Badai Laut Selatan ; Bagian 116


Melihat darah ini, Kartikosari agaknya seperti baru sadar dan ia menjerit sambil mundur dan menahan mulut dengan tangan agar tidak menangis mengguguk. Endang Patibroto tersenyum, senyum dingin yang membuat tengkuk Kartikosari meremang.
"Inginkah kau minta kembali sedikit darah yang kautumpahkan ketika melahirkan aku? Nah, darahku sudah tertumpah. Apakah hatimu puas?" Endang Patibroto menggunakan jari kakinya menyentil keris pusaka Banuwilis yang terletak di atas tanah.
Keris itu melayang naik dan di sambut tangan kanannya. Kemudian ia menusukkan keris itu pada dadanya sendiri.
"Krakkk! Patahlah keris pusaka itu menjadi dua potong! Endang Patibroto memperlebar senyumnya dan membuang gagang keris buntung ke atas tanah. Agaknya dengan perbuatan ini ia hendak membuktikan bahwa kalau tadi ia menghendaki, tusukan ibunya tidak akan melukai dadanya, dan bahwa dadanya terluka karena ia sengaja!.
"Aahhh......." Kartikosari membelalakkan matanya, hatinya serasa ditusuk-tusuk, lalu ia menangis mengguguk-guguk menyebut-nyebut nama suaminya.
"Aduh kakangmas Pujo............ kenapa tidak kau bawa saja aku serta ? Kenapa kau membiarkan aku terhina oleh anak sendiri?"
Roro Luhito memeluk dan dengan air mata berlinang berkata,
"Sudahlah, ayunda Sari. Ingatlah akan kesehatanmu, ingatlah akan kandunganmu"
Endang Patibroto mengangkat pundaknya, lalu berjalan kearah kuda dan sekali loncat ia telah berada di punggung kudanya. Sekali lagi ia menoleh, memandang ibunya dengan sinar mata penuh kedukaan, kemudian ia menarik kendali kuda dan binatang itu meloncat ke depan.
"Endang, tunggu............!"
Pangeran Panjirawit menengok ke arah dua orang wanita yang bertangis-tangisan itu, meloloskan dua buah gelang tangannya yang bertabur intan, meletakkannya ke dekat dua orang wanita itu, kemudian iapun lari dan meloncat ke arah kudanya, terus membedal kuda mengejar Endang Patibroto.

Menjelang senja, amat sunyi di daerah Tclaga Sarangan. Sunyi dan dingin. Permukaan telaga seakan-akan mengeluarkan uap keabu-abuan. Joko Wandiro dan Ayu Candra bergandeng tangan, berjalan perlahan meninggalkan telaga, menuju ke pondok. Selama belasan hari, hubungan mereka makin akrab dan seringkali mereka berdua bercengkerama di tepi telaga. Walaupun tiada kata-kata kasih dan cinta keluar dari mulut mereka yang belum mengenal ucapan itu, namun sinar mata dan getaran jari tangan mereka merupakan bahasa indah tak terucapkan yang langsung membisiki hati masing-masing. Asyik-masyuk percakapan mereka selalu, percakapan yang tidak ada artinya, kadang-kadang seperti dua anak-anak bergurau. Namun selalu perhatian mereka tercurah penuh kepada diri masing-masing sehingga mereka tidak tahu betapa sepasang mata yang bersinar tajam mengintai mereka penuh cemburu, iri hati dan marah. Itulah sepasang mata Ki Jatoko yang tentu saja sama sekali tidak disangka-sangka oleh sepasang muda-mudi itu. Ketika menjelang senja hari itu mereka berdua seperti biasanya kembali ke pondok, tubuh Ki Jatoko menyelinap di antara gerombolan pohon dan mengikuti mereka dari jauh.
"Ayu Candra........... "
"Itu suara ayah......!"
Ayu Candra berseru kaget dan girang ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan itu. Ia segera lari ke arah suara yang datangnya dari pondok. Joko Wandiro lari pula dl belakang dara itu. Alangkah kaget hati Ayu Candra ketika dalam cuaca yang sudah remang-remang itu ia melihat ayahnya rebah tertelungkup di depan pondok sambil merintih-rintih dan bergerak-gerak lemah.
"Ayahhh.........!"
Ia meloncat dan berlutut, menubruk ayahnya. Dengan hati cemas dara ini membalikkan tubuh ayahnya dan memangku kepalanya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hatinya ketika melihat wajah ayahnya yang tampan itu kini mengerikan, berubah biru kehitaman, napasnya terengah-engah dan warna putih bola matanya menjadi merah sekali!
"Ayah.........! Kau kenapa? Ayah ayah........ Apa yang terjadi? Mana ibu?"

