Melihat darah ini, Kartikosari agaknya seperti baru sadar dan ia menjerit sambil mundur dan menahan mulut dengan tangan agar tidak menangis mengguguk. Endang Patibroto tersenyum, senyum dingin yang membuat tengkuk Kartikosari meremang.
"Inginkah
kau minta kembali sedikit darah yang kautumpahkan ketika melahirkan aku? Nah,
darahku sudah tertumpah. Apakah hatimu puas?" Endang Patibroto menggunakan
jari kakinya menyentil keris pusaka Banuwilis yang terletak di atas tanah.
Keris itu
melayang naik dan di sambut tangan kanannya. Kemudian ia menusukkan keris itu
pada dadanya sendiri.
"Krakkk!
Patahlah keris pusaka itu menjadi dua potong! Endang Patibroto memperlebar
senyumnya dan membuang gagang keris buntung ke atas tanah. Agaknya dengan
perbuatan ini ia hendak membuktikan bahwa kalau tadi ia menghendaki, tusukan
ibunya tidak akan melukai dadanya, dan bahwa dadanya terluka karena ia
sengaja!.
"Aahhh......."
Kartikosari membelalakkan matanya, hatinya serasa ditusuk-tusuk, lalu ia
menangis mengguguk-guguk menyebut-nyebut nama suaminya.
"Aduh
kakangmas Pujo............ kenapa tidak kau bawa saja aku serta ? Kenapa kau
membiarkan aku terhina oleh anak sendiri?"
Roro Luhito
memeluk dan dengan air mata berlinang berkata,
"Sudahlah,
ayunda Sari. Ingatlah akan kesehatanmu, ingatlah akan kandunganmu"
Endang
Patibroto mengangkat pundaknya, lalu berjalan kearah kuda dan sekali loncat ia
telah berada di punggung kudanya. Sekali lagi ia menoleh, memandang ibunya
dengan sinar mata penuh kedukaan, kemudian ia menarik kendali kuda dan binatang
itu meloncat ke depan.
"Endang,
tunggu............!"
Pangeran
Panjirawit menengok ke arah dua orang wanita yang bertangis-tangisan itu,
meloloskan dua buah gelang tangannya yang bertabur intan, meletakkannya ke
dekat dua orang wanita itu, kemudian iapun lari dan meloncat ke arah kudanya,
terus membedal kuda mengejar Endang Patibroto.
Menjelang
senja, amat sunyi di daerah Tclaga Sarangan. Sunyi dan dingin. Permukaan telaga
seakan-akan mengeluarkan uap keabu-abuan. Joko Wandiro dan Ayu Candra
bergandeng tangan, berjalan perlahan meninggalkan telaga, menuju ke pondok.
Selama belasan hari, hubungan mereka makin akrab dan seringkali mereka berdua
bercengkerama di tepi telaga. Walaupun tiada kata-kata kasih dan cinta keluar
dari mulut mereka yang belum mengenal ucapan itu, namun sinar mata dan getaran
jari tangan mereka merupakan bahasa indah tak terucapkan yang langsung
membisiki hati masing-masing. Asyik-masyuk percakapan mereka selalu, percakapan
yang tidak ada artinya, kadang-kadang seperti dua anak-anak bergurau. Namun
selalu perhatian mereka tercurah penuh kepada diri masing-masing sehingga
mereka tidak tahu betapa sepasang mata yang bersinar tajam mengintai mereka
penuh cemburu, iri hati dan marah. Itulah sepasang mata Ki Jatoko yang tentu
saja sama sekali tidak disangka-sangka oleh sepasang muda-mudi itu. Ketika
menjelang senja hari itu mereka berdua seperti biasanya kembali ke pondok,
tubuh Ki Jatoko menyelinap di antara gerombolan pohon dan mengikuti mereka dari
jauh.
"Ayu
Candra........... "
"Itu
suara ayah......!"
