tubuh Ki Adibroto masih belum turun, masih melayang. Hatinya sudah berdebar
karena serangan tiga batang anak panah tadi benar-benar amat berbahaya dan
hanya sedikit selisihnya. Nyaris ia terkena anak panah yang ia dapat menduga
tentu mengandung bisa ujungnya. Pada saat itu, Ki Adibroto sama sekali tidak
menyangka bahwa lawannya yang masih begitu muda, dapat melakukan siasat
pertandingan yang demikian licik dan curangnya. Karena inilah, maka dengan
tidak menduga akan datangnya pukulan jarak jauh yang demikian hebat, tahu-tahu
ia merasa dadanya dihantam hawa pukulan yang panas sekali. Tubuhnya terlempar
ke belakang dan robohlah ia terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!.
"Perempuan
iblis.....!" Listyokumolo menjerit sambil menerjang maju dengan keris di
tangan.
Namun, dengan
mudah sekali Endang Patibroto miringkan tubuh, tangannya menyambar tangan kanan
Listyokumolo yang memegang keris, kemudian ia memaksa tangan lawan itu untuk
membalikkan keris dan menusuk lambung sendiri! Hebat bukan main tenaga dan
ketangkasan Endang Patibroto. Listyokumolo tahu benar betapa tangannya yang
memegang keris itu tiba-tiba membalik, akan tetapi ia tidak kuasa mencegah atau
menahan tangannya sendiri. Seolah-olah tangan kanannya itu bergerak di luar
kekuasaannya dan seolah-olah tangannya itu kini sudah bukan tangannya lagi.
Melihat betapa
tangannya sendiri tanpa dapat dicegahnya menusuk ke arah lambungnya sendiri,
Listyokumolo menjerit dengan mata terbelalak lebar. Dengan tenaga terakhir ia
berusaha menahan tangan kanan dengan tangan kirinya, namun sia-sia belaka
usahanya. Dengan mata terbeialak ia melihat jelas betapa keris itu menusuk
lambungnya, terus menusuk dan amblas sampai ke gagangnya. Ia merasa perih dan
panas, mendengar suara ketawa lirih dari dara remaja yang sudah melepaskannya,
suara ketawa yang bagi pendengarannya merupakan ketawa iblis yang menyeramkan.
Listyokumolo sekali lagi menjerit kemudian tubuhnya terhuyung-huyung ke
belakang. Keris itu menancap tepat di lambung kiri, persis seperti lambung Pujo
tadi!
Ki Adibroto
tersentak kaget mendengar jerit isterinya. Ia melompat bangun, mengeluh karena
dadanya terasa terbakar dan lehernya seperti dicekik. Ketika menoleh ke bawah,
ia melihat isterinya berkelojotan.
"Nimas!!"
Ia menubruk,
hanya untuk menyaksikan isterinya menghembuskan napas terakhir tanpa dapat
mengeluarkan suara lagi. Seketika api kemarahan membakar diri Ki Adibroto.
Ingin ia melompat dan menerjang pembunuh isterinya. Akan tetapi kesadarannya
mencegahnya. Bunuh-membunuh akibat dendam-mendendam.
No comments:
Post a Comment