Dara ini menjerit-jerit dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya. Joko Wandiro yang juga berlutut di dekat tubuh Ki Adibroto, menjadi terkejut sekali setelah memeriksa tubuh orang tua itu.
"Akibat pukulan berbisa yang amat hebat......!" katanya lirih.
Mendengar ini, Ayu Candra menangis dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya sambil memanggil-manggil.
"Ayah...........! Ayah............!!"
"Ayu, minggirlah sebentar. Biar kucoba menyadarkannya," bisik pula Joko Wandiro.
Kemudian ia memeriksa dada Ki Adibroto. Tepat dugaannya, dada pendekar itu totol-totol hitam merah, dan hawa beracun sudah menjalar naik sampai ke muka! Diam-diam Joko Wandiro merasa ngeri. Pukulan ini hebat sekali dan kalau bukan Ki Adibroto yang memiliki kesaktian, tentu sekali terkena pukulan ini terus tewas. Kini keadaan orang tua itu sudah tak mungkin tertolong lagi, maka Joko Wandiro lalu menggunakan lima buah jari tangan kirinya mengurut kedua pundak dan menotok tengkuk. Seketika Ki Adibroto terbatuk-batuk, lalu bergerak-gerak dan mengeluh.
"Ayah.........!" Ayu Candra sudah menubruk dan kembali memangku kepala ayahnya,
Ki Adibroto membuka matanya yang merah, memandang Ayu Candra, lalu bibirnya bergerak-gerak dan terdengar ia berkata dengan bisikan lemah.
"Ayu kau pergilah kepada Ki Darmobroto di kaki Merbabu..., dia.......dia calon mertuamu, kujodohkan engkau dengan puteranya, Joko Seto."
"Ayah, kau kenapa? Di mana ibu......... ?"
Ayu Candra yang amat pucat mukanya itu bertanya. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan ayahnya dan gelisah karena tidak melihat ibunya sehingga pesan tentang perjodohan itu sama sekali tidak ia perdulikan.
"Ibumu........ ibumu sudah tewas.......kalau bertemu dengan Joko Wandiro dia putera ibumu yang sulung....... kau beritahukan....... uuuhhh-uuhhh...... "
"Ayah.........!” Ayu Candra merangkul sambil menangis.
"Beritahukan bahwa ibunya telah meninggal dunia........ "
"Ayah, siapa pembunuh ibu? Kenapa ibu tewas?? Katakanlah ayah........ katakanlah!"
Ayu Candra menjerit-jerit sehingga ia tidak melihat betapa Joko Wandiro yang mendengar pesan terakhir itu menjadi pucat wajahnya dan terbelalak matanya. Ki Adibroto sudah payah sekali keadaannya. Ia berusaha untuk bicara banyak, namun tenaganya sudah tidak mengijinkannya. Ia hanya mampu berbisik-bisik,
"Jangan..... jangan melanjutkan permusuhan........ kau cari tunanganmu..... Joko Seto...... "
"Ayah, kenapa ibu tewas? Siapa yang membunuhnya? Dan siapa yang melukai ayah?"