Ayu Candra
berseru kaget dan girang ketika tiba-tiba terdengar suara panggilan itu. Ia
segera lari ke arah suara yang datangnya dari pondok. Joko Wandiro lari pula dl
belakang dara itu. Alangkah kaget hati Ayu Candra ketika dalam cuaca yang sudah
remang-remang itu ia melihat ayahnya rebah tertelungkup di depan pondok sambil
merintih-rintih dan bergerak-gerak lemah.
"Ayahhh.........!"
Ia meloncat
dan berlutut, menubruk ayahnya. Dengan hati cemas dara ini membalikkan tubuh
ayahnya dan memangku kepalanya. Dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri
hatinya ketika melihat wajah ayahnya yang tampan itu kini mengerikan, berubah
biru kehitaman, napasnya terengah-engah dan warna putih bola matanya menjadi
merah sekali!
"Ayah.........!
Kau kenapa? Ayah ayah........ Apa yang terjadi? Mana ibu?"
Dara ini
menjerit-jerit dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya. Joko Wandiro yang juga
berlutut di dekat tubuh Ki Adibroto, menjadi terkejut sekali setelah memeriksa tubuh
orang tua itu.
"Akibat
pukulan berbisa yang amat hebat......!" katanya lirih.
Mendengar ini,
Ayu Candra menangis dan mengguncang-guncang tubuh ayahnya sambil
memanggil-manggil.
"Ayah...........!
Ayah............!!"
"Ayu,
minggirlah sebentar. Biar kucoba menyadarkannya," bisik pula Joko Wandiro.
Kemudian ia
memeriksa dada Ki Adibroto. Tepat dugaannya, dada pendekar itu totol-totol
hitam merah, dan hawa beracun sudah menjalar naik sampai ke muka! Diam-diam
Joko Wandiro merasa ngeri. Pukulan ini hebat sekali dan kalau bukan Ki Adibroto
yang memiliki kesaktian, tentu sekali terkena pukulan ini terus tewas. Kini
keadaan orang tua itu sudah tak mungkin tertolong lagi, maka Joko Wandiro lalu
menggunakan lima buah jari tangan kirinya mengurut kedua pundak dan menotok
tengkuk. Seketika Ki Adibroto terbatuk-batuk, lalu bergerak-gerak dan mengeluh.
"Ayah.........!"
Ayu Candra sudah menubruk dan kembali memangku kepala ayahnya,
Ki Adibroto
membuka matanya yang merah, memandang Ayu Candra, lalu bibirnya bergerak-gerak
dan terdengar ia berkata dengan bisikan lemah.
"Ayu kau
pergilah kepada Ki Darmobroto di kaki Merbabu..., dia.......dia calon mertuamu,
kujodohkan engkau dengan puteranya, Joko Seto."
"Ayah,
kau kenapa? Di mana ibu......... ?"
Ayu Candra
yang amat pucat mukanya itu bertanya. Ia lebih mengkhawatirkan keadaan ayahnya
dan gelisah karena tidak melihat ibunya sehingga pesan tentang perjodohan itu
sama sekali tidak ia perdulikan.
"Ibumu........
ibumu sudah tewas.......kalau bertemu dengan Joko Wandiro dia putera ibumu yang
sulung....... kau beritahukan....... uuuhhh-uuhhh...... "
"Ayah.........!”
Ayu Candra merangkul sambil menangis.
"Beritahukan
bahwa ibunya telah meninggal dunia........ "
"Ayah,
siapa pembunuh ibu? Kenapa ibu tewas?? Katakanlah ayah........
katakanlah!"
Ayu Candra
menjerit-jerit sehingga ia tidak melihat betapa Joko Wandiro yang mendengar
pesan terakhir itu menjadi pucat wajahnya dan terbelalak matanya. Ki Adibroto
sudah payah sekali keadaannya. Ia berusaha untuk bicara banyak, namun tenaganya
sudah tidak mengijinkannya. Ia hanya mampu berbisik-bisik,
"Jangan.....
jangan melanjutkan permusuhan........ kau cari tunanganmu..... Joko Seto......
"
"Ayah,
kenapa ibu tewas? Siapa yang membunuhnya? Dan siapa yang melukai ayah?"
