Badai Laut Selatan ; Bagian 115


Dara remaja itu adalah anak Pujo, kini membunuh isterinya karena mendendam dan membalaskan kematian ayahnya. Ia menahan napas, menahan air mata, lalu memondong tubuh isterinya dan berjalan terhuyung-huyung pergi dari tempat itu, diikuti pandang mata mengejek Endang Patibroto yang berdiri tegak sambil bertolak pinggang.
"Endang.......... Apa yang telah kau lakukan? Mengapa kau membunuhnya... ?" tanya Kartikosari dengan penuh penyesalan, teringat akan pesan suaminya. Betapapun ia mencinta suaminya dan merasa sakit hati sekali karena suaminya dibunuh orang, namun setelah mendengar pengakuan suaminya, setelah mendengar pesan suaminya, sebagai seorang puteri pendeta yang bijaksana, ia sadar dan suka mentaati pesan suaminya. Karena itulah ia merasa amat menyesal melihat puterinya telah membunuh Listyokumolo dan melukai Ki Adibroto dengan hebat.
"Mengapa? Ibu, dia sudah membunuh ayah dan aku membunuh dia. Bukankah ini sudah tepat dan punah? Suaminya terluka dan pasti mati pula, adalah salahnya sendiri!"

Terbelalak mata Kartikosari mendengar jawaban dan melihat sikap puterinya ini. Terbayang kekerasan hati yang melebihi batu, terbayang sikap dingin melebihi ampak-ampak pada wajah puterinya. Di samping perubahan sikap puterinya yang luar biasa ini, juga jelas tampak kesaktian yang menggiriskan pada diri puterinya. Ia sendiri tadi sudah bergebrak dengan Ki Adibroto dan dapat menaksir bahwa Ilmu kepandaian Ki Adibroto amat tinggi, seimbang dengan ilmunya sendiri. Akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja, Ki Adibroto mudah dirobohkan oleh Endang Patibroto sampai pingsan dan terluka hebat.
"Endang...... kau..... kau......... telah membunuh calon....... calon ibu mertuamu sendiri...... ?"
"Apa kata ibu?" Endang Patibroto bertanya, keningnya berkerut, matanya mengkilat.
"Apa kau lupa akan pesan ayahmu tadi? Kau dijodohkan dengan Joko Wandiro... "
"Uhh! ah yang mengaku murid ayah dahulu itu? Menyebalkan! Nah, biarpun demikian, Apa hubungannya urusan itu dengan kematian perempuan pembunuh ayah tadi?"
"Ohh, anakku. Engkau tidak tahu. Listyokumolo yang kaubunuh tadi adalah ibu kandung Joko Wandiro"
Endang Patibroto kini memandang jenazah ayahnya dengan kening berkerut.
"Aneh-aneh saja ayah tadi. Kalau dia membunuh ayah, kenapa aku dijodohkan dengan anaknya? Aku tidak sudi!"
"Endang............. "
Melihat Kartikosari marah, Roro Luhito merangkulnya.
"Urusan itu dapat dirundingkan perlahan-lahan. Bukankah yang perlu sekarang mengurus jenazah dia......... ?"