Kembali Ayu Candra mendesak-desak dengan suara parau. Hampir ia pingsan, namun rasa penasaran membuat ia dapat bertahan dan kemarahannya melihat ayahnya terluka hebat dan mendengar ibunya tewas membuat ia lupa diri, berteriak-teriak dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang keadaannya sudah payah itu.
"Ibumu........ ibumu........ mencari anaknya........ Joko Wandiro......... kau beritahu dia telah tewas........... dia itu bukan....... bukan........ "
Agaknya Ki Adibroto dalam saat terakhir itu hendak membuka rahasia bahwa Listyokumolo bukan ibu kandung Ayu Candra, namun ia tidak kuat lagi dan putuslah napasnya.
"Ayaaaahhh..........!!!”
Ayu Candra merangkul dan pingsan di atas dada ayahnya. Joko Wandiro juga terpukul perasaannya. Iapun sedang mencari ibu kandungnya. Ia hanya tahu bahwa ibu kandungnya itu kabarnya diculik perampok. Kini ia mendengar pesan ayah Ayu Candra bahwa ibu kandungnya telah tewas, padahal yang tewas itu adalah ibu kandung Ayu Candra pula! Hal ini hanya berarti bahwa Ayu Candra adalah anak ibunya pula, jadi adik tirinya! Keterangan ini baginya lebih hebat daripada berita kematian ibu kandungnya yang belum pernah ia kenal. Lebih hebat daripada kematian ayahnya Ayu Candra. Lebih hebat dari apa saja yang mungkin terjadi. Kenyataan ini membuat hatinya serasa ditusuk keris berkarat. Ayu Candra, dia adiknya, adik tirinya, anak kandung ibunya! Namun Joko Wandiro pemuda gemblengan itu dapat segera menguasai kesadarannya kembali. Betapapun juga, dara remaja yang sudah merebut hatinya ini bukan orang lain, melainkan adiknya sendiri, sekandungan, seibu. Ia akan tetap mencintanya. Mereka tetap akan saling mencinta sebagai kakak dan adik. Selain itu, oleh ayahnya, Ayu Candra sudah dijodohkan dengan seorang pemuda lain. Hal ini lebih baik lagi. Setelah dapat menguasai hatinya yang tertusuk, baru Joko Wandiro bergerak menolong Ayu Candra yang pingsan.
Pada saat itu, ia mendengar gerakan perlahan di belakangnya. Ketika ia menengok, kiranya Ki Jatoko yang datang terhuyung-huyung dengan kedua kaki buntungnya. Joko Wandiro sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki buntung itu sudah sejak tadi mengintai dan kini melihat Ki Adibroto sudah mati, lalu datang dan membantu Joko Wandiro mengangkat jenazah Ki Adibroto ke dalam pondok.