Kembali Ayu
Candra mendesak-desak dengan suara parau. Hampir ia pingsan, namun rasa
penasaran membuat ia dapat bertahan dan kemarahannya melihat ayahnya terluka
hebat dan mendengar ibunya tewas membuat ia lupa diri, berteriak-teriak dan
mengguncang-guncang tubuh ayahnya yang keadaannya sudah payah itu.
"Ibumu........
ibumu........ mencari anaknya........ Joko Wandiro......... kau beritahu dia
telah tewas........... dia itu bukan....... bukan........ "
Agaknya Ki
Adibroto dalam saat terakhir itu hendak membuka rahasia bahwa Listyokumolo
bukan ibu kandung Ayu Candra, namun ia tidak kuat lagi dan putuslah napasnya.
"Ayaaaahhh..........!!!”
Ayu Candra
merangkul dan pingsan di atas dada ayahnya. Joko Wandiro juga terpukul
perasaannya. Iapun sedang mencari ibu kandungnya. Ia hanya tahu bahwa ibu
kandungnya itu kabarnya diculik perampok. Kini ia mendengar pesan ayah Ayu
Candra bahwa ibu kandungnya telah tewas, padahal yang tewas itu adalah ibu
kandung Ayu Candra pula! Hal ini hanya berarti bahwa Ayu Candra adalah anak
ibunya pula, jadi adik tirinya! Keterangan ini baginya lebih hebat daripada
berita kematian ibu kandungnya yang belum pernah ia kenal. Lebih hebat daripada
kematian ayahnya Ayu Candra. Lebih hebat dari apa saja yang mungkin terjadi.
Kenyataan ini membuat hatinya serasa ditusuk keris berkarat. Ayu Candra, dia
adiknya, adik tirinya, anak kandung ibunya! Namun Joko Wandiro pemuda
gemblengan itu dapat segera menguasai kesadarannya kembali. Betapapun juga,
dara remaja yang sudah merebut hatinya ini bukan orang lain, melainkan adiknya
sendiri, sekandungan, seibu. Ia akan tetap mencintanya. Mereka tetap akan
saling mencinta sebagai kakak dan adik. Selain itu, oleh ayahnya, Ayu Candra
sudah dijodohkan dengan seorang pemuda lain. Hal ini lebih baik lagi. Setelah
dapat menguasai hatinya yang tertusuk, baru Joko Wandiro bergerak menolong Ayu
Candra yang pingsan.
Pada saat itu,
ia mendengar gerakan perlahan di belakangnya. Ketika ia menengok, kiranya Ki
Jatoko yang datang terhuyung-huyung dengan kedua kaki buntungnya. Joko Wandiro
sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki buntung itu sudah sejak tadi mengintai
dan kini melihat Ki Adibroto sudah mati, lalu datang dan membantu Joko Wandiro
mengangkat jenazah Ki Adibroto ke dalam pondok.
Ayu Candra
yang sudah siuman kembali itu menangis sedih, dihibur oleh Joko Wandiro dan Ki
Jatoko. Setelah pembakaran jenazah selesai dan abunya dihanyutkan di Telaga
Sarangan, Ayu Candra duduk di pinggir telaga itu. Wajahnya pucat sekali,
matanya sayu dan ia tampak lemas karena duka dan kurang tidur. Rambutnya kusut.
Hati dan pikirannya sekusut rambutnya. Biar bokor terisi abu jenazah ayahnya
sudah tenggelam dan abu itu sendiri telah menjadi satu dengan air telaga, ia
masih belum bergerak pergi dari pinggir telaga. Ki Jatoko diam-diam pergi dari
telaga. Joko Wandiro dengan hati penuh keharuan dan kedukaan berjongkok di
belakang Ayu Candra yang duduk bersimpuh di atas tanah berumput. Hening keadaan
di situ pagi hari itu. Tiada suara burung yang agaknya ikut berkabung. Air
telaga juga tenang, tidak ada angin bersilir. Telaga yang tua itu sudah banyak
menyaksikan suka-duka manusia, karenanya ia tenang-tenang saja. Ia maklum bahwa
manusia hidup memang selalu menjadi permainan suka-duka, si kembar sakti yang
selalu bercanda dan bermain-main dengan manusia secara bergilir. Telaga tua itu
tenang-tenang saja karena ia tidak mengenal suka-duka, karena baginya,
suka-duka itu tidak ada,t yang ada hanya kewajaran. Hal ini hanya dapat
dimiliki oleh mereka yang telah menyatukan diri dengan alam, telah menjadi
sebagian daripada alam itu sendiri. Tanpa pamrih, karenanya wajar. Karena
wajar, maka tiada suka maupun duka.