Kembali la menangis sehmgga Kartikosari ikut pula menangis. Dua orang isteri yang sepenuh jiwa mencinta suami itu sambil menangis, dibantu oleh Endang Patibroto, mengurus jenazah, membawanya ke pondok kemudian upacara pembakaran dilakukan dengan sederhana. Abu jenazah disebarkan di laut, diantar hujan air mata Kartikosari dan Roro Luhito. Diam-diam Kartikosari merasa heran dan juga amat menyesal mengapa sedikitpun Endang Patibroto tidak kelihatan berduka, bahkan tidak setetespun air mata keluar untuk menangisi ayah kandungnya! Pada keesokan harinya, seorang laki-laki penunggang kuda sampai di Bayuwismo. Melihat kedatangan laki-laki muda belia dan berpakaian amat mewah, berwajah tampan dan bersikap agung ini, Kartikosari dan Roro Luhito tercengang. Apalagi ketika mendengar laki-laki itu dari jauh sudah berteriak memanggil nama Endang Patibroto,
"Endang.......! Engkau di situkah....... ?"
Endang Patibroto sedang menggosok-gosok tubuh kudanya. Ia datang ke Bayuwismo berkuda dan sengaja meninggalkan kudanya ketika ia mencampuri urusan orang tuanya dengan Listyokumolo. Melihat laki-laki itu, Endang Patibroto berseri wajahnya dan membalas dengan lambaian tangannya sambil berbisik kepada ibunya,
"Ibu, dia gusti pangeran."
"Apa........ ?!" Kartikosari dan Roro Luhito terkejut bukan main dan cepat-cepat menyambut ketika pangeran itu melompat turun dari kudanya dan berlari-lari di atas pasir menghampiri Endang Patibroto. Melihat dua orang wanita cantik bersembah sujut, ia bertanya,
"Endang, siapakah kedua orang bibi ini?"
"Yang ini ibu kandungku, yang itu ibu tiriku."
"Ah! Bibi berdua, silakan bangun, di tempat sunyi ini tidak perlu menggunakan banyak peraturan," kata pangeran itu dengan ramah sehingga Kartikosari dan Roro Luhito menjadi senang juga. Pangeran ini tidak angkuh seperti bangsawan-bangsawan lainnya dan anehnya, sikap Endang Patibroto terhadapnya seperti sikap seorang teman biasa saja!
"Mengapa paduka terlambat sekali, gusti pangeran? Dan mana gusti puteri? Mengapa tidak kelihatan?" tanya Endang Patibroto.
"Celaka sekali, Endang. Setelah kau membalapkan kudamu meninggalkan kami, kami berdua lalu berusaha mengejarmu. Kuda yang ditunggangi adinda puteri memang lebih baik daripada kudaku ini, maka akhirnya aku tertinggal. Aku membalap dan berusaha menyusul, akan tetapi sia-sia dan akhirnya adinda puteri tidak tampak lagi. Dengan hati khawatir aku melanjutkan perjalanan seorang diri ke sini dan sampai sekarang aku tidak pernah melihat lagi. Semua ini gara-garamu, Endang. Hayo kaucari dia sampai dapat." Wajah sang pangeran tampan itu kelihatan gelisah.
Akan tetapi Endang Patibroto tenang-tenang saja.
"Jangan khawatir, gusti pangeran. Pasti dapat hamba cari gusti puteri.
"Kemudian ia menoleh kepada Kartikosari dan Roro Luhito sambil berkata,
"Ibu, kuharap ibu berdua suka ikut saja bersamaku dan tinggal di istana. Aku yakin bahwa gusti prabu tentu akan mengijinkannya."
Kartikosari mengerutkan keningnya, kemudian bertanya,
"Anakku, sebetulnya apakah kedudukanmu di istana dan istana manakah itu?"

Kini pangeran itulah yang menjawab,
"Bibi, apakah Endang belum menceritakan keadaannya? Sungguh aneh kalau begitu. Bibi, puterimu yang perkasa ini sekarang menjadi kepala pengawal istana Kerajaan Jenggala. Saya adalah Pangeran Panjirawit dari Jenggala, bersama Endang dan adik saya Puteri Mayagaluh sengaja hendak mencari bibi di sini. Benar Apa yang diusulkan Endang Patibroto tadi, bibi. Lebih baik bibi berdua pindah ke istana."
Dapat dibayangkan betapa kaget dan sedih rasa hati Kartikosari setelah mendengar bahwa puterinya bekerja kepada Kerajaan Jenggala! Padahal semenjak ayahnya, Bhagawan Rukmoseto atau Resi Bhargowo masih hidup, sampai dia sendiri dan suaminya semua adalah pengikut-pengikut Pangeran Sepuh yang kini menjadi raja di Kerajaan Panjalu. Bagaimana sekarang Endang Patibroto malah memihak kepada musuh? Biarpun pangeran muda ini dari Jenggala, akan tetapi betapapun juga ia masih keturunan Sang Prabu Airlangga dan sikapnya amatlah menyenangkan, maka ia menyembah sambil menjawab,
"Terima kasih atas penawaran dan keramahan paduka." Kemudian ia menghadapi puterinya dan berkata,
"Anakku, aku dan ibumu Roro Luhito sudah biasa hidup di alam bebas, tidak ingin hidup dalam istana. Kami akan tetap tinggal di sini. Kau saja, anakku, kalau memang mencinta ibumu, kau jangan tinggalkan aku lagi. Kembalilah kepada ibumu dan temani kami di sini."

