Dara remaja itu adalah anak Pujo, kini membunuh isterinya karena mendendam dan membalaskan kematian ayahnya. Ia menahan napas, menahan air mata, lalu memondong tubuh isterinya dan berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu, diikuti pandang mata mengejek Endang Patibroto yang berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
"Endang..........
Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau membunuhnya... ?" tanya
Kartikosari dengan penuh penyesalan, teringat akan pesan suaminya. Betapapun ia
mencinta suaminya dan merasa sakit hati sekali karena suaminya dibunuh orang,
namun setelah mendengar pengakuan suaminya, setelah mendengar pesan suaminya,
sebagai seorang puteri pendeta yang bijaksana, ia sadar dan suka mentaati pesan
suaminya. Karena itulah ia merasa amat menyesal melihat puterinya telah
membunuh Listyokumolo dan melukai Ki Adibroto dengan hebat.
"Mengapa?
Ibu, dia sudah membunuh ayah dan aku membunuh dia. Bukankah ini sudah tepat dan
punah? Suaminya terluka dan pasti mati pula, adalah salahnya sendiri!"
Terbelalak
mata Kartikosari mendengar jawaban dan melihat sikap puterinya ini. Terbayang
kekerasan hati yang melebihi batu, terbayang sikap dingin melebihi ampak-ampak
pada wajah puterinya. Di samping perubahan sikap puterinya yang luar biasa ini,
juga jelas tampak kesaktian yang menggiriskan pada diri puterinya. Ia sendiri
tadi sudah bergebrak dengan Ki Adibroto dan dapat menaksir bahwa Ilmu
kepandaian Ki Adibroto amat tinggi, seimbang dengan ilmunya sendiri. Akan
tetapi dalam beberapa gebrakan saja, Ki Adibroto mudah dirobohkan oleh Endang
Patibroto sampai pingsan dan terluka hebat.
"Endang......
kau..... kau......... telah membunuh calon....... calon ibu mertuamu
sendiri...... ?"
"Apa kata
ibu?" Endang Patibroto bertanya, keningnya berkerut, matanya mengkilat.
"Apa kau
lupa akan pesan ayahmu tadi? Kau dijodohkan dengan Joko Wandiro... "
"Uhh! ah
yang mengaku murid ayah dahulu itu? Menyebalkan! Nah, biarpun demikian, Apa
hubungannya urusan itu dengan kematian perempuan pembunuh ayah tadi?"
"Ohh,
anakku. Engkau tidak tahu. Listyokumolo yang kaubunuh tadi adalah ibu kandung
Joko Wandiro"
Endang
Patibroto kini memandang jenazah ayahnya dengan kening berkerut.
"Aneh-aneh
saja ayah tadi. Kalau dia membunuh ayah, kenapa aku dijodohkan dengan anaknya?
Aku tidak sudi!"
"Endang.............
"
Melihat
Kartikosari marah, Roro Luhito merangkulnya.
"Urusan
itu dapat dirundingkan perlahan-lahan. Bukankah yang perlu sekarang mengurus
jenazah dia......... ?"
Kembali la
menangis sehmgga Kartikosari ikut pula menangis. Dua orang isteri yang sepenuh
jiwa mencinta suami itu sambil menangis, dibantu oleh Endang Patibroto,
mengurus jenazah, membawanya ke pondok kemudian upacara pembakaran dilakukan
dengan sederhana. Abu jenazah disebarkan di laut, diantar hujan air mata
Kartikosari dan Roro Luhito. Diam-diam Kartikosari merasa heran dan juga amat
menyesal mengapa sedikitpun Endang Patibroto tidak kelihatan berduka, bahkan
tidak setetespun air mata keluar untuk menangisi ayah kandungnya! Pada keesokan
harinya, seorang laki-laki penunggang kuda sampai di Bayuwismo. Melihat
kedatangan laki-laki muda belia dan berpakaian amat mewah, berwajah tampan dan
bersikap agung ini, Kartikosari dan Roro Luhito tercengang. Apalagi ketika
mendengar laki-laki itu dari jauh sudah berteriak memanggil nama Endang
Patibroto,
"Endang.......!