Ayu Candra yang sudah siuman kembali itu menangis sedih, dihibur oleh Joko Wandiro dan Ki Jatoko. Setelah pembakaran jenazah selesai dan abunya dihanyutkan di Telaga Sarangan, Ayu Candra duduk di pinggir telaga itu. Wajahnya pucat sekali, matanya sayu dan ia tampak lemas karena duka dan kurang tidur. Rambutnya kusut. Hati dan pikirannya sekusut rambutnya. Biar bokor terisi abu jenazah ayahnya sudah tenggelam dan abu itu sendiri telah menjadi satu dengan air telaga, ia masih belum bergerak pergi dari pinggir telaga. Ki Jatoko diam-diam pergi dari telaga. Joko Wandiro dengan hati penuh keharuan dan kedukaan berjongkok di belakang Ayu Candra yang duduk bersimpuh di atas tanah berumput. Hening keadaan di situ pagi hari itu. Tiada suara burung yang agaknya ikut berkabung. Air telaga juga tenang, tidak ada angin bersilir. Telaga yang tua itu sudah banyak menyaksikan suka-duka manusia, karenanya ia tenang-tenang saja. Ia maklum bahwa manusia hidup memang selalu menjadi permainan suka-duka, si kembar sakti yang selalu bercanda dan bermain-main dengan manusia secara bergilir. Telaga tua itu tenang-tenang saja karena ia tidak mengenal suka-duka, karena baginya, suka-duka itu tidak ada,t yang ada hanya kewajaran. Hal ini hanya dapat dimiliki oleh mereka yang telah menyatukan diri dengan alam, telah menjadi sebagian daripada alam itu sendiri. Tanpa pamrih, karenanya wajar. Karena wajar, maka tiada suka maupun duka.
"Ayu......!"
Panggilan ini hanya merupakan bisikan yang keluar dari mulut Joko Wandiro, bisikan yang keluar dari hati yang merintih. Getaran bisikan ini amat kuat sehingga Ayu Candra seketika tersadar. Seperti orang kaget ia sadar, seakan-akan diseret turun kembali dari alam mimpi, ke alam kenyataan yang pahit. Ia menoleh dan menghadapi Joko Wandiro. Sejenak mereka saling pandang, dua pasang mata yang bersinar sayu.
"Joko......... "
"Ayu!"
Seperti digerakkan tenaga ajaib, keduanya saling tubruk dan saling rangkul. Ayu Candra menangis tersedu-sedu di atas dada Joko Wandiro sehingga sebentar saja dada itu menjadi basah. Joko Wandiro merasa seakan akan yang membasahi dadanya itu adalah darah yang bercucuran dari jantungnya. Ia mengelus-elus kepala gadis itu, penuh kasih sayang, kasih sayang yang kini ia paksa dan belokkan dari kasih sayang seorang pria terhadap wanita, menjadi kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Joko Wandiro merasa sangat kasih kepada adiknya ini. Ia tahu bahwa mereka tadinya saling mencinta dan ia tahu bahwa sampai saat ini, perasaan Ayu Candra terhadap dirinya tetap tidak berubah. Karena Ayu Candra belum tahu siapa sebenarnya ia. Tidak tahu bahwa dialah Joko Wandiro, bahwa dialah kakaknya yang kemarin disebut-sebut Ki Adibroto dalam pesan terakhirnya. Dara ini harus diberitahu, akan tetapi ia tidak tega untuk menghacurkan hati yang sudah parah itu, hati yang penuh kedukaan karena sckaligus kehilangan ayah bunda. Dia sendiripun kehilangan ibu kandungnya, yang katanya tewas oleh musuh. Akan tetapi kedukaan hatinya tidaklah begitu besar karena ia belum pernah bertemu ibunya, tidak tahu bagaimana rupa ibu kandungnya. Ia lebih berduka karena kenyataan bahwa Ayu Candra adalah adik tirinya, satu ibu!
"Joko..........!" Ayu Candra berbisik tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Joko Wandiro.
"Ada Apa, Ayu?"
"Engkau mendengar semua pesan ayah kemarin?"
"Aku mendengar, Ayu."
"Joko engkau tahu bahwa kini aku tidak punya siapa-siapa lagi.... " ia terisak lalu menyambung,
"....... aku sebatangkara di dunia........ aku hanya... hanya punya.... engkau, Joko. Katakanlah, Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Berdebar jantung Joko Wandiro. Bagaimana ia harus menjawab? Ia masih tidak tega untuk membuka rahasia yang akan menghancurkan hati dara itu. Karena itu ia mengalihkan kepada soal lain.
"Apa yang harus kaulakukan, Ayu? Kurasa sementara ini tidak ada apa-apa. Aku setuju dengan pesan ayahmu bahwa kita...... eh, kau tidak perlu mencari musuh, tidak perlu memperbesar permusuhan." Sebagai murid Ki Patih Narotama, tentu saja Joko Wandiro sudah mendapat gemblengan batin yang hebat sehingga ia dapat mengatasi rasa dendam karena kematian ibunya dibunuh orang.

<<< Bagian 115                                                                                       Bagian 117 >>>

No comments:

Post a Comment