Mendengar ajakan ibunya ini, Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Sejenak ia memandang kepada kedua orang ibunya, dengan pakaian mereka yang sederhana, dan keadaaan gubuk Bayuwismo yang lebih sederhana pula. Kemudian ia menundukkan muka, memandangi pakaiannya yang mewah dan indah, perhiasan emas permata yang berkilauan di tubuhnya. Kerut pada keningnya màkin mendalam dan ia menjawab,
"Belum bisa, ibu. Apalagi sekarang selagi Kerajaan Jenggala menghadapi ancaman perang saudara dengan Kerajaan Panjalu. Kerajaan Panjalu yang menjadi musuh kami mempunyai banyak orang pandai, ibu. Kalau aku sudah berhasil membasmi mereka dan Kerajaan Jenggala terbebas dari pada bahaya, barulah aku akan pikir-pikir untuk menemani ibu berdua di sini."
Dengan singkat Endang Patibroto lalu menuturkan bahwa ia menjadi murid Dibyo Mamangkoro dan betapa ia digembleng sampai bertahun-tahun di Pulau Nusakambangan, dan betapa kemudian ia dibawa berhamba kepada Kerajaan Jenggala. Juga ia bercerita betapa ia diuji oleh sang prabu di Jenggala dan berhasil mengambil bendera pusaka dan membawa kembali kepala dua orang pengawal keraton Panjalu. Mendengar penuturan Endang Patibroto ini, mula-mula Kartikosari dan Roro Luhito kaget, kemudian terheran-heran, dan akhirnya marah sekali. Kartikosari tak dapat lagi menahan kemarahannya dan ia memandang tajam puterinya lalu membentak,
"Endang Patibroto, engkau tersesat jauh!!”
"Hemmm, Apa maksudmu, ibu?" tanya Endang Patibroto sedangkan Pangeran Panjirawit juga memandang heran.
Kartikosari tidak perdulikan lagi pada pangeran itu dan ia berkata, suaranya tegas dan keras.
"Endang, engkau telah tersesat jauh dan mungkin hal itu terjadi karena kau tidak mengerti. Ketahuilah, Raja Jenggala sekarang ini dahulu adalah Pangeran Anom, sedangkan Raja Penjalu adalah Pangeran Sepuh. Dahulu terjadi perang saudara antara Pangeran Anom dan Pangeran Sepuh. Tahukah engkau pihak mana yang dibela mati-matian oleh eyangmu Resi Bhargowo, oleh ayahmu Pujo, dan oleh ibumu berdua? Kami membela Pangeran Sepuh atau Raja Panjalu yang sekarang! Adapun Pangeran Anom dahulu dibela oleh orang-orang kotor macam Cekel Aksomolo, Warok Gendroyono, Krendayakso, Nogogini, Durgogini dan lain-Iain. Bagaimana sekarang engkau, anak kandungku, cucu Resi Bhargowo, menjadi kepala pengawal di keraton Jenggala? Engkau bersekutu dan berkawan dengan orang-orang jahat macam Cekel Aksomolo dan lain-lain itu?"