Engkau di situkah....... ?"
Endang
Patibroto sedang menggosok-gosok tubuh kudanya. Ia datang ke Bayuwismo berkuda
dan sengaja meninggalkan kudanya ketika ia mencampuri urusan orang tuanya dengan
Listyokumolo. Melihat laki-laki itu, Endang Patibroto berseri wajahnya dan
membalas dengan lambaian tangannya sambil berbisik kepada ibunya,
"Ibu, dia
gusti pangeran."
"Apa........
?!" Kartikosari dan Roro Luhito terkejut bukan main dan cepat-cepat menyambut
ketika pangeran itu melompat turun dari kudanya dan berlari-lari di atas pasir
menghampiri Endang Patibroto. Melihat dua orang wanita cantik bersembah sujut,
ia bertanya,
"Endang,
siapakah kedua orang bibi ini?"
"Yang ini
ibu kandungku, yang itu ibu tiriku."
"Ah! Bibi
berdua, silakan bangun, di tempat sunyi ini tidak perlu menggunakan banyak
peraturan," kata pangeran itu dengan ramah sehingga Kartikosari dan Roro
Luhito menjadi senang juga. Pangeran ini tidak angkuh seperti
bangsawan-bangsawan lainnya dan anehnya, sikap Endang Patibroto terhadapnya
seperti sikap seorang teman biasa saja!
"Mengapa
paduka terlambat sekali, gusti pangeran? Dan mana gusti puteri? Mengapa tidak
kelihatan?" tanya Endang Patibroto.
"Celaka
sekali, Endang. Setelah kau membalapkan kudamu meninggalkan kami, kami berdua
lalu berusaha mengejarmu. Kuda yang ditunggangi adinda puteri memang lebih baik
daripada kudaku ini, maka akhirnya aku tertinggal. Aku membalap dan berusaha
menyusul, akan tetapi sia-sia dan akhirnya adinda puteri tidak tampak lagi.
Dengan hati khawatir aku melanjutkan perjalanan seorang diri ke sini dan sampai
sekarang aku tidak pernah melihat lagi. Semua ini gara-garamu, Endang. Hayo
kaucari dia sampai dapat." Wajah sang pangeran tampan itu kelihatan
gelisah.
Akan tetapi
Endang Patibroto tenang-tenang saja.
"Jangan
khawatir, gusti pangeran. Pasti dapat hamba cari gusti puteri.
"Kemudian
ia menoleh kepada Kartikosari dan Roro Luhito sambil berkata,
"Ibu,
kuharap ibu berdua suka ikut saja bersamaku dan tinggal di istana. Aku yakin
bahwa gusti prabu tentu akan mengijinkannya."
Kartikosari
mengerutkan keningnya, kemudian bertanya,
"Anakku,
sebetulnya apakah kedudukanmu di istana dan istana manakah itu?"
Kini pangeran
itulah yang menjawab,
"Bibi,
apakah Endang belum menceritakan keadaannya? Sungguh aneh kalau begitu. Bibi,
puterimu yang perkasa ini sekarang menjadi kepala pengawal istana Kerajaan
Jenggala. Saya adalah Pangeran Panjirawit dari Jenggala, bersama Endang dan
adik saya Puteri Mayagaluh sengaja hendak mencari bibi di sini. Benar Apa yang
diusulkan Endang Patibroto tadi, bibi. Lebih baik bibi berdua pindah ke
istana."