"Ayu......!"
Panggilan ini
hanya merupakan bisikan yang keluar dari mulut Joko Wandiro, bisikan yang
keluar dari hati yang merintih. Getaran bisikan ini amat kuat sehingga Ayu
Candra seketika tersadar. Seperti orang kaget ia sadar, seakan-akan diseret
turun kembali dari alam mimpi, ke alam kenyataan yang pahit. Ia menoleh dan
menghadapi Joko Wandiro. Sejenak mereka saling pandang, dua pasang mata yang
bersinar sayu.
"Joko.........
"
"Ayu!"
Seperti
digerakkan tenaga ajaib, keduanya saling tubruk dan saling rangkul. Ayu Candra
menangis tersedu-sedu di atas dada Joko Wandiro sehingga sebentar saja dada itu
menjadi basah. Joko Wandiro merasa seakan akan yang membasahi dadanya itu
adalah darah yang bercucuran dari jantungnya. Ia mengelus-elus kepala gadis
itu, penuh kasih sayang, kasih sayang yang kini ia paksa dan belokkan dari
kasih sayang seorang pria terhadap wanita, menjadi kasih sayang seorang kakak
terhadap adiknya. Joko Wandiro merasa sangat kasih kepada adiknya ini. Ia tahu
bahwa mereka tadinya saling mencinta dan ia tahu bahwa sampai saat ini,
perasaan Ayu Candra terhadap dirinya tetap tidak berubah. Karena Ayu Candra
belum tahu siapa sebenarnya ia. Tidak tahu bahwa dialah Joko Wandiro, bahwa
dialah kakaknya yang kemarin disebut-sebut Ki Adibroto dalam pesan terakhirnya.
Dara ini harus diberitahu, akan tetapi ia tidak tega untuk menghacurkan hati
yang sudah parah itu, hati yang penuh kedukaan karena sckaligus kehilangan ayah
bunda. Dia sendiripun kehilangan ibu kandungnya, yang katanya tewas oleh musuh.
Akan tetapi kedukaan hatinya tidaklah begitu besar karena ia belum pernah
bertemu ibunya, tidak tahu bagaimana rupa ibu kandungnya. Ia lebih berduka
karena kenyataan bahwa Ayu Candra adalah adik tirinya, satu ibu!
"Joko..........!"
Ayu Candra berbisik tanpa mengangkat mukanya yang bersembunyi di dada Joko
Wandiro.
"Ada Apa,
Ayu?"
"Engkau
mendengar semua pesan ayah kemarin?"
"Aku
mendengar, Ayu."
"Joko
engkau tahu bahwa kini aku tidak punya siapa-siapa lagi.... " ia terisak
lalu menyambung,
".......
aku sebatangkara di dunia........ aku hanya... hanya punya.... engkau, Joko.
Katakanlah, Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Berdebar
jantung Joko Wandiro. Bagaimana ia harus menjawab? Ia masih tidak tega untuk
membuka rahasia yang akan menghancurkan hati dara itu. Karena itu ia
mengalihkan kepada soal lain.
"Apa yang
harus kaulakukan, Ayu? Kurasa sementara ini tidak ada apa-apa. Aku setuju
dengan pesan ayahmu bahwa kita...... eh, kau tidak perlu mencari musuh, tidak
perlu memperbesar permusuhan." Sebagai murid Ki Patih Narotama, tentu saja
Joko Wandiro sudah mendapat gemblengan batin yang hebat sehingga ia dapat
mengatasi rasa dendam karena kematian ibunya dibunuh orang.
No comments:
Post a Comment