Kaget juga hati Endang Patibroto melihat betapa ibu kandungnya marah hebat seperti itu.
"Tidak, ibu. Biarpun Cekel Aksomolo dan yang lain-lain itu bekerja membela Jenggala, namun aku tidak bersekutu dan tidak bersahabat dengan mereka!" Ia mencoba untuk membantah.
"Keparat! Tahukah engkau betapa mereka itu dahulu pernah mengeroyok eyangmu di Pulau Sempu dan hampir saja membunuh eyangmu? Tahukah engkau bahwa ayah bundamu ini banyak menderita karena perbuatan biadab seorang di antara pembantu-pembantu Jenggala? Dan sekarang engkau menjadi hamba Jenggala? Endang Patibroto, engkau anakku, engkau harus mentaati ibu kandungmu. Mulai detik ini juga, engkau harus berhenti menjadi hamba Jenggala, engkau tidak boleh kembali ke sana!" Kemarahan Kartikosari sudah meluap-luap dan tak dapat ditekan lagi. Hening sejenak, hening penuh ketegangan, terutama bagi Pangeran Panjirawit yang mendengar kan dan melihat dengan jantung berdebar-debar. Kemudian Endang Patibroto menarik napas panjang, memandang ibunya dan menggeleng kepalanya,
"Tidak mungkin begitu, Ibu. Sudah banyak aku menerima hadiah dan kebaikan dari keluarga gusti prabu. Sebelum aku membalas semua kebaikan itu dengan pahala, bagaimana aku bisa meninggalkan Jenggala dengan begitu saja?"
"Kebaikan?? Kau bicara tentang kebaikan? Apakah kau tidak tahu betapa ibumu ini hampir berkorban nyawa berkali-kali untukmu? Tidak tahu betapa sengsara hidupku, betapa tersiksa, betapa dengan susah payah memelihara dan mendidikmu, betapa digerogoti dendam dan sakit hati. Dan kaulupakan semua itu, tertutup oleh kebaikan orang lain yang tidak ada artinya itu? Endang, apakah kau ingin menjadi anak durhaka, anak murtad? Sekali lagi, lepaskan semua itu dan, kembalilah kepada ibumu, anakku" Kalimat terakhir ini mengandung isak tangis.
Endang Patibroto menggeleng kepala lagi.
"Ibu tidak adil..... ibu terlalu mendesak, tanpa memberi kesempatan kepadaku."
Kartikosari melompat maju.
"Sekali lagi. Kuminta engkau melepaskan kedudukanmu dan kembali kepada ibumu!" Suara Kartikosari parau, wajahnya memucat.
Endang Patibroto menggeleng kepala.
"Tidak bisa, ibu."
"Anak durhaka! Kalau begitu, daripada melihat engkau hidup tersesat, lebih baik melihat engkau mati!” Secepat kilat Kartikosari mencabut keris pusaka Banuwilis lalu maju menubruk, menusukkan kerisnya ke arah dada anaknya sendiri.
"Yunda Sari......!"
Roro Luhito menjerit dan bergerak hendak mencegah. Namun terlambat. Keris itu sudah menusuk dada Endang Patibroto. Dara jelita ini sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis sehingga Pangeran Panjirawit juga berseru kaget dan cemas.
"Capp.........!" Keris itu menyeleweng ke samping ketika bertemu dengan dada Endang Patibroto, hanya menancap miring, memasuki kulit dan sedikit melukai daging, akan tetapi tidak kuat menembus ke dalam karena Endang Patibroto mengerahkan sedikit hawa sakti di tubuhnya. Kalau dara ini menghendaki, tentu keris itu tadi membalik dan kulitnya sedikitpun tidak lecet. Akan tetapi ia sengaja membiarkan kulitnya dan sedikit dagingnya terluka sehingga ketika keris itu jatuh terlepas, darah mengalir keluar.

<<< Bagian 114                                                                                      Bagian 116 >>>

No comments:

Post a Comment