Dapat
dibayangkan betapa kaget dan sedih rasa hati Kartikosari setelah mendengar
bahwa puterinya bekerja kepada Kerajaan Jenggala! Padahal semenjak ayahnya,
Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo masih hidup, sampai dia sendiri dan
suaminya semua adalah pengikut-pengikut Pangeran Sepuh yang kini menjadi raja
di Kerajaan Panjalu. Bagaimana sekarang Endang Patibroto malah memihak kepada
musuh? Biarpun pangeran muda ini dari Jenggala, akan tetapi betapapun juga ia
masih keturunan Sang Prabu Airlangga dan sikapnya amatlah menyenangkan, maka ia
menyembah sambil menjawab,
"Terima
kasih atas penawaran dan keramahan paduka." Kemudian ia menghadapi
puterinya dan berkata,
"Anakku,
aku dan ibumu Roro Luhito sudah biasa hidup di alam bebas, tidak ingin hidup
dalam istana. Kami akan tetap tinggal di sini. Kau saja, anakku, kalau memang
mencinta ibumu, kau jangan tinggalkan aku lagi. Kembalilah kepada ibumu dan
temani kami di sini."
Mendengar
ajakan ibunya ini, Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang
kepada kedua orang ibunya, dengan pakaian mereka yang sederhana, dan keadaaan
gubuk Bayuwismo yang lebih sederhana pula. Kemudian ia menundukkan muka,
memandangi pakaiannya yang mewah dan indah, perhiasan emas permata yang
berkilauan di tubuhnya. Kerut pada keningnya màkin mendalam dan ia menjawab,
"Belum
bisa, ibu. Apalagi sekarang selagi Kerajaan Jenggala menghadapi ancaman perang
saudara dengan Kerajaan Panjalu. Kerajaan Panjalu yang menjadi musuh kami
mempunyai banyak orang pandai, ibu. Kalau aku sudah berhasil membasmi mereka
dan Kerajaan Jenggala terbebas dari pada bahaya, barulah aku akan pikir-pikir untuk
menemani ibu berdua di sini."
Dengan singkat
Endang Patibroto lalu menuturkan bahwa ia menjadi murid Dibyo Mamangkoro dan
betapa ia digembleng sampai bertahun-tahun di Pulau Nusakambangan, dan betapa
kemudian ia dibawa berhamba kepada Kerajaan Jenggala. Juga ia bercerita betapa
ia diuji oleh sang prabu di Jenggala dan berhasil mengambil bendera pusaka dan
membawa kembali kepala dua orang pengawal keraton Panjalu. Mendengar penuturan
Endang Patibroto ini, mula-mula Kartikosari dan Roro Luhito kaget, kemudian
terheran-heran, dan akhirnya marah sekali. Kartikosari tak dapat lagi menahan
kemarahannya dan ia memandang tajam puterinya lalu membentak,
"Endang
Patibroto, engkau tersesat jauh!!”
"Hemmm,
Apa maksudmu, ibu?" tanya Endang Patibroto sedangkan Pangeran Panjirawit
juga memandang heran.
Kartikosari
tidak perdulikan lagi pada pangeran itu dan ia berkata, suaranya tegas dan
keras.
"Endang,
engkau telah tersesat jauh dan mungkin hal itu terjadi karena kau tidak
mengerti. Ketahuilah, Raja Jenggala sekarang ini dahulu adalah Pangeran Anom,
sedangkan Raja Penjalu adalah Pangeran Sepuh. Dahulu terjadi perang saudara
antara Pangeran Anom dan Pangeran Sepuh. Tahukah engkau pihak mana yang dibela
mati-matian oleh eyangmu Resi Bhargowo, oleh ayahmu Pujo, dan oleh ibumu
berdua? Kami membela Pangeran Sepuh atau Raja Panjalu yang sekarang! Adapun
Pangeran Anom dahulu dibela oleh orang-orang kotor macam Cekel Aksomolo, Warok
Gendroyono, Krendayakso, Nogogini, Durgogini dan lain-Iain. Bagaimana sekarang
engkau, anak kandungku, cucu Resi Bhargowo, menjadi kepala pengawal di keraton
Jenggala? Engkau bersekutu dan berkawan dengan orang-orang jahat macam Cekel
Aksomolo dan lain-lain itu?"
Kaget juga
hati Endang Patibroto melihat betapa ibu kandungnya marah hebat seperti itu.
"Tidak,
ibu. Biarpun Cekel Aksomolo dan yang lain-lain itu bekerja membela Jenggala,
namun aku tidak bersekutu dan tidak bersahabat dengan mereka!" Ia mencoba
untuk membantah.
"Keparat!
Tahukah engkau betapa mereka itu dahulu pernah mengeroyok eyangmu di Pulau
Sempu dan hampir saja membunuh eyangmu? Tahukah engkau bahwa ayah bundamu ini
banyak menderita karena perbuatan biadab seorang di antara pembantu-pembantu
Jenggala? Dan sekarang engkau menjadi hamba Jenggala? Endang Patibroto, engkau
anakku, engkau harus mentaati ibu kandungmu. Mulai detik ini juga, engkau harus
berhenti menjadi hamba Jenggala, engkau tidak boleh kembali ke sana!"
Kemarahan Kartikosari sudah meluap-luap dan tak dapat ditekan lagi. Hening
sejenak, hening penuh ketegangan, terutama bagi Pangeran Panjirawit yang
mendengar kan dan melihat dengan jantung berdebar-debar. Kemudian Endang
Patibroto menarik napas panjang, memandang ibunya dan menggeleng kepalanya,
"Tidak
mungkin begitu, Ibu. Sudah banyak aku menerima hadiah dan kebaikan dari keluarga
gusti prabu. Sebelum aku membalas semua kebaikan itu dengan pahala, bagaimana
aku bisa meninggalkan Jenggala dengan begitu saja?"
"Kebaikan??
Kau bicara tentang kebaikan? Apakah kau tidak tahu betapa ibumu ini hampir
berkorban nyawa berkali-kali untukmu? Tidak tahu betapa sengsara hidupku,
betapa tersiksa, betapa dengan susah payah memelihara dan mendidikmu, betapa
digerogoti dendam dan sakit hati. Dan kaulupakan semua itu, tertutup oleh
kebaikan orang lain yang tidak ada artinya itu? Endang, apakah kau ingin
menjadi anak durhaka, anak murtad? Sekali lagi, lepaskan semua itu dan,
kembalilah kepada ibumu, anakku" Kalimat terakhir ini mengandung isak
tangis.
Endang
Patibroto menggeleng kepala lagi.
"Ibu
tidak adil..... ibu terlalu mendesak, tanpa memberi kesempatan kepadaku."
Kartikosari
melompat maju.
"Sekali
lagi. Kuminta engkau melepaskan kedudukanmu dan kembali kepada ibumu!"
Suara Kartikosari parau, wajahnya memucat.
Endang
Patibroto menggeleng kepala.
"Tidak
bisa, ibu."
"Anak
durhaka! Kalau begitu, daripada melihat engkau hidup tersesat, lebih baik
melihat engkau mati!” Secepat kilat Kartikosari mencabut keris pusaka Banuwilis
lalu maju menubruk, menusukkan kerisnya ke arah dada anaknya sendiri.
"Yunda
Sari......!"
Roro Luhito
menjerit dan bergerak hendak mencegah. Namun terlambat. Keris itu sudah menusuk
dada Endang Patibroto. Dara jelita ini sama sekali tidak mau mengelak atau
menangkis sehingga Pangeran Panjirawit juga berseru kaget dan cemas.
"Capp.........!"
Keris itu menyeleweng ke samping ketika bertemu dengan dada Endang Patibroto,
hanya menancap miring, memasuki kulit dan sedikit melukai daging, akan tetapi
tidak kuat menembus ke dalam karena Endang Patibroto mengerahkan sedikit hawa
sakti di tubuhnya. Kalau dara ini menghendaki, tentu keris itu tadi membalik
dan kulitnya sedikitpun tidak lecet. Akan tetapi ia sengaja membiarkan kulitnya
dan sedikit dagingnya terluka sehingga ketika keris itu jatuh terlepas, darah
mengalir keluar.
No comments:
Post a Comment